JURNAL MANAJEMEN SOSIAL EKONOMI (DINAMIKA) p-ISSN : 2808-8786 . VOL 4. No. Oktober 2024, pp. 182 - 191 e-ISSN : 2798-1355 . http://journal. id/index. php/dinamika Eksplorasi Kecurangan Keuangan PT. Asabri (Perser. Melalui Pendekatan Cash Flow Shenanigans Natalis Christian1. Arlina2. Julie Tryany3. Vera Laurence Liang4. Yohanis Rerung5 1,2,3,4 Universitas Internasional Batam Baloi-Sei Ladi. Jl. Gajah Mada. Tiban Indah. Kec. Sekupang. Kota Batam. Kepulauan Riau, . 7437111, christian@uib. Universitas Kristen Indonesia Paulus Jl. Perintis Kemerdekaan No. Km. Daya. Kec. Tamalanrea. Kota Makassar. Sulawesi Selatan, . 582825, yohanisrerung85@gmail. ARTICLE INFO Article history: Received 08 Agustus 2024 Received in revised form 03 September 2024 Accepted 10 Oktober 2024 Available online 30 Oktober 2024 ABSTRACT The phenomenon of fraud in financial reports has become a global issue that affects market integrity and investor confidence. This study aims to identify fraudulent practices in PT Asabri (Perser. 's cash flow reports with a focus on cash flow shenanigans The research method uses forensic analysis and investigative audits of Asabri's financial reports from 2012 to 2017. The research results show indications of cash flow manipulation through the cash flow shenanigans no. 1, 2, and 3. This study highlights the importance of understanding and monitoring transparent and accurate accounting practices in public companies. Irregularities in financial statements not only harm investors, but can also create overall market This study also highlights the need for tighter supervision and regulation of public financial reporting, especially in the state-owned pension and insurance sectors. Overall, the findings of this article can not only increase awareness of the risks of fraud in financial reporting, but can also serve as a guide for regulators and practitioners in efforts to prevent and detect similar practices in the Keywords: Fraud. Financial Statement. Cash Flow Shenanigans Abstrak Fenomena kecurangan dalam laporan keuangan menjadi isu global yang mempengaruhi integritas pasar dan kepercayaan investor. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi praktik kecurangan dalam laporan arus kas PT Asabri (Perser. dengan fokus pada teknik cash flow shenanigans. Metode penelitian menggunakan analisis forensik dan audit investigatif terhadap laporan keuangan Asabri dari tahun 2012 Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi manipulasi arus kas melalui teknik cash flow shenanigans no. 1, 2, dan 3. Studi ini menyoroti pentingnya untuk memahami dan mengawasi praktik akuntansi yang transparan dan akurat dalam perusahaan publik. Penyimpangan dalam laporan keuangan tidak hanya merugikan investor, tetapi juga dapat menciptakan ketidakstabilan pasar secara keseluruhan. Studi ini juga menyoroti kebutuhan akan pengawasan dan regulasi yang lebih ketat terhadap pelaporan keuangan Received Agustus 08, 2024. Revised September 3, 2024. Accepted Oktober 10, 2024 p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 publik, terutama dalam sektor dana pensiun dan asuransi milik negara. Secara keseluruhan, temuan artikel ini tidak hanya dapat meningkatkan kesadaran akan risiko kecurangan dalam pelaporan keuangan, namun juga dapat sebagai panduan bagi regulator dan praktisi dalam upaya pencegahan dan deteksi praktek serupa di masa depan. Kata Kunci: Kecurangan. Laporan Keuangan. Cash Flow Shenanigans PENDAHULUAN Fenomena kecurangan telah diakui sebagai masalah yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga sebagai isu global yang memiliki dampak signifikan. Hal ini tercermin dalam hasil survei dari ACFE . yang mengungkapkan total 2. 110 kasus kecurangan jabatan . ccupational frau. dari 133 negara, dengan kerugian finansial mencapai $3,6 miliar. Di kawasan Asia Pasifik, kecurangan juga merupakan masalah serius dengan jumlah kejadian fraud mencapai 194 kasus (ACFE, 2. Setiap perusahaan baik itu perusahaan lokal, asing maupun BUMN memiliki potensi yang sama untuk mengalami kejahatan korporasi yang berakhir pada kerugian finansial yang cukup signifikan (Christian, 2. Kondisi-kondisi ini semakin menunjukkan bahwa kecurangan adalah tantangan yang memerlukan perhatian serius serta langkah-langkah pendeteksian dan pencegahan yang efektif (Pricylia & Budiantara, 2. Praktik kecurangan lebih sering terjadi pada negara berkembang karena sistem keamanan di negara berkembang cenderung kurang kuat dan terorganisir dibandingkan dengan negara maju (Zuberi & Mzenzi. Sebagai salah satu negara berkembang. Indonesia mengalami tantangan praktik fraud yang cukup Menurut survei ACFE Indonesia . Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp. 873,43 miliar dengan rata-rata kerugian per kasus mencapai Rp. 7,24 miliar, yang menunjukkan besarnya dampak dari praktik kecurangan tersebut. Manipulasi laporan keuangan adalah salah satu bentuk kecurangan yang sering kali terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia dengan persentase kejadian mencapai 9% (ACFE Indonesia, 2. Manajemen perusahaan memiliki kewajiban untuk menyajikan informasi keuangan yang akurat dan terpercaya dalam bentuk laporan keuangan kepada pihak yang memiliki kepentingan dalam pengawasan atau regulasi perusahaan (Fernando & Pangaribuan, 2. Namun, manajemen perusahaan seringkali menyalahgunakan potensi ini akibat dorongan dari pemangku kepentingan untuk menciptakan laporan keuangan yang terlihat lebih menguntungkan daripada yang sebenarnya dengan tujuan untuk menarik minat investor atau calon investor (Christian. Vinelia, et al. , 2023. Septriani & Handayani, 2. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi ekonomi Indonesia, mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh praktik kecurangan terhadap integritas pasar keuangan dan kepercayaan investor. Laporan arus kas memiliki nilai signifikan yang sebanding dengan laporan laba rugi dalam konteks informasi keuangan perusahaan yang juga memperlihatkan aspek-aspek krusial yang tidak dapat diabaikan (Zulaeha, 2. Laporan arus kas adalah laporan keuangan yang menyajikan gambaran tentang jumlah kas yang diperoleh dari berbagai kegiatan tersebut serta perubahan bersih kas selama periode tersebut (Murtianingsih & Hastuti, 2. Informasi ini sangat berharga bagi pemangku kepentingan untuk menilai tingkat keberlanjutan perusahaan dari sisi kas dalam memenuhi kebutuhan operasional serta kewajiban finansial perusahaan (Murtianingsih & Hastuti, 2. Dalam beberapa dekade terakhir ini, banyak praktisi di bidang audit dan keuangan cenderung lebih memprioritaskan analisis terhadap transaksi akrual daripada terhadap arus kas perusahaan (Tarjo et al. , 2. Hal ini menyebabkan potensi kesulitan dalam mendeteksi kecurangan atau manipulasi yang mungkin terjadi dalam laporan keuangan yang berfokus pada arus kas (Dimitrijevic et al. , 2. Meskipun arus kas sering dianggap lebih sulit untuk dimanipulasi, kenyataannya adalah bahwa manipulasi finansial juga dapat terjadi dalam area ini. Hal ini didukung oleh Cristian et al. yang menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi rentan terhadap manipulasi laporan arus kas melalui penerapan teknik pencatatan pendapatan yang berlebihan yang dapat menghasilkan pencitraan posisi arus kas perusahaan yang lebih tinggi dari realitasnya. Oleh sebab itu, analisa yang mendalam terhadap laporan arus kas, termasuk potensi risiko manipulasi yang terkait, sangat penting untuk memastikan kredibilitas dan keandalan informasi keuangan perusahaan. PT. Asabri (Perser. yang merupakan perusahaan asuransi milik negara juga terlibat dalam skandal besar terkait praktik kecurangan dan manipulasi laporan keuangan. Pada tahun 2020, kasus manipulasi laporan keuangan yang melibatkan Asabri menjadi sorotan publik setelah ditemukan adanya ketidaksesuaian dalam laporan keuangan dan kerugian investasi yang sangat besar (Puskajiakn. id, 2. Investigasi menemukan bahwa antara tahun 2012 hingga 2019, sejumlah pejabat tinggi Asabri berkolusi dengan pihak eksternal untuk mengelola saham secara tidak wajar. Para pejabat tinggi Asabri membeli atau menukar saham dalam portofolio Asabri dengan saham yang harganya telah dimanipulasi sehingga memberikan kesan nilai yang tinggi tetapi sebenarnya merugikan negara hingga Rp 22,78 triliun (BPK RI, 2. JURNAL MANAJEMEN SOSIAL EKONOMI (DINAMIKA) Vol. No. Oktober 2024, pp. p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 Berdasarkan latar belakang permasalahan ini, artikel ini akan mencoba menganalisa kasus kecurangan Asabri ini menggunakan teknik-teknik cash flow shenanigans. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa, mengidentifikasi, dan mengevaluasi apakah terdapat indikasi praktik kecurangan dalam laporan arus kas yang disajikan oleh Asabri yang didasarkan pada teknik cash flow shenanigans. Sebelum itu, beberapa penelitian terdahulu telah melakukan analisa kasus fraud pada beberapa perusahaan di Indonesia dengan menggunakan teknik cash flow shenanigans seperti analisa pada PT. Pertamina Tbk (Christian. Vinelia, et al. , 2. PT. Waskita Karya Tbk (Christian. Pina, et al. , 2. PT. Cakra Mineral Tbk (Christian. Karen, et al. , 2. PT. Timah Tbk (Christian. Kelly, et al. , 2. , dan PT. Hanson Internasional Tbk (Cristian et al. , 2. Selain itu. Christian. Fedelia, et al. telah melakukan analisa kasus kecurangan yang melibatkan PT. Asabri (Perser. namun hanya terbatas pada analisa kasus dengan menggunakan teori fraud. Oleh sebab itu, artikel ini akan mencoba mengisi kesenjangan ini untuk menganalisa lebih dalam praktik kecurangan tersebut dengan fokus pada laporan arus kas menggunakan teknik cash flow shenanigans. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman lebih lanjut tentang mekanisme kecurangan dalam laporan keuangan sehingga membantu perusahaan dalam meminimalkan praktik kecurangan ini yang berujung pada transparans, integritas, dan akuntabilitas laporan keuangan perusahaan di Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Cash Flow Shenanigans Financial shenanigans adalah strategi yang digunakan oleh manajemen untuk memperindah kondisi keuangan perusahaan, dengan tujuan utama menutupi atau menyembunyikan kinerja yang sebenarnya dari investor (Christian & Jullystella, 2. Financial shenanigans adalah praktek tidak jujur dalam pelaporan keuangan yang sering digunakan oleh manajemen perusahaan untuk memanipulasi laba, pendapatan, biaya, arus kas, dan akun lainnya agar terlihat bahwa kinerja keuangan perusahaan sedang baik. Deteksi kecurangan ini bisa dilakukan dengan menganalisis angka-angka yang tercantum dalam laporan keuangan perusahaan serta informasi yang terdapat dalam catatan-catatan yang menyertainya (Christian et al. , 2. Financial shenanigans terbagi menjadi 3 jenis yaitu earnings manipulation shenanigans, cash flow shenanigans and key metrics shenanigans (Sharma & Dey, 2. Cash flow shenanigans adalah sebuah praktik kecurangan yang dilakukan dengan mengarahkan seluruh arus kas masuk yang diinginkan ke bagian operasional dan memindahkan arus kas keluar yang tidak diinginkan ke bagian investasi dan pembiayaan. Strategi ini bertujuan untuk menghasilkan laporan arus kas yang tampak sempurna (Christian. Vinelia, et al. , 2. Cash Flow Shenanigans No. Teknik pertama dalam cash flow shenanigans melibatkan manipulasi keuangan dimana perusahaan mengalihkan arus kas masuk pembiayaan ke bagian operasional (Schilit et al. , 2. Teknik ini dapat dilakukan dengan 3 trik. Trik pertama yaitu mencatat arus kas dari pinjaman bank sebagai arus kas Sebagai contoh, pendanaan dari eksternal perusahaan seperti pinjaman dari bank itu seharusnya dimasukkan sebagai arus kas pembiayaan dalam laporan arus kas. Trik ini dapat memberikan kesan bahwa perusahaan mendapatkan arus kas dari aktivitas operasional yang sebenarnya diperoleh melalui pembiayaan. Trik kedua yaitu meningkatkan arus kas operasional dengan menjual piutang sebelum jatuh tempo. Umumnya, piutang dicatat sebagai aset dalam laporan keuangan dan mencerminkan tagihan yang harus dibayar oleh pelanggan pada tanggal jatuh tempo yang telah disepakati. Saat perusahaan menjual piutang sebelum tanggal penagihan, mereka sebenarnya mentransfer hak atas tagihan tersebut kepada pihak lain. Trik ketiga yaitu memalsukan penjualan piutang untuk meningkatkan arus kas operasional. Misalnya perusahaan dapat mengakui penjualan piutang yang tidak nyata sebagai pendapatan di laporan laba rugi kemudian dalam laporan arus kas diakui sebagai arus kas dari operasional. Dimana dengan begituarus kas operasional akan terlihat lebih tinggi daripada yang sebenarnya (Schilit et al. , 2. Cash Flow Shenanigans No. Teknik kedua dalam cash flow shenanigans melibatkan manipulasi keuangan di mana perusahaan memindahkan arus kas keluar dari aktivitas operasional ke aktivitas lain seperti investasi atau pembiayaan (Schilit et al. , 2. Tujuannya adalah untuk memodifikasi laporan arus kas operasi agar terlihat lebih menguntungkan dari yang sebenarnya. Salah satu teknik yang digunakan adalah transaksi "boomerang. Dalam teknik ini, perusahaan mencatat arus kas masuk dari pelanggan sebagai bagian dari arus kas operasi, tetapi memindahkan arus kas keluar yang terkait ke dalam arus kas investasi. Misalnya, uang muka dari pelanggan dicatat sebagai arus kas masuk di bagian operasi, namun pengeluaran terkait dipindahkan ke bagian investasi. Teknik kedua adalah kesalahan dalam mengkapitalisasi pengeluaran, di mana biaya yang Eksplorasi Kecurangan Keuangan PT. Asabri (Perser. Melalui Pendekatan Cash Flow Shenanigans ( Natalis Christian ) p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 seharusnya dicatat sebagai beban operasi dikategorikan sebagai aset. Praktik ini mengurangi arus kas keluar dari operasi karena biaya tersebut tidak langsung diakui sebagai pengeluaran, melainkan disebarkan selama masa umur aset tersebut. Dengan demikian, arus kas operasi tampak lebih baik dalam jangka pendek (Tarjo et al. , 2. Terdapat juga dua teknik lain yang sering digunakan dalam praktik cash flow shenanigans no. Teknik ketiga melibatkan kesalahan pencatatan pembelian inventaris, di mana perusahaan mencatat pembelian persediaan sebagai bagian dari arus kas investasi, seharusnya dicatat dalam arus kas operasi untuk mempengaruhi laporan keuangan agar terlihat lebih menguntungkan dari segi operasional. Sementara itu, teknik keempat melibatkan pemindahan arus keluar yang tidak perlu dari investasi kembali ke arus kas operasional, seperti pengalihan biaya pensiun ke arus kas operasional untuk meningkatkan angka operasional secara signifikan. Dengan menggunakan berbagai strategi ini, perusahaan dapat memanipulasi persepsi pemangku kepentingan terhadap kinerja keuangan mereka (Tarjo et al. , 2. Cash Flow Shenanigans No. Teknik ketiga dalam cash flow shenanigans adalah meningkatkan arus kas operasional dengan aktivitas yang tidak berkelanjutan (Schilit et al. , 2. Lebih jelasnya, teknik ini mengacu pada praktik di mana sebuah perusahaan meningkatkan arus kas operasionalnya melalui cara-cara yang tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang atau one-time event. Aktivitas yang termasuk one-time event seperti penjualan aset tetap, pendapatan dari kontrak yang tidak biasa, dan peristiwa lainnya. Akun-akun dengan karakteristik yang tidak berkelanjutan ini dapat meningkatkan risiko terjadi manipulasi karena ketiadaan pengawasan yang memadai dan intervensi yang tepat dari pihak luar yang independen seperti auditor (Stevanovic et al. , 2. Dalam teknik ini terbagi lagi menjadi empat trik. Trik yang pertama yaitu praktik menunda pembayaran kepada vendor. Hal ini dapat meningkatkan arus kas operasional secara sementara dengan memperlambat pembayaran tagihan kepada vendor, sehingga meningkatkan saldo kas di akhir periode tertentu. Trik kedua yaitu mempercepat penerimaan pembayaran dari pelanggan. Meskipun penagihan yang efisien dapat menunjukkan kekuatan dalam manajemen pelanggan dan operasional, terdapat batasan alami terhadap seberapa cepat perusahaan dapat mengumpulkan piutangnya. Trik ketiga yaitu mengurangi pembelian persediaan dari vendor. Namun, manfaat dari trik ini ternyata hanya bersifat sementara karena akan ada pembalikan tren pada tahun berikutnya. Trik terakhir yaitu meningkatkan arus kas dengan menggunakan one-time event (Schilit et al. , 2. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode analisis forensik dan audit investigatif untuk mengevaluasi laporan keuangan PT Asabri (Perser. Metode analisis yang digunakan melibatkan identifikasi tren yang tidak biasa dalam arus kas operasional dan laba bersih, serta evaluasi terhadap transaksi-transaksi yang dapat mencerminkan manipulasi arus kas oleh perusahaan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keuangan PT. Asabri (Perser. dari tahun 2012 hingga 2017, serta dokumen pendukung seperti artikel, berita, dan sumber lain yang relevan. Pemilihan rentang tahun 2012-2017 untuk menganalisis data keuangan didasarkan pada kasus korupsi dan manipulasi keuangan yang terjadi di PT. Asabri (Perser. antara tahun 2012 dan 2019 (CNN Indonesia, 2. Namun, karena keterbatasan akses terhadap laporan keuangan tahun 2018 dan 2019, tim peneliti memutuskan untuk membatasi analisis pada periode 2012-2017. Meskipun terdapat keterbatasan akses terhadap laporan keuangan tahun 2018 dan 2019, analisis dalam penelitian ini tetap memberikan wawasan yang komprehensif terkait potensi kecurangan keuangan dengan teknik cash flow shenanigans yang terjadi di PT Asabri (Perser. HASIL DAN PEMBAHASAN Kronologi Kasus PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabr. adalah perusahaan yang menyediakan layanan asuransi dan dana pensiun bagi anggota TNI. Polri, dan ASN di Kementerian Pertahanan. Namun, antara tahun 2012 dan 2019. Asabri terlibat dalam salah satu kasus korupsi terbesar di Indonesia. Kasus ini bermula ketika jajaran petinggi Asabri, termasuk Direktur Utama. Direktur Investasi. Direktur Keuangan, dan Kepala Divisi Investasi, berkolusi dengan pihak eksternal seperti Heru Hidayat. Benny Tjokrosaputro, dan Lukman Purnomosidi. Ketiga pihak eksternal ini bukanlah konsultan atau manajer investasi resmi. Mereka melakukan transaksi jual beli saham dalam portofolio Asabri dengan saham-saham milik mereka sendiri, yang harganya telah dimanipulasi agar tampak lebih tinggi. Tujuan utama dari JURNAL MANAJEMEN SOSIAL EKONOMI (DINAMIKA) Vol. No. Oktober 2024, pp. p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 manipulasi ini adalah untuk menunjukkan kinerja portofolio Asabri seolah-olah baik. Setelah saham-saham tersebut masuk ke dalam portofolio Asabri. Heru. Benny, dan Lukman mengendalikan transaksi saham tersebut sehingga seolah-olah bernilai tinggi dan likuid. Namun, transaksi ini sebenarnya hanya bersifat semu dan dirancang untuk menguntungkan Heru. Benny, dan Lukman, sementara investasi Asabri mengalami kerugian besar (Dewi, 2. Pada periode 2012-2016. Adam R. Damiri, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama Asabri, diduga membuat kesepakatan dengan Benny Tjokrosaputro untuk mengatur dan mengendalikan transaksi serta investasi saham dan reksa dana Asabri. Mereka bekerja melalui Benny Tjokrosaputro dan pihak-pihak yang terafiliasi dengannya, termasuk Lukman Purnomosidi. Praktik korupsi ini merugikan Asabri dan menguntungkan Benny. Lukman, serta pihak-pihak yang berafiliasi dengan mereka. Kemudian, pada periode 2016-2019. Sonny Widjaja yang menjabat sebagai Direktur Utama Asabri setelah Adam R. Damiri, diduga membuat kesepakatan serupa dengan Heru Hidayat. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengatur dan mengendalikan transaksi serta investasi saham dan reksa dana Asabri melalui Heru dan pihakpihak yang terafiliasi dengannya. Tindakan ini kembali merugikan Asabri dan menguntungkan Heru serta pihak-pihak yang berafiliasi dengan dirinya (Taher, 2. Kasus korupsi ini telah menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar Rp22,78 triliun dan mengakibatkan penetapan delapan tersangka. Tersangka-tersangka tersebut meliputi mantan Direktur Utama Asabri. Direktur Investasi, dan Direktur Keuangan, serta beberapa pihak eksternal yang terlibat dalam manipulasi dan transaksi saham yang merugikan (BPK RI, 2. Skema korupsi ini tidak hanya menunjukkan penyalahgunaan wewenang oleh para petinggi Asabri, tetapi juga menyoroti betapa rentannya pengelolaan dana publik terhadap praktik-praktik manipulatif dan koruptif. Analisa Cash Flow Shenanigans No. Tabel 1. Arus Kas Operasi PT. Asabri (Perser. 2012-2017 (Dalam Ribuan Rupia. Tahun Arus Kas Operasi Persentase 168,938,940 7,020,045 . %) (Rp 142,336,. 8%) 425,366,071 . %) 122,994,000 . %) 495,708,000 Sumber: Data Sekunder, diolah . Dari data arus kas operasi PT. ASABRI dari tahun 2012 hingga 2017 terlihat adanya potensi penggunaan teknik Cash Flow Shenanigans No. 01, khususnya melalui praktik mencatat arus kas dari pinjaman bank sebagai arus kas operasional. Fluktuasi arus kas operasinya menunjukkan perubahan yang sangat signifikan dan tidak konsisten. Pada tahun 2012, arus kas operasi berada pada angka Rp 168,938,940. Namun, pada tahun 2013, terjadi penurunan drastis sebesar 96% menjadi hanya Rp 7,020,045, yang mencerminkan penurunan signifikan dalam kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari operasi Kondisi semakin memburuk pada tahun 2014, dengan arus kas operasi menjadi negatif Rp 142,336,137 atau turun sebesar 2128% dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran operasional jauh melebihi pendapatan operasional. Tahun 2015 arus kas operasi mencatat perubahan drastis dengan lonjakan arus kas operasi menjadi Rp 425,366,071, naik 399% dari tahun 2014, hal ini disebabkan oleh peningkatan penerimaan dari premi dan iuran pensiun, disertai dengan perubahan kebijakan akuntansi dan penggabungan laporan keuangan. Meskipun penerimaan premi dan iuran pensiun merupakan operasi inti perusahaan, namun sumber peningkatan yang begitu besar justru juga perlu diperhatikan kembali potensi Setelah itu, pada tahun 2016, arus kas operasi kembali menurun sebesar 71% menjadi Rp 122,994,000 dan kembali mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2017 menjadi Rp 495,708,000 atau sebesar 303%. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh penjualan aset lain-lain yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa peningkatan tersebut bukan karena aktivitas operasional murni, tetapi karena transaksi yang tidak berulang. Berdasarkan analisis di atas, fluktuasi besar pada arus kas operasi PT. ASABRI menunjukkan ketidakstabilan dalam operasi perusahaan dan menimbulkan kemungkinan tmanipulasi arus kas untuk memberikan gambaran keuangan yang lebih baik dari kenyataannya. Akan tetapi meski ada indikasi potensi manipulasi, tanpa data tambahan yang menunjukkan adanya pinjaman atau pembiayaan lain yang dicatat sebagai arus kas operasional, sulit untuk memastikan bahwa arus kas operasinya tidak ada potensi trik Sehingga tidak ada indikasi kuat bahwa PT. ASABRI mungkin telah melakukan trik pertama dari Eksplorasi Kecurangan Keuangan PT. Asabri (Perser. Melalui Pendekatan Cash Flow Shenanigans ( Natalis Christian ) p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 cash flow shenanigans, yaitu mengalihkan arus kas dari pembiayaan ke operasional terutama pada tahun 2015 Tabel 2. Piutang Usaha PT. Asabri (Perser. 2012-2017 (Dalam Ribuan Rupia. Tahun Piutang Usaha Selisih 81,707,408 342,113,932 260,406,524 1,507,201,306 1,165,087,374 1,820,953,000 313,751,694 564,516,000 (Rp 1,256,437,. 227,544,000 (Rp 336,972,. Sumber: Data Sekunder, diolah . Trik kedua dalam cash flow shenanigans melibatkan penjualan piutang sebelum tanggal jatuh tempo untuk meningkatkan arus kas operasional. Ini dilakukan dengan cara menjual hak atas piutang kepada pihak lain untuk mendapatkan dana tunai lebih cepat dari yang seharusnya. Data piutang usaha PT. ASABRI dari tahun 2012 hingga 2017 menunjukkan fluktuasi yang Pada tahun 2012, jumlah piutang usaha tercatat sebesar Rp 81,707,408 dan mengalami peningkatan yang cukup tajam menjadi Rp 342,113,932 pada tahun 2013. Lonjakan ini berlanjut pada tahun 2014 dengan mencapai Rp 1,507,201,306, naik sebesar Rp 1,165,087,374 dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini kemungkinan besar mencerminkan kebijakan perusahaan dalam manajemen piutang atau transaksi besar yang berpotensi melibatkan penjualan piutang. Namun, pada tahun 2015, meskipun terjadi peningkatan nominal, kenaikan relatifnya tidak sebesar tahun sebelumnya, hanya mencapai Rp 1,820,953,000, dengan kenaikan Rp 313,751,694 dari tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun berikutnya, terjadi penurunan signifikan dengan piutang usaha turun sebesar Rp 1,256,437,000 pada 2016 dan Rp 336,972,000 pada tahun 2017. Penurunan ini mungkin karena penjualan piutang sebelum jatuh tempo untuk meningkatkan arus kas operasional, terlihat dari arus kas operasi yang masih positif meski piutang turun Berdasarkan analisis terhadap data piutang usaha PT. ASABRI, kenaikan dan penurunan yang sangat drastis dalam arus kas operasi menunjukkan kemungkinan adanya manipulasi. Terutama lonjakan signifikan pada tahun 2014, ada potensi bahwa perusahaan menggunakan trik kedua dalam cash flow shenanigans untuk meningkatkan arus kas operasional dengan menjual piutang sebelum jatuh tempo. Sedangkan penurunan piutang usaha yang signifikan pada 2016 dan 2017 mengindikasikan kemungkinan penjualan piutang sebelum jatuh tempo atau pemalsuan penjualan piutang. Analisa Cash Flow Shenanigans No. Tabel 3. Selisih Arus Kas Operasi dan Laba Bersih PT. Asabri (Perser. 2012-2017 (Dalam Ribuan Rupia. Tahun Arus Kas Operasi Laba Bersih Arus Kas Operasi Ae Laba Bersih 168,938,940 148,304,599 20,634,341 7,020,045 67,400,427 (Rp 60,380,. (Rp 142,336,. 245,195,528 (Rp 102,859,. 425,366,071 346,717,000 78,649,071 122,994,000 116,463,000 6,531,000 495,708,000 943,811,000 (Rp 448,103,. Sumber: Data Sekunder, diolah . Analisis selisih arus kas operasional dan laba bersih PT Asabri dari tahun 2012 hingga 2017 menunjukkan indikasi penggunaan teknik cash flow shenanigans, khususnya transaksi "boomerang". Teknik ini melibatkan pemindahan arus kas keluar dari aktivitas operasional ke aktivitas lain, seperti investasi atau pembiayaan, untuk memodifikasi laporan arus kas operasional agar terlihat lebih menguntungkan. Pada tahun 2013 dan 2014, terdapat anomali signifikan di mana arus kas operasional jauh lebih rendah daripada laba bersih, dengan perbedaan negatif masing-masing sebesar Rp 60,380,382 dan Rp 102,859,391. Anomali ini menunjukkan kemungkinan adanya transaksi "boomerang", di mana dana yang keluar seharusnya dicatat sebagai pengeluaran operasional dipindahkan ke aktivitas investasi. JURNAL MANAJEMEN SOSIAL EKONOMI (DINAMIKA) Vol. No. Oktober 2024, pp. p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 Dalam konteks ini. PT Asabri mungkin membeli saham atau aset lain dari pihak terkait, mencatatnya sebagai investasi sementara dana tersebut sebenarnya digunakan untuk transaksi yang menguntungkan pihak Pada tahun 2017, perbedaan negatif sebesar Rp 448,103,000 antara arus kas operasional dan laba bersih juga memperkuat indikasi adanya manipulasi melalui transaksi "boomerang". Dalam skenario ini, arus kas operasional yang tinggi dibandingkan dengan laba bersih yang jauh lebih tinggi menunjukkan kemungkinan adanya arus kas keluar yang seharusnya dicatat sebagai pengeluaran operasional, tetapi dipindahkan ke aktivitas investasi atau pembiayaan. Transaksi "boomerang" di sini bisa melibatkan pembelian saham atau aset dari pihak terkait, yang kemudian dijual kembali kepada Asabri dengan harga yang telah dimanipulasi, sehingga terlihat seolah-olah ada arus kas masuk dan keluar yang sah. Pola manipulasi ini konsisten dengan teknik cash flow shenanigans, di mana pengeluaran yang sebenarnya harus dicatat sebagai arus kas operasional dialihkan ke kategori lain untuk meningkatkan persepsi pemangku kepentingan terhadap kinerja keuangan PT Asabri. Teknik ini memungkinkan perusahaan untuk menampilkan laporan arus kas operasional yang tampak lebih sehat daripada kondisi sebenarnya, meskipun kondisi keuangan perusahaan tidak sebaik yang dilaporkan. Transaksi "boomerang" digunakan untuk menciptakan ilusi bahwa perusahaan memiliki arus kas yang stabil dan menguntungkan, padahal sebenarnya hanya mengalihkan dan memanipulasi pengeluaran untuk menutupi kerugian atau kekurangan dalam aktivitas operasional. Tabel 4. Perhitungan Free Cash Flow PT. Asabri (Perser. 2012-2017 (Dalam Ribuan Rupia. Tahun Arus Kas Operasi Belanja Modal FCF 168,938,940 7,020,045 (Rp (Rp 142,336,. (Rp 425,366,071 122,994,000 495,708,000 Sumber: Data Sekunder, diolah . Dari perhitungan Free Cash Flow (FCF) perusahaan dari tahun 2012 hingga 2017, terlihat adanya potensi penggunaan teknik Cash Flow Shenanigans No. 02, khususnya melalui praktik kapitalisasi Teknik ini melibatkan pemindahan biaya-biaya operasional tertentu ke dalam akun aset, yang secara langsung mengurangi arus kas operasi dan meningkatkan arus kas investasi. Pada tahun 2014. Arus Kas Operasi turun drastis menjadi negatif Rp 142,336,137 sementara Belanja Modal meningkat menjadi Rp 24,482,474, menghasilkan FCF negatif sebesar Rp 117,853,663. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa beberapa biaya operasional telah dikapitalisasi sebagai aset. Pada tahun 2015, terjadi peningkatan besar dalam Arus Kas Operasi menjadi Rp 425,366,071 dan penurunan Belanja Modal menjadi Rp 15,569,771, menghasilkan FCF sebesar Rp 409,796,300. Lonjakan ini bisa menunjukkan bahwa biaya yang sebelumnya dikapitalisasi telah kembali ke biaya operasional, meningkatkan Arus Kas Operasi dan FCF. Pada tahun 2016. Belanja Modal meningkat menjadi Rp 44,336,835 sementara Arus Kas Operasi turun menjadi Rp 122,994,000, menghasilkan FCF sebesar Rp 78,657,165, yang mungkin menandakan bahwa pengeluaran operasional kembali dikapitalisasi. Pada tahun 2017. Arus Kas Operasi melonjak menjadi Rp 495,708,000 dengan Belanja Modal sebesar Rp 30,047,000, menghasilkan FCF sebesar Rp 465,661,000, menunjukkan bahwa kapitalisasi pengeluaran mungkin telah dikurangi atau dihentikan. Fluktuasi besar dalam Arus Kas Operasi dan Belanja Modal, bersama dengan perubahan signifikan dalam FCF, mendukung kemungkinan penggunaan teknik kapitalisasi pengeluaran. Analisa Cash Flow Shenanigans No. Tabel 5. Perhitungan Days Sales Outstanding PT. Asabri (Perser. 2012-2017 (Dalam Ribuan Rupia. Tahun Piutang Pendapatan DSO 81,707,408 Rp 1,736,310,9-35 342,113,932 1,866,817,339 Rp 1,507,201,306 3,483,757,831 Rp 1,820,953,000 4,170,742,268 564,516,000 5,069,786,000 227,544,000 4,519,830,000 Sumber: Data Sekunder, diolah . Eksplorasi Kecurangan Keuangan PT. Asabri (Perser. Melalui Pendekatan Cash Flow Shenanigans ( Natalis Christian ) p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 Berdasarkan analisis Days Sales Outstanding (DSO) PT. ASABRI antara tahun 2012 hingga 2017, terlihat fluktuasi yang signifikan. Pada awal periode tersebut. DSO pada tahun 2012 tercatat sebesar 17. menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan piutang adalah sekitar 17 hari. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, terjadi variasi yang cukup drastis. Dari rentang waktu 2012-2015. DSO perusahaan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam waktu penagihan piutang hingga mencapai puncaknya sebesar 159. 36 hari pada tahun 2015. Namun setelah itu, adanya tren penurunan setelah adanya tren peningkatan dari tahun 2012-2015 yang di mana DSO mencapai angka 40. 64 hari pada tahun 2016 dan 38 hari pada tahun 2017. Penurunan DSO yang dramatis ini menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil mengoptimalkan proses penagihan piutangnya, yang pada umumnya dianggap sebagai indikator efisiensi dalam manajemen keuangan khusunya piutang (Benardi & Bakara, 2. Penurunan yang cepat dalam DSO juga dapat mencerminkan strategi agresif dalam pengelolaan piutang, yang dalam beberapa kasus dapat mengarah pada tindakan yang menekan atau memaksa pelanggan untuk membayar lebih cepat dari biasanya. Dengan memiliki DSO yang lebih rendah. PT. ASABRI dapat mengumpulkan uang dari penjualan lebih cepat, meningkatkan likuiditas dan potensi keuntungan perusahaan. Namun, fluktuasi yang signifikan dalam DSO PT. Asabri antara tahun 2012 hingga 2017, terdapat potensi indikasi kecurangan yang perlu diperhatikan. Meskipun penurunan DSO ini dinilai sebagai indikator positif dalam manajemen piutang, namun perubahan yang tajam ini juga dapat menggambarkan praktik yang lebih kompleks di balik laporan keuangan perusahaan yang juga memperlihatkan adanya indikasi praktik fraud Cash Flow Shenanigans No. 3 dengan teknik AuBoosting Cash Flow from Operation by Collecting from Customers More QuicklyAy. Dalam banyak kasus, peningkatan CFFO yang dramatis dapat menjadi sinyal untuk melakukan investigasi lebih lanjut, karena terdapat kemungkinan adanya praktik yang mengarah pada manipulasi arus kas atau mengabaikan kesehatan finansial jangka panjang perusahaan. Penagihan yang sangat cepat dapat menunjukkan keinginan untuk untuk meningkatkan arus kas dari aktivitas operasional dengan mempercepat penerimaan dana dari pelanggan sebelum jatuh tempo. Peningkatan ini dianggap hanya bersifat sementara dan bukan sebagai refleksi dari kinerja operasional yang sebenarnya (Schilit et al. , 2. Jika tidak diimbangi dengan pertimbangan etika dan keberlanjutan jangka panjang, praktik seperti ini dapat menimbulkan risiko signifikan, termasuk meningkatkan kemungkinan terjadinya manipulasi laporan Selain itu, perubahan yang cepat dan signifikan dalam DSO juga dapat menciptakan celah untuk manipulasi atau penyesuaian yang tidak akurat dalam pelaporan keuangan. Kecurangan yang mungkin terjadi bisa melibatkan praktik-praktik seperti pengakuan pendapatan yang tidak tepat waktu atau memanipulasi data piutang untuk menunjukkan performa yang lebih baik. Tabel 6. Perhitungan Cash Flow Net Income PT. Asabri (Perser. 