BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial P-ISSN: 2685-6700 E-ISSN: 2685-6719 https://jurnal. id/index. php/biyan CAPACITY BUILDING AGEN PEMULIHAN INTERVENSI BERBASIS MASYARAKAT (IBM) DALAM PENANGGULANGAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DOI: https://doi. org/10. 31595/biyan. Soraya Lessy* Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung. Indonesia ayyalessy@gmail. Bambang Indrakentjana Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung. Indonesia Bambangindra320@yahoo. Yuti Sri Ismudiyati Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung. Indonesia Yuti. ismu@gmail. Journal History Received: 29 August 2024 Accepted: 20 September 2024 Orcid Number Author1 :0009-0002-5327-5529 Author2 :0009-0007-0987-7684 Author2 :0009-0004-7321-9713 *Corresponding Author ABSTRACT The increasing abuse of Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (NDPS) in Jayagiri Village. Cianjur Regency, represents a significant issue that necessitates comprehensive intervention from the government and community elements. In addressing the issue of NDPS abuse in Jayagiri Village, in 2022, the National Narcotics Agency of Cianjur Regency, in collaboration with the village government, established a Community-Based Intervention (CBI) in Jayagiri Village as part of the Desa Bersinar program. Community participation is crucial in efforts to combat NDPS abuse. Therefore, the CBI recovery agent was established. Following its formation, this recovery agent received capacitybuilding to enhance knowledge and skills in implementing CBI activities/services. This study aims to develop technology engineering for capacity building for CBI recovery agents, focusing on the primary concept of assisting CBI recovery agents in implementing activities/services in the field, as well as community participation in program evaluation. This study employs a qualitative approach using the Participatory Action Research (PAR) method. Data collection involves documentation studies, observations, interviews, and Focus Group Discussions (FGD). Additionally, two tools or methods supporting FGD are utilized: Methodology Participatory Assessment (MPA) and Technology of Participation (ToP). The results indicated that the design of capacity building for CBI recovery agents effectively enhanced their knowledge and skills. Furthermore, community participation in providing input or feedback on CBI activities/services was effective for the future development of the CBI program. The achieved outcome was that the implementation of CBI activities and services became more optimal and of higher quality. KEYWORDS: Capacity Building. Recovery Agents. Community-Based Intervention. Mentoring. ABSTRAK Penyalahgunaan Narkotika. Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) yang semakin marak di Desa Jayagiri Kecamatan Sindangbarang Kabupaten Cianjur merupakan permasalahan yang membutuhkan penanganan secara maksimal dari pemerintah dan unsur masyarakat. Dalam mengatasi permasalahan penyalahgunaan NAPZA di Desa Jayagiri, pada tahun 2022 BNN Kabupaten Cianjur bersama pemerintah desa membentuk Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) di Desa Jayagiri yang merupakan bagian dari program Desa Bersinar. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, maka dibentuklah agen pemulihan IBM. Setelah dibentuk, agen pemulihan ini mendapatkan pengembangan kapasitas untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan kegiatan/layanan IBM. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rekayasa teknologi capacity building agen pemulihan IBM dengan mengusung konsep utama yakni kegiatan pendampingan terhadap agen pemulihan IBM dalam melaksanakan kegiatan/layanan di lapangan, serta partisipasi masyarakat dalam evaluasi program. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Participatory Action Research (PAR). Pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi, observasi, wawancara. Focus Group Discussion (FGD), serta menggunakan 2 alat atau metode yang mendukung FGD, yaitu Methodology Participatory Assessment (MPA) dan Technology of Participation (ToP). Partisipan penelitian yakni 14 orang agen Author correspondence email: ayyalessy@gmail. Available online at: https://jurnal. id/index. php/biyan Copyright . 2024 by BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Capacity Building Agen Pemulihan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) dalam Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA pemulihan IBM. Analisis data menggunakan metode interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain capacity building agen pemulihan IBM efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan IBM. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam memberikan masukan atau feedback terhadap kegiatan/layanan IBM efektif untuk pengembangan program IBM ke depannya. Outcome yang dicapai adalah pelaksanaan kegiatan dan layanan IBM menjadi lebih optimal dan berkualitas. KATA KUNCI: Capacity Building. Agen Pemulihan. Intervensi Berbasis Masyarakat. Pendampingan. PENDAHULUAN Peredaran dan penyalahgunaan NAPZA merupakan permasalahan urgent yang dihadapi berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Permasalahan ini menjadi perhatian banyak pihak karena karena telah merusak sendi kehidupan dalam bermasyarakat juga bernegara. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa pada tahun 2023 jumlah prevalensi penyalahgunaan NAPZA setahun pakai sebanyak 1,73% yang artinya dari 10. 000 orang penduduk Indonesia berumur 15-64 tahun terdapat 173 orang diantaranya terpapar NAPZA selama satu tahun terakhir atau setara dengan 3,33 juta jiwa. Sedangkan jumlah prevalensi pernah pakai penyalahguna NAPZA sebanyak 2,20%, yang artinya 000 orang penduduk Indonesia berumur 15-64 tahun terdapat 220 orang diantaranya pernah terpapar NAPZA atau setara dengan 4,24 juta jiwa. Survei ini juga menemukan bahwa di perkotaan, angka prevalensi pernah pakai mengalami peningkatan pada kelompok umur 15-24 tahun dan 50-64 tahun. Sedangkan pada wilayah perdesaan, jumlah pernah pakai dan setahun pakai tertinggi terjadi pada kelompok umur muda yaitu 15-24 tahun, artinya kelompok umur muda mempunyai risiko terpapar NAPZA lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok umur lebih tua . Data BNN dalam Indonesia Drug Report Tahun 2023 menyebutkan bahwa jumlah tahanan dan narapidana kasus narkotika di Provinsi Jawa Barat sebanyak 10. 409 jiwa yang terdiri dari pengedar 6. 034 jiwa, dan penyalahguna 4. 375 jiwa . Berdasarkan data dari BNN Kabupaten Cianjur, terdapat 192 jiwa yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap NAPZA di tahun 2022. rehabilitasi sebanyak 94 jiwa, dan yang diproses hukum sebanyak 98 jiwa. Data kecamatan dan desa yang terjadi penyalahgunaan dan peredaran gelap NAPZA tahun 2022, yaitu dari 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur, 22 kecamatan terindikasi NAPZA, sedangkan dari 360 desa/kelurahan, 73 desa terindikasi NAPZA . Kecamatan Sindangbarang merupakan salah satu wilayah rawan peredaran NAPZA. Berdasarkan data BNN Kabupaten Cianjur, data penyalahguna NAPZA di Kecamatan Sindangbarang pada tahun 2021 sebanyak 14 orang dengan rincian 10 orang mendapatkan rehabilitasi dan 4 orang yang ungkap kasus. Sedangkan pada tahun 2022 terdapat 4 orang penyalahguna NAPZA yang direhab di BNN kabupaten Cianjur. Desa di Kecamatan Sidangbarang yang tinggi angka penyalahgunaan NAPZA adalah Desa Jayagiri. Secara Geografis. Desa Jayagiri ini berada di lintas selatan, pesisir pantai dan menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi warga dari luar daerah, sehingga menjadi tempat strategis dan rawan dijadikan bandar untuk mengedarkan NAPZA. Beberapa tahun terakhir jumlah korban penyalahguna NAPZA di Desa Jayagiri semakin meningkat. Berdasarkan data dari BNN Kabupaten Cianjur, pada tahun 2021 terdapat 1 orang penyalahguna NAPZA dari Desa Jayagiri yang mendapatkan rehabilitasi, sedangkan pada tahun 2022 terdapat 4 orang yang direhabilitasi. Berdasarkan data dari pendamping rehabilitasi sosial di Desa Jayagiri, sampai saat ini tercatat jumlah korban penyalahguna NAPZA yang telah direhabilitasi mencapai lebih dari 50 orang. Lebih dari 80% korban penyalahguna adalah remaja berusia 15-25 tahun. Jenis NAPZA yang paling banyak digunakan adalah sabu-sabu, dan obat-obatan seperti aprazolam, trihexyphenidyl, tramadol, dextromethorphan, riclona, eksimer, dan lain-lain. Oleh sebab tingginya angka penyalahgunaan NAPZA di Desa Jayagiri. BNN Kabupaten Cianjur bersama pemerintah desa membentuk Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) di Desa Jayagiri yang merupakan bagian dari program Desa Bersinar. Program IBM itu sendiri adalah program intervensi di bidang rehabilitasi terhadap penyalahgunaan NAPZA yang dirancang dari masyarakat, untuk masyarakat, dan oleh masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas dan potensi yang ada di masyarakat sesuai dengan kearifan lokal . Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA terutama pada tingkat risiko penyalahgunaan ringan. Untuk itu, dari unsur-unsur masyarakat dibentuk suatu agen perubahan . gent of chang. yang dinamakan agen pemullihan IBM. Agen pemulihan ini kemudian diberikan peningkatan kapasitas untuk dapat mampu melaksanakan identifikasi, skrining, serta memberikan layanan intervensi bagi penyalahguna NAPZA dengan tingkat kategori ringan. Setelah dibentuk agen pemulihan IBM Desa Jayagiri, mereka kemudian dibekali dengan pengembangan kapasitas berupa pelatihan yang difasilitasi oleh BNN Kabupaten Cianjur. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Balai Desa Jayagiri selama 3 hari. Metode pelaksanaan pengembangan kapasitas adalah pemberian materi yang dilengkapi dengan modul dan studi kasus. Berdasarkan pelatihan tersebut diperoleh hasil evaluasi pre test dan post test dimana 50% peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah diberikan paparan materi, sedangkan 50% lainnya belum memahami materi dengan baik. Selain itu, kelemahan dari pengembangan kapasitas ini adalah tidak adanya kegiatan praktik langsung di lapangan, tidak adanya kegiatan pendampingan pasca pelatihan yang sustainable, tidak melibatkan masyarakat sebagai beneficiaries dari layanan IBM dalam kegiatan monitoring dan evaluasi, serta tidak dilaksanakannya evaluasi pelaksanaan kegiatan yang sistematis dan menyeluruh. 43 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Soraya Lessy, et al. Berdasarkan hasil asesmen pada saat praktikum Manajemen Pengubahan Komunitas ang dilaksanakan pada tahun 2023 di Desa Jayagiri Kecamatan Sindangbarang Kabupaten Cianjur, untuk meningkatkan layanan IBM maka perlu dilaksanakan pengembangan kapasitas bagi seluruh agen pemulihan IBM. Pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan IBM berdasarkan hasil asesmen masih sangat rendah, agen pemulihan IBM perlu untuk diberikan pengembangan kapasitas agar dalam pemberian layanan IBM dapat berjalan optimal dan tepat sasaran. Pendampingan dan monitoring secara berkelanjutan sangat diperlukan guna memberikan pembinaan kepada agen pemulihan dalam menajalankan tugas layanan IBM di masyarakat . Untuk merespon kebutuhan pengembangan kapasitas agen pemulihan IBM tersebut, maka peneliti merumuskan desain rekayasa teknologi capacity building agen pemulihan IBM. Desain ini mengusung konsep utama yaitu adanya kegiatan pendampingan yang sustainable dan pelibatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dan layanan IBM di lapangan. Selain itu, metode yang digunakan dalam capacity building juga dikembangkan dengan metode yang variatif seperti pelatihan dan benchmarking terhadap best practice dari lembaga yang telah unggul, serta adanya knowledge sharing diantara agen pemulihan atau peer education. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka fokus penelitian dirumuskan untuk memperoleh gambaran tentang pengembangan desain Capacity Building Agen Pemulihan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) dalam Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA di Desa Jayagiri Kecamatan Sindangbarang Kabupaten Cianjur. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian Participatory Action Reasearch (PAR). Dalam pekerjaan sosial. PAR adalah satu cara bagi pekerja sosial terlibat langsung bersama peserta sebagai mitra dalam proses menghasilkan pengetahuan dan mengubah masyarakat. Adapun dasar prinsip-prinsip PAR adalah perubahan sosial, partisipasi, kekuatan pengetahuan . , dan kolaborasi . Menurut Kemmis dan McTaggart, proses PAR merupakan siklus yang terus berkesinambungan sampai menghasilkan model atau perubahan atau teknologi yang diharapkan . Sehingga siklus rancangan penelitian pengembangan desain capacity building agen pemulihan ini terdiri dari refleksi desain awal, perumusan kebutuhan, perencanaan pengembangan, implementasi desain, dan evaluasi desain akhir. Pengembangan desain dikaji oleh peneliti secara kolaboratif dengan melibatkan partisipan yakni agen pemulihan IBM. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung melalui partisipan yang telah ditetapkan, yaitu 14 orang agen pemulihan IBM. Sumber data primer ditentukan secara purposive sampling, artinya terwakili sesuai dengan tujuan dari penelitian. Sedangkan sumber data sekunder diperoleh melalui studi literatur terhadap praktik-praktik baik, jurnal, berita, hasil penelitian, buku, dan publikasi yang relevan dengan penelitian. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji derajat kepercayaan . , uji keteralihan . , uji kebergantungan . , uji kepastian . Untuk memperoleh data yang valid dan akurat, dalam penellitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data di antaranya studi dokumentasi, observasi, wawancara. Focus Group Discussion (FGD), serta menggunakan dua alat metode yang mendukung FGD, yaitu Methodology Participatory Assessment (MPA) dan Technology of Participation (ToP). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif. Miles dan Huberman mengemukakan bahwa ada empat tahap dalam analisis data kulitatif yang dilakukan secara interaktif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi . Melalui penelitian ini dihasilkan desain akhir capacity building agen IBM. HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN AWAL CAPACITY BUILDING AGEN PEMULIHAN IBM Desain awal capacity building agen pemulihan IBM merupakan rancangan rekayasa teknologi hasil praktikum Manajemen Pengubahan Komunitas yang dilaksanakan pada tahun 2023 di Desa Jayagiri Kecamatan Sindangbarang Kabupaten Cianjur. Gagasan desain ini didasarkan pada permasalahan kurangnya pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan IBM. Agen pemulihan IBM perlu untuk diberikan pengembangan kapasitas yang komprehensif untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam melaksanakan kegiatan dan layanan IBM di lapangan, sehingga program IBM dapat berjalan optimal dan tepat sasaran . Desain capacity building agen pemulihan IBM mengusung konsep utama yakni adanya kegiatan pendampingan dan pelibatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan dan layanan IBM di Agen pemulihan IBM yang telah mendapatkan pengembangan kapasitas, kemudian mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya dalam program layanan IBM di lapangan yang didampingi oleh fasilitator. Masyarakat sebagai beneficiaries dari layanan IBM perlu dilibatkan dalam pengembangan program ini. Sebagai subyek pengembangan, masyarakat diperankan sebagai pemberi masukan dan feedback dalam monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan dan layanan yang dilaksanakan oleh agen pemulihan IBM. Selain itu, metode yang digunakan dalam capacity building agen pemulihan IBM juga dikembangkan dengan metode yang variatif seperti pelatihan dan benchmarking terhadap best practice dari IBM yang telah unggul, serta adanya knowledge sharing diantara agen pemulihan atau peer education. BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Capacity Building Agen Pemulihan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) dalam Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Gambar 1. Desain Awal Capacity Building Agen Pemulihan IBM . Pelatihan dan pendampingan sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan seseorang . Fasilitator kegiatan pengembangan kapasitas, juga berperan melakukan pendampingan dan pembinaan. Pendampingan atau yang sering disebut sebagai mentoring, adalah proses bimbingan yang diberikan oleh seorang mentor yang kompeten dan ahli dalam bidang tertentu. Mentor membagikan pengetahuan, pengalaman, dan berbagai kebutuhan kepada yang didampingi. Proses ini melibatkan kerja sama antara mentor dan mentee untuk menyelesaikan masalah, memberikan motivasi dan dukungan, mengeksplorasi serta memanfaatkan sumber daya dan potensi, serta menyediakan akses ke fasilitas dan layanan yang diperlukan. Biasanya, pendampingan bertujuan untuk meningkatkan mutu dan Secara umum, pendampingan dapat didefinisikan sebagai strategi interaksi dialogis antara mentor dan peserta untuk memahami dan memperbaiki kualitas secara bertahap. Selain itu, dasar teoritis yang mendukung keterbaruan desain ini diantaranya adalah menurut Isbandi yang menyatakan bahwa partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah dan potensi yang ada, membuat keputusan tentang solusi alternatif, serta berpartisipasi dalam evaluasi perubahan yang terjadi . Sedangkan menurut Sutarta salah satu bentuk partisipasi masyarakat adalah keterlibatan dalam evaluasi, misalnya masyarakat memberikan respon atau feedback saat kegiatan selesai dilaksanakan, feedback ini berfungsi sebagai masukan untuk kegiatan sejenis di masa depan . Metode pengembangan kapasitas dalam desain ini juga lebih variatif, selain mendapatkan pelatihan, agen pemulihan juga melaksanakan benchmarking terhadap best practice dari IBM yang telah unggul, serta adanya knowledge sharing diantara agen pemulihan atau peer education. Benchmarking adalah metode untuk mencari dan menerapkan best practice dari organisasi unggulan melalui berbagai tahap aktivitas. Menurut Tjiptono & Diana, secara umum manfaat yang diperoleh dari benchmarking adalah perubahan budaya, perbaikan kinerja, dan peningkatan kemanpuan sumber daya manusia . Knowledge sharing didefinisikan sebagai pertukaran pengetahuan antara dua individu. satu orang menyampaikan pengetahuan, sementara yang lainnya mengasimilasi pengetahuan tersebut. Fokus utama dari knowledge sharing adalah kemampuan individu untuk menjelaskan, mengkodekan, dan mengkomunikasikan pengetahuan kepada orang lain, kelompok, dan khususnya kepada organisasi. Proses ini dapat terjadi antara individu, di dalam dan antar tim, antar unit organisasi, serta antar organisasi . Penelitian oleh Nurcahyo & Wikaningrum di BPTP Jawa Tengah menunjukkan bahwa knowledge sharing berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Semakin tinggi tingkat knowledge sharing, semakin baik kinerja yang dihasilkan . KEBUTUHAN PENGEMBANGAN DESAIN CAPACITY BUILDING AGEN PEMULIHAN IBM Pada bagian ini, akan diuraikan hasil penelitian yang berkaitan dengan identifikasi kebutuhan pengembangan desain capacity building agen pemulihan IBM. Penelitian ini melibatkan serangkaian FGD dan wawancara mendalam dengan agen pemulihan IBM sebagai partisipan. Tujuan dari identifikasi ini adalah untuk menggali kelebihan, kelemahan, serta menemukan solusi pengembangan desain yang lebih baik. Tabel 1. Kelebihan. Kelemahan. Solusi Pengembangan Desain Capacity Building Agen Pemulihan IBM Kelebihan Desain Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan IBM. Metode capacity building yang Kelemahan Desain Kurangnya pemulihan dalam berperan aktif melaksanakan kegiatan dan layanan IBM di lapangan. 45 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Solusi Pengembangan Desain Melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan BNN dan IBM yang telah unggul. Soraya Lessy, et al. Adanya knowledge sharing dan peer education. Pendampingan yang sustainable. Pelibatan masyarakat dalam monitoring dan evaluasi, yaitu memberikan feedback terhadap kegiatan dan layanan IBM Perlu program capacity building yang Dibutuhkan anggaran yang cukup dalam implementasi program capacity building. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif dalam penyalahgunaan NAPZA. Menyusun perencanaan program Menyusun rencana kegiatan dan layanan IBM. Adanya bimbingan, konsultasi, dan pemberian motivasi dalam Pelibatan key person dalam Sumber: Hasil Olah Data Penelitian Tahun 2024 Identifikasi kebutuhan pengembangan desain yang didasarkan pada hasil penelitian yang diuraikan sebelumnya, disimpulkan bahwa desain awal capacity building agen pemulihan IBM layak untuk dikembangkan. Desain capacity building ini akan menjadi langkah yang progresif untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan IBM. Walaupun demikian, terdapat beberapa kebutuhan dari desain awal yang perlu untuk dilakukan perbaikan. Oleh karena itu, dilakukan identifikasi kebutuhan untuk memperbaiki kelemahan desain awal dengan mencari solusi pengembangan desain. Kebutuhan pengembangan desain yang pertama, yaitu pada tahap persiapan, selain melakukan koordinasi dan meminta dukungan dari BNNK Cianjur, perlu untuk melakukan koordinasi dengan IBM yang telah unggul dan sudah memiliki pengalaman untuk menjadi fasilitator dalam program capacity building ini. Pentingnya koordinasi dalam penelitian ini adalah untuk mendukung kelancaran program, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dari lembaga Dengan cara ini, juga bisa mengatasi masalah keterbatasan anggaran karena adanya sharing budget dengan lembaga mitra tersebut. Kebutuhan pengembangan yang kedua adalah pada tahap asesmen kebutuhan perlu ditambahkan poin penentuan kebutuhan capacity building. Hal ini didukung oleh pendapat Alfitri yang menyatakan bahwa penguatan kapasitas bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah serta memenuhi kebutuhan. Hal ini menunjukan bahwa penguatan kapasitas harus disesuaikan dengan kebutuhan . Pada desain ini, capacity building dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan agen pemulihan melalui asesmen kebutuhan, identifikasi kebutuhan, dan penentuan kebutuhan capacity building. Kebutuhan pengembangan yang ketiga adalah pada tahap perencanaan perlu diperhatikan dan ditambahkan aspek-aspek penting dalam perencanaan program. Dengan perencanaan yang baik dan sistematis, maka setiap anggota organisasi maupun pihak-pihak luar terkait mampu memahami apa yang harus dikerjakan, kapan waktu pengerjaannya, sumber daya apa yang diperlukan, dan apa yang menjadi target dari kegiatan tersebut. Kebutuhan pengembangan yang keempat adalah pada tahap pelaksanaan kegiatan dan layanan IBM, diuraikan setiap kegiatan dan layanan yang dilakukan. Kegiatan dan layanan IBM yang dilaksanakan terdiri dari sosialisasi, pemetaan, penjangkauan, skrining, penerimaan awal, layanan intervensi wajib dan layanan intervensi pilihan, serta bina Kebutuhan pengembangan yang kelima adalah dalam pendampingan perlu adanya bimbingan dan konsultasi, serta memberikan motivasi. Konsultasi merupakan metode untuk memberikan solusi yang dihadapi dalam suatu permasalahan baik yang berkaitan langsung dengan program maupun kegiatan atau layanan IBM yang dimiliki oleh agen pemulihan sebagai peserta konsultasi. Kegiatan ini sangat berorientasi kepada kebutuhan peserta karena materi yang dibahas sesuai dengan permasalahan apa yang dibawa oleh peserta. Kebutuhan pengembangan yang keenam adalah pelibatan key person dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Key person adalah orang yang mempunyai kepedulian terhadap NAPZA dan mempunyai pengaruh di masyarakat. Dengan melibatkan key person, maka masyarakat akan lebih mudah digerakkan, dan upaya peningkatan kesadaran masyarakat bisa lebih efektif, serta diharapkan akan berpengaruh sampai pada masyarakat mau berpartisipasi dalam memberikan feedback atau masukan terhadap kegiatan dan layanan IBM. PERENCANAAN PENGEMBANGAN DESAIN CAPACITY BUILDING AGEN PEMULIHAN IBM Tahap selanjutnya dari penelitian ini adalah penyusunan rencana pengembangan desain capacity building agen pemulihan IBM. Perencanaan dalam tahap ini diarahkan pada perencanaan implementasi pengembangan desain yang telah menjawab kebutuhan-kebutuhan akan penyempurnaan desain awal. Dalam tahap ini, dilakukan penyusunan berbagai komponen penting yang menjadi dasar dalam implementasi pengembangan desain capacity building tersebut. Perencanaan pengembangan desain dilakukan melalui FGD dan ToP. Komponen-komponen yang disusun antara lain nama desain, identifikasi kondisi objektif, tujuan yang ingin dicapai, tim kerja, dan kalender kegiatan. Hasil perencanaan pengembangan desain yang diperoleh sebagai berikut: Nama Desain Nama