Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Dampak Narasi #KaburAjaDulu terhadap Kesadaran Bela Negara di Kalangan Mahasiswa Adventina Situngkir1. Devy Stany Walukow2 Universitas Pelita Harapan Korespondensi Email : adventina. situngkir@uph. Abstract The viral hashtag #KaburAjaDulu on social media in early 2025 emerged as a symbolic expression of youth discontent toward IndonesiaAos socio-economic and political conditions. This narrative sparked diverse responses, including concerns about the erosion of national defense awareness among university students. This study aims to analyze the influence of the hashtag on students' national defense consciousness using a quantitative approach. Data were collected through a questionnaire distributed to 141 students from various universities in Indonesia. The instrument consisted of 22 Likert-scale items covering five key aspects: information exposure, narrative perception, national defense awareness, impact on civic attitudes, and media role. Pearson correlation analysis revealed positive relationships between information exposure and perception . = 0. , perception and defense awareness . = 0. , and awareness and civic attitude . = These findings suggest that the #KaburAjaDulu hashtag does not inherently undermine student nationalism. Instead, it may serve as a catalyst for critical reflection and reinforcement of civic values when interpreted constructively within a contextual framework. Keywords: #KaburAjaDulu, national defense awareness, students Abstrak Fenomena tagar #KaburAjaDulu yang viral di media sosial pada awal tahun 2025 menjadi representasi keresahan generasi muda terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik nasional. Narasi ini menimbulkan berbagai respons, termasuk kekhawatiran akan lunturnya semangat bela negara di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tagar tersebut terhadap kesadaran bela negara mahasiswa dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 141 mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi swasta di Tangerang. Instrumen pengukuran terdiri dari 22 butir pertanyaan dengan skala Likert 5 poin yang mencakup lima aspek utama: paparan informasi, persepsi terhadap narasi, kesadaran bela negara, dampak terhadap sikap bernegara, serta peran media. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif antara paparan informasi dengan persepsi . = . , persepsi dengan kesadaran bela negara . = 0. , dan kesadaran dengan sikap bernegara . = 0. Temuan ini mengindikasikan bahwa tagar #KaburAjaDulu tidak secara langsung melemahkan nasionalisme mahasiswa, melainkan dapat menjadi pemicu refleksi kritis dan penguatan nilai kebangsaan jika dipahami secara kontekstual dan konstruktif. Kata kunci: #KaburAjaDulu, kesadaran bela negara, mahasiswa. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Pendahuluan Fenomena tagar #KaburAjaDulu muncul sebagai tren viral sejak Januari 2025 di platform media sosial seperti X. TikTok, dan Instagram, menjadi ekspresi dominan dari keresahan generasi muda terhadap kondisi sosial-ekonomi dan politik di Indonesia (Supriadi, 2. Marandi . mencatat bahwa keresahan tersebut berkaitan dengan tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan 15Ae24 tahun (BPS Agustus 2023: 5,32 %) dan kondisi NEET (Not in Education. Employment, or Trainin. sebesar 22,5 %, ditambah lagi dampak gangguan kesehatan mental pascapandemi yang memburuk. Dalam konteks inilah tagar ini berkembang bukan sekadar lelucon, melainkan respons terhadap kondisi yang tidak memenuhi harapan (Marandi 2025. Supriadi, 2. Menurut Supriadi . , tagar ini bukan hanya respons emosional jangka pendek, tetapi cerminan frustrasi mendalam akibat ketidakpastian lapangan kerja, inflasi, pemotongan anggaran pendidikan lewat Inpres No. 1 / 2025, serta praktik KKN . orupsi, kolusi, nepotism. yang terus muncul. Marandi . menegaskan bahwa tagar ini sering digunakan sebagai respons terhadap sistem yang dianggap tidak berpihak pada generasi muda, dan justru mendorong mereka mempertimbangkan hidup di luar negeri: Australia. Kanada. Jepang, atau Jerman. Tagar ini melahirkan adanya paradoks: di satu sisi, menyiratkan melemahnya semangat nasionalisme atau kesadaran bela negara. di sisi lain, menunjukkan bentuk kritik sosial kontemporer yang lahir dari cinta tanah air, bukan kemalasan (Marandi. ANTARA, 2025. Zaifudhin, 2. Marandi . menyebut bahwa tagar ini bukan sinyal Aulunturnya nasionalismeAy, melainkan wujud kritik kontekstual dalam bingkai Aucosmopolitan nationalismAy. ANTARA . dan Zaifudhin . sepakat bahwa generasi muda masih peduli negara, namun terhambat oleh faktor struktural seperti kebijakan pemerintah, peluang kerja, serta integritas elit. Kesadaran bela negara pada mahasiswa dipahami sebagai perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai PancasilaAicinta tanah air, nasionalisme, rela berkorban, dan kesadaran berbangsa-negaraAiyang teraktualisasi ke dalam tindakan nyata (Masridha et al. , 2022. Masridha et al. menggarisbawahi bahwa pendidikan formal, keluarga, aktivitas kampus . isalnya UKM), dan media sosial merupakan faktor utama pembentuk kesadaran ini. Temuan lain menunjuk bahwa resimen mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan efektif meningkatkan semangat bela negara (Belladonna & Firdianty, 2020. Ghazani, 2022. Hudori et al. , 2. Sebagian besar studi sebelumnya menelaah tagar ini dari segi sentimen digital dan migrasi (Meliala et al. , 2. , atau dari sudut pandang nasionalisme sosial politik (ANTARA, 2025. NU Online, 2. , tetapi masih sedikit yang mengaitkan langsung penggunaan tagar tersebut dengan tingkat kesadaran bela negara di kalangan mahasiswa sebagai kelompok kritis dan berpengaruh. Belum ada kajian yang Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 memadukan sentimen media sosial, teori bela negara, dan transformasi cara generasi muda mengekspresikan nasionalisme digital. Berbeda dari studi sebelumnya yang lebih menekankan analisis sentimen digital atau migrasi, studi ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan narasi media sosial, bela negara, dan transformasi ekspresi nasionalisme digital dalam konteks Penelitian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur hubungan antar variabel secara empiris, sehingga memberikan kontribusi baru dalam memahami dinamika nasionalisme generasi muda di era digital. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain survei untuk menganalisis pengaruh narasi tagar #KaburAjaDulu terhadap kesadaran bela negara mahasiswa. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan gambaran objektif berdasarkan data numerik yang dapat dianalisis secara statistik. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada 141 mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi swasta di Tangerang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive, yaitu pemilihan responden secara sengaja berdasarkan karakteristik tertentu yang relevan dengan fokus penelitian, seperti usia 18Ae21 tahun dan paparan terhadap narasi tersebut di media sosial. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup terdiri dari 22 item skala Likert lima poin yang mencakup lima aspek utama: paparan informasi, persepsi narasi, kesadaran bela negara, sikap bernegara, dan peran media. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan tren umum, serta inferensial menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linear sederhana untuk menguji hubungan antar variabel. Validitas dan reliabilitas instrumen diuji menggunakan teknik CronbachAos Alpha, dan analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 26. Prosedur ini memastikan bahwa hasil penelitian dapat direplikasi dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Hasil dan Diskusi Sebagaimana dijelaskan oleh Hair et al. , korelasi antara dua variabel akan positif bila keduanya meningkat bersama, dan negatif bila satu meningkat sementara yang lain menurun. Dalam penelitian ini, semua nilai korelasi bersifat positif, menunjukkan bahwa semakin tinggi paparan, persepsi, atau peran media terhadap narasi #KaburAjaDulu, maka semakin tinggi pula kesadaran bela negara atau dampak sikap kebangsaan mahasiswa. Nilai korelasi tertinggi . = 0. ditemukan antara variabel Kesadaran Bela Negara dan Dampak terhadap Sikap Bernegara, yang berarti bahwa kesadaran bela negara mahasiswa berkorelasi sangat kuat dengan bagaimana mereka bersikap terhadap Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 masa depan bangsa. Ini konsisten dengan temuan Taber . , bahwa persepsi nilai kebangsaan memengaruhi respons aktif individu terhadap isu kenegaraan. Tabel 1. Rekap Korelasi Pearson antar Variabel Penelitian Variabel Variabel Paparan Persepsi Kesadaran Dampak Media Kesadaran Dampak Media Media Media Persepsi Kesadaran Dampak Dampak Mean X SD X Mean Y SD Y (Korelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara eksposur mahasiswa terhadap narasi tagar #KaburAjaDulu, persepsi mereka terhadap narasi tersebut, serta pengaruhnya terhadap kesadaran bela negara. Analisis korelasi Pearson dilakukan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara lima variabel utama: paparan informasi, persepsi, kesadaran bela negara, dampak terhadap sikap bernegara, dan peran media. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Tabel 2. Hasil Analisis Korelasi Antar Variabel Variabel Paparan Persepsi Kesadaran Dampak Media Paparan Persepsi Kesadara Dampak Media Paparan terhadap Persepsi . = 0. Terdapat korelasi positif moderat antara paparan terhadap narasi #KaburAjaDulu dan persepsi mahasiswa terhadap narasi tersebut. Artinya, semakin sering mahasiswa terpapar informasi tentang tagar ini, baik melalui media sosial maupun diskusi daring, semakin terbentuk persepsi mereka terhadap makna dan isi narasi tersebut. Hal ini sejalan dengan temuan Ceron . yang menyatakan bahwa frekuensi paparan media sangat berpengaruh dalam membentuk opini politik dan sikap sosial, terutama dalam konteks digital yang cepat dan masif. Paparan intensif mendorong individu melakukan interpretasi, refleksi, dan akhirnya mengembangkan sikap kognitif yang lebih jelas terhadap isu publik (Wang & Zhou, 2. Secara kausal, bisa dikatakan bahwa informasi yang berulang dan mendalam mengenai #KaburAjaDulu memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap latar belakang kemunculan narasi, sehingga membentuk persepsi bahwa tagar tersebut adalah ekspresi kegelisahan generasi muda, bukan semata ajakan pesimis. Korelasi ini juga menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran ganda: sebagai saluran informasi sekaligus ruang framing narasi. Paparan intensif mendorong mahasiswa mengembangkan persepsi lebih jelas terhadap isu publik. Hal ini sejalan dengan teori agenda-setting (McCombs & Shaw, 1. yang menyatakan bahwa media berperan dalam menentukan isu mana yang dianggap penting (Wanta & Wu, 1. Teori ini juga relevan dengan framing theory (Entman, 1. yang mana media tidak hanya memberi tahu publik mengenai isu apa yang penting, tetapi juga bagaimana cara memandang isu tersebut. Dalam konteks #KaburAjaDulu, paparan media berulang menciptakan pemahaman kolektif bahwa fenomena ini merupakan ekspresi kekecewaan generasi muda, bukan sekadar ajakan pasif. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Persepsi terhadap Kesadaran Bela Negara . = 0. Persepsi mahasiswa terhadap narasi juga berkorelasi positif dengan kesadaran bela Korelasi ini menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa yang lebih jernih terhadap tagar tersebut justru dapat memperkuat kesadaran mereka akan pentingnya kontribusi terhadap bangsa. Hal ini mendukung pandangan bahwa kritik terhadap negara bukan berarti ketidakpedulian terhadap bangsa, melainkan bentuk partisipasi politik yang aktif (Masridha et al. , 2. Dalam hubungan sebab-akibat, dapat disimpulkan bahwa ketika mahasiswa memahami bahwa narasi tersebut lahir dari kekecewaan struktural dan bukan karena kebencian terhadap bangsa, mereka justru terdorong untuk meningkatkan keterlibatan positifAi baik dalam bentuk diskusi, literasi kebangsaan, maupun partisipasi sosial. Berdasarkan hasil survei terlihat bahwa persepsi yang terbentuk dari pemahaman narasi justru meningkatkan kesadaran bela negara. Mahasiswa yang menafsirkan tagar sebagai kritik sosial lebih terdorong untuk terlibat aktif dalam isu kebangsaan. Tentunya hal ini mendukung konsep critical patriotism (Schatz et. ,1. yang mengatakan bahwa cinta tanah air diwujudkan dalam sikap kritis yang konstruktif. Analisis ini juga dapat ditinjau dari perspektif deliberative democracy (Habermas, 1. , yang mana kritik publik merupakan bagian dari proses dialogis untuk memperbaiki negara. Dengan demikian, persepsi mahasiswa terhadap #KaburAjaDulu tidak mengikis nasionalisme, tetapi justru memperkaya bentuk partisipasi politik digital. Paparan terhadap Kesadaran Bela Negara . = 0. Korelasi ini lebih rendah dibanding yang sebelumnya, namun tetap positif. Paparan terhadap narasi #KaburAjaDulu memiliki kontribusi dalam meningkatkan kesadaran bela negara mahasiswa, meskipun pengaruhnya tidak sekuat pengaruh persepsi. Hal ini menunjukkan bahwa paparan informasi saja tidak cukup untuk memengaruhi kesadaran, tanpa adanya proses pemahaman dan internalisasi nilai dari narasi tersebut (Boerman & Kruikemeier, 2. Dalam konteks ini informasi yang berulang tanpa refleksi hanya menghasilkan pemahaman dangkal. Kesadaran memerlukan internalisasi nilai, diskusi, dan Temuan ini selaras dengan Masridha et al. yang menekankan pentingnya pendidikan dan organisasi kampus dalam memperkuat bela negara. Hal ini dapat dikaitkan dengan social learning theory (Bandura, 1. , yang menjelaskan bahwa individu belajar melalui observasi dan interaksi sosial. Dengan kata lain, mahasiswa tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga menginternalisasikannya melalui diskusi kelas, praktik sosial, dan melakukan refleksi kebangsaan. Tanpa proses ini, paparan media beresiko hanya menghasilkan click patriotism, yaitu nasionalisme yang dangkal dan temporer. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Kesadaran terhadap Dampak Sikap Bernegara . = 0. Hubungan paling kuat dalam temuan ini adalah antara kesadaran bela negara dan dampak terhadap sikap bernegara, yang menunjukkan bahwa kesadaran nasionalisme mendorong mahasiswa memiliki sikap lebih optimistis, reflektif, dan bertanggung jawab terhadap masa depan Indonesia. Taber . menyatakan bahwa ketika individu menyadari nilai-nilai kewarganegaraan, mereka cenderung menunjukkan sikap sosialpolitik yang konstruktif dan bertanggung jawab. Dengan kata lain, kesadaran ideologis dan nilai kebangsaan berfungsi sebagai pondasi utama dalam membentuk sikap mahasiswa terhadap kondisi dan masa depan negara. Mahasiswa yang memiliki tingkat kesadaran tinggi cenderung memilih solusi, keterlibatan aktif, dan keyakinan terhadap perubahan, alih-alih mengikuti tren naratif yang bersifat eskapistik. Paparan terhadap Dampak . = 0. dan Media terhadap Persepsi . = 0. Hasil ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi saluran informasi, tetapi juga menjadi ruang interpretasi sosial (Lim, 2. Mahasiswa yang aktif mengakses informasi dari media daring menunjukkan kecenderungan untuk membentuk persepsi yang lebih kompleks terhadap narasi sosial seperti #KaburAjaDulu. Dalam kaitannya dengan dampak, paparan melalui media juga mendorong mahasiswa untuk lebih reflektif terhadap posisi mereka sebagai warga negara (Wang & Zhou, 2. Media sosial berfungsi sebagai arena artikulasi identitas kebangsaan dalam ruang digital. Korelasi ini memperlihatkan bahwa mahasiswa yang aktif mengakses informasi menunjukkan pemahaman lebih kompleks terhadap narasi #KaburAjaDulu. Hal ini sejalan dengan konsep networked public sphere (Benkler, 2. , yang mana media menciptakan ruang pubik baru yang memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi politik secara desentralisasi. Dengan demikian, media bukan hanya saluran informasi, tetapi juga ekosistem deliberatif tempat mahasiswa menegosiasikan makna kebangsaan Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa narasi digital dalam bentuk tagar #KaburAjaDulu memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap persepsi, kesadaran bela negara, serta sikap bernegara mahasiswa. Korelasi moderat ditemukan antara paparan terhadap narasi dengan pembentukan persepsi . = 0. , serta antara persepsi terhadap narasi dan kesadaran bela negara . = 0. Ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat keterpaparan mahasiswa terhadap narasi dan semakin kuat persepsi mereka terhadap makna sosial-politik dari tagar tersebut, maka semakin tinggi pula tingkat kesadaran mereka terhadap pentingnya nilai-nilai kebangsaan. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Temuan yang paling kuat adalah adanya korelasi tinggi antara kesadaran bela negara dan dampak terhadap sikap bernegara . = 0. , yang menunjukkan bahwa kesadaran ideologis mahasiswa dapat menjadi pondasi penting bagi sikap optimis, konstruktif, dan bertanggung jawab terhadap masa depan Indonesia. Dengan demikian, narasi #KaburAjaDulu tidak bisa secara sederhana ditafsirkan sebagai bentuk lunturnya Justru, ketika didekati secara reflektif dan kritis, narasi ini mampu memicu dialog, kesadaran kolektif, dan penguatan identitas kebangsaan di kalangan generasi Implikasi praktisnya, mahasiswa perlu didukung melalui literasi digital kritis, kurikulum Kewarganegaraan yang dialogis, serta ruang partisipasi yang sehat agar mampu mengelola narasi digital menjadi energi positif bagi bangsa. Kesimpulan ANTARA News. February . Tantangan nasionalisme di tengah gempuran tagar #KaburAjaDulu. ANTARA News. https://w. com/berita/4654593/tantangan-nasionalisme-ditengah-gempuran-tagar-kaburajadulu Belladonna. , & Firdianty. Rd. Peningkatan nasionalisme mahasiswa melalui resimen mahasiswa. Mores: Jurnal Pendidikan Hukum. Politik, dan Kewarganegaraan, 1. , 137Ae150. Boerman. , & Kruikemeier. Microtargeted political advertising on social media: Relationship between exposure and trust in democracy. New Media & Society, 23. , 3001Ae3020. https://doi. org/10. 1177/1461444820946324 Boone. , & Boone. Analyzing Likert data. Journal of Extension, 50. https://archives. org/joe/2012april/tt2. Ceron. Social media and political participation. Political Behavior, 41. , 937Ae https://doi. org/10. 1007/s11109-018-9475-6 Creswell. , & Creswell. Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches . th ed. SAGE Publications. Etikan. Comparison of convenience sampling and purposive sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics, 5. , 1Ae4. https://doi. org/10. 11648/j. Field. Discovering statistics using IBM SPSS statistics . th ed. SAGE Publications. Ghazani. Kesadaran mahasiswa dalam bela negara di era milenial. Jurnal Pancasila dan Bela Negara, 2. , 23Ae32. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Ghozali. Aplikasi analisis multivariate dengan program IBM SPSS 25 . th ed. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Hair. Black. Babin. , & Anderson. Multivariate data analysis . th ed. Cengage Learning. Hudori. Sari Dewi. , & Bahrudin. Peran UKM Pramuka Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dalam meningkatkan karakter nasionalis generasi muda. Jurnal Kewarganegaraan, 8. Joshi. Kale. Chandel. , & Pal. Likert scale: Explored and explained. British Journal of Applied Science & Technology, 7. , 396Ae403. https://doi. org/10. 9734/BJAST/2015/14975 Lim. From cyberspace to the street: Mobile technologies, social media, and citizen protests in Indonesia. Media and Communication, 8. , 185Ae196. https://doi. org/10. 17645/mac. Marandi. February . #KaburAjaDulu: Lunturnya nasionalisme atau ekspresi kekecewaan pada negara? Kumparan. https://kumparan. com/raizalmarandi/kaburajadulu-apakah-nasionalismeikut-terkubur Masridha. Mukti. Syofiah. Rifki. , & Satino. Fenomena kesadaran nilai-nilai bela negara bagi generasi muda di lingkungan kampus. Jurnal Pertahanan & Bela Negara, 12. Meliala. Chasanah. Rajali Manik. Pasya. , & Lestari. Analisis sentimen tagar #KaburAjaDulu: Pilihan migrasi ke Jepang pada platform X dengan NLP. DBESTI: Journal of Digital Business and Technology Innovation. https://doi. org/10. 54914/dbesti. Supriadi. Februar. Fenomena tagar #KaburAjaDulu: Kritik sosial atau bentuk lunturnya nasionalisme. Kagetnews. https://kagetnews. com/opini/fenomenatagar-kaburajadulu-kritik-sosial-atau-bentuk-lunturnya-nasionalisme Taber. The use of CronbachAos alpha when developing and reporting research instruments in science education. Research in Science Education, 48, 1273Ae https://doi. org/10. 1007/s11165-016-9602-2 Wang. , & Zhou. Youth's national identity and media use in the digital era: The mediating role of civic engagement. Telematics and Informatics, 72, 101851. https://doi. org/10. 1016/j. Zaifudhin. February . #KaburAjaDulu dan krisis nasionalisme pejabat Kompas. https://w. id/artikel/kaburajadulu-dan-krisisnasionalisme-pejabat-negara