Penguatan Iman Mahasiswa Kristen ITEBA melalui Pembinaan Keselamatan dalam Kristus Berbasis Relasi Pribadi di Era Digital Rita Evimalinda . Agiana Her Visnhu Ditakristi. Moralman Gulo*. Besti Niat Harefa. Linda Dewi Terserani Lase. Margarita Variani Kaunang. Marsiyem. Elfrida Elena Br Silaban 1 2 345678Sekolah Tinggi Teologi Real Batam Email koresponden: moralman16@gmail. Submit: 20-02-2026 Review: 11-03-2026 Abstract Keywords: Strengthening Faith. Digital Age. Christian Students. Salvation. This research is motivated by the challenges faced by Christian students in the digital age, particularly in maintaining faith, character, and spiritual identity amidst rapid technological developments and a weakened personal relationship with Christ, which has the potential to impact students' spiritual growth and character formation. The purpose of this study is to explain the meaning of salvation in Christ, encourage sustainable spiritual growth, and examine character transformation as a result of salvation. The method used is a descriptive qualitative approach with three stages: observation, development, and evaluation. The results show that a correct understanding of salvation can increase awareness of self-identity in Christ, strengthen spiritual life, and encourage changes in attitudes and behavior that reflect Christian values. The conclusion of this study confirms that faith formation based on salvation in Christ plays a crucial role in shaping the character of students with integrity, responsibility, and readiness to be witnesses of Christ in a digital society. Kata Kunci: Penguatan Iman. Era Digital. Mahasiswa Kristen. Keselamatan. Abstrak Direvisi: 10-04-2026 Diterbitkan: 13-04-2026 p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2026. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi mahasiswa Kristen di era digital, khususnya dalam mempertahankan iman, karakter, dan identitas rohani di tengah perkembangan teknologi yang pesat serta lemahnya relasi pribadi dengan Kristus berpotensi memengaruhi pertumbuhan rohani dan pembentukan karakter Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan makna keselamatan dalam Kristus, mendorong pertumbuhan rohani yang berkelanjutan, serta mengkaji transformasi karakter sebagai buah dari Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan tiga tahapan yaitu observasi, pembinaan dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman keselamatan yang benar mampu meningkatkan kesadaran identitas diri dalam Kristus, memperkuat kehidupan rohani, serta mendorong perubahan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pembinaan iman berbasis keselamatan dalam Kristus berperan penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang berintegritas, bertanggung jawab, dan siap menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat digital. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 PENDAHULUAN Di tengah kemajuan teknologi yang kian cepat pemuda kristen secara khusus kini berdiri di persimpangan jalan antara kemajuan pengetahuan dan tantangan spiritual yang Zaman ini menawarkan akses informasi tanpa batas yang mampu meningkatkan kompetensi seseorang dengan berbagai hal secara luar biasa namun di saat yang sama juga zaman itu membawa kabut relativisme nilai yang seringkali mengaburkan ketahanan spritualialitas setiap pribadi. Menurut Arya Bimantoro dkk mengatakan bahwa perkembangan teknologi menjadi peluang yang sangat baik bagi setiap pengguna yang bijaksana dan sebuah celaka bagi pribadi yang salah arah memanfaatkanya. (Bimantoro et al. Banyak peristiwa yang mengejar kesenangan sesaat telah merambah ke dalam pola pikir generasi muda saat ini, dimana merasa sangat terhubung secara digital namun mengalami kekosongan relasional yang akur dengan Sang Pencipta. Banyak di antaranya yang mungkin telah mengenal ajaran Kristiani sejak kecil, menghafal ayat-ayat dengan fasih dan menjalankan kewajiban ibadah secara tertib, namun semua itu seringkali hanya berhenti sebagai pengetahuan kognitif di permukaan tanpa pernah meresap menjadi budaya nyata yang senantiasa dilakukan dalam kehidupan. Kita terjebak dalam iman yang formalistik sebuah kulit luar yang tampak religius namun kering akan makna dan kuasa Padahal, menjadi seorang percaya di era digital ini menuntut lebih dari sekedar label atau status agama di kartu identitas tapi menuntut sebuah perjumpaan personal yang hidup dengan Kristus di tengah kebisingan dunia yang terus menggoda. Untuk itu, pentingnya iman terhadap Tuhan dan terus diteguhkan dengan tidak tergoyahkan sehingga menjadi tameng dari setiap tantangan yang datang. Menurut Iswan Garamba. Iman Kristen yang sejati adalah suatu keyakinan yang kokoh, yang tidak goyah bahkan saat menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup. Iman tersebut bertumpu pada hubungan yang erat dengan Tuhan, meskipun menyadari bahwa tantangan akan terus muncul (Sekolah Tinggi. Theologi Injili, dan Arastamar Setia 2. Kita dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, melainkan menjadi agen perubahan yang membawa terang di tengah kegelapan moral yang kian pekat. Tantangan ini memang berat, karena godaan untuk berkompromi dengan standar dunia selalu terasa lebih mudah dilakukan dari pada mempertahankan prinsip kebenaran. Sejalan dengan ungkapan yang mengatakan bahwa sering kali yang menjadi kelemahan setiap pribadi adalah menjaga integritas agar iman tetap murni terealisasikan, diperlukan iman serta hati nurani yang murni kepada kebenaran Allah dalam melawan penyesatan dunia ini (Octavianus 2. Ditegaskan kembali oleh Iwan Setiawan Tarigan dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 bahwa penguatan iman yang nyata hanya bisa terjadi ketika kita berani menghidupi iman tersebut dalam langkah demi langkah kecil keseharian kita saat memilih untuk jujur ketika orang lain curang, saat memilih untuk peduli ketika orang lain acuh, dan saat kita mengutamakan Kristus di atas ambisi pribadi (Tarigan. Hoover, dan Penguatan Iman Mahasiswa KristenA ( R. Evimalinda. Ditakristi. Gulo. Harefa. Lase. Kaunang. Marsiyem. Silaba. The Jesus 2. Dengan demikian, menjadikan Kristus sebagai jangkar dalam setiap langkah membuat seseorang tidak akan kehilangan arah di tengah perkembangan zaman yang tidak memberi kepastian tetapi menjadi pribadi sebagai surat terbuka yang dapat dibaca oleh semua orang melalui cara berpikir, tutur kata dan perbuatan sehingga orang lain dapat melihat pantulan kasih Tuhan yang nyata dengan cara Iman yang dihidupi dengan sungguh-sungguh. Berdasarkan hasil survei awal bagi kalangan mahasiswa kristen ITEBA secara khusus menunjukan bahwa mahasiswa ITEBA 80% memiliki fondasi kognitif dan keyakinan spiritual yang teguh terutama dalam mengakui kedaulatan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan pentingnya disiplin rohani seperti doa dan pembacaan Alkitab. Namun, 20% masih berada dalam tahap keraguan atau ketidaktahuan mendalam mengenai doktrin yang ditanyakan. sehingga secara keseluruhan hasil ini memperkuat argumen bahwa meskipun mayoritas telah memahami ajaran secara kognitif, tantangan terbesar tetap terletak pada bagaimana menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut agar tidak sekadar pemahaman namun terealisasikan secara benar melalui tindakan nyata. Untuk itu, penguatan iman bagi pemuda di zaman ini menjadi sangat penting karena mereka hidup di tengah arus perubahan yang cepat, tantangan moral yang kompleks dan kemajuan digital yang membawa banyak manfaat tetapi juga menghadirkan tantangan serius seperti melemahnya komitmen rohani dan terpengaruh oleh gaya hidup Pembinaan keselamatan dalam Kristus menjadi urgensi untuk menumbuhkan iman yang matang dan bertanggung jawab bagi setiap kaum mudah khususnya mahasiswa, dan hal itu dilakukan melalui pembinaan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, dimana pemuda diajak untuk tidak hanya mengetahui ajaran Kristen secara kognitif, tetapi juga menghayatinya secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Dasar inilah yang menjadi fondasi utama dalam pertumbuhan iman. Ketika pemuda menyadari bahwa mereka diselamatkan oleh kasih Allah dan dipanggil untuk hidup benar, mereka akan terdorong untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak sesuai dengan nilai Kristiani dan mulai membangun karakter yang mencerminkan kasih, tanggung jawab, dan integritas sebagai orang percaya. Menurut Risky Ranu dkk. Pemuda yang memiliki iman yang kuat tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan lingkungan, pergaulan bebas, maupun pengaruh negatif media sosial. Sebaliknya, mereka mampu menjadi pribadi yang bijak dalam mengambil keputusan, memiliki kepedulian sosial, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat (Skenoo Jurnal et al. Artinya bahwa pemuda yang memahami keselamatan dalam Kristus akan lebih siap terlibat aktif, melayani dengan tulus, dan menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai Kristiani ke tengah dunia. Keselamatan bukan hanya konsep teologis, melainkan dasar iman yang memberi kepastian, harapan, dan arah hidup. Oleh sebab itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini hadir sebagai respons strategis terhadap dinamika zaman yang kian menantang, di mana kemajuan teknologi dan arus informasi di era digital seringkali mengikis kedalaman spiritualitas generasi Dengan mengusung tema "Penguatan Iman Mahasiswa Kristen ITEBA melalui Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Pembinaan Keselamatan dalam Kristus Berbasis Relasi Pribadi di Era Digital. Hal ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teologis yang bersifat kognitif dengan penghayatan iman yang bersifat praktis dan personal. Melalui pendekatan berbasis relasi pribadi, program ini menekankan bahwa iman bukan sekadar kepatuhan pada aturan agama, melainkan hubungan yang hidup dan dinamis dengan Kristus yang mampu menjadi kekuatan di tengah gempuran dunia. Pembinaan ini dirancang untuk memperkuat fondasi spiritual mahasiswa agar mereka tidak hanya unggul secara intelektual di bidang teknologi dan bisnis, tetapi juga memiliki ketahanan moral yang kokoh. Dengan memfokuskan pada aspek keselamatan, mahasiswa diajak untuk merefleksikan kembali identitas mereka di dalam Tuhan, sehingga setiap tindakan di dunia maya maupun nyata didasari oleh kesadaran akan kasih karunia-Nya. METODE PELAKSANAAN Metode yang digunakan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam fenomena penguatan iman mahasiswa ITEBA di tengah tantangan era digital. Proses ini dilaksanakan melalui tiga tahapan sistematis untuk memastikan keberlanjutan dan dampak pembinaan yaitu pertama. Tahap Observasi. Pada tahap awal, tim melakukan pemetaan kondisi spiritual mahasiswa melalui analisis data awal sengan membagikan kuesioner dan pengamatan langsung terhadap perilaku serta pola pikir mahasiswa di lingkungan kampus. Data yang diperoleh pada tahap ini menjadi dasar untuk merancang materi pembinaan yang relevan dengan kebutuhan sehingga pembinaan tidak bersifat umum melainkan tepat sasaran. Kedua, tahap Pelaksanaan inti, dilakukan dengan pembinaan langsung melalui dialog interaktif, sesi berbagi dan pendampingan rohani yang kontekstual bagi mahasiswa. Fokus utama adalah membangun kesadaran bahwa iman harus dihidupi melalui relasi yang intim dengan Tuhan setiap hari, yang kemudian diwujudkan dengan perbuatan yang benar. Ketiga, tahap evaluasi, hal ini dilakukan untuk mengukur perubahan persepsi dan pola pikir mahasiswa dengan menelaah kembali respon mahasiswa setelah pembinaan untuk melihat sejauh mana mereka telah beralih dari pemahaman iman menuju penghayatan yang lebih personal secara nyata. HASIL DAN PEMBAHASAN Menjelaskan Makna Keselamatan dalam Kristus Keselamatan dapat dipahami sebagai Soteriologi berasal dari kata Yunani soteria . dan logos . , yang berarti studi tentang keselamatan (Situmorang Penguatan Iman Mahasiswa KristenA ( R. Evimalinda. Ditakristi. Gulo. Harefa. Lase. Kaunang. Marsiyem. Silaba. Pada awal pembinaan. Tim PkM menjelaskan bahwa Soteriologi atau keselamatan yang diwahyukan oleh Allah melalui karya penebusan Yesus Kristus (Messakh 2. Keselamatan ini mencakup seluruh aspek hubungan manusia dengan Allah dari pembenaran, pengudusan, hingga pemuliaan (Chia and Juanda 2. Dalam kerangka teologi Kristen yang bersifat Tritunggal, doktrin Soteriologi dapat dilihat sebagai perluasan dan spesialisasi teologi mengenai penciptaan dunia oleh Tuhan Tritunggal (Suryaningsih 2. Soteriologi mengacu pada pertimbangan teologis tentang keselamatan yang diwahyukan oleh Tuhan Sang Pencipta sebagai Juru Selamat sejak awal melalui kemurahan hati-Nya (Chia and Juanda 2. Keselamatan dalam perspektif Kristen bukan hasil dari usaha manusia atau amal ibadah manusia itu sendiri, melainkan anugerah dari Allah yang adil melalui karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Roma 5:8 menegaskan, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Efesus 2:8-9 dengan tegas menyatakan, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman. itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Soteriologi mencakup beberapa konsep teologis penting yang saling berkaitan: Pertama. Pertobatan (Metanoi. Pertobatan adalah perubahan pikiran dan hati yang radikal, di mana seseorang berbalik dari dosa dan berpaling kepada Allah. Pertobatan melibatkan penyesalan atas dosa, pengakuan dosa, dan komitmen untuk hidup baru dalam Kristus (Marantika 2. Kedua. Iman (Pisti. Iman adalah kepercayaan penuh kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual terhadap doktrin, melainkan penyerahan total kepada Kristus dan kepercayaan pada karya penebusan-Nya. Ibrani 11:1 mendefinisikan iman sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita "(Marantika 2. Ketiga. Regenerasi (Palingenesi. Regenerasi adalah kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Yohanes 3:3-7 mencatat perkataan Yesus kepada Nikodemus bahwa seseorang harus dilahirkan kembali untuk dapat melihat dan memasuki Kerajaan Allah. Regenerasi ini adalah pekerjaan Allah yang berdaulat, bukan hasil dari usaha manusia (Marisi 2. Keempat. Pembenaran (Justificatio. Pembenaran adalah tindakan Allah yang mengumumkan orang berdosa sebagai benar di hadapan-Nya berdasarkan karya penebusan Kristus. Roma 3:23-24 menyatakan, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus"(Marantika 2. Kelima. Pengudusan (Sanctificatio. Pengudusan adalah proses transformasi progresif di mana orang percaya semakin serupa dengan Kristus melalui pekerjaan Roh Kudus. 2 Korintus 3:18 menjelaskan, "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. " (Darius and Panggarra 2. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Soteriologi menekankan lima prinsip penting: Pertama, walaupun manusia harus mengambil keputusan, namun faktor utama yang menentukan siapa yang diselamatkan dari dosa adalah kedaulatan anugerah Allah. Kedua, akar penerapan keselamatan adalah ketetapan kekal Allah, berdasarkan kerelaan kehendak-Nya, bukan berdasarkan kebaikan manusia yang dipilih-Nya. Ketiga, keselamatan dikerjakan oleh Kristus melalui kematianNya di kayu salib. Keempat, keselamatan diterapkan oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Kelima, keselamatan ini bersifat kekal dan terjamin bagi mereka yang tetap tinggal di dalam Kristus. (Samarenna 2. Selain itu, mendeklarasikan juga bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Kisah Para Rasul 4:12 dengan tegas menyatakan, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. " Yesus sendiri menegaskan dalam Yohanes 14:6, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. " Keselamatan dalam perspektif Alkitab bersifat menyeluruh dan mencakup tiga dimensi waktu: keselamatan yang sudah terjadi . ustification diselamatkan dari hukuman dos. , keselamatan yang sedang berlangsung . anctification diselamatkan dari kuasa dos. , dan keselamatan yang akan datang . lorification diselamatkan dari kehadiran dos. (Marantika 2. Melalui pembahasan topik diatas membentuk pemahaman keselamatan yang benar bagi mahasiswa ITEBA dan kesadaran bahwa identitas mereka sebagai orang yang diselamatkan bukan berdasarkan prestasi akademik, pencapaian teknologi, atau kualitas moral mereka sendiri, melainkan semata-mata karena anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Kesadaran ini menolong mahasiswa untuk tidak terjebak dalam pola pikir dunia yang menilai nilai diri berdasarkan indeks prestasi, kemampuan intelektual, atau pengakuan sosial. Sebaliknya, mereka belajar memahami bahwa identitas sejati mereka telah diteguhkan di dalam Kristus sebagai pribadi yang dikasihi dan ditebus. Kesadaran ini juga menumbuhkan sikap rendah hati, karena setiap keberhasilan disadari sebagai hasil penyertaan Tuhan bukan kehabatan diri. Pembinaan Relasi Pribadi dengan Kristus sebagai Fondasi Iman Pada penjelasan topik ini membantu mahasiswa memperdalam relasi pribadi mereka dengan Tuhan Yesus. Hal tersebut dimulai dari kegiatan doa kontemplatif, di mana peserta didorong untuk merenungkan Firman Tuhan dan mengalami keheningan di hadapan Allah sehingga mahasiswa merasakan kehadiran Tuhan yang nyata dalam hidup Dengan adanya pengalaman spiritual yang mendalam, seseorang merasakan kehadiran Tuhan yang menghibur, menguatkan, dan membimbing mereka kearah yang lebih benar. Selain sesi doa, diarahakan untuk melakukan refleksi pribadi untuk merenungkan pengalaman hidup mereka dalam terang ajaran Kristus. Menurut Yakub Refleksi ini tidak hanya membantu seseorang dalam memahami lebih dalam tentang ajaran Yesus, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengevaluasi hidup mereka dan melihat bagaimana mereka dapat hidup lebih selaras dengan kehendak Tuhan. (Perangin Angin and Yeniretnowati 2. Penguatan Iman Mahasiswa KristenA ( R. Evimalinda. Ditakristi. Gulo. Harefa. Lase. Kaunang. Marsiyem. Silaba. Pengalaman transformatif sering dialami oleh mahasiswa yang sebelumnya merasa hidupnya penuh kekosongan. Melalui kegiatan doa dan refleksi pribadi, mereka merasakan perubahan yang signifikan dalam hidupnya mengalami kedamaian yang selama ini tidak pernah dirasakan, dan hubungan dengan Yesus menjadi lebih intim dan Penghayatan spiritualitas mahasiswa tidak hanya terbatas pada praktik doa pribadi, melainkan juga melibatkan kehidupan dalam komunitas iman. Didorong mahasiswa untuk terlibat dalam kelompok pembinaan, persekutuan doa, dan pelayanan gerejawi sehingga mengalami pertumbuhan spiritual yang lebih holistik. Roh Kudus secara aktif memberikan hidup serta dorongan kepada orang percaya untuk bertindak sesuai dengan Firman. Spiritualitas Kristen secara khusus menekankan keserupaan dengan Kristus yang berlandaskan kasih, sebagaimana yang ditunjukkan melalui pelayanan-Nya di dunia. Dalam hal ini, spiritualitas menjadi aspek fundamental dalam kehidupan mahasiswa karena menyangkut relasi pribadi dengan Allah, pembentukan karakter, dan pertumbuhan iman yang autentik. Bagi mahasiswa ITEBA secara khusus, pendalaman relasi pribadi dengan Yesus berarti mengintegrasikan iman mereka dengan kehidupan akademik dan profesional. Mereka diajar untuk melihat studi teknologi bukan sekadar untuk pencapaian karir, melainkan sebagai bagian dari panggilan mereka untuk memuliakan Allah dan melayani sesama. Mendorong Pertumbuhan Rohani yang Berkelanjutan Pertumbuhan rohani adalah proses seumur hidup yang melibatkan transformasi progresif menjadi serupa dengan Kristus. Filipi 1:6 memberikan jaminan bahwa Allah yang memulai pekerjaan yang baik di dalam orang percaya akan meneruskannya sampai hari Kristus Yesus. Pertumbuhan rohani bukan hasil dari usaha manusia semata, melainkan kerjasama antara kehendak manusia dan karya Roh Kudus. Pada aspek pertumbuhan rohani Tim PkM menjelaskan beberapa dimensi penting: Pertama, dimensi perjumpaan dengan Allah melalui