ISSN 2774-6895 SCIENING: Science Learning Journal Journal homepage: http://ejurnal. id/index. php/sciening Diagnosis Ragam Kesalahan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Keterampilan Elektronika Menggunakan Model Newman Error Analysis Meidy Atina Kuron1*. Freetje Waworuntu2. Ferdy Dungus3 1,3 Jurusan Pendidikan IPA. Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian. Universitas Negeri Manado. Indonesia 2Prodi Pendidikan Kimia. Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian. Universitas Negeri Manado. Indonesia *e-mail: meidykuron@gmail. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis jenis kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menyelesaikan soal keterampilan elektronika, dengan menggunakan Model Newman Error Analysis (NEA). Kesulitan yang dialami mahasiswa dalam menyelesaikan soal menjadi tantangan yang memengaruhi capaian belajar secara keseluruhan. Diperlukan kajian mendalam dalam mengidentifikasi jenis dan faktor penyebab kesalahan yang Penelitian ini berfokus pada analisis kesalahan mahasiswa dalam penyelesaian soal cerita ditinjau dari penguasaan pengetahuan awal serta keterampilan dasar fisika dan matematika dasar. Pendekatan kualitatif desain studi kasus melibatkan partisipasi 21 mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA FMIPAK Unima pada semester Ganjil TA. Data dikumpulkan melalui tes tertulis berupa soal cerita serta wawancara mendalam untuk mengeksplorasi pemahaman mahasiswa terhadap kesalahan yang mereka lakukan. Data dianalisis menggunakan NEA kemudian dilanjutkan dengan pendeskripsian jenis kesalahan pada setiap kategori, serta perumusan alternatif solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi kesalahan tersebut. Jenis kesalahan menurut NEA meliputi lima tahap yaitu . kesalahan membaca, . kesalahan memahami, . kesalahan transformasi, . kesalahan proses dan . kesalahan penulisan jawaban akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kemampuan awal rendah cenderung melakukan kesalahan pada hampir seluruh tahap penyelesaian soal, mulai dari membaca, memahami, mentransformasi, melakukan proses penyelesaian, hingga tahap akhir. Mahasiswa berkemampuan sedang umumnya melakukan kesalahan pada tahap transformasi dan tahap keterampilan proses, sementara mahasiswa berkemampuan tinggi lebih banyak mengalami kesalahan pada tahap encoding karena kurang Perlunya penguatan konsep dasar, penerapan strategi pembelajaran bertahap yang sesuai dengan level kemampuan mahasiswa, serta pelatihan untuk meningkatkan ketelitian dalam memeriksa jawaban akhir. Kata kunci: kemampuan awal mahasiswa, keterampilan elektronika, model newmanAos error analysis, soal cerita Abstract. This study aims to identify and analyze the types of errors made by students in solving electronics skills problems, using the Newman Error Analysis (NEA) Model. The difficulties experienced by students in solving problems become challenges that affect overall learning An in-depth study is needed to identify the types and factors causing these errors. This study focuses on analyzing student errors in solving story problems in terms of their mastery of prior knowledge and basic physics and mathematics skills. The qualitative case study approach involved the participation of 21 students majoring in Science Education at FMIPAK Unima in the odd semester of the 2024-2025 academic year. Data was collected through written tests in the form of story questions and in-depth interviews to explore students' understanding of the mistakes they The data was analyzed using NEA, followed by a description of the types of errors in each category and the formulation of alternative solutions that could be applied to overcome these SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 According to NEA, there are five types of errors: . reading errors, . comprehension errors, . transformation errors, . process skill errors, and . Encoding. The results of the study show that students with low initial abilities tend to make mistakes in almost all stages of problem solving, from reading, understanding, transforming, solving, to the final stage. Students with moderate abilities generally make mistakes in the transformation and process skill stages, while students with high abilities experience more mistakes in the encoding stage due to a lack of There is a need to reinforce basic concepts, apply learning strategies that are appropriate to the students' ability levels, and provide training to improve thoroughness in checking final answers. Keywords: basic electronics, newmanAos error analysis, story questions, studentsAo initial abilities Diterima 19 Maret 2025 | Disetujui 23 April 2025 | Diterbitkan 30 Juni 2025 PENDAHULUAN Pendidikan fundamental yang berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Pendidikan merupakan upaya pembinaan individu untuk mendukung keberlangsungan hidup serta perkembangan dirinya baik secara moral, intelektual dan emosi sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan (Alpian. Anggraeni. Wiharti, & Soleha. Sementara itu, pendidikan yang berkualitas merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban dan daya saing suatu bangsa. Oleh karena itu, mutu pendidikan yang tinggi berkontribusi penting dalam mendorong kemajuan suatu bangsa (Sari & Armanto, 2. Mutu Pendidikan dalam berbagai jenjang berkaitan erat dengan manajemen pembelajaran dan prosesnya. Pada Perguruan Tinggi proses pembelajaran yang ditempuh mahasiswa bergantung pada mata kuliah yang dikontraknya. Salah satu mata kuliah yang menjadi tolok ukur di Jurusan Pendidikan IPA FMIPAK Unima adalah Keterampilan Elektronika. Mata kuliah ini tidak hanya berperan dalam penguasaan konsep teoretis, tetapi juga menekankan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai aktivitas yang memanfaatkan teknologi Pada pembelajaran sains maupun teknik, termasuk mata kuliah Keterampilan Elektronika, penggunaan soal cerita terbukti memfasilitasi proses kognitif yang kompleks seperti memahami konteks masalah, memodelkan rangkaian, memilih hukum atau teorema yang relevan, dan memeriksa kembali validitas Pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) menunjukkan bahwa penyelesaian soal cerita berkorelasi kuat dengan indikator berpikir kritis, meliputi kemampuan analisis, evaluasi, dan inferensi (Abadi. Hidayah, & Wahyuni, 2. Kajian dari literasi sains menyatakan bahwa bentuk konsep teoretis dengan situasi nyata sehingga meningkatkan keterampilan berpikir kritis (Mulyani. Indah, & Satria. Sementara itu kemampuan berpikir kreatif siswa dibedakan atas kemampuan fluency, fleksibility, originality dan pada (Darinding & Harahap, 2. Materi dalam Keterampilan Elektronika bersifat saling berkaitan pada berbagai tingkatan, sehingga penguasaan materi fundamental sangatlah penting untuk memahami konsep lanjutan secara efektif. Kemampuan awal yang dimiliki mahasiswa turut memengaruhi jalannya proses pembelajaran, karena menjadi prasyarat yang harus dikuasai agar kegiatan belajar dapat berlangsung secara optimal (Apriani, 2. Kajian penelitian mahasiswa masih kerap melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal mata kuliah Keterampilan Elektronika (Jamin & Sudiman, 2. Kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita umumnya pemahaman konsep, minimnya eksplorasi, ketentuan penyelesaian soal, serta adanya kekeliruan pada tahap perencanaan dan pelaksanaan, baik pada soal keterampilan elektronika maupun matematika (Aljura. Retnawati. Zulnaidi, & Mbazumutima. Putri & Jupri, 2. Untuk mengetahui jenis kesalahan dan faktor SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa perlu dianalisis secara lebih komprehensif. Penelitian ini menerapkan metode Newman Error Analysis (NEA) sebagai metode untuk menelaah berbagai bentuk Keterampilan Elektronika. Metode yang dikembangkan oleh M. Newaman ini bertujuan untuk mengkaji kesalahan yang tidak terbatas pada aspek perhitungan semata, tetapi juga mencakup proses pemahaman soal cerita serta mengubahnya ke dalam bentuk representasi matematis (M. Newman, 1. NEA dirumuskan sebagai metode diagnostik yang sederhana tetapi terstruktur untuk menganalisis tahapan penyelesaian soal cerita matematis (Karnasih. Model NEA mengklasifikasikan kesalahan peserta didik ke dalam lima kelompok utama, meliputi kesalahan dalam membaca soal . eading erro. , memahami permasalahan . omprehension masalah ke dalam bentuk matematis . ransformation prosedur atau keterampilan proses . rocess skills erro. , serta menuliskan jawaban akhir . ncoding erro. Newaman menegaskan bahwa setelah kesalahan ditemukan, perlu diterapkan strategi remedial yang tepat agar mahasiswa tidak sekadar mengetahui kekeliruan mereka, namun juga mampu membangun pemahaman konsep yang tepat (A. Newman, 1. Dengan demikian, penggunaan NEA tidak hanya dimaksudkan untuk mengklasifikasikan jenis-jenis kesalahan mahasiswa, tetapi juga menyediakan informasi penting bagi pembelajaran yang lebih efektif. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kesalahan dalam Keterampilan Elektronika, khususnya pada materi komponen dasar elektronika, prinsip kerja rangkaian listrik, dan analisis rangkaian, dapat muncul pada berbagai tahapan Kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita dapat dikategorikan ke dalam 5 tahapan sesuai dengan tahapan yang dikemukakan dalam metode Newman (Murtiyasa & Wulandari, 2. Tujuan berbagai jenis kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita mata kuliah Keterampilan Elektronika, dengan menggunakan Model NEA. Secara lebih spesifik, penelitian ini mengkaji kesalahan mahasiswa dengan menggunakan lima tahapan yang dikemukakan oleh M. Newman pada tahun 1977 yaitu kesalahan saat membaca soal . eading erro. , pertanyaan . omprehension erro. , serta kesalahan ketika mentransformasikan informasi ke bentuk matematis atau . ransformation kesalahan pada tahap keterampilan proses ketika melakukan langkah penyelesaian . rocess skills erro. , serta kesalahan penyajian . ncoding erro. yaitu dalam menyajikan atau menuliskan jawaban akhir (M. Newman, 1. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi sejauh mana kemampuan awal mahasiswa dalam mata kuliah fisika kecenderungan kesalahan yang mereka lakukan pada setiap tahap tersebut. Penelitian gambaran yang lebih jelas mengenai pola kesalahan mahasiswa dan menjadi landasan untuk merancang strategi remediasi yang tepat dan efektif, sebagaimana direkomendasikan oleh (A. Newman, 1. SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 METODE PENELITIAN Pendekatan rancangan studi kasus digunakan dalam penelitian ini untuk mengeksplorasi menyelesaikan soal-soal berbentuk cerita Keterampilan Elektronika, berdasarkan kemampuan awal mereka di mata kuliah Fisika Dasar dan Matematika Dasar. Pendekatan tersebut dipilih agar peneliti dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai berbagai bentuk kesalahan yang dilakukan mahasiswa serta menganalisisnya melalui penerapan NEA. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 Jurusan Pendidikan IPA. FMIPAK Unima, pada semester ganjil tahun akademik 2024/2025. Subjek penelitian terdiri atas 21 mahasiswa semester i yang dipilih berdasarkan hasil tes awal untuk Berdasarkan hasil tersebut, mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok kemampuan awal fisika, yaitu rendah, sedang, dan tinggi namun pada tahap analisis soal peneliti hanya mengambil 6 orang mahasiswa sebagai sampel yang mewakili tingkat kemampuan awal rendah, sedang dan tinggi. Tahapan penelitian diawali dengan persiapan, penyusunan, dan validasi instrumen berupa tes soal cerita Keterampilan Elektronika. Soal-soal tersebut dirancang untuk mencakup beragam konsep pada materi komponen dasar elektronika, rangkaian listrik, dan Setelah mahasiswa dikelompokkan sesuai kategori kemampuan awal fisika, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Berdasarkan nilai fisika dasar 1 pada nilai ujian semester ganjil tahun akademik 2024-2025 ditentukanlah batas kelompok seperti yang disajikan pada Tabel 1. Dimana, ycu adalah nilai mahasiswa, ycuI adalah nilai rata-rata mahasiswa, dan Sya adalah standar deviasi. Pada tahap pelaksanaan, mahasiswa diminta untuk menyelesaikan soal cerita Keterampilan Elektronika secara mandiri. Hasil pekerjaan tersebut kemudian NEA sebagaimana dikemukakan oleh Newman pada tahun 1977 dan tahun 1983. Analisis ini mencakup lima kategori kesalahan, yaitu: . Reading Error, yakni kesalahan dalam membaca soal. Comprehension Error, yaitu kesalahan dalam memahami . Transformation Error, permasalahan menjadi bentuk matematis. Process Skills Error, yaitu kesalahan saat menerapkan prosedur elektronika. Encoding Error, yaitu kesalahan saat menuliskan jawaban akhir. Pada dikumpulkan menggunakan dua metode utama, yaitu tes diagnostik tertulis dan wawancara dimana keduanya diterapkan dalam pendekatan kualitatif yang penting penngalaman partisipan (Chand, 2. Tes diagnostik tertulis diberikan kepada mahasiswa untuk mengetahui jenis-jenis kesalahan yang mereka lakukan saat menyelesaikan soal cerita terkait materi rangkaian listrik. Soal-soal tersebut mencakup berbagai konsep penting, mengamati kesalahan pada beragam aspek penyelesaian masalah. Selanjutnya, wawancara mendalam dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk menggali penjelasan mahasiswa mengenai alasan di balik kesalahan yang mereka Wawancara ini berperan penting untuk memperoleh gambaran lebih luas dan kontekstual, sehingga data yang dihasilkan tidak hanya bersifat deskriptif dari hasil tes, tetapi juga memuat dimensi penalaran dan proses berpikir mahasiswa. Data yang diperoleh dari kedua kualitatif dengan mengacu pada lima tahapan NEA yaitu kesalahan membaca kesalahan mengubah soal menjadi bentuk matematis atau representasi formal, kesalahan dalam penerapan prosedur atau konsep elektronika, dan kesalahan dalam Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi. Triangulasi memadukan hasil pekerjaan tertulis mahasiswa dan rekaman wawancara, sehingga setiap temuan dari tes tertulis dapat diverifikasi dan dikonfirmasi melalui informasi verbal yang diberikan Landasan teoretis dalam mengklasifikasikan jenis kesalahan ini SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 Tabel 1. Kategori kemampuan mahasiswa Interval ycu < ycuI Oe ycIya ycuI Oe ycIya O ycuI ycIya ycu > ycuI Oe ycIya Tingkat Kemampuan Rendah Sedang Tinggi (Hw, 2. Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 merujuk pada indikator yang menyajikan deskripsi kesalahan dalam bentuk rinci sesuai prosedur Newman (A. Newman. Newman, 1. Penjabaran memastikan bahwa analisis kesalahan dilakukan secara sistematis, terukur, dan konsisten dengan kerangka konseptual yang telah diakui dalam berbagai penelitian Pendidikan, yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Indikator Tipe Membaca Memahami Transformasi Keterampilan Penulisan Indikator kesalahan Mahasiswa gagal mengenali atau menemukan kata kunci yang terdapat dalam soal. Mahasiswa tidak berhasil mencatat atau menangkap informasi yang diberikan dalam soal. Mahasiswa keliru atau tidak tepat dalam menuliskan kembali pertanyaan yang terdapat pada soal. Mahasiswa gagal mengubah informasi dari soal menjadi Mahasiswa menentukan rumus yang menyelesaikan soal cerita Keliru dalam proses operasi hitung dalam rangkaian Mahasiswa menyelesaikan soal Meskipun masalah, ketidakakuratan penyelesaian soal Mahasiswa ketidaktepatan pada tahap penulisan hasil akhir. Data diklasifikasikan sesuai dengan jenis kesalahan yang teridentifikasi pada SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 jawaban mahasiswa. Setiap bentuk kategori kemampuan dasar mahasiswa, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Hasil klasifikasi ini kemudian dimanfaatkan untuk merumuskan kesimpulan serta langkahlangkah strategis yang dapat dilakukan mahasiswa terhadap materi Keterampilan Elektronika, khususnya pada topik komponen elektronika dan rangkaian Adapun prosedur yang ditempuh dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Prosedur penelitian Dari prosedur penelitian pada Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa hasil pekerjaan mahasiswa dianalisis tingkatan kesalahan pada tahap reading, comprehension. HASIL DAN PEMBAHASAN Tes tertulis diberikan kepada 21 mahasiswa semester i TA. elektronika, prinsip kerja rangkaian listrik, serta analisis rangkaian listrik, yang dikemas dalam bentuk soal cerita dan dianalisis menggunakan metode Newman. Pada tahap analisis peneliti mengambil hasil pekerjaan 6 orang mahasiswa sebagai sampel yang mewakili setiap kategori dimana 2 orang pada kategori rendah, 2 orang pada kategori sedang dan 2 orang pada kategori tinggi. Berikut ini Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 disajikan 2 nomor soal ujian semester yang dikerjakan oleh mahasiswa. Sebuah rangkaian terdiri dari tiga resistor yaitu RCA = 220 . RCC = 330 dan RCE = 470 . RCA dan RCC dipasang secara seri, kemudian digabung paralel dengan RCE. Tegangan sumber yang digunakan adalah 12 V. Analisa mengunakan gambar rangkaian dan rangkaian, b. tentukan arus total yang mengalir dari sumber. Sebuah rangkaian terdiri dari tiga kapasitor yaitu CCA = 100 AAF, c = 220 AAF, dan CCE = 330 AAF. CCA dan c digabung seri dengan CCE. Tegangan sumber adalah 24 V. Analisa mengunakan gambar rangkaian dan rangkaian, b. muatan (Q) total yang tersimpan pada rangkaian. Berdasarkan dikumpulkan, analisis pada setiap jenis Newman dipaparkan dengan mempertimbangkan kemampuan awal fisika dasar mahasiswa. Penyajian hasil mencakup kesalahan yang muncul pada mahasiswa dari kategori mahasiswa dari kategori kemampuan tinggi, sedang, maupun rendah. Tabel 3 memuat enam mahasiswa yang dijadikan subjek penelitian, di mana masing-masing mewakili setiap tingkat kemampuan awal fisika tersebut. mahasiswa berdasarkan lima kategori kesalahan menurut Newman seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Profil kesalahan mahasiswa pada kedua soal disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Ringkasan jenis kesalahan Pertanyaan/ Pertanyaan/ Soal 1 Soal 2 Subjek 1 2 3 4 5 1 2 3 4 SR-1 y y y y y y y y SR-2 y y y y y y y y SS-1 y y y y y y SS-2 ST-1 ST-2 Keterangan kategori: 1: Reading Errors 2: Comprehension Errors 3: Transformation Erros 4: Process Skill Errors 5: Encoding Errors Pada Tabel 3 disajikan subjek penelitian tiap kategori yaitu sangat rendah (SR-. dan (SR-. , kategori sedang (SS-. dan (SS-. , kategori sangat tinggi (ST-. dan (ST-. Data hasil pekerjaan mahasiswa dianalisis untuk setiap subjek penelitian pada soal 1 dan soal 2. Proses analisis mencakup identifikasi kesalahan Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa mahasiswa dengan kategori SR1 pada pertanyaan/soal 1 melakukan kesalahan 2,3,4,5 pertanyaan/soal 2 melakukan kesalahan pada 1,2,3,4,5. Selanjutnya, mahasiswa SR2 kesalahan pada kategori 2,3,4,5, dan pada pertanyaan/soal 2 melakukan kesalahan pada kategori 1,2,3,4,5. Selanjutnya, mahasiswa dengan kategori SS1 pada pertanyaan/soal 1 melakukan kesalahan pada kategori 3,4,5 dan pada pertanyaan/ soal 2 melakukan kesalahan pada kategori 2,3,4,5. Selanjutnya, mahasiswa dengan kategori SS2 pada pertanyaan/ soal 1 dan pertanyaan/ soal 2 haya melakukan kesalahan pada kategori 4 dan 5. Selanjutnya, mahasiswa dengan kategori ST1 pada pertanyaan/ soal 1 dan pertanyaan/ soal 2 hanya melakukan kesalahan pada kategori 5. Sedangkan mahasiswa dengan kategori ST2 pada pertanyaan/ soal 1 dan 2 melakukan kesalahan pada kategori 5. Adapun mahasiswa dengan tingkat kemampuan rendah, sedang dan tinggi dapat diuraikan sebagai berikut. SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 Tabel 3. Subjek Penelitian Kategori Sangat Rendah (SR-. Sangat Rendah (SR-. Sedang (SS-. Sedang (SS-. Sangat Tinggi (ST-. Sangat Tinggi (ST-. Keterangan Mahasiswa Tingkat Rendah 1 Mahasiswa Tingkat Rendah 2 Mahasiswa Tingkat Sedang 1 Mahasiswa Tingkat Sedang 2 Mahasiswa Tingkat Tinggi 1 Mahasiswa Tingkat Tinggi 2 Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 Analisis Kekeliruan Pada Mahasiswa yang Memiliki Tingkat Penguasaan Fisika Dasar Rendah Hasil pengerjaan SR1 dapat dilihat pada Gambar 2. SR1 : yang dikerjakan pada soal-soal fisika dasar 1? Saya pikir itu tidak diperlukan, karena saya hanya fokus pada perhitungan jumlahnya saja, jadi saya langsung hitung saja tanpa menulis semua informasi pada soal. Hasil pengerjaan SR2 pada pertanyaan/ soal 1 dan 2 dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 2. Hasil pengerjaan SR1 Pada Gambar 2 terlihat bahwa hasil pengerjaan soal nomor 1 oleh SR1 menunjukkan adanya kesalahan yang dilakukan subjek sejak langkah awal hingga proses penyelesaian akhirnya. Kesalahan pertama yang muncul berasal comprehension error. Berikut disajikan cuplikan wawancara yang membahas permasalahan tersebut. Peneliti: Apakah Anda