ISSN : 2798-1118 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2. The Relationship of Gross Motor Stimulation by Mothers With Gross Motor Development of Children Aged 6-24 Months In The Working Area of The Melati Health Center Kuala Kapuas Mariani1. Evy Noorhasanah2,Hesty Noor OktavianiA Faculty of Nursing & Health Science. University of Muhammadiyah Banjarmasin. Indonesia Email: ani. skp89@gmail. com A ABSTRACT Children who are not given enough stimulus by their parents will experience obstacles in their growth and development, especially in gross motor development. Gross motor skills are one of the aspects of child development that must be stimulated as early as possible so as not to experience delays from their age. Age < 3 months is the Golden Age Period where the child's brain develops rapidly. Stimulation is one method that can train children's development and is very necessary to optimize child development. Analyzing gross motor stimulation by mothers with gross motor development of children aged 6-24 months in the Work Area of the Kuala Kapuas Melati Health Center. The research design used a correlational descriptive with the population of mothers and children aged 6-24 months in the Work Area of the Melati Kuala Kapuas Health Center as many as 46 respondents. The instruments used in the study were questionnaires and DDST II observation Statistical test used Spearman Rank. It shows that of the 46 respondents in the working area of the Melati Kuala Kapuas Health Center, the majority of mothers provide gross motor stimulation to children as many as 20 people . 5%). Most of the children's gross motor development was normal as many as 31 people . 4%). Spearman rank statistical test results show P = 0. <0. , with Correlation Coefficient = 0. 647, so H1 is accepted, it is recommended that jasmine health center health workers can provide health education about gross motor stimulation to mothers during posyandu or immunization. Keywords : Children,Development. Gross motor,Stimulation PENDAHULUAN Masa perkembangan merupakan masa yang penting bagi anak, perkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada anak yang dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain aspek fisik yaitu motorik. Menurut Pasific Cross dalam Azijah & Adawiyah . golden age atau Aufase emasAy adalah fase otak anak mengalami perkembangan yang paling cepat dalam pertumbuhannya. Kurang lebih 80% otak anak mengalami perkembangan pada usia 0-6 tahun. Pada usia inilah disebut fase emas tumbuh kembang anak, segala informasi mengenai kata-kata atau perilaku orang baik-buruk di sekitar akan diserap seluruhnya dan akan menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian, serta kemampuan kognitif. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan terdiri atas kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicaradan bahasa serta soisalisasi dan Perkembangan motorik kasar adalah perkembangan yang berhubungan dengan aspek kemampuan anak dalam melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti tengkurap, duduk, berjalan dan sebagainya. Pada dasarnya perkembangan ini sesuai dengan kematangan syaraf dan otot anak (Soetjiningsih, 2. Pada anak usia dini, perilaku gerak . ktivitas fisik, tidur, dan waktu istiraha. telah ditetapkan sebagai faktor penting yang mempengaruhi hasil pertumbuhan dan perkembangan. Bermain didefinisikan sebagai keterlibatan dalam aktivitas untuk tujuan kesenangan anak dan biasanya anak-anak secara alami akan bermain seperti umunya. Meskipun bermain dianggap bukan sebagai tugas utama, tetapi itu adalah metode utama dalam keterlibatan aktivitas fisik padatahun awal anak. Oleh karena itu, permainan interaktif dan https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2. stimulasi dalam usia 2 tahun pertama tidak hanya memastikan bayi dan balita memenuhi pedoman gerakan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, tetapi juga memastikan bahwa mereka menerima pengasuhan yang mereka butuhkan untuk perkembangan emosional dan kognitif yang optimal (Pin et al. Dari data UNICEF dalam sembiring . didapat data masih tingginya balita khususnya gangguan perkembangan motorik didapatkan . ,5%) atau 3 juta anak mengalami gangguan. Menurut Hidayat dalam Penelitian Anandhita & Chandra . banyak Negara yang mengalami berbagai masalah perkembangan anak diantaranya masalah keterlambatan motorik kasar, angka kejadian di Amerika Serikat berkisar 12-16% Thailand 24%. Argentina 22% dan di Indonesia 13-18%. Pada studi pendahuluan tanggal 27 Januari Ae 28 Januari 2021 di Puskesmas Melati Kuala Kapuas, pada tahun 2021 didapatkan data dari pemeriksaan SDIDTK dengan hasil presentase 97,6% anak tidak mengalami gangguan pada tumbuh