PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 Memaknai Kata Huperetes dalam I Korintus 4:1a sebagai Salah Satu Upaya Mewujudkan Gereja yang Sehat Noel Ghota Prima Bayu Surbakti Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya noelsurbakti1993@gmail. Abstract: One of the marks of healthy church is biblical church leadership. Based on this mark. I want to observe one of leadership models or better understood as a church ministry model by interpreting I Corinthians 4:1 in order to observe the meaning of Ahuperetes. A The problem is that the observation of the meaning of the word AhuperetesA was less noticed by scholars. In the New Testament, the word AdoulosA is indeed more used to refer to a servant or slave than the word AhuperetesA. The two actually have different meanings, but scholars often equate the two words so that the important ideas to be conveyed in the word AhuperetesA are not finally seen. Therefore I will observe into the meaning of the word AhuperetesA in I Corinthians 4: 1a. Research on that word raises an important and relevant idea in realizing a healthy church that emphasizes church servants who submitted to the Christ and who has authority and dignity. Keywords: Healthy church. I Chorinthians 4:1a. Abstrak: Salah satu tanda gereja yang sehat adalah kepemimpinan gereja yang alkitabiah. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin menggali salah satu model kepemimpinan atau lebih baik dipahami sebagai model pelayan gereja dengan memaknai kata huperetes dalam I Korintus 4:1a. Permasalahannya adalah penggalian makna kata huperetes kurang diperhatikan para ahli. Dalam Perjanjian Baru, kata doulos memang lebih banyak digunakan untuk menyebut pelayan atau hamba daripada kata huperetes. Keduanya sesungguhnya memiliki makna yang berbeda, tetapi kerapkali para ahli menyamakan kedua kata tersebut sehingga gagasan penting yang hendak disampaikan dalam kata huperetes akhirnya tidak terlihat. Oleh karena itu penulis akan menggali makna kata huperetes dalam I Korintus 4:1a. Penelitian terhadap kata tersebut memunculkan gagasan yang penting dan relevan dalam mewujudkan gereja yang sehat yakni menekankan pelayan gereja yang tunduk kepada Kristus serta pelayan yang beribawa dan bermartabat. Kata kunci: Gereja yang sehat. I Korintus 4:1a. Pendahuluan Gereja yang sehat sering dipahami sebagai gereja yang mengalami pertumbuhan baik secara kualitas maupun kuantitas. Maksudnya adalah gereja yang mengalami pertumbuhan secara rohani maupun pertumbuhan jumlah jemaat. Mark Dever menyebutkan setidaknya ada 9 tanda gereja yang sehat, salah satunya adalah kepemimpinan gereja yang alkitabiah. (Mark 2. Pemimpin yang dimaksud Dever memang merujuk kepada pendeta dan penatua. Namun hal tersebut tampaknya dipengaruhi latar belakang denominasi gereja Dever yang menekankan peranan pendeta dan penatua dalam kepemimpinan gereja. Jika dicermati lebih dalam, sesungguhnya pemimpin yang dimaksud merujuk kepada fungsi pelayanan dalam Sehingga di sini penulis melihat bahwa salah satu tanda gereja yang sehat dilihat dari PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 fungsi/jabatan pelayan gereja. Pelayan gereja tidak hanya dibatasi pada pendeta dan penatua saja, karena tidak semua denominasi gereja menganut sistem seperti itu melainkan kepada setiap fungsi/jabatan pelayan dalam sebuah gereja. Berkaitan dengan itu, penulis melihat ada