Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301, e-ISSN: 2686-035X. DOI: 10. 35970/madani. Pelatihan Pengolahan Produk Berbasis Nanas Melalui Pemberdayaan Wanita Desa Margoluwih Kabupaten Sleman Ismiasih1*. Resna Trimerani 2. Alan Handru3. Eunike Sindri Honin 4. Yoeva Wardha Fadillah 5 1,4,5, Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian. Instiper Yogyakarta Program Studi Budidaya Perairan. Akademi Perikanan Yogyakarta Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Instiper Yogyakarta Email: ismiasih2017@gmail. com, 2resnarani. rr@gmail. com, 3alan@instiperjogja. yoevawardha17@gmail. com, 5eunikesindri21@gmail. INFORMASI ARTIKEL Data artikel: Naskah masuk, 14 Desember 2024 Direvisi, 06 Januari 2025 Diterima, 29 Januari 2025 Kata Kunci: Pineapple Jam Participatory Rural Appraisal Pineapple processing Pineapple Syrup Women Empowerment ABSTRAK Abstrak- Masyarakat di Desa Margoluwih saat ini sedang mengembangkan budidaya Nanas. Sementara pemasaran nanas masih terbatas dalam bentuk segar, sehingga jika masuk musim panen produksi nanas akan melimpah sehingga harga bisa jatuh. Oleh karena itu perlu ada tindaklanjut untuk mengatasinya dengan membuat produk turunan lainnya seperti selai dan sirup Melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) telah berhasil memberikan persepsi yang positif pada pihak mitra mengenai diversifikasi olahan nanas menjadi produk yang bernilai ekonomis, dan sebagai solusi dalam mengatasi saat terjadinya panen raya disamping untuk meningkatkan daya saing dan menangkap peluang pasar. Produk yang ditawarkan dari olahan buah nanas mendapatkan respon yang baik dari pihak mitra yaitu melalui olahan sirup dan selai nanas. Program PKM dilakukan melalui beberapa tahapan mulai dari survey pendahuluan, sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan. Metode PKM yang diigunakan selama kegiatan yaitu dengan Participatory Rural Appraisal (PRA). Teknik ini melibatkan peran aktif keseluruhan dari pihak mitra dalam kegiatan. Program PKM berhasil meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan pihak mitra dalam pengolahan nanas menjadi produk yang bernilai ekonomis secara keseluruhan sebesar 97%. Disamping itu, dari kegiatan PKM telah memberikan dampak positif bagi pihak mitra terutama dalam memanfaatkan waktu luang untuk berkegiatan yang produktif yang mampu menghasilkan pendapatan dan sumber ekonomi bagi keluarga. Abstract- The community in Margoluwih Village is currently developing pineapple cultivation. While pineapple marketing is still limited to fresh form when the harvest season comes, pineapple production will be abundant so that prices can fall. Therefore, there needs to be a follow-up to overcome this by making other derivative products such as pineapple jam and The Community Partnership Empowerment Program (PKM), has provided a positive perception to partners regarding the diversification of pineapple processing into products with https://ejournal. id/index. php/madani Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X economic value, and as a solution to overcome the peak harvest in addition to increasing competitiveness and capturing market The products offered from pineapple processing received a good response from partners, namely through pineapple syrup and jam processing. The PKM program was carried out through several stages starting from preliminary surveys, socialization, counseling, and training. The PKM method used during the activity was Participatory Rural Appraisal (PRA). This technique involves the active role of all partners in the activity. The PKM program succeeded in increasing the knowledge, skills, and abilities of partners in processing pineapple into products with economic value as a whole by 97%. In addition. PKM activities have had positive impacts on partners, especially in utilizing free time for productive activities that can generate income and economic resources for families. Korespondensi: Ismiasih Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Instiper Yogyakarta Jl. Nangka II. Maguwoharjo. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia PENDAHULUAN Nanas merupakan salah satu komoditi buah yang banyak disukai dan digemari oleh masyarakat karena memiliki kandungan air yang cukup tinggi sehingga cocok dikonsumsi pada lingkungan tropis seperti di Indonesia (Aiyub et al. , 2. Nanas termasuk buah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selain dapat dikonsumsi dalam bentuk segar, nanas juga dapat diolah menjadi produk turunan lain seperti selai, sirup, jus, manisan, acar, dodol dan kerupuk. Selain itu, nanas termasuk jenis tanaman yang mudah untuk dibudidayakan pada lingkungan yang basah maupun kering dan mudah beradaptasi dengan berbagai media tanam seperti pot, polybag, maupun tanah (Mulyati et al. , 2. Secara nasional. Indonesia sebagai negara agraris dengan iklim tropis memiliki keunggulan komparatif dalam budidaya nanas. Potensi pasar produk olahan nanas di dalam negeri terus meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi makanan sehat dan praktis. Produk olahan nanas telah menjadi bagian dari gaya hidup modern yang mengutamakan kepraktisan tanpa mengorbankan nilai gizi. Indonesia sebagai produsen nanas terbesar di Asia Tenggara memiliki peluang besar untuk mengembangkan pasar produk olahan nanas. Menurut Badan Pusat Statistik, konsumsi produk olahan nanas di Indonesia terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan. Produk seperti keripik nanas dan jus nanas dalam kemasan menjadi favorit di kalangan masyarakat urban. Namun disisi lain, kandungan air yang cukup tinggi pada nanas dapat mempengaruhi kualitas nanas cepat menurun jika tidak segera dikonsumsi. Kandungan air di dalam nanas ada sekitar 80-90% (Rakhmatullah, 2. Nanas dalam bentuk segar cepat membusuk jika disimpan terlalu lama, sehingga kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi petani (Ihromi dan Sari, 2. Oleh karena itu, pengolahan buah nanas menjadi berbagai macam produk olahan menjadi salah satu solusi untuk dapat memperpanjang umur simpan, mengurangi resiko pembusukan dan selain itu juga dapat meningkatkan nilai tambah ketika hanya dijual dalam bentuk segar (Asshidiq, 2023. Putra dan Murtiningsih, 2. Pemberdayaan masyarakat petani nanas melalui diversifikasi produk olahan nanas tentunya akan dibutuhkan oleh petani, terutama pada saat produksi nanas melimpah atau saat musim panen tiba (Irawati et al. , 2. Oleh karena itu, perlu ada suatu upaya lain untuk mengembangkan usaha lain https://ejournal. id/index. php/madani Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X kepada petani dalam upaya mengatasi resiko yang kemungkinan dapat terjadi. Melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam diversifikasi produk maka diharapkan pendapatan dan keuntungan yang diperoleh petani dapat ditingkatkan. Desa Margoluwih merupakan salah satu desa yang ada di Kabupaten Sleman yang saat ini sedang dikembangkan menjadi kampung nanas oleh masyarakatnya. Program tersebut dipelopori oleh seorang pemuda milineal dengan dilatarbelakangi dari kondisi wilayah dan potensi lahan pekarangan yang belum dimanfaatkan secara baik, serta banyaknya ibu rumah tangga yang memiliki waktu cukup. Disamping itu, karena melihat peluang pemasaran buah nanas dan produk turunannya yang masih terbuka lebar. Varietas nanas yang dikembangkan di desa Margoluwih, memiliki ciri buah yang berukuran besar . sehingga dikenal dengan nama Nanas Jumbo atau biasa disebut nanas smooth cayenne, kulit buah memiliki ciri tidak berduri, dengan bobot 2-5 kg saat masak, tekstur buah yang smooth dan berair serta memiliki rasa manis. Nanas jumbo yang diproduksi di Desa Margoluwih saat ini baru dijual dalam kondisi segar dan belum ada inovasi produk olahan yang dikembangkan. Hal ini karena adanya keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh masyarakatnya sehingga perlu dilakukannya kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan produk nanas menjadi produk olahan lain yang memiliki nilai tambah dan dapat memperpanjang masa simpannya terutama saat terjadi musim panen sehingga dapat mengurangi resiko kebusukan. Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik mennyebutkan bahwa rata-rata produksi nanas di Kecamatan Seyegan adalah sebanyak 4,93 Kuintal/Ha (Badan Pusat Statistik, 2. Oleh karena itu melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tim Pelaksana terpanggil untuk melakukan program pengabdian berbasis produk olahan nanas dalam upaya peningkatan nilai tambah dan ekonomi keluarga (Trimerani et al. , 2. Produk olahan yang dikembangkan adalah yang mudah dan dapat diterapkan oleh masyarakat dengan ketrampilan dan kemampuan yang dimilikinya. Kegiatan pemberdayaan dilakukan dengan melibatkan kelompok mitra yaitu ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Jumantik dan Kelompok Wanita Tani Timun Mas yang berlokasi di Dusun Barak. Desa Margoluwih. Kecamatan Seyegan. Kabupaten Sleman. Dengan pemberdayaan ini diharapkan dapat turut menumbuhkan kesadaran dan kemandirian kelompok dalam memanfaatkan potensi diri dan lingkungan sebagai upaya dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Menurut Mangowal, . , pemberdayaan dianggap penting dalam mengembangkan ekonomi masyarakat melalui kemandirian dan kemampuan untuk berbuat. Pemberdayaan menurut Khasanah, . Suryana, . dan Maulana et al. , . mengandung pengertian menguatkan kapasitas seseorang dan menghindari dari sifat ketergantungan. Pada intinya pemberdayaan merupakan proses memberikan motivasi dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat berlandaskan potensi diri (Ryan et al. , 2013. Devi dan Mahendra, 2023. Diwanti, 2. Kegiatan pengabdian yang dilakukan berupa pelatihan dengan memberikan ketrampilan tentang cara mengolah nanas menjadi sirup dan selai kepada kaum perempuan. Dengan mengembangkan berbagai produk olahan dari nanas, maka harapannya tidak hanya meningkatkan nilai tambah dari hasil pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha bagi tim mitra dan meningkatkan daya saing produk di Disamping itu kaum perempuan juga dapat mengeksplore potensi yang dimilikinya. Pihak mitra dalam kegiatan PKM turut berpartisipasi dan berperan dalam menyumbangkan sarana dan prasarana seperti tempat untuk menyelenggarakan kegiatan untuk berdiskusi maupun pelatihan, peralatan masak dan kompor untuk memasak sirup dan selai juga menyumbangkan pikiran, dan tenaga dalam kegiatan pengolahan sirup dan selai nanas. Oleh karena itu, melalui program pengabdian ini maka diharapkan dapat tercipta sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat desa, untuk bersama-sama mengembangkan sektor pertanian. Dengan demikian, kontribusi pertanian terhadap perekonomian desa tidak hanya dapat ditingkatkan, tetapi juga dapat menjadi pondasi yang kuat untuk mencapai https://ejournal. id/index. php/madani Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X pembangunan desa yang berkelanjutan dan inklusif. Program pengabdian yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa melalui sektor pertanian menjadi sangat penting. Program ini dapat menjadi wadah untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi pertanian. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian ini merupakan salah satu program kerja pada hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilakukan pada kelompok tani milineal dengan mengintegrasikan dari berbagai kelembagaan masyarakat seperti kelompok Wanita Tani (KWT) dan kelompok ibu-ibu rumah tangga yang ada di Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan Kabupaten Sleman. Yogyakarta. Kegiatan PKM dilaksanakan dengan menerapkan beberapa tahapan kegiatan dan metode yang disesuaikan dengan tujuan dan permasalahan mitra. Adapun tahapan dan metode kegiatan yang dilakukan adalah sebagai Survey Pendahuluan Survey pendahuluan dilakukan oleh tim PKM yang terdiri dari tiga dosen dengan memiliki keahlian yang berbeda dengan maksud untuk dapat menjawab masing-masing permasalahan dan kebutuhan yang diinginkan oleh pihak mitra. Survey awal dilakukan dengan mengamati . lokasi serta kondisi wilayah, mengidentifikasi dan menggali potensi serta permasalahan yang dihadapi oleh tim Mitra dan melakukan wawancara secara mendalam . epth intervie. kepada pihak mitra. Wawancara dilakukan bersama tokoh kunci . ey informa. yaitu ketua petani milenial untuk mendapatkan penjelasan serta informasi dan data yang akurat mengenai kondisi dan pemasalahan yang dihapai mitra. Diskusi dilakukan secara intens untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan prioritas permasalahan untuk Pihak mitra yang terlibat dalam kegiatan program PKM diantaranya kelompok tani milineal, ibu-ibu rumah tangga, dan Kelompok Wanita Tani (KWT). Sosialisasi Program: Penyuluhan Partisipatif Kegiatan pemberdayaan diawali dengan sosialisasi program kepada pihak mitra melalui metode penyuluhan yang bersifat partisipatif dan persuatif. Materi penyuluhan tentang sosialisasi program yang akan di lakukan tim PKM mengenai pentingnya peningkatan nilai tambah dan pengembangan produk nanas menjadi olahan lain. Kelompok mitra dilibatkan secara aktif dalam kegiatan sosialisasi dengan menggunakan pendekatan Partisipatory Rural Appraisal (PRA). Teknik PRA merupakan suatu metode pemberdayaan yang melibatkan secara aktif dari seluruh peserta dalam kegiatan (Hayat et al. , 2021. Ismiasih et al. , 2. Dalam Teknik PRA lebih menekankan pada keterlibatan dan partisipasi dari masyarakat dalam setiap pelaksanaan program yang dijalankan (Ismiasih et al. , 2. Kegiatan penyuluhan dilakukan di Balai dusun setempat dengan dihadiri oleh petugas PPL (Petugas Penyuluh Pertania. Kelompok Wanita Tani Timun Mas, dan Ketua Kelompok Tani Petani milineal. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan sosialisasi seluruhnya ada 16 orang. Pelatihan Pembuatan Sirup dan Selai Nanas: Penyuluhan Dan Pelatihan Pelatihan dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan Action Learning yaitu dengan praktek langsung dengan melibatkan mitra secara aktif disertai dengan memberikan pendampingan dan pengarahan. Kegiatan pelatihan dilakukan di rumah ketua petani milineal dengan dihadiri oleh 37 orang. Materi pelatihan disampaikan oleh Tim PKM secara bergantian dengan dihadiri oleh Ibu Kepala Dusun. Ibu Carik dan Ketua Petani Milineal. Pelatihan dilakukan dengan melibatkan seluruh tim PKM dengan menggunakan bantuan media penyuluhan berupa pembagian leaflet tentang cara pembuatan sirup dan selai yang sudah disiapkan pada saat berlangsungnya pemaparan materi. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan peserta dalam menerima dan mencerna materi yang dipaparkan oleh tim PKM. Pelatihan dilakukan dengan metode penyuluhan, mempraktekan, memperagakan, dan diskusi serta konsultasi. Pemaparan dilakukan oleh tim PKM untuk https://ejournal. id/index. php/madani p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. menyampaikan informasi dan materi mengenai cara pembuatan sirup dan selai nanas. Pada sesi peragan, tim menggunakan peragaan secara langsung dengan menggunakan peralatan yang sudah disiapkan oleh mitra seperti kompor, panci, wajan, baskom, pisau, parutan, saringan, blender, telenan. Sementara tim pengabdian menyediakan nanas jumbo, dan bahan pelengkap pembuatan produk seperti garam, pewarna, kayu manis, dan gula pasir. Selama kegiatan berlangsung peserta tampak antusias dan bersemangat dalam melakukan kegiatan. Hal ini nampak dari suasana kegiatan yang berlangsung cukup ramai dan meriah serta adanya produk yang berhasil diciptakan oleh tim mitra. Evaluasi Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat: Kuesioner Kegiatan PKM dapat berjalan optimal jika antara tim mitra dan tim PKM bisa saling bersinergi dengan baik. Oleh karena itu untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pelaksanakan kegiatan PKM maka dilakukan evaluasi dengan memberikan kuesioner yang dibagikan kepada tim mitra setelah selesai kegiatan PKM. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur dan menilai tingkat pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dimiliki oleh petani setelah PKM selesai dilakukan. Pada gambar 1 berikut dijelaskan mengenai tahapan PKM yang dilakukan oleh Tim PKM. AIdentifikasi potensi dan permasalahan ADiskusi interaktif dengan pihak mitra : pelaksanaan, evaluasi AMetode : Participatory Rural Aprraisal Sosialisasi Program dan Penyuluhan ASosialisasi program dan AMetode : Survey Pendahuluan APelatihan pembuatan produk olahan nanas : persiapan bahanpengolahan APraktek langsung : peragaan-diskusikonsultasi AMetode : Participatory Action Research Pelaksanaan Program :Pelatihan Pembuatan Produk Olahan Nanas (Sirup dan Sela. Evaluasi Program: Metode Kuesioner Gambar 1. Alur Pelaksanaan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Peserta PKM Peserta pelatihan PKM adalah para ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani Timun Mas dan Ibu-Ibu Rumah Tangga Jumantik yang tinggal di Dusun Barak. Desa Margoluwih. Kecamatan Seyegan. Kabupen Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta. Ibu-ibu yang menjadi mitra kegiatan memiliki latar belakang yang berbeda dari pekerjaan, umur dan tingkat pendidikan, seperti yang terinci pada Tabel 1. Berdasar data pada Tabel 1. peserta PKM rata-rata berpendidikan SMA sebanyak 17 orang . %), dengan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 23 orang . %). Dengan demikian, adanya kegatan pemberdayaan ini menjadi salah satu solusi dalam membuka kesempatan bekerja bagi ibu-ibu untuk memiliki aktifitas yang produktif dengan mengembangkan olahan produk nanas menjadi produk yang memiliki nilai jual. Sementara dari umur peserta pelatihan, mayoritas memiliki umur produktif dengan rentang usia antara 20 sampai 60 tahun yaitu sekitar 81%. Oleh karena itu dari segi fisik rata-rata peserta PKM memiliki kemampuan yang kuat sehingga mereka dapat dengan mudah menerapkan program PKM. https://ejournal. id/index. php/madani p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. Tabel 1. Profil Peserta PKM di Desa Margoluwih. Seyegan. Sleman Peserta Pelatihan Frekuensi . Persentase (%) Pendidikan: SMA SMP Pekerjaan: Wirausaha Instruktur Senam Ibu Rumah Tangga Lainnya Umur . 21 sd 30 31 sd 40 41 sd 50 51 sd 60 61 sd 70 Total Peserta Sumber: data primer . , 2024 Pelaksanaan Kegiatan PKM: Pengolahan Produk Berbasis Komoditi Buah Nanas Pelaksanaan kegiatan PKM diawali dengan sosialisasi terlebih dahulu oleh Tim PKM pada tanggal 27 Agustus 2024 dari pukul 12. 30 WIB sampai pukul 15. 00 WIB. Pelaksanaan sosialisasi dilakukan di balai dusun milik desa setempat. Materi sosialisasi berisi mengenai program pengembangan kampus nanas dengan pelatihan budidaya nanas dan pelatihan pembuatan olahan buah nanas menjadi produk turunan seperti sirup, selai dan pupuk organik cair (POC) melalui pemberdayaan kelompok wanita di Desa Margoluwih. Kegiatan dimulai dengan pembukaan dari petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPU) wilayah i untuk memberikan arahan, motivasi dan dorongan kepada peserta agar bersemangat dalam mendukung program PKM. Materi selanjutnya pemaparan oleh tim PKM untuk memsosialisasikan tentang rencana pelaksanaan program PKM yang akan dilakukan bersama dengan mitra. Para peserta terlihat antusias dan tertarik dalam mendengarkan, hal ini nampak dari tanggapan para peserta ketika dilakukan sesi diskusi gambar 2. Gambar 2. Sosialisasi Program PKM https://ejournal. id/index. php/madani Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X Pelatihan Pembuatan Produk Olahan Buah Nanas Pelatihan pembuatan produk olahan nanas dilakukan oleh tim PKM pada tanggal 12 Oktober 2024 dari pukul 08. 00 sampai dengan pukul 14. 00 sore dengan mengambil waktu libur yaitu di hari sabtu sehingga banyak dari ibu-ibu peserta program PKM bisa hadir. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di rumah Ketua Petani Milineal Bapak Jamaludin Nur Ridho. Acara diawali dengan sambutan dari ketua petani milineal, dilanjutkan sambutan dari Ibu kepala dukuh selaku pembina ibu-ibu. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi program PKM melalui penyuluhan dan dilanjutkan kegiatan pelatihan pembuatan olahan produk nanas yang dipandu secara langsung oleh tim PKM bersama mitra yaitu dengan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Jumantik dan KWT Timun Mas dengan dibantu oleh mahasiswa (Gambar 4 dan . Sebelum pelatihan, tim PKM memberikan penyuluhan tentang pengembangan kampung nanas dengan meningkatkan nilai tambah dari produk olahan nanas. Kegiatan pelatihan dilakukan dengan praktek secara langsung dari tim PKM kepada mitra dengan metode Partisipatory Rural Appraisal (PRA) dan Participatory Action Research (PAR). Produk olahan nanas yang ditawarkan berupa produk selai dan sirup, dengan pertimbangan bahwa pengolahan ke dua produk tersebut dapat dilakukan secara mudah dengan bahan sederhana dan serta biaya yang masih terjangkau. Selai adalah produk yang dibuat dengan cara menghancurkan daging buahnya dengan cara di parut atau di blender kemudian dicampur bahan-bahan seperti kayu manis, gula pasir dan garam dengan tanpa penambahan air (Oktavia et al. , 2. Konsep lainnya dengan memilih dua produk olahan ini adalah untuk memanfaatkan semua daging nanas tanpa ada produk yang terbuang seperti air hasil perasan nanas dimanfaatkan untuk pembuatan sirup sementara ampas nanas diolah menjadi selai. Pada pelaksanaan kegiatan pihak mitra dibagi menjadi beberapa kelompok untuk dapat secara mudah berlatih membuat dan menyelesaikan masing-masing produk, dengan satu tim terdiri dari 4 sampai 5 orang. Pembagian tim dilakukan oleh Ibu Kepala dusun dengan masukan dari para peserta bahwa meskipun dari dua kelembagaan yang berbeda yaitu Jumantik dan Timun Mas tapi diharapkan dari setiap kelompok bisa mewakili RT masing-masing dengan tanggung jawab dapat membuat dua produk yaitu sirup dan selai. Meskipun dalam pelaksanaannya setiap kelompok saling bekerjasama dan bergantian untuk dapat menyelesaikan produknya masing-masing. Saat kegiatan berlangsung. Tim PKM melakukan pendampingan dan pengarahan sambil memperagakan dan diskusi mengenai pembuatan selai dan sirup jika ada pertanyaan dari mitra. Meskipun kegiatan selesai sampai siang akan tetapi peserta tetap terlihat senang sehigga program dapat berjalan dengan lancar. Hal ini terlihat dari antusiasnya peserta dalam menyelesaikan pembuatan Kegiatan pelatihan membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Hal ini dimaksudkan agar proses pembuatan selai maupun sirup dapat menghasilkan produk yang layak serta memiliki daya simpan yang lama. Gambar 3. Persiapan Bahan (Pengupasan Nanas. Memarut dan Menyarin. https://ejournal. id/index. php/madani Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X Gambar 4. Pembuatan Selai dan Sirup Adanya program PKM ini, akhirnya pihak mitra memiliki ketrampilan dan kemampuan dalam membuat produk olahan nanas seperti sirup dan selai. Selain itu, pihak mitra dapat memanfaatkan waktu longgarnya dengan memiliki kegiatan yang prositif dan produktif dengan mengembangkan buah nanas menjadi produk lain yang memiliki nilai tambah dan nilai jual. Manfaat lain dalam kegiatn PKM ini adalah menumbuhkan kesadaran dan kemandian kaum ibu untuk berdaya dan dapat menghasilkan pendapatan dan kesejahteraan bagi keluarganya. Evaluasi Pelaksanaan PKM Kegiatan PKM sebagai upaya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat melalu peningkatan nilai tambah buah nanas menjadi produk olahan berhasil dilaksanakan oleh tim PKM bersama kelompok ibuibu yang tergabung dalam kelompok ibu-ibu Jumantik dan KWT Timun Mas Desa Margoluwih Kabupaten Sleman Yogyakarta dengan melibatkan peran aktif semua ibu-ibu dengan didampingi oleh ketua petani milenal. Pada akhir program pengabdian, tim PKM melakukan evaluasi untuk menilai sejauh mana persepsi, tanggapan dan perubahan pengetahuan, sikap dan ketrampilan mitra terhadap pelaksanaan program dan sejauh mana program dapat membantu meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu pihak mitra sebanyak 37 orang diminta mengisi kuesioner yang dibagikan untuk memberikan jawaban secara obyektif mengenai pelaksanaan program PKM pada gambar 5. Gambar 5. Pengisian Kuesioner oleh Mitra dan Tim PKM bersama Mitra Berdasarkan hasil tabel 2. Dapat diketahui bahwa rata-rata peserta pelatihan memberikan respon dan tanggapan yang baik dari program PKM yang sedang dilaksanakan. Selain itu dari pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki mitra terdapat peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan jawaban peserta yang rata-rata hampir 100 % menyatakan setuju. Hanya pada keberlanjutan program PKM ada sebanyak 4 peserta yang menjawab cukup setuju. Untuk ikut terlibat dalam kegiatan, https://ejournal. id/index. php/madani Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X sementara untuk peningkatan pada kesejahteraan dan ekonomi ada sebanyak 2 peserta yang menjawab cukup setuju. Kendala yang cukup berpengaruh dalam kegiatan adalah adanya anggota yang berusia lansia . anjut usi. sehingga tidak banyak berperan dalam kegiatan. Sehingga untuk mengatasinya maka dibuatlah dalam kelompok-kelompok dengan terdiri dari peserta berusia tua dan muda sehingga dapat saling mendorong satu sama lain. Tabel 2. Hasil Evaluasi Program PKM pada Kampung Nanas di Desa Margoluwih Pertanyaan Jawaban Materi Pengabdian sesuai dengan kebutuhan dalam pengembangan program kampung Nanas Mitra bersedia terlibat aktif dalam melaksanakan program PKM Kegiatan Pengabdian yang akan dilaksanakan sesuai harapan mitra Peserta berminat untuk mengikuti kegiatan pengabdian Tim pengabdian menyediakan sarana dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan mitra Kegiatan Pengabdian diharapkan dilakukan secara berkala dan kontinyu Peserta mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan pengabdian: Pengembangan Program Kampung Nanas Kegiatan Pengembangan Program Kampung Nanas dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan anggota Secara umum, peserta bersedia melanjutkan program PKM: Pengolahan Pangan Berbahan baku Nanas . elai dan siru. Secara umum, peserta menjadi memiliki pengetahuan, dan keterampilan dalam mengolah nanas menjadi olahan pangan lainnya (Sirup dan sela. Secara umum, peserta menjadi memiliki kemampuan dalam memanfaatkan waktu longgar untuk kegiatan produktif Sumber: data Primer . , 2024 Keterangan: TS: tTidak Setuju. CS: Cukup Setuju. S: Setuju Berdasarkan hasil secara keseluruhan maka dapat dikatakan bahwa program PKM ini dinilai cukup efektif dan berhasil menumbuhkan kesadaran mitra dalam meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan pandangan serta meningkatkan ketrampilan tentang pembuatan produk olahan nanas. Disamping itu, pihak mitra pada akhirnya memiliki aktifitas yang produktif dalam memanfaatkan waktu longgarnya sambil menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga. Program PKM disamping berhasil meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pada pihak mitra juga mendapatkan sambutan yang positif sehingga pihak mitra antusias untuk mengembangkan keberlanjutan dari program PKM ini dengan meningkatkan bibit nanas yang ditanam sehingga harapannya pada saat panen tiba tidak hanya buah nanas segar saja yang dijual akan tetapi juga olahan turunanya seperti selai dan sirup nanas yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Program ini belum dapat melihat dari keberhasilan mitra dalam pemasaran produk turunannya seperti adanya peningkatan pendapatan karena pada saat dilakukan PKM pihak mitra masih dalam proses budidaya nanas sehingga membutuhkan waktu kurang lebih 8 bulan sampai 10 bulan untuk bisa dipanen. Dalam kegiatan PKM tim pengabdian berhasil menambah bibit nanas yang ditanam oleh pihak mitra yang awalnya 1000 bibit menjadi menjadi 1500 bibit sehingga pada saat panen diharapkan nanas yang dipanen akan terjadi peningkatan sekitar 50%. Oleh karena itu melalui program PKM ini maka akan terus dilakukan pendampingan secara kontinyu baik secara langsung maupun melalui media sosial seperti WhatsApp untuk memantau perkembangan dari budidaya nanas yang sedang dikembangkan sehingga pada saat https://ejournal. id/index. php/madani Madani: Indonesian Journal of Civil Society Vol. No. Februari 2025, pp. p-ISSN: 2686-2301 e-ISSN: 2686-035X panen tiba dapat dilakukan inovasi dalam diversifikasi produk menjadi produk olahan seperti selai dan KESIMPULAN Program PKM yang dilakukan di Kampung Nanas Desa Margoluwih. Seyegan. Sleman telah berhasil memberikan persepsi yang positif pada pihak mitra. Produk yang ditawarkan dari olahan buah nanas mendapatkan sambutan yang baik dari pihak mitra. Terdapat dua produk yang ditawarkan yaitu sirup dan selai nanas. Program PKM dilakukan melalui beberapa tahapan mulai dari survey pendahuluan, sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan. Program PKM berhasil meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan pihak mitra dalam pengolahan nanas menjadi produk yang bernilai Secara keseluruhan hampir 97% peserta menyetujui adanya program PKM tersebut. Disamping itu, dari kegiatan PKM telah memberikan dampak positif bagi pihak mitra terutama dalam memanfaatkan waktu luang untuk berkegiatan yang produktif yang mampu menghasilkan pendapatan dan sumber ekonomi bagi keluarga. Untuk mendukung keberlanjutan dari pelaksanaan program PKM maka pemerintah setempat perlu mendukung diantaranya dengan perbaikan sarana infrastruktur seperti perbaikan akses jalan bagi masyarakat luar yang akan menuju lokasi PKM, menjalin kerjasama dengan pihak luar terutama dalam penjualan produk, memberikan pelatihan yang sejenis lainnya terutama dalam meningkatkan promosi produk. UCAPAN TERIMAKASIH Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dapat berjalan lancar atas dukungan dana hibah dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Perguruan Tinggi (Kemendikbudristek Dikt. melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat serta atas kontribusi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Instiper Yogyakarta. Dan atas kerjasama yang baik dengan Pihak Mitra terutama Kelompok Tani Milineal Desa Margoluwih sebagai fokus pelaksanaan pengabdian. Serta kepada kelembagaan wanita seperti kelompok Ibu-Ibu Rumah Tangga Jumantik dan Kelompok Wanita Tani Timun Mas Desa Margoluwih sebagai salah satu pihak pelaksana kegiatan. Serta kepada seluruh tim PKM dosen dan mahasiswa Program Studi Agribisnis Instiper Yogyakarta. Tim PKM menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung penuh atas terlaksananya semua program PKM di Kampung Nanas ini dan semoga program PKM ini dapat turut memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan program Kampung Nanas Desa Margoluwih. DAFTAR PUSTAKA