memahami isi SR1: Iya. Dalam soal diminta hasil hambatan yang ada pada rangkaian, jadi saya cuma memikirkan rangkaian seri atau parallel dalam persamaan. Peneliti: Mengapa Anda tidak menuliskan setiap informasi yang ada pada pertanyaan dengan benar seperti Dari Gambar 3 dapat dijelaskan bahwa SR2 melakukan kesalahan yang dimulai dari comprehension error. Pada soal ini, subjek gagal mengenali kata kunci yang terdapat dalam soal yang memuat simbolsimbol dalam elektronika. Berikut disajikan transkrip wawancara peneliti dengan mahasiswa. Peneliti: Apakah Anda mengerti maksud dalam soal tersebut? SR2: Ya, saya mengerti. Terdapat informasi tentang tiga buah kapasitor yang dipasang secara seri dan parallel. SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 Gambar 3. Hasil pengerjaan SR2 Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 Peneliti: Mengapa Anda tidak menuliskan setiap informasi yang ada pada soal dengan benar seperti yang dikerjakan pada soal-soal fisika dasar 1? SR2: Saya lupa simbol-simbol yang biasa digunakan dalam fisika dasar 1 jadi saya tidak menuliskan semua informasi pada soal dengan benar dan saya kurang yakin dengan hasil pekerjaan tersebut sehingga memahaminya dulu. Kajian dari beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa salah satu kesalahan disebabkan ketidakmampuan menentukan unsur yang diketahui dalam soal sehingga tidak mampu mengubah informasi dalam bentuk matematis (Fatimah & Nasution, 2. Sejalan dengan hal tersebut, kesulitan dalam memahami soal kerap disebabkan oleh keterbatasan penguasaan materi dasar (Utari. Wardana, & Damayani, 2. Konsisten dengan temuan tersebut, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Mahasiswa dengan kemampuan awal rendah cenderung lebih sering melakukan kesalahan pada tahap memahami soal. Kesalahan pada keterampilan proses umumnya disebabkan oleh ketidaktelitian sebagaimana dilaporkan oleh (Hidayah & Rejeki. Temuan memperkuat hasil penelitian ini yaitu siswa sering melakukan kekeliruan pada tahap operasi matematika, khususnya pada materi rangkaian listrik (Jamin & Sudiman. Mahasiswa mengalami kesulitan dalam membangun model fisika akibat keterbatasan dalam mengintegrasikan informasi soal ke dalam bentuk persamaan simbol, besaran, dan satuan (Permatasari & Kristiana, 2. Kesalahan mahasiswa dalam berbagai tahapan tersebut, memiliki keterkaitan erat mahasiswa dalam mengkonversi informasi verbal menjadi representasi simbol fisika. Temuan ini diperkuat dengan pernyataan SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 bahwa hambatan untuk membentuk model fisika dasar yang benar umumnya disebabkan oleh keterbatasan pemahaman terhadap simbol, besaran, serta satuan yang digunakan (Mulyani. Indah, & Satria, 2. Analisis Kekeliruan pada Mahasiswa yang Memiliki Tingkat Penguasaan Fisika Dasar Sedang Hasil pengerjaan SS1 dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Hasil pengerjaan SS1 Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa mahasiswa pada kategori kemampuan menengah (SS. tampak memahami prosedur dasar dalam menyelesaikan soal. Meskipun pengerjaan ditemukan kesalahan yang bermula dari tahap transformation error. Kekeliruan menuliskan rumus dan perhitungan pecahan sehingga hasil perhitungan yang diperoleh menjadi keliru. Wawancara mengenai permasalahan tersebut adalah sebagai berikut. Peneliti: Silakan langkahlangkah perhitungan yang Anda lakukan pada soal tersebut. SS1: Saya menuliskan informasi pada soal cerita dengan diketahui dan ditanya kemudian menjawab. Akan tetapi saya keliru saat mengerjakan dalam bentuk pecahan pada rangkaian paralel soal nomor 1 dan keliru menuliskan rumus total arus dalam rangkaian pada soal Akibatnya, hasil Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 akhirnya jadi salah meskipun konsepnya sudah saya mengerti. Selanjutnya, hasil pekerjaan SS2 pada pertanyaan/ soal 1 dan 2 dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Hasil pengerjaan SS2 Pada Gambar 5 dapat dijelaskan bahwa SS2 permintaan pada soal dan gambar Namun, kesalahan terjadi pada tahap process skills error, yaitu ketika mahasiswa mengalami kesulitan dalam memasukkan nilai variabel ke dalam persamaan secara tepat. Transkrip permasalahan ini disajikan berikut. Peneliti: Apakah Anda mengerjakan apa yang diminta SS2: Tentu. Saya mengerjakan soal dan gambar Pertama-tama saya menuliskan semua informasi pada soal dengan simbol fisika rangkaiannya dan menuliskan rumusnya serta memasukkan variabel pada rumus dan mulai Namun, saya mulai binggung ketika hasil menyadari terdapat kekeliruan dalam pengerjaannya. Peneliti: Apakah Anda tahu dimana letak kesalahan pada pengerjaan soal? SS2: Saya pengecekan ulang terhadap rumusnya dan itu benar akan tetapi dalam pengerjaannya SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 dalam satu perhitungan tetapi harus dipisah pertama mencari kemudian menghitung totalnya dengan menjumlahkannya pada hambatan ketiga. Pada soal nomor 2 saya kurang teliti menuliskan rumus rangkaian seri dan paralel pada kapasitor yang terbalik sehingga salah pada hasil akhirnya. Mahasiswa mengungkapkan bahwa kesalahan yang muncul disebabkan oleh kurangnya ketelitian saat menuliskan rumus model matematis. Menurut kajian penelitian mengungkapkan bahwa pada tahap transformasi dan proses, tingkat ketelitian siswa masih kurang sehingga kondisi tersebut berpengaruh pada kesalahan dalam mencatat informasi, menuliskan rumus, serta melakukan perhitungan operasi fisika dasar (Hartini & Setyaningsih, 2. Meskipun siswa telah memahami konsep penyelesaiannya, ketidaktepatan pada tahap transformasi dan proses akhirnya membuat jawaban akhir menjadi salah. Dalam kasus lain, mahasiswa mengalami kesulitan saat menentukan keliling lingkaran setelah memasukkan nilai variabel tersebut menggambarkan bahwa masih terdapat kendala pada tahap Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa kesalahan pada tahap transformasi dapat terjadi meskipun siswa sudah memahami isi soal tetapi tidak mampu matematis yang sesuai (Sai & Rejeki. Situasi tersebut mencerminkan adanya keterbatasan dalam penguasaan operasi matematis yang lebih kompleks, sehingga latihan secara berkelanjutan dibutuhkan agar ketelitian dan ketepatan dalam proses penyelesaian semakin Kesalahan serupa lebih sering muncul pada soal nomor 2 ketika pada rangkaian berbentuk seri pada kapasitor harus dilakukan perhitungan dalam bentuk pecahan dan rangkaian paralel dalam bentuk penjumlahan biasa. Kondisi ini sangat berkaitan dengan kemampuan Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 mentransformasikan informasi verbal ke dalam representasi aljabar. Penelitian lain mengungkap bahwa kegagalan dalam disebabkan belum memahami cara mengintegrasikan informasi soal ke dalam persamaan aljabar (Permatasari & Kristiana, 2. Mayoritas kesulitan terletak pada merancang model matematis yang sistematis, kurangnya penguasaan sifat - sifat operasi yang relevan dengan pemahaman terhadap konsep pemodelan matematika, serta rendahnya tingkat akurasi subjek dalam menyelesaikan permasalahan (Lanya. Moh. Yuniarti, & Sawitri, 2022. Mulyani. Indah, & Satria. Analisis Kekeliruan pada Mahasiswa yang Memiliki Tingkat Penguasaan Fisika Dasar Tinggi mengenai variabel yang digunakan. Berikut wawancara yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Peneliti: Bisakah kamu menjelaskan langkah-langkah yang telah kamu gunakan pada soal itu? Apa yang menjadi akhirnya mengalami kesalahan? ST1 : Saya kurang cermat dan terlalu tergesa-gesa saat menyelesaikan bagian akhir, sehingga tidak sempat memeriksa kembali hasil Akibatnya, terdapat kesalahan pada tahap perhitungan akhir. Selanjutnya, hasil pekerjaan ST2 pada pertanyaan/ soal 1 dan 2 dapat dilihat pada Gambar 7. Hasil pengerjaan ST1 dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 7. Hasil pengerjaan ST2 Pada Gambar 6, berdasarkan jawaban mahasiswa untuk pertanyaan/soal nomor 1, terlihat bahwa ST1 dapat memahami soal dengan baik, mampu menggambar rangkaian secara tepat, serta mencatat informasi yang relevan. Pada tahap transformasi, subjek mulai menyelesaikan soal menggunakan prosedur matematis Meskipun jawaban akhir karena subjek tidak Pada Gambar 7 tampak bahwa ST2 dapat memahami pertanyaan/soal dengan baik serta mencatat informasi yang diberikan. Pada tahap transformasi, subjek mulai menyelesaikan soal nomor 1 dan 2 menggunakan prosedur matematis yang Hampir tidak ada kesalahan namun pada tahap konversi nilai dalam bentuk pangkat 10. ST2 salah dalam menuliskan bentuk konversi yang tepat. Berikut disajikan wawancara singkat pembahasan Peneliti: Apakah Anda mengerjakan apa yang diminta soal nomor 2? ST2: Iya. Saya harus SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 Gambar 6. Hasil pengerjaan ST1 Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 menghitung Resistor: RCA=220 dan RCC=330 . , hasilnya diparalel dengan RCE=470 , sumber 12 V) Peneliti: Coba jelaskan mengapa Anda seperti ini? ST2 : Saya informasi yang relevan dan menghitung pada rangkaian seri menggantikan semua nilai-nilai Setelah itu, saya perhitungan dan menuliskan jawaban akhirnya akan tetapi saya tidak kembali memeriksa lagi jawaban dan langkahlangkahnya serta hasil akhir dan langsung menulis kesimpulan. Saya salah melakukan konversi nilai tetapi seluruh pekerjaan telah dilakukan dengan benar. menyajikan kesimpulan secara eksplisit. Salah satu penelitian mengungkatkan jawaban akhir sebesar 67,85% (Tanzimah & Sutrianti, 2. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian lain menungkapkan bahwa peserta didik masih menunjukkan kesalahan dalam jawaban akhir, seperti menuliskan kesimpulan yang kurang kesimpulan yang keliru (Suratih & Pujiastuti, 2. Selain itu, perlu adanya penguatan konsep dasar, penerapan pembelajaran yang berlangsung secara kemampuan peserta didik, serta pelatihan untuk meningkatkan ketelitian dalam memeriksa jawaban akhir (Fatih. Rejeki, & Sugiyanti, 2. Jenis kesalahan yang paling banyak comprehension error, sementara reading error bukan merupakan sumber kesalahan yang serius (Anggara & Solahudin, 2. Walaupun kemampuan tinggi umumnya dapat memahami informasi yang diberikan dan mengikuti prosedur perhitungan secara benar, beberapa kekeliruan tetap muncul pada tahap evaluasi serta penarikan Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketelitian mahasiswa dalam memeriksa kembali hasil perhitungan masih kurang. Mahasiswa cenderung terburu-buru dalam menarik jawaban akhir tanpa disertai proses pengecekan atau refleksi pada tahap akhir, sehingga kesalahan yang terjadi berpotensi tidak Pada tingkat kemampuan tinggi, kecenderungan ini sering terjadi karena mahasiswa merasa yakin bahwa proses penyelesaian yang dilakukan sudah tepat, sehingga tidak lagi melakukan kemungkinan kekeliruan pada tahap Kesalahan pada penulisan jawaban akhir sering kali terjadi akibat kebiasaan KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan mahasiswa dalam menyelesaikan soal cerita dipengaruhi oleh kemampuan memahami soal cerita serta kemampuan awal fisika dasar dan elektronika. Hasil analisis menggunakan NEA menunjukkan kemampuan awal fisika dasar rendah lebih banyak melakukan kesalahan pada informasi ke dalam bentuk yang sesuai, langkah-langkah penyelesaian, hingga menuliskan jawaban Pada mahasiswa dengan kemampuan awal kategori sedang, jenis kesalahan yang dominan muncul berada pada fase mentransformasikan masalah dan mengimplementasikan keterampilan Sementara itu, mahasiswa dengan jumlah kesalahan yang lebih sedikit, meskipun masih ditemukan kekeliruan pada bagian penulisan jawaban akhir yang umumnya disebabkan oleh kurangnya Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kemampuan awal yang lebih tinggi cenderung melakukan lebih sedikit kesalahan pada setiap tahap proses SCIENING: Science Learning Journal. Vol. 6 No. Juni 2025, 33-45 Kuron. Waworuntu. , & Dungus. , 2025 penyelesaian soal. Namun demikian, pada seluruh kategori kemampuan awal fisika dasar tetap ditemukan kebutuhan untuk pemahaman konsep. Oleh sebab itu, penguatan materi dasar seperti fisika dasar, elektronika dasar dan matematika dasar disertai pelatihan keterampilan meminimalisir terjadi kesalahan dalam penyelesaian soal cerita khususnya dalam pemecahan masalah rangkaian listrik seri dan paralel. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya pengembangan pendekatan pembelajaran yang adaptif, disertai penguatan konsep dan konteks, guna mengurangi kesalahan dalam Keterampilan Elektronika. DAFTAR PUSTAKA