Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Analisis Wacana Kritis Media Online Bali Post Terhadap Isu Sampah Upakara Hindu di Bali I Gede Titah Pratyaksa*. Niluh Wiwik Eka Putri Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Bali. Indonesia *titahpratyaksa@gmail. Abstract The issue of Hindu ritual waste in Bali has increasingly attracted public attention due to its implications for environmental sustainability, religious practices, and the tourism sector, while also being extensively represented in local media discourse. This study aims to analyze the construction of discourse surrounding Hindu ritual waste in Bali Post online news coverage, identify the representation of social actors, and uncover the underlying ideologies embedded within the reporting practices. The research employs a descriptive qualitative approach using Norman FaircloughAos Critical Discourse Analysis framework, which encompasses three dimensions: text, discursive practice, and social practice. The data consist of four Bali Post news articles published in 2025 that discuss Hindu ritual waste in various religious contexts across Bali. The findings reveal that, at the textual level, the news coverage is dominated by persuasive, educational, and solution-oriented language that links religious practices to ecological At the level of discursive practice, news sources are primarily drawn from government officials, traditional authorities, and environmental management institutions, resulting in the predominance of official perspectives over those of community members and critical groups. At the level of social practice, the reporting reproduces a discourse of harmony between the preservation of Hindu traditions and environmental management, while reinforcing ideologies of cultural ecologicalization, environmental managerialism, and the normalization of waste-related issues through institutional legitimacy. This study concludes that Bali Post functions not merely as a provider of information but also as a discursive actor that shapes public understanding of the relationship between religion, culture, the environment, and waste management policies in Bali. Keywords: Critical Discourse Analysis. Waste Reporting in Bali. Online Media Bali Post Abstrak Permasalahan sampah upakara Hindu di Bali semakin menjadi perhatian publik karena berkaitan dengan kelestarian lingkungan, praktik keagamaan, dan keberlanjutan pariwisata, serta direpresentasikan secara intensif melalui media massa lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi wacana isu sampah upakara Hindu dalam pemberitaan media online Bali Post, mengidentifikasi posisi aktor sosial yang direpresentasikan, serta mengungkap ideologi yang melatarbelakangi praktik pemberitaan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough yang mencakup dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Data penelitian berupa empat berita Bali Post tahun 2025 yang membahas sampah upakara Hindu pada berbagai momentum keagamaan di Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi teks, pemberitaan didominasi diksi persuasif, edukatif, dan berorientasi solusi yang menghubungkan praktik keagamaan dengan tanggung jawab ekologis. Pada dimensi praktik diskursif, sumber https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berita didominasi oleh aktor pemerintah, otoritas adat, dan lembaga pengelola lingkungan sehingga perspektif resmi lebih menonjol dibandingkan suara masyarakat atau kelompok Pada dimensi praktik sosial, pemberitaan mereproduksi wacana harmonisasi antara pelestarian tradisi Hindu dan pengelolaan lingkungan, sekaligus memperkuat ideologi ekologisasi budaya, manajerialisme lingkungan, dan normalisasi persoalan sampah melalui legitimasi institusional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bali Post tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor diskursif yang membentuk pemahaman publik mengenai hubungan antara agama, budaya, lingkungan, dan kebijakan pengelolaan sampah di Bali. Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis. Media Online Bali Post. Sampah Upakara Hindu Pendahuluan Dalam konteks pembangunan daerah, pengelolaan sampah merupakan isu strategis yang membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh tingkat partisipasi masyarakat dalam menerapkan praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan (Widanti & Widianta Putra, 2. Permasalahan sampah di Bali dalam beberapa tahun terakhir berkembang tidak hanya sebagai krisis ekologis, tetapi juga sebagai persoalan sosial, budaya, dan keagamaan yang dikonstruksi melalui praktik kebahasaan media. Selain sampah domestik dan plastik sekali pakai, perhatian publik semakin tertuju pada sampah upakara Hindu yang dihasilkan dari berbagai aktivitas keagamaan masyarakat Bali. Upakara sebagai bagian integral dari pelaksanaan ajaran Hindu menggunakan beragam sarana seperti janur, bunga, daun, buah-buahan, kain, plastik pembungkus, hingga bahan nonorganik lainnya yang setelah digunakan berpotensi menjadi limbah. Seiring meningkatnya frekuensi kegiatan keagamaan dan perubahan pola konsumsi masyarakat, pengelolaan sampah upakara menjadi isu penting yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Bali. Dalam ajaran Hindu, upakara merupakan bagian integral dari pelaksanaan Yadnya yang berfungsi sebagai sarana persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bhagavad GtA i. 10 menjelaskan bahwa sejak awal penciptaan manusia dianugerahi prinsip Yadnya sebagai dasar terciptanya keharmonisan kehidupan (Pudja. Oleh karena itu, berbagai sarana upakara seperti bunga, janur, daun, buah-buahan, dan bahan pelengkap lainnya tidak hanya memiliki fungsi ritual, tetapi juga mengandung makna religius sebagai media penghubung antara manusia dan Tuhan. Dengan demikian, persoalan sampah upakara tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan lingkungan, melainkan juga berkaitan dengan bagaimana umat Hindu memaknai dan mengelola sarana-sarana suci tersebut setelah digunakan dalam aktivitas Persoalan sampah di Bali tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap citra destinasi dan keberlanjutan industri pariwisata yang menjadi sektor utama perekonomian daerah. Oleh karena itu, pengelolaan sampah yang efektif menjadi salah satu prasyarat penting dalam menjaga daya tarik dan daya saing pariwisata Bali (Sutrisnawati & Purwahita, 2. Persoalan lingkungan pada masyarakat modern tidak hanya dipahami sebagai masalah teknis pengelolaan sumber daya, tetapi juga