Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7751 Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran http://journal. id/index. php/jrpp Volume 8 Nomor 3, 2025 P-2655-710X e-ISSN 2655-6022 Fadilla Aura Ramadani1 Ela Emayusnita Sirait2 Rahma Hidayati3 Kristin Dwi Amsari Pasaribu4 Arlin Septia Basana Siagian5 Erfriani Sekar Talenta Simangunsong6 Nurul Azizah7 Tri Indah Prasasti8 Submitted : 29/08/2025 Reviewed : 15/09/2025 Accepted : 20/09/2025 Published : 29/09/2025 DIGITALISASI PENDIDIKAN DAN TANTANGAN LITERASI KRITIS: ANTARA BUKU CETAK. E-BOOK. DAN AI DALAM KELAS Abstrak Penelitian ini mengkaji digitalisasi pendidikan dan tantangan literasi kritis di sekolah menengah, dengan fokus pada peran buku cetak, e-book, dan AI dalam pembelajaran. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 5 Medan, didukung dokumentasi video dan kajian pustaka. Hasil menunjukkan buku cetak tetap dominan akibat keterbatasan fasilitas digital, sementara ebook dan AI kurang optimal karena kesenjangan infrastruktur serta kekhawatiran guru terhadap dampak negatifnya. Literasi siswa rendah dan lebih efektif ditingkatkan via metode konvensional seperti membaca bergilir, daripada media digital yang rawan penyalahgunaan. Digitalisasi memperlebar ketimpangan, hanya menguntungkan sekolah berfasilitas lengkap, sehingga peran pemerintah krusial untuk pemerataan sarana. Penggunaan AI oleh siswa berisiko melemahkan berpikir kritis melalui ketergantungan jawaban instan. Kesimpulannya, pendidikan digital perlu keseimbangan antara teknologi dan metode tradisional, didukung pelatihan guru serta kebijakan inklusif untuk literasi kritis dan pembelajaran setara di Indonesia. Kata Kunci: Digitalisasi Pendidikan. Literasi Kritis. Buku Cetak. E-Book. Kecerdasan Buatan (AI). Sekolah Menengah. Infrastruktur Pendidikan. Kebijakan Inklusif. Abstract This study examines the digitalization of education and the challenges of critical literacy in secondary schools, focusing on the role of printed textbooks, e-books, and AI in learning. Using a qualitative descriptive approach, data were obtained through in-depth interviews with Indonesian language teachers at SMK Negeri 5 Medan, supported by video documentation and a literature review. The results show that printed textbooks remain dominant due to limited digital facilities, while e-books and AI are less than optimal due to infrastructure gaps and teacher concerns about their negative impacts. Student literacy is low and is more effectively improved through conventional methods such as rotating reading, rather than digital media that are prone to Digitalization widens inequality, only benefiting schools with adequate facilities, so the government's role is crucial in ensuring equitable access to resources. Students' use of AI risks weakening critical thinking through a reliance on instant answers. In conclusion, digital education requires a balance between technology and traditional methods, supported by teacher training and inclusive policies for critical literacy and equitable learning in Indonesia. 1,2,3,4,5,6,7,. Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Medan email: fadillaauraramadani@gmail. com1, elaemayusnita77@gmail. com2, rahmahidayati917@gmail. kristinpasaribu366@gmail. com4, arlinseptia23@gmail. com5, erfriani. 2233111042@mhs. nurulazizah@unimed. id7, triindahprasasti@unimed. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7752 Keywords: Digitalization Of Education. Critical Literacy. Printed Textbooks. E-Books. Artificial Intelligence (AI). Secondary Schools. Educational Infrastructure. Inclusive Policies. PENDAHULUAN Kemajuan teknologi digital telah membawa dampak signifikan bagi dunia pendidikan, baik dalam metode pengajaran guru maupun cara siswa memperoleh ilmu. Jika dulu buku cetak menjadi sumber utama dalam kegiatan belajar, kini kehadiran e-book dan kecerdasan buatan (AI) semakin melengkapi bahkan menandingi fungsi buku cetak di kelas. Digitalisasi pendidikan memberikan kemudahan bagi siswa untuk mengakses informasi dengan cepat, praktis, serta beragam, sehingga pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas maupun media tradisional. Meski demikian, perubahan ini juga memunculkan tantangan baru, khususnya dalam mengembangkan kemampuan literasi kritis pada siswa. Salah satu masalah utama adalah kecenderungan siswa untuk bergantung pada teknologi, terutama AI, yang dapat secara tidak langsung mengurangi kemampuan mereka untuk berpikir Siswa lebih cenderung memilih metode instan dengan bantuan teknologi daripada mencoba menganalisis dan memahami informasi secara mandiri. Kondisi ini diperkuat oleh data PISA yang menunjukkan bahwa siswa Indonesia masih memiliki tingkat literasi yang Literasi, yang mencakup