kembang, dan ada 2,4% diantaranya mengalami keterlambatan perkembangan yang disebabkan karena status gizi dan kurangnya perandalam perkembangan anak. Pada saat dilakukan wawancara kepada 6 ibu anak yang ingin melakukan imunisasi, ada 4 ibu yang berperan dalam pemberian stimulasi perkembangan motorik kepada anaknya dan hasil dari peran ibu tersebut sesuai dengan perkembangan motorik anaknya, sedangkan 2 ibu lainnya membiarkan anaknya berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri dan hasil salah 1 nya mengalami keterlambatan perkembangan motorik dari Dari fenomena diatas menunjukan apabila stimulasi motorik oleh ibu dilakukan dengan baik dalam perkembangan motorik kasar anak, misalnya mengajarkan anak untuk berjalan, berlari dan bermain, maka kondisi perkembangan motorik kasar anak akan berjalan dengan normal. Lita Angelina Saputri, dkk . Hubungan Stimulasi Orang Tua Dengan Perkembangan Balita Usia 1236 Bulan. Penelitian ini menggunakan jenis survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian dilakukan dikelurahan andalas wilayah kerja puskesmas andalas padang. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh orang tua yang memiliki balita usia 12-36 bulan dikelurahan andalas, kota padang dengan sampel sebanyak 40 responden, diambil dengan teknik multistage random sampling yang memenuhi kriteria yaitu pengasuh utama adalah orang tua yang bisa membaca dan menulis, saat pemeriksaan balita dalam keadaan sehat, tidak memiliki riwayat lahir premature, tidak memiliki kelainan bawaan atau cacat tubuh, ibu dan balita bersedia menjadi responden. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi dengan menggu nakan instrument untuk pengumpulan data yaitu : kuesioner The Infant/ Toddleer HOME untuk mengukur kualitas stimulasi orang tua dan KPSP untuk menilai perkembangan balita. Hasil penelitian ini menunjukan sebagian besar responden memiliki perkembangan yang sesuai dengan tahap perkembangan usianya sebanyak 24 responden . %). Penilaian perkembangan dilakukan dengan KPSP . uesioner pra skrining perkembanga. yang terdiri dari 10 pertanyaan sesuai usia balita. Apabila ditinjau dari kelompok anak yang memiliki perkembangan mengalami gangguan, yang terbanyak adalah gangguan motoric kasar sebanyak 12 kasus . %), diikuti gangguan bicara dan bahasansebanyak 8 kasus . %), sosialisasi dan kemandirian sebanyak 7 kasus . ,5%) dan motoric halus sebanyak 5 kasus . ,5%). Hasil penelitian ini menunjukan masih banyak balita dengan perkembangan yang tidak sesuai dengan umurnya. Bernita Silahi . Hubungan Peran Ibu Dengan Perkembangan Motorik Kasar dan Halus Usia 3 Tahun di PAUD Imelda. Jenis penelitian ini penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak yang di PAUD Imelda Medan sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling Sampel penelitian adalah anak yang berusia 3 tahun. Teknik pengumpulan data dengan observasi langsug dan wawancara kepada orang tua dan pengisian kuisioner yang menyatakan peran yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya. Kemudian dilakukan pemantauan perkembangan kasar dan halus. Hasil dari penelitian yang dilakukan peneliti dari 30 responden yang mempersiapkan peran ibu baik sebanyak 27 responden . ,0%) dan dengan peran ibu buruk ada sebanyak 3 responden . ,0%). Sedangkan dari 30 responden yang mempersiapkan perkembangan motoric kasar dan halus dengan kriteria baik ada 26 responden . ,7%) dan dengan kriteria buruk sebanyak 4 responden . ,3%). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa peran sangat dibutuhkan dalam perkembangan motoric kasar dan halus anaknya. https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2. Dian Samtyaningsih & Afrihal Afiif Ibadillah . Hubungan stimulasi orang tua dengan perkembangan motoric kasar pada anak usia 3-5 tahun di KB-RA Muslimat NU 16 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik korelasional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 56 anak usia 3-5 tahun yang bersekolah di KB-RA Muslimat NU 16 Kota Malang beserta orang tuanya, pemilihan sampel menggunakan teknik total sampling. Instrument yang digunakan yaitu format penialain KPSP untuk anak usia 3-5 tahun serta kuisioner untuk orang tuanya. Hasil dari penelitian yang didapat menunjukan bahwa sebagian besar orang tua . ,5%) memberikan stimulasi yang baik kepada anak mereka saat berada dilingkungan rumah, hal ini berdasarkan tujuan tindakan dari stimulasi pada anak adalah untuk membantu anak dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal atau sesuai dengan yangdiharapkan METODE Desain penelitian ini menggunakan deskriftif korelasional dengan pendekatan Cross Sectional, bertujuan untuk mengetahui Hubungan Stimulasi Motorik Kasar Oleh IbuDengan Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Melati Kuala Kapuas. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian inin dilakukan selama bulan juni 2021 dengan jumlah sampel 24 responden. Tujuan dari penlitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Stimulasi Motorik Kasar Oleh IbuDengan Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Melati Kuala Kapuas. Tabel 1 Distribusi Frekuensi karakteristik responden di Wilayah Kerja Puskesmas Melati Kuala Kapuas Usia Frekuensi Presentase (%) Usia Ibu 19-21 Tahun 22-31 Tahun 32-42 Tahun Total informasi ibu Pernah Tidak Pernah Total Usia Anak 6-9 bulan 9-12 bulan 12-15 bulan 15-18 bulan 18-24 bulan Total Berdasarkan tabel 1 menunjukan responden terbanyak pada rentang usia 22-31 tahun yang berjumlah 24 orang . ,3%). responden pernah mendapatkan informasi tentang perkembangan motorik kasar berjumlah 32 orang . ,6%) dan responden anak terbanyak pada rentang usia 18-24 bulan yang berjumlah 13 orang . ,3%) Tabel 2 Distribusi Frekuensi Stimulasi dan perkembangan motoric kasar oleh ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Melati Kuala Kapuas Stimulasi Ibu Frekuensi Stimulasi Motorik Kasar Baik Cukup Kurang Total Perkembangan Motorik Kasar Normal Meragukan Abnormal Total https://journal. id/index. php/jnhs Presentase (%) ISSN : 2798-1118 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2. Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa sebagian besar stimulasi ibu yaitu 20 orang adalah baik . ,5%) dan perkembangan motoric kasar anak 67,4% Normal. Tabel 3 Hubungan stimulasi motorik kasar oleh ibu dengan perkembangan motorik kasar anak usia 6-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Melati Kuala Kapuas Perkembangan Motorik Stimulasi Motorik Kasar Oleh Ibu Baik Normal Meragukan 19 95,0% Cukup Kurang 80,0% 25,0% 67,4% Total Total 5,0% Abnormal 0,0% 100,0% 20,0% 56,3% 0,0% 18,8% 100,0% 100,0% 26,1% 6,5% 100,0% P value = 0,000 Correlation Coeffitiont = 0,647 Berdasarkan tabel 4. 6 diatas, menunjukan bahwa dengan perkembangan motorik kasar anak sebagian besar normal dengan stimulasi motorik kasar oleh ibu yang baik sebanyak 95,0%. Untuk mengatahui hubungan antara kedua variabel, yaitu hubungan stimulasi motorik kasar oleh ibu dengan perkembangan motorik kasar anak, maka dianalisis dengan menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil uji statistik diperoleh nilai P=0,000 ( p<0,. , dengan Correlation Coefficient = 0,647 . ingkat hubungan kua. , yang berarti secraa statistik Ha diterima atau H0 ditolak, yaitu ada hubungan stimulasi motorik kasar oleh ibu dengan perkembangan motorik kasar anak usia 6-24 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Melati Kuala Kapuas. Hasil penelitian pada stimulasi perkembangan motorik kasar oleh ibu menunjukan bahwa sebagian besar dengan stimulasi motorik baik. Peran ibu dalam pemberian stimulasi motorik kasar pada anak biasanya dikarenakan ibu selalu memperhatikan perkembangan motorik kasar anak nya agar tidak mengalami keterlambatan perkembangan. Hal tersebut sejalan dengan yang dinyatakan oleh Rantina et al . perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi, khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu, dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak. Sesuai dengan hasil penelitian diatas tersebut menunjukan kesamaan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ningsih, et al. dengan hasil penelitian sebagian besar . %) melakukan stimulasi dengan baik pada perkembangan anak. Terdapat kesesuaian juga dengan penelitian Samtiyaningsih . dengan hasil penelitian menunjukan perilaku pemberian stimulasi kepada anak mereka baik sebesar . ,5%). Peran stimulasi ibu dalam perkembang motorik kasar anak baik dikarenakan ibu selalu memperhatikan perkembangan motorik kasarnya agar tidak mengalami keterlambatan dan gangguan. Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang, terutama dalam perkembangan motorik kasar. Stimulasi oleh ibu biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan tabel 1 menunjukan responden terbanyak pada rentang usia 22-31 tahun dengan jumlah 24 orang . ,3%). Berdasarkan hasil diatas hal tersebut sejalan dengan penelitian Sari et al . menunjukan semakin dewasa usia maka akan lebih banyak memiliki pengalaman, sehingga mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki oleh pemberi stimulasi . dan dapat dapat berpikir matang serta logis. Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa sebagian besar perkembangan motorik kasar anak adalah normal sesuai dengan tahapan usianya. Hal tersebut dikarenakan banyak ibu yang melakukan stimulasi motorik kasar kepada anaknya. https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Khadijah & Amelia . perkembangan motorik adalah perkembangan diamana seseorang sudah mulai mampu mengontrol gerakan yang diperoleh dari pengalaman yang ia rasakan, jika seorang anak belajar berjalan maka dia akan jatuh terlebih dahulu tapi dari jatuhnya itu dia akan memperoleh suatu pengalaman agar dia bisa berjalan dengan menyeimbangkan langkah antar kaki kanan dan kaki kiri. Hasil penelitian diatas menunjukan kesamaan hasil dengan penelitian Samtiyaningsih. sebagian besar perkembangan motorik kasar anak memiliki perkembangan yang sesuai tahapan perkembangan . ,4%). Banyak anak yang memiliki perkembangan motorik kasar normal. Hal tersebut tidak terlepas dari stimulasi yang diberikan oleh ibu yang lebih terarah dan didukung dengan fasilitas yang ada seperti mainan pendorong, tangga, dan bola. Karena seorang anak identik dengan meniru apa yang orang dewasa lakukan, anak akan mencoba melakukan apa yang dilakukan orang tua nya. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan motorik kasar anak normal adalah usia, kemampuan motorik anak menjadi semakin baik dengan meningkatnya usia karena kematangan fungsi tubu dan ototnya. Dalam penelitian ini usia terbanyak anak dengan motorik kasar normal adalah 18-24 bulan. Seperti halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosita et al . dimana dia meneliti kelompok usia anak yaitu usia 12-24 bulan dan dikategorikan dalam dua kelompok usia. Pertama usia 12-18 bulan dan yang kedua usia 19-24 bulan, pada usia tersebut merupakan usia yang menjadi elemen penting, karena dalam usia ini umur sering kali dijadikan tolak ukur untuk menentukan suatu kondisi atau keadaan pada anak seperti status gizi dan status tumbuh kembang anak. Pada anak, usia memiliki peranan penting sebagai tolak ukur perkembangan, karna dalam perkembangan anak seiring bertambahnya usia berbeda pula keterampilan yang dikuasai anak. Usia 6-24 bulan merupakan usia emas bagi anak dalam semua aspek perkembangan terutama aspek perkembangan motorik kasar, karena pada saat itu otak anak berkembang dengan baik, aspek yang penting dari perkembangan otak dimasa anak adalah peningkatan secara tajam pada hubungan antar sinaps otak. Semakin banyak sambungan yang terbentuk diotak, semakin efisien juga cara kerja system saraf nya. Selain faktor usia, ada faktor kemauan dan kemampuan anak yang mempengaruhi perkembangan motorik kasar, seperti hal nya dalam penelitian ini masih ada perkembangan motorik kasar anak yang meragukan dan abnormal, karena bisa saja anak dengan hasil tersebut saat dilakukan tes mereka kurang mampu dalam melakukan nya namun hal ini juga saling berkaitan dengan peran seorang ibu dalam perkembangannya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa stimulasi motorik kasar oleh ibu baik dengan perkembangan motorik kasar anak sebagian besar normal. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar ibu melakukan pemberian stimulasi motorik kasar pada perkembangan motorik kasar anaknya. Berdasarkan hasil penelitian dari 20 anak yang mendapatkan stimulasi motorik kasar baik oleh ibu dan perkembanagn motorik kasar anak normal sebanyak 19 . ,5%). Perkembangan merupakan bertambahnya kemampuan fungsi semua system organ tubuh yang lebih Perkembangan yang bersifat reversible serta kuantitatif yang meliputi kemampuan gerak kasar dan halus (Saputra, 2. Hasil penelitian ini terdapat kesamaan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Samtyaningsih . dengan hasil penelitian sebagian besar 62,5% ibu melakukan stimulasi yang baik pada anak mereka dan 71,4% perkembangan motorik kasar anak mereka sesuai tahapan Salah satu aspek perkembangan yang penting untuk dipantau pada masa ini adalah perkembangan motorik kasar, karena banyak kinerja kognitif yang berakar pada keberhasilan keberhasilan perkembangan Interaksi ibu dan anak yang positif, latihan fisik dan stimulasi dini akan meningkatkan perkembangan motorik anak. Stimulasi yang diberikan kepada anak berupa kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan bersama orang tua, saudara, dan pengasuh. dengan stimulasi tersebut anak akan terangsang untuk menyelesaikan tugas perkembangan motorik kasar nya sesuai dengan usianya. Anak yang mendapatkan stimulasi terarah https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 3 No. 2 (Okober, 2. akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak. KESIMPULAN Diharapkan penelitian ini bisa diterapkan dan dijalankan oleh para petugas kesehatan yang ada dipuskesmas melati Kuala Kapuas dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang stimulasi motorik kasar seperti mengajarkan anak untuk tengkurap, berduduk, berdiri, berjalan, berlari, melompat, dan menaiki tangga kepada para ibu saat pelaksanaan posyandu atau imunisasi. DAFTAR PUSTAKA