Volume (1) Issue (2) September / 2024 JURNAL PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS https://journal.ypsm.or.id/index.php/jpeb Pengaruh Penerapan Metode Resitasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VII di SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo Debrila Paudi 1, Sudirman 2 1-2 Universitas Negeri Gorontalo sudirman@ung.ac.id ABSTRACT This study aims to determine the effect of the recitation method implementation on student learning outcomes in social studies subjects for 8th grade at SMP 1 State Junior High School in Telaga, Gorontalo Regency. The study used a quantitative correlational method with a descriptive quantitative approach and obtained the required data from distributing questionnaires to 8th-grade students who learned the social science subject in the said school. As for the sample, 15% of the total population, numbered 40 respondents, were selected with a random sampling technique. Simple linear regression analysis was used as the data analysis method, which was also aided by the SPSS 21 program. The results showed that the recitation method brought upon a positive and significant effect on student learning outcomes, which means that the better the recitation method used, the better student learning outcomes. The coefficient of determination is 74.5%, which means that the variability of student learning outcomes can be explained by the recitation learning method of 74.5% Keywords: Recitation Method, Students' Learning Outcomes ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penerapan Metode Resitasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VII Di SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada siswa kelas VII pada mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Telaga. Penarikan sampel dalam penelitian ini sebesar 15% dari jumlah populasi dengan jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 responden dengan teknik pengambilan sampel yaitu teknik random sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan bantuan program SPSS 21. Hasil penelitian menunjukan metode resitasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa, yang berarti semakin baik metode resitasi yang dilakukan maka akan meningkatkan hasil belajar siswa, Koefisien determinasi dalam penelitian ini sebesar 74,5% yang berarti variabilitas hasil belajar siswa dapat dijelaskan oleh metode pembelajaran resitasi sebesar 74,5%. Kata Kunci: Metode Resitasi, Hasil Belajar Siswa 63 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Pendahuluan Pendidikan adalah suatu proses perubahan dalam bentuk sikap ataupun tingkah laku melalui tindakan pengajaran dan pelatihan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan tidak pernah lepas dari manusia dan selalu berpusat pada manusia dan kehidupannya. Hubungan pendidikan dengan manusia bersifat simbiosis dimana pendidikan mengembangkan manusia dan manusia mengembangkan pendidikan. Tercapainya tujuan pendidikan, akan ditentukan oleh berbagai unsur yang menampungnya. Makmun dalam Moh Ismail, M. Noer Hadi dan Salma Sunaiyah (2017: 89) menyatakan tentang unsur-unsur yang terdapat dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) diantaranya: “1) Siswa, dengan segala karakteristiknya berusaha untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin melalui kegiatan belajar; 2) Tujuan, ialah sesuatu yang diharapkan setelah adanya kegiatan belajar mengajar; 3) Guru, yang selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar”. Tampak dua posisi subjek yaitu siswa sebagai pihak yang belajar sedangkan guru sebagai pihak yang mengajar, mereka berinteraksi aktif secara timbal balik untuk mencapai suatu tujuan pendidikan Pada saat proses belajar mengajar (PBM) berlangsung subjek yang paling berperan penting adalah seorang guru bagaimana seseorang pengajar bisa mengembangkan potensi kegiatan pengajarannya dan potensi siswanya, dalam rangka mentransfer ilmu pengetahuan, agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Salah satu usaha yang di gunakan untuk mewujudkan tujuan pendidikan adalah meningkatkan hasil belajar. Siswa yang berprestasi atau memiliki hasil belajar yang tinggi dapat dikatakan bahwa siswa tersebut berhasil dalam belajar. Keberhasilan seorang siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang menjadi tolak ukur sejauh mana siswa paham dengan materi yang diberikan oleh seorang guru. Muhibbin (2017:216) berpendapat bahwa hasil belajar atau prestasi belajar merupakan pengungkapan hasil belajar segenap ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Ranah yang dimaksudkan disini adalah ranah kogniktif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Muhibbin (2017: 217) mengklasifikasikan jenis-jenis hasil belajar dapat dilihat dari tiga aspek , yaitu Ranah kognitif seseorang bisa dilihat dari pengamatannya, ingatannya, pemahaman, aplikasi, analisis dan sintesis, ranah afektif dapat dilihat dari penerima, sambutan, apersepsi (sikap menghargai), internalisasi (pendalaman), dan karakteristik (penghayatan) dan ranah psikomotor dapat dilihat dari keterampilan bergerak dan bertindak serta kecakapan ekspresi verbal dan nonverbal . Jadi hasil belajar adalah prestasi yang dicapai seorang siswa dengan adanya perubahan yang positif. Guru berpengaruh sangat besar dalam meningkatkan hasil belajar seorang siswa bagaimana guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat membangkitkan semangat belajar siswa, banyak cara atau strategi guru dalam 65 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 membawakan materi yang akan diajarkannya salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran. Menentukan metode merupakan langkah penting yang dapat menunjang keberhasilan pencapaian tujuan. Metode pembelajaran dapat ditetapkan oleh guru dengan memperhatikan tujuan dan materi pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam menentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran, tentunya orientasi kita adalah kepada siswa belajar. guru hendaknya mengajar dengan cara melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu metode yang diterapkan dalam melibatkan siswa secara aktif, guna menunjang kelancaran proses belajar mengajar adalah menggunakan metode resitasi. Menurut Hamdayama (2016: 17) metode resitasi adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Hal senada dikatakan oleh Syaiful Bahri dan Aswan Zain Bahwa metode resitasi adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar (Djamarah dan Zain, 2015: 85). Sedangkan Slameto (Dedy Yusuf Aditya, 2016: 167) mengemukakan bahwa metode resitasi adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di luar jadwal sekolah dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus dipertanggung jawabkan kepada guru. Metode resitasi adalah sebuah metode pembelajaran yang dibawakan oleh seorang guru dimana peserta didik diberi tugas untuk menyelesaikan tugas yang ada dengan cara belajar (mencari informasi, membaca, menghafal dan menganalisis) baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dengan penerapan metode ini dapat menanamkan rasa tanggung jawab pada diri peserta didik, karena tugas tidak hanya cukup dikerjakan, akan tetapi harus dipertanggung jawabkan ke pada guru dan pihak lainnya, tergantung bentuk pemberian tugas apa yang diberikan. Roestiya N.K. (2012: 134) mengatakan bahwa pemberian tugas biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melakukan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu atau dapat lebih terintegrasi. Beberapa penelitian terdahulu yang mengungkap variabel yang sama telah banyak dilakukan salah satunya penelitian dari Srigolviana L. Damalu (2018) tentang “Pengaruh metode resitasi terhadap hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS di SDN 23 Dungingi Kota Gorontalo”, adapun hasil dari penelitian ini bahwa dengan adanya penerapan metode resitasi ini dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dengan rata-rata hasil belajar siswa yaitu pretest 11.10 dan posttest 21.70. Metode Resitasi dapat dibawakan pada mata pelajaran apa saja termasuk pada mata pelajaran IPS terpadu. Berdasarkan apa yang dijelaskan diatas guru di SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo jarang menerapkan metode resitasi ini mereka lebih banyak memberikan pekerjaan rumah (PR) sehingga sulit untuk mengontrol apa yang siswa kerjakan, banyak juga siswa yang hanya menyalin tugas dari temannya sehingga mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa dengan tugas yang diberikan, selain itu guru juga sering kali hanya mengirim materi pelajaran dan tugas kepada siswa tanpa menjelaskannya secara 66 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 mendetail sehingga kebanyakan siswa hanya mencari di internet tugas yang diberikan tanpa mereka mengerti dengan apa yang dikerjakannya, dengan keadaan itu tentunya akan berpengaruh pada hasil belajar siswa, sasaran utamanya adalah seorang guru yang tidak dapat membangkitkan semangat belajar siswa ataupun suasana belajar yang menyenangkan. Pada dasarnya metode resitasi ini telah diterapkan di sekolah tersebut namun belum diterapkan secara maksimal sehingga masih menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan oleh seorang guru agar metode ini dapat berjalan secara efektif dan efisien. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di SMP Negeri 1 Telaga, yakni jumlah kelas VII terdapat 8 kelas dan jumlah siswa kelas VII yaitu 264 orang. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa masih banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70 yang telah ditetapkan. Hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa dari 264 orang siswa kelas VII yang mendapat nilai dibawah KKM sebanyak 192 orang siswa atau 73% dari jumlah siswa sedangkan sisanya 27% sebanyak 72 orang siswa mendapat nilai diatas KKM. Kajian Teori Hasil belajar merupakan tolak ukur untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Muhibbin (2017:216) berpendapat bahwa hasil belajar atau prestasi belajar merupakan pengungkapan hasil belajar segenap ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Ranah yang dimaksudkan disini adalah ranah kogniktif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Sudjana (Putri Rahma Pertiwi, Wahidul Basri dan Aisiah, 2018: 117) mengartikan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan prilaku kearah yang positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Ahmad Susanto (2015: 05) hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Hasil belajar dapat dilihat dari terjadinya perubahan, hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil (Nurhayati, 2019). Masukan itu berupa rancangan dan pengelolaan motivasi yang tidak berpengaruh langsung terhadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar. Perubahan itu terjadi pada seseorang dalam disposisi atau kecakapan manusia yang berupa penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui usaha yang sungguh- sungguh dilakukan dalam satu waktu tertentu atau dalam waktu yang relatif lama.(Usman Moonti, Agil Bahsoan, 2021) Dari apa yang telah dijelaskan diatas maka penulis dapat menyimpulkan pengertian hasil belajar adalah keberhasilan dan prestasi yang dicapai oleh seorang siswa selama mengikuti pembelajaran. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar 67 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi Slameto dalam Sinta Alfiani Sari dan Tiara Anggia Dewi (2019: 61) menyatakan bahwa faktor-faktor belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu : a. Faktor intern yaitu faktor jasmaniah (kesehatan, dan catat tubuh) , faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat,motif, kematangan, kesepian) faktor kelelahan. b. Faktor eksteren yaitu faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan) faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru yang rendah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Rifa’i (2011: 97) dalam Ardiani Nafistanti (2015: 14) bahwa faktor-faktor yang memberikan kontribusi terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi internal dan eksternal. Kondisi Internal Mencakup kondisi fisik, seperti kesehatan tubuh; kondisi psikis, seperti kemampuan intelektual, emosional; dan kondisi sosial, seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Sedangkan Kondisi Eksternal Meliputi variasi dan tingkat kesulitan materi (stimulus) yang dipelajari (direspon), tempat belajar, iklim, suasana lingkungan dan budaya masyarakat. kesempurnaan dan kualitas kedua kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap kesiapan proses dan hasil belajar. Indikator Hasil Belajar Salah satu cara agar kita dapat mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar siswa. Muhibbin (2017: 217) berpendapat bahwa hasil belajar siswa dapat juga dilihat dari tiga aspek, yaitu: 1. Ranah Kognitif, seseorang dapat dilihat dari pengamatannya, ingatannya, pemahaman, aplikasi, analisis dan sintesis. 2. Ranah Afektif, seseorang dapat dilihat dari penerimaan, sambutan, apresiasi (sikap menghargai). Internalisasi (pendalaman), dan karakteristik (penghayatan) 3. Ranah Psikomotor, seseorang dapat dilihat dari keterampilan bergerak dan bertindak serta kecakapan ekspresi verbal dan nonverbal Banyak cara untuk melihat hasil belajar siswa. Hal yang sama dikatakan Bloom dalam Nana Sudjana (2013: 22-23) mengklasifikasikan jenis-jenis hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu : ranah kognitif, afektif dan psikomotoris. 1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual, 2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap 3. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan. Metode Resitasi Metode merupakan salah satu yang penting untuk dibawakan guru dalam proses pembelajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara keja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan. Sedangkan Hamid Darmadi (2017: 42) berpendapat bahwa “metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan”. 68 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Jadi metode adalah cara kerja yang dapat dilakukan untuk mempermudah kita dalam melakukan suatu hal guna untuk mencapai suatu tujuan. Pembelajaran sendiri juga telah diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 rentang sisdiknas, yaitu pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. “Pembelajaran merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas dengan menggunakan berbagai sumber belajar sebagai bahan kajian”. (Poedjiadi Dalam Dedy Yusuf Aditya, 2016: 165). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dirancang oleh seorang guru untu mentransfer ilmu pengetahuan sehingga dapat mengubah tingka laku siswa kearah yang lebih baik lagi. Metode pembelajaran adalah hal yang penting dalam proses pembelajaran untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Hamdayama (2016: 94) “metode mengajar ialah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada peserta didik”. Sedangkan Sutikno (Dedy Yusuf Aditya, 2016: 166) menyatakan “metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”. Hal senada dikatakan oleh Arif (Dedy Yusuf Aditya 2016: 167) bahwa metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan metode pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh seorang guru untuk menjalankan rancangannya dalam memberikan ilmu pengetahuan saat proses belajar mengajar berlangsung untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran sendiri adalah suatu kewajiban yang harus dibawakan guru dalam proses belajar mengajar berlangsung. Dengan pemilihan metode pembelajaran yang baik dan tepat akan menunjang tercapainya tujuan pembelajarn serta dapat mendukung keberhasilan siswa dalam belajar. Pemilihan metode pembelajaran seharusnya metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa belajar secara aktif, banyak metode yang bisa dibawakan oleh seorang guru salah satunya adalah metode pembelajaran Resitasi. Metode Resitasi merupakan metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Hamdayama (2016: 17) Metode resitasi adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Hal senada dikatakan oleh Sagala (2013: 19) dalam Sinta Alfiani Sari dan Tiara Anggia Dewi (2019: 62) metode pemberian tugas dan resitasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru meberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian yang harus dipertanggungjawabkan. Banyak ahli mengartikan metode resitasi menurut pandangan mereka masing-masing, begitupun dengan Ramayulis mendefinisikan metode resitasi adalah suatu cara mengajar di mana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid mempertanggung jawabkannya (Ramayulis : 2014, 507) dalam Siti Maryam, Retno Triwoelandari dan Khololi Nawawi (2018: 1285). Hal senada dikatan oleh Syaiful Bahri dan Aswan Zain Bahwa metode resitasi adalah metode penyajian 69 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar (Djamarah dan Zain, 2015: 85). Penyampaian bahan ajar oleh guru yang disampaikan dalam bentuk tugas dapat memperdalam bahan pelajaran serta dapat merangsang siswa untuk aktif dalam belajar. Slameto dalam Dedy Yusuf Aditya (2016: 167) berpendapat bahwa metode resitasi adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di luar jadwal sekolah dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus dipertanggung jawabkan kepada guru. Dari penjelasan diatas penulis dapat menyimpulkan metode Resitasi adalah dimana guru dalam menyajikan bahan ajar dilakukan dengan cara memberikan tugas kepada siswa, yang nantinya akan dikerjakan dalam rentang waktu tertentu dan hasilnya akan dipertanggungjawabkan sehingga dapat membuat siswa melakukan kegiatan belajar dan lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Metode resitasi merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan diluar jam pelajaran, pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar dikelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan kelas. Adapun tujuan dari penggunaan metode resitasi menurut Hanafi dalam Melati (2019: 25) berpendapat bahwa tujuan penggunaan metode resitasi, antara lain: guru mengharpkan agar semua pengetahuan yang telah diterima lebih mantap, mengaktifkan siswa untuk mempelajari sendiri suatu masalah dengan membaca dan mengerjakan soal-soal sendiri serta mencoba sendiri dan agar siswa lebih rajin dan dapat mengukur kegiatan sendiri baik di rumah dan sekolah. Tugas yang diberikan guru merupakan suatu pekerjaan yang harus diselesaikan dengan waktu yang telah ditentukan. Djamarah (2013: 85) dalam (Ardiani Nafistanti, 2015: 16) berpendapat bahwa “tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara individu maupun secara kelompok”. Pemberian tugas sebagai suatu metode mengajar merupakan suatu pemberian pekerjaan oleh guru kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu, dengan pemberian tugas tersebut siswa belajar saat mereka mengerjakan tugas. Tugas merupakan refleksi kehidupan. Setiap orang dalam hidupnya sehari-hari tak terlepas dari tugas-tugas yang dikembangkan dalam kehidupan di Sekolag sebagai persiapan memasuki dunia kerja yang penuh dengan berbagai tugas kelak. Sebab barang tentu tugas yang diberikan adalah yang berhubungan dengan topic yang sedang dan atau dipelajari. Pemberian tugas ini merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan semantara waktu belajar sangat terbatas didalam kelas. Tampaknya pemberian tugas kepada siswa untuk diselesaikan dirumah, di Laboratorium maupun di perpustakaan cocock dalam hal ini, karena dengan tugas ini akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan atau mengulangi materi pembelajaran yang baru 70 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 didapat di sekolah sekaligus mencoba ilmu pengetahun yang telah dimilikinya. Tahap terakhir dan pemberian tugas ini adalah resitasi yang berarti melaporkan atau menyajikan kembali tugas yang telah dikerjakan atau dipelajari. Resitasi sering disamakan dengan "home work" (pekerjaan rumah), padahal sebenarnya berbeda. Pekerjaan rumah (PR) mempunyai pengertian yang lebih khusus, ialah tugas-tugas yang diberikan oleh guru, dikerjakan siswa di rumah. Sedangkan resitasi, tugas yang diberikan oleh guru tidak sekedar dilaksanakan di rumah, melainkan dapat dikerjakan di perpustakaan, laboratorium, atau di tempat-tempat lain yang ada hubungannya dengan tugas/pelajaran yang diberikan. Jadi, resitasi lebih luas daripada homework. Akan tetapi, keduanya mempunyai kesamaan, antara lain: mempunyai unsur tugas, dikerjakan oleh siswa dan dilaporkan hasilnya, serta mempunyai unsur didaktis pedagogis. Tujuan pemberian tugas menurut pandangan tradisional, pemberian tugas dilakukan oleh guru karena pelajaran tidak sempat diberikan di kelas. Untuk menyelesaikan rencana pengajaran yang telah ditetapkan, maka siswa diberi tugas untuk mempelajari dengan diberi soal-soal yang harus dikerjakan di rumah. Kadang-kadang juga bermaksud agar anak-anak tidak banyak bermain. Pemberian tugas juga dapat membuat siswa lebih mandiri (jika harus dikerjakan secara individu) dan lebih bertanggung jawab (jika harus dikerjakan secara berkelompok). Dalam memberikan tugas yang baik, guru hendaklah memperhatikan dan menempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1. Materi tugas yang diberikan atau pekerjaan yang perlu diselesaikan harus jelas. 2. Tujuan tugas yang diberikan akan lebih baik apabila dijelaskan kepada siswa. 3. Apabila tugas kelompok sesuai dengan kebutuhan agar ada yang bertanggung jawab. 4. Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas hendaknya jelas. Saat memberikan tugas seorang guru juga harus memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa, baik itu umpan balik berupa reward bagi siswa yang berhasil dalam mengerjakan tugasnya dan kritikan yang membangun bagi siswa yang kurang dalam tugasnya yang telah ia kerjakan. Dalam memberikan umpan balik guru tidak membanding-bandingkan pekerjaan siswa, seharusnya menyampaikan dengan kata-kata yang tidak menyinggung kemampuan yang siswa miliki serta perlu memberikan kesempatan untuk membuat peningkatan atas pekerjaan siswa. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Resitasi Untuk menjalakan suatu metode pembelajaran tentunya guru harus menguasai langkah-langkah metode pembelalajaran yang dipilih, misalnya metode Pembelajran Resitasi. Adapun dalam penerapan penerapan metode resitasi dalam proses pembelajaran maka guru perlu memperhatikan langkahlangkah sebagai berikut; tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis terutama tujuan penugasan dan cara pengerjaannya, tugas yang diberikan harus dapat dipahami oleh siswa, kapan mengerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, berapa lama harus dikerjakan, secara individu atau kelompok, 71 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 dan lain-lain. Menyiapakan pemberian tugas diawali dengan membuat rancangan tugas sesuai kompetensi dan indikator hasil belajar, materi pokok, uraian tugas yang harus dikerjakan, waktu yang dibutuhkan dimana tugas yang harus dikerjakan, serta membuat format secara jelas (Abdul Majid, 2007: 209) Langkah-langkah metode resitasi yang dikemukana Djamarah (2013: 86) adalah: 1) Fase pemberian tugas Tugas yang diberikan kepada siswa mempertimbangkan: a) Tujuan yang akan dicapai b) Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut. c) Sesuai dengan kemampuan siswa d) Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa e) Setidaknya waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut 2) Fase pelaksanaan tugas a) Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru b) Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja c) Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri tidak menyuruh orang lain d) Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik 3) Fase mempertanggungjawabkan tugas. Hal yang harus dikerjakan pada fase ini adalah : a) Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakannya b) Penilaian hasil pekerjaan siswa baik tes dan nontes atau cara lainnya. Hal yang sama dikatakan oleh Abdul Madjid (2007: 209- 210) langkahlangkah Pelaksanaan Metode Resitas yaitu: 1) Fase Pemberian Tugas. Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai, jenis tugas dan tepat sesuai dengan kemampuan siswa, ada petunjuk yang dapat membantu yang disediakan waktu yang cukup. 2) Fase Pelaksanaan a) Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru b) Diberikan dorongan sehingga anak mau melaksanakannya c) Diusahakan atau dikerjakan oleh oleh anak sendiri d) Mencatat semua hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik 3) Fase Pertanggungjawaban Tugas a) Laporan siswa baik lisan atau tulisan dari apa yang telah dikerjakan b) Ada tanya jawab dan diskusi c) Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes atau non tes atau cara lainnya Kelebihan Dan Kekurangan Metode Resitasi Kelebihan metode resitasi yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain dalam Harlinda Syofyan (2015: 140) yaitu kelebihan metode resitasi di dalam 72 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 proses pembelajaran dibandingkan metode lain, antara lain , lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual atau kelompok; dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru, dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa; dan dapat mengembangkan kreatifitas siswa. Sedangakan pendapat lain yaitu menurut (Djamarah, 2013: 87) dalam Ardiani Nafistanti (2015: 15) kelebihan dan kekurangan metode resitasi yaitu: 1) Kelebihan metode resitasi a. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok. b. Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru c. Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa d. Dapat mengembangkan kreativitas siswa. 2) Kekurangan metode resitasi a. Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia mengerjakan tugas ataukah orang lain b. Khusus untuk tugas kelempok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu, sedangkan anggota lainnya tidak berprestasi dengan baik. c. Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa. d. Sering memberikan tugas yang monoton (tidak bervariasi) dapat menimbulkan kebosanan siswa. Metode resitasi memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Menurut Hamdayama (2016: 101) menyatakan bahwa metode resitasi mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. 1) Kelebihan metode pemberian tugas dan resitasi a) Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama b) Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan berdiri sendiri. 2) Kelemahan metode pemberian tugas a) Seringkali anak didik melakukan penipuan dimana mereka hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau berusah payah mengerjakan sendiri b) Terkadang tugas itu dikerjakan orang lalin tanpa pengawasan Sukar memberikan stugas yang memenuhi perbedaan individual Indikator Metode Resitasi Indikator merupakah acuan kita untuk mengetahi ketercapaian tujuan tertentu yang kita inginkan. Berdasarkan pendapat Hamdayama (2014: 183) dan Djamarah (2013: 86) yang disimpulkan oleh (Ardiani Nafistanti, 2015: 19) bahwa indikator metode resitasi adalah: 1. Pemberian tugas: Guru memeberikan tugas 2. Pelaksanaan tugas: siswa menerima dan mengerjakan tugas 3. Kegiatan belajar: siswa melakaukan kegiatan belajar saat mengerjakan tugas. 