kemampuan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menyaring data, sangat penting di era banjir informasi digital. Namun, literasi masih menjadi masalah utama bagi siswa. Temuan ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya. Aulia. , dkk. mengungkapkan bahwa literasi digital berperan penting dalam meningkatkan kompetensi siswa di era teknologi. Akan tetapi, kemampuan literasi digital pelajar Indonesia masih tergolong rendah, terlihat dari posisi ke-71 dari 77 negara dalam penilaian membaca PISA. Studi tersebut juga menyoroti bahwa teknologi memberikan akses luas ke berbagai sumber belajar daring, seperti e-book, jurnal ilmiah, situs pendidikan, hingga platform pembelajaran digital, serta mendukung pembelajaran kolaboratif melalui media seperti Google Classroom. Zoom, dan Microsoft Teams. Kendati demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, antara lain keterbatasan akses di wilayah terpencil, kurangnya kesiapan tenaga pendidik, serta keterbatasan konten pendidikan yang bermutu. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian Solih & Julianto . menegaskan bahwa kemajuan teknologi digital telah merevolusi konsep literasi yang awalnya terbatas pada kemampuan baca-tulis konvensional menjadi literasi yang lebih kompleks, mencakup keterampilan memahami, menganalisis, mengevaluasi, serta memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa penggunaan buku digital mampu meningkatkan minat baca siswa karena sifatnya yang praktis, interaktif, dan mudah diakses. Meski demikian, tantangan tetap muncul, antara lain keterbatasan infrastruktur, rendahnya minat baca, serta kurangnya keterampilan digital pada guru yang menghambat optimalisasi literasi digital. Menurut penelitian Suhada. , dkk. , e-book tidak hanya memberikan kemudahan dalam mengakses bahan bacaan kapan pun dan di mana pun, tetapi juga berkontribusi pada kemandirian belajar, peningkatan minat membaca, serta penguatan keterampilan berpikir kritis siswa melalui konten interaktif. Meskipun demikian, penerapannya masih menghadapi kendala, seperti keterbatasan perangkat, rendahnya tingkat literasi digital, dan kecenderungan siswa yang masih mengandalkan buku cetak sebagai sumber utama belajar. Di luar masalah literasi dan keterbatasan infrastruktur, perdebatan mengenai efektivitas penggunaan buku cetak dan media digital dalam pembelajaran masih terus mengemuka. Buku cetak dinilai lebih unggul dalam meningkatkan konsentrasi, pemahaman mendalam, serta daya serap materi, sementara e-book dan kecerdasan buatan (AI) dianggap lebih praktis, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman. Kondisi ini menempatkan guru pada posisi dilematis antara mempertahankan metode tradisional berbasis buku cetak atau beradaptasi dengan teknologi modern, sedangkan siswa harus memilih antara kemudahan teknologi dan pentingnya penguatan literasi kritis. Dengan demikian, penelitian mengenai AuDigitalisasi Pendidikan dan Tantangan Literasi Kritis: Antara Buku Cetak. E-Book, dan AI dalam KelasAy menjadi relevan dilakukan untuk mengkaji dampak positif maupun negatif dari transformasi digital di dunia Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7753 pendidikan sekaligus menemukan titik keseimbangan dalam mencetak generasi yang literat dan berpikir kritis. Digitalisasi Pendidikan Teknologi merupakan suatu bidang ilmu yang selalu berkembang. Rasa ingin tahu manusia membuat kemajuan teknologi seolah-olah tidak memiliki batas. Setiap aspek kehidupan juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, yang memungkinkan teknologi untuk memenuhi dan mempermudah semua kebutuhan manusia, termasuk pakaian, makanan, rumah, bahkan kebirokrasian (Ma'rufah, 2. Perkembangan teknologi yang terus-menerus menunjukkan bahwa manusia telah memasuki era digital. Era digital adalah masa di mana semua aspek kehidupan manusia dimudahkan oleh kecanggihan teknologi berbasis sistem digital (Ma'rufah, 2. Digitalisasi sekolah adalah konsekuensi logis dari pergeseran zaman menuju era digital. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan adaptasi. Dewanti . alam Isma, dkk. , 2. Sebagai wadah untuk membentuk generasi penerus bangsa, lembaga pendidikan tidak hanya harus menjaga tradisi masyarakat, tetapi juga harus menciptakan pola pendidikan yang mampu menangani tantangan di seluruh dunia. Hal ini penting mengingat globalisasi merupakan realitas yang dinamis. Ajizah, . alam Isma, dkk. , 2. Kemajuan teknologi mempengaruhi banyak hal, termasuk pendidikan. Sebagaimana dikutip oleh Hasanuddin et al. alam Isma, dkk. , 2. , penelitian Zubaidah menekankan bahwa literasi digital sangat penting bagi peserta didik untuk menjadi generasi pemimpin di masa mendatang. Literasi digital adalah keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang memungkinkan praktik kritis, kreatif, dan aman menggunakan teknologi digital pada berbagai aspek kehidupan. Dengan kata lain, literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan teknologi digital sebagai alat untuk bekerja dan belajar. Rafi'ah dan Barokah . alam Isma, dkk. , 2. Kata digitalisasi menurut KBBI merupakan jenis kata benda yang memiliki arti proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Bejinaru . alam MaAoarufah, 2. mengatakan bahwa Digitalisasi, dalam dunia pendidikan, merupakan kemampuan untuk mentransformasikan semua aspek dan proses pendidikan ke dalam berbagai varian digital. Berbagai proses pendidikan dipengaruhi oleh digitalisasi, terutama perubahan organisasi dan kepemimpinan Digitalisasi dianggap sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah pendidikan di masa depan. Digitalisasi pendidikan telah lama dimulai, tetapi progressnya lamban (Ma'arufah, 2. Kesempatan untuk digitalisasi pendidikan semakin meningkat sebagai akibat dari pandemi COVID-19 yang melanda sejak awal tahun 2020. Surat edaran No. 4 tahun 2020, yang mengatur pelaksanaan pembelajaran secara daring tanpa kontak dan pertemuan antara guru dan murid, dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memperkuat upaya digitalisasi pendidikan di Indonesia. Literasi dan Literasi Digital Literasi adalah keterampilan penting yang sangat penting untuk pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Kemampuan membaca dan menulis sangat penting untuk pertumbuhan seseorang dan masyarakat secara keseluruhan. Pemerintah Indonesia telah memulai Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis siswa. Cahya & Artini, . alam Putrayasa, dkk. , 2. Upaya ini sangat penting karena minat baca anak-anak masih rendah. Hal ini salah satunya disebabkan oleh ketidaksadaran orang tua tentang membiasakan anak-anak membaca sejak dini. Nasihah dan Tabroni, . alam Putrayasa, dkk. Literasi mencakup aspek yang lebih luas daripada hanya kemampuan baca tulis dasar. Dalam model literasinya. Gordon Wells membagi literasi menjadi empat kategori: performatif, fungsional, informasional, dan epistemic. Wardi & Sartika . alam Putrayasa dkk. , 2. Di era globalisasi, literasi multikultural semakin penting, terutama di masyarakat yang beragam seperti Indonesia. Nabilah, . alam Putrayasa et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya keterampilan membaca dan menulis. itu juga mencakup kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan membuat informasi dalam berbagai konteks budaya. Pentingnya literasi tidak dapat diremehkan. Menurut Mangvwat & Meshak . alam Putrayasa dkk. , 2. , tingkat literasi yang rendah dapat menghambat kemajuan berkelanjutan Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7754 dan menempatkan suatu negara pada posisi yang kurang menguntungkan secara global. Keterampilan literasi yang lebih baik dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan Nasihah dan Tabroni, . alam Putrayasa et al. , 2. Akibatnya, peningkatan literasi harus menjadi prioritas utama dalam sistem pendidikan, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, bahkan dalam pendidikan orang dewasa. Joyce et al. , 1970. Novita et al. , . alam Putrayasa, dkk. , 2. Cara orang memahami dan menerapkan literasi mengalami perubahan besar selama era digital berkembang. Munculnya jenis literasi baru yang saling terkait . iterasi digital, literasi multimodal, dan kompetensi informas. menunjukkan transformasi ini. Literasi digital menjadi keterampilan utama di era informasi yang berkembang dengan cepat. Literasi digital tidak hanya mencakup kemampuan teknis untuk menggunakan perangkat dan aplikasi digital, tetapi juga kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi dengan pemahaman kritis tentang konten digital . alam Putrayasa dkk. , 2. Lebih jauh, literasi memiliki peranan krusial dalam pendidikan karakter. Wiliyanti . alam Pratama, 2. menekankan bahwa budaya literasi yang diterapkan oleh guru dapat berkontribusi pada pembentukan karakter siswa. Priasti Suyatno . alam Pratama, 2. menjelaskan bahwa literasi digital mencakup keterampilan menggunakan teknologi informasi dengan bijak, bertanggung jawab, dan kreatif, sehingga siswa dapat mengakses informasi yang luas dan beragam. Namun, tanpa dukungan pendidikan karakter yang memadai, potensi ini dapat disalahgunakan. Oleh karena itu, integrasi literasi digital dalam pembelajaran karakter menjadi sangat penting agar siswa tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki landasan etika yang kuat dalam berinteraksi di dunia maya, seperti yang diungkapkan oleh Firda . alam Pratama, 2. Buku Cetak vs Media Digital Industri 4. 0 telah mengubah masyarakat secara keseluruhan, termasuk aksesibilitas dan akses ke literatur. Karena perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, masyarakat sekarang dapat dengan mudah mendapatkan buku, baik dalam bentuk cetak maupun digital atau e-book. Menurut Dewi . , buku elektronik menandai pergeseran paradigma dalam aktivitas membaca, di mana buku cetak tidak lagi merupakan sumber utama untuk membaca. Media bacaan sastra juga mengalami perubahan serupa. Karena kemajuan teknologi, masyarakat, termasuk siswa sekolah menengah, memiliki berbagai pilihan untuk mendapatkan literatur cetak dan digital. Kencana dan Meyshanti . alam Widiastuti dkk. , 2. menyatakan bahwa transformasi digital masyarakat Indonesia saat ini membuat bacaan sastra menjadi lebih mudah diakses melalui internet dengan tampilan yang lebih menarik. Dengan itu, baik buku cetak maupun digital adalah bagian integral dari dunia literasi. Keduanya berfungsi sebagai alat penting untuk mendapatkan informasi. Coleman menyatakan bahwa preferensi atau nilai seseorang menentukan tindakan mereka. Mas'odi & Aziz, . alam Widiastuti dkk. , 2. Oleh karena itu, guru perlu memahami perilaku membaca serta preferensi siswa sebagai dasar untuk menentukan bahan bacaan yang tepat. Hal ini berlaku tidak hanya bagi siswa sekolah dasar dan menengah, tetapi juga bagi siswa sekolah menengah atas yang membutuhkan pendampingan literasi secara optimal. Artificial Intelligence (AI) dalam Pendidikan Di era digital saat ini, banyak sekali manfaat AI dalam pendidikan, yaitu: Efisiensi administrasi. Hidayat . menyatakan bahwa penerapan kecerdasan buatan dalam pendidikan membuat tugas-tugas administratif seperti perencanaan, evaluasi, dan manajemen data sekolah dapat berjalan otomatis. Hal ini memungkinkan guru untuk mengurangi beban teknis sehingga fokus utama mereka tetap pada proses pengajaran dan pembelajaran siswa. Personalisasi belajar. Maulana . menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pembelajaran dapat mendukung personalisasi proses belajar. Sistem AI mampu memberikan rekomendasi materi yang sesuai dengan karakteristik gaya belajar serta kemampuan siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7755 Dukungan guru. Ningsih . menjelaskan bahwa AI tidak berfungsi sebagai pengganti guru, melainkan sebagai pendukung yang membantu guru dalam menganalisis data hasil belajar siswa serta memberikan umpan balik secara cepat. Dengan cara ini, guru dapat mengembangkan strategi mengajar yang lebih tepat dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Syahrial . menyebutkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis mahasiswa, sebab mereka dituntut untuk menilai secara kritis hasil yang diberikan AI, bukan hanya menerimanya tanpa Selain manfaat. AI juga memiliki risiko terhadap pendidikan, yaitu: Ketergantungan siswa. Sutanto . menjelaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan memiliki tantangan serius, yakni munculnya ketergantungan berlebihan terhadap teknologi. Kondisi ini dapat terjadi ketika siswa lebih memilih mengandalkan sistem AI untuk menemukan jawaban, menyelesaikan tugas, maupun memahami konsep tanpa berusaha menggunakan kemampuan berpikir kritisnya sendiri. Kebiasaan seperti ini pada akhirnya bisa membuat peserta didik kurang terlatih dalam mengevaluasi informasi, mengambil keputusan, serta mengembangkan kreativitas secara Menurunnya kemampuan berpikir kritis. Rahayu . mengingatkan bahwa penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pembelajaran memang memberikan kemudahan dalam akses informasi, namun jika digunakan tanpa pengendalian pedagogis yang jelas, hal ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi siswa. Salah satu risikonya adalah berkurangnya kapasitas analitis siswa, sebab mereka terbiasa mengandalkan jawaban cepat dan instan yang diberikan oleh teknologi tanpa melakukan proses berpikir mendalam. Masalah privasi dan bias data. Putra . menekankan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam bidang pendidikan bukan hanya menghadirkan peluang positif, tetapi juga membawa sejumlah risiko serius yang perlu diwaspadai. Salah satu risiko utama adalah penyalahgunaan data pribadi. Sistem AI dalam pembelajaran biasanya bekerja dengan mengumpulkan data siswa, mulai dari nilai, kebiasaan belajar, hingga aktivitas digital. Jika pengelolaan data ini tidak dilakukan dengan prinsip keamanan dan etika yang ketat, ada kemungkinan data siswa terekspos, disalahgunakan pihak luar, atau bahkan diperjualbelikan untuk kepentingan komersial. Hal ini tentu melanggar hak privasi siswa dan dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap penerapan AI dalam dunia pendidikan. Tantangan dan Strategi Penguatan Literasi Kesenjangan fasilitas antar sekolah. Pratama . menyoroti adanya kesenjangan digital yang cukup signifikan di dunia pendidikan Indonesia, terutama antara sekolah-sekolah yang berada di perkotaan dan sekolah-sekolah di daerah tertinggal. Menurutnya, sekolah-sekolah di wilayah perkotaan umumnya sudah memiliki akses internet yang relatif stabil, perangkat teknologi yang memadai, serta dukungan infrastruktur digital yang menunjang pembelajaran berbasis teknologi. Dengan kondisi tersebut, siswa di perkotaan lebih mudah mengakses materi pembelajaran daring, memanfaatkan aplikasi edukatif, serta mengikuti perkembangan teknologi pendidikan yang semakin maju. Kurangnya literasi kritis dan etika digital. Lestari . mengingatkan bahwa tantangan utama dalam era digital bukan hanya pada aspek ketersediaan akses internet, melainkan juga pada kemampuan literasi digital siswa. Banyak siswa saat ini sudah memiliki akses internet yang luas, baik melalui perangkat pribadi seperti gawai maupun fasilitas sekolah. Akses yang melimpah tersebut memungkinkan mereka untuk memperoleh berbagai informasi secara cepat dan instan. Namun, di balik keuntungan itu terdapat risiko serius, yaitu rendahnya kemampuan siswa dalam menyeleksi, mengkritisi, dan memverifikasi informasi yang mereka konsumsi. Kesiapan guru yang belum merata. Menurut Yuliana . , guru merupakan ujung tombak dalam membangun literasi siswa di era digital. Peran guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing siswa untuk memiliki keterampilan literasi digital yang kritis, etis, dan produktif. Namun. Yuliana menegaskan bahwa Aumasih banyak guru yang belum siap mengintegrasikan teknologi baru ke dalam pembelajaran. Ay Kondisi ini Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7756 menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan perkembangan teknologi dengan kesiapan sumber daya manusia di bidang pendidikan. Keterbatasan ini bisa muncul dari berbagai faktor, seperti minimnya pelatihan, rendahnya akses fasilitas teknologi di sekolah, serta beban administrasi guru yang tinggi sehingga menyulitkan mereka untuk beradaptasi dengan inovasi. Guru yang belum terampil memanfaatkan teknologi cenderung kembali pada metode konvensional, padahal generasi siswa saat ini hidup dalam lingkungan digital yang membutuhkan strategi pembelajaran lebih interaktif dan kontekstual. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena pendidikan secara alami serta menghasilkan pemahaman yang sistematis dan terstruktur. Pendekatan deskriptif kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengungkap fakta, menganalisis, serta menafsirkan data dalam bentuk uraian naratif yang berfokus pada realitas yang terjadi di lapangan. Menurut Whitney . alam Purba. , dkk. , penelitian deskriptif bertujuan untuk mencari fakta serta memberikan interpretasi yang sesuai terhadap fakta tersebut. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga menekankan pada analisis dan penafsiran untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap isu digitalisasi pendidikan dan tantangan literasi Dalam penelitian ini, fokus diarahkan pada pandangan guru mengenai peran buku cetak, e-book, dan AI dalam kelas, serta tantangan literasi kritis yang muncul akibat perkembangan teknologi pendidikan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan guru di tingkat sekolah menengah yang dipandang memahami dinamika penggunaan media cetak, e-book, dan AI dalam pembelajaran. Wawancara dilakukan secara mendalam untuk menggali perspektif mereka terkait isu pendidikan terkini, dan seluruh proses wawancara direkam dalam bentuk video Dokumentasi video ini tidak hanya berfungsi sebagai bukti autentik data, tetapi juga menjadi media pendukung dalam analisis dan penyajian hasil penelitian. Selain itu, studi pustaka turut dilakukan dengan cara membaca dan memahami literatur yang relevan mengenai digitalisasi pendidikan, literasi kritis, serta penggunaan media pembelajaran modern maupun Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan. Tahap pertama adalah reduksi data, yaitu menyaring dan memilih informasi penting dari hasil wawancara serta catatan dokumentasi untuk difokuskan pada tema Tahap kedua adalah penyajian data, yakni menyusun hasil wawancara dan dokumentasi dalam bentuk uraian naratif yang diperkuat dengan transkrip, kutipan guru, serta cuplikan video liputan. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu menganalisis data untuk menemukan pola, makna, serta kesimpulan yang relevan dengan isu digitalisasi pendidikan dan literasi kritis. Proses verifikasi dilakukan dengan cara mencocokkan data dari berbagai sumber, baik wawancara, video, maupun literatur, guna memastikan keabsahan temuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan Ibu Wiwi Marpaung. Pd. , guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 5 Medan, diperoleh beberapa temuan sebagai berikut: Akses Sumber Belajar Dalam proses pembelajaran sehari-hari, guru masih lebih mengarahkan siswa untuk menggunakan buku cetak dibandingkan media elektronik. Hal ini dikarenakan belum semua siswa memiliki handphone atau perangkat yang memadai untuk mengakses materi secara Akibatnya, ketika ada tugas yang memerlukan pencarian informasi, siswa biasanya dikelompokkan agar mereka bisa saling membantu. Misalnya, dalam pembelajaran teks laporan hasil observasi (LHO), setiap kelompok mencari satu referensi teks LHO yang kemudian dianalisis bersama mengenai struktur dan kaidah kebahasaannya. Cara ini menjadi solusi praktis untuk mengatasi keterbatasan fasilitas digital, sekaligus melatih kerja sama antar siswa dalam memahami materi pelajaran. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7757 Metode untuk Mengatasi Rendahnya Literasi Guru menyadari bahwa kemampuan literasi siswa masih rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, beliau menerapkan metode membaca bergilir menggunakan buku cetak. Dalam metode ini, setiap siswa secara bergantian membaca teks, sementara siswa lain menyimak bacaan tersebut. Cara ini dinilai efektif karena melatih konsentrasi siswa untuk tetap memperhatikan jalannya pembacaan. Selain itu, metode ini mendorong siswa untuk lebih fokus terhadap isi bacaan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab agar tidak ketinggalan ketika gilirannya tiba. Guru juga menyampaikan bahwa penggunaan media elektronik untuk membaca justru sering disalahgunakan siswa untuk aktivitas lain, seperti membuka media sosial, melakukan percakapan daring, atau menonton video pendek. Oleh karena itu, buku cetak masih dianggap lebih aman dan efektif dalam melatih keterampilan membaca serta meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa. Dampak Digitalisasi Pendidikan Menurut guru, digitalisasi pendidikan memang membawa dampak positif, terutama bagi sekolah yang sudah memiliki fasilitas memadai, seperti akses internet, perangkat komputer, atau proyektor. Sekolah dengan kondisi tersebut akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Namun, bagi sekolah menengah ke bawah yang belum sepenuhnya memiliki sarana prasarana, digitalisasi justru dapat menimbulkan kesulitan baru. Siswa mungkin terkendala perangkat, jaringan internet, atau bahkan kemampuan menggunakan teknologi. Hal ini menyebabkan adanya ketimpangan dalam penerapan pembelajaran berbasis digital. Guru menekankan bahwa digitalisasi memang dapat membawa kemajuan, tetapi kemajuan tersebut hanya bisa dirasakan secara optimal oleh sekolah-sekolah tertentu, sehingga tidak semua siswa mendapatkan kesempatan belajar yang Peran dalam Mengatasi Kesenjangan Guru menilai bahwa pihak yang seharusnya paling berkontribusi dalam mengatasi kesenjangan pendidikan akibat digitalisasi adalah pemerintah. Pemerintah diharapkan dapat menyediakan sarana dan prasarana pendukung yang merata di semua sekolah, sehingga tidak hanya sekolah dengan fasilitas lengkap yang bisa maju. Jika pemerintah tidak memberikan perhatian lebih, maka kesenjangan pendidikan akan semakin melebar: hanya sekolah-sekolah di perkotaan atau dari kalangan menengah ke atas yang bisa berkembang, sedangkan sekolah di pedesaan atau dengan keterbatasan fasilitas akan semakin tertinggal. Hal ini menjadi tantangan serius dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia. Penggunaan AI dalam Pembelajaran Guru menyampaikan bahwa fenomena penggunaan AI di kalangan siswa sudah sangat nyata. Banyak siswa menggunakan aplikasi AI untuk membantu mereka mengerjakan tugas. Namun, kebiasaan ini membuat siswa menjadi bergantung pada teknologi dan tidak lagi berusaha memikirkan jawaban secara mandiri. Proses berpikir kritis yang seharusnya terbentuk dalam menyelesaikan tugas menjadi terabaikan karena siswa lebih memilih cara Guru sendiri belum pernah mengarahkan penggunaan AI dalam pembelajaran karena khawatir akan semakin memperkuat ketergantungan siswa pada teknologi. Menurut beliau. AI bisa saja bermanfaat, tetapi jika tidak ada kontrol dari guru, hasilnya justru merugikan perkembangan kemampuan berpikir siswa. Pemanfaatan Teknologi oleh Guru Dalam praktik mengajar, guru lebih banyak memanfaatkan modul pembelajaran serta bahan dari internet, seperti artikel yang diperoleh melalui Google atau jurnal di Google Scholar. Sumber-sumber tersebut dianggap lebih terpercaya dan dapat langsung disesuaikan dengan kebutuhan materi pembelajaran. Namun, guru belum pernah menggunakan aplikasi berbasis AI untuk membuat bahan ajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru masih lebih nyaman menggunakan media konvensional dan sumber digital yang sudah dikenal. Dengan cara ini, guru tetap dapat menambah variasi materi, tetapi tetap dalam batas yang bisa dikendalikan. Bagi guru, peran teknologi hanya sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti dalam proses Pandangan terhadap AI dalam Pendidikan Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7758 Secara umum, guru memiliki pandangan yang cenderung negatif terhadap penggunaan AI dalam pembelajaran. Menurutnya. AI membuat siswa semakin malas berpikir. Alih-alih berlatih mencari, memahami, dan menganalisis informasi, siswa justru lebih suka menggunakan jawaban instan dari AI. Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena akan berdampak pada hilangnya kemampuan berpikir kritis. Guru bahkan menyebut bahwa hanya segelintir siswa yang masih mau berusaha mandiri dalam mengerjakan tugas tanpa bergantung pada teknologi. Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi, khususnya AI, jika tidak dikendalikan, dapat menimbulkan dampak buruk bagi kualitas belajar siswa. Pembahasan dari hasil wawancara dengan Ibu Wiwi Marpaung. Pd. , seorang guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 5 Medan, memberikan gambaran mendalam tentang tantangan dan strategi dalam pembelajaran di tengah era digitalisasi pendidikan. Temuan-temuan ini mencakup akses sumber belajar, metode pengatasi rendahnya literasi siswa, dampak digitalisasi, peran pemerintah dalam mengurangi kesenjangan, penggunaan AI oleh siswa, pemanfaatan teknologi oleh guru, serta pandangan guru terhadap AI. Secara keseluruhan, temuan ini mengungkap ketergantungan pada metode konvensional akibat keterbatasan infrastruktur, sekaligus kekhawatiran terhadap dampak negatif teknologi canggih seperti AI terhadap perkembangan kognitif siswa. Pembahasan berikut akan menganalisis temuan-temuan tersebut secara terintegrasi, dengan menyoroti implikasi pendidikan di konteks sekolah menengah ke bawah di Indonesia. Salah satu temuan utama adalah preferensi guru terhadap buku cetak sebagai sumber belajar utama, yang disebabkan oleh ketidakmerataan akses perangkat digital di kalangan siswa. Di SMK Negeri 5 Medan, yang mewakili sekolah dengan fasilitas terbatas, tidak semua siswa memiliki handphone atau perangkat memadai untuk mengakses materi secara online. Hal ini mencerminkan masalah struktural di pendidikan Indonesia, di mana kesenjangan digital . igital divid. masih menjadi hambatan utama, sebagaimana diungkapkan dalam laporan UNESCO . tentang pendidikan pasca-pandemi. Untuk mengatasinya, guru menerapkan pendekatan kolaboratif, seperti pengelompokan siswa dalam mencari referensi teks laporan hasil observasi (LHO). Strategi ini tidak hanya mengatasi keterbatasan teknis, tetapi juga memupuk keterampilan sosial dan kerja sama, yang selaras dengan kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan pembelajaran berbasis proyek. Namun, pendekatan ini juga menunjukkan bahwa tanpa intervensi infrastruktur, pembelajaran digital berpotensi memperlemah partisipasi siswa individu, sehingga guru terpaksa mengandalkan solusi sementara yang bergantung pada interaksi tatap muka. Guru mengakui rendahnya kemampuan literasi siswa, yang menjadi isu krusial di tingkat vokasi seperti SMK. Metode membaca bergilir menggunakan buku cetak yang diterapkan guru terbukti efektif dalam melatih konsentrasi dan tanggung jawab siswa, karena mendorong partisipasi aktif dan mengurangi distraksi. Pendekatan ini kontras dengan penggunaan media elektronik, yang sering disalahgunakan untuk aktivitas non-edukatif seperti media sosial atau video pendek. Temuan ini sejalan dengan penelitian dari PISA (Programme for International Student Assessmen. yang menunjukkan bahwa literasi digital di Indonesia masih rendah, dengan siswa cenderung terganggu oleh konten hiburan online (OECD, 2. Buku cetak, dengan demikian, berfungsi sebagai alat yang lebih terkendali untuk membangun fondasi literasi dasar, seperti pemahaman struktur teks dan kaidah bahasa. Meskipun demikian, ketergantungan pada metode konvensional ini berisiko menjauhkan siswa dari keterampilan abad 21, seperti literasi digital, yang esensial untuk dunia kerja pasca-pandemi. Guru perlu dieksplorasi lebih lanjut untuk mengintegrasikan elemen digital secara bertahap, misalnya melalui sesi terawasi di laboratorium sekolah. Digitalisasi pendidikan diakui membawa manfaat bagi sekolah dengan fasilitas lengkap, seperti akses internet dan proyektor, yang memudahkan adaptasi terhadap teknologi. Namun, di sekolah seperti SMK Negeri 5 Medan, digitalisasi justru memperburuk kesenjangan, dengan siswa menghadapi kendala perangkat, jaringan, dan keterampilan teknis. Hal ini menciptakan ketimpangan akses belajar, di mana siswa dari latar belakang ekonomi rendah semakin Temuan ini menggarisbawahi isu pemerataan pendidikan di Indonesia, di mana hanya 60% sekolah negeri memiliki akses internet stabil menurut data Kemendikbud . Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7759 Guru menekankan bahwa kemajuan digital hanya optimal bagi sekolah urban atau berfasilitas tinggi, sementara sekolah pedesaan atau menengah ke bawah mengalami kesulitan baru. Implikasinya, digitalisasi tanpa dukungan infrastruktur merata berpotensi memperlemah tujuan SDGs (Sustainable Development Goal. nomor 4 tentang pendidikan inklusif, sehingga diperlukan kebijakan transisi yang sensitif terhadap konteks lokal. Guru secara tegas menyoroti peran pemerintah sebagai aktor utama dalam mengurangi kesenjangan akibat digitalisasi. Pemerintah diharapkan menyediakan sarana prasarana merata, seperti distribusi perangkat dan jaringan internet ke seluruh sekolah, untuk mencegah pelebaran disparitas antara sekolah perkotaan dan pedesaan. Tanpa intervensi ini, kesenjangan akan semakin dalam, dengan sekolah berfasilitas rendah tertinggal dalam kompetisi global. Temuan ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjamin pemerataan akses, tetapi implementasinya masih lemah. Guru's perspektif ini menekankan urgensi program seperti Gerakan Literasi Nasional atau inisiatif Merdeka Belajar yang harus diperkuat dengan anggaran khusus untuk infrastruktur digital di daerah tertinggal. Jika tidak, pendidikan Indonesia berisiko menghasilkan generasi yang tidak setara, di mana hanya segelintir siswa yang mampu bersaing di era industri 4. Fenomena penggunaan AI oleh siswa untuk mengerjakan tugas telah menjadi isu nyata, tetapi guru melihatnya sebagai ancaman karena mendorong ketergantungan dan mengabaikan proses berpikir kritis. Siswa lebih memilih jawaban instan daripada analisis mandiri, yang merugikan pengembangan keterampilan seperti pemecahan masalah dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Guru belum mengintegrasikan AI dalam pembelajaran karena kekhawatiran ini, yang mencerminkan pandangan umum di kalangan pendidik tradisional. Penelitian dari Harvard Graduate School of Education. Williamson. Eynon. , & Potter. juga memperingatkan bahwa AI generatif seperti ChatGPT dapat menghambat kreativitas jika tidak Di sisi lain. AI berpotensi bermanfaat jika digunakan sebagai alat pendukung, misalnya untuk menghasilkan contoh teks LHO yang kemudian dianalisis siswa. Namun, tanpa kontrol guru, penggunaan AI justru memperburuk rendahnya literasi, menjadikannya tantangan etis dalam pendidikan vokasi. Guru memanfaatkan teknologi secara selektif, seperti mencari artikel dari Google atau Google Scholar untuk modul pembelajaran, yang dianggap terpercaya dan mudah disesuaikan. Namun, belum ada penggunaan AI untuk membuat bahan ajar, menunjukkan kenyamanan dengan media konvensional dan sumber digital dasar. Hal ini menjadikan teknologi sebagai pendukung, bukan pengganti, proses mengajar. Temuan ini mengilustrasikan gap antara potensi teknologi dan adopsi guru, di mana pelatihan AI masih minim di sekolah menengah ke bawah. Meskipun demikian, pendekatan ini memastikan materi tetap relevan dan terkendali, menghindari risiko ketergantungan siswa. Untuk kemajuan, guru seperti Ibu Wiwi perlu dilatih melalui program sertifikasi digital, agar teknologi dapat dimanfaatkan lebih optimal tanpa mengorbankan esensi pembelajaran. Secara keseluruhan, pandangan guru terhadap AI cenderung negatif, dengan AI dianggap membuat siswa malas berpikir dan menghilangkan kemampuan kritis. Hanya sedikit siswa yang tetap mandiri, menandakan urgensi pengendalian teknologi. Temuan ini mencerminkan perdebatan global tentang AI di pendidikan, di mana manfaat seperti personalisasi belajar harus diimbangi dengan risiko plagiarisme dan penurunan motivasi intrinsik (Selwyn, 2. konteks Indonesia, pandangan ini relevan mengingat rendahnya literasi digital siswa SMK, sehingga AI harus diintegrasikan dengan kurikulum yang menekankan etika dan keterampilan berpikir, bukan sekadar alat instan. SIMPULAN Kesimpulan dari hasil temuan penelitian yang telah dilakukan menggambarkan bahwa paradoks digitalisasi pendidikan di SMK Negeri 5 Medan: potensi kemajuan yang terhambat oleh kesenjangan infrastruktur dan kekhawatiran terhadap AI. Guru seperti Ibu Wiwi menunjukkan adaptasi kreatif melalui metode konvensional, tetapi peran pemerintah dalam pemerataan fasilitas menjadi kunci untuk mengurangi disparitas. Implikasinya, pendidikan Bahasa Indonesia perlu menyeimbangkan tradisional dan digital, dengan pelatihan guru untuk memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. Volume 8 Nomor 3, 2025 | 7760 intervensi seperti program pilot AI di sekolah vokasi, guna memastikan teknologi mendukung, bukan menghambat, pembentukan generasi literat dan kritis di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA