AoEPISTEMOLOGI MOLUSKAAo BRUNO LATOUR DAN PARADIGMA NON-MODERN PENGETAHUAN Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Jakarta. Indonesia E-mail: kevin. juwono@driyarkara. Abstract: Due to the impression that Bruno Latour rejects epistemology, his thought is often considered as part of postmodernism and relativism. This essays will show that this impression is misleading. The target of LatourAos critique is the modern paradigm that dichotomizes absolutely between ontology and epistemology, as in subject-object and nature-society. Latour succeeded in showing that modern epistemology is not absolute. To do so, he included a two-dimensional variable in one-dimensional insertions, with the example of a generic scheme created by a variant of the SSK school. The consequence is a priori ontological postponement, with various models of possible scales of values on the schema. For this reason, the principle of symmetry and the use of neutral language that can include . various ontologies so that epistemic knowledge can be obtained in reality . uch as the alignment of humansAinon-humans, and actorsAiactant. , becomes important in scientiyc practice. This essay draws a conclusion with some critical notes, and provides a kind of offer as a further consequence of the examination of Bruno LatourAos epistemology. Keywords: epistemology, non-modern paradigm, meta-modern, mollusk epistemology, principle of simmetry, actorAiactant Abstrak: Kesan bahwa Bruno Latour menolak epistemologi telah membuat pemikirannya kerap dimasukkan ke kategori pascamodernisme dan relativisme. Tulisan ini hendak menunjukkan bahwa kesan tersebut keliru. Sebetulnya sasaran kritik Latour adalah paradigma modern yang mendikotomikan secara absolut antara ontologi dan epistemologi, seperti pada subjekAeobjek dan alamAemasyarakat. Latour memperlihatkan bahwa epistemologi modern itu tidaklah absolut. Caranya, ia memasukkan variabel dua dimensi pada pengutuban satu dimensi, dengan contoh skema generik yang dibuat oleh varian dari DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 mazhab SSK. Konsekuensinya adalah penundaan apriori ontologis, dengan beraneka model kemungkinan skala nilai pada skema. Untuk itu, prinsip simetri dan penggunaan bahasa netral yang dapat mencakupi . pelbagai ontologi agar pengetahuan epistemik dapat diperoleh senyata-nyatanya . eperti kesejajaran manusiaAinon-manusia, dan aktorAiakta. menjadi penting dalam praktik keilmuan. akhir tulisan, penulis memberikan beberapa catatan kritis, serta semacam tawaran sebagai konsekuensi lebih jauh atas pemeriksaan epistemologi Bruno Latour. Kata-kata Kunci: epistemologi, paradigma non-modern, meta-modern, epistemologi moluska, prinsip simetri, aktorAiaktan PENDAHULUAN Bruno Latour . adalah salah seorang pemikir yang paling sering dikutip1 dan disalahpahami secara bersamaan. Pada tahun 2021. Latour menerima Kyoto Prize, yang citranya seperti penghargaan Nobel, dalam bidang Filsafat, khususnya untuk kategori AuPemikiran dan Etika. Ay Sebelum itu, pada tahun 2013, ia meraih Holberg Prize berkat kritiknya terhadap paradigma modern, serta dampaknya bagi bidang kajian ilmu dalam rentang luas, meliputi sejarah ilmu, sejarah seni, sejarah, ylsafat, antropologi, geogray, teologi, sastra dan hukum. Ini untuk tidak menyebut sederet pencapaian keilmuan Latour lainnya. Di sisi lain. Latour dekat dengan kontroversi. Namanya terseret ke dalam AuSkandal SokalAy (Sokal Affai. , atau AuHoaks SokalAy (Sokal Hoa. Sokal d sini mengacu pada seorang ysikawan. Alan Sokal. Ia menulis sebuah artikel di jurnal kajian sosial bereputasi yang terbit pada 1996. Social Text, edisi khusus AuScience WarsAy. 2 Pada intinya tulisan itu menegaskan bahwa kebenaran pada sains modern ialah soal realitas sosial. AuGravitasi Lih. data proyl akademik Latour dalam Research. ttps://research. com/u/ bruno-latour#::text=His most cited work include: Reassembling the Social:,citation. We Have Never Been Modern . 3 citation. Alan Sokal. AuTransgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity,Ay Social Text, no. 46/47 . , pp. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. kuantumAy, misalnya, merupakan sebuah teori yang masih spekulatif tentang ruang dan waktu namun memiliki implikasi politik emansipatoris. Penemuan itu berpotensi membebaskan sains dari bukan hanya dari tirani Aukebenaran absolutAy dan Aurealitas objektifAy . arena realitas ysika kini tidak lagi sepasti ysika Newto. , melainkan juga dari manusia atas sesamanya. Agenda sains kini bukan lagi mengejar objektivitas, melainkan mendukung politik progresif. Selang beberapa minggu, terbit tulisan lain Sokal di Lingua Franca,4 sebuah majalah seputar fenomena dunia akademik, termasuk yang jenaka. Di dalamnya. Sokal menerangkan bahwa tulisannya di Social Text itu dimaksudkannya sebagai parodi. Sokal menggugat secara satiris kecenderungan para ylsuf posmo dengan epistemologi pascamodernis-nya . ermasuk pemikir psikoanalisis, epistemologi feminis, kajian budaya, dan gerakan Aokiri baruA. , yang berkanjang pada relativisme dan mendekati realitas objektif semata-mata sebagai konstruksi sosial. 5 Nama Latour munculAisebagai yang mengomentari gagasan relativitas khusus Einstein dengan perspektif antar-relasi aktor6Aidan terus muncul . erjajar dengan nama para ylsuf pascamoder. pada beberapa buku Sokal berikutnya 7 yang beresonansi sama dengan artikel satirnya. Majalah New York Times . /10/2. mengulas sosok Latour dengan tajuk bernada oksimoron, melabelinya sebagai ylsuf pasca-kebenaran tetapi masih mempertahankan sains. Sokal. AuTransgressing the BoundariesAy, pp. Alan Sokal. AuA Physicist Experiments with Cultural Studies,Ay Lingua Franca. Mei/ Juni, 1996, pp. 62-64, https://physics. edu/faculty/sokal/lingua_franca_v4/lingua_franca_v4. Sokal. AuA Physicist Experiments,Ay p. Sokal. AuTransgressing the Boundaries,Ay p. Judul buku Sokal sudah memperlihatkan maksud sang pengarang: Aoomong-kosong yang modisAo . ashionable nonsens. Aomelampaui hoaksAo . eyond the hoa. , dan Aopenipuan intelektualAo . ntellectual imposture. Alan Sokal dan Jean Bricmont. Fashionable Nonsense: Postmodern PhilosophersAo Abuse of Science (New York: Picador, 1. dan Intellectual Impostures: Postmodern PhilosophersAo Abuse of Science (Proyle Books, 1. adalah buku yang sama dengan judul berbeda. Alan Sokal. Beyond the Hoax: Science. Philosophy and Culture (Oxford University Press, 2. Ava Kofman. AuBruno Latour. The Post-Truth Philosopher. Mounts a Defence of Science,Ay New York Times. Oktober 25, 2018, https://w. com/2018/10/25/ DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 Pada dirinya sendiri, bukan tanpa alasan. Latour kerap kali dirujuk sekaligus disalahmengerti. Pemikirannya yang mengikutsertakan beberapa bidang keilmuan itu sekali lalu membuka pintu perbantahan dengan Ambil saja salah satu buku fase akhir dari pemikirannya, semisal An Inquiry into Modes of Existence: An Anthropology of the Moderns (Harvard University Press, 2. , dan kumpulkan kata AuepistemologiAy, lalu bacalah selayang pandang. Segera akan ditemukan beragam spektrum paradoks dengan kesan terberat bahwa Latour menolak epistemologi. Tulisan ini mau memperlihatkan: kesan itu tidak sepenuhnya keliru secara sekilas, sekalipun pemeriksaan secara serius akan menyatakan sebaliknya, dengan beberapa catatan. Setelah itu, penulis memberikan tawaran sebagai konsekuensi lebih jauh dari hasil pemeriksaan tersebut dengan epitome: suatu Aoepistemologi moluskaAo. PROBLEM EPISTEMOLOGI (MODERN) AuApakah Anda percaya dengan realitas?Ay adalah pertanyaan seorang psikolog kepada Bruno Latour, sekaligus menjadi judul artikel yang ditulisnya. Pertanyaan tentang realitas yang semula bisa dijawab secara lugasAiatau, dalam keyakinan Latour, pertanyaan semacam itu seharusnya tidak perlu adaAiternyata memerlukan jawaban panjang dan berputar. Beban sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tercakup di dalamnya soal cara pengetahuan tentang realitas . tau Aoobjek penelitianA. itu diperoleh dan validasi atas perolehan itu, atau: epistemologi, telah membuat setiap jawaban cepat kian terasa asing di lidah. Latour mencatat beberapa momentum dalam sejarah pemikiran yang menyebabkan seorang tidak lagi menjawab secara alami. Pertama, dualisme pikiran-tubuh Cartesian. Descartes mau mencari dasar kepastian absolut pengetahuan berdasarkan akal belaka. Cogito ergo sum menjadi langkah metodologis yang menganggap setiap relasi, atau keterkaitan magazine/bruno-latour-post-truth-philosopher-science. Data Research. com menunjukkan, tema yang menjadi fokus perhatian Latour ialah Epistemologi. Politik. Ilmu Sosial. Humaniora dan Hukum. dan yang paling sering dipublikasikan dalam urutan tiga terbanyak ialah: Epistemologi . ,78%). Politik . ,45%) dan Ilmu Sosial . ,36%). AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. di luar akal per se, tidaklah mumpuni. tidak bisa divalidasi secara pasti. Satu-satunya koneksi subjek dengan Aodunia luarAo yang diizinkan oleh akal cogito untuk membangun dasar yang pasti itu via Allah. AuDescartes meminta kepastian mutlak dari otak-dalam-tong,Ay tandas Latour. Aukepastian yang tidak diperlukan ketika otak . tau pikira. melekat erat pada tubuhnya dan tubuh benar-benar terlibat dalam ekologi normalnya. Ay 10 Dualisme itu telah membuat manusia terputus dengan dunia. Kedua, akalbudi Kantian. Seiring dengan keterputusan akses terhadap realitas luar oleh dualisme Cartesian, datanglah Immanuel Kant menawarkan solusi. Akal manusia masih bisa mengaksesAisetidaknya kategori-kategori postulat bersifat apriori atasAirealitas. dan moralitas. Atau, rasio mengakses AopenampakanAo atas realitas. Realitas itu lalu menjadi, dalam istilah Latour. Ausebuah realitas yang direduksi sampai minimumnya yang paling rendah, namun tetap ada. Ay11 Kategori-kategori bagi akal yang dibuat oleh Kant itu menjadi semacam pedoman dalam mengakses realitas, atau objek saintiyk, yaitu alam. Akalbudi Kantian itu digunakan bukan hanya untuk mendekati realitas alam, melainkan juga Ilmu sosiologi kemudian berupaya memaknai yang sosial itu antara lain sebagai AuA. prasangka-prasangka, kategori-kategori, dan paradigma-paradigma tentang sekelompok orang yang hidup bersama yang menentukan representasi tiap-tiap bagiannya. Ay12 Pertanyaan tentang realitas itu, dalam sejarah perkembangannya, tidak lagi dapat dijawab dengan mudah. 10 Bruno Latour. AuAuDo You Believe in Reality?Ay News from the Trenches of the Science Wars,Ay dalam PandoraAos Hope: Essays on the Reality of Science Studies (Cambridge Ae London: Harvard University Press, 1. , p. 11 Latour. AuDo You Believe in Reality?,Ay p. 12 Latour. AuDo You Believe in Reality?,Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 Skema 1. AuKesepakatan Kaum ModernAy13 Latour menggambarkan pada Skema 1, upaya dunia modern dalam menawarkan paradigma guna mendekati realitas pasca rasionalitas Descartes dan Kant yang telah disinggung di atas. Paradigma modern menetapkan suatu kesepakatan bersama untuk membuat pemisahan pada ranah Epistemologi. Ontologi. Psikologi, dan Teologi yang bermuara pada Rasio. Realitas Alam (Natur. dan Masyarakat (Societ. didekati sebagai objek keyakinan hasil mediasi Rasio terisolasi. Alam dan Masyarakat merupakan dua realitas tersendiri, yang pendekatan atas keduanya tidak sama, bahkan bertolak belakang. Kajian ilmu alam diukur dari objektivitas yang dingin dan berjarak, sedangkan kajian ilmu sosial dari interpretasi atas masyarakat yang bisa beragam, dan tidak berada pada tingkat objektivitas yang sama dengan ilmu alam. Ketakterhubungan antara ilmu alam dan ilmu sosial itu, seperti diungkap oleh Latour, juga ada sejarahnya. Ada masa Auperang dingin antardisiplinAy di dalam sains, ketika ilmu alam itu mesti otonom dari ranah Sekalipun pada kenyataannya. AootonomiAo itu melibatkan banyak sekali sengkarut kusut antara politik, sains, teknologi, pasar, nilai, etika, fakta, yang entah kenapa tidak tertangkap oleh ilmu alam itu sendiri. Selain itu, keyakinan akan ketakterhubungan antara ilmu alam dan ilmu 13 Latour. AuDo You Believe in Reality?,Ay p. 14 Latour. AuDo You Believe in Reality?,Ay p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. sosial itu juga dapat ditemukan pada kecenderungan untuk memisahkan antara sains dan nilai. Sudah jamak dikenal jargon lawas: sains itu bebas nilai. Sains hanya valid jika ia bebas dari subjektivitas, politik, hasrat, dan faktor-faktor lain. Sebaliknya pula berlaku, nilai itu bebas sains. AoNilaiAo kemudian dimaknai sebagai ranah-ranah lain di luar ilmu alam, yang melibatkan banyak AointerpretasiAo . ipertentangkan dengan AoobjektivitasAo saintiy. seperti ilmu sosial . Ranah kemanusiaan, subjektivitas, moralitas, dan hak asasi, harus bebas dari sains, teknologi, dan objektivitas. Kontras dengan itu. Latour mengamati lewat praktik saintiyk, ranah-ranah tersebut tidaklah terisolasi, tetapi saling terjalin satu dengan Bagi studi sains tidak ada gunanya berbicara secara mandiri dari epistemologi, ontologi, psikologi, dan politikAibelum lagi teologi. Singkatnya: Audi luar sanaAy. AualamAy. Audi sanaAy, akal budi. Auturun ke sanaAy, yang sosial. Audi atas sana,Ay Tuhan. Kita tidak mengeklaim bahwa bola-bola ini terputus satu sama lain, tetapi bahwa mereka semua berkaitan dengan kesepakatan yang sama, kesepakatan yang dapat digantikan oleh beberapa alternatif. Tak ada apa pun yang dapat direduksi begitu saja menjadi sesuatu yang lain. tak ada apa pun yang dapat dideduksi begitu saja dari sesuatu yang lain. segala sesuatu dapat terkait dengan segala sesuatu yang lain. Pada praktiknya, justru sains yang semakin terkoneksi dengan ranah lain, akan makin akurat, dan terveriykasi. Latour menyebut riset saintiyk sebagai Aueksperimentasi kolektifAy yang di dalamnya AomanusiaAo dan Aonon-manusiaAoAialih-alih dipisahkanAidapat dipertahankan bersama-sama. Kerja sains itu melibatkan banyak tugas yang tidak sesuai dengan paradigma modern. Latour menyebutnya, non-modern. Distingsi 15 Latour. AuDo You Believe in Reality?,Ay p. 16 Latour. AuDo You Believe in Reality?,Ay p. 17 Bruno Latour. The Pasteurization of France. Trans. Alan Sheridan. John Law (CambridgeAeLondon: Harvard University Press, 1. , p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 antara subjek dan objek tidaklah setegas sebagaimana pada . akal modern. Lema AomanusiaAo dan Aonon-manusiaAo digunakan, untuk menunjukkan bahwa kedua-duanya saling berinteraksi di dalam proses dan hasil penelitian. Dengan mendekati keduanya bukan lagi sebagai keterpisahan subjek-objek, melainkan sebagai Aoyang kolektif,Ao18 maka sains akan terbebas dari Aupolitik akal,Ay atau paradigma modern, yaitu: Aukesepakatan kuno di antara epistemologi, moralitas, psikologi, dan teologiAy dan Aumembebaskan non-manusia dari politik objektivitas dan manusia dari politik subjektivasi. Ay19 PARADIGMA NON-MODERN LATOUR Jika pemisahan antara subjek dan objek sebagai penemuan akal modern semestinya tidak diperlukan dalam mendekati realitas, dan jika pemisahan disiplin keilmuan modern, sebagaimana telah ditunjukkan pada Skema 1 dianggap Latour sebagai kurang riil dalam memperoleh pengetahuan ilmiah atas realitas itu, maka pertanyaannya: Bagaimana model pengganti dikotomi Aosubjek-objekAo, yakni Aomanusia-non-manusiaAo itu dapat mendekati realitas? Sekaligus pertanyaan ini juga mengandung pertanyaan: Apa prinsip dasar dari model Aomanusia-non-manusiaAo itu yang bisa menjadi landasan epistemik dalam mendekati realitas? Seperti apakah kekhasan model pengganti dikotomi disiplin AoalamsosialAo yang ditawarkan oleh Latour itu, dan terutama: Seberapa meyakinkan tawaran itu dari sudut epistemologi? 18 AoYang kolektifAo adalah gagasan Latour terinspirasi dari seorang sosiolog. Gabriel Tarde, untuk memaknai kata AososialAo, atau sebagai pengganti kata AomasyarakatAo. Secara mendasar, istilah sosial itu adalah AohimpunanAo . yang mencakup bukan hanya dalam arti sempit sebagai AomasyarakatAo melainkan juga segala sesuatu yang saling terasosiasi di dalamnya, termasuk organisme biologis dan zarah, sehingga kalau ilmu sosial seperti AososiologiAo dipahami dalam kerangka AokolektifAo, maka ia oleh Latour bisa disebut Aososiologi asosiasiAo atau AoasosiologiAo. Pemaknaan itu selaras dengan tugas kuno sosiologi sebagai Auilmu tentang kehidupan bersamaAy (Latour. Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory [Oxford University Press, 2. , pp. 19 Latour. AuDo You Believe in Reality?,Ay p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Sebagaimana sudah disinggung di atas. Latour menjelaskan bahwa sebetulnya hubungan antara ilmu alam dan ilmu sosial, tidaklah sepenuh-penuhnya steril, atau berjarak. Bahkan, objektivitas ilmiah yang kerap kali diidentikkan dengan ilmu alam, di dalamnya dapat ditemukan faktor-faktor penentu bersifat sosial dalam perumusan objektivitas itu. Sebelum tiba pada kesimpulan itu, berikut ini diuraikan perdebatan antara satu mazhab dalam Sosiologi dan Latour, serta posisi masing-masing. Perdebatan ini penting untuk menekankan: . Sekalipun keduanya sepakat menyangkut adanya keterhubungan antara Alam dan Masyarakat, namun keduanya berpisah jalan dalam hal, masih dimungkinkannya sebentuk objektivitas dalam interaksi di antara keduanya. Membuat posisi khas Latour semakin tajam. Mazhab tersebut menolak gagasan soal objektivitas keilmuan, dan berfokus pada faktor-faktor sosial yang terlibat dalam kajian saintiyk . eperti interes atau kepentingan ilmuwa. , serta paradigma dan agenda yang bersifat ideologis. Sementara Latour, melalui keterhubungan antara Alam dan Masyarakat, menawarkan paradigma jaringan dalam mendekati realitas. Sekitar awal 1970,20 muncul pendekatan baru dalam melihat sains, 20 Beberapa tahun sebelumnya, terbit sebuah buku oleh Thomas Kuhn. The Structure of Scientiyc Revolution . Dalam ulasan Sahotra Sarkar dan Jessica Pfeifer, karya Kuhn itu kemudian memicu reaksi di berbagai kalangan. Pada masa itu, tulisan Kuhn menjadi yang paling sering dikutip, sekalipun sebagian besarnya dari dunia sosial-humaniora. Revolusi saintiyk Kuhnian itu mau mengangkat isu bahwa penelitian saintiyk itu pertama-tama bukanlah soal teori, metode, dan kaidah ilmiah yang bebas nilai, melainkan soal Aoparadigma-paradigma latenAo, yang bercokol pada setiap observasi dan data. Dalam komunitas ilmiah yang berbeda, paradigma laten itu juga bisa berbeda. Eksperimen yang sama jika diujikan kepada komunitas keilmuan lain yang memiliki AoparadigmaAo lain, maka hasilnya juga tidak sama. Kajian saintiyk itu berada pada situasi, dalam istilah Kuhn. AoketidaksebandinganAo . Setidaknya ada dua tanggapan berbeda atas Aorevolusi KuhnAo itu. Pertama, dari Strong Programme atau Strong Sociology, salah satu varian dari mazhab SSK, yang berpandangan bahwa perubahan saintiyk itu seharusnya bisa dijelaskan secara sosiologis. Dari sebab-sebab sosialnya sains dapat dievaluasi baik-buruknya. Respons kedua, datang dari Latour dan Steve Woolgar yang mengungkapkan fakta di laboratorium, bahwa para ilmuwan juga bekerja dengan melakukan semacam konstruksi fakta (Sahotra Sarkar. Jessica Pfeifer. The Philosophy of Science: An Encyclopedia, ed. Sahotra Sarkar dan Jessica Pfeifer [Routledge, 2. , p. Jika Strong Programme menyatakan bahwa konstruksi sosial . kepentingan/interes sosial-politi. dapat mengendalikan penelitian saintiyk, maka Latour dan Woolgar mau mengungkapkan, kerja penelitian itu sendiri, termasuk soal membangun fakta, sudah merupakan konstruksi . atas AofaktaAo. Ulasan Sarkar dan Pfeifer itu perlu diberi catatan. Pertama, sekalipun kedu- DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 yang disebut Aososiologi pengetahuan saintiykAo . he sociology of scientiyc knowledge. SSK). 