Jurnal Magistra Vol. 2 No. 1 Maret 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 24-38 DOI : https://doi. org/10. 62200/magistra. Perspektif Jemaat Tentang Mempersembahkan Tubuh Sebagai Ibadah Yang Sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 Di Kehidupan Keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe Jipora Ngotmaina Cibro1. Bernhardt Siburian2. Megawati Manullang3 Junjungan Simorangkir4 1,2,3,4 Institut Agama Kristen Negeri Tarutung Email: jiporangotmainacibro@gmail. com1, siburian. bernhardt@gmail. megamanullang2@gmail. com3, jsimorangkir271@gmail. Abstract. This research aims to determine the perspective of the congregation offering the body in the life of the GKPPD Prongil Jehe Christian family. This study uses a qualitative method. The technique for determining informants is Purposive Sampling based on certain criteria that are appropriate to the research topic. The number of participants who will be interviewed is 10 people. The data collection technique for this research is to use observations on 3-5 October 2023 and documentation in the form of pictures. The results of research conducted by the author on the GKPPD Prongil Jehe congregation have provided an understanding of offering the body to continue to strengthen relationships with others and with God. There are two factors that influence the congregation regarding offering the body, namely internal factors, need factors and interest factors where there is a sense of joy and desire that arises without any external encouragement. The second is external factors, factors that come from outside the congregation, namely the leadership of the pastor, the service of the servants, the church infrastructure . These two factors influence the congregation's perspective regarding offering the body as true worship in the life of the GKPPD Prongil Jehe Christian family. Keywords: Perspective, offering the body,True Worship. Rome 12:1-2 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif jemaat mempersembahkan tubuh di kehidupan keluarga kristen GKPPD Prongil Jehe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik penetapan informan yaitu Purposive Sampling berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan topik penelitian. Jumlah partisipan yang akan diwawancarai ada 10 orang. Tehnik pengumpulan data penelitian ini adalah menggunakan observasi di tanggal 3-5 oktober 2023 dan dokumentasi berupa gambar. Hasil penelitian yang telah dilakukan penulis kepada Jemaat GKPPD Prongil Jehe telah memiliki pemahaman tentang mempersembahkan tubuh untuk tetap memperkuat relasi dengan sesama dan kepada Tuhan. Ada dua faktor yang mempengaruhi jemaat tentang mempersembahkan tubuh yaitu faktor internal, faktor kebutuhan dan faktor minat dimana ada rasa sukacita dan keinginan yang timbul tanpa ada dorongan dari luar. Yang kedua faktor eksternal, faktor yang berasal dari luar diri jemaat yaitu kepemimpinan pendeta, pelayanan para pelayan, sarana prasarana . Kedua faktor tersebut mempengaruhi perspektif Jemaat tentang mempersembahkan tubuh sebagai ibadah yang sejati di kehidupan keluarga kristen GKPPD Prongil Jehe. Kata kunci: Perspektif. Mempersembahkan Tubuh. Ibadah Sejati. Roma 12:1-2 LATAR BELAKANG Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bersifat spritual. Oleh karena itu, manusia mampu menanggapi hal-hal yang secara rohani. Manusia selalu berusaha untuk berhubungan dengan yang Ilahi. Sehingga hubungan dengan yang Ilahi tersebut dalam bentuk Konsep ibadah baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memiliki konsep yang sama. Kata Ibrani abad dan Yunani latreia pada mulanya menyatakan pekerjaan seorang Dan dalam rangka mempersembahkan AoibadatAo kepada Allah, maka para hamba-Nya harus meniarap, sebagai ungkapan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh Received: November 17, 2023. Accepted: Desember 20, 2023. Published: Maret 31, 2024 * Jipora Ngotmaina Cibro jiporangotmainacibro@gmail. Perspektif Jemaat Tentang Mempersembahkan Tubuh Sebagai Ibadah Yang Sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 Di Kehidupan Keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe Konsep inilah yang mendasari tindakan seseorang dalam setiap kegiatan memberikan korban persembahan dalam setiap ibadah. Demikian juga berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang dilakukan oleh orang percaya kepada Tuhan Yesus. Persembahan yang dilakukan oleh manusia dan diberikan kepada Tuhan sebagai korban syukur merupakan bagian dari ibadah. Persembahan tidak bisa dipisahkan dari ibadah. Hal ini karena persembahan bukan hanya sekedar simbol untuk memberi dengan apa yang dimiliki baik itu berupa uang, barang atau lainnya. Tetapi hal yang terbaik dari persembahan ialah persembahan yang diberikan kepada Tuhan Yesus harus dilandasi dengan iman atau dasar yang benar tanpa memandang pemberian orang lain atau dengan tujuan yang berbeda. Hampir semua bentuk ibadah yang dilakukan mulai dari anak sekolah minggu, remaja, pemuda, kaum ibu, kaum bapak, lansia, ibadah hari Minggu, dan ibadah lainnya melakukan persembahan sebagai korban syukur telah menjadi bagian dalam liturgi ibadah. Tetapi pemberian itu harus dipahami secara benar dan sungguh-sungguh. Persembahan dapat dimaknai sebagai ungkapan yang mendalam dari manusia dalam hubungannya kepada Tuhan. Makna tersebut berdasar kepada arti dari ibadah itu sendiri. Ibadah Kristen adalah keikutsertaan umat di dalam tindakan Imamat Kristus demi kepentingan manusia sendiri, sebagai ajakan kepada umat menjadi korban korban yang hidup di dalam Salah satu bagian terpenting dari kedewasaan kerohanian ialah bagaimana umat Allah memahami kuasa dan relevasi Firman Tuhan bagi orang percaya dalam setiap aspek Sepanjang kehidupan manusia harus terus belajar menuju pada kesempurnaan karena Firman Tuhan mengandung kebenaran. Setiap Firman Tuhan dipelajari maka banyak hal yang dapat diperoleh dari kebenaran dan ajaran-ajaran Tuhan. Persembahan dalam konteks ini dinyatakan kemurahan Allah melalui Paulus dengan memberikan nasihat untuk mempersembahkan tubuh sebagai esensi dari ibadah yang sejati harus terlebih dahulu terlihat dari kehidupan sesama meraka yang percaya kepada Kristus dalam Roma 12:1-2. Mempersembahkan tubuh dapat diwujudkan dari iman kepada Kristus akan nyata terlihat dalam kehidupan jemaat dengan adanya satu tujuan hidup yang jelas, yakni walaupun memiliki karunia yang berbeda beda dari Allah, kita sedang berbuat dalam satu tubuh didalam Kristus. Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuhnya kepada Allah, dan semua yang dikerjakan oleh tubuh itu setiap hari. Ibadah yang sejati bukanlah persembahan kepada Allah D Douglas. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1. Dr Th Van den End. Tafsiran Alkitab Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 24-38 dalam bentuk liturgi, bagaimana pun mulianya, dan bukan pula suatu upacara agama, bagaimanapun megahnya. Ibadah yang sejati tidak lain daripada mempersembahkan kehidupan sehari hari kepadaNya, bukan sesuatu yang terbatas pada kegiatan di gereja, melainkan sesuatu yang melihat seluruh dunia sebagai bait Allah. Yang harus dipersembahkan kepada Allah itu ialah tubuhmu. yang dimaksud tentu bukan bahwa orang yang percaya menyerahkan tubuhnya untuk dibunuh, sebagaimana kadang kadang terjadi dalam lingkungan agama lain. 3 Bukan juga bahwa mereka wajib menyiksa diri supaya bertamabah suci . Tafsiran 10:6-. Pada hakekatnya manusia melakukan pelayanan kepada Allah adalah sebagai bentuk pengabdian nya kepada Allah. Yang artinya adalah tindakan nyata manusia kepada Persembahan Kristen juga mengandung makna, keikutsertaan dalam pelayanan Kristus dan mengaktualisasikan imannya dalam kehidupan sehari hari (Yakobus 2:. Ketika seseorang memberi persembahan menyembahkan persembahan, didalamnya terkandung suatu pengakuan bahwa Tuhan Yesus telah memelihara kita dengan setia dan sempurna. Mempersembahkan mempersembahkan diri dan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, itulah mempersembahkan yang hidup dan kudus. Dari persembahan tubuh yang dilakukan Yesus menghasilkan pendamaian bagi seluruh umat manusia. Yang dulunya umat percaya adalah milik dosa sekarang menjadi milik Allah. 4 Oleh karena itu orang percaya tidak lagi hamba dosa . ehidupan lam. melainkan hamba Allah (Roma 7:. Oleh karena itu orang Kristen tidak dapat lagi memberikan tubuhnya dalam keberdosaan. Tetapi orang Kristen harus memberikan tubuhnya untuk menaati apaa yang menjadi kehendak Allah dalam kehidupanya (Roma 7:. Dengan tidak lagi hidup dengan apa yang didalamnya orang percaya sudah mati . ehidupan yang lam. Karena orang Kristen sudah dipersatukan dengan Kristus . elalui babtisa. dalam kematian dan kebangkitanya, meskipun memang tidak mustahil jika orang percaya masih tetap bisa berdosa. Memberi persembahan merupakan salah satu panggilan orang Kristen dalam bergereja, sehingga pemberian persembahan merupakan suatu hal yang sudah melekat dengan Sejak sekolah minggu jemaat sudah diajarkan untuk memberikan persembahan yaitu memberikan sebagian milik jemaat yang berbentuk materi atau uang. Dapat dikatakan bahwa pemberian persembahan identik dengan memberi uang. Pemberian persembahan yang selalu dilakukan oleh gereja pada setiap ibadah memiliki tujuan untuk pekerjaan kemuliaan Tuhan Ibid. William Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Jhon Stott. The Incomparable Christ Kristus Yang Tiada Tara (Surabaya: Momentum, 2. Perspektif Jemaat Tentang Mempersembahkan Tubuh Sebagai Ibadah Yang Sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 Di Kehidupan Keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe melalui pelayanan kesaksian yang diprogramkan oleh gereja. Namun, situasi sekarang menunjukkan bahwa banyak pelayanan kesaksian baik untuk kebutuhan didalam gereja maupun ditengah masyarakat tidak berjalan dengan baik sehingga amanat Yesus kurang diperhatikan untuk dilaksanakan. Masalahnya gereja pada konteks masa kini diperhadapkan dengan laju pertambahan penduduk yang sangat pesat. Pertambahan penduduk menjadi persoalan karena tidak berimbangnya pertambahan penduduk jika dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja yang mendorong terus meningkatnya angka pengangguran. Keadaan seperti ini menjadi keprihatinan bersama, termasuk gereja. Terutama kepekaan gereja dalam melihat dan mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di dalam masyarakat dan jemaat melalui pelayanan nyata. Pelayanan nyata dari gereja dapat diwujudkan melalui fungsi gereja sebagai lembaga . yang memiliki tangung jawab untuk turut berperan dalam menangulangi keadaan masyarakat dengan melaksanakan tugas pangilan gereja. 6 Tugas itu terdiri dari tiga aspek yaitu: Pertama AumarturiaAy yaitu bersaksi, kedua AukoinoniaAy yaitu persekutuan antara jemaat. Kristus dan jemaat dengan jemaat, ketiga AudiakoniaAy melakukan pelayanan kasih bagi kesejahteraan segenap umat manusiaAy. Tugas panggilan gereja seperti dasar berpikir diatas dikonkritkan dalam pemikiran dan tindakan yang kritis terhadap masalah-masalah seperti penanggulangan penyakit, kemiskinan, kelemahan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Gereja secara langsung terlibat dalam pelayanan sosial karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Apalagi gereja sendiri merupakan kumpulan dari orang-orang beriman yang hidup untuk melayani sesama Roma 12:1-2 memiliki gambaran akan kasih-Nya yang besar serta murni, dan dengan membayar harga yang mahal. Allah telah menyelamatkan hidup manusia. Jika demikian masih adakah motivasi lain pada diri orang percaya yang lebih kuat untuk menyerahkah hidup kepada-Nya mulai dari sekarang? Ini berarti bahwa diri pribadi masing-masing dari orang percaya menjadi pusat yang secara mutlak mempengaruhi seluruh karakter, motivasi dan tingkah laku orang percaya dalam menjalin hubungan kepada Tuhan dan sesamanya untuk menjalankan ibadah yang sejati. Gereja diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengajarkan bagaimana memaknai pasal ini dalam kehidupan berjemaat terutama pada masa kini yang penuh dengan berbagai macam permusuhan, pertikaian, perselisihan dan masih banyak lagi Avery Dulles. Model-Model Gereja (Ende: Nusa Indah, 1. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 24-38 yang dapat merusak hakikat dari kasih yang ditekankan oleh rasul Paulus dalam bentuk ibadah yang berkenan kepada Tuhan. Namun dalam kalangan gereja pada masa kini tidak dapat disangkali bahwa ibadah hanya sekedar menjadi suatu rutinitas belaka tanpa memahami dan memaknai ibadah yang sejati, sehingga muncul banyak perdebatan mana konsep ibadah yang benar. jemaat Kristen pada masa kini kurang menyadari mengenai makna ibadah dan menganggap bahwa ibadah itu hanya sebuah kegiatan atau rutinitas yang harus dilakukan sebagai penunjuk identitas diri sebagai orang Kristen. Sudahkah orang percaya melakukan hal-hal itu dan memaknainya dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan masing-masing pribadi orang percaya? Dengan melihat kenyataan yang sedang terjadi pada kekristena masa kini tentang memaknai ibadah mempersembahkan tubuh sebagai ibadah yang berkenan kepada Allah. Maka dari itu Penulis perlu menggali dan mendalami makna tentang Perspektif jemaat tentang Mempersembahkan Tubuh. Dengan ini penulis mengangkat judul dalam tulisan ini AuPerspektif Jemaat tentang Mempersembahkan Tubuh sebagai Ibadah yang Sejati berdasarkan Roma 12:1-2 di Kehidupan keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe. KAJIAN TEORITIS Pengertian Perspektif Jemaat Dalam berbagai bidang, perspektif memiliki arti yang cenderung berbeda-beda yang disesuaikan dengan tujuan masing-masing. Dalam kehidupan sehari-hari, perspektif kadang menjadi salah satu acuan dalam menentukan keputusan untuk menyelesaikan sesuatu yang sedang dia pikirkan atau kerjakan. Kata perspektif berasal dari bahasa Latin, yakni AuperspicereAy yang berarti Augambar, melihat, pandanganAy. Berdasarkan terminologinya, perspektif adalah sebuah sudut pandang untuk memahami atau memaknai permasalahan tertentu Karena manusia adalah makhluk sosial yang seringkali memiliki pendapat dan pandangannya sendiri saat berhadapan dengan suatu hal, maka seringkali terdapat perbedaan perspektif yang memicu terjadinya perbedaan pendapat pula. Dalam kehidupan berjemaat, jemaat memiliki kesadaran akan kehadirannya untuk mewujudkan kebaikan Allah di tengah-tengah pergumulannya dengan menjalankan tugas panggilannya baik dalam jemaat maupun masyarakat, tentunya menempatkan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja dan pusat pemberitaan dan pelayanan jemaat. Dengan demikian, jemaat Edwin J. Karwur. AuEsensi Kekristenan Dalam Roma 12:1-2,Ay Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 2, 1 . Perspektif Jemaat Tentang Mempersembahkan Tubuh Sebagai Ibadah Yang Sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 Di Kehidupan Keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe memiliki arah untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai oleh suatu jemaat/gerejayang dapat dirumuskan dalam sebuah visi . dan misi . ugas yang harus dilaksanakan untuk menjawab vis. , sehingga jemaat mampu menjalankan tugas panggilannya untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani baik dalam lingkup jemaat maupun dalam masyarakat secara luas. Pengertian Mempersembahkan Secara Umum Mempersembahkan dalam setiap ritus keagamaan merupakan sebuah ritual yang penting, sehingga mempersembahkan selalu diikutsertakan di dalamnya baik dalam kepercayaan primitif atau yang masih bersifat tradisional maupun dalam kalangan penganut agama modern, mempersembahkan merupakan sebuah ritual dan merupakan salah satu cara agar dapat membangun hubungan dengan apa yang mereka percayai atau imani. Emile Durkhem dalam salah satu tulisannya menjelaskan bahwa mempersembahkan adalah ekspresi-ekspresi simbolik dari realitas sosial yang digunakan untuk kekuatan, penjagaan. Hal mempersembahkan merupakan bagian penting dari ritual dan merupakan tuntutan sosial dan kelompok atau komunitas kepercayaan sebagai kunci untuk mendirikan atau membangun hubungan, bukan saja dengan apa yang mereka percayai atau imani tetapi juga dengan sesama anggotanya sehingga terjalin sebuah solidaritas sosial. Mempersembahkan Dalam Perjanjian Lama Dyrness mengatakan Mempersembahkan dalam perjanjian lama berpusat pada kata kerja bahasa ibrani Kipper yang biasa diterjemahkan dengan AumendamaikanAy atau AumenutupiAy . m 1:. Dimana arti dasarnya AumenutupiAy yang dalam bahasa arab kafara AumenghapusAy dari bahasa Akad Kappuru menebus dengan suatu pengganti. Kata kerja ini menunjuk kepada proses penebusan atau pendamaian dengan dengan membayarkan sejumlah uang atau upeti,yang mencerminkan Kopper . arga tebusa. Ada dua unsur yang membatasi sistem upacara korban. Pertama, sipenyembah merendahkan dirinya, yang dilambangkan dengan peletakan kedua tanganya diatas kepala korban. Sipenyembah mengadakan perbaikan kepada pihak dimana ia telah bersalah, biasanya Allah, sehingga terpeliharalah hubungan pribadi kedua, ada peralihan dari keadaan tercemar ke keadaan tahir. Mempersembahkan Dalam Perjanjian Baru Emile Durkheim. The Elementary Forms of Religious Life (New York: Free Press, 1. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 24-38 Di perjanjian baru lebih banyak membahas tentang persembahan dibandingkan dengan aspek lainnya dalam kehidupan gereja. Didalam Perjanjian Baru persembahan itu diidentikkan dengan pemberian Tuhan kepada manusia (Mrk 15:45. 2 Ptr 1:. Gagasan Kitab perjanjian baru memberi pemahaman bahwa korban korban yang dipersembahkan dalam Perjanjian baru adalah sebagai lambang yang menunjuk pada karya penebusan Yesus dari Nazaret sebagai Mesias. Yohannes pembabtis dikenal mengenali dan menyatakan Yesus sebagai Anak Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29-. Ketika Yohannes membaptis Yesus di sungai Yordan. Yohannes memperkenalkan Dia sebagai anak domba yang menghapus dosa dunia . dk Yoh 1:. Demikian juga, ketika Yesus mengatakan bahwa anak manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya bagi banyak orang (Mrk 10:. Yesus sendiri memahami peranNya sebagai gembala yang baik yang mengorbankan nyawa untuk domba dombaNya (Yoh 10:10,. Pada bagian lain, para penulis Perjanjian Baru menafsirkan penyaliban Yesus Kristus, sebagai korban sekali untuk selama lamanya Hubungan Mempersembahkan dalam Perjanjian Lama dan Baru Dari penjelasan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diatas penulis Melihat ternyata memiliki hubungan dalam hal Mempersembahkan. Leland Riken. James C dan Tremper Longman i9 mengatakan persembahan itu tidak dapat dilepaskan dari Perjanjian Lama. Dalam perjanjian lama persembahan dibawa oleh manusia kepada Allah, dan itu berupa materi. Didalam perjanjian baru ada perkembangan yang lebih jauh, korban yang dituntut dari manusia mengandung bentuk ganda yaitu materi dan rohani. Perkembangan itu mengarah kepada persembahan yang semakin sempurna dan berkenan kepada Allah. Pengertian Tubuh Tubuh berasal dari kata yunanu Ea . yang merupakan mata benda netral nominatif tunggal dari Ea . , yang artinya tubuh. Tubuh adalah keberadaan fisik yang berakhir dengan kematian. Oleh sebab itu berbeda dengan jiwa. Namun transmigrasi mengaitkan bahwa tubuh dan jiwa lebih dekat. Dalam perjanjian lama tubuh yang berarti daging . ering disebut mayat atau bangka. , tubuh juga menunjukkan suatu personan suatu objek dengan mengacu pada penyakit, penyembuhan dan kebangkitan. Jiwa dan tubuh bersama sama menggambarkan manusia yanf fana lebih terhadap kebijaksanaan atau alasan, namun dualisme antropologi muncul hanya ketika jiwa atau alasan diatur dalam penjajaran untuk tubuh. Misalnya kedtika tubuh ditinggalkan mati namun jiwa tidak ikut mati. Tremper Longman i Leland Ryken. James C. Kamus Gambaran Alkitab (Surabaya: Momentum, 2. Perspektif Jemaat Tentang Mempersembahkan Tubuh Sebagai Ibadah Yang Sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 Di Kehidupan Keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe GKPPD Prongil Jehe Sejarah GKPPD Prongil Jehe Jemaat awal GKPPD terbentuk sebagai hasil Zending HKBP yang mengutus Pdt. Samuel Panggabean mengabarkan Injil di tanah Pakpak pada 7 September 1905. Ibadah perdana dilaksanakan di rumah keluarga Raja Sibayak Pakasior Manik di desa Kuta Usang Suak Pegagan. Pada 3 Maret 1963 berdiri HKBP Simerkata Pakpak-Dairi, yang kelak menjadi Gereja Pakpak yang berdiri secara mandiri, dimekarkan dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Dengan mengikuti petunjuk pucuk pimpinan HKBP di Pearaja Tarutung tentang tata cara pembentukan distrik di HKBP serta pendanaan yang diperlukan, maka melalui rapat tanggal 16-18 November 1974 di Sukaramai dihasilkanlah keputusan penting sebagai berikut: Pertama, disetujuinya HKBP Resort Salak. HKBP Resort Kerajaan. HKBP Resort Kuta Krangen, menjadi satu distrik dengan rencana nama HKBP Distrik Simerkata Pakpak. Pada 20 Oktober 1990 diadakan sidang penetapan nama, penetapan aturan-peraturan gereja di Gereja HKBP Simerkata Pakpak Sukadame Ae Sidikalang. Dairi. Peresmian GKPPD sebagai satu sinode gereja yang mandiri dilaksanakan di Medan pada 25 Agustus 1991 dengan Pdt. Solin sebagai Bishop dan St. Sakkap Manik sebagai pelaksana harian, dan diakui oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Dirjen Bimas Kristen Protestan Departemen Agama Republik Indonesia. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut John Creswell penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau kelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan dimana proses penelitian kualitatif ini melibatkan upayaupaya pertanyaan-pertanyaan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema umum dan menafsirkan makna data. 10 " Hal ini didukung oleh pendapat Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Lexy Moleong mendefinisikan bahwa metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati John W. Pendekatan Metode Kualitatif. Kuantitatif & Campuran (Yogyakarta: PT Remaja Rosdakrya, 2. ,4-5. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 24-38 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan Faktor yang berasal dari diri Jemaat (Faktor Interna. Faktor Kebutuhan Seperti yang diketahui bahwa faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang termasuk dalam diri jemaat sehingga jemaat dapat mengerti bagaimana maksud mempersembahkan tubuh. Ajaran tentang perintah memberikan persembahan Pada masa sekarang, kesadaran akan pentingnya memberikan persembahan baik secara uang, atau pun dalam bentuk persembahan ucapan syukur, merupakan bagian terpenting yang tidak bisa dipisahkan dari ibadah umat percaya. Secara umum setiap orang yang datang untuk beribadah ke gereja pasti akan membawa persembahan yang nantinya akan berguna bagi pekerjaan dan pelayanan serta operasional gereja tersebut Selain itu, persoalan bait Allah atau gereja bukanlah persoalan masa lalu yang telah kehilangan hubungannya, malah gereja masa sekarang pun diperhadapkan dengan masalah yang sama, sebab banyak gereja yang tidak berkembang karena kurangnya perhatian dan rasa tanggung jawab umat Tuhan dalam memeliharanya. Oleh karena itu, apa yang mengikat umat Tuhan pada gereja bukan hanya dari pemberian orang percaya, melainkan Allah yang memeliharanya. Sebaliknya, umat Tuhan dituntut juga untuk berpartisipasi di dalamnya. Faktor Harapan Harapan yaitu dimana seseorang termotivasi oleh keberhasilan dan adanya harapan mencapai keberhasilan yang memberikan kepuasan pada dirinya sendiri. Keberhasilan atau peningkatakan harga diri mendorong individu untuk mencapai tujuan Faktor yang berasal dari luar diri Jemaat (Eksterna. Kepemimpinan Pendeta Kepemimpinan pendeta sangat berperan penting didalam menumbuhkan iman jemaat tidak jauh berbeda Perspektif Jemaat tentang Mempersembahkan Tubuh, kerena kepemimpinan pendeta memberikan dorongan, motivasi, menggerakkan jemaat dan yang paling penting menyinarkan injil dalam jemaat. Menurut ibu Mian Simbolon mengatakan bahwa pemimpin bertugas untuk membimbing. Pemimpin tersebut terlibat langsung dengan yang dipimpinnya, sehingga pemimpin dapat lebih mengetahui secara lebih dekat bagaimana situasi dan kondisi dari jemaatnya11. Selanjutnya menurut Patterson bahwa kepemimpinan pendeta memiliki beberapa ciri atau karateristik yaitu: kasih yang murni, kerendahan hati. Simarmata B. Kepemimpinan Gerejawi. Membangun Tubuh Kristus (Pematangsiantar: Yayasan STT HKBP, ), 221Ae222. Perspektif Jemaat Tentang Mempersembahkan Tubuh Sebagai Ibadah Yang Sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 Di Kehidupan Keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe mengutamakan orang lain, visi, percaya, pemberdayaan, dan pelayanan 12. Berikut hasil dari wawancara terhadap Jemaat tentang kepemimpinan pendeta GKPPD Prongil Jehe Pelayanan para Pelayan Pelayanan para pelayan tidak lagi hanya menjalankan kegiatan rutinitas dalam ibadah tetapi para pelayan harus sudah membuka diri untuk mengadakan pelayanan melalui dialog terkhusus kepada tentang kehidupan yang dijalani tentang pergumulan yang dihadapi. Para pelayan juga harus bersedia menjadi pendengar yang baik merupakan yang siap untuk membangun jemaat. Dalam karya bukunya tentang Pemimpin dan Kepemimpinan. Kartini Kartono mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki keahlian luar biasa dalam suatu bidang memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain agar bersama-sama melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk mencapai satu atau beberapa tujuan Tata Ibadah Gereja Tata ibadah perlu dipahami sebagai alat untuk membantu anggota jemaat agar lebih dalam penghayatan iman mereka dan mengarahkan segala aspek kehidupan mereka menjadi bentuk penghormatan yang suci kepada objek keyakinan mereka. Ibadah bukan sekadar perayaan singkat, melainkan merupakan kesempatan sejati dimana komunitas umat diminta untuk mengagungkan Pencipta, merenungkan dan bersyukur atas ciptaan Tuhan, serta sebagai sarana untuk merenungkan ajaran ilahi. Ketiga aspek ini mengajak jemaat agar kehidupan mereka semakin sejalan dengan ajaran Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama manusia dan alam semesta. Dalam wawancara yang dilakukan penulis kepada kaum bapak terdapat dampak yang baik tentang tata ibadah ibadah gereja yang membuat kaum bapak mengikuti ibadah Minggu. Berikut adalah hasil wawancara yang dilakukan kepada jemaat mengenai tata ibadah gereja di GKPPD Prongil Jehe. Sarana Prasarana Gereja Gereja harus menyediakan alat atau fasilitas yang dibutuhkan dan dapat digunakan dalam pelayanan gereja demi kenyamanan dan ketertarikan jemaat dalam mengikuti ibadah Minggu. Gereja berani memutuskan akan melakukan apa yang akan diperlukan untuk meningkatkan pelayanan gereja13. Fasilitas penunjang di dalam gereja mencakup berbagai fasilitas yang ada di gereja untuk memenuhi kebutuhan jemaat dan mendukung pelaksanaan ibadah dengan hikmat, tertib, teratur, dan nyaman. Berikut adalah hasil wawancara kepada Jemaat di GKPPD Prongil Jehe http://respository. edu/ Wilhelmia Lieli Suharti/ Pengaruh-Servant-Leadership/pdf, diakses, 10 Juli 2023 Jenson Ron dan Jim Stevens. Dinamika Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 2. , 5. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 24-38 Dalam penelitian di gereja GKPPD Prongil Jehe, penulis menemukan beberapa faktor bagaimana Perspektif Jemaat tentang mempersembahkan Tubuh berdasarkan Roma 12:1-2 yang pertama faktor yang berasal dari dalam diri jemaat . yaitu adanya motivasi untuk mengikuti ibadah Minggu dimana motivasi itu ada karena adanya kerinduan kepada Tuhan. Dan kaum bapak datang kepada-Nya kerena rasa syukur yang telah Tuhan berikan kepada umat Faktor-faktor yang menjadi faktor internal kaum bapak juga meliputi faktor Kebutuhan, yang berarti seseorang melakukan aktivitas atau kegiatan karena adanya kebutuhan baik yang bersifat biologis maupun psikologis. sebagai contoh, seperti merasa membutuhkan makanan rohani, faktor harapan, yaitu seseorang termotivasi oleh keberhasilan dan adanya harapan mencapai keberhasilan yang memberikan kepuasan pada dirinya sendiri. Keberhasilan dan peningkatan harga diri mendorong individu untuk mencapai tujuan, dan faktor minat adalah rasa sukacita dan keinginan yang timbul pada suatu hal tanpa ada dorongan dari pihak Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikatakan oleh Yudi Meilani Anabokay bahwa faktor Kebutuhan (Nee. , faktor harapan (Expectanc. , dan minat adalah faktor yang mempengaruhi kaum bapak untuk mengikuti ibadah Minggu. 14 Motivasi mengikuti ibadah Minggu sebagai umat Kristen harus bersekutu kepada Tuhan dan menambah iman kepercayaan kita. Dan sebagai orang Kristen harus benar-benar melakukan sesuai dengan hukum Tuhan, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan, kita telah diselamatkan oleh Tuhan sehingga selaku orang percaya harus mengembangkan pelayanan dengan mengikuti ibadah Minggu Faktor yang berasal dari luar diri jemaat itu sendiri . juga mempengaruhi Perspektif Jemaat tentang Mempersembahkan Tubuh sebaai Ibadah yang sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 di kehidupan keluarga Kristen. Faktor eksternal tersebut terdiri dari beberapa yaitu yang pertama kepemimpinan pendeta yang sangat penting mendorong, memotivasi, menggerakkan, mengontrol, dan yang paling penting bahwa seorang pendeta menyinarkan injil dalam jemaat dan dilingkungan masyarakat. Kepemimpinan sebagai seorang pendeta adalah panggilan istimewa yang diberikan oleh Tuhan dengan tujuan untuk memperkuat iman anggota jemaat dan mendorong pertumbuhan rohani KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Penulis yang ditemukan di lapangan tentang Perspektif Jemaat tentang Mempersembahkan tubuh sebagai Ibadah yang sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 di kehidupan keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe: Yudi Meilani Anabokay. AuFaktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Ibadah Online Terhadap Spiritualitas Jemaat,Ay Tesis Uninersitas Kristen Satya Wacana . : 30. Perspektif Jemaat Tentang Mempersembahkan Tubuh Sebagai Ibadah Yang Sejati Berdasarkan Roma 12:1-2 Di Kehidupan Keluarga Kristen GKPPD Prongil Jehe Makna Ibadah yang sejati ialah mempersembahkan tubuh kepada Allah, artinya ialah Ibadah yang sejati merupakan semua yang dikerjakan oleh tubuh setiap hari. Orang Kristen percaya bahwa tubuhnya adalah milik Allah begitu juga dengan jiwanya, dan dapat melayani Allah baik dengan Pikiran, roh, maupun tubuhnya. Tubuh itu adalah bait roh kudus dan alat yang dipakai Roh Kudus. Ibadah sejati tidak dimaksudkan sebagai Persembahan kepada Tuhan dalam bentuk liturgi, betapa mulianya ataupun acara keagamaan, betapa megahnya, akan tetapi makna Ibadah Sejati didalam Roma 12:1-2 adalah mempersembahkan tubuh yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah artinya bukan sekedar Ibadah dalam bentuk liturgi yang dilaksanakan di bait suci namun ibadah sejati yang dimaksud adalah seluruh aspek kehidupan sehari hari manusia baik pikiran, tindakan, dan hati manusia secara total di persembahkan kepada Allah. Mempersembahkan Tubuh Berdasarkan Roma 12:1-2 ternyata juga memberikan Keberhasilan. Memberikan kebahagiaan, dan yang paling penting adalah segala sesuatu yang diberikan adalah berasal dari hati . ukan paksaan dari mana pun jug. sehingga ketika memberikan nya itu adalah kepuasaan yang sesunguhnya. Saran