e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 4 (No. : Halaman 81-91 Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Wanita Usia Subur (WUS) Terhadap Penggunaan KB IUD Relationship between knowledge and attitude women of childbearing age towards the use of IUDs Susiani1 . Siti Rahmah2 & Anna Malia3 Fakultas Kesehatan Universitas Almuslim. Indonesia 1,2,3 Disubmit: 17 Maret 2025. Diproses: 17 Maret 2025. Diaccept: 30 Maret 2025. Dipublish: 31 Maret 202 *Corresponding author: E-mail: susianiani825@gmail. Abstrak Peningkatan kesejateraan hidup dan kesehatan dimulai dari menciptakan keluarga berkualitas. Penggunaan KB IUD di Indonesia tergolong rendah, tahun 2020 KB aktif IUD 6,55% dari target 25,9 % jika dibandingkan dengan metode kb yang lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap Wanita Usia Subur (WUS) terhadap penggunaan KB IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen. Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2024 hingga Januari 2025. Sampel penelitian ini adalah seluruh WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah berjumlah 2015 Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, menggunakan rumus slovin berjumlah 95 orang. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil uji univariat diperoleh mayoritas pengetahuan WUS pada kategori kurang dengan frekuensi 51 orang . ,7%), sikap wanita WUS pada kategori negatif dengan frekuensi 73 orang . ,8%) dan penggunaan KB IUD WUS pada kategori tidak menggunakan dengan frekuensi 77 orang . ,1%). Hasil uji statistik didapatkan nilai A . < . Kesimpulannya adalah ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap wanita usia subur dengan penggunaan KB IUD. Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai KB IUD sebab pengetahuan dapat menentukan seseorang dalam menggunakan KB IUD sebagai akseptor KB. Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Wanita Usia Subur. KB IUD Abstract Improving welfare and health starts from creating a quality family. The use of IUD family planning in Indonesia is relatively low, in 2020 active IUD family planning was 6. 55% the target of 25. 9% when compared with other family planning methods. Purpose study was to determine the relationship between knowledge and attitudes Women Fertile Age towards use IUDs in Pandrah Health Center. Bireuen Regency. Type research is analytic with a cross-sectional approach. Research was conducted from December 2024 - January 2025. Sample this study all WUS in Pandrah Health Center, totaling 2015 people. Sampling technique used simple random sampling, using the slovin formula totaling 95 people. Data processing using SPSS. Results univariate test obtained majority WUS knowledge in insufficient category frequency 51 people . 7%). Attitude of WUS women in negative category frequency 73 people . and the use of KB IUD WUS in the non-use category frequency 77 people . 1%). Statistical test results obtained a value A . < . Conclusion there is a significant relationship between the knowledge and attitudes women childbearing age with the use IUD. Expected to increase knowledge and insight the KB IUD because knowledge can determine person in using KB IUD as a KB acceptor. Keywords: Knowledge. women of childbearing age. IUD contraception DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Susiani. Rahmah. , & Malia. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Wanita Usia Subur (Wu. Terhadap Penggunaan Kb IUD Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES), 1 . : Halaman. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes PENDAHULUAN Keluarga berencana merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menghindari kehamilan resiko tinggi. Keluarga berencana tidak dapat menjamin kesehatan ibu dan anak, akan tetapi dapat melindungi keluarga terhadap kehamilan dengan resiko tinggi. Keluarga Berencana (KB) dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesakitan (Lubis et al. Upaya kehidupan bangsa dapat dilaksanakan antara lain dengan pembangunan bidang ekonomi dan Keluarga Berencana (KB) secara bersama. Bila gerakan Keluarga Berencana tidak dilakukan bersamaan dikhawatirkan hasil pembangunan tidak akan berarti. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2003 mencapai 210 juta jiwa, dengan angka pertumbuhan 1,6 %. Untuk mengatasi hal tersebut digalakkan program KB Nasional (Wulandari, 2. Program Pembangunan Keluarga. Kependudukan, dan Keluarga Berencana menjadi program kebijakan kependudukan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan di bidang ekonomi, sosial, dan demografi. Program Keluarga Berencana memiliki sasaran pengendalian laju pertumbuhan penduduk yaitu Total Fertility Rate (TFR). Age Spesific Fertility Rate (ASFR 15-19 tahu. , kebutuhan KB tidak terpenuhi . nmet nee. , dan Contraceptive Prevalence Rate (CPR)(Abdullah et al. , 2. Data dari seluruh dunia diperoleh jumlah akseptor KB IUD saat ini mencapai 100 juta Wanita Usia Subur (WUS). Bila dibandingkan Negara-negara maju Jumlah akseptor KB IUD di Cina dari segi persentase tujuh kali lebih besar yaitu 69% dari jumlah PUS (Lubis. Sugiarti, & Fauziah. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia sebesar 61%. Data tersebut sudah melebihi rata-rata ASEAN . ,1%). Namun masih lebih rendah dibandingkan di Vietnam . %). Kamboja . %). Thailand . %) (Sari et al. , 2. Berdasarkan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 20152020. Tahun 2020 Pasangan Usia Subur (PUS) yang menjadi akseptor KB aktif mencapai presentase 75,70%, dengan jumlah pencapaian peserta IUD 4,35%. Pada tahun 2010 cakupan KB aktif pada IUD peningkatan yaitu 5,97 %. Dan pada tahun 2020 cakupan KB aktif pada alat kontrasepsi IUD 6,55% dari target 25,9% (Lubis et al. , 2. Proporsi pemakaian KB pada PUS menurut provinsi berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia pada tahun 2019 menunjukkan bahwa provinsi tertinggi dengan PUS yang menggunakan KB adalah provinsi Bengkulu sebanyak 71,4% dan yang paling rendah adalah Provinsi Papua Barat sebanyak 25,4%. Aceh menduduki posisi ke 24 terbanyak menggunakan KB 54,2%. Proporsi pemakaian KB hormonal pada PUS menurut provinsi berdasarkan data profil Indonesia pada tahun 2019 menunjukkan bahwa provinsi tertinggi PUS yang menggunakan KB hormonal yaitu provinsi Maluku Utara sebanyak 97,4% dan yang paling terendah adalah provinsi Bali sebanyak 60,17%. Aceh menduduki posisi ke 11 terbanyak menggunakan KB hormonal 94% dari jumlah keseluruhan penggunaan KB di Aceh (Machfoedz, 2. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Di Provinsi Aceh, cakupan PUS pada tahun 2018 sebesar 633. 662 dengan kepesertaan KB aktif sebesar 351. ,50%). Pada tahun 2018 persentase peserta KB suntik sebesar 247. ,72%). Pil 67. ,54%), kondom 335 . ,26%) dan penggunaan kontrasepsi implant sebesar 10. ,97%). MOW MOP 470 . dan IUD 813 . ,43%) (Kemenkes RI, 2. Sedangkan pada tahun 2019 cakupan PUS 436 dengan kepesertaan KB aktif sebesar 366. 193, untuk Persentase peserta KB suntik yaitu 257. ,6%), Pil 69. ,4%), kondom 4. ,3%) dan penggunaan KB implant sebesar 752 . ,0%). MOW 3. ,0%). MOP ,1%) dan IUD 12. ,5%) (Rahmayani et al. , 2. Data Dinkes Aceh . diperoleh jumlah akseptor KB di Provinsi Aceh yaitu 343. 760 jiwa dari jumlah PUS 6. 343 jiwa. Data Dinkes Kabupaten Bireuen . diperoleh PUS 116 jiwa dan pengguna KB berdasarkan jenis KB yaitu KB Kondom 1. 027 jiwa. KB Implan 1. 477 jiwa. KB IUD 401 jiwa. KB suntik 60 jiwa dan KB MOP 61 jiwa. Alat kontrasepsi yang mempunyai efektivitas cukup tinggi dan merupakan alat kontrasepsi non hormonal serta bisa digunakan dalam jangka panjang yaitu Intra Uterine Device (IUD). IUD merupakan dimasukkan ke dalam rahim yang terbuat dari plastic elastis yang dililit tembaga atau campuran tembaga dengan perak. Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas dengan jangka waktu penggunaan antara dua hingga sepuluh tahun dengan metode kerjanya mencegah masuknya spermatozoa kedalam saluran tuba (Wahyuningsih et al. Penggunaan kontrasepsi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposing . ari diri sendir. yang mencakup pengetahuan, sikap, umur, jumlah anak, persepsi, pendidikan, ekonomi dan variabel Faktor enabling . yang mencakup fasilitas penunjang, sumber informasi dan kemampuan sumber daya, dan faktor reinforcing . yang mencakup dukungan keluarga seperti . uami dan ana. , serta tokoh Masyarakat (Anggrainy et al. , 2. Beberapa berhasilnya program KB IUD diantaranya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu dan faktor pendukung lainnya. Untuk mempunyai sikap yang positif tentang KB diperlukan pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan program KB berkurang. Rendahnya ibu yang menggunakan kontrasepsi IUD disebabkan oleh kurangnya informasi tentang manfaat menggunakan kontrasepsi IUD sehingga sikap ibu dalam pemilihan IUD masih sangat rendah yang berdampak kontrasepsi IUD. Keadaan tersebut sangat mempengaruhi keputusan ibu untuk menggunakan kontrasepsi IUD (Satria et al. Pengetahuan memilih alat kontrasepsi yang tepat merupakan hal penting dalam upaya Minimnya pengetahuan tersebut akan berdampak terhadap peningkatan angka kematian ibu hamil dan bersalin, angka kehamilan yang tidak diinginkan, dan angka kejadian penyakit menular seksual, serta angka kejadian gangguan kesehatan akibat efek samping kontrasepsi (Than et al. , 2. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Berdasarkan minim dalam memilih alat kontrasepsi menunjukkan perubahan jumlah peserta KB. Banyak perempuan mengalami kesulitan di dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode metode kontrasepsi tersebut. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua (Dewi et al. , 2. Sikap yang positif tentang KB diperlukan pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan program KB berkurang. Ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar untuk menggunakan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang: AKDR. IUD. Implant. MOW. MOP) dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan rendah, namun belum tentu ibu yang berpengetahuan baik memilih metode IUD karena ibu tersebut sudah mengetahui cara pemasangan, efek samping dan lain sebagainya (Notoatmodjo. Berdasarkan data akseptor KB di Puskesmas Pandrah tahun 2023, terdapat 30 orang akseptor. Sedangkan jika dilihat dari persentase pengguna KB berdasarkan jenisnya di Puskesmas Pandrah Agustus tahun 2024 diperoleh pengguna KB Kondom 44 orang . ,8%). KB Pil 90 orang . ,1%). KB Suntik 128 orang . ,1%). KB Implan 83 orang . %) dan KB IUD 34 orang . %) dari 959 akseptor KB. Berdasarkan disimpulkan pengguna KB aktif untuk KB IUD paling rendah, peningkatan dari tahun sebelumnya yang tidak terlalu signifikan dan mayoritas WUS banyak memilih kontrasepsi jenis suntik. Penelitian Norita. Hasbiah. Amalia. R tentang Hubungan Pengetahuan Sikap Ibu dan Dukungan Keluarga dengan Penggunaan Kontrasepsi IUD diperoleh bahwa penelitian ini dari 35 responden yang diteliti didapatkan ada hubungan sikap A-value = 0,01 dengan penggunaan kontrasepsi IUD (Norita et al. , 2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini bersifat analitik (Machfoedz, 2. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen berjumlah 2015 Teknik pengambilan sampel yang adalah simple random sampling dengan rumus slovin berjumlah 95 orang. Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen pada bulan Desember 2024 sampai dengan Januari 2025. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini pengetahuan dan sikap yang berjumlah 15 Pengolahan data yaitu editing, coding, processing, tabulating. Analisa data univariat mengunakan rumus menggunakan teknik chi square. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Pandrah berusia 26-35 tahun berjumlah 55 orang . ,9%), mayoritas responden memiliki 12 anak berjumlah 73 orang . ,8%), mayoritas responden menikah berjumlah . %), berpendidikan SMA berjumlah 57 orang . %), mayoritas pendapatan keluarga dibawah Upah Minimum Rata-rata (UMR) berjumlah 61 orang . ,2%), mayoritas responden memperoleh informasi dari lingkungan berjumlah 57 orang . %) dan mayoritas responden menggunakan KB suntik berjumlah 29 orang . ,5%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Usia Ibu 17-25 Tahun 26-35 Tahun 36-45 Tahun Jumlah Jumlah Anak 1-2 anak 3-5 anak Jumlah Status Pernikahan Menikah Belum/Tidak Jumlah Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah Penghasilan > UMR < UMR Jumlah Sumber Informasi Media Sosial Tenaga Kesehatan Lingkungan Jumlah Kontrasepsi Yang Digunakan Pil Suntik Implan IUD Jumlah Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2024 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan WUS No Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2024 Berdasarkan tabel 2 di atas didapatkan bahwa mayoritas pengetahuan WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen pada kategori kurang dengan frekuensi 51 orang . ,7%) Tabel 3. Distribusi Frekuensi Sikap WUS Sikap Positif Negatif Jumlah Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2024 Berdasarkan tabel 3 di atas didapatkan bahwa mayoritas sikap WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen pada kategori negatif dengan frekuensi 73 orang . ,8%). Berdasarkan tabel 1 di atas diperoleh bahwa mayoritas responden e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Berdasarkan tabel 4 di atas didapatkan bahwa mayoritas penggunaan KB IUD WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen pada kategori tidak menggunakan dengan frekuensi 77 orang . ,1%). Tabel 4. Distribusi Frekuensi Penggunaan KB IUD Penggunaan KB IUD Menggunakan Tidak Menggunakan Jumlah Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2024 Tabel 5. Hubungan Pengetahuan WUS terhadap Penggunaan KB IUD Pengetahuan Baik Cukup Kurang Penggunaan KB IUD Menggunakan Tidak 0,00 Jumlah Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2024 Menurut Notoatmodjo tahun 2018 bahwa pengetahuan adalah hal yang sangat penting dalam terbentuknya tindakan seseorang. Menurut peneliti perbedaan hasil pengetahuan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor kurangnya informasi diterima oleh masyarakat dalam suatu Ibu yang memiliki atau mempunyai pengetahuan yang kurang akan cenderung tidak bersedia memilih kontrasepsi AKDR sebagai metode untuk menjarangkan kehamilan (Pratiwi & Restiana, 2. Berdasarkan pengetahuan yang minim dalam memilih alat kontrasepsi menunjukkan perubahan jumlah peserta KB. Banyak perempuan mengalami kesulitan di dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode-metode kontrasepsi tersebut. Berbagai faktor harus dipertimbangkan. Hasil uji chi square dengan tingkat kepercayaan 5% didapatkan nilai A . < . , sehingga Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan WUS dengan penggunaan KB IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen. Nilai yang digunakan adalah pearson chi-square dikarenakan tabel kontingensi 3x2. Hasil penelitian ini pengetahuan responden yang pengetahuan baik tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi IUD berhubungan dengan pendidikan ibu yang mayoritas berpendidikan SMA berjumlah 57 orang . %). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (Rahayu. Reza, & Usman, 2. yang meneliti tentang pengetahuan penggunaan alat kontrasepsi ditemukan 66,3 % responden memiliki pengetahuan tinggi tentang kontrasepsi IUD, . ,8 %) 86,5% kontrasepsi IUD. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan lingkungan dan orang tua (Dewi et al. Selain itu, pengetahuan ibu yang baik dan cukup tidak menggunakan KB IUD dikarenakan mayoritas responden berusia 26-35 tahun berjumlah 55 orang . ,9%), mayoritas responden memiliki 12 anak berjumlah 73 orang . ,8%), informasi dari lingkungan berjumlah 57 orang . %) dan mayoritas responden menggunakan KB suntik berjumlah 29 orang . ,5%). Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Mubarak bahwa . mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain: pendidikan, pekerjaan, pengalaman, usia, lingkungan, minat dan informasi (Febriani et al. , 2. Tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan tentang kesehatan. hal ini menyebabkan seseorang tidak dapat berfikir secara rasional sehingga lebih lingkungan sekitar tentang kontrasepsi tanpa mencoba untuk mendapatkan informasi yang lebih terpercaya. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa tingkat pendidikan yang rendah akan seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenalkan (My & Sulfiana, 2. Seseorang yang berpendidikan dapat meningkatkan dan memberikan informasi serta pemahaman akan ilmu Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan lebih mudah dalam menerima dan memahami berbagai informasi. Lingkungan pekerjaan dari seseorang juga dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, semakin banyak pengalaman yang dilalui seseorang maka pengetahuan yang dimilikinya juga semakin bertambah. Dengan bertambahnya usia diharapkan kemampuan seseorang untuk menangkap dan memahami informasi yang diketahui lebih berkembang agar pengetahuan yang didapatkan mudah untuk dipahami. Lingkungan tempat seseorang berada juga pengetahuan yang dimilikinya Lingkungan yang baik akan memperoleh dan memahami pengetahuan dengan mudah. Seseorang yang memiliki minat yang tinggi terhadap suatu hal akan menjadikan seseorang tesebut berusaha mendapatkan juga pengetahuan yang lebih banyak. Informasi yang diperoleh Semakin banyak dan rajin seseorang mencari informasi, maka pengetahuan yang didapatkan lebih banyak dan luas (Raddin et al. , 2. Sosial budaya dan lingkungan berhubungan dengan penggunaan alat kontrasepsi MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang: AKDR. IUD. Implant. MOW. MOP) sosial budaya yang berlaku keputusan dalam penggunaan alat kontrasepsi, dimana lingkungan dengan kecenderungan budaya yang kurang baik mempengaruhi pengambilan keputusan e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes penggunaan kontrasepsi MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang: AKDR. IUD. Implant. MOW. MOP), begitu pula kecenderungan budaya yang baik akan berdampak pada tingginya penggunaan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjan. (Adethia et al. , 2. Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian Pratiwi. Fidyah. , & Leni tentang Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Terhadap Kontrasepsi AKDR di TPMB AoLAo Cipayung Depok Tahun 2023 diperoleh terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kontrasepsi AKDR terdapat nilai A-value = 0,001 < 0,05. Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap kontrasepsi AKDR (Pratiwi & Restiana, 2. Tabel 6. Hubungan Pengetahuan WUS terhadap Penggunaan KB IUD Penggunaan KB IUD Sikap Menggunakan Tidak Positif Negatif Jumlah Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2024 0,000 Dalam penelitian ini mayoritas sikap WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen pada kategori negatif dengan frekuensi 73 orang . ,8%). Hal ini berhubungan dengan keluarga, sumber informasi dan jumlah anak yang dimiliki oleh responden. Hal ini sejalan dengan penelitian Satria D. Chairuna. Handayani S (Satria et al. , 2. tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan. Dukungan Suami, dan Sikap Ibu dengan Penggunaan Kontrasepsi IUD diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan penggunaan kontrasepsi IUD di Desa Sukapindah Kabupaten OKU tahun 2021. Pada penelitian ini, responden hanya mendapatkan informasi dari lingkungan tanpa mencari informasi lebih dalam mengenai penggunaan KB IUD di media masa dan tenaga kesehatan dimana informasi dari lingkungan berjumlah 57 . %). Responden beranggapan bahwa penggunaan KB IUD Hasil uji chi square dengan tingkat kepercayaan 5% didapatkan nilai A . < . , sehingga Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti ada hubungan yang signifikan antara sikap WUS dengan penggunaan KB IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen. Nilai yang digunakan adalah fisherAos exact test dikarenakan tabel kontingensi 2x2 dengan nilai expected < 5. Hasil penelitian menunjukkan sikap dan keyakinan merupakan kunci penerimaan KB. Banyak sikap yang dapat menghalangi KB dan penggunaan suatu alat kontrasepsi. Banyak ibu bersikap juga ibu yang bersikap positif terhadap alat kontrasepsi IUD. Hal ini karena apa yang sering mendengar dengar mengenai rumor/ mitos yang beredar di masyarakat, misalnya rumor tentang IUD yang dapat berpindah-pindah menyakini bahwa tidak semua orang menggunakan kontrasepsi IUD mengalami hal yang sama. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes menyebabkan ragu dan tidak berminat menggunakan penggunaan KB IUD. Persepsi efek samping terhadap berpartisipasi akseptor IUD disebabkan pengaruh dari teman atau kerabat terdekat, serta kurangnya informasi mengenai penggunaan KB IUD. Responden dengan persepsi positif cenderung berminat karena sudah mengetahui efek Responden dengan persepsi negatif cenderung tidak tertarik (Sutrisminah et , 2. Dalam penelitian ini sebagian sikap WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen pada kategori positif dengan frekuensi 22 orang . ,2%). Pada responden yang memiliki sikap positif kontrasepsi, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti pendapatan yang kurang, tidak adanya dukungan suami atau keluarga atau pengetahuan yang berdasarkan pengalaman orang lain, media massa dan sosial budaya. Adanya responden yang positif ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pengetahuan dan pengalaman responden. Para wanita umumnya lebih menyadari bahwa jenis kelamin anak tidak penting sehingga bila jumlah anak sudah dianggap ideal maka para wanita cenderung untuk tidak mengikuti program KB. Jumlah anak mulai diperhatikan setiap keluarga karena berkaitan dengan tingkat kesejahteraan, semakin banyak anak semakin banyak pula rezeki, tanggungan kepala keluarga dalam mencukupi kebutuhan materil selain itu juga untuk menjaga kesehatan sistem reproduki karena semakin sering melahirkan semakin rentan terhadap kesehatan ibu (Melda et al. , 2. Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau Sikap merupakan kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksanaan motif Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social (Abadi et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pratiwi. Fidyah. , & Leni tentang Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Terhadap Kontrasepsi AKDR di TPMB AoLAo Cipayung Depok Tahun 2023 diperoleh kontrasepsi AKDR terdapat nilai pValue = 0,035 < 0,05 Kesimpulan pada penelitian pengetahuan dan sikap ibu terhadap kontrasepsi AKDR (Pratiwi & Restiana. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat menyimpulkan beberapa Kesimpulan. Diantaranya adalah Ada hubungan pengetahuan WUS dengan penggunaan KB IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen dan Ada hubungan sikap WUS dengan penggunaan KB IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Pandrah Kabupaten Bireuen UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih terutama ditujukan kepada dosen pembimbing yang e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes telah meluangkan waktunya dalam proses penyusunan skripsi ini dan kepada berpartisipasi dalam penelitian ini serta kepada pihak UPTD Puskesmas Pandrah Kecamatan Pandrah Kabupaten Bireuen yang telah memberikan izin penelitian di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Pandrah DAFTAR PUSTAKA