desain yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Capacity Building Agen Pemulihan IBM. Identifikasi Kondisi Objektif BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Capacity Building Agen Pemulihan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) dalam Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Kondisi objektif yang dimaksud adalah kondisi yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengembangan desain baik yang bersifat mendukung pengembangan ataupun justru menghambat. Berdasarkan hasil FGD yang disampaikan partisipan kondisi objektif dalam pengembangan ini dirangkum dalam tabel berikut: Tabel 2. Kondisi Objektif Pengembangan Desain Capacity Building Agen Pemulihan IBM Kondisi yang Mendukung Pengembangan Adanya modul layanan IBM yang dikeluarkan oleh BNN RI dan berlaku secara nasional. Pemberian materi pelatihan dilengkapi dengan studi kasus dan role play. Narasumber capacity building telah terstandar dan yang telah mengikuti TOT (Training of Trainer. Dukungan dari pemerintah desa Dukungan dari BNN dan IBM yang telah unggul. Kondisi yang Menghambat Pengembangan Keterbatasan sarana dan prasarana. Lokasi Desa Jayagiri yang jauh dari Cianjur. Aktivitas lain partisipan yang akan menjadi tim Kondisi fisik menurun saat berpuasa. Libur panjang hari raya idul fitri dan cuti bersama. Sumber: Hasil Olah Data Penelitian Tahun 2024 Dalam identifikasi kondisi objektif, temuan penelitian menyoroti pentingnya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan capacity building. Soemarmo menjelaskan fungsi utama dari sarana prasarana, yaitu menciptakan kenyamanan, memberikan kepuasan, mempercepat dan mempermudah proses kerja, serta meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil . Selain itu, temuan penelitian juga menyoroti pentingnya dukungan dari pemerintah, stakeholders, dan lembaga mitra terkait dalam kelancaran kegiatan capacity building. Literatur mengakui bahwa dukungan dan komitmen dari pemerintah serta kerja sama dengan stakeholders dan lembaga mitra terkait merupakan faktor kunci dalam memastikan kelancaran dan keberlanjutan program capacity UNDP menjelaskan bahwa pengembangan kapasitas menggunakan siklus lima tahap yang terdiri dari pelibatan stakeholders, penilaian kapasitas, penentuan respon pengembangan kapasitas, implementasi respon pengembangan kapasitas, dan evaluasi pengembangan kapasitas . Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pelibatan stakeholders merupakan tahapan utama yang penting dilaksanakan dalam kegiatan capacity building. Tujuan yang Ingin Dicapai Tujuan umum yang ingin dicapai melalui implementasi desain capacity building agen pemulihan IBM yakni mengembangkan kapasitas agen pemulihan IBM agar lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan dalam melaksanakan tugas dan peran dalam rangka mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan. Sedangkan tujuan khusus yakni sebagai berikut: . Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan IBM, . Meningkatkan motivasi dan semangat dalam diri agen pemulihan IBM, . Meningkatkan kinerja dan menguatkan kerja sama tim, . Meningkatkan kualitas layanan IBM. Tim Kerja Merealisasikan perencanaan pengembangan sampai dengan menghasilkan desain akhir tidak terlepas dari komitmen dan sumber daya manusia yang akan menjalankannya. Pada penelitian ini, melalui hasil diskusi dalam FGD, partisipan menyepakati pembentukan tim kerja yang akan mengembangkan desain capacity building agen pemulihan IBM. Tim kerja terdiri dari 14 orang partisipan yang merupakan agen pemulihan itu sendiri serta peneliti selaku peneliti. Hal ini mengingat proses penelitian dengan model PAR tidak terlepas antara peneliti dan partisipan. Kalender Kegiatan Kalender kegiatan disusun untuk memastikan kelancaran dan kesuksesan implementasi program. Kalender kegiatan berisikan jadwal pelaksanaan kegiatan yang dilakukan. Jadwal ini sebagai acuan tim kerja dan semua pihak terkait untuk mengatur dan menjalankan setiap tahapan program dengan tepat waktu dan efektif. Adapun jadwal kegiatan yang telah disepakati dalam kalender kegiatan yakni dilaksanakan selama 2 bulan mulai dari tahap persiapan, asesmen kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN DESAIN CAPACITY BUILDING AGEN PEMULIHAN IBM Persiapan Tahap persiapan terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu membangun komitmen agen pemulihan, koordinasi dengan BNN Kabupaten Cianjur, dan koordinasi dengan IBM yang telah unggul. Kegiatan yang pertama adalah membangun komitmen agen pemulihan IBM. Langkah pertama pada tahap ini adalah peneliti melakukan pendekatan kepada masyarakat dan agen pemulihan IBM. Hal bertujuan agar terciptanya trust building antara masyarakat dan agen pemulihan IBM dengan peneliti. Langkah selanjutnya adalah membangun komitmen agen pemulihan IBM. Komitmen ini mengacu pada kesepakatan dan kontribusi yang diberikan oleh agen pemulihan sebagai target group dalam program ini. Hasil komitmen agen pemulihan IBM ini merupakan dorongan yang kuat bagi keberhasilan program capacity building agen pemulihan IBM. Kegiatan yang kedua dalam tahap persiapan adalah melakukan koordinasi dengan BNN Kabupaten Cianjur. Koordinasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program capacity building agen pemulihan IBM yang dirancang, serta untuk mencapai hasil yang lebih maksimal dan dampak yang lebih besar dari capaian program. Selain itu, melalui koordinasi ini diharapkan dapat meningkatkan komitmen agen pemulihan IBM, 47 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Soraya Lessy, et al. karena agen pemulihan dan masyarakat melihat bahwa BNN mempunyai kewenangan dan kekuasaan terhadap pelaksanaan program IBM. Berdasarkan hasil koordinasi disimpulkan bahwa BNN Kabupaten Cianjur mendukung sepenuhnya program capacity building agen pemulihan IBM, dan memfasilitasi segala kebutuhan kegiatan mulai dari menyediakan narasumber, media pelatihan, sharing budget, serta menjembatani untuk berkoordinasi dengan IBM lain yang akan terlibat dalam kegiatan ini. Kegiatan yang ketiga adalah melakukan koordinasi dengan IBM yang Telah Unggul. Koordinasi yang pertama dilakukan dengan IBM Desa Songgom. Kesepakatan dari hasil koordinasi ini yakni IBM Desa Songgom bersedia menjadi fasilitator atau narasumber pada kegiatan pelatihan yang akan dilaksanakan. Selanjutnya, koordinasi dilakukan dengan IBM Desa Cipendawa. Adapun hasil koordinasinya yakni kegiatan benchmarking akan dilaksanakan di IBM Desa Cipendawa. Asesmen Kebutuhan Tahap asesmen kebutuhan terdiri dari tiga langkah, yaitu identifikasi kebutuhan capacity building, analisis kebutuhan capacity building, dan penentuan kebutuhan capacity building. Identifikasi kebutuhan capacity building dilaksanakan menggunakan teknik MPA. Tujuan identifikasi kebutuhan adalah untuk memperoleh informasi tentang kegiatan capacity building yang dibutuhkan oleh agen pemulihan IBM. Partisipan kegiatan ini adalah agen pemulihan itu sendiri. Berdasarkan hasil MPA disimpulkan bahwa kegiatan capacity building yang dibutuhkan adalah pelatihan, bimbingan teknis, studi banding atau benchmarking, magang, peer education. Adapun materi-materi yang dibutuhkan terdiri dari pengetahuan dasar NAPZA, peraturan yang mengatur tentang NAPZA, serta materi terkait kegiatan dan layanan IBM. Selanjutnya, analisis kebutuhan yang dilaksanakan melalui FGD. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menemukan kebutuhan capacity building yang menjadi prioritas. Dengan analisis kebutuhan ini akan membantu dalam memanfaatkan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien . aik waktu maupun biay. serta mencegah adanya kegiatan pelatihan yang tidak perlu. Analisis kebutuhan yang digunakan adalah analisis tingkat tugas dan analisis tingkat organisasi. Dari hasil analisis tingkat tugas disimpulkan bahwa tugas dan peran agen pemulihan adalah mendampingi dan memantau penyalahguna NAPZA tingkat ringan atau yang memerlukan bina lanjut melalui kegiatan dan layanan IBM. Sehingga pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh agen pemulihan adalah pengetahuan dasar NAPZA, peraturan yang mengatur tentang NAPZA, serta materi terkait kegiatan dan layanan IBM. Sedangkan analisis tingkat organisasi menunjukkan bahwa tersedia sumber daya baik dari dari internal maupun eksternal, sehingga program capacity building ini dapat dilaksanakan dengan efisien dan efektif. Penentuan kebutuhan capacity building merupakan penentuan substansi capacity building yang dibutuhkan oleh agen Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, disimpulkan bahwa kegiatan capacity building yang akan dilaksanakan yaitu pelatihan, benchmarking, dan peer education. Adapun materi-materi yang dibutuhkan terdiri dari pengetahuan dasar NAPZA, peraturan yang mengatur tentang NAPZA, serta materi terkait kegiatan dan layanan IBM, seperti bagaimana melakukan sosialisasi, pemetaan, penjangkauan, skrining, layanan intervensi wajib dan layanan intervensi pilihan. Perencanaan Pada tahap perencanaan, dilakukan penyusunan berbagai komponen penting yang menjadi dasar dalam pelaksanaan capacity building. Perencanaan dilakukan melalui FGD. Komponen-komponen yang disusun antara lain tujuan yang ingin dicapai, sasaran, pelaksana, langkah-langkah pelaksanaan dan timeline, metode dan media yang digunakan, rancangan evaluasi. Pelaksanaan Pelaksanaan capacity building dimulai dari minggu ketiga bulan Maret sampai dengan minggu keempat bulan April Seluruh rangkaian kegiatan pada tahap pelaksanaan dirincikan sebagai berikut: Pelatihan Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Desa Jayagiri selama 3 . hari dari tanggal 18 Ae 20 Maret 2024. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan agen pemulihan mengenai NAPZA serta meningkatkan keterampilan agen pemulihan dalam melaksanakan kegiatan dan layanan IBM agar program IBM dapat dijalankan sesuai standar dan prosedur yang telah ditentukan. Hari pertama kegiatan pelatihan pada tanggal 18 Maret 2024 dimulai jam 08. 30 Ae 16. 00 WIT. Narasumber/Fasilitator di hari pertama adalah dari BNN Kabupaten Cianjur. Materi yang disampaikan yaitu tentang Kebijakan dan Ruang Lingkup Intervensi Berbasis Masyarakat. Peraturan terkait Narkotika dan Rehabilitasi, serta Pengetahuan dan Prinsip Dasar Adiksi. Hari kedua pelatihan juga masih diisi dengan materi dari BNN Kabupaten Cianjur. Pada hari kedua ini materi yang diberikan tentang Kegiatan Agen Pemulihan (Sosialisasi. Pemetaan dan Penjangkaua. Perilaku Hidup Sehat. Pencegahan Kekambuhan. Keterampilan Hidup. Pengembangan Diri, serta Pengisian Buku Kegiatan dan Buku Pemulihan. Hari ketiga diisi dengan materi dari IBM Desa Songgom, yaitu tentang Komunikasi Efektif. Kelompok Dukungan Sebaya. Mengelola Pertemuan Keluarga, dan Skrining dan Roda Kehidupan. Pada pelaksanaannya kegiatan pelatihan ini diberikan dengan metode tetap muka secara luring, dengan pemberian materi yang didasarkan atas modul layanan IBM. Selain kegiatan penyampaian materi, terdapat juga kegiatan studi kasus dan role play yang bertujuan untuk lebih meningkatkan pemahaman agen pemulihan terhadap materi yang disampaikan dan nantinya mampu mengaplikasikannya di lapangan. Evaluasi Pre Test dan Post Test BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Capacity Building Agen Pemulihan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) dalam Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Pre test dilaksanakan di awal kegiatan pelatihan, sedangkan post test dilaksanakan di akhir kegiatan pelatihan. Instrumen pre test dan post test berisikan 25 soal pilihan ganda yang terdiri dari materi-materi yang telah peserta pelatihan dapatkan sebelumnya. Kedua uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah capacity building dapat membawa dampak perubahan pengetahuan dari peserta sebelum materi disampaikan dan sesudah materi Berdasarkan hasil pre test dan post test, 100% agen pemulihan yang mengikuti kegiatan pelatihan mengalami peningkatan pengetahuan. Hal ini berarti agen pemulihan menyimak dan memahami materi-materi yang disampaikan dengan baik. Dengan adanya peningkatan pengetahuan diharapkan dapat berdampak pada peningkatan keterampilan agen pemulihan saat melaksanakan tugas dan perannya di lapangan. Benchmarking Kegiatan Benchmarking dilaksanakan pada tanggal 22 Ae 23 Maret 2024 di IBM Desa Cipendawa. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan dalam melaksanakan kegiatan dan layanan IBM agar program IBM dapat dijalankan sesuai standar dan prosedur yang telah ditentukan. IBM Desa Cipendawa merupakan IBM yang telah unggul dan berpengalaman di Kabupaten Cianjur. Kegiatan benchmarking ini berjalan dengan sangat baik dan penuh antusias dari kedua belah pihak, baik IBM Desa Jayagiri maupun IBM Desa Cipendawa. Dan kegiatan ini juga disambut hangat serta mendapat dukungan materil maupun non materil dari pemerintah Desa Cipendawa dan BNN Kabupaten Cianjur. Dalam kegiatan ini dilaksanakan knowledge sharing terkait kegiatan dan layanan IBM dan upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA. Hal-hal yang dipelajari dari IBM Desa Cipendawa dalam kegiatan ini yaitu terkait pembagian tugas dan tanggung jawab agen pemulihan, perencanaan kegiatan IBM, pencatatan dan pelaporan, pengembangan SDM, jejaring kerja IBM, pendanaan IBM, kegiatan dan layanan IBM, program pasca rehabilitasi, evaluasi perkembangan klien, serta rujukan klien. Peer Education Tujuan kegiatan peer education adalah untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang atau sekelompok orang yang kegiatannya berlangsung diantara teman sebaya dalam hal ini adalah sesama agen Kegiatan peer education yang pertama dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2024. Agen pemulihan yang menjadi peer educator pada kegiatan pertama ini adalah saudara AN. Materi yang dibahas dalam kegiatan ini yaitu terkait Permasalahan NAPZA di Indonesia. Pengertian NAPZA. Penggolongan NAPZA Berdasarkan Jenis dan Efek. Tahap Penyalahgunaan. Ketergantungan. Dampak NAPZA. Bahaya Penyalahgunaan NAPZA, dan Pencegahan NAPZA. Dalam kegiatan ini dilaksanakan knowledge sharing dan diskusi di antara agen pemulihan. Selain itu, juga dibahas terkait kegiatan dan layanan IBM yang akan dilaksanakan, serta kendala-kendala yang sedang dihadapi untuk dicari solusinya. Kegiatan peer education ini berjalan dengan lancar, serta direncanakan akan dilaksanakan secara rutin. Pelaksanaan Kegiatan dan Layanan IBM Setelah mendapatkan capacity building, agen pemulihan kemudian mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di lapangan dengan melaksanakan tugas dan perannya. Sebelumnya agen pemulihan telah menyusun jadwal kegiatan dan layanan IBM untuk dipedomani. Tanggal dan jam pelaksanaan kegiatan/layanan diatur secara fleksibel agar menyesuaikan waktu klien dan sesuai kesepakatan bersama. Kegiatan dan layanan IBM yang dilaksanakan terdiri dari sosialisasi, pemetaan, penjangkauan, skrining, penerimaan awal, layanan intervensi wajib dan layanan intervensi pilihan, serta bina lanjut. Pendampingan Tujuan utama dilakukan pendampingan adalah agar tim agen pemulihan dapat menjalankan program IBM sesuai dengan pedoman pelaksanaan IBM. Pendampingan ini dilakukan oleh fasilitator, yaitu petugas dari BNN Kabupaten Cianjur. Waktu pelaksanaan pendampingan dijadwalkan dilaksanakan tiap bulan secara insentif selama 4 bulan. Pendampingan dilakukan melalui mentoring, monitoring, bimbingan dan konsultasi, dan memberikan Peningkatan Kesadaran Masyarakat Tujuan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat adalah menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, serta agar masyarakat turut berpartisipasi dalam pengembangan program IBM yakni dengan memberikan masukan atau feedback terhadap kegiatan atau layanan IBM yang telah mereka dapatkan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi. Fasilitator kegiatan sosialisasi BNNK Cianjur. Sosialisasi yang dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2024 tersebut dihadiri oleh perwakilan masyarakat dalam hal ini tokoh masyarakat, tokoh agama. BPD. LPM, perangkat desa, ketua RW dan RT, dan karang taruna. Selain itu, upaya peningkatan kesadaran masyarakat juga melibatkan key person. Key person disini adalah tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap penyalahgunaan NAPZA, serta mempunyai pengaruh di masyarakat, sehingga dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pencegahan dan penanggulangan NAPZA, salah satunya kegiatan sosialisasi ini. Partisipasi Masyarakat dalam Memberikan Feedback Partisipasi masyarakat dalam memberikan masukan atau feedback terhadap kegiatan dan layanan IBM dilaksanakan melalui pengisian keusioner, dan melalui pertemuan dengan masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan dan layanan IBM yang telah dilaksanakan. 49 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Soraya Lessy, et al. Hasil penelitian mengenai pengembangan desain capacity building agen pemulihan IBM menunjukkan keberhasilan dan efektivitas implementasi desain ini dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan IBM. Beberapa literatur dan referensi mendukung temuan penelitian ini. Salah satunya adalah teori menurut Edwin B. Flippo yang menyatakan bahwa pelatihan adalah tindakan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seorang pegawai untuk melaksanakan pekerjaan tertentu . Dalam desain capacity building ini, fasilitator memegang peranan penting dalam pendampingan. Hal ini sesuai dengan teori menurut Kartika yang menyatakan bahwa fasilitasi dapat diartikan sebagai melayani dan memperlancar aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu . Berdasarkan hasil penelitian, pendampingan sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan agen pemulihan. Pendampingan juga merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan salam proses pemberdayaan masyarakat karena mampu mendorong pemberdayaan secara optimal. Sumodiningrat menjelaskan bahwa bagi para pekerja sosial di lapangan, kegiatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui pendampingan sosial . Agen pemulihan IBM yang telah mendapatkan pengembangan kapasitas, kemudian mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya dalam program layanan IBM. Masyarakat sebagai beneficiaries dari layanan IBM perlu dilibatkan dalam pengembangan program ini. Sebagai subyek pengembangan, masyarakat diperankan sebagai pemberi masukan dan feedback dalam monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan dan layanan yang dilaksanakan oleh agen pemulihan IBM. Pengembangan program secara partisipatoris dan dengan mempertimbangkan kebuutuhan masyarakat diyakini dapat mewujudkan keberhasilan program . Metode yang digunakan dalam desain capacity building agen pemulihan IBM juga dikembangkan dengan metode yang variatif seperti pelatihan dan benchmarking terhadap best practice dari IBM yang telah unggul, serta adanya knowledge sharing diantara agen pemulihan atau peer education. Melalui benchmarking, agen pemulihan dapat meningkatkan kinerja dengan belajar praktik-praktik baik dari IBM lain yang telah unggul untuk diterapkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Bullivant yang menyatakan bahwa benchmarking sebagai suatu proses pengukuran produk, jasa dan praktik-praktik dalam suatu organisasi secara kontinu terhadap organisasi lain yang dianggap lebih berhasil atau paling berhasil dengan melakukan identifikasi best practices yang dapat digunakan untuk mencapai kinerja . Fokus utama dari knowledge sharing adalah kemampuan setiap individu untuk menjelaskan, mengkodekan, dan mengkomunikasikan pengetahuannya kepada orang lain, kelompok, dan terutama kepada organisasi. Proses ini dapat terjadi di antara individu dalam tim, antar tim, antar unit dalam organisasi, atau bahkan antar organisasi untuk meningkatkan produktivitas kerja . Knowledge sharing diantara agen pemulihan dapat dilakukan melalui peer Peer education ini sebagian besar didasarkan pada premis bahwa dialog partisipatif di antara yang sederajat . akan mendorong perubahan perilaku yang diinginkan . DESAIN AKHIR CAPACITY BUILDING AGEN PEMULIHAN IBM Berdasarkan hasil implementasi, pengembangan desain capacity building agen pemulihan IBM menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan. Hal ini ditandai dengan terlaksananya kegiatan dan layanan IBM mulai dari sosialisasi, pemetaan, penjangkauan, skrining, layanan intervensi, dan bina lanjut. Walaupun demikian, terdapat kelemahan yang ditemukan dalam implementasi. Kelemahan tersebut adalah terletak pada kegiatan partisipasi masyarakat dalam memberikan feedback atau masukan terhadap kegiatan dan layanan IBM. Berdasarkan hasil penelitian, partisipasi masyarakat dalam memberikan feedback belum berjalan efektif dan efisien karena keterbatasan sarana atau media. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan media, selain menggunakan media offline berupa kuesioner, pertemuan dengan masyarakat, ataupun kotak saran, diperlukan juga media online yakni berupa google forms dan hotline service. Pengembangan ini diperlukan agar partisipasi masyarakat feedback menjadi lebih maksimal, efektif dan efisien. Keunggulan media online ini, yaitu jangkauannya lebih luas, bisa diakses oleh siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Partisipasi masyarakat di era saat ini, sejatinya sudah mulai bertransformasi melalui berbagai platform digital atau media online . Fakta demikian tidak bisa dilepaskan dari adanya kemajuan teknologi informasi yang berkembang sangat pesat. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, berinteraksi, dan berpartisipasi . Teknologi digital sejatinya telah memberikan peluang baru untuk partisipasi masyarakat yang lebih mudah dan inklusif. BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Capacity Building Agen Pemulihan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) dalam Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA Gambar 3. Desain Akhir Capacity Building Agen Pemulihan IBM KESIMPULAN Desa Jayagiri Kecamatan Sidangbarang termasuk wilayah yang tinggi angka penyalahgunaan NAPZA. Beberapa tahun terakhir jumlah korban penyalahguna NAPZA di Desa Jayagiri semakin meningkat. Penyalahgunaan NAPZA yang semakin marak di Desa Jayagiri ini merupakan permasalahan yang membutuhkan penanganan secara maksimal dari pemerintah dan seluruh unsur masyarakat. Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) yang merupakan program dalam penanganan penyalahgunaan NAPZA di masyarakat telah dibentuk di Desa Jayagiri. Program IBM ini dilaksanakan oleh agen pemulihan yang dibentuk dari unsur-unsur masyarakat itu sendiri. Agen pemullihan IBM kemudian diberikan peningkatan kapasitas untuk dapat mampu mengidentifikasi, menskrining, serta memberikan layanan intervensi bagi penyalahguna NAPZA yang tingkatannya dalam ketegori rendah. Pengetahuan dan keterampilan agen pemulihan dalam melaksanakan tugas dan layanan IBM dinilai masih sangat Peran aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA. Oleh karena itu, peneliti merumuskan desain rekayasa teknologi untuk mengatasi permasalahan dan kebutuhan pengembangan kapasitas agen pemulihan tersebut. Desain capacity building agen pemulihan IBM ini mengusung konsep utama yaitu adanya kegiatan pelatihan agen pemulihan, pendampingan, dan pelibatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA serta monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan/layanan IBM di masyarakat. Agen pemulihan IBM yang telah mendapatkan pengembangan kapasitas, kemudian mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya dalam program layanan IBM. Masyarakat sebagai beneficiaries dari layanan IBM berperan untuk memberikan masukan . dalam kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan dan layanan yang dilaksanakan oleh agen pemulihan IBM. Dengan desain pengembangan kapasitas agen pemulihan IBM ini, maka diharapkan kegiatan dan layanan IBM yang dilaksanakan oleh agen pemulihan di lapangan dapat berjalan lebih optimal. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pengembangan desain capacity building agen pemulihan IBM merupakan langkah yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan agen pemulihan IBM. Setelah mendapatkan capacity building, keterampilan agen pemulihan dalam melaksanakan kegiatan dan layanan IBM di lapangan semakin meningkat. Hal ini tentunya akan membuat kualitas layanan IBM menjadi semakin optimal Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa desain ini efektif meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat masyarakat upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA. Masyarakat juga turut berpartisipasi aktif dalam pengembangan program dengan memberikan masukan/feedback terhadap kegiatan dan layanan IBM yang DAFTAR PUSTAKA