Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 2025, 35-44 Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) https://journal. id/index. php/DBESTI P-ISSN: 3047-1028 E-ISSN: 3032-775X PENERAPAN MICRO FRONTEND DENGAN NEXT. JS DAN MODULE FEDERATION PADA APLIKASI CASH MANAGEMENT Muhammad Fikri1. Ishom Muhammad Drehem2. Ahmad Rio Adriansyah3 1,2,3 Teknik Informatika. Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri Depok. Jawa Barat. Indonesia 16451 muha21036ti@student. id, ishom. drehem@nurulfikri. id, arasy@nurulfikri. Abstract The digitalization of banking has made cash management applications essential for business efficiency. however, the monolithic architecture of the front-end in PT. Bank XYZ's cash management application presents significant challenges in terms of scalability and flexibility, particularly with the cash pooling feature. This study implements a Micro Frontend architecture using Next. js and Module Federation to enhance development and maintenance efficiency. The results show that build times have been reduced from 1 hour to 37 minutes, with an average build time of 12 minutes achieved through parallel Deployments have also become faster, with only a few hours between releases. A survey of 11 respondents, including developers, quality assurance personnel, and other key stakeholders, recorded an average satisfaction score of 4. 44 out of 5, indicating strong support. This implementation accelerates feedback loops, facilitates parallel development, and streamlines the feature release process, making it highly applicable to all features within the cash management application, thereby improving scalability and flexibility comprehensively. Keywords: Cash Pooling. Micro Frontend. Module Federation. Next. Scalability. Abstrak Digitalisasi perbankan menjadikan cash management application vital untuk efisiensi bisnis, tetapi arsitektur monolitik pada front-end aplikasi PT. Bank XYZ menimbulkan tantangan dalam skalabilitas dan fleksibilitas, khususnya pada fitur cash Penelitian ini mengimplementasikan arsitektur Micro Frontend menggunakan Next. js dan Module Federation untuk meningkatkan efisiensi pengembangan dan pemeliharaan. Hasilnya, waktu build aplikasi berkurang dari 1 jam menjadi 37 menit dengan rata-rata waktu per build 12 menit melalui proses paralel, sementara deployment menjadi lebih cepat dengan jeda antar-release hanya beberapa jam. Kuesioner terhadap 11 responden, meliputi pengembang. QA, dan pemangku kepentingan lainnya, mencatat skor kepuasan rata-rata 4,44 dari 5, menunjukkan dukungan yang sangat positif. Implementasi ini mempercepat feedback, mendukung pengembangan paralel, dan mempermudah proses release fitur, menjadikannya layak diterapkan untuk seluruh fitur cash management application guna meningkatkan skalabilitas dan fleksibilitas. Kata kunci: Cash Pooling. Micro Frontend. Module Federation. Next. Skalabilitas. PENDAHULUAN Transformasi digital telah menjadi kebutuhan utama bagi perusahaan di berbagai sektor, termasuk perbankan, untuk meningkatkan efisiensi dan pengalaman nasabah. Salah satu layanan penting bagi nasabah korporasi adalah cash management, yang membantu mengelola arus kas mereka secara efisien. PT. Bank XYZ, sebagai salah satu bank besar di Indonesia, menawarkan layanan cash management application dengan fitur unggulan seperti cash pooling untuk konsolidasi dana. Namun, arsitektur monolithic pada front-end cash management application PT. Bank XYZ menghadirkan beberapa keterbatasan, terutama dalam hal efisiensi pengembangan dan skalabilitas. Berdasarkan data internal, waktu build rata-rata aplikasi monolithic ini mencapai satu Selain itu, pengembangan fitur baru sering mengganggu fitur lain, menghambat proses pengembangan secara keseluruhan. Arsitektur monolithic dapat menjadi hambatan utama dalam pengembangan aplikasi perbankan skala besar, sementara transisi ke arsitektur microservices dapat meningkatkan fleksibilitas dan skalabilitas sistem . Diterima 31 Januari 2025. Direvisi 30 Mei 2025. Diterima untuk publikasi 30 Mei 2025 36 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Konsep micro frontend, memungkinkan pengembangan front-end yang lebih modular dan terdesentralisasi, di mana setiap tim dapat bertanggung jawab atas fitur tertentu . Meski demikian, penerapan micro frontend dalam konteks aplikasi perbankan yang kompleks seperti cash management, khususnya fitur cash pooling, belum banyak dibahas dalam literatur. sistem dengan membandingkan kondisi sebelum dan setelah penerapan arsitektur micro frontend. Evaluasi meliputi berbagai aspek seperti performa sistem, fleksibilitas fitur, dan skalabilitas aplikasi. Dengan demikian, pendekatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai dampak implementasi terhadap peningkatan kualitas sistem secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan arsitektur micro frontend pada fitur cash pooling di cash management application PT. Bank XYZ. Pendekatan ini menggunakan module federation, sebuah teknik yang memungkinkan integrasi antar modul front-end secara Dengan penelitian ini, diharapkan tercapai efisiensi yang lebih tinggi, skalabilitas yang lebih baik, dan risiko gangguan antar fitur yang lebih rendah. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan teknis dan operasional dalam migrasi dari arsitektur monolithic ke micro frontend, serta strategi mitigasi yang dapat Beberapa parameter yang akan membandingkan performa sebelum implementasi adalah sebagai berikut. Untuk memfokuskan penelitian dan memastikan ketercapaian tujuan dalam waktu dan sumber daya yang tersedia, penelitian ini dibatasi pada implementasi arsitektur micro frontend khusus untuk fitur cash pooling dalam cash management application PT. Bank XYZ. Implementasi hanya akan mencakup pengembangan front-end menggunakan framework Next. js dan module federation dengan webpack 5 sebagai bundler utama, tanpa melakukan perubahan signifikan pada back-end sistem yang sudah ada. Evaluasi efisiensi pengembangan dilakukan berdasarkan waktu build, waktu deployment, serta kemudahan dalam melakukan perubahan pada fitur individual. Performa aplikasi akan dinilai dari waktu muat dan penggunaan sumber daya browser. