SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 89-95 Maret 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Pengaruh Jumlah Bibit Dan Umur Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Padi Varietas IR 32 (Oryza Sativa L. ) Dengan Metode Hazton The Effect of Number of Seeds and Age on the Growth and Production of Rice Variety IR 32 (Oryza Sativa L. ) Using the Hazton Method Mufti Ali1*. Dwi Meriyani Lestari2. Program Studi Sains Pertanian, 2Mahasiswa Program Studi Sains Pertanian. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Nurul Huda. Sukaraja. OKU Timur Indonesia *E-mail: mufti@unuha. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh variasi umur dan jumlah bibit terhadap pertumbuhan serta hasil produksi padi sawah. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan petak terbagi (RPT) dengan desain faktorial 3x3 dan empat ulangan. Faktor pertama adalah umur bibit padi (U), yang terdiri atas tiga tingkat: U1 = 20 hari setelah semai (HST). U2 = 25 HST, dan U3 = 30 HST. Faktor kedua adalah jumlah bibit per lubang tanam (J) yang juga terdiri dari tiga tingkat, yaitu J1 = 20 bibit/lubang . epadatan renda. J2 = 25 bibit/lubang . epadatan sedan. , dan J3 = 30 bibit/lubang . epadatan tingg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan umur bibit U1 . HST) memberikan hasil terbaik, ditandai dengan tinggi tanaman tertinggi, jumlah anakan terbanyak, serta produksi gabah dan bobot 1000 butir gabah tertinggi dibandingkan U2 dan U3. Sedangkan untuk jumlah bibit, perlakuan J1 dan J2 menghasilkan produksi gabah dan bobot 1000 butir gabah yang lebih baik dibandingkan J3. Hasil ini memberikan rekomendasi praktis bagi petani dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi budidaya padi. Kata kunci: Bibit, umur, hazton, padi, sawah ABSTRACT This study aims to evaluate the effect of seedling age and number of seedlings on the growth and productivity of lowland rice. The study used a split plot design with a 3x3 factorial design and four The first factor is the age of the rice seedlings (U), which consists of three levels: U1 = 20 days after planting (DAP). U2 = 25 DAP, and U3 = 30 DAP. The second factor is the number of seedlings/planting hole (J) which also consists of three levels, namely J1 = 20 seedlings/hole . ow densit. J2 = 25 seedlings/hole . edium densit. , and J3 = 30 seedlings/hole . igh densit. The results of the study showed that the U1 seedling age treatment . HST) was the best seedling age treatment with the highest plants, the most tillers/clump, the heaviest grain and 1000 grain production compared to the U2 seedling age treatment . HST) and U3 . HST). Meanwhile, the number of seedlings/planting hole treatment J1 . seedlings/planting hol. and J2 . seedlings/planting hol. were better than the J3 treatment . seedlings/planting hol. in grain and 1000 grain production. These findings can provide guidance for farmers to increase yields and efficiency in rice cultivation. Keywords: age, hazton, rice, seedlings, paddy fields SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 89-95 Maret 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. PENDAHULUAN Tanaman padi merupakan tanaman pangan yang Separuh populasi global mengonsumsi Budidaya padi tersebar di seluruh benua. Di Indonesia, beras merupakan komoditas pertanian utama yang berperan penting dalam ekonomi negara. Permintaan beras di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun dan kegagalan memenuhi kebutuhan tersebut dapat menyebabkan menurunnya stabilitas nasional. Masalah umum dalam budidaya padi ialah Dalam peningkatan produktivitas padi, beberapa input teknologi dicoba di lapangan termasuk metode Hazton. Hazton adalah metode penanaman padi yang dirancang untuk meningkatkan produksi dengan mengoptimalkan fungsi lahan dengan menggunakan lebih banyak benih/lubang tanam. Sistem budidaya Hazton mampu memberikan hasil padi sebesar 4-9 ton/ha. Teknik Hazton mengandalkan penggunaan benih yang berumur sekitar 20-30 hari setelah semai dan jumlah benih untuk setiap lubang tanam sekitar 20-30 (Hazairan, dan Komaruddin, 2. Umur bibit merupakan elemen penting dalam pertumbuhan dan dapat mempengaruhi jumlah anakan pada padi. Keberhasilan budidaya padi juga terlihat dari umur padi yang ditanam. Semakin tua umur bibit maka semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk menjadi dewasa. Bibit dapat dipindahkan setelah berumur 30 hari. Bibit yang dipindahkan adalah bibit yang telah tumbuh 5 helai daun dalam waktu sekitar 20-25 Pemindahan bibit pada umur yang sesuai dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil panen padi/gabah sawah. Kepadatan padi/lubang mempengaruhi pertumbuhan dengan mendorong terjadinya persaingan antar spesies untuk mendapatkan sumber daya penting, termasuk air, nutrisi. CO2. O2, cahaya, dan ruang, yang dapat meningkatnya resiko serangan hama dan penyakit, serta menurunnya kualitas gabah (Pratiwi, et al. , 2. Apabila setiap lubang disemai 10-20 benih maka dapat dihasilkan 17 anakan/tandan dan 2146 butir padi/tandan. Sedangkan 20-30 lubang tanam dapat menghasilkan 16 bibit yang masing-masing mampu menghasilkan 2015 butir beras (Jamil, et , 2. METODE Bahan dan Alat Bahan yang digunakan meliputi padi varietas IR 32, pupuk urea. SP36 dan KCl. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan petak terbagi (RPT) dengan desain faktorial 3x3 dan 4 Faktor utama adalah umur bibit padi sawah (U) pada petak utama yang meliputi: U1 = 20 hari setelah penanaman (HSS). U2 = 25 hari setelah penanaman (HSS) dan U3 = 30 hari setelah penanaman (HSS). Sub plot adalah jumlah bibit (J) yang terdiri dari: J1 = 25 bibit/lubang . epadatan renda. J2 = 30 bibit/lubang . epadatan sedan. dan J3 = 35 bibit/lubang . epadatan tingg. Dalam satu petak terdapat 20 lubang tanam dalam satu petak, sehingga total terdapat 720 lubang tanam. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang nyata antara umur bibit padi sawah dan jumlah bibit/lubang tanam. Masing- masing perlakuan tunggal berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati. Tanaman Tinggi . Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan umur bibit U1 . HST) mengakibatkan tanaman padi tertinggi pada umur 14, 42, dan 70 HST. Hal ini diduga disebabkan oleh penggunaan bibit yang lebih muda, sehingga akar bibit padi mampu berkembang serta beradaptasi dengan lingkungan. Pada umur 14 HST dan 42 HST perlakuan U2 mengakibatkan tanaman padi lebih tinggi disbanding U3, tetapi pada 70 HST, kedua perlakuan ini memiliki tinggi tanaman yang sama. Sementara itu semua perlakuan jumlah bibit/lubang tanam mengakibatkan tinggi tanaman padi yang sama. Hal yang sama terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh Cynthia dan Suryanto . , bahwa perlakuan jumlah bibit/lubang tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman padi. SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 89-95 Maret 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Tabel 1. Tinggi Tanaman Padi pada Perlakuan Umur Bibit dan Jumlah Bibit/Lubang Tanam . Perlakuan Tinggi Tanaman . 14 HST 42 HST 70 HST Umur Bibit Jumlah Bibit/Lubang Tanam Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama dan pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada uni BNT = 0. Anakan/Rumpun Pola yang sama seperti pada parameter tinggi tanaman padi juga terjadi pada jumlah anakan/rumpun, mengakibatkan jumlah anakan yang lebih banyak dibanding U2 dan U3. Perlakuan U2 juga memiliki anakan/rumpun yang lebih banyak dibanding U3 (Tabel . Berkurangnya jumlah anakan/rumpun ini terjadi karena kematian anakan diduga akibat persaingan dalam mendapatkan nutrisi, cahaya, dan udara, serta karena tanaman memasuki fase reproduktif yang menghentikan pertumbuhan dan mengalihkan hasil fotosintesis untuk perkembangan gabah (Simanjuntak, et al. , 2. Tabel 2 memperlihatkan bahwa perlakuan J1 anakan/rumpun dibanding perlakuan lainnya. Pembentukan dimulai pada usia 10 hari dan mencapai maksimum pada usia 50-60 HST (Jamil, et al. Yunidawati dan Koryati . melaporkan bahwa jumlah benih/lubang tanam memegang peranan penting dalam pertumbuhan Jika benih ditanam terlalu rapat dalam satu lubang, hal ini akan menyebabkan persaingan antar tanaman, sehingga jumlah anakan padi menjadi lebih sedikit. Tabel 2. Anakan/Rumpun dan Jumlah Malai/Rumpun Padi pada Perlakuan Umur Bibit dan Jumlah Bibit/Lubang Tanam Perlakuan Jumlah Anakan/Rumpun Jumlah Malai/Rumpun 60 HST Umur Bibit Jumlah Bibit Panjang Malai 80 HST SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 89-95 Maret 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama dan pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada uni BNT = 0. Jumlah malai/rumpun padi tidak berbeda pada semua perlakuan tunggal umur bibit maupun jumlah bibit/lubang tanam baik pada umur 60 HST dan 80 HST. Menurut Idaryani, dkk. pasokan nutrisi dan fotosintesis memiliki dampak yang signifikan terhadap induksi bunga dan Selain itu, jumlah malai yang dihasilkan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi tanaman, suhu, dan genetika. Metode penanaman Hazton melibatkan penggunaan 2030 bibit/lubang. Karena bibit pusat dipadatkan untuk menghasilkan anakan yang produktif, tanaman induk akan menghasilkan lebih banyak Panjang Malai . Hasil pengamatan panjang malai pada 85 HST setelah penanaman dapat terlihat pada tabel 2. Umur bibit memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap panjang malai. Malai pada perlakuan U1 sama panjangnya dengan malai pada perlakuan U2. Kedua perlakuan tersebut memiliki malai yang lebih Panjang dibanding perlakuan U3 (Tabel . Tumbuhan padi yang ideal memiliki malai yang panjang dengan banyak senti gabah. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa malai yang lebih panjang memungkinkan lebih banyak ruang untuk ditempatkan gabah, dan malai yang lebih panjang memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan gabah. Menurut Sutaryo . panjang malai berkorelasi positif dengan banyaknya gabah, sehingga panjang malai mempengaruhi jumlah malai. Hal ini sesuai dengan Azalika, et al. , yang menyatakan bahwa hubungan antara panjang malai dan hasil gabah bersifat positif, malai yang lebih panjang akan menghasilkan hasil yang lebih tinggi. Produksi Gabah Dalam hal produksi gabah padi, produksi gabah/rumpun pada perlakuan U1 lebih besar dibanding perlakuan U3. Begitu juga dengan berat 1000 butir gabah, perlakuan U1 memiliki 1000 butir gabah yang lebih berat dibanding perlakuan U1 (Tabel . Menurut Sugiono dan Saputro . , produksi gabah berisi memberikan beban lebih besar pada tanaman, dan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan, termasuk ketersediaan nutrisi dan status fisiologis tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa umur bibit semai yang lebih muda, dalam hal ini umur 20HST, lebih baik pengaruhnya terhadap produksi gabah dan berat 1000 butir Menurut Misran . hubungan antara jumlah bibit yang ditanam dengan hasil padi sangat signifikan, sehingga kualitas padi yang dihasilkan dapat ditingkatkan dengan menggunakan bibit Akan tetapi semua perlakuan umur bibit tidak berpengaruh terhadap gabah berisi dan gabah hampa. Sementara perlakuan jumlah bibit J1 dan J2 menghasilkan produksi gabah/rumpun dan berat 1000 butir gabah yang lebih berat dibanding perlakuan J3. Sari dan Purwoko . yang menyoroti pentingnya ukuran dan kerapatan gabah dalam menentukan bobot 1000 gabah padi. SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 89-95 Maret 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Tabel 3. Produksi Gabah/Rumpun Padi pada Perlakuan Umur Bibit dan Jumlah Bibit/Lubang Tanam Perlakuan Umur Bibit Produksi Gabah . /rumpu. Berat 1000 Butir Gabah . Gabah Berisi . /rumpu. Gabah Hampa . /rumpu. Jumlah Bibit Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama dan pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada uni BNT = 0. KESIMPULAN Perlakuan umur bibit U1 . HST) merupakan perlakuan umur bibit terbaik dengan tanaman paling tinggi, jumlah anakan/rumpun paling banyak, produksi gabah dan 1000 butir gabah paling berat dibanding perlakuan umur bibitU2 . HST) dan U3 . HST). Sementara perlakuan jumlah bibit/lubang tanam J1 . bibit/lubang tana. dan J2 . bibit/lubang tana. lebih baik dibanding perlakuan J3 . bibit/lubang tana. dalam produksi gabah dan 1000 butir gabah. DAFTAR PUSTAKA