ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 KEJADIAN DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA DARI PROSES PRODUKSI PLYWOOD Mariaman Tjendera1. Andi Asda Astiah2. Mutiara Husnul Khatimah3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, mariamantjendera@univbatam. 2 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, andiasda@univbatam. 3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, 61120058@univbatam. ABSTRACT Background: Occupational contact dermatitis is one of the most common skin diseases among workers, which can lead to reduced productivity and increased absenteeism. Factors that trigger contact dermatitis can be grouped into two categories, namely direct causal factors, which include the nature of the substance, level of solubility, form . olid, gas or liqui. , concentration, and duration of contact and indirect causal factors which include gender. , age, level of personal hygiene, ethnicity, use of personal protective equipment (PPE), and temperature and humidity conditions. Methods: The design of this research was a cross-sectional analytical observational study. Data was taken using a questionnaire and diagnosis from local health center doctors, sampling using total sampling technique and obtained 76 respondents from the plywood processing work division. Data analysis used univariate analysis and bivariate chi-square tests. Results: The results of the chi-square statistical test analysis showed that the relationship between the use of PPE and work-related contact dermatitis was found to be a p-value of 0. 000, and the relationship between personal hygiene and work-related contact dermatitis was found to be a pvalue of 0. Conclusion: There was a relationship between the use of PPE and personal hygiene on work-related contact dermatitis in plywood production process workers at PT. Lestarindo Utama Karya in 2024 Keywords: DKAK. PPE. Personal Hygiene. Plywood ABSTRAK Latar Belakang: Dermatitis kontak akibat kerja adalah salah satu penyakit kulit yang paling umum di kalangan pekerja, yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan peningkatan absensi. Faktor-faktor yang memicu dermatitis kontak dapat dikelompokkan pada dua kategori, yaitu faktor penyebab langsung, yang mencakup sifat zat, tingkat kelarutan, bentuk . adat, gas, atau cai. , konsentrasi, serta durasi kontak dan faktor penyebab tidak langsung yang mencakup jenis kelamin, usia, penggunaan peralatan pelindung diri (APD), tingkat personal hygiene, etnis, serta kondisi suhu dan kelembaban. Metode: Desain penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik cross sectional. Data diambil menggunakan kuesioner dan diagnosis dokter puskesmas setempat, pengambilan sampel menggunakan teknik Total sampling dan didapatkan sebanyak 76 responden dari divisi pekerjaan proses pengolahan plywood. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat uji chi-square. Hasil: Hasil analisis uji statistik chi-square, hubungan antara penggunaan APD dan dermatitis kontak akibat kerja didaptkan p-value sebesar 0,000, hubungan antara personal hygiene dan dermatitis kontak akibat kerja didapatkan p-value sebesar 0,000. Simpulan: Terdapat hubungan antara penggunaan APD dan personal hygiene terhadap dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya tahun 2024. Kata kunci: DKAK. APD. Personal Hygiene. Plywood Universitas Batam Batam Batam Page 73 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 PENDAHULUAN Dermatitis kontak adalah inflamasi pada kulit yang disebabkan oleh bahan yang melekat pada permukaan kulit. Faktor-faktor yang memicu dermatitis kontak dapat dikelompokkan pada dua kategori, yaitu faktor penyebab langsung, yang mencakup sifat zat, tingkat kelarutan, bentuk . adat, gas, atau cai. , konsentrasi, serta durasi kontak. Faktor penyebab tidak langsung yang mencakup jenis kelamin, usia, tingkat personal hygiene, etnis, penggunaan peralatan pelindung diri (APD), serta kondisi suhu dan kelembaban (Lestari, 2. Dermatitis kontak akibat kerja adalah salah satu penyakit kulit yang paling umum di kalangan