sebuah gagasan penting dalam I Korintus 4:1a yang dapat digali untuk melihat konsep pelayan yang dapat mewujudkan gereja yang sehat. Hal tersebut tampak dalam penggunaan kata huperetes yang digunakan Paulus untuk menyebut dirinya dan rekan-rekan sepelayanannya. Kata huperetes dalam LAI diterjemahkan dengan hamba-hamba meskipun kata tersebut dapat pula diterjemahkan dengan pelayanpelayan (Inggris: Servan. Namun yang lebih penting dari masalah terjemahan adalah makna yang terkandung dalam kata tersebut. Karena itu dalam tulisan ini penulis lebih menekankan pada unsur gagasan yang terkandung dalam kata huperetes daripada mempermasalahkan Gagasan yang terkandung dalam kata tersebut yang dapat dimaknai oleh setiap pelayan atau hamba Tuhan dalam upanya untuk mewujudkan gereja yang sehat. Dalam Perjanjian Baru, kata pelayan atau hamba lebih banyak berasal dari kata doulos dan diakonos. Paulus sendiri dalam surat-suratnya lebih sering menggunakan kata doulus . Roma 1:1, 6:12, 17, 20. I Korintus 7:21, 22, 23, 12:13. II Korintus 4:5. Galatia 1:10, 3:28, 4:1, 7. Efesus 6:5, 6, 8. Filipi 1:1, 2:7 dst. ) dan diakonos (Roma 13:4, 15:8, 16:1. Korintus 3:5. II Korintus 3:6, 6:4, 11:15, 23. Galatia 2:17. Efesus 3:7, 6:21 dst. Sedangkan Paulus hanya sekali menggunakan kata huperetes yakni dalam 1 Korintus 4:1a. Oleh sebab itu, kata huperetes tampaknnya kurang mendapat perhatian dari para ahli. Misalnya V. Pfitzner yang menyamakan kata hamba-hamba dalam I Korintus 4:1a dengan pelayan-pelayan dalam I Korintus 3:5. (Pfitzner 2. Padahal dalam I Korintus 4:1a. Paulus menggunakan kata huperetes sedangkan dalam I Korintus 3:5 menggunakan kata doulos. Kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Kata doulos secara harfiah dapat diartikan budak (B. Inggris= slav. yang biasanya digunakan untuk menunjukkan hubungan antara budak dengan tuannya. Seorang doulos . memiliki ketundukan total seorang budak terhadap Sedangkan kata huperetes tidak berbicara hubungan antara budak dengan tuannya. Bagaimana penggunaan kata doulos dan pemaknaannya akan dibahas lebih lanjut nantinya dalam tulisan ini. Namun yang ingin ditegaskan adalah menyamakan kata huperetes dengan doulos telah menutup pintu untuk memahami kata huperetes. Oleh karena itu dalam tulisan ini penulis akan memaknai kata huperetes dalam I Korintus 4:1a. Meskipun Paulus hanya satu kali menggunakan kata huperetes, namun ada gagasan penting yang hendak disampaikan melalui kata tersebut. Penggalian makna kata huoeretes akan semkain jelas terlohat jika dikaitkan dengan konteks jemaat Korintus yang sedang mengalami perselisihan akibat penggolongan/pengelompokan pada pemimpin favoritnya . I Korintus 1:12, 3:. Paulus tampaknya sengaja menggunakan kata huperetes, selain untuk menunjukkan hakikat dari pelayan Tuhan, juga untuk merespons perselisihan yang terjadi dalam jemaat di Korintus. II. Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis akan menafsirkan teks I Korintus 4:1a. Dalam menafsirkan teks tersebut, penulis lebih mengguakan analisis literer terhadap kata huperetes dengan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 menggali makna kata tersebut. Namun penulis juga tetap memerhatikan konteks penulisan teks tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Edmund Husserl yang dikutip oleh Hoed tentang pemaknaan kata bahwa pengungkapan . adalah sesuatu yang dinginkan . dan dimaksud . oleh pengungkapnya. (Hoed 2. Karena itu meskipun penulis menggali makna kata tersebut, penulis tetap menempatkannya dalam konteks penulisan I Korintus agar makna kata tersebut sesuai dengan yang diinginkan dan dimaksudkan oleh pengungkapnya yakni Paulus. Hasil dan Pembahasan Permasalahan Jemaat Korintus Penulis memang lebih menekankan penggalian makna kata huperetes, tetapi penting juga untuk melihat konteks teks yakni seputar permasalahan yang dihadapi oleh jemaat Korintus. Karena salah satu tujuan penulisan surat I Korintus adalah untuk merespons permasalahan yang dihadapi oleh jemaat Korintus. (Barton 2. Oleh karena itu mengetahui permasalahan yang dihapi jemaat menolong kita dalam memaknai kata huperetes. Sesungguhnya ada begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh jemaat Korintus. Debora K. Malik bahkan mengatakan. Autidak ada gereja yang didirikan Paulus mempunyai begitu banyak isu yang menimbulkan pertikaian dan mengancam kesatuan gereja seperti halnya Gereja Korintus. Ay(Malik 2. Namun dalam tulisan ini tentu tidak akan dibahas satu persatu permasalahan yang dimaksud. Penulis akan fokus pada permasalahan yang berkaitan dengan I Korintus 4:1 yakni perselisihan yang dihadapi oleh jemaat. Penulis melihat bahwa teks ini masih berhubungan dengan Pasal 3 yang membahas perselisihan dalam jemaat. Sudah menjadi kesepakatan para ahli bahwa jemaat Korintus sedang mengalami perselisihan dan membentuk kelompok-kelompok sesuai pemimpin favoritnya. (Malik 2. Namun memang sulit untuk mengidentifikasi jumlah dan identitas kelompok-kelompok tersebut. John Drane mengusulkan ada 4 kelompok yakni kelompok Paulus. Kefas. Apolos dan Kristus . and I Korintus 1:10-. (Drane 2. Sedangkan Hans Conzelmann mengusulkan hanya ada 3 kelompok yakni kelompok Kefas. Apolos dan Paulus . I Korintus 3:. (Conzelmann 1. Sedangkan Hurd dan Pogoloff sebagaiman dikutip Malik mengusulkan hanya ada dua kelompok yang berselisih yakni kelompok Paulus dan Apolos . I Korintus 3:4-. (Malik 2. Meskipun sulit untuk mengidentifikasi secara pasti kelompok-kelompok tersebut, tetapi dapat disimpulkan bahwa jemaat Korintus berselisih berkaitan dengan pemimpin yang mereka Gordon D. Fee berpendapat bahwa perselisihan tersebut disebabkan oleh jemaat Korintus yang selalu merasa kurang puas dengan jawaban Paulus. (Fee 1. Hal ini tampaknya berhubungan dengan situasi sosial dan budaya pada saat itu. Beberapa di antara jemaat Korintus menganggap kemampuan retorik seseorang sebagai salah satu indicator status sosial dan budaya seseorang. Oleh karena itu ada jemaat terpandang yang lebih tertarik pada gaya retorik Apolos, sedangkan jemaat lain lebih menyukai kesederhanaan retorika Paulus. (Malik 2. Demikian jemaat di Korintus mengalami perselisihan terkait dengan pemimpin favorit mereka. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 Memaknai Kata Huperetes Sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan bahwa hanya dalam teks ini Paulus menggunakan kata huperetes untuk menyebut hamba/pelayan. Namun justru hal tersebut menyebabkan kata ini menarik untuk dimaknai. Sebelum penulis memaknai kata huperetes dalam I Korintus 4:1a, penulis akan terlebih dahulu menjelaskan penggunaan dan makna kata tersebut dalam budaya Yunani dan Perjanjian Baru secara umum. Penggunaan Kata Huperetes dalam Tradisi Yunani Dalam Tradisi Yunani klasik. Hermes yang merupakan pembawa pesan dari para dewa disebut sebagai huperetes. (Friedrich 1. Dalam konteks tersebut dapat dipahami bahwa Hermes melaksanakan kehendak dari Dewa Zeus dimana dibalik Hermes ada kekuatan dan otoritas dari Zeus yang merupakan pimpinan dari para dewa. Dari sini dapat kita lihat bahwa kata huperetes diberikan kepada seseorang yang diutus oleh seseorang yang memiliki kuasa dan otoritas lebih tinggi. Gerhard Friedrich menambahkan bahwa huperetes mencirikan seseorang yang berdiri dan bertindak untuk melayani seseorang yang lebih tinggi dan dia sepenuhnya berada di bawah naungan yang lebih tinggi tersebut. (Friedrich 1. Namun kata huperetes tidak hanya dibatasi pada hubungan dewa dan utusannya. Pada dasarnya kata tersebut digunakan dalam setiap bidang kehidupan orang Yunani. Sebagai salah satu contohnya adalah dalam bidang militer. Dalam bidang militer, huperetes digunakan untuk menyebut pembawa alat angkut perisai atau senjata dengan maksud bahwa mereka selalu siap untuk menaati prajurit yang mereka layani. (Friedrich 1. Dalam bidang medis, huperetes digunakan untuk menyebut pembantunya yang tidak hanya menolong tetapi juga melakukan tugas medis ringan di bawah instruksi dari sang dokter. (Friedrich 1. Huperetes juga dapat digunakan untuk mengkarakterisasikan sosok teman yang tidak mementingkan diri dalam menolong temannya terhadap sesuatu yang diinginkan temannya. (Friedrich 1. Meskipun dapat digunakan dalam berbagai bidang, tetapi dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata huperetes dalam tradisi Yunani memiliki gagasan yang sama yakni siap melakukan segala sesuatu dengan ketundukan kepada seseorang yang memberikan perintah. Selain itu, secara tradisional huperetes sering dihubungkan dengan kata eretes yang memiliki arti pendayung kapal. (Friedrich 1. Dengan demikian, hupo=bawah eretes=pendayung kapal maka huperetes dapat diartikan pendayung kapal bawah. Dalam pengertian ini eretes merupakan pendayung di tingkat atas di mana huperetes merupakan pendayung di bawah eretes. Huperetes merupakan pendayung yang menerima perintah dari Meskipun Friedrich mengatakan bahwa teori ini masih belum dapat dipastikan secara akurat tetapi pemahaman demikian sesungguhnya tidak bertentangan dengan penggunaan yang telah dijelaskan sebelumnya. Gagasannya tetap sama yakni huperetes merupakan orang yang tunduk terhadap orang yang memberikan perintah. Berdasarkan penjelasan di atas, baik dalam penggunaan kata huperetes dalam kehidupan sehari-hari dalam tradisi Yunani maupun teori secara tradisional menunjukkan bahwa kata huperetes memberi penekanan pada ketundukan seseorang kepada orang yang memberi perintah atau atasannya. Pemahaman ini tentu saja akan menolong untuk memaknai kata huperetes dalam I Korintus 4:1. Hal tersebut dikarenakan masyarakat di Korintus pada PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 umumnya menggunakan bahasa Yunani dan dipengaruhi tradisi Yunani. (Malik 2. Sudah tentu Paulus akan berupaya menggunakan istilah yang dipahami dalam lingkungan Yunani. Mungkin bisa diperdebatkan apakah Paulus memahami kata huperetes dalam tradisi Yunani atau tidak. Penulis sendiri menilai bahwa Paulus memahami gagasan yang ada dibalik kata huperetes dalam lingkungan Yunani. Lagipula Friedrich mengatakan bahwa dalam tradisi Yudaisme pun ditemukan kata-kata yang sepadan dengan kata huperetes. (Friedrich 1. Dengan demikian Paulus kemungkinan sudah memahami gagasan yang hendak ia sampaikan baik dalam istilah Yahudi maupun Yunani. Namun untuk lebih memperkuat argumentasi penulis, akan dijelaskan bagaimana penggunaan huperetes dalam Perjanjian Baru. Apakah gagasan yang telah dijelaskan sebelumnya familiar dalam Perjanjian Baru? Penggunaan Kata Huperetes dalam Perjanjian Baru Seperti telah disinggung dalam bagian pendahuluan, penggunaan kata huperetes dalam Perjanjian Baru memang tidak sebanyak penggunaan kata doulos dan diaokonos. Kata huperetes hanya digunakan dua kali dalam Injil Matius . Matius 5:25, 26:. dua kali dalam Injil Markus . Markus 14:54, . dua kali dalam Injil Lukas . Lukas 1:2, 4:. sembilan kali dalam Injil Yohanes . 7:32, 45, 46, 18:3, 12, 18, 22, 36, 19:. empat kali dalam Kisah Para Rasul . Kisah Para Rasul 5:22, 26, 13:5, 26:. dan hanya satu kali digunakan oleh Paulus . I Korintus 4:. Friedrich mengatakan bahwa penggunaan huperetes dalam Perjanjian Baru memiliki pengertian umum yang serupa dengan pengertian dalam tradisi Yunani, yakni membantu orang lain sebagai alat dari keinginan orang lain tersebut. (Friedrich 1. Misalnya penggunaan dalam I Korintus 4:1, maksud dari penggunaan huperetes menunjukkan bahwa Paulus dan Apolos bukan melayani untuk diri mereka sendiri melainkan sebagai pelaksana tubuh Kristus. (Friedrich 1. Artinya ketika mereka berkhotbah, mengajar, memerintah dan melakukan suatu hal itu berasal dan berdasar pada rencana Tuhan untuk dunia ini sebagaimana hal tersebut dimanifestasikan dalam Kristus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata huperetes dalam Perjanjian Baru termasuk dalam I Korintus 4:1 memiliki gagasan yang sama dengan yang dipahami dalam tradisi Yunani yakni ketundukan terhadap orang lain yang memberi perintah. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Paulus juga memahami penggunaan kata huperetes sesuai dalam tradisi Yunani. Dengan demikian pemahaman huperetes dalam tradisi Yunani dan Perjanjian Baru akan sangat menolong memaknai kata huperetes dalam I Korintus 4:1a. Memaknai Huperetes dalam I Korintus 4:1a Dalam I Korintus 4:1a AuDemikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba KristusAy - TB-LAI Paulus memberikan sebuah perintah kepada jemaat Korintus yang tampak dalam kata logizesthe dalam bentuk verb imperative present middle or passive deponent 3rd person singular yang oleh LAI diterjemahkan dengan memandang. Kalimat perintahnya adalah memandang kami . sebagai hamba-hamba Kristus . uperetes Kristo. Siapakah AukamiAy . yang dimaksud oleh Paulus di sini? Joseph Fitzmyer berpendapat bahwa kata AukamiAy merujuk pada Paulus. Apolos, dan Kefas sebagaimana yang disebut dalam pasal 3:22 atau dapat pula merujuk pada semua PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 (Fitzmyer 2. Sedangkan Richard Horsley berpendapat bahwa kata AukamiAy merujuk pada Paulus dan Apolos . 3:5-9,10-11,21-. (Horsley 1. Namun penulis melihat bahwa kata AukamiAy merujuk kepada pemimpin yang difavoritkan oleh jemaat Korintus yang karenanya mereka berselisih. Seperti yang dijelaskan sebelumnya memang sulit untuk mengidentifikasi siapa saja orang-orang tersebut. Namun lebih baik dipahami bahwa memang ada pemimpin yang difavoritkan oleh jemaat Korintus, bisa jadi Paulus. Apolos bahkan Kefas. Kemudian, kata hamba-hamba dalam kalimat Paulus tersebut menggunakan kata huperetes . kusatif maskulin jama. untuk yang berasal dari kata huperetes. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kata huperetes ini dapat dimaknai dengan ketundukan kepada orang yang memberi perintah. Siapakah yang memberi perintah? Dalam hal ini kata huperetes dilanjutkan dengan kata Kristou . enitif maskulin tungga. yang dalam tata bahasa Yunani berarti huperetes dalam kalimat tersebut merupakan milik dari Kristou yang berrati Kristus. Dengan demikian jika kita memaknai kata huperetes dalam pengertian ketundukan kepada perintah orang lain maka dalam hal ini perintah tersebut berasal dari Kristus. Atau dengan bahasa lain bahwa huperetes atau hamba-hamba yang dimaksud disini merupakan hambahamba yang tunduk kepada Kristus. Dengan demikian Paulus memerintahkan agar jemaat Korintus memandang para pemimpin yang mereka favoritkan sebagai hamba-hamba yang tunduk kepada Kristus. Beberapa ahli juga sepakat terhadap pemaknaan demikian. Fitzmyer mengatakan. AuA they render service to christ, who plays the principal role. Ay(Fitzmyer 2. Fee dengan bahasa berbeda juga menekankan gagasan yang sama mengatakan. AuThus apostles are to be regarded as Auservants of Christ,Ay reemphasizing their humble position and their belonging to Christ alone. Ay(Fee 1. Pertanyaan lebih lanjut, mengapa Paulus memerintahkan jemaat agar memandang APaulus dan rekan-rekannyaA sebagai huperetes Kristou, bukan doulos atau diakonos? Ternyata hal tersebut berkaitan dengan perselisihan yang dihadapi jemaat yang memfavoritkan pemimpin tertentu. Fee mengatakan penggunaan kata tersebut memberikan pemahaman model hamba Kristus bagi jemaat Korintus dan bagaimana mereka harus memperlakukan hamba-hamba Kristus. (Fee 1. Hamba-hamba tunduk kepada Kristus, bukan kepada jemaat sehingga jemaat tidak diperbolehkan untuk menghakimi hamba-hamba Kristus. Conzelman berpendapat bahwa Paulus menggunakan istilah huperetes karena ia menginginkan jemaat memberikan penilaian objektif dan pengakuan yang sesuai terhadap Paulus dan rekan-rekannya. (Conzelmann 1. Tentu saja penilaian yang objektif dan pengakuan yang sesuai yang dimaksud Conzelman adalah jemaat harus menilai dan mengakui mereka sebagai hamba yang tunduk kepada Kristus. Di sisi lain Craig Keener mengatakan bahwa Paulus menginginkan agar jemaat Korintus tidak mengikuti AuguruAy mereka seperti AuselebritiAy atau Aukelompok-kelompok. Ay(Keener 2. Paulus dan rekan-rekannya bukanlah milik jemaat melainkan milik Kristus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Paulus menggunakan istilah huperetes tidak hanya sekedar menekankan bagaimana seorang hamba harus tunduk kepada Kristus, tetapi juga sebagai upayanya untuk merespons jemaat yang mengalami perselisihan. Sebagaimana dijelaskan, perselisihan kemungkinan besar bukan disebabkan oleh Paulus dan rekan-rekannya, melainkan oleh jemaat Korintus. Jemaat PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 Korintus yang mengidolakan tokoh tertentu sehingga jemaat berselisih dan terbentuk kelompok-kelompok sesuai tokoh yang mereka idolakan. Paulus memberikan pemahaman kepada jemaat Korintus bahwa mereka bukan hamba yang tunduk kepada jemaat, menuruti kehendak jemaat, dan memuaskan kehendak jemaat dengan gaya retorik yang baik. Melainkan mereka hamba Kristus yang tunduk kepada Kristus, yang melaksanakan perintah Kristus. Sehingga jemaat tidak perlu mengidolakan tokoh tertentu dan membentuk kelompokkelompok di dalam jemaat. Selain itu ada keunikan lain dari huperetes. Menurut Friedrich, huperetes memang menunjukkan orang yang tunduk kepada orang lain yang berada di astanya, tetapi tanpa mengurangi martabat dan nilainya. (Friedrich 1. Dengan kata lain huperetes meskipun tunduk kepada orang lain, tetapi ia tetap memiliki martabat dan nilai. Hal ini dapat kita bandingkan dengan Hermes yang disebut sebagai huperetes. Hermes memang pelaksana dari Zeus, tetapi Hermes di-backup oleh kekuatan dan otoritas Zeus. (Friedrich 1. Hal ini berbeda dengan istilah doulos yang sering diterjemahkan sebagai budak . yakni orang yang merendahkan diri sedemikian rupa kepada tuannya. Juga berbeda dengan diakonos yang dapat dipahami pelayan yang menerima keutungan objektif dari pelayanan yang ia berikan kepada orang lain. Penulis melihat bahwa Paulus juga tetap mempertahan gagasan hamba yang bermartabat dan benilai dibalik pemilihan istilah huperetes. Setidaknya ada dua alasan untuk mempertahankan gagasan tersebut. Alasan pertama, berkaitan dengan perselisihan di antara jemaat Korintus karena mengidolakan tokoh tertentu. Secara tidak langsung jemaat Korintus tekah mengurangi martabat dan nilai dari tokoh yang Autidak difavoritkanAy oleh Karena itu Paulus menggunakan istilah huperetes dengan tujuan agar jemaat memandang Paulus dan rekan-rekannya adalah hamba yang bermartabat dan bernilai. Fee juga menekankan bahwa ayat Paulus juga menekankan otoritas dengan mengatakan. The "authority" aspect of the metaphor is here brought out in the object of the trust, "the secret things of God. (Fee 1. Otoritas tersebut tampak dari kepercayaan yang diberikan kepada Paulus dan rekan-rekannya, yakni kepada mereka dipercayakan rahasia Allah. Alasan kedua, berkaitan dengan status kerasulan Paulus yang diragukan oleh jemaat Korintus. Memang dalam ayat tersebut Paulus tidak hanya merujuk pada dirinya sendiri, tetapi juga pada rekanrekannya. Namun tampaknya Paulus juga hendak menggunakan istilah huperetes untuk menjaga kewibawaannya sebagai rasul. Drane mengatakan bahwa kewibawaan Paulus sebagai rasul ditantang dalam jemaat Korintus. (Drane 2. Horsley mengatakan bahwa ada jemaat Korintus yang mengkritik Paulus karena ia dianggap kurang fasih atau karena kepemimpinannya dianggap sangat berkecukupan. (Horsley 1. Dalam pasal 2:1-5, 15-16. 3:13-15. Paulus memang sudah memberikan pembelaannya terhadap kritikan jemaat tersebut. Tetapi tampaknya dengan menggunakan istilah huperetes Paulus juga hendak menekankan bahwa ia adalah hamba Kristus yang bermartabat dan bernilai. Berdasarkan penjelasan di atas, setidaknya kita dapat menarik tiga poin penting dalam memaknai kata huperetes dalam I Korintus 4:1a, yakni: Pertama, penggunaan istilah huperetes hendak menekankan bahwa Paulus dan rekan-rekannya adalah hamba-hamba Kristus yang tunduk kepada Kristus. Kedua, penggunaan istilah huperetes hendak merespons perselisihan yang terjadi dalam jemaat Korintus. Paulus dan rekan-rekannya adalah hamba124 PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 hamba Kristus yang tunduk kepada Kritus, bukan kepada jemaat Korintus. Sehingga jemat Korintus tidak perlu mengidolakan tokoh tertentu dan membentuk kelompok-kelompok dalam jemaat sesuai tokoh yang mereka idolakan. Ketiga, penggunaan istilah huperetes menegaskan bahwa Paulus dan rekan-rekannya adalah hamba-hamba yang tunduk kepada Kristus, tetapi mereka tetap memiliki martabat dan nilai. Mereka tetaplah hamba-hamba yang memiliki otoritas dan kewibawaan. Relevansi bagi Gereja Masa Kini Pemaknaan terhadap kata huperetes dalam I Korintus 4:1a tentu saja relevan bagi gereja masa kini. Para pelayan gereja harus memandang diri mereka sebagai hamba-hamba yang tunduk kepada Kristus. Bukan tunduk kepada jemaat atau hal-hal lainnya. Jika pelayan gereja tunduk kepada jemaat, apalagi kepada jemaat AugolonganAy tertentu, maka akan menyebabkan pengelompokan di dalam gereja. Memang dalam konteks jemaat Korintus, bukan Paulus atau rekan-rekannya yang membentuk kelompok-kelompok melainkan jemaat itu sendiri. Tetapi pada masa kini, pelayan gereja pun dapat membentuk kelompok-kelompok di dalam jemaat. Misalnya memilih jemaat tertentu menjadi jemaat yang AudifavoritkanAy untuk dikunjungi maupun dilayani dengan baik sehingga terbentuk kelompok jemaat yang Aukurang Ay Tentu saja hal ini akan membuat gereja menjadi tidak sehat. Belum lagi persaingan-persaingan yang bisa saja ditanamkan dalam diri pelayan gereja. Menganggap pelayan lain sebagai saingan, menganggap diri lebih baik dari pelayan yang lain. Mimbar dijadikan sebagai tempat untuk unjuk kebolehan. Bahkan bisa saja pelayan gereja AumemprovokasiAy jemaat untuk tidak menyukai pelayan yang lain. Para pelayan tidak semestinya AumemprovokasiAy jemaat demikian juga sebaliknya tidak semestinya AuterprovokasiAy oleh jemaat. Hal tersebut dapat menyebabkan perselisihan bahkan perpecahan di dalam gereja. Tentu saja akan mengganggu pertumbuhan dalam gereja sehingga gereja menjadi tidak sehat. Dengan demikian para pelayan gereja harus memahami dirinya sebagai hamba yang tunduk kepada Kristus, tidak ada persaingan di antara sesama pelayan sebab seluruh pelayan adalah hamba-hamba yang tunduk pada Kristus. Para pelayan gereja tetap menjaga kewibawaan dan martabatnya sebagai hamba Kristus. Hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan gereja yang sehat. IV. Kesimpulan Melalui tulisan ini dapat disimpulkan bahwa upaya untuk memaknai kata huperetes dalam I Korintus 4:1a dapat dijadikan sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan gereja yang sehat. Salah satu tanda gereja yang sehat dapat dilihat dari para pelayan gereja. Pemaknaan kata huperetes dalam 1 Korintus 4:1a menawarkan model pelayan atau hamba yang masih relevan dalam konteks gereja masa kini yakni pelayan-pelayan yang tunduk kepada Kristus, pelayan-pelayan yang tidak membentuk kelompok-kelompok di dalam gereja dan pelayan-pelayan yang menjaga kewibawaan dan martabatnya. Jika pelayan gereja memiliki sifat atau karakter yang demikian maka dapat menolong pelayan gereja untuk mewujudkan gereja yang sehat. Tentu saja banyak faktor-faktor dalam upaya mewujudkan gereja yang sehat. Penelitian ini hanya sebagai salah satu upaya untuk mewujudkannya PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: Vol. No. 1, 2021 dengan menawarkan model pelayan gereja berdasarkan pemaknaan kata huperetes dalam I Korintus 4:1a. Meskipun kata huperetes hanya satu kali digunakan oleh Paulus, namun melalui penelitian ini terlihat bahwa upaya untuk memaknainya cukup penting dan Terlebih isu yang dibahas di dalam cukup relevan dengan isu yang kerap terjadi pada masa kini yakni berkaitan dengan perselisihan di dalam jemaat yang dapat mengganggu pertumbuhan gereja. Dengan demikian tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam mewujudkan gereja yang sehat. Referensi