ibadah dan refleksi teologis. Kedua, dimensi komunitas melalui persekutuan dan saling mendukung dalam iman. Ketiga, dimensi pelayanan melalui keterlibatan dalam misi gereja dan masyarakat. Keempat, dimensi transformasi karakter melalui pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Seseorang yang mengalami pertumbuhan rohani yang sehat akan menunjukkan beberapa indikator: Pertama, pemahaman teologis yang semakin mendalam dan matang. Kedua, relasi pribadi dengan Yesus yang semakin intim. Ketiga, karakter yang semakin mencerminkan buah Roh (Galatia 5:22-. Keempat, komitmen iman yang semakin kuat. Kelima, partisipasi aktif dalam kegiatan gereja dan pelayanan masyarakat. Oleh karena itu, keseluruhan dimensi tersebut dianggap sangat penting untuk direalisasikan mahasiswa sebagai wujud dari spiritualitas Kristen yang bertumbuh. Selain itu. Tim PkM terus mendorong mahasiswa agar memiliki disiplin dalam praktik spiritual seperti pembacaan Alkitab, doa, puasa dan pelayanan. Praktik-praktik ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sarana untuk mengalami perjumpaan dengan Allah yang Senada dengan kevin yang mengatakan bahwa praktik spiritual seperti doa Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 dan refleksi Alkitab terbukti efektif dalam menumbuhkan iman dan meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional seseorang. (Rey 2. Transformasi Karakter sebagai Buah Keselamatan Pada bagian ini. Tim dari pengabdian kepada masyarakat menekankan keselamatan yang sejati selalu menghasilkan transformasi karakter. Efesus 2:10 menegaskan, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. " 2 Korintus 5:17 menyatakan, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. " Transformasi karakter ini bukan hasil dari usaha moral manusia semata, melainkan buah dari pekerjaan Roh Kudus yang menguduskan orang percaya. Ketika Roh Kudus berkuasa dalam kehidupan seseorang, maka muncul buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Melalui Pembinaan ini, mahasiswa memiliki karakter-karakter Kristen yang mengacu kepada teladan Yesus Kristus. Tokoh sentral yang menjadi teladan bagi orang Kristen dalam karakter adalah Yesus Kristus. Pembinaan karakter Kristen bertujuan untuk menumbuhkembangkan karakter-karakter Yesus Kristus dalam diri mahasiswa dan mendorong terjadinya peningkatan kualitas karakter ke arah karakter Yesus Kristus. Beberapa karakter Kristen yang harus dikembangkan dalam kehidupan mahasiswa antara lain: Pertama. Karakter Bertanggung Jawab. Tuhan Yesus Kristus mendemonstrasikan karakter bertanggung jawab dalam pelayanan-Nya. Mahasiswa dengan karakter bertanggung jawab akan siap menghadapi tantangan era modern dengan penuh komitmen dan integritas dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik akademik maupun Kedua. Karakter Peduli. Yesus Kristus menunjukkan kepedulian-Nya kepada banyak orang melalui pengajaran dan pelayanan-Nya. Implikasinya bagi kalangan mahasiswa adalah mereka menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kepekaan untuk menolong orang lain yang memiliki kelemahan dan kekurangan baik dalam pengetahuan maupun keahlian. Ketiga. Karakter Rendah Hati. Filipi 2:5-8 menggambarkan kerendahan hati Kristus yang rela merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Artinya menjadi pribadi yang tidak akan sombong dengan pencapaian akademik atau keahlian yang dimiliki, melainkan mengakui bahwa semua talenta dan kemampuan adalah anugerah Allah. Keempat. Karakter Rajin. Mahasiswa dengan karakter rajin akan terus meningkatkan pengetahuan dan keahlian, tidak berleha-leha atau menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Penguatan Iman Mahasiswa KristenA ( R. Evimalinda. Ditakristi. Gulo. Harefa. Lase. Kaunang. Marsiyem. Silaba. Dokumentasi Kegiatan Kehadiran kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga menjadi edukasi penting sebagai Pendidikan Agama Kristen yang membentuk karakter mahasiswa di era Setiap