Motivasi PERBEDAAN TINGKAT STRES AKADEMIK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMAN . DENGAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS BERBASIS AGAMA (MAN) DI SENDAWAR. DIFFERENCES IN ACADEMIC STRESS LEVELS IN HIGH SCHOOL STUDENTS WITH RELIGION-BASED HIGH SCHOOL IN SENDAWAR Ghea Yosita Wardani. Diana Imawati. Silvia Eka Mariskha. Nuraida Wahyu Sulistyanio. Titia Herawati. Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda . Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Diva Assessment Center. Email: gheayosita79@gmail. Abstrak: Penelitian ini meneliti tentang pengaruh perbedaan tingkat stres akademik pada siswa sekolah Menengah Atas Umum (SMAN. dengan siswa Sekolah Menengah Atas berbasis Agama. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 120 siswa yang berasal dari 2sekolah di kota Sendawar. Sampel dalam penelitian ini diambil dari seluruh populasi sesuai dengan kriteria penelitian. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat stres akademik antara siswa Sekolah Menengah Atas Umum (SMAN . dengan Siswa Sekolah Menengah Atas Berbasis Agama (MAN . Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t test memperoleh nilai 216 . > . yang berarti H0 diterima dan Ha ditolak. Kata Kunci: Stres akademik. Abstract This study examines the effect of differences in academic stress levels on public high school students (SMAN. with religious-based high school. The research method used in this study is The sample in this study were 120 students from 2 schools in Sendawar city. The sample in this study was taken from all populations according to the research criteria. The data analysis technique used in this study is descriptive analysis. The results showed that there was no difference in the level of academic stress between Public High School students (SMAN . and Religious Based High School Students (MAN . This can be seen from the results of the t test obtained a significant 216 . > . which means that H0 is accepted and Ha is rejected. Keywords: Stress Akademic Motivasi PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai andil yang cukup besar dalam penbentukan jati diri siswa untuk menjadi warga negara yang terampil dan bertanggung jawab. Kegiatan pengajaran merupakan salah satu bagian dari kegiatan pendidikan yang mampu membawa manusia menjadi warga negara yang baik. Stres menjadi topi penting dalam lingkup pendidikan. Banyaknya penelitian di bidang ilmu perilaku telah melakukan penelitian yang luas pada stress akademik dan membutuhkan lebih banyak lagi perhatian (Anggola, 2. Stres tidak dapat dipisahkan dari aspek Stres merupakan fenomena universal yang tidak dapat dihindari termasuk Stres yang dialami pelajar dapat bersumber dari proses belajar, adanya suasana kompetisi dan tuntutan menguasai materi dalam waktu singkat Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 7 April 2017, peneliti menemukan fenomena yang terjadi pada siswa yang mereka alami antara lain. kurangnya minat belajar yang terlihat dari lupa mengerjakan pekerjaan rumah, lupa membawa buku pelajaran, tidak memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran, melamun, melipat tangan dan berpangku dagu diatas meja, mengantuk, izin ke toilet dan tidak kembali, cemas menghadapi ujian dadakan, tidak konsentrasi belajar di dalam kelas, cemas terhadap materi yang sulit, jenuh jika ada pelajaran tambahan Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara dengan wakil kesiswaan, eliau menyatakan siswa sering kali tidak konsentrasi dalam belajar, siswa membolos keluar kelas dengan cara izin ke toilet dan tidak kembali, menghindari mata pelajaran yang sulit atau tidak di sukai, mengantuk saat guru menjelaskan, melamun pandangan keluar kelas, tidak aktif bertanya. Hal-hal demikian merupakan respon pikiran akibat stres akademik yang tampak pada siswa. Pada kesempatan lain peneliti juga melakukan wawancara di sekolah yang berbeda melibatkan Madrasah Aliyah Negeri 1 Sendawar pada tanggal 10 Juli 2017. Masingmasing kelas 5 orang siswa diwawancarai. Hasilnya menunjukan 10 dari 20 siswa yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka merasa beban belajar mereka sehari-hari terlalu banyak karena harus ditambah lagi dengan perpanjangan waktu belajar, sulit memenuhi tekanan-tekanan dan tuntutan orang tua agar terus berprestasi karena biaya yang dikeluarkan untuk sekolah tidak sedikit, tidak memiliki kesempatan untuk bermain, bergaul dengan temantemannya, atau hal-hal pribadi lainya, terpaksa memenuhi tuntutan orang tua dan tuntutan sekolah, jika tidak ingin dirinya konyol, jumlah mata pelajaran yang banyak dan membebani siswa dengan serangkaian tugas yang harus segera diselesaikan, tidak suka dengan pelajaran dan guru tertentu. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru BK di Madrasah Aliyah Negeri 1 Sendawar menunjukan kondisi siswa dengan perilaku yang menyimpang, kurangnya konsentrasi dalam mengikuti pelajaran dan rendahnya hasil belajar yang ditunjukan siswa di kelas. Bahkan menurut penuturan guru bimbingan konseling di sekolah, ada siswa yang kemudian memilih keluar dari sekolah karena merasa tidak sanggup mengikuti ritme belajar disekolah. Ritme belajar di sekolah memang lebih cepat dan padat dibandingkan sekolah umum. Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) sama dengan kurikulum Madrasah Aliyah (MA), hanya saja Madrasah Aliyah porsi belajarnya lebih banyak memuat Pendidikan Agama Islam, yaitu Fiqih, akidah, akhlak. Al Quran. Hadits. Bahasa Arab dan Sejarah Islam . ejarah kebudayaan Isla. Jika dilihat secara umum, baik pelaksanaan kurikulum, proses pembelajaran, belajar dan keberhasilan dari pembelajarannya pada dasarnya pendidikan madrasah dan sekolah menengah atas hampir tidak ada perbedaan. Perbedaanya hanya terlihat dari struktur kurikulum lokal dan kebijakan yang di pegangnya yaitu dinas pendidikan dan departemen agama. Sekolah MA Negeri 1 memiliki 6 hari belajar, dimana setiap harinya dimulai dari 15 sampai dengan pukul 16. 15 sore Sekolah ini 10 mata pelajaran yang telah ditetapkan dinas pendidikan dan 4 mata pelajaran tambahan dari sekolah itu sendiri, yaitu Al-Quran, bimbingan shalat, bahasa arab dan pendidikan agama islam. Selain itu, sekolah ini tidak hanya melihat prestasi siswa di setiap mata pelajarannya, namun juga melihat bagaimana anak bertingkah laku Motivasi sehari-hari, kemampuan siswa menerapkan bahasa arab dan kemampuan siswa menghafal surat AlQuran. Metode belajar yang digunakan di sekolah ini yaitu metode moving class, yang artinya siswa tidak selalu belajar di dalam kelas, siswa bebas memilih tempat belajar yang mereka inginkan. Sementara itu, pada SMA Negeri 1 menerapkan sistem kurikulum yang sudah di tetapkan oleh system pendidikan SMA memiliki 10 mata pelajaran dan proses belajar mengajar berlangsung mulai 15 sampai denga 14:00 siang. Berbeda dengan MA Negeri 1. SMA Negeri 1 ini hanya melakukan proses belajar mengajar di dalam kelas. Waktu belajar yang panjang dan memuat lebih banyak mata pelajaran tambahan memungkinkan siswa MA Negeri Sendawar memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dari pada SMA Negeri 1 Sendawar. Tetapi perbandingan banyak murid dan guru dalam satu kelas juga memungkinkan SMA Negeri 1 Sendawar memiliki tingkat stres akademik yang tinggi. Perbedaan sistem pembelajaran dan peraturan yang diterapkan di kedua sekolah dapat menimbulkan stres akademik pada diri siswa. Hal ini yang menjadi alasan utama bagi peneliti untuk meninjau lebih jauh tentang tingkat stres akademik siswa di SMA Negeri 1 dan MA Negeri 1 Sendawar dengan judul penelitian Perbedaan Tingkat Stress Akademik pada Siswa Sekolah Menengah Atas Umum (SMAN . dengan Siswa Sekolah Menengah Atas Berbasis Agama (MAN . di Sendawar. Apakah benar siswa dari MA Negeri 1 Sendawar stres akademiknya lebih tinggi dari pada SMA Negeri 1 Sendawar. METODE Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh yang sekolah di SMAN 1 dan MAN 1 di kota Sendawar. Alat Ukur Dalam penelitian ini menggunakan alat ukur Skala Student Life Stress Inventory (SLSI) yang diadaptasi dari Hariyanti . Skala Student Life Stress Inventory (SLSI) mengacu pada skala stres akademik Gadzella . karena dimensidimensi yang digunakan dalam stres akademik sama dan sesuai dengan dimensi Aedimensi pada skala SLSI, yang terdiri dari 35 aitem yang telah diadaptasi disesuaikan dengan subjek penelitian. Teknik Analisis Data Peneliti menggunakan teknik analisa deskriptif dan statistik inferensial. Teknik analisa deskriptif adalah menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau genealisasi. Statistik inferensial adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya di berlakukan untuk populasi (Sugiyono, 2. HASIL Berdasarkan data yang diolah dan menggunakan aplikasi SPSS 21 memperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 1. Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Test Jumlah Kolmogor ovSmirnov Signifikan . One-Sample SMA MAN KET Sebaran Normal Dari hasil analisis di atas terlihat bahwa semua nilai Asymp. Sig. -taile. Ou 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel stres akademik berdistribusi normal. Tabel 2. Uji Homogenitas Levene statistic Levene Signifikan Statistic . Keterangan Homogen Dari hasil analisis di atas terlihat bahwa nilai statistic levene sebesar 2. dengan signifikan 108. Yang artinya nilai p > c berarti data tersebut homogeny. Motivasi Tabel 3. Uji t Ae Test Stres Akademik Sig. Berdasarkan hasil analisis uji t seperti terlihat pada table di atas diperoleh nilai 216 . > . yang berarti bahwa H0 diterima dan Ha ditolak yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan tingkat stress akademik antara siswa sekolah menengah atas umum (SMA) siswa sekolah menengah atas berbasis agama (MAN) dimana nilai t = 1. atau p > 0,05. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan tingkat stress akademik pada siswa sekolah menengah atas umum dengan siswa sekolah menengah atas berbasis agama. Tingkat stres akademik pada kedua kelompok tersebut berada pada tingkat sedang dimana waktu yang terjadi lebih lama dari pada stres ringan yang dapat dihadapi secara langsung yang hanya berlangsung dalam hitungan menit dan jam berbeda dengan kategori stress sedang yang berlangsung lebih lama antara beberapa jam dan hari, yang terjadi akibat tuntutan akademik seperti harus mendapatkan nilai yang bagus pada saat ujian kenaikan kelas biasanya siswa mengalami stres dalam jangka waktu beberapa jam, cemas saat menjelang ujian, prasaan takut tidak naik kelas dan stress berhari-hari karena menunggu hasil ujian. Hal tersebut dapat terjadi karena pegaruh faktorfaktor yang dijelaskan diatas. Faktor diantaranya faktor stressor atau sumber stres akdemik yaitu stressor dari luar . dan dari dalam . , respon stres akademik, dan kecakapan mengatasi masalah atau yang disebut dengan coping stres. diantaranya adalah faktor stressor atau sumber stres akademik dari luar . dan dari dalam . , respon stres akademik, dan kecakapan mengatasi masalah atau disebut dengan coping stress dari setiap individu. DAFTAR PUSTAKA