JASATHP: Jurnal Sains dan Teknologi Hasil Pertanian https://jurnal. id/jasathp Volume 3 Nomor 1 Mei 2023. Hal 1-11 ANALISIS AKTOR YANG BERPERAN DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI GULA MERAH LONTAR DI KABUPATEN JENEPONTO Syahmidarni Al Islamiyah1. Margaretha Hanna Tiffany2. Indrastuti3. Nur Fitriyanti Bulotio3 1,2,3 Prodi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sulawesi Barat Prodi Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Gorontalo Jl. Prof. Dr. Baharuddin Lopa. H Talumung Kab. Majene Provinsi Sulawesi Barat Jl. Muchlis Rahim Desa Panggulo Barat Kec. Botupingge Kab. Bone Bolango Provinsi Gorontalo *Coresponding author : syahmidarni. alislamiyah@unsulbar. ABSTRAK Industri gula merah lontar di Kabupaten Jeneponto adalah industri kecil milik masyarakat yang dikelola secara mandiri. Industri ini memiliki kekuatan utama dalam ketersediaan dan kemudahan bahan baku. Berdasarkan evaluasi Internal-Eksternal (IE), posisi industri ini berada pada titik koordinat positif yaitu kuadran I yang menandakan situasi industri pengolahan gula merah lontar sangat menguntungkan untuk digunakan dalam pengembangan ke depan. Upaya pengembangan industri ini perlu kontribusi dari berbagai aktor. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis aktor yang berperan dalam pengembangan industri gula merah di Kabupaten Jeneponto berdasarkan kriteria penilaian ketersediaan bahan baku, keterampilan pengolah/Sumber Daya Manusia, aspek pemasaran, kemampuan teknologi pengolahan, dan kebijakan pemerintah daerah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data melalui studi pustaka dari buku referensi dan penelitian yang mendukung, wawancara, dan pengisian kusioner. Analisis data menggunakan Analisis Hierarki Proses (AHP). Hasil penelitian menunjukkan aktor yang berperan dalam pengembangan industri gula merah di Jeneponto berdasarkan kriteria penilaian dan derajat kepentinngannya adalah pengolah . , pemerintah . , lembaga mitra . , dan lembaga keuangan . Kesimpulan penelitian ini yaitu aktor utama dengan derajat kepentingan tertinggi adalah pengolah . Kata kunci : Analisis, aktor, pengembangan, industri gula merah lontar. Jeneponto Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 1 Artikel dengan akses terbuka di bawah lisensi CC BY-4. ABSTRACT The palm sugar industry in Jeneponto Regency is a small community-owned industry that is managed independently. This industry has major strengths in the availability and ease of raw materials. Based on the Internal-External (IE) evaluation, the position of this industry is at a positive coordinate point, namely quadrant I, which indicates that the situation of the palm sugar processing industry is very favorable for use in future development. Efforts to develop this industry need contributions from various The purpose of this study is to analyze actors who play a role in the development of the brown sugar industry in Jeneponto Regency based on assessment criteria for raw material availability, processing skills/human resources, marketing aspects, processing technology capabilities, and local government policies. The methods used are quantitative and qualitative descriptive methods. Data collection is through literature study, interviews, and filling out questionnaires. Data analysis using Process Hierarchy Analysis (AHP). The results showed that the actors who played a role in the development of the brown sugar industry in Jeneponto based on degrees of interest are processors . , partner institutions . , and financial institutions . This study concludes that the main actor is the processor . Keywords: Analysis, actor, development. The palm sugar industry. Jeneponto. PENDAHULUAN Industri gula merah lontar yang ada di Kabupaten Jeneponto adalah industri kecil milik masyarakat yang dikelola secara mandiri. Pengelolaan dan pengolahannya dilakukan secara sederhana bermodalkan pengetahuan dan keahlian seadanya yang diwariskan secara turun temurun. Oleh karena itu, ada banyak kendala yang dihadapi oleh industri ini. Menurut Al Islamiyah . , kelemahan pada industri gula merah lontar ini ada sebelas faktor dimana faktor kelemahan yang paling utama berdasarkan derajat kepentingannya adalah teknologi pengolahan yang masih sederhana. Selain itu, kelemahannya yang lain seperti modal terbatas, penanganan bahan baku dan produk yang belum baik, dan kualitas gula merah yang dihasilkan masih rendah. Usaha ini dirintis oleh masyarakat yang berada di area perkebunan lontar yang tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Bangkala. Tamalatea dan Binamu. Menurut Al Islamiyah . , ketiga kecamatan tersebut memenuhi kriteria pengembangan industri. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dari ketiga kecamatan tersebut yang paling potensial sebagai pusat pengembangan adalah Kecamatan Binamu. Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 2 Industri ini memiliki kekuatan utama dalam hal ketersediaan dan kemudahan bahan baku. Industri gula merah di Kabupaten Jeneponto berdasarkan matriks evaluasi Internal-Eksternal (IE), posisi industri berada pada titik koordinat positif yaitu pada kuadran I yang menandakan bahwa situasi industri pengolahan gula merah lontar sangat menguntungkan untuk digunakan dalam pengembangan ke depan . sehingga berpotensi untuk dikembangkan (Al Islamiyah, 2. Upaya pengembangan industri ini perlu kontribusi yang bersinergi dari berbagai aktor. Aktor dapat diartikan sebagai individu tunggal atau sebagai kelompok yang berfungsi sebagai aktor korporat (Ostrom, 2011 dalam Sukwika, 2. Komponen aktor berperan sangat penting yang akan menggerakkan roda kehidupan industri untuk mencapai target atau tujuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis dan menentukan aktor yang akan berperan dalam pengembangan industri gula merah lontar di Kabupaten Jeneponto. Sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh Al Islamiyah . yang menyatakan dalam pemilihan aktor, kriteria yang diperlukan dalam pemilihan aktor berdasarkan urutan bobot . kepentingan kriteria terhadap pengembangan industri gula merah lontar di Kabupaten Jeneponto adalah ketersediaan bahan baku . , keterampilan pengolah/SDM . , aspek pemasaran . , kemampuan teknologi pengolahan . dan kebijakan pemerintah daerah . Untuk itu penelitian ini diharapkan dapat menganalisis dan menentukan aktor yang berperan berdasarkan derajat kepentingan kriteria tersebut. BAHAN DAN METODE Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri dari 2 jenis yaitu data kualitatif yang diperoleh berdasarkan keterangan/informasi sesuai masalah dan data kuantitatif yang dikumpulkan berupa angka-angka. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka studi pustaka dari buku referensi dan penelitian yang mendukung, wawancara, dan pengisian kusioner. Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 3 Prosedur Penelitian Penelitian terdiri dari 2 tahap yaitu : Pengumpulan data Tahap pengumpulan data dimulai dengan studi pustaka, survey ke beberapa pihak terkait, wawancara, penyebaran dan pengisian kusioner. Pengambilan panelis dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu dengan memilih responden dengan sengaja berkaitan obyek yang diteliti. Panelis dipilih karena dianggap memiliki pengetahuan, kemampuan dan pengalaman dalam bidang pengembangan industri gula merah lontar. Panelis terdiri dari pengolah gula merah lontar yang memiliki pengalaman 5-10 tahun, pemerintah . inas terkai. yaitu kepala bagian Perindustrian dan Perdagangan dan kepala bagian Perkebunan Kabupaten Jeneponto, peneliti dari Balai Perindustrian dan Hasil Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan dan akademisi. Instrument yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kusioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan dan disebarkan ke panelis. Analisis Data Data yang diperoleh pada tahap 1 kemudian dianalisis dengan menggunakan Analisis Hierarki Proses (AHP) (Saaty. , 1. Langkah-langkah penggunaan AHP sebagai berikut : Perumusan tujuan, kriteria dan alternatif yang merupakan unsur permasalahan yang akan dikaji Penyusunan struktur hierarki Penentuan prioritas bagi setiap kriteria dan alternatif dengan skala bantuan nilai yang memadai, nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh kriteria dan alternatif. Nilai dan defenisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut : Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 4 Tabel 1. Skala pendapat (Nilai dan defenisiny. Nilai Defenisi Sama pentingnya Sedikit lebih penting Jelas lebih penting Sangat jelas lebih penting Mutlak lebih penting 2,4,6,8 Apabila ragu antara dua nilai yang berdekatan 1/. Kebalikan nilai tingkat kepentingan dari skala 1-9 Pembobotan Kriteria Sumber : Marimin, 2004. Perhitungan Bobot Kriteria Bobot dari masing-masing kriteria dianalisis dengan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) dengan langkah Ae langkah sebagai berikut: Dilakukan perhitungan matrik awal. Perhitungan Eigen Vektor. Perhitungan Nilai Eigen Maksimum. Kontrol terhadap Indek Consistensi. Pembobotan Kriteria. Langkah 1. Perhitungan matrik awal untuk level 2 . Diawali dengan menganalisis data rekapitulasi jawaban Responden terhadap AyKriteriaAy dengan perhitungan kebalikan sesuai matrik perbandingan berpasangan. Tabel 2. Rekapitulasi Jawaban Responden terhadap AuKriteriaAy Persepsi Responden Responden A:B A:C B:C R/n Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 5 Keterangan : R = Jumlah komulatif skala perbandingan penilaian R/n = Rata-rata perbandingan penilaian dengan membagi R terhadap n Responden. Membuat matrik awal kriteria Tabel 3. Matrik Awal Kriteria 1,00 1,00 1,00 Langkah 2. Perhitungan Nilai Eigen Vektor Jumlah baris A = Matrik AA x Matrik AB x Matrik AC Menentukan Besaran wi : wi = nOo Jumlah Baris . n = ukuran matrik Maka : Eigen Vektor (X. = wi / wi Tabel 4. Nilai Eigen Vektor untuk Skala Penentuan Prioritas AyKriteriaAy Jumlah E-Vektor Langkah 3. Perhitungan Nilai Eigen Maksimum Nilai Eigen Maksimum diperoleh dari Matrik Awal dikalikan dengan E-Vektor masing-masing matrik dan kemudian hasil perkalian tersebut dijumlahkan. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 1 berikut ini: E-Vektor Jumlah = Gambar 1. Matriks Nilai Eigen Maksimum AyKriteriaAy Eigen Maksimum . aks ) = aij. Langkah 4. Kontrol terhadap Indek konsistensi (CI) Indek Consistensi (CI) = ( maks. Ae . / . , dimana n= ukuran matrik Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 6 Ratio Consistensi (CR) = CI/RI O 0,1 (OK) Nilai Ratio Consistensi (CR) lebih kecil dari 0,1 sama artinya lebih kecil dari 10%, maka nilai tersebut sudah sesuai dengan syarat konsistensi yaitu harus lebih kecil dari 0,1 atau 10%. Matrik random dengan skala penilaian 1 sampai dengan 9 beserta kebalikannya sebagai Indeks Random (RI). Dengan Indeks Random (RI) setiap ordo matriks seperti diperlihatkan pada Tabel 5. Tabel 5. Random Indek (RI) Ordo Matrik 1 0 0,58 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 Langkah 5. Pembobotan Kriteria Bobot elemen diperoleh dari nilai E-Vektor yang dinyatakan dalam prosentase seperti diperlihatkan pada Tabel 6 berikut ini: Tabel 6. Bobot Kriteria Kriteria Jumlah Bobot 1,00 Perhitungan Bobot Alternatif Selanjutnya perhitungan untuk level 3 . dilakukan tahapan yang sama dengan perhitungan kriteria diatas, mulai tahapan matrik awal sampai pembobotan. Perhitungan Skala Prioritas dengan Metode AHP (Pengolahan secara Vertika. Setelah ditentukan besaran bobot pada masing Ae masing elemen . riteria dan alternati. maka untuk menentukan skala prioritas dengan Metode Analitycal Hierarcy Process (AHP) dimasukan dengan perhitungan model matematis menurut Brojonegoro . NPpq = (NPHpq . , q-. x NPT t. ) NPpq = Nilai prioritas pengaruh elemen ke-p pada tingkat ke-q terhadap sasaran utama Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 7 NPHpq = Nilai prioritas elemen ke p pada tingkat ke-q . obot alternatif ke-. NPTt = Nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat q-1 . obot kriteria ke-t tingkat q-. Untuk p = 1,2,3,A. t = 1,2,3,A q = tingkat . pada hirarki HASIL Analisis terhadap komponen aktor bertujuan untuk melihat derajat kepentingan setiap aktor dalam pengembangan industri gula merah ke depan. Semakin besar derajat kepentingan maka semakin penting komponen aktor tersebut atau dengan kata lain komponen aktor semakin memiliki peran penting dalam pengembangan industri gula merah lontar. Hasil perhitungan derajat kepentingan masing-masing aktor dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Hasil Perhitungan Nilai Total Setiap Aktor untuk Menentukan Aktor Prioritas Ketersediaan Bahan Baku Kemampuan Tek. Pengolahan Keterampilan Pengolah Aspek Pemasaran Kebijakan Daerah Bobot Faktor Nilai Total Aktor Prioritas Pengolah 0,680108 0,657948 0,673436 0,53466 0,155163 0,310235 0,616952 Pemerintah Lembaga Lembaga 0,168243 0,18099 0,160222 0,235203 0,684566 0,175206 0,20857 0,095379 0,081756 0,121078 0,11034 0,075209 0,247052 0,101611 0,056269 0,079306 0,045263 0,119797 0,085062 0,218187 0,072867 Aktor Sumber : Data Sekunder Penelitian, 2015 Tabel di atas menunjukkan hasil analisis derajat kepentingan setiap aktor berdasarkan 5 kriteria penilaian. Hasil analisis menunjukkan aktor yang paling memiliki peranan penting dalam pengembangan industri gula merah di Kabupaten Jeneponto adalah pengolah dengan total E-vektor 0,617. Pengolah adalah pihak primer . yang terlibat secara langsung dalam kegiatan produksi dan penyedia Sumber Daya Alam baik bahan baku, tempat, tenaga, dan lain-lain. Pengolah gula merah lontar sebagian besar memiliki tanaman lontar yang tumbuh di lahan perkebunan yang mereka miliki. Meskipun tanaman lontar bukan tanaman utama di perkebunan pengolah, tetapi memenuhi bahan baku pengolahan gula merah lontar. Dalam rangka pengembangan industri gula merah lontar ketersediaan bahan baku menjadi modal utama, sehingga Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 8 pengolah sebagai penyedia sekaligus produsen menjadi aktor utama sehingga upaya akselerasi pengembangan tercapai. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad . , bahwa setiap perusahaan memerlukan persediaan bahan baku untuk melakukan proses produksi sesuai kebutuhan atau permintaan konsumen. Selain itu, dengan adanya persediaan dapat memperlancar kegiatan produksi/pelayanan kepada konsumen perusahaan dapat menghindari terjadinya kekurangan bahan baku. Aktor selanjutnya adalah pemerintah . , lembaga mitra . , dan lembaga keuangan . Lembaga mitra dalam hal ini adalah lembaga/organisasi/perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan usaha rakyat. Lembaga keuangan baik pemerintah maupun swasta sebagai penyedia bantuan pinjaman modal usaha. Lembaga mitra baik organisasi/perusahaan/akademisi milik pemerintah maupun swasta sebagai aktor pendukung pengembangan industri gula merah lontar, pihak yang memberi transferan ilmu, pendampingan, transfer teknologi secara berkesinambungan dan Pemerintah sebagai pihak pemangku kebijakan menjadi pihak yang Semua aktor saling bekerjasama dan bersinergi sehingga memberi dampak yang besar untuk pengembangan industri gula merah lontar di Kabupaten Jeneponto. Hal ini karena aktor sebagai individu tunggal atau sebagai kelompok yang berfungsi sebagai aktor korporat (Ostrom, 2011 dalam Sukwika, 2. dan bekerja secara bersinergi satu sama lain. Susunan hierarki aktor yang berperan dalam pengembangan industri gula merah di Kabupaten Jeneponto berdasarkan derajat kepentingan ditunjukkan pada Gambar 1. Pengembangan Industri Pengolahan Gula Merah di Kabupaten Jeneponto Ketersediaan Bahan Baku . Pengolah . Keterampilan Pengolah/SDM . Aspek Pemasaran . Pemerintah . Kemampuan Teknologi Pengolahan . Lembaga Mitra Kebijakan . Lembaga Keuangan . Gambar 1. Struktur hierarki aktor dalam pengembangan industri gula merah lontar di Kabupaten Jeneponto Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 9 Gambar 1 di atas merupakan gambar struktur hierarki aktor berdasarkan hasil analisis AHP. Struktur hierarki ini menunjukkan formulasi dan keterkaitan aktor satu dengan aktor lain dinilai dari kriteria penilaian. Pengembangan industri gula merah sebagai hierarki 1 (Foku. , kriteria penilaian . aktor internal dan eksterna. sebagai hierarki ke-2 dengan urutan ketersediaan bahan baku, keterampilan, aspek pemasaran, kemampuan teknologi dan kebijakan pemerintah. Aktor pada hierarki ke-3 dengan urutan pengolah, pemerintah, lembaga mitra dan lembaga keuangan. Menurut pendapat responden ahli bahwa ini adalah urutan yang ideal menurut kapasitas dan perannya masing-masing dalam menstimulus upaya akselerasi pengembangan industri pengolahan gula merah di Kabupaten Jeneponto. Pemerintah sebagai pengambil dan pelaksana kebijakan yang diterapkan dan mengakomodasi berbagai kepentingan dan pembuka berbagai akses yang bisa merangsang perkembangan pengolahan gula merah. Hal ini peran pemerintah sebagai regulator dalam membuat dan menerapkan kebijakan atau aturan yang terkait dengan kegiatan UMKM (Nirwana dkk. , 2. Pemerintah seperti dinas perindustrian dan perdagangan. Dinas Koperasi dan UMKM. Dinas Perkebunan. Dinas Perencanaan dan Pengembangan sebagai penyedia dan jembatan untuk pendampingan kepada UKM yang telah ada, pemberi modal, serta mengupdate pengetahuan dan teknologi terutama teknologi pengolahan dan pemasaran. Membantu pengolah untuk mengatasi dan memberi jalan keluar atas kelemahan yang mereka hadapi berdasarkan hasil analisis internal dan eksternal industri. Dengan demikian, pengembangan industri ini sebagai industri lokal yang berbasis nasional. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa aktor utama yang berperan dalam pengembangan industri gula merah di Kabupaten Jeneponto berdasarkan derajat kepentingannya adalah pengolah E-vektor 0,617. Aktor selanjutnya adalah pemerintah . , lembaga mitra . , dan lembaga keuangan . Analisis Aktor yangA (Syahmidarn. | 10 DAFTAR PUSTAKA