nilai-nilai karakter yang diajarkan memiliki pemahaman yang baik bagi setiap mahasiswa di era digital ini. Nilai-nilai Kristiani seperti kasih, keadilan, tanggung jawab, integritas, dan kesetiaan pada kebenaran Firman Tuhan menjadi fondasi dalam pembentukan karakter yang kuat. Kasih mengajarkan mahasiswa untuk peduli dan melayani tanpa pamrih, keadilan membentuk sikap objektif dan menghargai sesama, sementara tanggung jawab menumbuhkan kesadaran akan peran dan panggilan hidup sebagai pelajar dan calon pemimpin masa depan. Integritas menjadi nilai penting di tengah tantangan akademik dan sosial yang rawan kompromi, sedangkan kesetiaan pada kebenaran Firman Tuhan menolong mahasiswa tetap memiliki arah hidup yang jelas di tengah relativisme nilai. Melalui pengabdian kepada masyarakat, seluruh nilai tersebut tidak hanya dipahami secara teori tetapi dilatih secara praktis, sehingga membentuk karakter mahasiswa yang matang secara iman, beretika, serta mampu menjadi terang dan garam di era digital yang terus berkembang. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Hasil Evaluasi Kegiatan Berdasarkan hasil pengolahan data evaluasi, diperoleh temuan sebagai berikut: Penguasaan dan penyampaian materi oleh narasumber memperoleh penilaian baik, dengan rata-rata skor 3,65 . Kedua. Penggunaan bahasa dan kejelasan penyampaian materi dinilai jelas dan mudah dipahami, dengan rata-rata skor 3,62. Ketiga. Kedisiplinan waktu dan ketepatan pelaksanaan kegiatan memperoleh skor rata-rata 3,65, menunjukkan pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai agenda. Keempat. Pelayanan panitia terhadap peserta mendapatkan skor rata-rata 3,69, mencerminkan kesiapan dan dukungan panitia selama kegiatan berlangsung. Kelima. Kesesuaian tema kegiatan dengan materi yang disampaikan memperoleh skor tertinggi dengan rata-rata 3,72, menunjukkan relevansi yang kuat antara tema PkM dan kebutuhan peserta. Keenam. Sarana dan prasarana kegiatan dinilai memadai dengan skor rata-rata 3,65. Ketujuh. Kejelasan informasi dari panitia memperoleh skor rata-rata 3,62, menunjukkan komunikasi kegiatan berjalan dengan baik. Secara umum, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan PkM ini berada pada kategori sangat baik, baik dari aspek materi, narasumber, pelaksanaan, maupun relevansi kegiatan bagi peserta kegiatan. KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari keseluruhan pembahasan ini menegaskan bahwa pemahaman yang benar tentang keselamatan dalam Kristus merupakan dasar yang sangat penting bagi pembentukan iman dan karakter mahasiswa Kristen. Keselamatan tidak dipahami sebagai hasil usaha manusia, melainkan sebagai anugerah Allah yang diterima melalui iman kepada Yesus Kristus yang mendorong terjadinya pertumbuhan rohani berkelanjutan. Pertumbuhan ini tampak melalui kehidupan doa, pembacaan Firman Tuhan, persekutuan, serta kesediaan untuk terus dibentuk dalam proses pembelajaran dan pelayanan. Mahasiswa diajak untuk tidak berhenti pada pengetahuan iman semata, tetapi terus bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang tercermin dalam sikap hidup sehari-hari. Dengan demikian, mahasiswa Kristen diharapkan mampu menjadi pribadi yang berkarakter kuat, menjadi terang dan garam bagi lingkungan sekitar, serta berkontribusi secara positif bagi gereja, masyarakat, dan bangsa. UCAPAN TERIMAKASIH Kami Mengucapkan terimakasih banyak kepada Ketua STT Real Batam yang telah memberikan dukungan penuh pada kegiatan pengabdian ini sehingga terlaksana dengan Apresiasi yang setinggi-tingginya juga kami sampaikan kepada seluruh panitia pelaksana yang telah bekerja dengan penuh tanggung jawab dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Institut Teknologi Batam sebagai mitra yang telah membuka ruang kolaborasi serta berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan ini. Penguatan Iman Mahasiswa KristenA ( R. Evimalinda. Ditakristi. Gulo. Harefa. Lase. Kaunang. Marsiyem. Silaba. DAFTAR PUSTAKA