4. Pertanggungjawaban tugas: sisawa bertanggungjawab atas apa yang ia kerjakan Metode Penelitian 73 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Pendekatan penelitian merupakan bagian penting dari suatu karya ilmiah karena pendekatan merupakan keseluruhan cara yang digunakan dalam penelitian baik itu dari perumusan masalah hingga pada tahap penarikan kesimpulan. dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Sedangkan untuk metode penelitiannya menggunakan metode penelitian kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Teknik Pengumpulan Data Observasi Untuk dapat memperoleh data yang akurat dalam suatu penelitian maka perlu dilakukan observasi dilapangan. Menurut Sutrisno Hadi (Dalam Sugiyono, 2016: 145) bahwa observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Metode ini peneliti gunakan untuk mengamati penerapan metode resitasi terhadap hasil belajar siswa di SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo. Kuesioner (Angket) Kuesioner/angket adalah tehnik pengumpulan data berupa pertanyaan yang diberikan oleh peneliti dan akan dijawab oleh responden. Menurut (Sugiyono, 2016: 142) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk di jawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variable yang akan di ukur dan tahu apa yang bisa di harapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pertanyaan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet. Wawancara Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk mengemukakan permasalahan yang di teliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/ kecil (Sugiyono, 2016: 137). Wawancara ini dimaksudkan adalah teknik yang digunakan secara langsung kepada para responden serta informasi sekunder lainnya guna mendapatkan kesesuaian data yang dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data lainnya. Dokumentasi Dokumentasi sangat diperlukan dalam penelitian ini untuk membantu peneliti dalam mengumpulkan data yang akan digunkan. Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 274) dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti. Notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainnya. Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data tertulis untuk gambaran umum SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo Hasil Penelitian Dan Pembahasan 74 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Analisis Regresi Analisis Regresi Linier Sederhana Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Setelah dilakukan uji asumsi normalitas data dan ternyata terpenuhi, tahap selanjutnya dilakukan pemodelan data dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil analisis dengan bantuan program SPSS ditampilkan pada tabel sebagai berikut : Tabel 4.6 : Hasil Uji Analisis Regresi Coefficientsa Unstandardize dCoefficients Model 1 (Constant) B Std. Error 71.677 Standardize d Coefficients .320 .030 a. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Sig. Beta 1.349 Metode Resitasi t .863 53.140 .000 10.545 .000 Berdasarkan hasil analisis diatas, model regresi linear sederhana adalah sebagai berikut. Ŷ = 71,677 + 0,320X Berdasarkan model persamaan regresi tersebut, maka dapat diinterpretasikan hal-hal sebagai berikut: a. Nilai konstanta sebesar 71,677 menunjukan variable hasil belajar siswa jika tidak terdapat pengaruh dari Metode Resitasi maka rata-rata nilai dari variabel hasil belajar siswa adalah sebesar 71,677 satuan. b. Nilai Koefisien Regresi Variabel X (Metode Resitasi) sebesar 0,320 atau sebebesar 32% menunjukan setiap perubahan variabel Metode Resitasi sebesar 1 persen maka akan meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 32%. Hasil Uji Parsial (Uji T) Setelah pengujian analisis regresi dilakukan selanjutnya akan dilaksanakan pengujian pengaruh secara parsial dari variabel bebas (Metode Resitasi) terhadap variabel terikat yakni Hasil Belajar Siswa. Uji ini adalah dengan membandingkan antara nilai t-hitung dengan nilai t- tabel. Pengambilan keputusan ialah jika nilai t-hitung lebih besar dari t- tabel dan nilai signifikansi dibawah 0,05 maka terdapat pengaruh yang signifikatan variable independent terhadap variable dependen. Sebaliknya jika nilai t-hitung lebih kecil dari t-tabel dan nilai signifikansi diatas 0,05 maka tidak terdapat pengaruh yang signifikatan variable independent terhadap variable dependen. Sebelumnya terlebih dahulu harus menentukan t-tabel yang akan digunakan. Nilai t-tabel ini tergantung pada besarnya df (degree of freedom) serta tingkat signifikan yang digunakan sebesar 5% dan nilai df sebesar n – k – 1 = 40 – 1 – 1 = 38 diperoleh nilai t-tabel sebesar 2,02439 (lihat lampiran). Hasil pengujian dengan menggunakan SPSS 20 adalah sebagai berikut : 75 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Hasil Uji Parsial (Uji T) Coefficientsa Model 1 (Constant) Unstandardize dCoefficients Standardize T d Coefficients B Std. Error Beta 71.677 1.349 Metode Resitasi .320 .030 a. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa .863 Sig. 53.140 .000 10.545 .000 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat nilai t-hitung yang diperoleh untuk mendapatkan kesimpulan apakah menerima atau menolak Ho, Hasil analisis dengan menggunakan bantuan program SPSS 20 diperoleh hasil yaitu nilai thitung 10,545 > t-tabel 2,02439 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima yaitu variabel Metode Resitasi (X) berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa (Y). Pengujian Koefisien Determinasi Nilai koefisien determinasi merupakan suatu nilai yang besarnya berkisar antara 0%-100%. Untuk mengetahui besarnya koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel berikut: Koefisien Determinasi Model Summaryb Model R 1 .863a R Square Adjusted RSquare .745 .739 Std. Error of the Estimate 1.28408 a. Predictors: (Constant), Metode Resitasi b. Dependent Variable: Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil analisis koefisien determinasi pada tabel diatas menunjukkan besarnya koefisien determinasi yang disesuaikan atau angka R Square adalah sebesar 0,745 atau sebesar 74,5%. Nilai ini menunjukan bahwa sebesar 74,5% variabilitas hasil belajar siswa dapat dijelaskan oleh variable Metode Resitasi. Sedangkan sisanya 25,5% dapat dijelaskan oleh variable lain yang tidak masuk dalam model penelitian ini. Pembahasan Hasil belajar merupakan tolak ukur untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Muhibbin (2017:216) berpendapat bahwa hasil belajar atau prestasi belajar adalah pengungkapan hasil belajar segenap ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Ahmad Susanto (2015: 05) menjelaskan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam 76 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu faktor internal faktor eksternal. Faktor Internal Mencakup kondisi fisik, seperti kesehatan tubuh; kondisi psikis, seperti kemampuan intelektual, emosional; dan kondisi sosial, seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Sedangkan Kondisi Eksternal Meliputi variasi dan tingkat kesulitan materi (stimulus) yang dipelajari (direspon), tempat belajar, iklim, suasana lingkungan dan budaya masyarakat. Salah satu variasi pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan Metode Resitasi. Metode Resitasi merupakan metode pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Hamdayama (2016: 17) Metode resitasi adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Penyampaian bahan ajar oleh guru yang disampaikan dalam bentuk tugas dapat memperdalam bahan pelajaran serta dapat merangsang siswa untuk aktif dalam belajar. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa Metode Resitasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VII di SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-hitung yang diperoleh sebesar 10,545 yang berarti lebih besar dari t-tabel 2,02439 dan nilai signifikansi 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05, serta nilai koefisien regresi variabel Metode Resitasi sebesar 32% menunjukan setiap perubahan variabel Metode Resitasi sebesar 1 persen akan meningkatkan Motivasi Belajar Siswa sebesar 32%. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan diterapkannya Metode Resitasi maka akan meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Syahrini Tambak (2014), salah satu metode yang diterapkan dalam melibatkan peserta didik secara aktif, guna menunjang kelancaran proses belajar mengajar adalah menggunakan metode resitasi. Hal ini disebabkan karena peserta didik dituntut untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru dan harus dipertanggung jawabkan. Dalam keberasilan proses belajar mengajar di samping tugas guru, maka peserta didik turut memegang peranan yang menentukan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Sebab bagaimanapun baiknya penyajian guru terhadap materi pelajaran, akan tetapi peserta didik tidak mempunyai perhatian dalam hal belajar maka apa yang diharapkan sulit untuk tercapai. Hasil penelitian ini mendukung teori yang diungkapkan oleh Sagala (2013:219) yang menyatakan bahwa metode resitasi yang dilakukan oleh guru dengan memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian mempertanggungjawabkannya, dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari sehingga dapat merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok yang nantinya akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan demikian jelas bahwa metode resitasi mengutamakan aktivitas belajar siswa untuk secara mandiri melalui tugas yang diterimanya dalam melakukan dan mencobanya, sehingga mampu menggeneralisasikan konsep pemahamannya. Dengan demikian, pemberian tugas hendaknya disesuaikan dengan bahan ajaran. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak 77 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 sementara waktu sedikit. Artinya banyaknya bahan yang tersedia dengan waktu kurang seimbang. Agar bahan pelajaran selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya guru gunakan untuk mengatasinya. Metode ini cocok diterapkan pada pelajaran IPS Terpadu di SMP karena materinya yang cukup banyak dan harus dijelaskan dengan lengkap agar siswa dapat lebih memahaminya (Djamarah dan Zain, 1996 : 96). Berdasarkan pada hasil statistik deskriptif penelitian Metode Resitasi diperoleh skor pada kategori sangat baik. Pada indicator pemberian tugas siswa menganggap bahwa guru telah memberikan tugas yang sangat baik, dan hal itu pun diikuti pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh siswa juga sudah dilakukan dengan baik yang terlihat dari skor yang diperoleh pada indicator pelaksanaan tugas yang memperoleh skor sangat baik. Sementara untuk indicator kegiatan belajar sudah terlaksana dengan baik dan siswa mampu untuk mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan oleh guru dengan baik berdasarkan skor yang diperoleh pada kategori baik. Dengan hasil ini berarti Metode Resitasi siswa secara keseluruhan dapat dikatakan berhasil dilakukan terhadap siswa pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VII di SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo. Hasil deskriptif yang memperoleh skor yang sangat baik sesuai dengan tujuan diterapkannya Metode Resitasi yang dilakukan oleh guru yakni dapat merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara individual maupun secara kelompok. Hanafi dalam Melati (2019: 25) berpendapat bahwa tujuan penggunaan metode resitasi, antara lain: guru mengharpkan agar semua pengetahuan yang telah diterima lebih mantap, mengaktifkan siswa untuk mempelajari sendiri suatu masalah dengan membaca dan mengerjakan soal-soal sendiri serta mencoba sendiri dan agar siswa lebih rajin dan dapat mengukur kegiatan sendiri baik di rumah dan sekolah. Dari hasil statistic deksriptif Metode Resitasi yang sangat baik, diikuti pula dengan hasil belajar siswa yang tinggi dimana nilai hasil belajar siswa dalam penelitian ini mempunyai nilai terendah 80,5 dan tertinggi 90 dengan nilai rata-rata dari 40 siswa sebagai responden dalam penelitian ini 85,73. Nilai rata-rata tersebut dapat dikatakan tinggi sehingga telah memenuhi ketuntasan belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini maka metode resitasi menjadi salah satu metode yang diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. kelebihan metode resitasi di dalam proses pembelajaran dibandingkan metode lain menurut Djamarah dan Zain dalam Harlinda Syofyan (2015: 140) yaitu Metode Resitasi lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual atau kelompok; dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru, dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa; dan dapat mengembangkan kreatifitas siswa. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian dari Srigolviana Damalu (2018), Putri Rahma Pertiwi dkk (2018), Dedi Yusuf Siswa (2016), Sinta Alfiani Sari dan Tiara Anggia Dewi (2019) dan Heliza Gustini (2019) yang hasilnya menemukan bahwa Metode Resitasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa. Simpulan 78 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu Metode Resitasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VII di SMP Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan diterapkannya metode pembelajaran resitasi maka akan meningkatkan hasil belajar siswa. metode resitasi mengutamakan aktivitas belajar siswa untuk secara mandiri melalui tugas yang diterimanya dalam melakukan dan mencobanya, sehingga mampu menggeneralisasikan konsep pemahamannya. Dengan demikian, pemberian tugas hendaknya disesuaikan dengan bahan ajaran, serta metode resitasi berpengaruh terhadap hasil belajar karena ada Follow Up. Daftar Pustaka Aditya, Yusuf, Dedy. (2016). ”Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Resitasi Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa”. Jurnal SAP. Volume 1. No(2). Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara Darmadi, Hamid. 2017. Pengembangan Model dan Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa. Yogyakarta: Deepublish. Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2015. “Strategi Belajar Mengajar”. Jakarta: Rineka Cipta. Hamdayama, Jumanta. 2016. Metodologi Pengajaran. Jakarta: Pt Bumi Aksara Hendra. 2018. “Pengaruh Metode Resitasi Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak (Studi Eksperimen di kelas XI MAN 1 Kota Serang)”. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Ismail, Moh. Noer, Hadi, M., dan Sunaiyah, Salma.(2017). ”Metode Penugasan Dalam Pembelajaran PAI”.jurnal eDudeena,Volume 1. No(2). Lefudin. 2017. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish Majid, Abdul. 2017. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Marpaung, Junierissa.(2016). “Pengaruh Penerapan Metode Ceramah Plus dengan Metode Resitasi Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Bimbingan Konseling Universitas Riau Kepulauan Batam”.Jurnal Kopasta, Volume 3 No(2). Maryam, Siti, Triwoelandari,Retno dan Nawawi, Khololi. (2018). “Pengaruh Metode Resitasi Terhadap Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Siswa Kelas VII SMP Pembangunan Bogor”. Jurnal Mitra pendidikan (JMP Online). Volume 2 No (11). Nafistanti, Ardiani. (2015). “Pengaruh Penggunaan Metode Resitasi, sumber belajar dan kedisiplinan siswa terhadap hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran Di SMK Pelita Nusantara 1 Semarang”. Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. N.K, Roestiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Okiawan, Ingga. (2020). “Pengaruh Metode Resitasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI Di SMK Negeri 1 Mesuji Raya Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir 79 Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. // Volume 1 No. 2 September 2024 hlm. 63 - 80 Sumatra Selatan Tahun Pelajaran 2019/2020”. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) Instutit Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Pertiwi, Putri, Rahma. (2018). “Pengaruh Metode Resitasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran Sejarah Di Sman 13 Padang”. Journal of Education on Social Science. Volume 2. No(2). Syofyan, Harlinda. (2015). “Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Melalui Metode Resitasi Di SD Al Azhar SYIFA Budi Jakarta Selatan. Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 6. No(1). Syah, Muhibbin 2017. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya. Susanto, Ahmad. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar”.Jakarta: Kencana Sumiati dan Asra. 2019. ”Metode Pembelajaran. Bandung: Cv Wacana Prima Sudjana, Nana. (2013). “Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo Sari, Alfiana, Sinta dan Dewi, Anggia Tiara. (2019). “Pengaruh Penggunaan Metode Resitasi Terhadap Hasil Belajar IPS Terpadu Siswa Kelas VII Semester Genap Smp Negeri 1 Trimurjo” E-ISSN. Volume 7. No(1) Sagala. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, 1996. Strategi Belajar Mengajar. Cetakan Pertama. PT Rineka Cipta. Jakarta. Sugiyono. (2007). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta ............... (2016). Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV Alfabeta. ............... (2017). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta. Tambak, Syahraini. 2014 Metode Ilmiah dan Inovatif Pendidikan Agama Islam, Yogyakarta: PT. Graha Ilmu. Usman Moonti, Agil Bahsoan, A. M. G. (2021). Pengaruh keterampilan mengajar guru terhadap hasil belajar siswa. 3(1), 2. 80