Moderasi Beragama: Memahami Masalah dan Membangun Kepercayaan dalam Mengatasi Konflik di Sekolah Negeri Bartolomius Acong Email: bartolomius. acong@gmail. Abstrak Tujuan dalam penulisan makalah ini antara lain: mendeskripsikan langkah-langkah dan cara dalam mengatasi konflik karena intoleransi dan radikalisme pada sekolah negeri. Adapun metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini, yaitu metode deskriftif kualitatif, populasi dan sampel adalah warga sekolah, khusunya peserta didik, guru dan kepala sekolah. Teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi dan wawancara. Setidaknya terdapat dua langkah dalam mengatasi konflik di sekolah negeri, yaitu memahami masalah dan membangun kepercayaan antar sesama ditengah perbedaan dan kesenjangan yang terjadi. Pertama-tama seseorang . arga sekola. harus memahami apa akar dari permasalahan atau konflik tersebut. Pentingnya memahami masalah dalam konflik adalah, agar dapat mengetahui akar dari permasalahan yang ada, mampu menilai dan menyimpulkan masalah berdasarkan panca Indera. Orang yang tidak saling mengenal satu sama lain akan sulit untuk saling Kepercayaan dibangun atas dasar saling mengenal, sehingga ada pepatah Autak kenal maka tak sayangAy. Sebab orang yang saling mengenal satu sama lain akan mudah memahami. Setelah keduanya dapat saling memahami, maka kepercayaan antara keduannya akan terbangun sehingga dapat menghindari dan mengatasi terjadinya konflik. Konflik dapat terjadi dimanapun dan kapanpun tanpa melihat waktu. Konflik seringkali terjadi pada lembaga Pendidikan, khusunya sekolah negeri. Intoleransi dan radikalisme merupakan konflik yang terjadi pada kaum minoritas di sekolah negeri, dan akibatnya adalah diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Terdapat dua cara dan langkah-langkah dalam mengatasi konflik, yaitu memahami masalah dan membangun kepercayaan antar sesama. Sebab rasa saling percaya merupakan dasar untuk menghindari rasa curiga dan perselisihan. Makalah ini mempunyai implikasi dalam memberi pemahaman terhadap pentingnya moderasi beragama di sekolah negeri, agar tidak ada diskriminasi yang terjadi pada kelompok minoritas. Kata Kunci : Moderasi. Memahami. Membangun. Mengatasi. Konflik Abstract The objectives of writing this paper include: describing steps and methods for overcoming conflicts due to intolerance and radicalism in state schools. The method used in writing this paper is a qualitative descriptive method, the population and sample are school residents, especially students, teachers and school principals. Data collection techniques are by conducting observations and There are at least two steps in overcoming conflict in state schools, namely understanding the problem and building trust between people amidst the differences and disparities that occur. First of all, someone . he school communit. must understand what the root of the problem or conflict is. The importance of understanding problems in conflict is to be able to find out the root of existing problems, to be able to assess and conclude problems based on the five senses. Wise people are those who are able to judge good and bad actions in line with their conscience. Second, build trust between Conflict occurs because of feelings of distrust, doubt, suspicion, and disagreement with a person or group. The cause of suspicion and distrust between individuals and groups is because they do not know each other. People who don't know each other will find it difficult to trust each other. Trust is built on the basis of knowing each other, so there is a saying "if you don't know, you won't love". Because people who know each other will easily understand. Once both of them can understand each other, trust between them will be built so that they can avoid and resolve conflicts. Conflict can occur anywhere and at any time regardless of time. Conflicts often occur in educational institutions, especially state schools. Intolerance and radicalism are conflicts that occur among minorities in state schools, and the result is discrimination against certain groups. There are two ways and steps to resolve conflict, namely understanding the problem and building trust between people. Because mutual trust is the basis for avoiding suspicion and disputes. This paper has implications in providing an understanding of the importance of religious moderation in state schools, so that there is no discrimination against minority groups. Keywords: Moderation. Understanding. Building. Overcoming. Conflict PENDAHULUAN Konflik, merupakan kesenjangan yang terjadi antara satu sisi dan sisi lainnya. Kesenjangan tersebut terjadi karena tidak adanya kecocokan, keserasian, bahkan tidak sejalan. Istilah ini kemudian dinamakan konflik. Konflik dapat diibaratkan sebagai kayu bercabang, dimana cabang tersebut menjadi pemisah yang tidak mungkin dapat disatukan. Konflik dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, tidak mengenal tempat, waktu, serta pelaku. Konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya (Muspawi, 2014:. Pada kehidupan sosial, konflik dapat terjadi antara masing-masing individu, kelompok, dan lain Konflik yang sering terjadi adalah kesenjangan antara kelompok mayoritas dan kelompok Penyebab konflik yang terjadi antara kelompok mayoritas dan minoritas sangat beragam. Adapun penyebab terjadinya kesenjangan tersebut seperti, beda keyakinan . , suku, ras, serta Mereka yang tidak bisa menerima perbedaan tersebut kemudian melakukan diskriminasi, intimidasi, teror dan sebagainya terhadap kelompok yang dianggap tidak sejalan dengan mereka. Kasus konflik yang biasanya terjadi pada suatu tempat yaitu dominasi kaum mayoritas. Seperti yang diketahui, jika terdapat satu kelompok yang mendominasi suatu tempat, maka tempat tersebut akan memiliki corak dari kelompok yang mendominasi. Dominasi kelompok tersebut kemudian menjadi akar dari intoleransi, dan radikalisme. Terlebih jika dominasi kelompok itu mengambil alih sistem yang berlaku di lingkungan, maka dapat dibanyakan akibatnya seperti apa. Mereka yang menyebut dirinya mayoritas menganggap dirinya berkuasa dan dapat melakukan apa yang mereka suka, salah satunya intimidasi dan diskriminasi terhadap kaum minoritas. Kaum minoritas adalah mereka yang memiliki jumlah lebih sedikit diantara kelompok yang mendominasi di satu lingkungan. Pada Lembaga Pendidikan, sering didapati kasus intoleransi dan radikalisme terlebih pada Lembaga Pendidikan negeri. Lembaga Pendidikan adalah salah satu tempat dengan kasus paparan intoleransi dan radikalisme tertinggi. Isu agama menjadi salah satu yang sering dikaitkan dengan intolerasi dan radikalisme. Terlebih jika terdapat oknum yang menganggap ajaran agamanya paling benar dan agama lain tidak benar, maka hal ini akan sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan. Pada kenyataannya hal inilah yang terjadi belakangan ini, dan sudah mencemari Lembaga Pendidikan. Oleh karenanya, pemerintah menggagas dan menginisiasi Moderasi beragama pada lembaga-lembaga Pendidikan. Sesuai dengan maknanya, dimana moderasi diambil dari bahasa latin yaitu moderatio yang berarti kesedangan . idak berlebihan dan tidak kekuranga. Orang yang mampu menjalankan moderasi disebut juga sebagai orang yang moderat. Orang yang moderat adalah mereka yang tidak condong ke kiri ataupun ke kanan melainkan mereka yang berada di tengah. Kaum moderat harus bisa menjadi penengah ketika sisi kiri dan sisi kanan saling berbenturan, mereka harus mampu meredam konflik dapat menimbulkan perselisihan. Moderasi beragama mempunyai peran dalam meredam segala konflik dan perselisihan yang Perselisihan tersebuat dapat memicu api permusuhan, dendam, dan peperangan jika masingmasing penganut agama membawa egonya masing-masing. Moderasi dalam beragama haruslah dilakukan, karena dengan demikian akan terciptalah kerukunan umat antar agama atau keyakinan (Abror, 2020:. Dalam dunia pendidikan guru harus mampu menjadi penggerak dan penyuara terhadap pentingnya moderasi beragama. Oleh karenanya guru harus menjadi seseorang yang moderat, tidak condong ke kiri maupun ke kanan, melainkan berada diposisi sebagai Bagian terpenting dari moderasi beragama dalam mengatasi konflik yaitu memahami masalah dan membangun kepercayaan antar sesama ditengah perbedaan dan kesenjangan yang METODE Adapun metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu metode deskriftif Metode deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang menggambarkan dan mendeskripsikan objek sesuai dengan apa adanya. Peneliti memilih jenis penelitian kualitatif didasarkan pada pertimbangan bahwa fenomena yang diteliti ini adalah fakta pertemuan budaya dan agama yang perlu dikaji secara mendalam dan cermat, diinterpretasi secara alami demi mengungkapkan makna secara obyektif. Itu berarti, data yang diperoleh adalah data kualitatif dan pengembangan teoretisnya berdasarkan interpretasi terhadap apa yang diamati dan dipelajari secara (Burke Johnson dan Larry Christian. 2012: 376:. Populasi dan sampel pada penelitian ini didapatkan dari warga sekolah negeri, seperti kepala sekolah, guru, dan peserta didik di SMK Negeri 7 Pontianak. Data yang didapat berdasarkan hasil pengamatan, wawancara serta Dokumentasi terhadap sumber data yang berhubungan langsung dengan topik pada makalah ini. Observasi ini dilakukan secara naturalistik yakni teknik yang diterapkan dalam konteks alami di antara para informan yang secara natural berpartisipasi dalam interaksi dan mengikuti alur alami dalam kehidupan sehari-hari. (Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln. 2009: . Dalam penelitian ini wawancara dilakukan secara mendalam kepada para informan yang sudah ditentukan oleh peneliti sebagai subyek penelitian dalam uraian sebelumnya. Dokumentasi dilakukan untuk melengkapi hasil pengamatan dan wawancara. dokumentasi dari berupa gambar, video, ataupun rekaman suara yang mendukung data dalam penelitian ini. Data yang telah diperoleh kemudian direduksi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyebab konflik pada lembaga Pendidikan Negeri Rakhmat dalam Amin, . terdapat lima sumber penyebab konflik, yaitu kompetisi, dominasi, kegagalan, provokasi, dan perbedaan nilai. Lima hal penyebab konflik yang disebutkan merupakan alasan-alasan yang terjadi secara umum, tanpa terkecuali di sekolah negeri. Namun konflik pada lembaga Pendidikan negeri lebih mengarah pada isu-isu sara. Penyebab konflik pada lembaga Pendidikan Negeri sangat beragam. Konflik pada lembaga Pendidikan negeri dapat dilatarbelakangi perbedaan agama, suku, ras etnis, dan antar golongan yang tidak mempunyai tujuan yang sama. Terlebih perbedaan tersebut dibarengi dengan ego yang tinggi dan hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja. Hasil wawancara terhadap AG, selaku Waka Kurikulum SMK Negeri 7 Pontianak, mengatakan bahwa konflik terjadi karena dilatarbelakangi oleh tidak adanya keterbukaan satu sama lain dan saling menutup diri. Selain itu, pemahaman dan penanaman nilai-nilai Pancasila khususnya pada pelaku konflik sangat minim. Salah satu penyebab konflik yang paling besar adalah media elektronik dengan pemberitaan-pemberitaan yang banyak mengandung provokasi dan sara yang merambat hingga pada peserta didik. AG melanjutkan, hal ini sangat berbahaya dan menjadi ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini sejalan dengan (Amin, 2017:. Media massa sering menyebabkan berkembangnya masalah-masalah sosial yang menyeret pada konflik, dan citra buruk pada kognisi Masyarakat juga terhadap media mass aitu sendiri. Sedangkan MY, selaku guru di SMK Negeri 7 mengatakan bahwa, konflik disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan antara individu dengan individu lainnya. Ketidakharmonisan itu dapat terjadi karena kesalahpahaman terhadap hal-hal yang sebenarnya sepele dan sederhana namun Dimana antar individu tersebut terlalu membawa perasaan dalam menghadapi masalah yang sepele dan kemudian menjadi konflik yang berkepangjangan. Hal inilah yang seringkali terjadi dan awal mula penyebab konflik secara umum dan khususnya pada lembaga Pendidikan Negeri. menambahkan bahwa konflik juga disebabkan oleh adanya interpensi terhadap kepentingan dan urusan orang lain, misalnya perang di negara lain dibawa-bawa menjadi isu konflik perbedaan suku, ras, agama, dan antar golongan dan seolah-olah mereka yang berperang diluar sana wajib didukung maupun dibinasakan tegas MY. Amin, . Konflik senantiasa melekat pada setiap orang. Konflik adalah persoalan yang selalu dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada satu orangpun yang tidak pernah menemui dan mengalami konflik dalam hidupnya. Namun konflik yang menjadi permasalahan terbesar bagi manusia adalah konflik yang dapat menimbulkan kerugian, permusuhan, persellisihan, pertengkaran bahkan perang. Koflik dapat dilatarbelakangi oleh hal-hal yang sepele dan sederhana bahkan hal-hal yang sangat berat. Salah satu konflik yang cukup berat dan sering terjadi adalah konflik antar suku, ras, agama, dan antar golongan. Orang yang sering mengalami konflik adalah karena orang-orang tersebut terlalu membawa perasaan dalam menghadapi konflik. Cara mengatasi konflik yang terjadi pada lembaga Pendidikan Negeri Konflik sebenarnya dapat diatasi dengan beberapa cara. Cara-cara yang dilakukan dalam mengatasi konflik tentunya merupakan cara yang jitu dan sebenarnya mudah dilakukan. Rasa ego yang tinggi pada individua tau kelompok membuat konflik tidak dapat diselesaikan. Widodo Umar dalam Unwanullah, . 2:52-. terdapat beberapa cara dalam mengatasi konflik, antara lain kompromi, penyesuaian, kerjasama, menghindari, dan bersaing. Kompromi merupakan cara yang seringkali dilakukan dalam memecahkan suatu persoalan dan car aini lazim digunakan terlebih pada Masyarakat Indonesia. Penyesuaian diri perlu dilakukan terlebih untuk hidup disebuah lingkungan yang mutlikultural, hal ini sebagai cara untuk dapat beradaptasi dan saling memahami antar sesama. Setelah seseorang dapat menyesuaikan diri dan diterima oleh lingkungan, maka dia akan mudah untuk bekerjasama dalam mencapai satu tujuan yang saling menguntungkan. Namun tak jarang juga gejala konflik dapat muncul ditengah pluralism terlebih dengan pemberitaan4 pemberitaan yang memprovokasi, sehingga salah satu cara agar tidak terjadi konflik adalah dengan Ditengah keberagaman yang ada, persaingan kadang dapat memicu konflik, namun apa jadinya jika konflik dapat diatasi dengan bersaing atau kompetisi. Hal ini dapat dilakukan dengan kompetisi yang sehat dan tanpa adanya kecurangan. Hasil wawancara terhadap AG, selalu Waka Kurikulum SMK Negeri 7 Pontianak menyatakan bahwa konflik dapat diatasi dengan keterbukaan antar sesama, saling mengenal dan memahami, mengesampingkan ego sehingga kepercayaan dapat dibangun yang membuat tidak adanya rasa saling curiga antar sesame walaupun dengan perbedaan yang ada. AG menambahkan, seseorang harus bijak dalam menghadapi persoalan- persoalan yang terjadi dan tidak mudah terprovokasi dengan hal-hal yang dapat memecah belah. Disitulah pentingnya memahami masalah dan membangun kepercayaan khususnya pada lembaga Pendidikan negeri, misalnya: Untuk dapat mengatasi konflik dalam lembaga Pendidikan khusunya negeri, pertama-tama harus memahami apa akar dari permasalahan atau konflik tersebut. Pentingnya memahami masalah dalam konflik adalah, agar dapat mengetahui akar dari permasalahan yang ada, tidak menyimpulkan sesuatu hanya dari pendengaran saja melainkan juga dari mata, hidung, lidah dan kulit. Artinya disini, seseorang harus mengetahui seluk beluk dan sesuatu seperti apa yang sebenarnya terjadi, bukan malah menjadi orang yang punya sumbu pendek. Orang yang bijaksana, adalah mereka yang mampu menilai suatu tindakan baik dan buruk sejalan dengan hati nuraninya. Sehingga Ketika seseorang tersebut dapat memahami permasalahan, maka ia akan dapat mencari solusi dalam mengatasi permasalahan atau konflik yang ada. Kedua, membangun kepercayaan antar sesama. Bagian ini menjadi salah satu yang amat penting dalam mengatasi konflik. Konflik terjadi karena adanya rasa tidak percaya, ragu, curiga, dan tidak sejalan dengan seseorang ataupun kelompok. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan menyebabkan konflik berkepanjangan antara keduanya. Sehingga, perlu adanya orang yang moderat untuk mengatasi ini, yaitu dengan membangun kepercayaan antar keduanya melalui Penyebab adanya rasa curiga dan kedidakpercayaan antara individu maupun kelompok adalah karena mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Orang yang tidak saling mengenal satu sama lain akan sulit untuk saling percaya. Kepercayaan dibangun atas dasar saling mengenal, sehingga ada Aupepatah tak kenal maka tak sayangAy. Pepatah ini masih relevan untuk digunakan sebagai acuan dalam mengatasi konflik. Sebab orang yang saling mengenal satu sama lain akan mudah memahami. Setelah keduanya dapat saling memahami, maka kepercayaan antara keduannya akan terbangun sehingga dapat menghindari dan mengatasi terjadinya konflik. Hasil Wawancara terhadap MY merupakan guru di SMKN 7 Pontianak mengatakan bahwa pentingnya memahami masalah adalah salah satu cara untuk mencegah konflik salah satunya konflik agama yang seringkali terjadi dalam dunia Pendidikan. Terlebih dalam kurikulum Merdeka dengan memahami moderasi beragama menjalankan nilai yang holistik, harmoni, sosial dalam Masyarakat. MY menambahkan, bahwa membangun kepercayaan dimungkinkan untuk mengurangi ketegangan diantara pihak yang berkonflik, membangun kepedulian dan penghormatan terhadap mereka yang mengalami konflik. Konflik memang sesuatu yang hakiki secara manusiawi. Konflik tidak memandang wujud, rupa, dan kepribadian. Konflik dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Konflik merupakan sesuatu yanglazim dialami oleh manusia, sejauh konflik tersebut buka sesuatu yang memberatkan. Belakangan ini, konflik yang terjadi menjadi pemicu perpecahan, permusuhan, dendam, iri hati, bahkan peperangan. Penyebab terjadinya karena ketidakbijaksanaan orang-orang yang terlibat didalamnya. Seharusnya konflik dapat diredam dan dicegah dengan banyak cara, dan yang utama adalah memahami masalah dan membangun kepercayaan, serta tidak selalu membawa perasaan dalam menghadapi segala sesuatu. KESIMPULAN Moderasi beragama merupakan jalan yang dapat mencegah konflik agama. Pada lembaga Pendidikan negeri konflik seringkali terjadi dengan mengatasnamakan suku, ras, agama, dan antar Salah satu penyebab isu sara ini semakin meluas dan bahkan menjadi doktrin bahwa suatu agama identik dengan negara tertentu yaitu melalui pemberitaan elektronik yang selalu Media massa merupakan pengaruh utama terhadap berkembangnya konflik, terlebih pada lembaga Pendidikan negeri, dimana sasarannya adalah peserta didik. Disamping itu, usia peserta didik yang masih labil dapat dengan mudah dipengaruhi oleh berita-berita yang menjadi pemicu intoleransi dan radikalisme yang berujung konflik antar sesame yang tidak seagama. Hal ini membuat ketidak harmonisan lingkungan sosial, dan sering terjadi kesalahpahaman. Konflik dapat diatasi dengan beberapa cara, yaitu kompromi, penyesuaian, kerjasama, menghindari, dan bersaing. keterbukaan antar sesama, saling mengenal dan memahami, mengesampingkan ego sehingga kepercayaan dapat dibangun yang membuat tidak adanya rasa saling curiga antar sesame walaupun dengan perbedaan yang ada. Seseorang harus bijak dalam menghadapi persoalan- persoalan yang terjadi dan tidak mudah terprovokasi dengan hal-hal yang dapat memecah Disitulah pentingnya memahami masalah dan membangun kepercayaan khususnya pada lembaga Pendidikan negeri. cara untuk mencegah konflik salah satunya konflik agama yang seringkali terjadi dalam dunia Pendidikan. Terlebih dalam kurikulum Merdeka dengan memahami moderasi beragama menjalankan nilai yang holistik, harmoni, sosial dalam Masyarakat. Membangun kepercayaan dimungkinkan untuk mengurangi ketegangan diantara pihak yang berkonflik, membangun kepedulian dan penghormatan terhadap mereka yang mengalami konflik. DAFTAR PUSTAKA