FIQHUNA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM e-ISSN : x-x Laman Jurnal : https://ejournal. stitaw-binjai. id/index. php/fiqhuna Volume 1 Nomor 1. Januari Ae Juni 2025 KONSELING LINTAS BUDAYA SEBAGAI SARANA MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL DAN KOMUNIKASI ABK DI SEKOLAH Putri Andayani1. Mahvira Aulia Lubis2. Amanda Zulfani3. Zahrani Ramadhita4. Alfiyah Rohadatul Aisyi5. Suryani Ulfa6. Farhan Syahreza7. Supriyadi8 1Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: putriandayani782002@gmail. 2Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: mahviraaulialubis. kompadu@gmail. 3Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: amandazulfanihrp@gmail. 4Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: zahraniramadhita354@gmail. 5Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: alfiyahaisyi408@gmail. 6Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: suryaniulfa431@gamil. 7Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: syahginting88@gmail. 8Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan Email: bkpisupriyadi@gmail. ABSTRAK Berdasarkan permasalahan bagaimana cara meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi anak berkebutuhan khusus, maka penelitian ini bertuuan untuk memberikan pengetahuan dan treatment tentang konseling lintas budaya sebagai sarana untuk mengatasi dan mengetahui bagaimana cara meningkatkan sosial dan komunikasi untuk ABK disekolah baik itu tunarungu maupun tuna grahita. Konseling lintas budaya merupakan konseling antar dua orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dalam hal ini, peran seorang konselor sangat dibutuhkan, dan tentu saja seorang konselor harus memahami apa dan bagaimana konseling lintas budaya tersebut. Adapun metode yang digunakan peneliti adalah metode wawancara dan observasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini . konselor harus mampu menguasai pemahaman tentang konseling lintas budaya terutama jika berhadapan dengan ABK, . anak tuna grahita merupakan anak yang aktif baik dalam pembelajaran maupun bermain, . perkembangan yang tampak pada anak tuna grahita dalam keterampilan sosial dan komunikasinya. Kata Kunci: ABK. Konselor. Lintas Budaya. Tunarungu. Tuna Grahita ABSTRACT Based on the problem of how to improve the social and communication skills of children with special needs, this research aims to provide knowledge and treatment about cross-cultural counseling as a means to overcome and find out how to improve social and communication for children with special needs at school, both deaf and mentally impaired. Crosscultural counseling is counseling between two people who have different cultural backgrounds. In this case, the role of a counselor is very necessary, and of course a counselor must understand what and how counseling crosses culture. The methods used by researchers are interview and observation methods. Results obtained from this research . counselors must be able to master an understanding of cross-cultural counseling, especially when dealing with children with special needs, . children with intellectual disabilities are children who are active both in learning and playing, . development is visible in children with intellectual disabilities in their social and communication skills. Keyword: ABK, counselor. Cross-Cultural. Deaf. Mentally Impaired STIT Al-Washliyah Binjai Penulis: Adinda Hafizah, dkk. |Permasalahan Umum Yang Dihadapi Oleh Pengamen Jalanan PENDAHULUAN Glen E. Smith . mendefenisikan konseling sebagai suatu proses dimana seorang konselor membantu konseli agar ia dapat memahami dan menafsirkan kata-kata yang berhubungan dengan pemilihan, perencanaan, dan penyesuaian diri dengan kebutuhan individu. Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan oleh seorang profesional terhadap individu yang membutuhkannya, agar individu tersebut dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya secara optimal, mampu mengatasi masalah, dan mampu menyesuaiakan diri terhadap lingkunan yang selalu berubah. Proses konseling antara dua orang yakni konselor dan konseli dilatarbelakangi dengan adanya dua budaya yang berbeda, hal ini dinamakan konseling multikultural atau konseling lintas budaya. Konseling lintas budaya ini beru berkembang kurng lebih sekitar 20 tahun. Akan tetapi, konseling lintas budaya ini dirasakan lebih efektif untuk membantu konseli menyelesaikan masalahnya yang terutama jika konseli memilki kebudayaan yang kental yang tidak mudah terlepas terlepas dari dirinya, dalam arti kata konseli berasal dari suatu daerah terpencil yang memiliki kebudayaan yang masih sangat kental. Oleh karena itu, konselor dituntut untuk bisa memahami tentang konseling lintas budaya, mulai dari teknik dan dan teori dari konseling lintas budaya tersebut. Merujuk pada pengoptimalan tuuan bimbingan dan konseling, salah satu hal yang penting untuk diperhatikan prinsip dari bimbingan konseling itu sendiri. Salah satu prinsip dari bimbingan konseling ini ialah terpenuhinya layanan untuk individu tanpa memandang usia, agama, budaya, dan ras, termasuk pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sebagai kelompok yang memiliki kekhususan. ABK memerlukan penanganan yang khusus pula. Oleh karena itu, konselor juga dituntut untuk mampu menangani dan mengetahui bagaiamana berhadapan dengan ABK khususnya anak tuna rungu dan tuna grahita. Dengan adanya perbedaan budaya, dapan menjadikan pemahaman dan cara tersendiri dalam menjalin komunikasi, termasuk didalmnya pemeberian layanan bimbingan dan konseling. Konselor dituntut untuk memahami dan menyadari secara budaya bahwa individu memiliki karakteristik dan budaya yang berbeda-beda terutama bagi ABK (Dedi Supriadi. Dalam memberikan layanan bimbingan konseling, tidak menutup kemungkinan seorang konselor yang profesional akan dihdapkan dengan suatu klien yang memiliki kekhususan seperti tuna rungu dan tuna grahita. Hal ini juga dapat menjadi penghambat jalannya konseling yang dilakukan karena keterbatasan komunikasi. Dapat kita lihat bahwa konseling berwawasan lintas budaya sangat diperlukan. Dengan adanya konseling lintas budaya juga dapat meminimalisir kemungkinan munculnya perilaku konselor yang menggunakan budayanya sendiri (Jumarin, 2. Untuk mengaplikasikan konseling lintas budaya sebagai sarana meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi ABK disekolah, penelitian ini akan menyajikan hakikat konseling lintas budaya, konsep dasar konseling lintas budaya, konseling lintas budaya sebagai sarana terbaik dalam menangani ABK, serta kefektivan konseling lintas budaya dalam mendorong keterampilan sosial serta komunikai ABK METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Penelitian kualitatif merupakan suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan untuk menemukan dan mengembangkan serta menguji suatu pengetahuan atau masalah guna untuk mencari solusi atau pemecahan dari masalah tersebut. Metode penelitian kualitatif bisa berubah-ubah hasilnya sesuai dengan permasalahan sama yang akan mendatang. Tujuan utama metode ini ialah untuk mengembangkan pengertian, konsep-konsep yang pad akhirnya dikembangkan menjdi suatu teori. Penelitian ini dilakukan di sekolah SLB A B B MELATI AISIYAH DELI SERDANG. Sasaran dari penelitian ini adalah siswa ABK, orang tua ABK, dan guruguru yang ada disekolah tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat Konseling Lintas Budaya Locke (Nuzliah, 2. menjelaskan mengenai konseling lintas budaya sebagai sarana untuk . mengetahui betapa banyak keunikan atau kekhasan dari setiap individu terutama pada ABK, . konselor tidak boleh membawa nilai-nilai kebudayaan pribadi yang berasal dari daerahnya dalam ranah konseling, . mengakui bahwa setiap individu memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda-beda dan membawa ras, budaya, agama, dan kebiasaan mereka di daerah mereka masing-masing. Dilihat dari pembahasan di atas, dapat kita ambil kesimpulan yaitu pertama, individu memiliki kekhasan tersendiri, kedua konselor tidak oleh membawa kebudayaannya dalam proses pemberian layanan konseling, dan yang ketiga, individu memperlihatkan latarbelakang dan kebudayaannya saat proses pemberian layanan konseling. Dapat kita simpulkan bahwa konseling lintas budaya merupakan interaksi antara konselor dan konseli dengan dua budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman terhadap budaya terutama ditekankan pada konselor. Konsep Dasar Konseling Lintas Budaya Indrawaty & Ed, . , menjelaskan kunci dalam memberikan layanan konseling lintas budaya terdiri tas 5 yaitu : STIT Al-Washliyah Binjai Penulis: Adinda Hafizah, dkk. |Permasalahan Umum Yang Dihadapi Oleh Pengamen Jalanan Konselor harus memodifikasi proses pemberian layanan jika terjadi masalah yang melibatkan latar belakang budaya yang berbeda antara konselor dan konsel Konselor harus siap mengatasi kesenjangan budaya yang terjadi dalam proses konseling Konselor dituntut untuk dapat memahami gejala dan permasalahan dari individu Konselor harus dapat menerima dan memahami perbedaan pendapat budaya antara konselor dan konseli Konselor dituntut untuk mampu memahami keluhan dari individu Konseling Lintas Budaya Sebagai Sarana Terbaik Dalam Menangani ABK Dalam menangani ABK khususnya untuk meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasinya ialah dapat dilakukan dengan menggunaakan metode bermain tebak kata yang melibatkan ABK dan teman-temannya. Peningkatan keterampilan sosial anak dapat dilihat dari anak yang aktif dalam permainan yang dilakukan. Dalam melakukan permainan tersebut kita dapat mengamati bagaimana keterampilan sosial anak dengan teman sekelas maupun teman diluar kelas, dan kita dapat melihat bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan teman-teman nya. Hasil dari observasi atau pun pengamatan yang dilakukan ialah. ABK dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sebayanya dengan baik khususnya tuna rungu. Sementara anak tuna grahita, dari observasi atau pun pengamatan yang dilakukan dari salah satu anak yang di amati sekaligus menjadi subjek penelitian ini ialah anak tersebut sangat mudah berinteraksi dengan anakanak yang lain. Dia mudah berinteraksi bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya, anak ini terkenal dengan keaktifannya sebagai pengidap tuna grahita, sehingga tidak ada kendala untuk peneliti dalam melakukan observasi atau pun pengamatan. Adapun peningkatan keterampilan sosial dan komunikasi yang peneliti dapat ialah : Tuna Rungu, anak dapat berinteraksi dengan baik dengan temannya, anak mau bergabung dengan teman atau kelompok yang lainnya walaupun bukan teman Sementara untuk anak Tuna Grahita, anak tersebut semakin aktif, hanya saja dia tidak mau berbagi mainannya dengan temannya yang lain. Adapun pendekatan yang dilakukan peneliti terhadap anak ialah dengan membangun keakraban dengan anak tersebut, denga cara mengajak nya bermain. Hal ini sesuai dengan salah satu metode bermain yang diungkapkan oleh Winda Gunarti, dkk . melatih daya tangkap anak terhadap perintah dan pesan yang ada, membangun sikap positif terhadap diri anak, memperoleh pengetahuan sikap-sikap yang ada pada diri Hal ini sama dengan Ingrid Pramling-Samuelsson . menjelaskan bahwa metode bermain ini merupakan metode yang bertujuan agar anak mampu meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasinya dengan orang lain. Tabel 1. Wawancara untuk Tuna Grahita Siapa saja yang terlibat dalam proses keterampilan sosial dan komunikasi ABK? Yang terlibat adalah seluruh warga sekolah dan orang tua dirumah Bagaimana cara bapk/ibu dalam komunikasi pada anak ? Apakah ada kemajuan setelah anak sering diberikan kegiatan atau teknik dalam berbicara dan Dengan cara membuat anak terlibat aktif baik dalam belajar, bermain, bernyanyi bahkan terapi Ya, ada kemajuan pada anak, anak menjadi semakin lebih aktif terutama dalam kelas STIT Al-Washliyah Binjai Penulis: Adinda Hafizah, dkk. |Permasalahan Umum Yang Dihadapi Oleh Pengamen Jalanan Materi diberikan oleh guru dalam komunikasi anak? Apakah Apakah anak berkomunikasi lewat sentuhan? Apakah anak komunikasi lewat kotak mata? Apakah anak komunikasi lewat Bagaimana cara anak menyapa orang yang ditemuinya? Apakah anak merespon saat Bagaimana keseharian anak sekolah/rumahnya? Apakah menggunakan kalimat kasar dalam berinteraksi? Apakah dengan kurangnya komunkasi anak membuat ia mengurung diri untuk tidak mau berbaur engan yang lain? Materi yang diberikan ialah menggabungkan 2 kelas tuna grahita untuk bermain sambil belajar Sarana an prasaran apa yang guru/orangtua sosial dan komunikasi Di sekolah terutama kelas, guru menggunakan terapi fokus dengan cara membalikkan anak di kursi dan memasukkan foto satu persatu setiap hari, dan ada juga khusus penterapi datang setiap seminggu sekali Kapan pelaksanaan terapi anak dilaksanakan? Berapa kali pelaksanan tersebut dilakukan? Apakah ada pelaksanaan terapi yang dilakukan orang tua diluar sekolah? Apa saja perubahan yang tampak pada anak setelah dilakukan terapi? Bagaimana tindak lanjut yang dilakukan setelah pelaksanaan terapi tersebut Setiap hari sabtu Tidak, anak mengeluarkan suara saat berkomunikasi Tidak, anak selalu mengeluarkan suaranya saat Tidak, anak selalu mengeluarkan suaranya saat Ya, bahkan anak terlihat sangat antusias Dengan memanggilnya dan bertanya apakah sudah sarapan dan memuji apa yang digunakan oleh orang yang disapanya Disekolah, anak sangat aktif dan dirumah juga aktif, karena emang bawaan si anak ini aktif Pernah, kadangkala anak mengucapkan kalimat bodoh ke ibu nya, dan disekolah dia suka mengejek teman atau gurunya Tidak, karena anak tersebut cukup baik dalam keterampilan sosial dan komunikasinya. Anak semakin mudah merespon dan menangkap kalimat perintah dan ajakan Tindak lanjunya yaitu tetap menjalankan terapi hingga anak benar-benar lancar terutama dalam hal Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat kita liht bahwa dengan adanya konseling lintas budaya cukup mendukung untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi pada ABK. Hal itu juga dapat dilihat pada tabel wawancara. Adapun peningkatan yang terjadi ialah anak menjadi lebih aktif didalam kelas maupun diluar kelas bahkan dirumah, anak lebih percaya diri dan dengan mudah untuk berkomunikasi dengan banyak orang dengan kekhususan yang dia punya. STIT Al-Washliyah Binjai Penulis: Adinda Hafizah, dkk. |Permasalahan Umum Yang Dihadapi Oleh Pengamen Jalanan KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari penelitian ini, yaitu : Konseling merupakan proses interaksi antara konselor dan konseli dalam menyelesaikan suatu masalah yang dialami oleh konseli Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi Terjadinya peningkatan keterampilan pada ABK dalam keterampilan sosial dan komunikasi DAFTAR PUSTAKA