2012-2017 (Dalam Ribuan Rupia. Tahun Arus Kas Operasi Laba Bersih CFNI 168,938,940 148,304,599 7,020,045 67,400,427 (Rp 142,336,. 245,195,528 . 425,366,071 346,717,000 122,994,000 116,463,000 495,708,000 943,811,000 Sumber: Data Sekunder, diolah . Arus kas operasi adalah sebuah area yang penting untuk diperhatikan dalam analisis keuangan sebuah perusahaan. Peningkatan arus kas operasi sering kali menandakan kesehatan keuangan yang lebih baik bagi sebuah perusahaan. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa perusahaan mungkin sedang menghasilkan lebih banyak uang dari aktivitas operasionalnya, seperti penjualan produk atau jasa, dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis. Arus kas operasi memiliki hubungan yang erat dengan laba atau rugi perusahaan. Hal ini disebabkan karena arus kas operasi mencerminkan kegiatan operasional utama perusahaan dan menunjukkan seberapa efektif perusahaan menghasilkan uang tunai dari operasinya. Jika laba bersih meningkat secara tidak wajar, tetapi arus kas operasi tidak menunjukkan peningkatan serupa, ini bisa menjadi indikasi bahwa laba bersih tersebut tidak berasal dari operasi yang berkelanjutan dan mungkin disebabkan oleh manipulasi akuntansi (Pricylia & Budiantara. JURNAL MANAJEMEN SOSIAL EKONOMI (DINAMIKA) Vol. No. Oktober 2024, pp. p-ISSN : 2808-8786 e-ISSN : 2798-1355 Untuk mengetahui apakah peningkatan laba bersih perusahaan sejalan dengan peningkatan arus kas operasi pada PT. Asabri (Perser. , kita dapat mengevaluasinya melalui Cash Flow Net Income (CFNI). Berdasarkan data tabel 2, terdapat variasi yang signifikan dari tahun ke tahun. CFNI adalah rasio yang mengukur hubungan antara arus kas operasi dan laba bersih perusahaan. Jika CFNI mengalami fluktuasi yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan tren laba bersih, ini bisa menunjukkan adanya potensi kejanggalan atau indikasi manipulasi keuangan (Pricylia & Budiantara, 2. Pada tahun 2012. CFNI relatif stabil dengan 14, yang menunjukkan konsistensi antara arus kas operasi dan laba bersih. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, terjadi variasi yang signifikan. Pada tahun 2013. CFNI menurun drastis menjadi 0. 10, meskipun laba bersih masih positif. Pergerakan ini dapat menunjukkan adanya kegiatan operasional atau akuntansi yang tidak berkelanjutan atau tidak dapat dipertahankan . nsustainable activitie. , yang mungkin digunakan untuk meningkatkan penampilan arus kas operasi secara artifisial. Pada tahun 2014. CFNI bahkan negatif (-0. meskipun laba bersih positif. Hal ini mencerminkan inkonsistensi antara arus kas operasi yang negatif dengan laba bersih yang seharusnya menjadi sumber utama arus kas. Jadi secara keseluruhan, terdapat indikasi bahwa PT. Asabri (Perser. mungkin mengalami praktik manipulasi keuangan dengan teknik Cash Flow Shenanigans No. 3 AuBoosting CFFO with Unsustainable ActivitiesAy. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini memberikan bukti kuat adanya kecurangan arus kas yang dilakukan oleh PT Asabri (Perser. Kasus PT Asabri (Perser. yang merugikan negara Rp 22,78 triliun menyoroti bahwa manipulasi tidak hanya terbatas pada laporan laba rugi, tetapi juga dapat terjadi dalam laporan arus kas, yang sering dianggap lebih sulit untuk dimanipulasi. Studi ini menemukan bahwa terdapat indikasi manipulasi keuangan dengan teknik cash flow shenanigans PT. Asabri (Perser. Praktik-praktik seperti penjualan piutang sebelum tanggal jatuh tempo, transaksi "boomerang", kapitalisasi pengeluaran, percepatan penerimaan dari pelanggan atau memanfaatkan aktivitias yang tidak berkelanjutan tampaknya digunakan untuk mempengaruhi dan memanipulasi laporan keuangan agar menciptakan ilusi yang lebih menguntungkan dan menarik para pemangku kepentingan terutama investor. Temuan ini semakin menggarisbawahi pentingnya praktik pelaporan keuangan yang transparan dan akurat di entitas publik. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi penting untuk meningkatkan pemahaman tentang strategi dan teknik yang digunakan dalam penipuan arus kas, serta menyoroti kelemahan dalam sistem pemantauan dan peraturan pelaporan. Dari sisi lain, kasus PT. Asabri (Perser. juga memberikan pelajaran berharga tentang rentannya perusahaan terhadap praktik kecurangan yang merugikan, serta perlunya pengawasan dan tindakan pencegahan yang lebih ketat dalam manajemen keuangan. Langkah-langkah untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan ketaatan terhadap standar akuntansi menjadi krusial guna membangun kepercayaan pemangku kepentingan dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Dengan demikian, upaya-upaya untuk menerapkan praktik tata kelola yang baik dan penegakan hukum yang tegas disarankan perlu untuk terus ditingkatkan demi mencegah kejadian yang serupa di masa depan dan memastikan keberlanjutan ekonomi yang sehat di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA