JPFT - volume 11, nomor 3, pp. Desember 2023 Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Open Access http://jurnal. id/index. php/jpft IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA MENGGUNAKAN FOUR TIER DIAGNOSTIC TEST PADA MATERI GELOMBANG BUNYI UNTUK SMP KELAS Vi KABUPATEN TOLITOLI Identification Of Students Misconceptions Using The Four-Tier Diagnostic Test On Sound Waves Material Of SMP Grade Vi Tolitoli District Hafidza Azahra. Marungkil Pasaribu. Haeruddin. Muhammad Zaky Program Studi Pendidikan Fisika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Palu. Indonesia Hafidzaazahra8@gmail. Kata Kunci Identifikasi Miskonsepsi Four Tier Diagnostic Test Gelombang bunyi Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan miskonsepsi yang terjadi pada materi gelombang bunyi pada siswa di SMP Kelas Vi Kabupaten Tolitoli dengan menggunakan fourtier diagnostic test. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 60 orang siswa dari kelas Vi SMP Negeri 2 Tolitoli. SMP Negeri 5 Tolitoli, dan SMP Negeri 8 Tolitoli. Penentuan responden menggunakan Teknik purposive sampling yaitu dengan mengambil responden yang mengalami miskonsepsi tertinggi sebanyak 10 orang siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata persentase siswa paham konsep (SC) sebesar 29% yang termasuk dalam kriteria rendah, rata-rata persentase siswa yang kurang pengetahuan (LK) sebesar 33% yang termasuk dalam kriteria sedang, rata-rata persentase siswa yang mengalami miskonsepsi (MSC) sebesar 27% yang termasuk kriteria rendah, rata-rata persentase siswa yang mengalami false positive (FP) sebesar 6% yang termasuk kriteria rendah, rata-rata siswa yang mengalami false negative (FN) sebesar 3% yang termasuk dalam kategori rendah. Adapun hasil identifikasi menunjukan bahwa siswa SMP Negeri di Tolitoli telah memahami dengan baik konsep gelombang dan bunyi sehingga hasil yang dicapai yaitu pada kriteria miskonsepsi yaitu rendah. Keywords Identification Misconceptions Four Tier Diagnostic Test Sound waves Abstract This research aims to describe the misconceptions that occur in sound wave material among eighth-grade students in Tolitoli Regency using a four-tier diagnostic test. The type of research is qualitative descriptive. The subjects of the study were 60 students from Grade Vi of SMP Negeri 2 Tolitoli. SMP Negeri 5 Tolitoli, and SMP Negeri 8 Tolitoli. The respondents were selected using purposive sampling, focusing on students with the highest misconceptions, totaling 10 students. The results showed that the average percentage of students who understood the concept (SC) was 29%, which falls under the low category. The average percentage of students with a lack of knowledge (LK) was 33%, categorized as moderate. The average percentage of students experiencing misconceptions (MSC) was 27%, also categorized as low. The average percentage of students experiencing false positives (FP) was 6%, categorized as low, and the average percentage of students experiencing false negatives (FN) was 3%, categorized as low. The identification results indicate that the students from SMP Negeri in Tolitoli have a good understanding of the concepts of waves and sound, resulting in a low level of misconceptions. A2023 The Author p-ISSN 2338-3240 e-ISSN 2580-5924 Received 19/08/2023. Revised 10/09/2023. Accepted 11/10/2023. Available Online 31/12/2023 *Corresponding Author: fisika@yahoo. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online PENDAHULUAN Vol. No. 3, pp. Desember Dari penjelasan diatas, penelitian memberi judul AuIdentifikasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Four Tier Diagnostic Test Pada Materi Gelombang Bunyi Untuk Smp Kelas Vi Kabupaten TolitoliAy sebagai upaya untuk mengetahui miskonsepsi yang terjadi pada siswa khususnya pada materi Gelombang Bunyi. Fisika merupakan cabang ilmu sains yang membahas fenomena alam dengan segala dinamika fisisnya . Pembelajaran fisika memerlukan pemahaman konsep yang baik, hal ini sejalan dengan pendapat . yang mengatakan bahwa fisika adalah pembelajaran yang mengutamakan penguasaan konsep. Konsep fisika yang menyimpang dengan konsep fisika yang ada dapat mempengaruhi proses belajar Siswa secara berkelanjutan. Apabila konsep yang salah ini terus dibiarkan siswa akan mengalami miskonsepsi. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan Penelitian miskonsepsi pada materi gelombang bunyi yang terjadi pada siswa kelas Vi di tiga sekolah. Subjek pada penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 2. SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 8 Tolitoli berjumlah 60 siswa. Melalui penelitian miskonsepsi yang dialami oleh siswa pada materi gelombang bunyi dengan tes objektif pilihan ganda di sertai tingkat keyakinan dan alasan siswa sesuai kriteria Four-tier Diagnostic Test. Selain itu sebagai data pendukung peneliti wawancara untuk memperoleh jawaban yang memungkinkan tidak dapat dituliskan pada tes objektif four-tier diagnostic test. Miskonsepsi adalah suatu konsep yang tidak sesuai dengan konsep yang diakui oleh para ahli . Berdasarkan studi literatur, cukup banyak siswa yang mengalami miskonsepsi dalam pembelajaran fisika, seperti pada konsep mekanika . , serta optik dan gelombang . , menunjukkan bahwa cukup banyak siswa di SMAN 1 Turi yang memiliki kesalah pahaman pada konsep gelombang bunyi, salah satunya pemahaman siswa pada konsep gelombang Miskonscpsi Iainnya terkait konsep gelombang bunyi juga ditemukan oleh . yang dilakukan di MTs Rukoh, dimana siswa mengalami kesalahpahaman pada beberapa konsep diantaranya konsep getaran dan Dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami miskonsepsi pada materi gelombang bunyi. Materi fisika yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi gelombang bunyi. Pemilihan materi gelombang bunyi dalam penelitian ini karena materi ini adalah salah satu materi dimana siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep dari materi Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengetahui miskonsepsi siswa pada suatu materi pelajaran adalah dengan menggunakan tes diagnostik. Tes diagnostik ini biasanya berupa beberapa pertanyaan atau permintaan dalam suatu hal tertentu . Salah satu cara untuk mengetahui miskonsepsi yaitu dengan diberikannya tes untuk mengidentifikasi adanya miskonsepsi yang dialami siswa . dengan menggunakan Four-tier diagnostic test. Tes ini memiliki keuntungan untuk membedakan siswa yang lack of knowladge . urang pengetahua. dan yang tidak paham . Beberapa keuntungan dari metode four-tier diagnostic test yaitu dapat keyakinan alasan yang diberikan siswa, memahami miskonsepsi yang terjadi lebih dalam, memudahkan guru untuk merencanakan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian hasil penelitian dideskripsikan secara kualitatif dalam persentase Tabel 1. Analisis presentase pemahaman konsep siswa dengan four tier diagnostic test pada tiap butir MSC Data pada tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata persentase siswa paham konsep (SC) sebesar 29% yang termasuk dalam kriteria rendah, rata-rata persentase siswa yang kurang pengetahuan (LK) sebesar 33% yang termasuk dalam kriteria sedang, rata-rata persentase siswa yang mengalami miskonsepsi (MSC) sebesar 27% yang termasuk kriteria rendah, rata-rata persentase siswa yang mengalami false positive (FP) sebesar 6% yang termasuk rata-rata mengalami false negative (FN) sebesar 3% yang termasuk dalam kategori rendah dan ratarata persentase jawaban siswa yang tidak dapat Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online diidentifikasi atau eror sebesar termasuk dalam kategori rendah Vol. No. 3, pp. Desember pada soal nomor satu, namun ada sebagian siswa yang memilih jawaban salah. Dimana jawaban yang seharusnya yaitu bunyi datang, garis normal dan bunyi pantul terletak pada satu bidang, sudut datang sama dengan sudut Disamping jawaban itu, banyak siswa Dimana seharusnya gelombang datang gelombang pantul dan garis normal terletak pada satu bidang dan sudut datangnya sama dengan sudut pantul. Jawaban siswa serta alasan yang mereka pilih pada nomor satu menunjukkan miskonsepsi pada materi gelombang bunyi Hal ini menunjukkan bahwa Sebagian siswa masih banyak yang keliru dalam menjawab soal, pernyataan terkait kekeliruan siswa menjawab soal diatas dikuatkan dengan adanya kegiatan wawancara. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh . bahwa hukum pemantulan bunyi yang banyak 15 12 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 MSC Gambar 1. Analisis Distribusi Miskonsepsi Tiap Butir Soal Pada diagram diata dapat dilihat bahwa miskonsepsi paling banyak terjadi pada soal nomor 3 dimana jumlah siswa yang mengalami Dan miskonsepsi paling sedikit terjadi pada nomor soal 2, 5 dan 6 dimana jumlah siswa yang sebanyak 10 siswa. Pembahasan Pemahaman pemantulan bunyi Gambar 3. Soal pemahaman konsep Pada soal diatas siswa yang menjawab benar dan alasan benar kemudian yakin terhadap jawaban serta alasan (SC) mereka Siswa kurangnnya pengetahuan (LK) sebesar 37%. Siswa yang mengalami miskonsepsi (MSC) dengan menjawab salah serta alasan yang salah namun ia yakin sebesar 35%. Siswa yang mengalami false positive (FP) dengan jawaban benar dan alasan yang salah sebesar 8%. Siswa yang mengalami false negative (FN) dengan menjawab salah namun alasan benar sebesar 2%. Siswa yang jawabannya tidak teridentifikasi atau eror sebesar 0% Dari soal menjelaskan tentang pemantulan bunyi pada sebuah pengeras suara. Pada soal ini banyak siswa yang menjawab bunyi yang terdengar lebih dulu iala pengeras suara yang bervolume tinggi. Tak hanya jawaban yang salah, alasan yang dipilih pun salah dimana Gambar 2. Soal pemahaman konsep Pada soal diatas siswa yang menjawab benar dan alasan benar kemudian yakin terhadap jawaban serta alasan (SC) mereka sebesar Siswa yang mengalami kurangnnya pengetahuan (LK) sebesar 18%. Siswa yang (MSC) menjawab salah serta alasan yang salah namun ia yakin sebesar 30%. Siswa yang mengalami false positive (FP) dengan jawaban benar dan alasan yang salah sebesar 5%. Siswa yang (FN) menjawab salah namun alasan benar sebesar Siswa teridentifikasi atau eror sebesar 3%. Dari soal telah ditunjukkan mengenai hukum pemantulan bunyi tinggal memilih manakah dari pilihan ganda yang merupakan jawaban yang tepat. Banyak siswa menjawab benar Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online sehingga suara yang terdengar ialah kedua Jawaban serta pilihan alasan siswa menyebabkan mereka mengalami miskonsepsi. Disamping itu ada beberapa siswa yang menjawab benar dan alasan yang dipilih tepat sehingga dapat diketahui mereka memahami konsep dengan baik. Namun ada juga yang jawabannya benar namun pilihan alasannya masih kurang tepat atau salah. Begitupun sebaliknya, jawaban salah namun alasan yang dipilih tepat. Hal ini mengidentifikasi mereka dengan jawaban seperti itu paham sebagian konsep dari materi bunyi. Vol. No. 3, pp. Desember KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Total siswa kelas Vi dari SMP N 2 Tolitoli. SMP N 5 Tolitoli, dan SMP 8 Tolitoli yang teridentifikasi mengalami miskonsepsi dengan menggunakan four-tier diagnostic test pada materi gelombang bunyi sebesar 27% Penyebab terjadinya miskonsepsi pada siswa di SMP N 2 Tolitoli. SMP N 5 Tolitoli, dan SMP N 8 Tolitoli diantaranya konsepsi awal siswa, intuisi yang salah, minat siswa, kurangnya literasi pada siswa, penjelasan guru, kurangnya bahan ajar yang digunakan, metode mengajar guru yang monoton, keterbatasan waktu guru dalam mengajar terlebih saat pandemi Covid19. Konsep persentase miskonsepsi tertinggi daripada konsep yang lainnya. Hal ini karena masih perambatan bunyi, perbedaan macam-macam frekuensi bunyi, dan pengaruh frekuensi bunyi terhadap tinggi rendahnya nada. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh . yang menyatakan bahwa masih banyak dan tingginya miskonsepsi yang dialami siswa pada materi getaran, dan gelombang, dan bunyi. Miskonsepsi siswa ditunjukkan ketika jawaban serta alasan yang diberikan siswa salah, namun siswa yakin dengan jawaban dan alasan Kondisi miskonsepsi yang terjadi pada siswa apabila dibiarkan akan berdampak pada mengakibatkan siswa tersebut mengalami . Miskonsepsi yang dialami siswa bisa berbeda dengan penyebab yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dialami siswa serta penyebab terjadinya miskonsepsi. Miskonsepsi pada siswa dapat disebabkan oleh berbagai hal. Miskonsepsi juga dapat dibentuk oleh siswa sendiri dan dipengaruhi oleh menyebabkan sering terjadinya kesalahan pada diri siswa dalam memahami suatu konsep, penalaran siswa belum lengkap, kemampuan disebabkan oleh buku pegangan siswa . Selain dari faktor siswa, terjadinya miskonsepsi juga dipengaruhi oleh hal lain seperti halnya pembelajaran yang dilakukan oleh guru, bahan ajar yang diguanakan, atau pemahaman guru yang kurang sesuai tentang suatu konsep yang menyebabkan siswa mengalami miskonsepsi . DAFTAR PUSTAKA