21 Dalam ulasan Andrew Pickering, agenda utama SSK anya memakai istilah AokonstruksiAo namun fokus perhatian, lokus, arah, serta metode yang digunakan tidaklah sama, sebagaimana diulas pada tulisan ini. Kedua, mengaitkan pemikiran Latour . uga Strong Programm. sebagai tanggapan atas Kuhn riskan tergelincir ke dalam pembacaan karikatural. Sejak buku pertama. Latour sudah menyadari bahwa deskripsi Kuhn . an Poppe. itu kurang jelas jika diperhadapkan dengan realitas praktik saintiyk, sekalipun bisa saja diikuti terutama oleh peneliti sosial karena Kuhn dianggap menyediakan fondasi umum bagi watak sosial dari riset saintiyk [Latour. Steve Woolgar. Laboratory Life: The Construction of Scientiyc Facts (Princeton. New Jersey: Princeton University Press, 1. , pp. 24, 30, 89, . Belakangan Latour meninggalkan gagasan Aokonstruksi sosialAo setelah dikritik oleh Ian Hacking [Latour. AuThe Promises of Constructivism,Ay dalam Chasing Technoscience: Matrix for Materiality. Don Ihde dan Evan Selinger (Bloomington dan Indianapolis: Indiana University Press, 2. , pp. Dalam The Social Construction of What? (Cambridge dan London: Harvard University Press, 1. , pp. Hacking mengkritisi penyematan AososialAo di belakang AokonstruktivismeAo yang lazim digunakan oleh mazhab SSK dan oleh berbagai kalangan . ang ditunjukkan dengan banyaknya judul tulisan yang dimulai dengan Aukonstruksi sosial . sebagai sebuah AokemubaziranAo istilah, selain bahwa ide AokonstruktivismeAo itu sendiri bermacam-macam. Pada tahap selanjutnya. Latour sendiri menganggap AokonstruktivismeAo kurang memadai dalam mengiringi perkembangan pemikirannya. Andrew Pickering, dalam Science as Practice and Culture (Chicago dan London: University of Chicago Press, 1. , pp. 1-5, membahas sejarah perkembangan SSK sbb. Periode awal SSK ini berpusat di Edinburgh . ewat tulisan-tulisan Barry Barnes. David Bloor. Stephen Shapi. dan Bath . ewat Harry Collins, yang juga mengkritik Latour . an Callo. jawaban atas kritik itu memperjelas posisi epistemik Latour sebagaimana diulas di bawa. Pada akhir 1970. SSK memasuki periode lebih kompleks. Pendekatan baru muncul di Inggris dan luarnya, sekalipun hubungannya dengan SSK tidak terlalu tegas. Pada 1979, terbit sebuah buku tentang kajian etnograys pertama. Laboratory Life, oleh Latour dan Woolgar. Menyusul kajian serupa. The Manufacture of Knowledge . karya Karin Knorr Cetina, sama-sama dari belahan kontinental. Pada saat yang sama, di Amerika Serikat, kajian etnograys di laboratorium . an matematik. juga muncul, lewat Harold Garynkel. Michael Lynch, dan Eric Livingston. Filsuf ilmu seperti Ian Hacking . Nancy Carwright . Arthur Fine . , memulai pendekatan empiris yang beririsan dengan SSK. Kelompok Tremont dengan perspektif interaksionis simbolik dan pragmatis atas studi sains, dan Sharon Traweek, seorang antropolog yang mempelajari partikel ysika. Di Inggris, wacana program analisis Mulkay dan Nigel Gilbert ke dalam genre AureyeksivitasAy . dan Aubentuk sastra baruAy . ew literary form. dekat dengan teknik SSK. Kembali ke kontinental. Latour mengembangkan pendekatan Aujejaring aktorAy atas kajian sains bersama Michel Callon, lalu melahirkan AuMazhab ParisAy. Pada akhir 1980, pelbagai pendekatan serupa SSK bermunculan. Pergeseran dari soal perolehan pengetahuan kepada praktik dan kajian budaya saintiyk pun terjadi. Sebagian besar ylsuf ilmu abad ke-20 di Anglo-Amerika masih sibuk dengan soal AoteoriAo dan AofaktaAo . ermasuk yang kontra arus utama seperti Paul Feyerabend dan Norwood Russell Hanso. Dalam tradisi ylsafat ilmu, hanya segelintir yang menaruh minat pada praktik, misalnya Ludwick Fleck. Michael Polanyi, dan Thomas Kuhn. Ketiganya mempunyai analisis yang berbeda dari, sekaligus bisa sejalan dengan SSK. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. ialah membuat posisi tawar ilmu sosial di muka ilmu alam dengan menunjukkan bahwa pengetahuan saintiyk pada dasarnya bersifat sosiologis. Jalan yang ditempuh oleh SSK ialah dengan membedakan diri dari ylsafat dan sosiologi ilmu kontemporer, yaitu: pertama, menekankan bahwa hakikat dan kepentingan sains sampai ke inti teknisnya bersifat sosiologis. Pengetahuan saintiyk adalah produk sosiologis. Kedua, mengusung pendekatan empiris dan naturalistik. Soal pengetahuan saintiyk itu bersifat sosiologis mesti dilacak lewat sains konkret, bukan apriori ylosoys. Lebih lanjut. SSK juga mengungkapkan dimensi sosiologis dari sains dengan menekankan segi instrumental dari scientiyc knowledge . an agensi aktor-aktor di dalamny. Pengetahuan bukan semata-mata demi pengetahuan, melainkan demi kegunaan. Pengetahuan melibatkan kepentingan tertentu, termasuk para aktornya. Dalam kaitan itu, praktik terhubung dengan budaya. Pengetahuan saintiyk itu bukanlah, dalam istilah Richard Rorty. Aopantulan cerminAo yang menampilkan alam atau realitas secara telanjang, melainkan suatu pengetahuan yang bersifat relatif terhadap budaya tertentu. Kenisbian pengetahuan itulah yang diangkat oleh konsep sosiologi mengenai kepentingan/interes. Secara epistemik, posisi SSK tradisional, disebut Pickering sebagai Aurealisme sosial. Ay Realisme sosial versi SSK mau merekonstruksi penjelasan ilmu alam tentang dunia alam berdasarkan penjelasan sosiologis tentang dunia sosial. Realisme semacam ini bukan menekankan pada posisi epistemologis istimewa, melainkan pada posisi efektif bagi tindakan Singkatnya, realitas objektif yang mau ditawarkan oleh ilmu alam itu sebetulnya bisa dijelaskan sebab-musababnya dari perspektif sosiologis. Dengan jalan itu. SSK men-demistiykasi hegemoni ilmuwan alam dengan privilese epistemologisnya, seolah-olah mereka memiliki tiket khusus atas realitas alam. Objektivitas steril adalah AosihirAo yang dioperasikan oleh kaum mistikus, yakni para ilmuwan alam. Sains tidak bekerja secara mistik tanpa konteks, tetapi terhubung dengan keterlibatan budaya manusia secara berkesinambungan. Dalam versi Strong Programme Collins, 22 Pickering. Science as Practice and Culture, pp. 1, 4-5. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 pengetahuan saintiyk itu bukanlah representasi objek, melainkan proses negosiasi tertentu di antara aktor-aktor manusia. Pada titik inilah. Latour dan Michel Callon menawarkan pandangan Negosiasi itu berlangsung di antara aktor-aktor, baik itu manusia maupun non-manusia. Dalam pendekatan jejaring aktor, negosiasi dibaca sebagai fundamen praktik saintiyk dalam membuat dan memutus asosiasi. Namun perluasan eksistensi agensi itu dikritik oleh Harry Collins dan Steven Yearley karena membuat proyek politik demistiykasi saintiyk SSK menjadi kabur. Selain itu. Latour membuat perkembangan saintiyk menjadi mundur ke belakang, dengan mengusung penjelasan prosaik alih-alih menguatkan eksplanasi saintiyk yang sudah mapan, sebagai konsekuensi gagasan agensi-nya. Latour dan Callon menanggapi, simetri agensi antara manusia dan non-manusia merupakan upaya untuk mengatasi dikotomi AuPerpecahan BesarAy Kantian antara alam dan masyarakat. Justru. Latour dan Callon menganggap Collins dan Yearley, yang mewakili epistemologi SSK tradisional, tergesa-gesa dalam menerima begitu saja dikotomi Kantian itu. Memang, dikotomi itu menjadi prinsip penjelasan bagi SSK dengan bertumpu pada perspektif sosial untuk mengupas interes ilmuwan alam. Kembali ke kritik Collins dan Yearley, sebelum tiba pada posisi epistemik Latour dan Callon sebagai tanggapan atas kritik itu. Dalam artikel AuEpistemological Chicken,Ay Collins dan Yearley menggugat AuMazhab ParisAy yang diwakili oleh Bruno Latour dan Michel Callon karena mengusulkan bahwa aktor dan aktan25 harus diperlakukan secara setara, atau 23 Pickering. Science as Practice and Culture, p. 24 Pickering. Science as Practice and Culture, p. 25 Latour mengadopsi gagasan AoaktanAo dari semiotika sastra, ia mengacu pada Greimas dan Courtys. Semiotics and Language: An Analytical Dictionary (Bloomington: Indiana University Press, 1. : AuAktan adalah makhluk atau benda yang berpartisipasi dalam proses dalam bentuk apa pun, baik itu hanya bagian yang berjalan dan dengan cara yang paling pasif. Ay Aktan mengandung makna yang sangat cair. Aukarena berlaku tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk hewan, benda, atau konsepAy dan tetap ambigu, karena Aukonsep aktorAy pada aktan itu sendiri juga bisa memuat sinkretisme Latour kemudian mengembangkan makna aktan itu sbb: AuSaya menggunakan Auaktor,Ay Auagen,Ay atau AuaktanAy tanpa membuat asumsi tentang siapa mereka dan sifat apa yang mereka miliki. Jauh lebih umum daripada AukarakterAy atau Aupersona drama- AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Porsi terbesar kritik menyasar pada artikel Callon26 yang mencerminkan gagasan simetri, dan artikel Latour27 tentang pintu yang disejajarkan dengan aktor, dengan sasaran kritik yang sama. Dalam artikelnya. Callon mengusulkan, seorang pengamat riset harus menanggalkan segala asumsi apriori menyangkut pemisahan antara peristiwa alam dan sosial. Aktor-aktor yang terlibat dalam suatu peristiwa, terjalin dalam suatu jejaring kompleks antar-relasi, di dalamnya AoalamAo dan AososialAo saling terkait. Callon mengisahkan tentang konferensi ilmuwan yang diadakan di Brest pada 1972, dilatarbelakangi oleh eksploitasi masif atas produksi kerang, sehingga eksistensinya menjadi langka. Para ilmuwan dan perwakilan dari komunitas nelayan berkumpul untuk menyelidiki kemungkinan meningkatkan produksi kerang dengan mengendalikan pembudidayaannya. Lewat pendekatan semiotik, khususnya translasi,29 Callon melukistis,Ay mereka memiliki ytur kunci sebagai tokoh otonom. Terlepas dari semua ini, mereka dapat berupa apa saja-individu (AuPetrusA. atau kolektif (AukerumunanA. , kiasan . ntropomoryk atau zoomory. atau nonyguratif (AunasibA. Ay (Bruno Latour. The Pasteurization of France, trans. Alan Sheridan dan John Law [CambridgeAeLondon: Harvard University Press, 1993. , p. 26 Michel Callon. AuSome elements of a sociology of translation: domestication of the scallops and the yshermen of St Brieuc,Ay The Sociological Review vol. 32, no. : pp. 27 Latour. AuWhere are the Missing Masses? The Sociology of a Few Mundane Artifacts,Ay dalam Shaping Technology/Building Society: Studies in Sociotechnical Change, ed. Wiebe E. Bijker and John Law (MIT Press, 1992. , pp. 28 Sebagaimana alur tulisan ini, ketika Latour membahas tentang AopintuAo. AokerangAo. Aogelombang petirAo. AoaktanAo, atau Aohal-halAo . itu merujuk pada konteks keilmuan/ saintiyk, yang memuat klaim ilmuwan atas AorealitasAo yang didaftarkan itu, baik itu sebagai sesuatu yang AubaruAy maupun AuditemukanAy (Bdk. Henning Schmidgen. Bruno Latour in Pieces, trans. Gloria Custance [New York: Fordham University Press, 2. Dalam komentar Latour sendiri atas peneraan hal-hal itu: AuSampai pada titik inilah non-manusiaAimikroba, kerang, batu karang, dan kapalAimenghadirkan diri mereka kepada teori sosial dengan cara baruAy (Latour. Reassembling the Social, p. 29 Dalam artikelnya. Callon menyebutkan beberapa elemen dalam Ausosiologi translasi,Ay dengan tiga prinsip awal, dan empat momen translasi. Tiga prinsip itu adalah AuagnostisismeAy/agnosticism . mparsialitas peran aktor dalam kontrovers. Ausimetri yang dirampatkanAy/generalised simmetry . omitmen dalam menjelaskan sudut pandang yang berkonyik dalam term-term yang sam. , dan Auasosiasi bebasAy/free association . enanggalan segala distingsi apriori antara AoalamAo dan AososialA. Empat momen translasi mencakup: problematisation . endeynisian problem dan negosiasi jalan keluar oleh para penelit. , interessement . erangkaian proses untuk mengunci peran AoaktorAo lain DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 kan dalam catatannya tentang penelitian itu, yang melibatkan nelayan, para ilmuwan, dan kerang. Semua pihak memberikan persetujuan mereka pada mulanya bagi penelitian tentang kerang. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, para nelayan melanggar kesepakatan, menangkap semua kerang percobaan, dan menjualnya. Kerang lalu mundur dari kerja sama Setiap kali para peneliti menebar jaring, tidak satu pun larvaAisebagai salah satu elemen penelitianAiyang terjaring. Callon menyimpulkan, bahwa dibutuhkan keterlibatan kerang dan nelayan untuk AomenghadirkanAo larva itu ke dalam penelitian. Keberatan diajukan oleh Collins dan Yearley atas naiknya kerang ke pentas aktor, sehingga ia bersifat simetris atas, atau sejajar dengan nelayan dan ilmuwan. Collins dan Yearley mempertanyakan prinsip simetri Seberapa radikal simetri itu, bagaimanapun, tidak sepenuhnya jelas. Meskipun sebagaimana akan kita lihat, kerang Teluk St. Brieuc harus diperlakukan sebagai aktor setara dengan nelayan, penciptaan simetri itu sangat banyak di tangan para analis. Para analis tetap memegang kendali sepanjang waktu, yang membuat pengenaan simetri mereka di dunia tampak seperti sebuah kesombongan. Bukankah simetri lengkap memerlukan penjelasan dari sudut pandang kerang? . etak miring penuli. Apakah masuk akal untuk memikirkan kerang yang mendaftarkan para peneliti kerang untuk memberi mereka tempat tinggal yang lebih baik dan untuk melindungi spesies mereka dari kerusakan oleh para nelayan? Apakah fakta bahwa tidak ada seri Sociological Review Monograph yang ditulis oleh dan untuk kerang membuat perbedaan pada simetri kisah? Untungnya kita tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini sebelum kita melanjutkan analisis kita. yang diusulka. , enrolment . eperangkat strategi yang dijalankan untuk mendeynisikan dan menghubungkan peran yang telah dialokasika. , dan mobilisation . eperangkat metode untuk memastikan juru bicara bagi berbagai kolektivitas yang relevan itu representati. (Callon. AuSome elementsAy, p. 30 Harry Collins. Steven Yearley. AuEpistemological Chicken,Ay dalam Science as Practice and Culture, ed. Andrew Pickering (Chicago dan London: University of Chicago Press, 1. , p. 313, cat. kaki no. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Jika kerang adalah aktor yang sejajar dengan nelayan dan ilmuwan, maka sudut pandang kerang diperlukan dalam membangun pengetahuan tentang kerang. Bagi SSK tradisional dan epistemologi Kantian, hal ini menjadi pelik secara epistemik. Sementara SSK, menurut Collins dan Yearley, tidak akan bersandar pada kisah keterlibatan kerang, tetapi tetap pada penjelasan berpusatkan manusia mengenai keterlibatan kerang itu. Selain itu, jika kerang dapat ditarik via analogi sebagai sama-sama makhluk hidup, lantas bagaimana dengan benda-benda non-hidup, misalnya gelombang grativasi? Apakah gelombang gravitasi memiliki sebentuk sudut pandang? Jika kerang dikisahkan terlibat sebagai aktor, lantas bagaimana mengukur keterlibatannya itu secara metodologis?31 Callon dan Latour merespons, bahwa epistemologi yang diusung oleh SSK tradisional lewat Collins dan Yearley itu menempatkan ilmu pada AopengutubanAo . posisi yang tidak hakiki. Diskursus kajian saintiyk SSK lantas hanya berkisar pada spektrum satu dimensi sebagaimana Skema 2. Skema 2. Posisi dalam diskursus kajian sains versi SSK, dari kutub Alam ke kutub Masyarakat dengan term-term politis32 Pada Skema 2, dinamika kajian saintiyk dibatasi pada satu garis lurus. Jika kajian saintiyk menitikberatkan secara lebih besar pada aktivitas Alam dalam penyelesaian kontroversi, maka dikategorikan reaksioner, sebagaimana posisi realisme umumnya. Sebaliknya, jika penekanan pada aktivitas Masyarakat lebih besar, maka termasuk ke dalam konstruktivisme, atau radikal. 31 Collins dan Yearley. AuEpistemological Chicken,Ay pp. 32 Michel Callon. Bruno Latour. AuDonAot Throw the Baby Out with the Bath School! A Reply to Collins and Yearley,Ay dalam Science as Practice and Culture, ed. Andrew Pickering (Chicago Ae London: University of Chicago Press, 1. , p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 Jika demikian halnya, maka kajian sains sosial versi SSK, selalu berada pada permainan tarik tambang antara dua kutub ekstrem, yang oleh SSK sendiri dilabeli sebagai Aurealisme naturalAy dan Aurealisme sosial. Ay Realisme natural beranjak dari eksistensi objek-objek natural untuk menjelaskan yang sosial, atau masyarakat . osisi realism. Sementara realisme sosial, beranjak dari fondasi masyarakat untuk menjelaskan yang natural . osisi konstruktivism. Mengikuti tolok ukur tarik tambang itu. SSK berposisi pada realisme sosial dan Mazhab Paris (Latour dan Callo. pada realisme natural. Secara politis, dalam bingkai SSK, semua sosiolog seharusnya masuk ke dalam realisme sosial, dan secara satiris. Callon dan Latour menyebut diri mereka AupengkhianatAy . iposisikan ke dalam realisme natura. , sebab kembali ke yang natural untuk menyelesaikan Callon dan Latour sendiri melihat kemungkinan lain, atau semacam jalan ketiga, selain permainan kubu-kubuan yang sudah dipatok oleh SSK. Prinsip simetri mendudukkan status ontologis objek natural (AoalamA. dan objek sosial (AoartefakA. sebagai setara. Dalam arti itu, alam dan masyarakat merupakan Auhasil kembarAy dari aktivitas saintiyk. AuKami menyebutnya pembangunan jaringan,Ay tandas Callon dan Latour. Auatau kolektif benda-benda, atau kuasi-objek,34 atau uji coba gaya. Ay35 Jika diskemakan, maka tawaran Callon dan Latour itu akan tampak sbb. 33 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay pp. 34 AoKuasi-objekAo merupakan term yang dibuat oleh Latour untuk menampilkan sifat ambigu pada suatu entitas yang biasa kita tunjuk secara pasti sebagai AoobjekAo milik suatu disiplin ilmu, entah itu ranah AoalamAo atau AososialAo. Dalam kalimat Latour sendiri. Au. ari produksi dan sirkulasi merekalah sesuatu berasal yang terlihat agak seperti Alam Aodi luar sanaAo, dan juga agak seperti Masyarakat Aodi atas sana. AoAy (Latour. AuOne More Turn after the Social Turn: Easing Science Studies into the Non-Modern World,Ay dalam The Social Dimensions of Science, ed. Ernan McMullin [Notre Dame: Notre Dame University Press, 1992. , p. Atau, kategorisasi yang ditetapkan atasnya sebagai AoobjekAo, tidak cukup akurat. bisa saja pada lain waktu, atau karena dinamika pergerakannya, sesuatu itu berganti-gantian sebagai AoobjekAo dan Aosubjek. Ao(AuOne More Turn,Ay AoKuasi-objekAo itu, bisa juga disebut Aokuasi-subjekAo (Latour. We Have Never Been Modern, trans. Catherine Porter [Cambridge: Harvard University Press, 1993. , p. 35 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Skema 3. Tolok ukur . AuParisAy pada tolok ukur satu dimensi SSK dengan gerak berbelok dua dimensi36 Pada Skema 3, tolok ukur satu dimensi . eperti pada Skema . bisa menempatkan segala jenis entitas di sepanjang garis objek-subjek . Tolok ukur dua dimensi memungkinkan untuk menempatkan objek dan subjek sesuai dengan tingkat stabilisasi juga . aris lintangny. , dengan demikian setiap entitas mempunyai dua koordinat. Dari setiap entitas, tidak hanya soal entitas itu AoalamiAo atau AososialAo . iproyeksikan dalam AAo dan BAo pada tolok ukur SSK) tetapi juga AostabilAo atau Aokurang/ tidakAo . iproyeksikan dalam AAy dan BAy pada tolok ukur AuParisA. Selanjutnya, simetri diposisikan dengan membuat belokan sembilan puluh derajat pada tolok ukur satu dimensi SSK. Dari gerak berbelok itu dimensi kedua ditentukan. Titik 0 adalah asal usul dimensi vertikal yang berada tepat di pusat dimensi lain. Semua studi yang berada di puncak stabilisasi gradien adalah studi yang mengasumsikan distingsi apriori antara alam dan masyarakat. Semua studi yang berada di bawah stabilisasi gradien tidak membuat asumsi tentang asal entitas. Jika SSK dijadikan soal ujian, yang memulai dari asumsi apriori tentang yang sosial untuk menjelaskan alam, maka gerak sembilan puluh derajat SSK akan berhenti pada titik reaksioner. Pada dasarnya, semua yang bergerak dari apriori tertutup . aik sosial maupun ala. termasuk reaksioner. 36 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. 37 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 Skema 3 juga mengungkapkan kekeliruan membaca fenomena yang disebabkan oleh pengutuban ekstrem satu dimensi, seperti tampak pada gerak zigzag titik A yang diproyeksikan dalam AAo. Proyeksi AAo akan selalu dibaca sebagai reaksioner berdasarkan tolok ukur SSK. Sebaliknya, titik B yang diproyeksikan dalam BAo akan dibaca dalam lensa realisme sebagai konstruktivisme sosial. Fenomena yang hendak ditunjukkan oleh Callon dan Latour adalahAiselain bahwa kutub ekstrem SSK tidak dapat membingkai alam dan masyarakat secara konkretAibaik itu alam maupun masyarakat dihasilkan . sebagai produk sampingan dari sirkulasi kuasi-objek. Itulah relasi simetri, yang luput dari pembacaan realisme natural dan realisme sosial. Skema 4. Stabilisasi Gradien: Garis vertikal 0PAo menunjukkan tingkat stabilitas dari titik tidak stabil 0 ke paling stabil PAo39 Skema 4 serupa dengan Skema 3 dengan fokus pada stabilisasi gradien pada garis vertikal 0PAo. Setiap entitas didudukkan pada dua koordinat, garis horizontal dan garis vertikal. Lokus dikotomi Kantian, sama seperti pada Skema 3, satu garis lurus yang berhenti pada salah satu kutub: ke kutub subjek/kolektif atau ke kutub objek, dengan hanya satu nilai Sementara garis vertikal, merupakan tingkat stabilisasi dari 0 ke PAo, dari ketidakstabilan ke stabilitas. Latour mengangkat kasus Aumikroba Pasteur,Ay40 yang jika diposisikan pada skema itu, bergerak dari 0 ke P, 38 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay pp. 39 Latour. AuOne More Turn,Ay p. 40 Dalam The Pasteurization of France Latour, trans. Alan Sheridan dan John Law (Cambridge Ae London: Harvard University Press, 1993. Latour menerangkan tentang proses suatu pengetahuan atau teori itu bisa diterima secara luas dengan contoh kasus AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. maka observasi para pengamat sains akan terbelah, antara Audua transenteori mikrobiologi Pasteur. Latour memeriksa tiga jurnal periodik: Revue Scientiyque. Annales de lAoInstitut Pasteur, dan Concours Mydical yang terbit dari 1870 sampai 1919. Kurun waktu yang ditentukan itu merupakan periode sebelum dan sesudah teori Pasteur disambut, bertepatan juga dengan peristiwa Revolusi Prancis sampai Perang Dunia I serta wabah inyuenza yang mematikan. Latour memeriksa rujukan-rujukan yang mengacu pada penyakit, biologi, kesehatan. Pasteur, mikroba, dokter, dan higienitas. Lewat kajian semiotik. Latour meneliti tentang AointerdeynisiAo antar-aktor tanpa menaruh peringkat dan praanggapan . terhadap aktor-aktor itu . soal status ontologis AoaktorAo sebagai manusia atau non-manusia dikesampingka. Dari sana mau diperlihatkan keterjalinan akrab antara AuilmuAy dan AumasyarakatAy (Latour. The Pasteurization of France, pp. Salah satu hasil temuan Latour ialah kemunculan nama-nama besar pada suatu masa, termasuk AoLouis PasteurAo yang selama ini dianggap sebagai aktor tunggal yang berpentas di panggung sejarah, ternyata sama sekali tidak demikian. Terdapat banyak aktor yang terlibat di dalamnya (The Pasteurization of France, pp. Pada faktanya. Pasteur hanyalah satu dari sekian mikrobiolog pada masa itu, yang gagasan atau teorinya tidak dihiraukan oleh orang banyak. Latour mendeskripsikan secara kompleks, bagaimana teori Pasteur itu dikenal. Pada masa itu masyarakat umum memahami bahwa semua penyakit disebabkan oleh mikroba. Dalam hal ini, pakar higienitas adalah aktor berikutnya yang mendapat lampu sorot Pakar higienitas mestinya adalah juruselamat di tengah penyamarataan serampangan antara AomikrobaAo dan AopenyakitAo itu. Sekalipun demikian, gagasan generik itu rupanya tidak cukup berdaya untuk meyakinkan masyarakat dan pemerintah agar mendukung agenda para pakar itu dalam rangka membangun proyek sanitasi (The Pasteurization of France, pp. 34, 54-. Para pakar itu kemudian terhubung dengan Pasteur dan tim kecilnya, yang disebut Latour Aokaum PasteurianAo . he pasteurian. , yang mulai mendapatkan animo masyarakat. Dengan mengabaikan semua prosedur ilmiah untuk menguji dan memvalidasi suatu teori, mereka menerima mentah-mentah Aoteori PasteurAo, asalkan Pasteur sebagai seorang pakar mikrobiologi, mengayrmasikan pandangan awam bahwa semua penyakit disebabkan oleh mikroba. Sekalipun, latar belakang penelitian Pasteur pada saat itu . tau yang dilakukannya sebelum 1. , tidak berhubungan sama sekali dengan penyakit infeksi (The Pasteurization of France. Bahkan, tim peneliti Pasteurian itu tidak memiliki resep obat, batang tubuh teori soal penyebab wabah, statistik, atau pengertian tentang determinasi tubuh sosial untuk mensanitasi dirinya sendiri (The Pasteurization of France, p. Lebih jauh, agar pernyataan sang pakar. Pasteur, menerima Aosentuhan akhirAo yang legit. , maka diciptakanlah semacam propaganda oleh kaum Pasteurian, terkait penularan tuberkulosis yang waktu itu sudah mewabah dan menelan banyak korban, untuk menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat. Bakteri tuberkulosis, dapat menyebar salah satunya lewat susu yang tidak di-pasteurisasi. Latour menyitir pernyataan Armaingaud, sang propagandis Pasteurian: AuDalam perjuangan kami melawan phthisis A Kami memiliki elemen kesuksesan yang sebagian besar kurang dalam perjuangan melawan skrofula dan tuberkulosis lokal: itu adalah motif yang berasal dari kepentingan pribadi, penularan . etak miring penuli. yang membuat kita semua saling bergantung satu sama lain, yang kaya maupun yang miskin, yang kuat maupun yang lemahAy (The Pasteurization of France, p. Di atas semuanya. Latour meneruskan, mikroba itulah sebetulnya yang telah AomenciptakanAo seorang Pasteur. Armaingaud telah membangun Aualiansi dengan mikrobaAy, yang terhubung dengan ketakutan masyarakat atas penularan penyakit oleh bakteri tuberkulosis. Dalam situasi melemahnya jaringan sosial pada waktu itu, hanya mikroba yang dapat mengeratkan seluruh masyarakat dalam satu perasaan bersama. Dengan menarik. Latour mengomentari: AuMikroba meng- DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 densi alternatifAy, yakni: Aualam yang bukan buatan sosial kita. yang bukan berasal dari alam. Ay41 Upaya untuk menjelaskan pencapaian Pasteur akan mengarah pada kondisi alamnya, atau kondisi masyarakatnya, atau campuran intermediasi dari alam murni dan masyarakat murni, atau bergerak manasuka antara Aunaturalisme ekstremAy dan Ausosialisme ekstrem. Ay Berdasarkan penjelasan itu, dapat dibayangkan pergerakan titik berhenti pada AAoBAo. Seandainya pergerakan menuju baris CD, atau bahkan EF . an bukan AAoBA. , maka posisi kini terjepit di tengah, dan penjelasan lain tentang Aumikroba PasteurAy itu menjadi terbuka, atau belum pasti. Apakah mikroba itu entitas hidup, entitas kimia, entitas ysik, atau entitas sosial? Apakah alam cukup besar untuk menampung mikroba yang kuat dan tak terlihat itu?42 Problem dengan tolok ukur satu dimensi ialah, fenomena AoterbukaAo dan Aobelum pastiAo itu akan direduksi, atau diproyeksikan ke dalam satu garis horizontal subjek-objek, sebagaimana dijelaskan Latour. Tentu saja, seperti yang ditunjukkan diagram dengan baik, jika saya sekarang memproyeksikan keadaan bangunan alam/masyarakat yang saya pelajari ke tolok ukur satu dimensi, analisis saya akan benar-benar disalahpahami. CAo akan diartikan sebagai munculnya aktan alami yang stabilAimikroba non-manusia memainkan peran besar dalam cerita sayaAi, dan DAo akan diartikan bahwa saya memberikan terlalu banyak aktivitas kepada kelompok sosial yang stabil . tau terlalu hubungkan kita melalui penyakit, tetapi mereka juga menghubungkan kita, melalui yora usus kita, dengan hal-hal yang kita makanAy (The Pasteurization of France, p. Secara makro, mikroba itu sanggup mempersatukan seluruh elemen masyarakat. Secara mikro, mereka hadir di dalam tubuh kita. Dengan demikian, dari penelitian Latour lewat pendekatan interdeynisi, dengan memeriksa distribusi kekuasaan antar-aktor, sebetulnya mikrobalah aktor yang mempunyai kekuasaan . paling besar. Dalam permainan bahasa ala Latour, mikrobalah yang mem-pasteur-kan Pasteur, dan bukan Pasteur yang mem-pasteurkan mikroba. Dalam arti itu, pengetahuan itu diproduksi tidak terpisah dari jalinan antar-aktor yang sangat kompleks di dalam sejarah . an bukan hanya aktor tunggal dengan satu nama besa. , serta bersifat politis dalam artis seluas-luasnya, mencakup agen manusia dan non-manusia. Termasuk di dalamnya, miliaran mikroba takkasat mata yang AomahakecilAo. AomahahadirAo, lagi AomahakuasaAo. 41 Latour. AuOne More Turn,Ay p. Aua nature that is not of our social making. a society that is not of natural origin. Ay 42 Latour. AuOne More Turn,Ay p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. sedikit tergantung pada siapa yang meninjau buku in. Lebih buruk lagi, jika EF diproyeksikan pada jalur yang sama. EAo dan FAo sekarang dilihat sebagai solusi plin-plan untuk masalah realisme versus konstruktivisme!43 Sementara itu, setiap entitas apa pun, termasuk di dalamnya Aumikroba Pasteur,Ay memiliki banyak sekali kemungkinan ontologis, sehingga peran ylsafat dalam kajian sains adalah memeriksa berbagai kemungkinan Mikroba yang AusamaAy bisa saja dekat dengan E, lalu ke F, lalu ke BAo, lalu ke AAo, lalu ke C, tergantung pada sejarahnya. Entitas yang AusamaAy bisa menempati banyak negara, menjadi tidak murni sosial, lalu murni sosial, lalu murni alami, lalu tidak murni alami. Aktan yang AusamaAy akan imanen dan kemudian transenden, dibuat dan tidak dibuat, dibuat dan ditemukan manusia, diputuskan dan dipaksakan secara bebas kepada kita sebagai Fatum. 44 Untuk menggunakan kata lain, esensi menjadi eksistensi dan kemudian esensi lagi. Kuasi-objek dapat bergantian dan menjadi objek, atau subjek, atau kuasi-objek lagi atau menghilang sama sekali. Minat ylosoys utama dari studi sains, saya berpendapat, adalah membiasakan kita untuk mempertimbangkan variabel pelbagai ontologi tersebut. Setiap aktan memiliki tanda tangan asli dalam diagram di atas dan Anda akan memiliki banyak AumikrobaAy karena ada titik di sepanjang lintasan. Lebih jauh. Callon dan Latour memaparkan empat butir utama perdebatan kedua kutub ekstrem. Melaluinya, posisi simetri yang tidak pernah diambil oleh kedua kubu yang bertikai itu menjadi lebih jelas, sekalian menjawab soal status non-manusia: kerang, gelombang gravitasi, atau Pertama, tolok ukur horizontal menghasilkan hanya dua repertoar agensi tetap: Auobjek material kasarAy dan Ausubjek manusia sosial intensional. Ay Gelombang gravitasi, kerang, inskripsi, atau penutup pintu dibaca sebagai kombinasi atau percampuran dari dua repertoar. Sebaliknya, jika 43 Latour. AuOne More Turn,Ay p. 44 AoTakdirAo, atau Aonasib. Ao 45 Latour. AuOne More Turn,Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 kedua titik sumbu ditarik bersamaan, maka terdapat gradien tak terbatas dari agensi yang bukan kombinasi keduanya. Kedua, tolok ukur horizontal berpusat pada manusia atau berpusat pada alam dengan pergantian di antara keduanya. Sumbu vertikal berpusat pada aktivitas pergeseran agensi, termasuk aktan, atau agensi non-manusia. Pergeseran aktan . ebagaimana kajian sains pada umumny. tidak terburu-buru dideynisikan sebagai distingsi antara AutindakanAy dan AuperilakuAy sebagaimana tampak pada ketergesaan gagasan sosial SSK. Deynisi AoaktanAo dalam bingkai semiotik, tanpa konotasi antropomorysme, menjadi pijakan bagi aktivitas saintiyk. Ketiga, sepanjang sumbu horizontal, penjelasan bergerak dari salah satu atau kedua kutub ke tengah. Dalam hal ini, alam dan masyarakat menjadi penyebab yang digunakan untuk menjelaskan konten aktivitas saintiyk. Dalam kerangka acuan lain, penjelasan dimulai dari sumbu vertikal. Berkebalikan dari kerangka horizontal, kerangka vertikal memosisikan aktivitas para ilmuwan, sekutu manusia dan non-manusia menjadi penyebabnya, sementara keadaan alam dan masyarakat adalah konsekuensinya. Kutub ekstrem alam dan masyarakat akan semakin tidak relevan, sebagaimana diangkat oleh Latour lewat kisah Pasteur. Keempat, terdapat dua bingkai berbeda dalam mendeynisikan halhal yang dapat diamati. Pada bingkai pertama, ilmuwan sosial dapat berangkat dari deynisi hubungan sosial dan keadaan masyarakat yang tak dapat diamati untuk menjelaskan kerja saintiyk, atau secara bergantian menggunakan keadaan alam yang tak dapat diamati. Pada bingkai kedua, yang merupakan tawaran Callon dan Latour, satu-satunya hal yang dapat diamati . ukan hubungan sosial ataupun hal-ha. Aidan kerja keilmuan itu dimulai dari siniAiadalah Aujejak yang ditinggalkan oleh objek, argumen, keterampilan, dan token yang beredar melalui yang kolektif. Ay Latour menjadikan pendokumentasian sirkulasi pelacakan jaringan . etwork-tracin. atas token, pernyataan, dan keterampilan sebagai prinsip pertama studi sains, sekaligus menjadi dasar bagi metode empiris. 46 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay pp. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Selanjutnya. Callon dan Latour menjawab keberatan atas dimasukkannya agen non-manusia ke dalam kerangka penjelasan aktivitas saintiyk, dengan mengekspos empat landasan keliru atas keberatan itu. Pertama, realitas penelitian saintiyk di lapangan menunjukkan, agen nonmanusia seperti kerang yang digambarkan oleh Callon, terlibat di dalam aktivitas itu. Para ilmuwan ituAibertentangan dengan keyakinan steril bahwa mereka sedemikian berjarak dengan entitas non-manusiaAiterusmenerus berusaha supaya kerang itu ikut campur dalam perdebatan di antara mereka, dan dengan para nelayan. Mereka bukanlah kaum realis naif yang sekadar menunggu fakta-fakta itu tersingkap sendiri, melainkan terlibat dan melibatkan pelbagai agensi, manusia dan non-manusia. Posisi yang tepat bagi peneliti atau analis data ialah dengan tidak mengambil posisi ontologis tertentu, atau Callon dan Latour menyebutnya, posisi Ausimetris agnostik. Ay Jika posisi ontologis ditetapkan dari awal, sebut saja Aukonstruktivisme sosialAy seperti SSK, maka posisi itu akan menyetir arah dan kesimpulan pendokumentasian sejak awal. Misalnya, kerang tidak ikut campur sama sekali di dalam perdebatan, tetapi komunitas ilmuwanlah yang membangun pengetahuan tentang kerang berdasarkan interes mereka terhadapnya. Dengan demikian hal ini melawan intuisi saintiyk dan metode empiris. Dengan kata lain, pencapaian penelitian saintiyk, sebut saja objektivitas, tidak ditolak oleh Latour. Yang ditolaknya ialah objektivitas versi dualisme modern. Objektivitas dalam arti sekonkret-konkretnya itulah yang ingin disasar oleh Latour, bahwa kehadiran objek itu per se mampu menolak . o objec. semua yang diberitahukan tentang-nya. Dalam semangat itu, seorang ilmuwan yang mengejar objektivitas akan menempuh jalan langka nan mahal, keberanian untuk menantang dan 47 Empat landasan keliru mengikuti penjelasan Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay pp. 48 Latour. AuWhen Things Strike Back: A Possible Contribution of AoScience StudiesAo to the Social Sciences,Ay British Journal of Sociology vol. 51, no. , p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 mempertanyakan penemuannya sendiri, bahkan protokol serta interes tertentu di antara kalangannya. Kedua, konsekuensi dari kemuskilan untuk mengambil satu dari sekian banyak posisi ontologis, sambil tetap memungkinkan peneliti atau analis melakukan kerja dokumentasi, ialah dengan memperluas prinsip Semua kosakata yang digunakan untuk manusia, dapat digunakan juga untuk non-manusia. Perluasan kosakata ini bukan berarti perluasan intensionalitas pada hal-hal . pada panpsikism. , atau perluasan mekanisme . pada manusia, melainkan cara melukiskan hal-hal yang mesti disematkan dalam penelitian. Dalam arti itu, prinsip simetri yang memungkinkan seekor kerang terlibat dalam percakapan ilmiah, tidaklah berarti bahwa kerang itu membagikan sudut pandang-nya sendiri. Tuntutan Aosudut pandang kerangAo itu sendiri dapat ditanggapi sebagai . embali ke Skema . cara pandang sumbu horizontal satu dimensi . engutuban ekstrem subjek-obje. dengan tanpa menimbang sumbu vertikal . egala aktivitas dan dinamika saintiyk oleh pusparagam agens. Kosakata simetri merupakan solusi . yang tersedia, sampai ditemukan cara lain . tau teknolog. yang lebih baik dalam melibatkan agensi non-manusia. Atau, suatu metabahasa yang dapat memahami mereka. Penciptaan kosakata simetri menjadi tugas dasar kajian sains dan teknologi ke depan, sebagai mandat penting untuk meminimalisasi bias dan pengabaian . tau perendaha. agensi non-manusia, serta segala efek Ketiga, pandangan dikotomi Kantian, bahwa segala urusan yang berbau alam seperti gelombang gravitasi sebaiknya diserahkan kepada ilmuwan alam sepenuh-penuhnya, sebagai sang penutur maksud dari gelombang gravitasi itu, perlu ditanggapi. Callon dan Latour menerangkan, praktik saintiyk tidak memungkinkan untuk selalu menyangkali kehadiran non-manusia dalam mencapai konsensus . ealisme natura. , atau pada lain sisi, menyerahkan pada gelombang gravitasi untuk menyelesaikan perselisihan demi kebaikan bersama . ealisme sosia. Dengan kata lain, 49 Latour. AuWhen Things Strike Back,Ay p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. selalu ada persilangan, pelintasan, percampuran, atau interseksi, di antara kedua ranah, sehingga pemilahan kaku atas status agensi sebagai objek epistemik, seperti gelombang gravitasi sebagai sepenuhnya alam . leh Collins dan SSK) sementara itu, hewan . ang juga secara keliru dikategorikan oleh para ylsu. seperti kerang adalah Aososial,Ao menurut Latour, sudah selalu menunjukkan ambiguitas, atau kekeliruan. Oleh karena itu, tawaran Callon dan Latour ialah, bukan kembali pada AuPerpecahan BesarAy ala Kantian, melainkan mengubah skenario, dengan menaruh perhatian pada redistribusi peran aktan. Jadi mengapa tidak memodiykasi skenario sekali dan untuk selamanya? Non-manusia adalah pihak dalam semua perselisihan kita, tetapi alih-alih menjadi hal-hal yang tertutup, beku, dan terasing dalam diri mereka sendiri . hings-in-themselve. yang bagiannya telah dibesar-besarkan atau diremehkan, mereka adalah aktanAiterbuka atau tertutup, aktif atau pasif, liar atau jinak, jauh atau dekat, tergantung pada hasil interaksiA. Pilihannya sederhana: apakah kita bertukar ganti di antara dua absurditas atau kita mendistribusikan kembali peran aktan . ctantial role. etak miring penuli. Ini bukan masalah untuk menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang jelas. Intinya metodologis. Jika kita ingin mengikuti kontroversi melalui dan untuk menjelaskan kemungkinan penyelesaian perdebatan dengan cara lain selain meminta bantuan kepada sosiolog Edinburgh, maka harus diterima bahwa distribusi peran dan kompetensi harus dibiarkan terbuka . etak miring Callon dan Latour menolak bahwa penekanan pada distribusi peran dan kompetensi yang terbuka pada setiap agensi mengimplikasikan pelenyapan perbedaan hakiki di antara agensi. Itu hanya berarti bahwa secara metodologis, penundaan apriori dan penyejajaran serta perluasan status ontologis agensi itu dimungkinkan dalam praktik saintiyk. Kami tidak menyangkal perbedaan. kami menolak untuk mempertimbangkan mereka secara apriori dan meng-hierarki-kan . o hierarchiz. mereka sekali dan untuk selamanya. Seekor kerang tidak terlahir sebagai 50 Latour. AuOne More Turn,Ay p. 51 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay pp. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 ia menjadi kerang . etak miring penuli. Sebuah paralel dapat ditarik dengan studi tentang kelas sosial atau perbedaan gender. Siapa yang berani mempromosikan gagasan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan atau antara kelas pekerja dan kelas menengah ke atas?52 Keempat, jika dikotomi antara ilmu alam dan ilmu sosial menjadi tidak lagi senjang bagi perolehan pengetahuan ilmiah, termasuk di dalamnya gagasan menyangkut interaksi antar-agensi membuat keduanya saling terjalin erat, maka pandangan yang beranggapan bahwa hanya ilmuwan alam yang memiliki akses khusus atas alam berdasarkan kredensi akademik, sementara ilmuwan sosial tidak diizinkan untuk memasuki ranah alam dan tetap pada dunia manusia, sudah selayaknya ditinggalkan. AuSumbu vertikal diagram kami,Ay tulis Callon dan Latour. Auyang memungkinkan kami untuk fokus bukan pada manusia atau non-manusia melainkan pada aktivitas menggeser, mendelegasikan, dan mendistribusikan kompetensi. Ay53 Sumbu vertikal itu (Skema 3 dan . , yang dikenai belokan sudut sembilan puluh derajat sebagaimana penetapan garis meridian, membuat pengutuban satu dimensi itu terasa usang, dan membuka cakrawala baru, yaitu interaktivitas antar-agensi. Dalam kaitan itu, tulisan tentang pintu (Latou. dan kerang (Callo. bertujuan Aubukan untuk mengatakan bahwa kerang memiliki kekuatan suara dan akan menggunakannya, atau bahwa penutup pintu berhak atas manfaat sosial dan upacara pemakaman, tetapi bahwa kosakata umum dan ontologi umum harus dibuat dengan melintasi kesenjangan dengan meminjam istilah dari ujung yang satu untuk menggambarkan yang lain . etak miring penuli. Ay54 Kosakata umum dan ontologi umum itu, yang dituduhkan oleh Collins sebagai penjelasan prosaik atau karangan bebas . , adalah sebuah jembatan yang diperlukan bagi kedua ranah, yang pada kenyataannya tidak sepenuhnya dapat dipisahkan. Dalam arti itu pula, kedua ranah tak 52 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. 53 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. 54 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. bertuan itu, bukan hanya privilese kedua jenis ilmuwan, atau milik mereka yang Callon dan Latour sebut sebagai AuilmuwanAy dan Auinsinyur,Ay melainkan juga Auorang luar. Ay AuKeindahan mempelajari sains dalam tindakan adalah bahwa selalu ada cukup perbedaan pendapat untuk membiarkan orang luar masuk dan menawarkan diri sebagai pengamat tanpa kredensi saintiyk cara untuk menangkap kekacauan sains. Ay55 Pengalaman Latour sendiri, sebagai seorang sosiolog yang melakukan kajian etnograys di sebuah laboratorium riset di Salk Institute (San Diego. Californi. atau orang luar pada saat itu, dapat berkontribusi dalam menawarkan sudut pandangnya. 56 Kajian saintiyk sendiri, kerap melibatkan para partisipan yang notabene orang luar yang menjadi salah satu data dalam mengonstruksi fakta. Bahkan, kehidupan sosial sendiri, jika tanpa partisipasi . ukan hanya orang luar melainkan jug. entitas non-manusia, seperti mesin dan artefak, maka sebagaimana Callon dan Latour menyitir Shirley Strum. Aukita akan hidup seperti babon. Ay 57 KESIMPULAN DAN TAWARAN Pertanyaan kepada Latour. AuApakah Anda percaya kepada realitas?Ay dijawab oleh Latour dengan yakin: AuYa. Ay Impresi di balik pertanyaan itu memang mengandung konteks perdebatan akademik yang panjang. Latour dianggap tidak lagi mempercayai realitas, yang dalam disiplin ylsafat, ia terkesan menolak ontologi, dan juga epistemologi. Dalam uraian di atas, dapat disimpulkan, yang disanggah oleh Latour adalah ontologi dan epistemologi yang sudah ditetapkan patokannya secara kaku oleh paradigma modern. Skema 1 menunjukkan kesepakatan paradigma modern, yang menyekat setiap bidang dengan rigid, dan tidak memungkinkan pelintasan, bahkan percampuran. Latour berhasil memperlihatkan problem epistemologi modern, yaitu dikotomi AoalamAesosialAo dan AosubjekAeobjekAo yang 55 Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. 56 Latour dan Woolgar. Laboratory Life, pp. Callon dan Latour. AuDonAot Throw the Baby Out,Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 terungkap pada pemisahan bidang keilmuan, terutama dalam cara kita mengolah dan memperoleh pengetahuan. Skema 2 memperlihatkan problem satu dimensi menyangkut posisi epistemik yang AososialAo dan yang Aoalam,Ao yang diciptakan oleh the sociology of scientiyc knowledge (SSK), salah satu mazhab dalam sosiologi, yang menjadi salah satu rekan debat Latour. Latour menolak proposal SSK yang bergerak dari yang AososialAo bahwa pengetahuan itu dikonstruksi secara sosial, lalu membaca itu dalam konteks ilmuwan AoalamAo yang mempunyai interes politis, sebagai hanya sebatas gerak linear satu arah dalam spektrum satu dimensi. Skema 3 mendemonstrasikan kurang memadainya kutub alam dan sosial ala SSK yang sangat politis. Kutub alam-sosial dianggap tidak cukup untuk memproduksi pengetahuan yang lebih konkret, karena tetap mempertahankan relasi biner. Latour menambahkan satu garis vertikal dan memberikan putaran sembilan puluh derajat, untuk menunjukkan realitas lain pada garis dua dimensi, yang disebutnya Aonon-modernAo atau Aoa-modern. Ao Dalam paradigma dua dimensi, kutub AoalamAesosialAo tidak lagi tegas, termasuk kutub AosubjekAeobjekAo juga menjadi Aocair,Ao AoterbukaAo dan Aobelum pasti. Ao Skema 4 menampilkan kembali dinamika pengutuban subjekAeobjek yang semakin kurang relevan dalam garis dua dimensi. Dari Skema 1-4. Latour memperlihatkan dua bentuk pengutuban ala modern yang disebabkan oleh pagar Kantian itu, kini menjadi AolunakAo dan saling terhubung secara Aomultiseluler. Ao Di sini Latour menawarkan paradigma, atau sebentuk posisi epistemik, yang dinamainya Aonon-modernAo atau Aoa-modern. Ao Paradigma yang lunak dan multiseluler itu, penulis sematkan nama baru pada judul. Auepistemologi moluska,Ay yang terinspirasi oleh pernyataan Latour sendiri yang menyebut istilah Aumoluska referensiAy . mollusc of referenc. merujuk pada Aobingkai referensiAo paradigma jaringan aktornya. 58 Latour. AuOn actor-network theory: A few clariycations,Ay Soziale Welt vol. 47, no. , p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Epistemologi moluska Latour itu mau memperoleh pengetahuan tentang realitas saintiyk, sekonkret-konkretnya. Dalam istilah Latour, mau mencapai Aurealisme yang realistisAy dan Auobjektivitas yang objektif,Ay dengan menunda apriori dan membuka pelbagai kemungkinan ontologis atas agensi manusia dan non-manusia, aktor dan aktan. Dari sana, praktik saintiyk untuk memperoleh pengetahuan, akan menjalankan metode empiris, mendokumentasikan, melakukan translasi, yang dalam hal ini, hermeneutika59 digunakan dalam analisis, dengan berlandaskan pada prinsip simetri. Kosakata yang digunakan pada manusia dapat digunakan juga pada non-manusia. suatu kosakata yang umum dengan ontologi yang umum. Dalam paradigma Latour, kerja keilmuan untuk mengonstruksi pengetahuan saintiyk, melibatkan banyak kolaborasi, yang bukan hanya dengan para ilmuwan sebagai pakar di bidangnya, melainkan juga Aoorang-orang luar,Ao dalam kelindan dengan ruang laboratorium, sejarah, politik, dan hal-hal/benda-benda . Dalam arti itu, epistemologi moluska itu, mencakup baik itu AurealismeAy maupun AukonstruktivismeAy dalam percampuran di antara keduanya, yaitu suatu Aurealisme konstruktif,Ay atau Aukonstruktivisme realis,Ay serta semacam epistemologi sosial-alamiah. Karena realitas yang mau disasar sekonkret-konkretnya itu, bukan hanya dikembalikan pada struktur pikiran ideal, bukan pula hanya pada konstruksi AofenomenaAo yang tampak lewat pencerapan indrawi, melainkan juga pada realitas sosial-alamiah yang saling terhubung, yang turut berpartisipasi dalam mengonstruksi pengetahuan. Sebagaimana seekor kerang itu bukan dilahirkan sebagai kerang, melainkan ia menjadi seekor kerang. Ia tidak menyebut dirinya kerang. AoKerangAo adalah bahasa manusia, sebuah konstruksi antarmanusia . ukan sekadar subjek rasional terisolas. , atau Aokonstruksi sosial,Ao sekaligus pula, kerang itu terlibat dalam menghadirkan . tau, mengundurka. diri dalam konstruksi pengetahuan tentang dirinya itu. Ia menjadi seekor ke59 Dalam AuComing out as a philosopher,Ay Social Studies of Science vol. 40, no. , p. Latour mengakui bahwa ia mendapat pengaruh dari pemikiran seorang teolog Kristen. Rudolf Bultmann, mengenai Aujaringan penafsiranAy . network of translatio. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 rang, oleh kerja para ilmuwan, nelayan, kita semua. Dan, oleh kerang itu Bruno Latour tampaknya berhasil memperlihatkan bahwa batas-batas kaku yang dibangun oleh paradigma modern dalam mendekati ilmu pengetahuan itu perlu dilintasi. Filsafat ilmu, khususnya epistemologi, perlu dilihat dalam perspektif lebih lunak dan multiseluler, bahwa cara perolehan pengetahuan itu, bukan hanya subjektif, melainkan juga sosial dan alamiah, serta perpaduan, kolase dan koalisi di antara semuanya, termasuk di dalamnya keterlibatan aktor dan aktan. Latour menolak epistemologi modern sambil menawarkan epistemologi non-modern. Dengan catatan. Latour terkesan agak berlebihan dalam mengelak penyematan AoepistemologiAo itu secara lugas pada paradigma non-modernnya karena ia mengidentikkan term itu dengan Aomodern,Ao paradigma yang ditantangnya. Namun apakah itu berarti bahwa Latour menolak visi ganda epistemologi, bahwa pengetahuan atas realitas itu dikonstruksi dari dalam diri manusia sebagai subjek pengamat, sekaligus realitas itu menampakkan diri kepada manusia yang mengamati itu? Sepertinya pembacaan reaktif atas Latour akan ke arah sana. Akan tetapi, jika mengacu pada keempat skema di atas, tampaknya Latour masih mengakui visi ganda itu, dengan melihatnya pada spektrum lebih kompleks. Aodua dimensi,Ao sehingga terjadi peririsan tak steril, atau hibrida antara AurealismeAy dan Aukonstruktivisme. Ay Visi ganda itu juga terungkap dalam tahapan akhir pemikiran Latour yang tertuang dalam An Inquiry sebagai ringkasan perjalanan pemikirannya selama seperempat abad. 60 Di dalamnya. Latour yang mendapat pengaruh dari yOtienne Souriau, mengangkat gagasan ylsuf tersebut mengenai AuinstaurasiAy . Konsep instaurasi mengungkapkan relasi antara AopengadaAo satu dan yang lain. Status pengada itu sendiri bersifat Aoterbuka. Ao 60 Latour. An Inquiry, p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Instaurasi tampak sebagai perpaduan antara struktur epistemik, ontik, dan e. tik, yang terungkap lewat tiga syarat. Pertama, jika suatu tindakan itu digandakan. Ini semacam Aovisi ganda,Ao atau Aostruktur ganda,Ao keterkaitan antara subjek dan objek, yang dalam interaksi di antara keduanya, sang subjek itu bertindak atas objek yang pada gilirannya, objek itu juga bertindak pada dirinya sendiri. Di sini tampak perbedaan antara visi ganda epistemologi tradisional dan Aoaksi gandaAo instaurasi. Pada yang pertama, objek dipahami secara pasif, sedangkan pada yang kedua, pengada lain itu bertindak aktif. Kedua, jika vektor atau arah dari tindakan itu tidak pasti. Ketiga, jika tindakan itu dapat dikualiykasikan sebagai baik atau buruk. Latour mengutip contoh dari Souriau sendiri untuk menggambarkan tiga struktur aksi tersebut. Umpama seorang seniman yang membuat suatu karya seni. Seniman itu tidak pernah seorang kreator, tetapi instaurator. Karya seni itu tidak akan pernah ada, tanpa sang seniman. Tetapi jika diajukan pertanyaan kritis: AuApakah saya adalah pembuat patung itu, ataukah patung itu adalah pembuat dirinya sendiri?Ay maka terkandung Aoaksi gandaAo pada pertanyaan itu, yang mengarah pada kemungkinan terbuka. Pada akhirnya, patung yang ter-instaurasi itu, dapat dinilai, entah sebagai karya yang gagal, atau malah sebuah mahakarya. 62 Demikian Latour menampilkan bahwa batas-batas antara epistemologi dan ontologi . ermasuk aksiolog. tidaklah absolut. Latour sendiri memosisikan paradigma non-modern, atau a-modern itu, sebagai pandangan yang masih melihat harapan, bahwa AurasionalismeAy dan Ausosialisme,Ay serta AurealismeAy dan AukonstruktivismeAyAidapat terhubung bersama. Termasuk pula, hard sciences, semisal ysika teoretis, di dalamnya, yang tidak terbangun tanpa keterhubungan antarjaringan. Sekalipun. Latour tidak cukup vulgar mendudukkan relasi antara peneliti dan objek-objek takkasat mata, misalnya pada ysika zarah, sebut saja 61 Latour. An Inquiry, 157-159. 62 Latour. An Inquiry, p. 63 Latour. An Inquiry, p. 64 Bdk. Latour. AuOn actor-network theory,Ay p. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 quarks, atau persamaan matematika tertentu yang mendahului objek kosmologis yang diandaikan ada, seperti pada realisme struktural. Secara prinsipiel, sains murni tetap dimungkinkan seperti yang ditunjukkan lewat dalil-dalil, proposisi-proposisi, dan pepatah-pepatah pada bagian kedua dari The Pasteurization of France, yaitu AuIrreductionsAy . 3a, 153-. Dalam Auprinsip ke-tak-dapat-direduksi-kanAy . rinciple of irreducibilit. Latour menandaskan pada butir paling pertama: Au1. Tidak ada, yang dengan sendirinya, dapat direduksi atau tidak dapat direduksi menjadi hal lain. Ay66 Sesuatu yang tidak dapat direduksikan itu, bisa apa saja, sejauh ia memuat daya resistansi dan asosiasi. Hal ini masih sejalan dengan gagasan Latour menyangkut AoaktorAo dan AoaktanAo yang sudah diterangkan di depan. 2 Tidak ada perbedaan antara AunyataAy dan Autidak nyataAy. AunyataAy dan AumungkinAy. AunyataAy dan Auimajiner. Ay Sebaliknya, terdapat segala perbedaan yang dialami di antara mereka yang bertahan lama dan mereka yang tidak, mereka yang melawan dengan berani dan mereka yang tidak, mereka yang tahu bagaimana bersekutu atau mengisolasi diri mereka sendiri dan mereka yang tidak. Dalam hal ini, dapat dikatakan Aopersamaan matematikaAo dan Aohipotesis ysika,Ao atau suatu Aoentitas ysisAo yang bersikeras untuk tidak mau pergi, terus mengganggu dan AomenghantuiAo sang teoretikus ysika dalam keterhubungan dengan segenap lingkup/lingkungan penelitiannya, termasuk di dalamnya. Selain itu. Latour membedakan posisinya dari mazhab pascamodern, yang menolak seluruh bingkai . dikotomi modern secara reaktifAitanpa menawarkan sesuatuAinamun tetap berada di dalam dikotomi itu, bahkan membuatnya menjadi . 65 Lih. ulasan menawan lagi mendalam mengenai Aorealisme strukturalAo dan oposisinya dalam Karlina Supelli. AuBingkai Kurus Realisme Struktural Epistemik,Ay Diskursus vol. 12, no. , pp. 66 Latour. The Pasteurization of France, p. Au1. Nothing is, by itself, either reducible or irreducible to anything else. Ay 67 Latour. The Pasteurization of France, p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Kontras dengan pascamodern. Latour justru mau meretas jalan, supaya keterhubungan, asosiasi itu, dapat terjalin. Akan tetapi, ke arah manakah pencapaian pengetahuan ilmiah itu hendak didorong oleh Latour? Pelintasan ranah-ranah itu, yang memampangkan ambiguitas dan ketidakpastian secara radikal, dengan penundaan apriori ontologis, sebagaimana disadari oleh Latour sendiri, menuntut kesabaran untuk berjerih lelah dan napas lebih panjang. Apakah dengan begitu. Latour sedang mengajak untuk memasuki tanah tak bertuan sebagaimana ia menyebutnya? Apakah kita dipanggil untuk menjelajahi suatu terra incognita, sebuah dunia antah-berantah, yang belum dipetakan secara kartograys, sama sekali? Jika paradigma non-modern yang diusung oleh Latour memang bermaksud demikian, bukankah kita mesti kembali ke titik nol dalam upaya mencapai pengetahuan epistemik? Atau, secara paradoksal, tidak mampukah epistemologi moluska yang lunak dan multiseluler itu, untuk meretas paradigma modern? Namun tampaknya, pembacaan atas Latour yang lebih generous, akan ke arah lain. Seorang tidak perlu membuang bayi bersama air keruh paradigma modern. Dia hanya perlu mengurasnya, lalu mengisinya kembali dengan air baru, yang sebetulnya sudah lama ada: non-modern. Akan tetapi, tidakkah sang bayi yang di dalam bak mandi itu, sudah pernah menikmati air mandi, baik itu yang AobaruAo maupun yang AokeruhAo? Bahwasanya yang sudah dilewati sampai hari ini, oleh manusia yang hidup kini dan di sini itu, tidak dapat diganti begitu saja seperti air mandi bayi, seolah-olah ia bukan makhluk historis. Oleh sebab itu, paradigma non-modern itu, mungkin memerlukan suatu terminologi baru, yang sesuai dengan kenyataan yang sudah dijalaninya sampai saat ini, yaitu kemodern-an itu. Dalam epistemologi moluska, penulis mengusulkan istilah metamodern,69 alih-alih non-modern . ika Latour mengizinkanny. Melalui isti68 Latour. We Have Never Been Modern, p. 69 Ada beberapa literatur yang menggunakan istilah Aometa-modernAo sebagai suatu konsep, atau rintisan teori, misalnya Meta Modern Era (NIPC, 2018 . ) karya Shri Mataji Nirmala Devi. Metamodernism: Historicity. Affect, and Depth After Postmodernism (Row- DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 lah Aometa-modernAo itu, kesadaran manusia yang hidup pada saat ini sebagai Aomakhluk modernAo tidak disingkirkan. Juga, kenyataan bahwa pernah ada suatu masa sebelum modern, atau sesudahnya . tidak Sekaligus pula, struktur eksistensi70 manusia sebagai pengada hidup itu bisa memberikan jarak seperlunyaAibaik itu kepada yang nonmodern, modern, maupun pasca-modernAisekalipun tidak tercerabut sepenuhnya, karena dia hidup di dalamnya. man & Littleyeld, 2. yang disunting oleh Robin Van Den Akker. Alison Gibbons, dan Timotheus Vermuelen. The Listening Society: A Guide to Metamodern Politics. Vol. 1 (Metamoderna ApS, 2. dan Nordic Ideology: A Guide to Metamodern Politics. Vol. (Metamoderna Aps, 2. karya Hanzi Freinacht . ama pena dari Daniel Gyrtz dan Emil Ejner Frii. Metamodernism: The Future of Theory (University of Chicago Press, 2. karya Jason Ananda Josephson-Storm. Penulis memakai istilah tersebut sesuai maksud tersendiri di atas. 70 Robin van den Akker dan Timotheus Vermeulen memakai lema Austruktur perasaanAy . tructure of feelin. untuk melukiskan kondisi eksistensial masyarakat di belahan dunia Barat yang muncul pada 2000-an sebagai reaksi atas pascamodernisme, serta terhubung dengan tahap lanjut kapitalisme global. AoCitarasaAo metamodernisme ini juga menyebar ke Amerika Selatan. Asia dan Eropa Barat, sebagai Aulogika budaya dominanAy yang mencakup estetika, politik, dan seni. Sebagai sebuah term. Aometamodern. Ao digunakan secara beragam mulai dari puisi eksperimental, kajian teknologi, ysika, ekonomi, matematika, dan spiritualitas Timur. Konsepsi menyangkut Aostruktur perasaanAo oleh van den Akker dan Vermeulen bukan suatu manifesto, gerakan sosial, atau ylsafat, melainkan lebih kepada suatu reaksi kegamangan yang diungkapkan sebagai Aukontradiksi-kontradiksi produktifAy. Auketegangan yang membaraAy. Auformasi-formasi ideologisAy. AuketidakmampuanA. memerangi populisme xenofobia muncul dalam pikiranAy, sikap yang jelas untuk Autidak merayakan memudarnya postmodernAy dan Autidak mendorong agenda metamodernAy (Metamodernism: Historicity. Affect, and Depth After Postmodernism, ed. Robin van den Akker, dkk. [LondonAeNew York: Rowman & Littleyeld Int. , 2. , pp. Dalam konteks semacam itu. Aostruktur perasaanAo dimaknai oleh van den Akker dan Vermeulen dengan menyitir Raymond Williams, sebagai Ausuatu sensibilitas, suatu sentimen yang sedemikian meresap sehingga disebut strukturalAy dan sensibilitas itu mencakup kepekaan generasi atau periode tertentu sebagai suatu kualitas khusus yang muncul dari pengalaman sosial [Metamodernism, pp. Kualitas AokeberkalaanAo itu, digambarkan lewat kata meta yang memuat tiga makna. Audengan atau di tengah-tengahAy. Audi antaraAy dan AusesudahAy (Metamodernism, pp. Penulis menggunakan istilah Aostruktur eksistensiAo pada gagasan metamodern di atas tidak dengan maksud sebagaimana Aostruktur perasaanAo pada van den Akker dan Vermeulen yang bersifat reaksioner dan berpangkal eurosentrisme. Struktur eksistensi yang dimaksudkan oleh penulis, sebagai kapasitas eksistensial manusia untuk mengambil jarak ke dalam dan ke luar dirinya, termasuk dalam kepekaan AokeberkalaanAo ruang-waktu. Kepekaan itu memungkinkan Aosetiap masaAo terpampang di hadapan Aomanusia metamodernAo itu secara bersamaan, bukan sekadar sebagai suatu spektrum sebagaimana diilustrasikan oleh Van den Akker dan Vermeulen sebagai Aogerak pendulumAo satu dimensi (Metamodernism, p. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Dia hidup di Aoruang antaraAo . etaxis, in-between-nes. sebagai makhluk meta-modern, yang tidak perlu memulai dari nol, melainkan mengakses seluruh keterhubungan antara non-, pasca-, atau pos-pasca- modern, sebagai Aobingkai bersamaAo dalam menyusun dan membentuk pengetahuan Sebuah bingkai bersama yang lunak, tidak keras dan kaku, atau dipatok mati dalam kerangka dikotomi absolut. Ia AomelunakkanAo . erelatifkan dan merelasika. absolutisme biner pada epistemologi tradisional. Juga, ia bersifat Aomultiseluler,Ao71 yakni: . Auterdiri atas banyak sel,Ay dalam arti, banyak aktor dan aktan, yang saling terhubung dalam jaringan ontologi terbuka, yang turut serta dalam memintal pengetahuan dan . Aubanyak mengandung ruang yang kosong,Ay dalam arti, keterhubungan itu akan bergerak tak pasti ke berbagai arah, menyediakan beraneka kemungkinan lain dalam kajian ilmu, termasukAiyang telah dikumpulkan oleh Latour dalam An InquiryAipelbagai Aomodus eksistensi,Ao berikut ketersediaan jalur epistemik yang pusparagam. Dengan demikian, epistemologi dapat terus direntang batas-batasnya, berziarah melintasi ranah, wahana, juga masa, dan menemui dirinya sebagai epistemologi moluska. DAFTAR RUJUKAN Callon. Michel. AuSome elements of a sociology of translation: domestication of the scallops and the yshermen of St Brieuc Bay. Ay The Sociological Review vol. 32, no. : 196-233. Callon. Michel. Bruno Latour. AuDonAot Throw the Baby Out with the Bath School! A Reply to Collins and Yearley,Ay in Science as Practice and Culture, ed. Andrew Pickering, pp. Chicago dan London: University of Chicago Press, 1992. Collins. Steven Yearley. AuEpistemological Chicken,Ay in Science as Practice and Culture, ed. Andrew Pickering, pp. Chicago. London: University of Chicago Press, 1992. Dolwick. Jim S. AuAoThe SocialAo and Beyond: Introducing Actor-Network Theory. Ay Journal of Maritime Archaeology, vol. 4, no. : 21-49. 71 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima. DISKURSUS. Volume 20. Nomor 1. April 2024: 98-134 Greimas. Courtys. Semiotics and Language. An Analytical Dictionary. Trans. Larry Crist, et al. Bloomington: Indiana University Press, 1982 . Hacking. Ian. The Social Construction of What? CambridgeAeLondon: Harvard University Press, 1999. Latour. Bruno. Steve Woolgar. Laboratory Life: The Construction of Scientiyc Facts. Princeton. New Jersey: Princeton University Press, 1986 . Latour. Bruno. AuThe Powers of Association. Ay The Sociological Review vol. 32, no. : 264Ae280. AuOne More Turn after the Social Turn: Easing Science Studies into the Non-Modern World,Ay in The Social Dimensions of Science. Ernan McMullin, 272-292. Notre Dame: Notre Dame University Press, 1992a. AuPostmodern? No. Simply Amodern! Steps Towards an Anthropology of Science. Ay Study in History of Philosophy and Science vol. 3, no. : 145-171. AuWhere are the Missing Masses? The Sociology of a Few Mundane Artifacts,Ay in Shaping Technology/Building Society: Studies in Sociotechnical Change, ed. Wiebe E. Bijker. John Law, pp. MIT Press, 1992c. The Pasteurization of France. Trans. Alan Sheridan. John Law. CambridgeAeLondon: Harvard University Press, 1993a . We Have Never Been Modern. Trans. Catherine Porter. Cambridge: Harvard University Press, 1993b . AuOn actor-network theory: A few clariycations. Ay Soziale Welt 47, no. : 369-381. AuDo You Believe in Reality?Ay News from the Trenches of the Science Wars,Ay in Bruno Latour. PandoraAos Hope: Essays on the Reality of Science Studies, pp. CambridgeAeLondon: Harvard University Press, 1999. AuWhen Things Strike Back: A Possible Contribution of AoScience StudiesAo to the Social Sciences. Ay British Journal of Sociology vol. : 107-123. AuThe Promises of Constructivism,Ay in Chasing Technoscience: Matrix for Materiality, ed. Don Ihde dan Evan Selinger, pp. Bloomington. Indianapolis: Indiana University Press, 2003. AoEpistemologi MoluskaAo Bruno Latour (Kevin Juwon. Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-TheOxford University Press, 2005. AuComing out as a philosopher. Ay Social Studies of Science vol 40, no. : 599-608. An Inquiry into Modes of Existence: An Anthropology of the Moderns. Trans. Catherine Porter. Cambridge. London: Harvard University Press, 2013. Pickering. Andrew. Science as Practice and Culture. ChicagoAeLondon: University of Chicago Press, 1992. Sarkar. Sahotra and Jessica Pfeifer . The Philosophy of Science: An Encyclopedia. LondonAeNew York: Routledge, 2006. Schmidgen. Henning. Bruno Latour in Pieces. Trans. Gloria Custance. New York: Fordham University Press, 2015 . Sokal. Alan. AuTransgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity. Ay Social Text, no. 46/47 . Sokal. Alah. AuA Psyicist Experiments with Cultural Studies,Ay Lingua France. Mei/Jun . https://physics. edu/faculty/sokal/ lingua_franca_v4/lingua_franca_v4. Html. Van den Akker. Robin and Timotheus Vermeulen. AuPeriodising the 2000s, or the Emergence of MetamodernismAy. In Metamodernism: Historicity. Affect, and Depth After Postmodernism, ed. Robin van den Akker, et al, 1-21. LondonAeNew York: Rowman & Littleyeld Int. , 2017.