sebagai konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh budaya, politik, ekonomi, dan praktik komunikasi. Media memiliki peran penting dalam membentuk definisi publik mengenai persoalan lingkungan melalui https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH proses seleksi isu, representasi, dan pembingkaian realitas ekologis (Boykoff, 2. Dalam konteks tersebut, media massa memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik mengenai isu lingkungan melalui proses seleksi, interpretasi, dan penyajian informasi tertentu (Anderson, 1. Isu lingkungan yang dimediasi melalui media tidak sekadar mencerminkan realitas objektif, tetapi juga membentuk cara masyarakat memahami penyebab, dampak, dan solusi atas suatu permasalahan ekologis (Hansen, 2. Komunikasi lingkungan yang berbasis budaya lokal memiliki efektivitas yang tinggi dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat karena memanfaatkan nilai, norma, dan institusi sosial yang telah memperoleh legitimasi budaya. Dalam konteks masyarakat tradisional, lembaga adat berperan sebagai mediator yang menghubungkan kepentingan pelestarian lingkungan dengan praktik sosial masyarakat sehari-hari (Hadiprashada & Budiman, 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa timbulan sampah di Bali telah memberikan dampak terhadap kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, dan citra destinasi wisata. Dalam konteks sampah upakara Hindu, persoalan menjadi lebih kompleks karena menyangkut praktik keagamaan yang sakral dan mengandung nilai budaya yang kuat. Di satu sisi, masyarakat dituntut menjaga kesucian tradisi dan ritual keagamaan, namun di sisi lain muncul tuntutan untuk menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan dalam penggunaan sarana upakara. Kondisi ini menjadikan isu sampah upakara sebagai arena diskursus yang melibatkan berbagai aktor, seperti pemerintah daerah, desa adat, tokoh agama Hindu, komunitas lingkungan, dan masyarakat. Dalam konteks Bali, hubungan antara lingkungan, budaya, dan agama memiliki karakteristik yang khas karena berakar pada filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Filosofi ini menjadi landasan etis dalam berbagai praktik sosial masyarakat Bali, termasuk dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dalam perspektif teologi Hindu, hubungan manusia dengan lingkungan tidak bersifat eksploitatif, melainkan didasarkan pada prinsip keseimbangan dan keselarasan. Konsep Tri Hita Karana menempatkan alam sebagai bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga keharmonisannya bersama hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama Oleh karena itu, pengelolaan sampah upakara dapat dipahami sebagai implementasi nilai palemahan, yaitu tanggung jawab religius umat Hindu dalam menjaga kesucian dan keberlanjutan lingkungan. Perspektif ini menunjukkan bahwa praktik pelestarian lingkungan bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga merupakan bagian dari pelaksanaan ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari (Suarka, 2. Transformasi sosial masyarakat Bali juga dipengaruhi oleh dinamika identitas budaya dan hubungan antara institusi adat dengan negara yang terus berkembang seiring modernisasi dan globalisasi (Atmadja, 2. Dalam konteks pariwisata, warisan budaya Bali menjadi sumber penting pembentukan identitas sekaligus daya tarik destinasi wisata (Ardika, 2. Namun, perkembangan pariwisata, urbanisasi, dan perubahan pola konsumsi masyarakat telah menghadirkan tantangan baru terhadap keberlanjutan lingkungan Bali sehingga memerlukan adaptasi nilai-nilai budaya lokal dalam menghadapi persoalan ekologis kontemporer (Picard, 2. Media massa tidak sekadar menyampaikan informasi mengenai persoalan lingkungan, tetapi juga membingkai realitas melalui pilihan bahasa, sumber berita, dan sudut pandang tertentu. Proses framing tersebut berkontribusi dalam membentuk pemahaman publik mengenai hubungan antara agama, lingkungan, dan tanggung jawab sosial masyarakat (Sadmego & Nasucha, 2. Dalam perkembangan isu tersebut, media massa memiliki peran penting sebagai agen konstruksi realitas sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi mengenai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH persoalan sampah upakara Hindu, tetapi juga membentuk pemahaman publik melalui pemilihan kata, struktur pemberitaan, penonjolan sumber berita, serta pembingkaian isu Dengan demikian, representasi sampah upakara Hindu di media tidak dapat dipandang sebagai refleksi realitas yang netral, melainkan sebagai produk diskursif yang dipengaruhi oleh relasi kuasa, kepentingan, dan ideologi tertentu sebagaimana dijelaskan dalam Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Menurut Fairclough . media merupakan arena produksi dan reproduksi makna yang tidak pernah bebas nilai karena selalu berada dalam relasi dengan struktur kekuasaan yang lebih luas. Dalam perspektif tersebut, bahasa dipahami sebagai praktik sosial yang berkontribusi dalam membentuk dan mempertahankan relasi kekuasaan di masyarakat. Perspektif ini sejalan dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis yang dikembangkan oleh Van Dijk . serta Wodak & Meyer . yang menempatkan bahasa sebagai praktik sosial yang berkaitan erat dengan relasi kuasa dan ideologi. Melalui pilihan bahasa, representasi aktor sosial, dan strategi pemberitaan tertentu, media dapat melegitimasi atau justru menantang praktik sosial yang dominan. Oleh karena itu, teks media perlu dipahami sebagai praktik sosial yang tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk realitas tersebut. Pandangan ini sejalan dengan perspektif konstruksi sosial yang menempatkan media sebagai institusi yang berperan dalam membangun pengetahuan dan pemahaman publik mengenai berbagai fenomena sosial (Berger & Luckmann, 1. Kajian mengenai media dan isu lingkungan di Indonesia telah banyak dilakukan, namun sebagian besar berfokus pada media nasional, framing krisis lingkungan, pengelolaan sampah perkotaan, atau kampanye digital terkait lingkungan. Studi mengenai representasi isu keagamaan dan lingkungan secara bersamaan masih relatif terbatas, khususnya dalam konteks sampah upakara Hindu di Bali. Penelitian mengenai komunikasi lingkungan menunjukkan bahwa media memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk kesadaran ekologis masyarakat sekaligus menentukan aktor mana yang memperoleh legitimasi untuk mendefinisikan suatu persoalan lingkungan (Cox, 2. Komunikasi lingkungan juga dipahami sebagai proses negosiasi makna mengenai relasi manusia dengan alam yang berlangsung dalam ruang publik dan dipengaruhi oleh berbagai kepentingan sosial, budaya, serta politik (Pezzullo & Cox, 2. Dalam praktiknya, pemberitaan lingkungan sering kali didominasi oleh sumber resmi seperti pemerintah, akademisi, dan institusi tertentu sehingga suara masyarakat sipil atau kelompok akar rumput kurang memperoleh ruang yang seimbang (Allan. Adam & Carter, 2. Kondisi tersebut menjadikan analisis terhadap representasi aktor sosial dalam media sebagai aspek penting dalam memahami dinamika komunikasi lingkungan. Padahal, isu ini memiliki karakteristik khas karena mempertemukan dimensi lingkungan, budaya, agama, dan kebijakan publik dalam satu ruang diskursif. Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat kesenjangan penelitian berupa minimnya kajian yang mengkaji bagaimana media lokal Bali merepresentasikan isu sampah upakara Hindu melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis. Sebagai media lokal yang memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan opini publik. Bali Post memegang posisi strategis dalam mengonstruksi makna, menentukan aktor yang diberi ruang bicara, serta membentuk persepsi masyarakat mengenai penyebab dan solusi persoalan sampah Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan model Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough untuk mengkaji pemberitaan sampah upakara Hindu dalam media online Bali Post melalui tiga dimensi analisis, yaitu teks, praktik diskursif, dan praktik Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengungkap relasi antara media, ideologi, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH budaya, agama, dan kekuasaan dalam konstruksi komunikasi lingkungan berbasis kearifan lokal Bali. Selain itu, kajian mengenai media lokal menjadi penting karena media lokal memiliki kedekatan geografis, sosial, dan budaya dengan masyarakat yang menjadi Kedekatan tersebut memungkinkan media lokal berperan tidak hanya sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai aktor yang turut membentuk identitas kolektif, nilai budaya, dan orientasi kebijakan publik di tingkat daerah (Lester, 2. Dalam konteks isu lingkungan, media lokal memiliki posisi strategis untuk menjembatani kepentingan pemerintah, masyarakat adat, kelompok keagamaan, dan komunitas lingkungan dalam membangun kesadaran ekologis yang berbasis pada konteks lokal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi wacana isu sampah upakara Hindu dalam pemberitaan media online Bali Post, mengidentifikasi posisi aktor sosial yang direpresentasikan, serta mengungkap ideologi yang bekerja di balik praktik pemberitaan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Data penelitian berupa berita-berita terkait sampah upakara Hindu yang dipublikasikan oleh Bali Post dalam versi online sepanjang tahun Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian analisis wacana kritis, komunikasi lingkungan, dan media lokal, sekaligus menjadi refleksi kritis bagi praktik jurnalisme lingkungan berbasis budaya dan agama di Bali. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough untuk mengkaji konstruksi pemberitaan isu sampah upakara Hindu di Bali pada media online Balipost. Data penelitian berupa 12 berita yang terbit sepanjang tahun 2025 dan berkaitan dengan sampah upakara, pengelolaan sampah pasca-hari raya keagamaan Hindu, serta kebijakan pengurangan sampah dalam kegiatan ritual. Melalui teknik purposive sampling, dipilih empat berita utama berdasarkan relevansi tema, keterlibatan aktor sosial strategis, signifikansi terhadap kebijakan publik, intensitas reproduksi tema, dan variasi konstruksi wacana. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dengan mengidentifikasi unsur teks, aktor sosial, dan tema pemberitaan menggunakan pedoman dokumentasi serta lembar kategorisasi data. Analisis dilakukan melalui tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis teks untuk mengkaji pilihan bahasa dan representasi aktor sosial, analisis praktik diskursif untuk menelaah proses produksi dan distribusi berita, serta analisis praktik sosial untuk menghubungkan temuan dengan konteks kebijakan pengelolaan sampah, praktik keagamaan Hindu, budaya Bali, komunikasi lingkungan, dan relasi kuasa dalam Hasil dari ketiga tahapan tersebut diinterpretasikan secara komprehensif guna mengungkap konstruksi makna, relasi kuasa, dan ideologi yang membentuk pemberitaan isu sampah upakara Hindu di Balipost. Hasil dan Pembahasan Dalam perspektif Analisis Wacana Kritis, teks media dipandang sebagai bagian dari praktik sosial yang berkontribusi terhadap pembentukan pengetahuan dan relasi kekuasaan dalam masyarakat (Fairclough, 2. Oleh karena itu, analisis terhadap pemberitaan sampah upakara Hindu tidak hanya diarahkan pada aspek kebahasaan semata, tetapi juga pada bagaimana media membangun representasi tertentu mengenai agama, lingkungan, dan aktor sosial yang terlibat dalam isu tersebut. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami bagaimana wacana lingkungan diproduksi, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH disebarluaskan, dan diterima oleh masyarakat dalam konteks sosial budaya Bali. Dalam kajian agama Hindu, upakara tidak hanya dipahami sebagai perangkat ritual, tetapi juga sebagai simbol manifestasi nilai-nilai Yadnya yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta (Titib, 2. Oleh karena itu, ketika media memberitakan persoalan sampah upakara, media sesungguhnya tidak hanya membicarakan limbah pasca-upacara, tetapi juga merepresentasikan bagaimana nilainilai keagamaan Hindu dinegosiasikan dalam menghadapi tantangan ekologis Perspektif ini penting karena memungkinkan analisis tidak hanya berfokus pada konstruksi bahasa media, tetapi juga pada representasi nilai-nilai agama Hindu yang muncul dalam diskursus publik mengenai lingkungan hidup. Analisis Wacana Kritis Berita Media Online Balipost. Berdasarkan analisis wacana kritis model Norman Fairclough, berita Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur. Umat Diimbau Minimalisasi Sampah dapat dikaji melalui tiga dimensi, yaitu dimensi teks, praktik diskursus, dan praktik sosial budaya. Gambar 1 Berita Balipost. com Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur. Umat Diimbau Minimalisasi Sampah (Sumber: Balipost. com, 2. Berita Bali Post berjudul Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur. Umat Diimbau Minimalisasi Sampah tidak hanya menyampaikan informasi mengenai pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga membangun wacana tentang hubungan antara kesucian ritual dan tanggung jawab ekologis. Dalam perspektif Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, teks berita tersebut menunjukkan bagaimana bahasa digunakan untuk membentuk cara pandang masyarakat terhadap praktik keagamaan dan lingkungan. Pilihan kata seperti kata diimbau, partisipasi aktif, ngayah, dan meminimalisasi sampah mengandung nuansa persuasif yang menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari pengabdian religius. Istilah ngayah secara kultural merujuk pada kerja sukarela sebagai bentuk bhakti, sehingga menjaga kebersihan kawasan pura dikonstruksi bukan sekadar kewajiban teknis, melainkan tindakan spiritual yang selaras dengan nilai-nilai Hindu Bali. Struktur kalimat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang digunakan juga cenderung bersifat mengajak, misalnya melalui ungkapan permohonan partisipasi masyarakat, sehingga pembaca diarahkan untuk melihat isu sampah sebagai tanggung jawab bersama tanpa adanya penekanan pada sanksi atau Pada level praktik wacana, teks diproduksi melalui otoritas adat dan keagamaan, terutama pihak pangemong Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur. Sumber berita didominasi oleh aktor-aktor yang memiliki legitimasi budaya dan religius, sehingga mereka memperoleh posisi otoritatif dalam mendefinisikan perilaku yang dianggap benar bagi umat. Wacana yang dibangun juga bersifat intertekstual karena selaras dengan berbagai narasi lain di media Bali yang mendorong pengurangan sampah plastik dalam kegiatan keagamaan. Dengan demikian, media tidak hanya merekam realitas, tetapi turut mereproduksi pesan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian integral dari pelaksanaan ritual Hindu. Konsumsi teks ditujukan kepada umat Hindu, pamedek, masyarakat Bali, dan publik yang lebih luas, sehingga pesan adat dan keagamaan melampaui ruang lokal dan menjadi diskursus publik. Dominasi sumber resmi dalam pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap media cenderung lebih dimiliki oleh aktor yang memiliki legitimasi sosial dan kelembagaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Cottle . dalam Journalism Studies yang menjelaskan bahwa kelompok elit dan institusi formal memiliki peluang lebih besar untuk mendefinisikan suatu isu dibandingkan kelompok masyarakat biasa. Dengan demikian, produksi wacana mengenai pengelolaan sampah upakara dalam Bali Post memperlihatkan adanya relasi kuasa yang bekerja melalui otoritas adat dan keagamaan sebagai sumber utama informasi. Pada level praktik sosial budaya, berita ini merefleksikan konteks Bali yang tengah menghadapi persoalan serius terkait sampah, terutama di kawasan yang ramai dikunjungi saat upacara besar. Momentum Ngusaba Kadasa digunakan sebagai sarana edukasi ekologis, sehingga ritual keagamaan diposisikan sebagai ruang pembentukan kesadaran Dari perspektif agama Hindu, ajakan untuk meminimalisasi sampah dalam pelaksanaan Ngusaba Kadasa tidak hanya memiliki makna teknis dalam pengelolaan lingkungan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai aktualisasi ajaran Tri Hita Karana pada aspek palemahan. Dalam konsep tersebut, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan bagian dari kewajiban moral dan spiritual umat Hindu dalam menciptakan keharmonisan dengan alam semesta (Suarka, 2. Oleh karena itu, praktik menjaga kebersihan kawasan pura dan mengurangi timbulan sampah tidak hanya diposisikan sebagai tindakan ekologis, tetapi juga sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai keagamaan Hindu dalam konteks kehidupan modern. Secara institusional, tampak adanya sinergi antara pengelola pura, desa adat, pemerintah, dan komunitas lingkungan dalam menyusun pedoman menjaga kesucian pura. Hal ini menunjukkan bahwa institusi adat mulai mengintegrasikan nilai-nilai ekologis ke dalam tata kelola ritual. Dari sisi budaya, wacana tersebut dapat dibaca sebagai aktualisasi konsep Tri Hita Karana: hubungan manusia dengan Tuhan diwujudkan melalui persembahyangan, hubungan antarmanusia melalui kerja sama menjaga kawasan pura, dan hubungan dengan lingkungan melalui upaya meminimalkan sampah. Dengan demikian, menjaga kebersihan pura dikonstruksi sebagai bentuk bhakti yang konkret. Konstruksi tersebut menunjukkan bahwa konsep Tri Hita Karana tidak hanya berfungsi sebagai falsafah budaya, tetapi juga menjadi dasar komunikasi lingkungan dalam masyarakat Bali. Hal ini sejalan dengan penelitian Octaviani et al. , . yang menemukan bahwa komunikasi lingkungan berbasis Tri Hita Karana mampu mendorong perilaku prolingkungan melalui penguatan nilai harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sesama manusia, dan alam. Secara ideologis, berita ini mengandung gagasan bahwa agama tidak hanya berkaitan dengan ritual spiritual, tetapi juga dengan tanggung jawab Terdapat pula penekanan pada tanggung jawab kolektif, di mana masalah sampah dipandang sebagai urusan bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pengelola pura. Selain itu, tradisi Hindu Bali direpresentasikan sebagai tradisi yang mampu beradaptasi dengan tantangan modern, khususnya isu lingkungan. Relasi kekuasaan dalam teks tampak melalui peran otoritas adat dan keagamaan yang menggunakan legitimasi religius untuk membentuk perilaku umat. Namun, kekuasaan tersebut dijalankan secara simbolik dan persuasif, bukan koersif. Dengan demikian, melalui perspektif Fairclough dapat disimpulkan bahwa berita ini tidak sekadar memberitakan upacara Ngusaba Kadasa, tetapi juga membangun wacana bahwa kesucian ritual harus diwujudkan melalui praktik ekologis yang bertanggung jawab, sehingga agama, adat, dan pelestarian lingkungan dipadukan dalam satu narasi yang harmonis. Analisis Wacana Kritis Berita Media Online Balipost. Berita dari Balipost. com pada 24 April 2025 yang berjudul Hari Raya. Sampah Upakara Meningkat dianalisis secara kritis menggunakan model tiga dimensi Norman Fairclough. Fairclough memandang bahasa sebagai praktik sosial yang bersifat dialektis dan ideologis, alias memiliki kekuatan dalam membentuk realitas sosial, bukan sekadar alat netral. Gambar 2. Berita Balipost. com Hari Raya. Sampah Upakara Meningkat (Sumber: Balipost. com, 2. Dalam perspektif Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, berita Bali Post berjudul Hari Raya. Sampah Upakara Meningkat tidak hanya menyampaikan fakta mengenai meningkatnya volume sampah organik saat hari raya keagamaan Hindu, tetapi juga membangun wacana mengenai pentingnya transformasi pengelolaan sampah berbasis sumber di tengah kuatnya tradisi keagamaan masyarakat Bali. Berita ini mengangkat fenomena meningkatnya sampah sisa upakara pada perayaan hari raya dan menempatkannya sebagai persoalan sosial yang membutuhkan solusi sistematis melalui optimalisasi fasilitas pengolahan sampah seperti TPS3R. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dengan demikian, media tidak sekadar memberitakan kenaikan volume sampah, tetapi juga mengarahkan pembaca pada gagasan bahwa masalah lingkungan dapat diatasi melalui inovasi teknologi dan pengelolaan yang terorganisir. Pada dimensi teks, pemilihan kosakata seperti meningkat, dioptimalkan, diolah habis, teknologi yang mumpuni, dan media tanam menunjukkan konstruksi bahasa yang berorientasi pada Sampah upakara tidak direpresentasikan sebagai limbah yang mengganggu, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan melalui proses Penggunaan istilah sampah organik lebih dominan dibandingkan istilah limbah, sehingga menciptakan kesan bahwa sisa upakara memiliki nilai guna setelah diproses. Selain itu, narasi mengenai pengolahan sampah menjadi kompos, media tanam, dan maggot memperlihatkan upaya media membangun persepsi bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan melalui pendekatan ekonomi sirkular. Temuan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang dijelaskan oleh Kirchherr et al. , . bahwa limbah tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui proses penggunaan ulang, daur ulang, dan pemanfaatan berkelanjutan. Dengan demikian, representasi sampah upakara dalam Bali Post menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari pendekatan kumpul-angkut-buang menuju pendekatan ekonomi sirkular. Bahasa yang digunakan juga cenderung netral dan edukatif, tanpa menyalahkan praktik keagamaan sebagai penyebab masalah lingkungan. Dari sisi representasi aktor, pemerintah Kota Denpasar melalui Wali Kota dan pengelola TPS3R ditempatkan sebagai aktor utama yang memiliki kapasitas dalam mengatasi persoalan Sementara itu, masyarakat tidak direpresentasikan sebagai pihak yang menyebabkan masalah, melainkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang perlu didukung oleh fasilitas dan teknologi yang memadai. Relasi ini menunjukkan adanya konstruksi wacana kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi peningkatan volume sampah saat hari raya. Pemerintah tampil sebagai fasilitator yang menyediakan infrastruktur pengolahan, sedangkan masyarakat diposisikan sebagai pengguna sekaligus pihak yang diharapkan berpartisipasi dalam sistem tersebut. Pada dimensi praktik wacana, berita diproduksi berdasarkan pernyataan resmi Wali Kota Denpasar serta pengelola TPS3R. Dominasi sumber resmi menunjukkan bahwa realitas yang dibangun dalam teks berasal dari perspektif pemerintah dan pengelola lingkungan. Media berfungsi sebagai saluran untuk menyebarluaskan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah kepada masyarakat. Selain itu, berita ini memiliki keterkaitan dengan berbagai pemberitaan lain yang menyoroti peningkatan volume sampah pasca hari raya keagamaan di Bali. Pola pemberitaan tersebut memperlihatkan adanya reproduksi wacana bahwa peningkatan sampah saat hari raya merupakan fenomena rutin yang harus diantisipasi melalui penguatan sistem pengelolaan sampah, bukan dengan membatasi praktik keagamaan masyarakat. Pada dimensi praktik sosial budaya, berita ini lahir dalam konteks meningkatnya perhatian publik terhadap persoalan sampah di Bali yang selama beberapa tahun terakhir menjadi isu strategis. Secara situasional, peningkatan sampah organik saat hari raya merupakan konsekuensi dari tingginya aktivitas ritual keagamaan yang menggunakan berbagai sarana upakara berbahan alami. Dalam konteks budaya Bali, penggunaan sarana upakara merupakan bagian penting dari kehidupan religius masyarakat sehingga tidak mungkin dipisahkan dari praktik sosial sehari-hari. Oleh karena itu, wacana yang dibangun bukan mengurangi aktivitas ritual, melainkan mengubah cara masyarakat mengelola dampak lingkungan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang ditimbulkannya. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Sitohang & Purnomo . yang menunjukkan bahwa aktivitas budaya dan ritual masyarakat Bali memiliki konsekuensi ekologis yang memerlukan adaptasi berbasis kearifan lokal. Menurut mereka, filosofi Tri Hita Karana memungkinkan pelestarian budaya dan perlindungan lingkungan berjalan secara beriringan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Berita ini juga menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari pola kumpulangkut-buang menuju pola olah dan manfaatkan kembali, yang sejalan dengan kebijakan pengurangan sampah berbasis sumber yang berkembang di Bali. Fenomena peningkatan volume sampah pasca hari raya juga berkaitan dengan dinamika pembangunan pariwisata Bali. Sutrisnawati & Purwahita . menjelaskan bahwa persoalan sampah merupakan salah satu tantangan utama keberlanjutan pariwisata Bali sehingga diperlukan pengelolaan yang terintegrasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri. Dari perspektif agama Hindu, peningkatan volume sampah upakara pada saat hari raya menunjukkan tingginya intensitas pelaksanaan Yadnya sebagai bentuk pengabdian umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam ajaran Hindu. Yadnya merupakan kewajiban suci yang bertujuan menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta (Pudja, 2. Oleh karena itu, persoalan sampah yang muncul dari aktivitas ritual tidak dapat dipahami sebagai dampak negatif praktik keagamaan semata, melainkan sebagai konsekuensi dari aktivitas religius yang memerlukan pengelolaan sesuai prinsip dharma. Narasi mengenai pengolahan sampah menjadi kompos, media tanam, dan pakan maggot dalam pemberitaan Bali Post dapat dimaknai sebagai bentuk aktualisasi nilai Tri Hita Karana, khususnya aspek palemahan, yang menekankan tanggung jawab umat Hindu dalam menjaga keharmonisan hubungan dengan lingkungan alam (Suarka, 2. Dengan demikian, media tidak hanya membangun wacana pengelolaan sampah, tetapi juga merepresentasikan adaptasi praktik keagamaan Hindu terhadap tuntutan keberlanjutan lingkungan. Secara ideologis, berita ini mengandung ideologi ekologisasi budaya dan agama, yaitu upaya mengintegrasikan nilai-nilai pelestarian lingkungan ke dalam praktik keagamaan masyarakat Bali. Sampah sisa upakara tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali. Selain itu, terdapat ideologi modernisasi pengelolaan lingkungan, yang menempatkan teknologi dan fasilitas pengolahan sampah sebagai solusi atas persoalan yang muncul dari aktivitas sosial dan budaya masyarakat. Dalam perspektif Fairclough, relasi kekuasaan tampak melalui kemampuan pemerintah dan institusi pengelola sampah dalam mendefinisikan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Namun, kekuasaan tersebut dijalankan secara persuasif melalui narasi edukasi, inovasi, dan pelayanan publik, bukan melalui pendekatan represif. Dengan demikian, berita ini tidak sekadar melaporkan peningkatan sampah sisa upakara saat hari raya, tetapi juga mereproduksi wacana bahwa praktik keagamaan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Melalui bahasa yang menonjolkan pengelolaan, inovasi, dan pemanfaatan kembali sampah organik, media membangun pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial yang harus menyertai pelaksanaan tradisi keagamaan masyarakat Bali. Analisis Wacana Kritis Berita Media Online Balipost. Berita Pasca Galungan. Volume Sampah di Badung Meningkat 20 Persen yang dimuat tanggal 20 November 2025 merepresentasikan praktik diskursif media dalam mengonstruksi isu lingkungan sebagai konsekuensi rutin dari ritual keagamaan Hindu di Bali. Jika dianalisis menggunakan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough, maka dapat dilihat tiga dimensi utama: teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 3. Berita Balipost. com Pasca Galungan. Volume Sampah di Badung Meningkat 20 Persen (Sumber: Balipost. com, 2. Pada level teks, berita ini menonjolkan representasi kuantitatif berupa kenaikan 15-20 persen volume sampah pasca Galungan serta dominasi jenis sampah upakara seperti janur, bambu, dan ron. Pilihan leksikal seperti lonjakan, meningkat, dan kerja ekstra membangun frame bahwa peristiwa ini bersifat problematik namun terkelola oleh Struktur kalimat cenderung informatif dan administratif, dengan dominasi kutipan pejabat DLHK yang memperkuat kesan objektivitas. Namun, suara masyarakat tidak hadir secara langsung, sehingga wacana lebih didominasi perspektif institusional. Pada level praktik diskursif, berita ini diproduksi dalam kerangka jurnalisme pelaporan rutin yang bersumber dari pernyataan pejabat DLHK Badung. Proses produksi wacana menunjukkan ketergantungan media pada sumber resmi, yang membentuk pola pemberitaan top down. Distribusi teks di media online juga memperkuat logika click based news, di mana isu lingkungan dan ritual keagamaan dikemas sebagai peristiwa periodik yang selalu terjadi setiap tahun, sehingga membentuk normalisasi masalah sampah pasca upacara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa produksi berita masih bergantung pada sumber-sumber resmi yang dianggap memiliki otoritas dalam mendefinisikan realitas. Temuan ini sejalan dengan penelitian Cottle . yang menjelaskan bahwa akses terhadap media cenderung lebih besar dimiliki oleh elite institusional sehingga perspektif masyarakat umum menjadi kurang terlihat dalam Pada level praktik sosial, wacana ini merefleksikan relasi yang lebih luas antara budaya, agama, dan tata kelola lingkungan di Bali. Ritual Galungan sebagai bagian dari praktik keagamaan Hindu secara tidak langsung dikonstruksi sebagai faktor penyumbang peningkatan sampah, meskipun dalam konteks struktural, persoalan utama terletak pada sistem pengelolaan sampah dan infrastruktur daur ulang yang belum optimal. Dengan demikian, terjadi naturalisasi masalah struktural menjadi akibat budaya tahunan. Hal ini juga menunjukkan bagaimana media turut mereproduksi wacana pembangunan berkelanjutan yang masih berorientasi pada pendekatan teknokratis pemerintah, bukan partisipasi masyarakat atau kritik Dalam konteks agama Hindu. Hari Raya Galungan memiliki makna kemenangan dharma atas adharma yang diwujudkan melalui berbagai bentuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH persembahan suci menggunakan sarana upakara. Sarana tersebut pada dasarnya berasal dari unsur alam seperti janur, daun kelapa, bunga, buah-buahan, dan bambu yang memiliki makna simbolis dalam ritual Hindu Bali. Oleh karena itu, peningkatan volume sampah pasca Galungan yang direpresentasikan dalam pemberitaan media online Bali Post sesungguhnya memperlihatkan hubungan erat antara aktivitas keagamaan dan pengelolaan lingkungan. Jika dikaitkan dengan konsep Tri Hita Karana, pengelolaan sisa upakara merupakan bagian dari implementasi nilai palemahan yang mengajarkan kewajiban menjaga keseimbangan alam sebagai manifestasi ciptaan Tuhan (Suarka. Dengan demikian, wacana yang dibangun media tidak hanya menggambarkan fenomena lingkungan pasca hari raya, tetapi juga merefleksikan tantangan aktual dalam mengintegrasikan nilai keagamaan Hindu dengan praktik keberlanjutan ekologis di Bali. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan tidak diposisikan sebagai sumber masalah lingkungan, melainkan sebagai praktik budaya yang memerlukan pengelolaan yang berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sitohang & Purnomo . yang menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal Bali dapat menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas budaya dan konservasi lingkungan. Secara keseluruhan, melalui perspektif Fairclough, berita ini tidak hanya menyampaikan informasi faktual tentang peningkatan volume sampah, tetapi juga membentuk cara pandang bahwa sampah pasca Galungan adalah fenomena rutin yang wajar dan dapat dikelola, sehingga potensi kritik terhadap sistem pengelolaan sampah yang lebih dalam menjadi kurang terlihat dalam teks berita tersebut. Analisis Wacana Kritis Berita Media Online Balipost. Dalam perspektif Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough, berita Bali Post berjudul Volume Sampah Naik 30 Persen Pasca-Galungan yang dimuat tanggal 21 November 2025 membangun wacana bahwa peningkatan volume sampah merupakan konsekuensi yang wajar dari aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat Bali, namun tetap dapat dikelola melalui sistem pengelolaan lingkungan yang efektif. Berita tersebut melaporkan bahwa volume sampah di Kabupaten Tabanan meningkat sekitar 30 persen atau bertambah 30-40 ton setelah Hari Raya Galungan, dengan dominasi sampah berupa sisa upakara dan sampah rumah tangga. Meski demikian, fokus pemberitaan tidak diarahkan pada dampak negatif peningkatan sampah, melainkan pada keberhasilan pemerintah daerah dalam menjaga kelancaran pelayanan pengangkutan dan pengelolaan Dengan demikian, media mengonstruksi realitas bahwa lonjakan sampah adalah fenomena rutin yang dapat dikendalikan melalui tata kelola yang baik. Gambar 4. Berita Balipost. com Volume Sampah Naik 30 Persen Pasca Galungan (Sumber: Balipost. com, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pada dimensi teks, pemilihan kosakata seperti peningkatan signifikan, tetap berjalan baik, terkendali, tidak terjadi penumpukan, dan tertangani dengan baik menunjukkan kecenderungan bahasa yang menonjolkan keberhasilan institusi pemerintah dalam mengelola persoalan lingkungan. Meskipun terdapat peningkatan volume sampah yang cukup besar, berita lebih banyak memberikan ruang pada narasi stabilitas dan efektivitas layanan dibandingkan pada persoalan lingkungan yang Kalimat-kalimat yang digunakan bersifat informatif dan menenangkan sehingga membangun persepsi bahwa situasi masih berada dalam kendali pemerintah. Selain itu, penggunaan istilah sisa upakara menunjukkan pengakuan terhadap konteks budaya Bali, di mana aktivitas keagamaan dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan menjadi salah satu sumber utama peningkatan volume sampah. Dari sisi representasi aktor. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tabanan ditempatkan sebagai sumber utama dan otoritas yang menjelaskan kondisi lapangan. Pemerintah daerah direpresentasikan sebagai institusi yang profesional dan siap menghadapi lonjakan sampah tanpa perlu menambah personel maupun mengubah sistem kerja yang ada. Sebaliknya, masyarakat tidak direpresentasikan sebagai penyebab masalah, melainkan sebagai bagian dari fenomena sosial yang secara alami menghasilkan peningkatan sampah pada momentum hari raya. Pola representasi ini menunjukkan bahwa media lebih menonjolkan kapasitas pemerintah dalam mengelola persoalan dibandingkan membahas tanggung jawab masyarakat dalam mengurangi produksi Dengan kata lain, fokus wacana diarahkan pada keberhasilan penanganan daripada pada upaya pencegahan. Pada dimensi praktik wacana, berita diproduksi berdasarkan pernyataan resmi pejabat Dinas Lingkungan Hidup sebagai sumber tunggal yang dominan. Tidak terdapat suara dari masyarakat, akademisi, aktivis lingkungan, atau kelompok lain yang mungkin memiliki pandangan berbeda mengenai persoalan sampah pasca Galungan. Dominasi sumber resmi tersebut menunjukkan bahwa realitas yang dibangun dalam teks sangat dipengaruhi oleh perspektif pemerintah. Kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa media lebih banyak memberikan ruang kepada aktor yang memiliki kekuasaan institusional dalam mendefinisikan persoalan lingkungan. Temuan ini sesuai dengan penelitian Cottle . yang menjelaskan bahwa akses terhadap media tidak berlangsung secara merata, melainkan lebih didominasi oleh kelompok elite yang memiliki legitimasi dan otoritas. Media berfungsi sebagai saluran yang memperkuat legitimasi institusi pemerintah dalam mengelola persoalan lingkungan. Wacana yang dihasilkan juga memiliki hubungan intertekstual dengan berbagai pemberitaan lain mengenai peningkatan sampah pasca-Galungan dan Kuningan di sejumlah daerah di Bali, yang secara konsisten menampilkan pola serupa: peningkatan volume sampah diposisikan sebagai fenomena tahunan yang dapat diatasi melalui optimalisasi sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah. Pada dimensi praktik sosial budaya, berita ini lahir dalam konteks masyarakat Bali yang memiliki intensitas aktivitas ritual keagamaan yang tinggi. Hari Raya Galungan menghasilkan berbagai jenis sampah organik seperti janur, daun kelapa, bambu, bunga, dan sarana upakara lainnya yang secara rutin meningkatkan volume sampah setiap enam bulan sekali. Dalam konteks ini, peningkatan sampah dipahami sebagai konsekuensi budaya yang melekat pada praktik keagamaan Hindu Bali. Namun, berita tidak mengonstruksi tradisi keagamaan sebagai penyebab masalah lingkungan, melainkan menempatkannya sebagai realitas sosial yang harus diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai. Perspektif ini menunjukkan adanya upaya harmonisasi antara pelestarian tradisi dan pengelolaan lingkungan. Secara ideologis, berita ini mengandung ideologi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH manajerialisme lingkungan, yaitu keyakinan bahwa persoalan lingkungan dapat diselesaikan melalui pengelolaan institusional yang efektif, optimalisasi sumber daya, dan koordinasi birokrasi yang baik. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Widanti & Putra . yang menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Bali memerlukan pendekatan administrasi publik yang menekankan koordinasi antarlembaga, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Selain itu, terdapat ideologi normalisasi krisis, di mana peningkatan volume sampah pasca-hari raya diposisikan sebagai sesuatu yang wajar dan berulang sehingga fokus diarahkan pada kemampuan pemerintah dalam mengelolanya, bukan pada perubahan perilaku masyarakat atau reformasi sistem produksi sampah. Dalam kerangka Fairclough, relasi kekuasaan terlihat melalui dominasi pemerintah sebagai aktor yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan masalah dan solusi. Melalui media, pemerintah memperoleh ruang untuk membangun citra sebagai institusi yang mampu menjaga stabilitas lingkungan meskipun menghadapi lonjakan sampah yang signifikan. Penekanan terhadap kemampuan institusi dalam mengelola sampah memperlihatkan adanya keyakinan bahwa keberlanjutan dapat dicapai melalui tata kelola yang efektif. Hal ini sejalan dengan penelitian Sitiari et al. , . yang menunjukkan bahwa nilai Tri Hita Karana dapat menjadi landasan dalam pengembangan praktik keberlanjutan modern melalui integrasi antara budaya lokal dan pengelolaan lingkungan. Dengan demikian, berita ini tidak sekadar melaporkan kenaikan volume sampah pascaGalungan, tetapi juga mereproduksi wacana bahwa persoalan sampah merupakan fenomena yang dapat dikendalikan melalui tata kelola pemerintahan yang efektif. Media membangun citra pemerintah sebagai aktor utama dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menempatkan tradisi keagamaan sebagai bagian dari identitas budaya yang harus tetap berlangsung tanpa dipertentangkan dengan agenda pelestarian lingkungan. Dari sudut pandang teologi Hindu, peningkatan volume sampah pasca Galungan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan upakara sebagai bagian penting dalam pelaksanaan Yadnya. Upakara memiliki fungsi simbolik dan spiritual sebagai media persembahan yang menghubungkan umat dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Titib, 2. Oleh karena itu, pengelolaan sisa upakara setelah ritual berlangsung merupakan bagian dari tanggung jawab etis umat Hindu dalam menjaga kesucian lingkungan. Narasi pemberitaan yang menekankan kemampuan pemerintah mengelola sampah dapat dimaknai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi keagamaan dan tanggung jawab ekologis. Dalam kerangka Tri Hita Karana, upaya tersebut mencerminkan aktualisasi hubungan harmonis manusia dengan alam . yang menjadi salah satu fondasi kehidupan religius masyarakat Bali (Suarka, 2. Dengan demikian, pemberitaan ini tidak hanya merepresentasikan keberhasilan tata kelola lingkungan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Hindu diartikulasikan dalam menghadapi persoalan ekologis modern. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dominasi sumber resmi dalam pemberitaan mencerminkan praktik produksi wacana yang masih berorientasi pada legitimasi institusional. Dalam perspektif kekuasaan dan pengetahuan, pihak yang memiliki otoritas politik dan birokratis cenderung memperoleh posisi dominan dalam mendefinisikan masalah sosial maupun lingkungan (Foucault, 1. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga sebagai arena pertarungan makna yang menentukan siapa yang memiliki legitimasi untuk berbicara dan menentukan solusi atas suatu persoalan publik (Hall, 1. Oleh karena itu, representasi isu sampah upakara dalam media perlu dipahami sebagai hasil negosiasi antara kepentingan lingkungan, budaya, agama, dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kekuasaan. Temuan tersebut sejalan dengan Hansen . yang menjelaskan bahwa media memiliki peran penting dalam membangun konstruksi sosial mengenai persoalan lingkungan melalui proses seleksi isu, representasi aktor, dan pembingkaian tertentu. Dengan demikian, pemberitaan lingkungan tidak bersifat netral, tetapi merupakan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh konteks budaya dan kepentingan institusional. Representasi Nilai-Nilai Hindu dalam Wacana Sampah Upakara Berdasarkan keempat berita yang dianalisis, ditemukan bahwa media online Bali Post secara konsisten merepresentasikan sampah upakara bukan sebagai konsekuensi negatif dari praktik keagamaan Hindu, melainkan sebagai persoalan ekologis yang dapat diselesaikan melalui internalisasi nilai-nilai keagamaan Hindu. Representasi tersebut terlihat melalui penekanan pada tanggung jawab kolektif, kesadaran menjaga kebersihan kawasan suci, pengurangan sampah dalam aktivitas ritual, serta optimalisasi pengelolaan sisa upakara. Dalam perspektif agama Hindu, konstruksi wacana tersebut menunjukkan aktualisasi nilai Yadnya dan Tri Hita Karana dalam konteks lingkungan hidup. Nilai Yadnya tercermin melalui upaya menjaga kesucian sarana persembahan dan pelaksanaan ritual secara bertanggung jawab, sedangkan nilai Tri Hita Karana tampak pada penguatan aspek palemahan yang menekankan keharmonisan manusia dengan alam (Pudja, 2004. Suarka, 2. Oleh karena itu, media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi lingkungan, tetapi juga sebagai ruang reproduksi nilai-nilai agama Hindu yang relevan dengan tantangan ekologis kontemporer. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sadmego & Nasucha . yang menunjukkan bahwa media online cenderung membingkai isu agama dan lingkungan secara harmonis sehingga praktik keagamaan tidak direpresentasikan sebagai sumber masalah, melainkan sebagai bagian dari solusi terhadap persoalan ekologis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa agama Hindu direpresentasikan sebagai sistem nilai yang adaptif terhadap isu keberlanjutan lingkungan. Proses ini dapat dipahami sebagai bentuk ekologisasi agama, yaitu integrasi nilai-nilai spiritual dengan wacana pelestarian Temuan ini sejalan dengan penelitian Sugiantari & Keristina . yang menunjukkan bahwa filosofi Tri Hita Karana memiliki kesesuaian dengan prinsip keberlanjutan modern melalui penekanan pada hubungan harmonis antara manusia, masyarakat, dan lingkungan. Selain itu, penelitian Octaviani et al. , . menjelaskan bahwa komunikasi lingkungan berbasis Tri Hita Karana mampu mendorong terbentuknya perilaku pro-lingkungan melalui internalisasi nilai budaya dan agama. Dengan demikian, representasi sampah upakara dalam Bali Post tidak hanya membangun wacana mengenai pengelolaan lingkungan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilainilai Hindu direartikulasi dalam konteks pembangunan berkelanjutan kontemporer. Dari perspektif komunikasi lingkungan, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pesan-pesan mengenai pengurangan sampah dan pelestarian lingkungan dikonstruksi melalui pendekatan persuasif yang mengedepankan nilai budaya dan agama. Hal ini sejalan dengan Hadiprashada & Budiman . yang menjelaskan bahwa komunikasi lingkungan berbasis budaya memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Kesimpulan Berdasarkan analisis wacana kritis model Norman Fairclough terhadap pemberitaan sampah upakara Hindu pada media online Bali Post tahun 2025, penelitian ini menunjukkan bahwa media tidak sekadar merefleksikan realitas mengenai peningkatan volume sampah pasca pelaksanaan ritual Hindu, tetapi secara aktif https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mengonstruksi wacana yang menempatkan persoalan tersebut sebagai isu ekologis yang dapat diselesaikan melalui harmonisasi antara nilai-nilai keagamaan Hindu dan pengelolaan lingkungan. Pada dimensi teks, pemberitaan didominasi oleh pilihan bahasa yang persuasif, edukatif, dan berorientasi pada solusi sehingga praktik keagamaan direpresentasikan sejalan dengan tanggung jawab ekologis. Pada dimensi praktik diskursif, produksi berita lebih banyak bertumpu pada sumber-sumber resmi seperti pemerintah, otoritas adat, dan lembaga pengelola lingkungan, yang menunjukkan adanya relasi kuasa dan dominasi perspektif institusional dalam pembentukan makna. Sementara itu, pada dimensi praktik sosial budaya, pemberitaan mereproduksi ideologi ekologisasi agama dengan menampilkan nilai-nilai Yadnya dan Tri Hita Karana sebagai landasan etis dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi keagamaan dan keberlanjutan Dengan demikian. Bali Post berperan sebagai arena produksi makna yang merepresentasikan agama Hindu bukan sebagai penyebab persoalan sampah, melainkan sebagai sumber nilai yang adaptif terhadap tantangan ekologis kontemporer serta mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di Bali. Daftar Pustaka