Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo, 2. 2020, 43-51 http://ojs. id/ojs/index. php/JBKB ISSN 2685-0753 . ISSN 2685-2039 . PELAKSANAAN KONSELING TERHADAP PECANDU NARKOBA (STUDI KASUS DI YAYASAN SEKATA KOTA TARAKAN) Riska Putri Septiyani. Siti Rahmi Universitas Borneo Tarakan Email : riskaputriseptiyani@gmail. Abstrak Pecandu narkoba di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Mulai dari aparatur negara, ibu rumah tangga hingga pelajar. Pecandu narkoba yang ingin pulih harus mengikuti program rehabilitasi. Dalam proses pemulihan konselor akan menggali permasalahan dan penyebab penyalahgunaan dari para pecandu narkoba. Dalam proses penggalian masalah tersebut konselor akan menggunakan konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan konseling terhadap pecandu narkoba. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah dua orang konselor yang berkerja di Yayasan Sekata Kota Tarakan. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. dan verification . onclusion drawin. Hasil penelitian bahwa proses pelaksanaan konseling terhadap pecandu narkoba di Yayasan Sekata Kota Tarakan ada dua yaitu, konseling individu dengan teknik motivational interviewing (MI) dan cognitive behavior therapy (CBT) dan konseling kelompok. Implikasi dari penelitian ini adalah diharapkan kedepannya peneliti selanjutnya dapat lebih mendalam membahas mengenai teknik konseling dalam penyelesaian terhadap pecandu narkoba. Kata Kunci : Konseling. Pecandu Narkoba PENDAHULUAN Penyalahgunaan narkoba di Indonesia dari tahun ke tahun semakin Penggunanya berasal dari semua kalangan, seperti aparatur negara, ibu rumah tangga (IRT), mahasiswa bahkan pelajar. Dari data yang didapatkan penggunaan narkoba yang paling banyak berusia 15-24 tahun . alam Setiyawati,2015:. Pengguna narkoba yang ingin berhenti menjalani program rehabilitasi. Tempat rehabilitasi narkoba yang berada di Kota Tarakan bernama Yayasan Sekata Kota Tarakan. Yayasan ini berjalan sejak tahun 2017. Hasil observasi yang peneliti lakukan, bahwa di Yayasan Sekata Kota Tarakan terdapat dua program rehabilitasi yaitu rawat inap dan rawat Dalam program rehabilitasi, mereka menggunakan konseling sebagai salah satu proses bantuan pemulihan bagi pecandu narkoba. Proses konseling di Yayasan Sekata Kota Tarakan dilaksanakan oleh konselor adiksi. Konseling adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seseorang yang professional (Konselo. (Konsel. melalui wawancara untuk mengubah tingkah laku dan cara tentang dirinya dan lingkungannya sehingga dapat terselesaikannya permasalahan individu. Menurut Prayitno . Konseling Individu adalah layanan konseling yang diselengarakan oleh seorang konselor terhadap klien untuk pengentasan masalah pribadi klien. Dalam dilaksanakan interaksi langsung antara klien dengan konselor, membahas berbagai hal mengenai permasalahan yang dialami oleh klien. Menurut Martono . , konseling individu adalah konseling yang dilakukan terhadap individu, sebagai suatu hubungan bersifat bantuan antara konselor dan Bantuan tersebut tidak bersifat material, tetapi dukungan psikologis dan sosial yang bermakna bagi Dari pengertian diatas, dapat individu adalah layanan yang dilakukan oleh seorang konselor mengentaskan permasalahan klien. Menurut Prayitno . Konseling kelompok adalah layanan yang diseleggarakan oleh konselor dengan sejumlah peserta yang membentuk kelompok dan konselor Menurut Martono . , konseling kelompok adalah kegiatan layanan konseling terhadap dua orang atau lebih, melalui pendekatan Kelompok terdiri dari anggota yang dengan masalah yang lebih kurang sama. Menurut Juntika Nurihsan . alam Kurnanto,2013:. kelompok adalah suatu bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Dari pengertian di atas, dapat di kelompok adalah layanan yang diselenggarakan oleh konselor dalam bentuk kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan dan permasalahan yang sama. Tujuan dari konselong kelompok Kepercayaan diri ini dapat ditinjau dalam kepercayaan diri lahir dan batin yang diimplemenasikan dengan cara mencintai diri dengan gaya hidup dan perilaku untuk memelihara, sadar akan potensi dan kekurangan yang dimiliki, memiliki tujuan hidup yang jelas, berpikir positif, dapat berkomunikasi baik dengan orang lain, memiliki ketegasan, memiliki penampilan diri yang baik dan memiliki pengendalian Konselor adiksi orang yang melaksanakan kegiatan ketergantungan secara fisik dan mental terhadap suatu zat dan mengkhususkan diri dalam membantu narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya (Badan Narkotika Nasional,2018:. Untuk menjadi seorang konselor adiksi harus mengikuti pelatihan adiksi dan memiliki sertifikat. Peneliti juga mendapatkan sebuah informasi bahwa konselor adiksi mempunyai dua golongan konselor, yaitu konselor adiksi yang mempunyai latar belakang penggunaan narkoba dan konselor adiksi yang tidak mempunyai latar seperti: dokter, perawat, pekerja sosial serta psikolog. Mereka dituntut harus memiliki interaksi yang baik kepada pecandu Selain konseling terhadap pecandu narkoba tidaklah mudah. Konselor adiksi itu konselor harus terhadap terhadap pecandu narkoba, memahami gesture tubuh pecandu dari pecandu, memberikan respon dari pernyataan pecandu dan memiliki kepedulian yang tinggi membantu pecandu untuk mencapai tujuan konseling. Permasalahan yang dihadapi oleh konselor adiksi adalah susahnya membangun kepercayaan terhadap Pecandu harus mendapatkan kenyaman bersama konselor adiksi sehingga ia bisa mempercayai dan membuka diri sepenuhnya terhadap konselor adiksi. Selain itu konselor adiksi juga mendapatkan beberapa pecandu yang memberontak. Hal ini terjadi karena pecandu yang menjalankan rehabilitasi merasa dirinya terkekang dan tidak bebas dengan segala peraturan yang berlaku. Pelaksanaan konseling adiksi bukan hanya diperuntukkan untuk pecandu saja tetapi keluarga dan kerabat atau teman dekat harus melakukan konseling. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar keluarga atau teman terdekat pecandu dapat menerima pecandu seperti biasa dan membantu pecandu dalam masa mempunyai semangat untuk pulih dari Selain menangani pecandu narkoba, konselor adiksi di Yayasan Sekata Kota Tarakan juga ketergantungan rokok dan minuman keras . Beradasarkan uraian tersebut, maka peneliti mengetahui lebih lanjut mengenai pelaksanaan konseling adiksi yang dilakukan di Yayasan Sekata Kota Tarakan. Peneliti mengangkat judul penelitian AuPelaksanaan Konseling Terhadap Pecandu Narkoba (Studi Kasus Di Yayasan Sekata Kota Taraka. Ay. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Menurut Prastowo . jenis penelitian kualitatif adalah produser penelitian yang sistematis yang digunakan untuk mengkaji atau meneliti suatu objek pada latar alamiah tanpa adanya manipulasi di dalamnya dan tanpa adanya pengujian hipotesis, dengan metode-metode yang alamiah ketika hasil penelitian yang diharapkan bukanlah generalisasi berdasarkan ukuran-ukuran kuantitas, namun makna . egi kualita. dari fenomena yang diamati. Desain dari penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dimana data yang didapatkan akan di deskripsikan atau digambarkan . alam Sugiyono,2015:. Penentuan subjek penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono . purposive sampling adalah teknik penentuan sample dengan pertimbangan tertentu. Dari pengertian tersebut adapun pertimbangan yang peneliti gunakan untuk menentukan subjek penelitian adalah konselor adiksi yang memiliki mengenai pelaksanaan konseling di Yayasan Sekata Kota Tarakan. Berdasarkan kriteria tersebut, maka subjek penelitian dari penelitian ini adalah dua orang konselor yang bekerja di Yayasan Sekata Kota Tarakan. Teknik analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Reduksi Data (Data Reductio. Reduksi data merupakan suatu perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data AukasarAy yang muncul dari catatancatatan tertulis di lapangan . alam Prastowo,2016:. Setelah melakukan penelitian dan semua data penelitian terkumpul yang berupa hasil wawancara, observasi dan dokumentasi, peneliti akan melakukan reduksi data dengan menggolongkan diperlukan dan mengorganisasikan kesimpulan dan diverifikasi. Penyajian Data (Data Displa. Penyajian memahami apa yang terjadi. penelitian kualitatif penyajian data bisa dalam bentuk urain singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya . alam Sugiyono,2015:. Dalam penelitian ini data akan dideskripsikan dengan menggambarkan keseluruhan terhadap pecandu narkoba dari proses reduksi data. Verification (Conclusion Drawin. Verifikasi kesimpulan atau pemberian makna pada data yang telah disederhanakan dan disajikan dengan mengacu pada rumusan masalah dan tujuan dari penelitian yang kemudian diperiksa kebenarannya sesuai dengan datadata yang didapatkan dilapangan. Menurut Sugiyono kualitatif diharapkan berupa temuan baru yang sebelumnya belum pernah Temua dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang- remang sehingga setelah diteliti menjadi jelas HASIL DAN PEMBAHASAN Wawancara dilakukan dengan dua orang konselor adiksi dari Yayasan Sekata Kota Tarakan dengan Narasumber diwawancarai berinisial M dan EM. Wawancara dengan konselor M dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus Sedangkan wawancara dengan konselor EM dilakukan pada tanggal 10 Agustus 2019. Hasil penelitian yang didapatkan melalui observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti dalam rentang waktu dua bulan terhitung dari bulan Agustus hingga September. Adapun hasil observasi mengenai pelaksanaan konseling di Yayasan Sekata Kota Tarakan, sebagai berikut : Konseling Individu Berdasarkan hasil observasi didapatkan bahwa proses pelaksanaan konseling di Yayasan Sekata Kota Tarakan melalu tiga tahap yaitu : Tahap Awal Konseling Pada tahap awal, konselor akan menyambut baik kedatangan klien, menanyakan kabar klien, menjelaskan tujuan konseling kepada klien, dan membangun building trust klien, membuat kontrak konseling bersamasama, dan menanyakan kesiapan klien Keterampilan digunakan dalam tahap ini adalah attending, empati, refleksi, eksplorasi. Tahap Pertengahan (Tahap Kerj. Pada tahap pertengahan konselor akan mengeksplorasi masalah klien menafsirkan permasalahan klien dapat konseling sesuai dengan kontrak yang telah dibuat bersama pada tahap awal. Keterampilan digunakan oleh konselor pada tahap ini adalah open dan closed question, mendengarkan, diam, facilitating, dan pemberian informasi. Konselor tidak dibolehkan untuk menggunakan keterampilan memberikan nasihat. Karena mengganggu gugat keputusan yang akan diambil oleh klien. Hal ini sesuai dengan kode etik konselor Serta klien akan tidak berkembang dalam penggambilan keputusan jika konselor memberikan nasihat mengenai keputusan yang akan diambil. Tahap Akhir Konseling (Tahap Tindaka. Pada tahap ini didapatkan bahwa konselor akan menyimpulkan hasil konseling bersama klien, lalu membantu klien dalam menggambil keputusan, membantu klien membuat rencana untuk kedepannya, menilai perubahan diri klien setelah mengikuti konseling dan mengakhiri konseling. Konseling Kelompok Tahap Pembentukan Pada tahap ini didapatkan bahwa langkah awal yang dilakukan konselor adalah membentuk kelompok, setelah itu konselor dan anggota kelompok akan memperkenalkan diri, memilih ketua atau condact kelompok, menjelaskan tahap-tahap pelaksanaan, asas-asas konseling kelompok serta menentukan waktu dan tempat pelaksanaan konseling kelompok. Tahap Peralihan Pada tahap peralihan di dapatkan bahwa, konselor akan menanyakan kesiapan para anggota kelompok Setelah itu anggota dan akan bersama-sama menentukan topik pembahasan. Topik pembahasan biasanya diambil dari permasalahan para anggota atau juga bisa dari kebutuhan para anggota Tahap Kegiatan Pada tahap kegiatan didapatkan bahwa para anggota kelompok akan berdiskusi dan membahas mengenai topik yang telah mereka pilih, membangun dinamika kelompok dan konselor akan mengkoreksi hal-hal yang salah atau keliru dalam diskusi. Tahap Penyimpulan Pada tahap ini didapatkan bahwa konselor dan anggota kelompok akan menyimpulkan hasil pembahasan penilaian, dan menanyakan perasaan anggota kelompok setelah mengikuti pelaksanaan konseling. Tahap Penutup Pada tahap penutup konselor akan mengakhiri pelaksanaan konseling. Setelah mengakhiri pelaksanaan konseling, konselor dan anggota kelompok akan membahas mengenai kegiatan selanjutnya. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi akan dianalisa oleh peneliti. Setelah menghubungkan hasil dari data yang diperoleh dengan permasalahan pokok dalam penenlitian ini. Proses konseling akan digambarkan dalam uraian dibawah ini. Pelaksanaan Konseling Individu Dalam pelaksanaan konseling individual didapatkan data bahwa pada tahap awal konselor melakukan anatara lain: . menyapa klien, . memperkenalkan diri kepada klien, . membangun hubungan building trust antara konselor dengan klien sehingga klien dapat terbuka, . menggali informasi yang berkaitan dengan narkoba dan permasalahan klien melalui data hasil Assessment (Addiction Severity Index (ASI). Drug Abuse Screening Test (DAST). University Of Rhode Change Assessment Scale (URICA), dan WHOQOL) yang dilakukan saat pertama kali ingin melakukan rehabilitasi, . konselor menjelaskan tujuan konseling kepada klien, . membuat kontrak konseling bersama . menanyakan kesiapan klien dalam mengikuti konseling individual. Pada tahap pertengahan konselor konseling sesuai dengan kontrak yang dibuat, mengali dan mengkaji lebih jauh mengenai permasalahan klien. Selanjutnya konselor akan membantu klien dalam mengambil keputusan mengenai keputusan yang akan Teknik yang biasa digunakan konselor adiksi dalam konseling individual ini adalah Motivational Interviewing (MI). Cognitive Behavior Therapy (CBT). Pada tahap pengakhiran konselor dan konseli akan menyimpulkan hasil dilaksanakan, konselor akan lebih meyakinkan klien kembali mengenai keputusan yang telah diambil dengan pertimbanganpertimbangan baik dan buruknya konseling dan selanjutnya konselor akan melakukan observasi kepada Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang konselor adiksi antara lain: . memiliki empati, . dapat membaca situasi dan kondisi klien, . membuat pertanyaan terbuka, . memiliki pengetahuan yang baik mengenai teknik-teknik konseling. mampu membangun kepercayaan Sikap yang dilakukan oleh konselor adiksi kepada klien yaitu, menciptakan suasana yang nyaman, konselor bersikap ramah, konselor memiliki empati dan bersikap sopan, konselor dapat berkomunikasi dengan baik, mendengarkan dengan baik saat klien berbicara. Pada pelaksanaan konseling individual adiksi ini sesuai dengan tahap pelaksanaan konseling individu untuk pecandu narkoba menurut Setiyawati . di mana : Konselor adiksi menciptakan kepercayaan klien terhadap konselor, sehingga klien menjadi jujur dan Konselor membantu klien agar Kemudian mencari bersama konselor. Konselor membantu klien memahami dan menaati rencana tau program yang telah disusun. Kendala yang sering dihadapi oleh pelaksanaan konseling individual Klien yang memiliki kepribadian yang tertutup. Perbedaan budaya antara Klien dengan Konselor. Nada bicara konselor. Pemahaman klien. Pelaksanaan Konseling Kelompok Dalam pelaksanaan konseling kelompok adiksi didapatkan bahwa konselor dalam tahap pembentukan, konselor dapat menggabungkan klien yang ia tangani atau dengan melihat permasalahan mental dan emosi klien. Setelah anggota kelompok terbentuk maka konselor akan memperkenalkan dirinya dan anggota menjelaskan mengenai tujuan dan tahap-tahap dari konseling kelompok, asas-asas konseling kelompok, menentukan waktu dan tempat pelaksanaan Setelah penentuan waktu dan tempat untuk pelaksanaan konseling selanjutnya konselor dan anggota kelompok akan menentukan topik apa yang akan dibahas. Topik yang permasalahan utama dalam kelompok atau berdasarkan hasil assessment. Namun semua itu dilihat dari apa yang dibutuhkan oleh anggota kelompok. Dinamika kelompok akan terbangun jika konselor dan anggota kelompok saling mendengarkan dengan baik dan memberikan feedback yang baik. Setelah konselor akan mengkoreksi atau memberitahukan hal- hal yang keliru selama diskusi. Setelah selesai konselor bersama anggota kelompok akan menyimpulkan hasil dari diskusi pelaksanaan konseling kelompok. Setelah itu konselor mengakhiri konseling dan membahas mengenai kegiatan selanjutnya bersama anggota kelompok serta melakukan penilaian. Pelaksanaan konseling kelompok di Yayasan Sekata Kota Tarakan Pada tahap kegiatan kelompok, konselor dan anggota menentukan topik yang akan dibahas dan memberikan masukan atau tanggapan dan alternative pemecahan masalah serta mengkoreksi hal-hal yang salah. Tahap penutup Pada tahap ini konselor akan meringkas hasil dari diskusi, meminta anggota mengemukakan pendapatnya setelah mengikuti konseling kelompok dan menetukan kesepakatan untuk pertemuan selanjutnya. Kendala yang dihadapi konselor kelompok adalah, sebagai berikut : Kurangnya feedback atau respon dari anggota kelompok. Anggota dengan kepribadian Suasana hati konselor dan anggota kelompok. Ruangan yang terbatas untuk melakukan konseling. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV dapat ditarik konseling yang dilaksanakan di Yayasan Sekata Kota Tarakan adalah sesuai dengan pelaksanaan konseling untuk pecandu menurut Martono . sebagai berikut: Tahap Pembentukan Pada tahap ini konselor akan pelaksanaan serta tujuan dari konseling kelompok ini dilaksanakan. Tahap Kegiatan Kelompok konseling individual dan konseling Dimana tahap-tahapnya yaitu. Konseling Individu terdiri dari Tahap Awal Konseling. Tahap Pertengahan (Tahap Kerj. Tahap Akhir Konseling sedangkan Konseling Kelompok terdiri dari Tahap Pembentukan. Tahap Peraihan. Tahap Kegiatan. Tahap Penyimpulan dan Tahap Penutupan. Dalam pelaksanaannya teknik yang biasanya digunakan oleh konselor di Yayasan Sekata Kota Tarakan adalah teknik Motivational Interviewing (MI) dan Cognitive Behavior Therapy (CBT). REFERENSI