Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021, 189-387 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Paradigma Keilmuan Dalam Al-QurAoan dan Penerapannya Pada Lembaga Pendidikan Islam Perspektif Kontemporer Candra Wesnedi Program Doktor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Email: chandra. penais@gmail. Ahmad Syukri Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Email: ahmadsyukriss@uinjambi. Badarussyamsi Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Email: badarussyamsi@uinjambi. Abstract: In this contemporary era, most Islamic educational institutions still follow the classical scientific platform. The tradition has experienced a gap with the development of science and technology which has very strongly influenced human Therefore, the scientific paradigm based on the QurAoan must be built by making Islamic educational institutions the pillars that compose it. This research is sourced from the literature, while the data analysis is carried out, considering that this research is qualitative, the researchers will use interactive analysis methods. The result is that this scientific paradigm is that science in secular concepts is only oriented to solving everyday problems in oneAos life. However, it is different with the scientific paradigm in Islam which in addition to solving life problems, is also a realization of worship to Allah, namely tauhid. Keywords: Paradigm. Al-QurAoan. Islamic Educational Institutions. Contemporary Abstrak: Diera kontemporer ini, lembaga pendidikan Islam sebagian besar masih mengikuti platform keilmuan klasik. tradisi itu mengalami kesenjangan dengan TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah sangat kuat mempengaruhi peradaban umat manusia. Oleh karena itu, paradigma keilmuan berdasarkan alQurAoan harus dibangun dengan menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai pilar-pilar yang menyusunnya. Penelitian ini bersumber dari kepustakaan, sedangkan analisis data dilakukan, mengingat penelitian ini bersifat kualitatif, maka peneliti menggunakan metode analisis interaktif. Hasilnya adalah bahwa paradigma keilmuan ini adalah ilmu dalam konsep sekuler hanya sekedar diorientasikan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan sehari-hari dalam kehidupan seseorang. Namun lain halnya dengan paradigma keilmuan dalam Islam yang selain untuk menyelesaikan persoalan hidup, juga sebagai realisasi ibadah kepada Allah, yaitu Kata Kunci: Paradigma. Al-QurAoan. Lembaga Pendidikan Islam. Kontemporer Pendahuluan Secara paradigmatik keilmuan muara krisis berawal dari pertanyaan bagaimana sikap terhadap modernitas dan bagaimana memperlakukan tradisi kaitannya dengan modernitas. Pertautan dua istilah antara tradisi dan modernitas menjadi tema dalam wacana pemikiran Islam Istilah tradisi . secara literal diartikan peninggalan, yakni berupa kekayaan ilmiah yang ditinggalkan atau diwariskan oleh orang-orang terdahulu. Turats tidak sepadan dengan istilah kebiasaan (Aoada. , adat . dan etika rasul . , meskipun padanan kata ini mempunyai makna tradisi. Terlebih lagi di era kontemporer ini, wacana yang berkembang di kalangan muslim lebih kepada munculnya peran dan sikap keilmuan muslim terhadap perkembangan keilmuan itu sendiri. Krisis yang mendasar adalah problem keilmuan Islam menjadi fokus utama Dalam menyikapi perdebatan ini, para intelektual muslim belum menemukan satu kesepakatan dalam membangun keilmuan Islam. Ada satu kelompok yang menolak seutuhnya modernitas, karena modernitas tidak berdasarkan pada landasan dalil Islam, ada yang menerima dengan hati-hati, dan ada yang menerima sepenuhnya budaya Barat dengan mengesampingkan budaya Islam. Beragamnya konsep ini menunjukkan kedinamisan pemahaman tentang Islam dan Ahmad Ali Riyadi. Dekonstruksi Tradisi. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . tentunya sangat dipengaruhi oleh bacaan dan sejarah yang menyertai munculnya perbedaan. Akibatnya, dalam banyak praktik pendidikan di lembaga-lemA baga Islam, ilmu non-agama tidak mendapatkan banyak ruang untuk Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini, dunia Islam hanya menikmati kemajuan teknologi yang dihasilkan oleh orang-orang Barat yang notabene bukan muslim. Fenomena ini seharusnya menjadi renungan tersendiri bagi para sarjana muslim untuk memperbaiki kualitas pendidikannya agar dapat bersinar kembali di panggung peradaban sebagaimana yang pernah diraih pada abad pertengahan. Terlebih lagi saat ini, lembaga pendidikan Islam sebagian besar masih mengikuti platform keilmuan klasik yang didominasi ulum alsharAoi. Memasuki periode modern, tradisi itu mengalami kesenjangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah sangat kuat mempengaruhi peradaban umat manusia. Kesenjangan itu telah menghadapkan lembaga pendidikan Islam dalam tiga situasi yang buruk: pertama, dikotomi yang berkepanjangan antara ilmu agama dan ilmu umum. kedua, keterasingan pengajaran ilmu-ilmu keagamaan dari realitas kemodernan. dan ketiga menjauhnya kemajuan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai agama. Kaitannya dengan keilmuan Islam. Iwan Satriawan memaparkan bahwa ada permasalahan yang muncul dalam masyarakat muslim. Pada praktiknya al-QurAoan masih dipahami oleh masyarakat terbatas sebagai kitab hukum agama yang mengatur masalah wajib, haram, sunah, makruh, dan mubah. Al-QurAoan belum ditempatkan pada posisi yang sebenarnya, yakni sebagai petunjuk, sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 2:3 a A AaONa aN O cE aE aI acCA a a a a a a a AIOA u u AE aE EEa E OA Husni Rahim. Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam. (Malang: UIN Malang Press. Iwan Satriawan. AuAl-QurAoan dan Konstitusi Modern. Ay Dalam Media Indonesia, 8 Nopember 2002. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Artinya: AuKitab . l-Qura. Ini tidak ada keraguan padanya. petunjuk bagi mereka yang bertaqwaAy. Hal ini merupakan akibat dari sistem pendidikan sekuler yang tidak menempatkan al-QurAoan sebagai referensi utama masyarakat dalam mengkaji berbagai cabang ilmu pengetahuan. Akibatnya, seorang sarjana hukum, misalnya, bisa dipastikan lebih fasih mengutip Austin. Kelsen, atau Bentham dalam uraian-uraiannya daripada mengutip alShatibi, al-Ghazali, atau al-Sarakhsi dalam perbincangan mengenai filsafat dan metodologi hukum yang menggunakan al-QurAoan sebagai sumber utama. Artinya, sistem pendidikan khususnya kurikulumnya, mendorong seorang muslim untuk menjadikan al-QurAoan sebagai rujukan utama dalam membedah berbagai persoalan yang muncul dalam Problem utama yang perlu pertama kali dipecahkan adalah merumuskan kembali konsep epistemologi keilmuan yang integratif dan sesuai dengan al-QurAoan. Fakta bahwa sejarah Islam pernah melahirkan banyak ilmuwan kaliber dunia seperti Ibnu Sina . hli kedoktera. Al Khawarizmi . hli matematik. Ibnu Khaldun . Asy SyafiAoi . hli huku. , dan sederet nama besar lainnya merupakan bukti yang tidak terbantahkan bahwa keilmuan dalam al-QurAoan merupakan pendorong utama dari kemajuan sains. Oleh karena itu, paradigma keilmuan berdasarkan al-QurAoan harus dibangun dengan menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai pilar-pilar yang menyusunnya. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, makalah ini disusun sebagai ikhtiar untuk menata kembali rumusan paradigma keilmuan Islam yang integratif sebagai salah satu solusi untuk membangun kembali lembaga pendidikan Islam yang Untuk itu, jurnal ini akan membahas mengenai paradigma keilmuan dalam al-QurAoan dan penerapannya pada lembaga pendidikan Islam perspektif kontemporer. Iwan Satriawan. AuAl-QurAoan dan Konstitusi Modern. Ay Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . Metode Penelitian Penelitian ini bersumber dari kepustakaan . ibrary researc. Artinya, data dan bahan kajian yang dipergunakan berasal dari sumbersumber kepustakaan, baik yang berupa buku, ensiklopedi, jurnal maupun yang lainya. Dalam pengumpulan data, penelitian ini tidak menggunakan metode khusus. Artinya segala cara untuk memperoleh data kepustakaan, baik primer maupun sekunder, yang berkaitan dengan permasalahan di atas akan diupayakan semaksimal mungkin dan selengkap mungkin. Semua sumber data tertulis maupun yang tidak tertulis, baik berupa buku, karya ilmiah, dokumen-dokumen atau pendapat para ahli yang berkaitan langsung dengan permasalahan di atas ditempatkan sebagai sumber primer. Sedangkan sumber skunder dalam penelitian adalah karya-karya pendukung yang mempunyai sifat relasional, baik langsung maupun tidak langsung dengan tema penelitian ini. Sedangkan analisis data, mengingat penelitian ini bersifat kualitatif, maka peneliti akan menggunakan metode analisis interaktif. Artinya analisis dilakukan secara simultan dan terus menerus sejak pengumpulan data dilakukan hingga selesainya pengumpulan data dalam waktu tertentu. Pembahasan Definisi Paradigma Keilmuan Kata AuparadigmaAy memiliki beberapa pengertian: pertama, cara memandang sesuatu. Kedua, dalam ilmu pengetahuan: model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomena yang dipandang, dijelaskan. Ketiga, totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkret. Keempat, dasar untuk Ahmad SyafiAoi Mufid. AuPenelitian Kualitatif Untuk Penelitian Agama,Ay dalam Menuju Peneltian Keagamaan: Dalam Perspektif Penelitian Sosial, ed. Affandi Muhtar (Cirebon: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Jati, 1. , h. Mathew B. Miles dan A. Michael Huberman. Analisis Data Kualitatif, terj. Tjetjep Rohendi Rohidi, (Jakarta: UI Press, 1. , hal. Lihat juga Sugiyono. Memahami Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alphabeta, 2. , h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problemproblem riset. Istilah paradigma pada awalnya berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan terutama berkaitan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam dunia ilmu pengeA tahuan adalah Thomas S. Kuhn . dalam bukunya yang berjudul AuThe Structure of Scientific RevolutionAy. Meminjam istilah dari Thomas Khun, paradigma adalah seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan, baik tindakan keseharian maupun dalam penyeA lidikan ilmiah. Pandangan Kuhn dalam karyanya tersebut adalah bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadi secara kumulatif, tetapi terjadi secara revolusioner. Sedangkan kata AuilmuAy digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. `Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Seperti kata Aoalam . Aoulmat . ibir sumbin. AoaAolaam . unung-gunun. Aoalamat . dan lain sebagainya. Kata AuilmuAy di sini pengertiannya bukan sebatas pada ilmu yang bersifat kealaman atau fiskal, sebagaimana definisi yang banyak dikeA mukakan oleh ilmuwan modern sekarang ini, yang mana mereka lebih cenderung penterjemahkan ilmu kepada ilmu-ilmu yang empirik atau sains, akan tetapi pengertian ilmu disini juga mencakup ilmu-ilmu metafisika atau yang non-empirik, yang diakui keberadaannya dan kebenarannya sebagai ilmu. Dalam al-QurAoan banyak sekali disebut pengungkapan kata ilmu dengan berbagai bentuk kata jadiannya. Kata-kata tersebut dan frekuensinya sebagai berikut: Aoilm . Aoalima . , yaAolamu . , iAolam . , yuAolamu . Aoaliim . Aoalim . , maAolum . Aoalamin . Aoalam . , aAolam . Aoalim atau ulamaAo . Aoallam . Aoallama Lorens Bagus. Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2. Agus Salim. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006 ), h. Quraish Shihab. Wawasan al-Qur`an, (Bandung: Mizan, 2. , h. Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . , yuAoallimu . Aoulima . , muAoallam . , dan taAoallama . 10 Dari kata ilmu juga timbul berbagai pengertian: mengetahui, pengetahuan, orang yang berpengetahuan, yang tahu, terpelajar, paling mengetahui segala sesuatu, lebih tahu, sangat mengetahui, cerdik, mengajar, belajar, orang yang diajari dan mempelajari. Sehingga dapat diambil benang merah bahwa paradigma keA ilmuan adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoritis yang umum . erupakan suatu sumber nila. sehingga merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri. Paradigma keilmuan laksana jendela untuk mengamati dunia luar, tempat siapa saja yang ingin menjelajahi dunia. Paradigma dalam Keilmuan Islam Dalam penelitian Waston, ia memandang bahwa Islam tak hanya mengenal ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu kemanusiaan saja, namun juga ilmu-ilmu kemanusiaan yang substansi filosofisnya adalah cara pandang atau paradigma untuk kedua ilmu yang telah lama ada dalam masyarakatt. Sebagai contoh, paradigma teori pengetahuan . keilmuan Islam adalah hirarki organ pengetahuan dari jism hingga ruh, sebagaimana yang diajarkan oleh ilmu tasawuf, dan paradigma aksiologis keilmuan Islam adalah hirarki nilai dari Aourf hingga qurAoani. Sementara itu paradigma ontologi keilmuan Islam adalah hirarki materil yang merupakan kreasi-Nya sampai pada causa prima, yakni Zat-Nya yang merupakan realitas akhir yang paling mutlak. Seluruhnya mencerminkan struktur pentakdik keilmuan Islam. Apabila dipandang dari sudut lain, peneliti dapat dianggap mampu meletakkan penggolongan keilmuan Islam kepada 4 bidang, yaitu ilmuilmu keagamaan, ilmu-ilmu terapan, ilmu-ilmu kealaman , dan ilmuilmu kebudayaan, yang kesemuanya itu memiliki kesesuaian dengan Dawam Raharjo. Ensiklopedi Al Qur`an. Ulumul Qur`an. Vol. , 1990, Dawam Raharjo. Ensiklopedi Al Qur`an. Ulumul Qur`an,Ah. Mohamad Anas. AuTelaah Kritis Filsafat Ilmu atas Paradigma Interkoneksitas IlmuAy. Tesis. Yogyakarta: UGM, 2009, h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 berbagai kategori integral nilai, informasi, energi dan materi. Menurut konsepsi keilmuan Islam, ke-4 rumpun keilmuan itu memperoleh ruhnya dari ilmu-ilmu al-QurAoan, yang memiliki kesesuaian dengan kategori sumber, dan merupakan sumber ilham ilmiah yang tidak ada hentinya. Bentuk integrasi keilmuan ini tak hanya mengarah pada upaya mempertemukan berbagai jenis keilmuan, namun lebih pada usaha mengambil substansi filosofis ilmu-ilmu keagamaan Islam yang funA damental sebagai paradigma ilmu di masa depan, lebih dari itu adalah upaya untuk mengkonstruksi peradaban dunia pada waktu yang akan Usaha islamisasi sains dalam pandangan Armahedi Mahzar sangat kuat memberikan warna pada ide integralisme keilmuan Islam. Pada tataran konseptual, usaha memposisikan ilmu-ilmu agama setara dengan ilmu-ilmu alam dan kemanusiaan juga telah dilakukan oleh Ahmad Zainul Hamdi. Dalam konsepsinya, semua kenyataan adalah AoteksAo, baik itu kenyataan alam, maupun sosial bahkan al-QurAoan sekalipun, adalah teks yang terbuka dikaji secara ilmiah. Dari ketiga macam teks itu, munculah dua bidang keilmuan besar. Setiap disiplin keilmuan tersebut mempunyai variasi teori kebenaran karena terbentuk dari sudut pandang yang berlainan. Berbagai disiplin keilmuan dengan berbagai ragam teori kebenaran di dalamnya tersebut akan menjadi Aubahan bakarAy bagi posisi awal Aupengamat/pembacaAy . eminjam istilah heremeunuti. atau menjadi perangkat keilmuan dasar untuk membaca teks realitas. Thomas Kuhn dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution, berpandangan bahwa benih-benih sains muncul pertama kali dalam wujud kegiatan-kegiatan yang bersifat individu kemudian berproses menjadi normal science, akan tetapi dalam perjalanannya lahirlah keganjilan-keganjilan . nomali-anomal. yang secara tak langsung meruntuhkan normal science tersebut. Dari Mohamad Anas. AuTelaah Kritis Filsafat Ilmu atas Paradigma Interkoneksitas IlmuAy,Ah. Mohamad Anas. AuTelaah Kritis Filsafat Ilmu atas Paradigma Interkoneksitas IlmuAy,Ah 1-7 Mohamad Anas. AuTelaah Kritis Filsafat Ilmu atas Paradigma Interkoneksitas IlmuAy,Ah. Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . anomali-anomali tersebut lahirlah krisis, yang kemudian membuat para scientist terpaksa untuk menanyakan kembali secara radikal dasardasar ontologis, metodologis, dan nilai yang selama ini digunakan. Pada akhirnya, refleksi kritis ini memunculkan paradigm baru untuk menanggulangi anomali itu yaitu ketika paradigm baru yang muncul tersebut berlainan sama sekali dengan paradigma sebelumnya. Langkahlangkah metodis pemikiran Kuhn ini dikenal dengan Revolusi Ilmiah. Usaha peneliti terdahulu untuk menjadikan sejajar ilmu-ilmu agama dengan dasar ontologinya dalam al-QurAoan berdampak pada konsepsinya yang mengaharuskan al-QurAoan sebagai teks ilmiah yang sangat terbuka secara ilmiah pula. Adapun yang menjadi persoalan, ilmu-ilmu agama yang bersumber pada al-QurAoan itu mengalami anomali yang dikarenakan kerangka metode dan pendekatan yang tidak pernah diperbaharui. Implikasinya, ilmu-ilmu agama tidak mengalami progres serta kemajuan yang cukup berarti. Keadaan tersebut oleh para cendekiawan saat ini disimpulkan disebabkan oleh kuatnya belenggu nalar pengetahaun bayani dalam masih muncul dalam nalar akademisi . lmuwan agam. secara khusus dan masyarakat Islam secara umum. Paradigma Keilmuan dalam Al-QurAoan Dalam sejarah penafsiran, manusia mencoba mengartikan dan menafsirkan kandungan al-QurAoan dari berbagai sudut pandang, dari berAbagai titik tolak, demi mencapai tujuan-tujuan tertentu. Namun hal itu tidak akan pernah selesai. Apalagi kalau disadari al-QurAoan selalu terbuka untuk penafsiran-penafsiran dan pemahaman baru yang sangat Di antaranya tentang paradigma dan konsep ilmu pengetahuan dalam perspektif al-QurAoan. Dalam al-QurAoan, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia dipandang lebih unggul ketimbang makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya. Ini tercermin dari kisah kejadian Thomas S. Kuhn. Structure of Scientific Revolution, (Chicago: The University of Chicago Press, 1. , h. Jujun S Suriasumantri. Ilmu dalam Pesrpektif. Sebuah Pengantar, (Jakarta: Gramedia, 1. , h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 manusia pertama yang dijelaskan al-QurAoan pada surat al-Baqarah, ayat 31-32: a a a a a a a a a a a a ca a a ca a e a a a a ca a a ea a e AOE aI aI EI a EN I aNI EIA aAOI aIA a a AEaEa ACE IA ca e a a a a a e a a a a a a e a a e a a ca e ca ANEa uaI EII A aCaIO CEO A A aIE E aE aI Ea uaE aI aE I a aI n uaIEA a a aAEEaOIA a AI E aEA a AaOIA Artinya: AuDia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhA nya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: AuSebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!Ay. Mereka menjawab: AuMaha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ay Adapun yang dimaksud dengan nama-nama pada ayat di atas adalah sifat, ciri dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya. Pandangan al-QurAoan tentang ilmu dapat diketahui prinsipprinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad dalam surat al AoAlaq ayat 1-5: ca a c a a a a ca a a a a a a a a a a a a a aAE aIA AEII IaI E sC C OE EA a AC a aI aE EaO EC ECA a ca a a a a ca a ca a AEA AI aI aI E I aO E IA AIA AEA AIA AEA ACA AEA AIA AEA AaOA AEA Artinya: AuBacalah dengan . nama Tuhanmu yang MenA ciptakan. Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar . dengan perantaran kalam. Ia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ay Quraish Shihab. Wawasan al-Qur`an,A h. Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . Kata iqraAo dalam ayat tersebut akar katanya berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Jadi, iqra` berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu. bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak tertulis. Dalam pandangan al-QurAoan, objek ilmu ialah segala ciptaan Allah, sekaligus ayat-ayat-Nya. Ciptaan Allah ini meliputi alam materi dan non materi. Dengan demikian, objek ilmu meliputi yang materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, manusiapun tidak mengetahuinya. Adapun terkait metodologi dalam menelaah ilmu pengetahuan, setidaknya ada beberapa ayat al-QurAoan yang mengisyaratkannya, yaitu: Observasi . Al-QurAoan dalam berbagai ayatnya senantiasa mendesak manusia untuk mengadakan observasi terhadap ciptaan-Nya. antaranya, sebagaimana dalam QS al-AAraf ayat 185: a a a a ca a a a e a a a a ca a a a a a a A OEA A OI EC EE IaIA a AO EIOA a AOEI OIO aA IEEA a a aa a a a aa a a a a a a a aa a e An OI A AaOA a A I OEOI C a C ENIn Aa aO A Aa aNau OaI aaIOIA Artinya: AuDan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah al-QurAoan itu?Ay Dalam ayat tersebut, al-QurAoan mengemukakan tema ayat yang bersifat sinkronis, artinya berupa pandangan tentang Quraish Shihab. Wawasan al-Qur`an,A h. Quraish Shihab. Wawasan al-Qur`an,A h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 eksistensi langit, bumi, manusia dan sebagainya. 21 Bila dicermati lebih mendalam, tiada satu pun ciptaan Allah yang tidak mengandung maksud dan tujuan. Mulai dari penciptaan makhluk yang sangat sederhana, hingga penciptaan bintang-bintang di ruang angkasa. Untuk mengungkap rahasia itu semua, diperlukan pemikiran yang mendalam. Dalam metode observasi, meniru dan eksperimentasi semata-mata dalam pengembangan sains dan teknologi dirasa belum cukup. Untuk itu perlu adanya kemampuan imajinasi yang kuat, analisis dan sintesa, terutama dalam hal-hal yang tidak mungAkin melalui observasi saja. Eksplorasi . Pada bagian ini, ilmu astronomi menempati posisi penting karena ia adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gerakan, penyebaran dan sifat benda-benda samawi. 23 Di antara ayat yang mewakili al-QurAoan dalam pembahasan ini adalah surat Yasin ayat 37-40: ca a a a a a a ca a a a a a ca a a ca a a a a A Aua NI acIE aaIOI aOE I a aOA AOO ENI EE IE IaIN IENA a AaO EA a AE aaI a aC c E ac aN o aE aaE a CA ca AO E aE aO aI aOE aC aI a Ca ac aI aN aI aIaE aA a a a a a a a a a a e a a a a a ca a a a a a a AE a A AOI ECaO aI E EI OI a EN I aE ECI OEA A EA c a a a ca a a a ca a a a a aa AE OOIA n AEE aC IENao OE aA AEA Artinya: AuDan suatu tanda . ekuasaan Allah yang besa. bagi mereka adalah malam. kami tanggalkan siang dari malam itu. Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Suharno. Berpikir Islami. Al Jami`ah. Dirasah Islamiyah, (Yogyakarta: t. , h. Imam Syafi`ie. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al Qur`an, (Yogyakarta: UII Press, 2. , h. Fazlur Rahman. Al Qur`an Sumber Ilmu Pengetahuan, terj. Arifin, (Jakarta: Bina Aksara, 1. , h. Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga . etelah dia sampai ke manzilah yang terakhi. kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi Matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing beredar pada garis edarnya. Ay Ayat-ayat tersebut memaparkan fenomena sesuai dengan hukum alam . yang berlaku, atau masih dalam tahap pemaparan . Bila fenomena berupa pergantian siang dan malam akan diangkat sebagai suatu metode ilmu pengetahuan maka seseorang harus menempuh prosedur sebagaimana yang ditempuh dalam ilmu pengetahuan. Eksperimen . Eksperimen merupakan kelanjutan dari metode-metode sebelumnya . bservasi dan eksploras. Dengan metode ini telah muncul berbagai cabang ilmu di antaranya geologi. Geologi mempelajari gerak bumi, lapisan-lapisannya, serta hubungan dan Dalam hal ini, al-QurAoan memberikan dorongan kuat untuk melakukan penelitian tentang adanya kebenaran di balik fenomena fisik dari alam semesta. Pada gilirannya, hal ini akan membawa penemuan-penemuan baru di dalam ilmu pengetahuan mengenai sejarah alam, termasuk geologi, yang mempelajari tentang terjadinya perubahan bentuk secara besarbesaran pada lapisan atas bumi, strukturnya, perubahan cuaca, fosil, batu-batu karang dan sebagainya. Adapun ayat yang dapat dijadikan penanda untuk menggali dan mengembangkan ilmu adalah surat an-Naba ayat 7-6: a a a a a a a a a a a a AEE OA a AEI I aE E IaN OA Fazlur Rahman. Al Qur`an Sumber Ilmu Pengetahuan,Ah. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Artinya: AuBukankah kami Telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?Ay Penalaran dan Intuisi Penalaran terhadap proses kejadian manusia melahirkan ilmu kedokteran dan dengan intuisi manusia mengenal ilmu jiwa. Secara fisik manusia dipelajari melalui ilmu kedokteran. Isyarat mengenai hal itu tercantum dalam surat at-Thoriq ayat 5-7: a aa a a e a AEA AI aI I acaI E aaC E aaC E aaC IaI acIn A naC O a a aI IA a AAEOI aA a AA AEA AEAA AOA Artinya: Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada Ay Di samping unsur jasmani yang menjadi pangkal tolak keberadaan manusia, unsur jiwa juga tidak luput dari perhatian al-QurAoan. Allah berfirman di dalam surat as-Syams ayat 7-10: a aO aI A aO aI a acOO aN Aa aE aN aI aN AA aAO aN aO a C aOO aN Ca a AEa a aII a acEONA a AA a AaOCa aA A aII acO aNA Artinya: AuDan jiwa serta penyempurnaannya . Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu . kefasikan dan ketakAwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang Ay Di dalam al-QurAoan di samping metode yang bersifat empirik, masih ada proses pengembangan ilmu dengan metode ilham yang hanya diberikan pada beberapa orang saja yang dipilih Allah tanpa membedakan dari suku bangsa manapun. Itu artinya, bahwa Allah memberikan ilmu kepada siapa saja yang memiliki kehendak dan dikehendaki-Nya. Dengan asumsi bahwa penemuan Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . ilmu pengetahuan dengan metode apa pun merupakan rahmat dari Allah melalui orang-orang yang terpilih karena pada hakikatnya semua ilmu itu tidak lain dari-Nya semata. Allah swt berfirman di dalam al-QurAoan surat al-JumuAoah ayat 4: a a a ca a a e a a a ca a a a a AE aE AE EEa OaaONa II O o OEE O EA aE E aO aIA Artinya: AuDemikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang Ay Pada dasarnya, betapa pun hebatnya penemuan ilmu pengetahuan, secanggih apa pun, manusia tetap tidak dapat menciptakan sesuatu. Dengan kata lain manusia hanya mengubah bentuk, warna atau wujud dari sesuatu yang sudah ada. Manusia bisa membuat robot, komputer dan lain sebagainya, namun materinya sudah lebih dulu diciptakan oleh Allah. Manusia tidak akan pernah dapat menciptakan makhluk hidup sekecil Manusia hanya dapat merekayasa gen, tetapi gen itu telah diciptakan Allah sebelumnya. Oleh karena itu, harus ada kesadaran teologis untuk selalu memohon tambahan ilmu kepada Allah swt. Keilmuan al-QurAoan dan Penerapannya Menurut Kuntowijoyo, orang Islam harus melihat realitas keilmuan dengan menggunakan kaca mata Islam dan eksistensi humaniora di dalam al-QurAoan. Islam sebagai teks . l-QurAoan dan Sunna. dihadapkan pada realitas. Dengan kata lain, teks ke konteks. Kemudian, mengapa orang Islam harus melihat realitas dengan kaca mata Islam?. Menurut ilmu budaya dan sosiologi pengetahuan, realitas itu tidak dapat dilihat langsung oleh orang, tetapi melalui tabir . ata, konsep, simbol, budaya, persetujuan masyaraka. Kuntowijoyo. Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi. Metodologi, dan Etika dalam Sutrisno. AuModernisasi Pendidikan Islam Fazlur Rahman: Telaah EpistemologiAy. Disertasi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2005, h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Dalam perspektif ini, yang menjadi pembeda antara pendidikan Islam dengan pendidikan barat adalah pondasi yang menjadi induknya. Pendidikan barat yang sekuler semata-mata berpijak pada filsafat. Sedangkan pendidikan Islam menjadikan al-QurAoan sebagai induk dari ilmu pengetahuan. Upaya pengilmuan dalam Islam bersumber dari al-QurAoan. Metode pengilmuan Islam yang berbasis pada orientasi tauhid dan al-QurAoan ini pada level tertentu akan bertemu dengan pengilmuan sekuler pada banyak irisan. Pada level tersebut, orang mungkin akan sulit membedakan apa yang menjadi pembeda antara dua model pengilmuan tersebut, namun secara substansi sebenarnya akan menjadi jelas bahwa pembedanya adalah pondasi yang menjadi induknya, yang pada gilirannya akan membedakan pula motif seseorang dalam mempelajarinya. Sehingga dapat dipahami bahwa paradigma keilmuan ini adalah ilmu dalam konsep sekuler hanya sekedar diorientasikan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan sehari-hari dalam keA hidupan seseorang. Namun lain halnya dengan paradigma keilmuan dalam Islam yang selain untuk menyelesaikan persoalan hidup, juga sebagai realisasi ibadah kepada Allah . Sejalan dengan itu. Naquib Al Attas mengatakan bahwa paham empirisme dalam ilmu pengetahuan cenderung menolak otoritas dan intuisi sebagai sumber dan metode pengetahuan yang absah. Metode ini hanya bergantung sendiri pada rasio tanpa bantuan persepsi atau pengalaman inderawi. rasionalisme sekuler, yang sementara menerima rasio cenderung menyandarkan diri lebih pada pengalaman inderawi, dan menolak otoritas dan intuisi, dan menolak wahyu dan agama sebagai sumber pengetahuan sejati. dan empirisme filosofis dan empirisme logis yang mendasarkan semua pengetahuan pada fakta yang terobservasi, konstruksi logis, dan analisa linguistik. Fahri Hidayat. AuPengembangan Paradigma Integrasi Ilmu: Harmonisasi Islam dan Sains dalam PendidikanAy, dalam Jurnal Pendidikan Islam. Vol. IV . 2015, h. Syed Muhammad Naquib Al Attas. Prolegomena to the Metaphysics of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2. , h. Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . Untuk pembuktian kebenaran paradigma keilmuan berdasarkan al-QurAoan, dalam pandangan Islam, wahyu merupakan sumber keA benaran yang utama. Sedangkan observasi dan penelitian empiris hanyalah instrumen untuk menggali kebenaran itu supaya mampu membahasakan bahasa wahyu kedalam bahasa ilmiah. Pengilmuan al-QurAoan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang ada di dalam al-QurAoan. Selain pertanyaan ilmiah, terdapat juga dorongan secara langsung untuk mengadakan eksperimen dan penelitian terhadap ciptaan Allah di alam Jawaban dari pertanyaan itulah yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah disiplin ilmu yang memiliki kajian yang luas dan terus Tema sentral yang menjadi sorotan terkait paradigma keilmuan Islam perspektif kontemporer adalah dibahas berbagai persoalan mendasar tentang problem pendidikan Islam dan solusi pemecahannya. Salah satu gagasan yang muncul adalah perlunya Islamisasi dalam dunia pendidikan Islam. Dalam bahasa Arab, istilah Islamisasi ilmu dikenal dengan AuIslamiyyat al-MaAorifatAy dan dalam bahasa Inggris disebut dengan sebutan AuIslamization of KnowledgeAy. Islamisasi ilmu merupakan istilah yang mendeskripsikan berbagai usaha dan pendekatan untuk mensintesakan antara etika Islam dengan berbagai bidang pemikiran Modern. Produk akhirnya akan menjadi kesepakatan baru bagi umat Islam dalam bidang keilmuan yang sesuai dengan metode ilmiah yang tidak bertentangan dengan norma-norma Islam. Sementara tujuannya adalah membentuk pendidikan Islam yang mewujudkan manusia yang insan Insan kamil adalah manusia yangn bercirikan. pertama, manusia yang seimbang, memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian yang isoterik vertikal yang intinya menghamba kepada Allah dan dimensi eksoterik dialektikal horisontal yang membawa keselamatan bagi sosial Kedua, manusia seimbang dalam kualitas fikir, zikir dan amalnya. Secara makro orientasi pendidikan Islam era kontemporer TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 adalah mengarah kepada pendidikan yang bercorak moral religius yang menjaga keseimbangan dan keterpaduan. Penutup Berdasarkan beberapa uraian tentang paradigma problema keA ilmuan Islam dan dampaknya terhadap model lembaga pendidikan Islam di era kontemporer di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, paradigma keilmuan adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsiasumsi teoritis yang umum . erupakan suatu sumber nila. sehingga merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri. Kedua, paradigma keilmuan berdasarkan al-QurAoan harus dibangun dengan menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai pilar-pilar yang menyusunnya. Dalam al-QurAoan, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia dipandang lebih unggul ketimbang makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya. Ketiga, paradigma keilmuan ini dapat dibagi bahwa pada tingkat ontologi relasi keduanya bersifat integratif-interdependentif artinya tidak akan ada ilmu jika tanpa agama dan sebaliknya tidak akan ada agama jika tanpa ilmu. Konsepsi ontologis yang bersifat integratif-interdependentif antara ilmu dan agama secara epistemologis akan menghasilkan konsep relasi ilmu dan agama yang integratif-komplementer . adu dan saling melengkap. , yang berarti sumber benarnya ilmu tidak cuma akal dan empiri, tetapi juga wahyu dan intuisi. Kesemua sumber ilmu itu saling Diterimanya wahyu dan intuisi sebagai sumber ilmu memberikan dampak yang sangat signifikan dan besar bagi diterimanya kebenaran agama. Selanjutnya, pada tingkat aksiologis agama dan ilmu bisa dikatakan memiliki relasi yang integratif-kualifikatif. Ini berarti, berbagai nilai . aitu kebaikan, keindahan, ilahiyah, dan kebenara. secara simultan dan saling terkait antara satu dengan yang lain untuk dijadikan pertimbangan dalam pengembangan sains. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Konsep Pendidikan dalam Islam (Bandung: Mizan, 1. , h. Candra Wesnedi. Ahmad Syukri. Badarussyamsi - Paradigma Keilmuan . Keempat, kondisi yang ada sekarang ini menunjukkan bahwa radius daya jangkau aktivitas keilmuan dan lebih-lebih pendidikan agama di lembaga pendidikan Islam di seluruh Indonesia, terfokus pada ilmu-ilmu diniyah, seperti kalam, falsafah, tasawuf, hadits, tarikh, fiqh, tafsir, dan lughah. Ilmu ini hanya terbatas pada ruang gerak pendekatan keilmuan humaniora klasik. Perguruan Tinggi Agama ini belum mampu memasuki diskusi ilmu-ilmu sosial dan humanities kontemporer seperti antropologi, sosiologi, psikologi, filsafat dan berbagai teori dan pendekatan yang ditawarkannya. Akibatnya, terjadi jurang wawasan keislaman yang tidak terjembatani antara ilmu-ilmu keislaman klasik dan ilmu-ilmu keislaman baru yang telah memanfaatkan analisis ilmu-ilmu sosial dan humaniora kontemporer dan ilmu-ilmu alam. Kesenjangan wawasan keilmuan ini cukup berakibat pada dinamika kelimuan dan implikasinya dalam kehidupan sosial keagamaan dalam masyarakat Indonesia dan dunia. Paradigma keilmuan berdasarkan al-QurAoan harus segera diaplikasikan di setiap lembaga pendidikan Islam sekarang. Sebagaimana diketahui sekarang, realitas di lapangan, ilmu-ilmu agama memang dirancang terintegrasi dengan ilmu-ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang memberi bobot keterampilan untuk hidup yang lebih luas, bersama-sama dengan alumni perguruan tinggi lain. Ilmu-ilmu kauniyah . ptek atau science and technolog. ini terpisah jauh dari inti ilmu-ilmu qauliyah . eks-naska. , dan kemudian masing-masing berdiri sendirisendiri tanpa kontak dan tegur sapa. Bahkan seringkali terjadi bahw ailmu-ilmu keagamaan Islam seperti yang disajikan sekarang ini hampir tidak dapat membekali perangkat lunak untuk menjaga, memelihara, mengawasi dan mengontrol dengan mengkritik moralitas dan kesalehan Sudah barang tentu fenomena ini kurang menguntungkan anak didik bagi kehidupan bangsa secara luas karena dari awal mula telah menyeberang dari pokok-pokok ajaran al-QurAoan yang selalu mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Daftar Pustaka