pekerja. Dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan peningkatan absensi. Pekerja di industri pengolahan plywood sangat rentan terhadap penyakit ini karena sering terpapar bahan kimia dan debu kayu (Kasiadi, 2. Salah satu pekerjaan yang dapat meningkatkan risiko dermatitis kontak adalah pekerjaan yang terkait dengan produksi plywood. Plywood adalah produk yang dihasilkan dari pengolahan kayu, merupakan sumber daya alam yang dapat Pada tahap produksi ini, para pekerja di industri plywood berisiko terpapar langsung pada zat kimia yang digunakan dalam pembuatan plywood, seperti terkena getah kayu, terpapar serbuk kayu dan kontak langsung dengan lem (Pradaningrum, 2. World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, dermatitis adalah masalah kulit umum dengan 5,7 juta kunjungan ke dokter per tahun. Berdasarkan data dari National Health Interview Survey oleh Budiarisma & Suryawati . , dermatitis kontak akibat Universitas Batam Batam Batam pekerjaan menduduki peringkat kedua setelah cedera traumatik, dengan sekitar 700 dari 100. 000 pekerja normal mengalami dermatitis kontak akibat pekerjaan setiap tahun. Di Inggris pada tahun 2018, hampir 50% pekerja yang menjalani uji tempel positif menderita dermatitis kontak alergi (Timothy, 2. Di Amerika Serikat, pada tahun 2016, sekitar 56,5% pekerja yang menjalani uji tempel mengalami dermatitis, dengan 46,9% mengalami dermatitis kontak alergi dan 9,6% mengalami dermatitis kontak iritan (Erin, 2. Prevalensi dermatitis Di Indonesia mencapai 6,78%, dengan 90% penyakit dermatitis kontak. Dari penyakit kulit terkait pekerjaan, 92,5% adalah dermatitis kontak, 5,4% disebabkan oleh infeksi kulit, dan 2,1% oleh faktor lain (Zania et , 2. Di Provinsi Jambi, dermatitis kontak alergi berada dalam 10 penyakit menempati urutan ke-7 pada tahun 2017 dengan 7,00% kasus dan naik ke urutan ke-5 pada tahun 2018 dengan 6,35% Dermatitis kontak iritan menempati peringkat ketiga dengan 8,53% kasus pada tahun 2019 menurut Dinas Kesehatan Kota Jambi. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K. yang tepat mewajibkan pekerja penggunaan alat pelindung diri (APD), sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nuraga et al. menyebutkan ada tiga faktor yang berhubungan dengan Dermatis Kontak Akibat Kerja, yaitu lama kontak, frekuensi kontak, dan penggunaan alat pelindung diri (APD). Pada penelitiannya diketahui faktor yang paling menentukan timbulnya Dermatis Kontak Page 74 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Akibat Kerja adalah penggunaan APD (Nuraga et al, 2. Paparan kronis terhadap zat iritan atau alergen dapat mengakibatkan kerusakan berulang pada kulit, menyebabkan terus-menerus perubahan kulit yang bersifat kronis seperti penebalan, pecah-pecah, dan infeksi sekunder. Kurangnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat, seperti sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung, dapat meningkatkan risiko kontak dengan bahan kimia berbahaya dan debu kayu, dan pada akhirnya dapat memicu DKAK. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ada hubugan antara penggunaan APD dengan kejadian gejala dermatitis kontak iritan pada pekerja. Didapatkan nilai OR 8,550, yang artinya responden yang tidak lengkap menggunakan APD lebih berisiko 8,550 kali mengalami gejala dermatitis kontak iritan dibandingkan dengan responden yang menggunakan APD dengan lengkap saat bekerja (Ahmad Ropii, 2. Penyakit dermatitis kontak sering dihubungkan juga dengan personal hygiene, personal hygiene yang buruk meningkatkan risiko dermatitis kontak dengan memperparah kerusakan pada penghalang kulit dan memicu respons inflamasi yang berlebihan terhadap bahan iritan dan alergen. Personal hygiene atau kebersihan individual, merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menciptakan keindahan. Apabila personal hygiene baik, maka dapat menjadi faktor pengendalian Dermatis Kontak Akibat Kerja (Darmayanti dkk, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad ropii pada tahun 2023, menyatakan bahwa ada kecenderungan responden yang Universitas Batam menderita dermatitis karena memiliki personal hygiene yang buruk. Kemudian penelitian yang dilakukan Harumi Kusuma W, 2018 dalam penelitiannya dengan judul dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja proyek bandara mengatakan Faktor paling dominan penyebab dermatitis kontak akibat kerja adalah personal hygiene (OR=9,. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross Data penelitian dikumpulkan Penggunaan APD dan Personal Hygiene Dermatitis Kontak diukur menggunakan kuesioner dan dengan diagnosis dokter puskesmas setempat. Populasi dalam penelitian ini adalah Pekerja PT. Lestarindo Utama Karya dengan total keseluruhan berjumlah 294 pekerja pada Penelitian ini dilakukan dengan sengaja berfokus pada pekerja pada proses pengolahan Plywood atau pekerja yang kontak langsung dengan proses pengolahan Plywood, maka sampel yang dipakai adalah 76 pekerja PT. Lestarindo Utama Karya pada divisi pengolahan kayu. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penggunaan APD pada pekerja proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penggunaan APD pada pekerja proses produksi plywood Page 75 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Penggunaan APD Selalu Kadang-kadang Tidak Pernah Frekuensi Presentase . (%) Total Berdasarkan tabel 1 hasil penelitian yang telah terlaksana, distribusi frekuensi pengunaan APD pada pekerja proses produksi plywood dari 76 responden yang menjadi sampel penelitian dengan penggunaan APD selalu yaitu sebanyak 21 responden . ,6%), penggunaan APD kadang-kadang yaitu sebanyak 11 responden . ,5%), penggunaan APD tidak pernah yaitu sebanyak 44 responden . ,9%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Mashoedojo, dkk tahun 2018, penggunaan APD kadang-kadang yaitu 74,5% dan penggunaan APD selalu 25,5%. Penggunaan APD menjadi salah satu penyebab yang mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak akibat kerja. Penggunaan APD sangat penting bagi para pekerja, terutama untuk mencegah penyakit akibat kerja ataupun kecelakaan kerja. Namun demikian pada kenyataannya masih banyak tenaga kerja yang masih belum mengenakannya saat bekerja. Rendahnya tingkat kepatuhan dalam mengenakan APD biasanya menunjukan sistem manajemen keselamatan yang gagal, terbatasnya faktor stimulan pimpinan, keterbatasan sarana, rendahnya kesadaran pekerja terhadap keselamatan kerja dan lain-lain (SumaAomur, 2. Berdasarkan data penelitian hasil distribusi frekuensi sebanyak 57,9% dengan kategori tidak pernah menggunaan APD menggambarkan bahwa hal ini tentu menjadi keprihatinan, mengingat APD merupakan salah satu elemen penting Universitas Batam dalam menjaga keselamatan dan kesehatan Distribusi Frekuensi Berdasarkan Personal Hygiene pada pekerja proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Personal Hygiene pada pekerja proses produksi plywood Personal Hygiene Baik Tidak Baik Total Frekuensi Persentase . (%) Berdasarkan tabel 2 hasil penelitian yang telah terlaksana, distribusi frekuensi personal hygiene pada pekerja proses produksi plywood dari 76 responden yang menjadi sampel penelitian dengan personal hygiene baik yaitu sebanyak 30 responden . ,5%) dan personal hygiene tidak yaitu . ,5%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Ahmad Ropii, dkk tahun 2023, pada mayoritas personal hygiene pekerja dikategorikan buruk yaitu sebanyak 29 0% dibandingkan dengan pekerja dengan personal hygiene kategori baik yaitu didapatkan sebanyak 21 responden 42,0%. Personal hygiene merupakan suatu tindakan untuk memelihara kesehatan dengan tujuan untuk pencegahan penyakit, meningkatkan kepercayaan diri, dan menciptakan keindahan (Wardani dkk. Pada dasarnya menjaga kebersihan perorangan dapat mencegah terjadinya dermatitis kontak. Salah satu hal yang menjadi penilaian adalah cuci tangan. Kebiasaan mencuci tangan menjadi suatu Page 76 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 hal yang penting sebab tangan merupakan anggota tubuh yang paling sering kontak dengan bahan kimia, kebiasaan mencuci tangan yang buruk dapat memperparah kondisi kulit (Dewi dkk, 2. Berdasarkan data penelitian hasil distribusi frekuensi sebanyak 60,5% dengan personal hygiene tidak baik menggambarkan bahwa masih banyak pekerja yang memiliki kebiasaan personal hygiene yang kurang baik. Hal ini tentu dapat berakibat negatif terhadap kesehatan dan keselamatan kerja, serta dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit, seperti dermatitis kontak dan infeksi. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada pekerja proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada pekerja proses produksi plywood Dermatitis Kontak Akibat Kerja Tidak Total Frekuensi Persentase . (%) Berdasarkan tabel 3 hasil penelitian distribusi frekuensi dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja proses produksi plywood dari 76 responden yang menjadi sampel didapatkan paling banyak yang mengalami dermatitis kontak akibat kerja yaitu sebanyak 40 responden . ,5%) dan yang tidak mengalami dermatitis kontak akibat kerja yaitu 36 . ,4%). Penelitian ini sesuai dengan penelitian Raden Pamudji, dkk tahun 2021, didapatkan dermatitis kontak di bagian tangan sebanyak 27 orang . ,0%), lebih banyak dibandingkan dengan responden yang tidak menderita dermatitis kontak yaitu sebanyak 3 orang . ,0%). Data dari 27 responden yang mengalami dermatitis kontak, 15 responden mengalami DKI dan 12 responden mengalami DKA. Dermatitis kontak akibat kerja merupakan salah satu kondisi yang mempengaruhi kualitas hidup dan memiliki frekuensi yang signifikan di tempat kerja. Untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit, manusia harus mempraktikkan kebersihan diri yang baik. Pekerja didorong untuk merangkul pilihan gaya hidup sehat dan secara aktif lingkungan kerja yang bersih dan sehat. Dermatitis kontak akibat kerja lebih mungkin timbul dengan kontak yang lama atau paparan zat yang ada. Penyakit kulit peradangan atau iritasi kulit yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan bahan kimia (Inggrid dkk, 2. Berdasarkan data penelitian hasil distribusi frekuensi sebanyak 47. 4% yang mengalami dermatitis kontak akibat kerja hal ini menunjukkan bahwa dermatitis kontak merupakan masalah kesehatan kerja yang cukup serius di kalangan pekerja produksi Plywood. Hasil dari pengukuran diagnosis dermatitis kontak akibat pada penelitian ini dibantu dan diawasi dari dokter puskesmas setempat. Hubungan Antara Penggunaan APD dengan Dermatitis Kontak Akibat Kerja di PT. Lestarindo Utama Karya Tahun 2024 Universitas Batam Page 77 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Tabel 4. Hubungan Antara Penggunaan APD dengan Dermatitis Kontak Akibat Kerja Penggunaan APD Selalu Kadang-kadang Tidak Pernah Total Dermatitis Kontak Akibat Kerja Tidak Total p-value APD ketika bekerja sesuai dengan SOP. Berdasarkan penelitian yang telah Namun perusahaan harus menciptakan dilakukan, didapatkan bahwa pekerja dengan kategori tidak pernah menggunaan menggunakan APD. Tahapan awal yang APD yang mengalami dermatitis kontak bisa dilakukan untuk menumbuhkan akibat kerja sebanyak 72,7%. Hasil kesadaran tenaga kerja supaya patuh analisis statistik dengan menggunakan APD metode uji chi-square diperoleh angka pembentukan motivasi untuk keselamatan signifikansi p-value 0. 000, karena p-value menggunakan APD. Selain itu juga bisa <0,05 maka keputusan uji chi-square diberikan rewards dan punishment bagi adalah H0 ditolak, sehingga disimpulkan pekerja dalam menerapkan kepatuhan terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan APD. Terdapat bahan kimia penggunaan APD dengan dermatitis dalam proses pembuatan plywood, seperti kontak akibat kerja pada pekerja proses resin formaldehida, perekat/lem, dan produksi plywood di PT. Lestarindo pelarut yang dapat menjadi potensi Utama Karya tahun 2024. menyebabkan dermatis kontak (R Haryatu Penelitian ini sesuai dengan penelitian dkk, 2. Heviana tahun 2018 yang menyatakan Selain bahan kimia, paparan debu terdapat hubungan antara penggunaan kayu yang timbul pada proses produksi APD dengan dermatitis kontak akibat kerja plywood dapat beresiko kepada kejadian pada pekerja pengolahan pabrik karet di dermatis kontak akibat kerja, debu yang provinsi Lampung dengan nilai . Ae value dihasilkan merupakan potensi bahaya 0,. (Heviana, 2. terhadap kesehatan pekerja terutama pada Menerapkan kepatuhan menggunakan pekerja bagian pengamplasan. Debu kayu APD penting dilakukan sebagai tanggung yang dihasilkan dapat terpapar terhadap jawab perusahaan untuk melindungi pekerja secara langsung, salah satunya tenaga kerja dari bahaya keselamatan kerja yaitu melalui kulit. Apabila debu kayu dan kesehatan kerja. Risiko terjadinya kontak secara langsung dengan kulit dalam kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja waktu yang lama terhadap pekerja maka yang mungkin terjadi karena pekerjaan, akan timbul gatal-gatal pada kulit seperti membuat perusahaan tidak cukup hanya atau penyakit kulit lainnya (Triatmo. APD Ari Suwondo mewajibkan tenaga kerja menggunakan Hubungan Personal Hygiene dengan Dermatitis Kontak Akibat Kerja di PT. Lestarindo Utama Karya Tahun 2024 Tabel 5. Hubungan Antara Personal Hygiene dengan Dermatitis Kontak Akibat Kerja Universitas Batam Page 78 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Personal Hygiene Baik Tidak Baik Total Dermatitis Kontak Akibat Kerja Tidak Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan personal hygiene paling banyak ialah personal hygiene tidak baik yang mengalami dermatitis kontak akibat kerja sebanyak 73,9%. Hasil analisis statistik dengan menggunakan metode uji chi-square diperoleh angka signifikansi p-value 0. 000, karena p-value lebih besar daripada 0,05 (>0,. maka keputusan uji chi-square adalah H0 ditolak, sehingga disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya Penelitian penelitian Achisna R, dkk tahun 2020 menyatakan terdapat hubungan antara personal hygiene dengan dermatitis kontak pada petani dengan nilai . Ae value 0,. Pada penelitian Harumi Kusuma Wardarni hubungan antara personal hygiene dengan dermatitis kontak akibat kerja. Pekerja dengan personal hygiene yang buruk mempunyai risiko mengalami dermatitis SIMPULAN Berdasarkan Penelitian tentang kejadian dermatitis kontak akibat kerja dari proses produksi plywood di PT. Universitas Batam Total p-value kontak akibat kerja 9 kali lebih besar dari pekerja dengan personal hygiene yang baik (OR=9,. Personal hygiene merupakan salah satu faktor yang dapat mencegah terjadinya penyakit dermatitis. Karena pekerja dalam proses produksi plywood menggunakan bahan kimia seperti resin, lem perekat, dan pelarut, maka apabila pekerja ini kurang bersih dalam mencuci tangan, sehingga masih terdapat sisa bahan kimia yang menempel pada permukaan Hal inilah yang beresiko untuk dermatitis kontak akibat personal hygiene yang buruk (Lestari dkk, 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada responden dengan personal hygiene tidak baik sebanyak 34 responden mengalami dermatitis kontak akibat kerja dan pada responden dengan personal hygiene tidak pernah mengalami dermatitis kontak akibat kerja sebanyak 12 Hasil personal hygiene terhadap dermatitis kontak akibat kerja. Lestarindo Utama Karya tahun 2024, dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah responden sebanyak 56,5% terrmasuk kategori tidak pernah menggunakan APD pada proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya tahun 2024. Lebih dari setengah responden proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya tahun 2024 memiliki personal hygiene dengan kategori tidak baik sebanyak 60,0%. Lebih dari setengah Page 79 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 responden berada pada kategori dermatitis kontak akibat kerja sebanyk 57,1% pada proses produksi plywood di PT. Lestarindo Utama Karya tahun 2024. Analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan APD dan personal hygiene dengan dermatitis kontak akibat kerja. Hal ini menyoroti pentingnya APD mengurangi terpapar dermatitis kontak akibat kerja, begitu pula pada personal hygiene yang baik untuk mengurangi terpapar dermatitis kontak akibat kerja. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada PT. Lestarindo Utama Karya yang telah mengizinkan serta membantu proses penelitian sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA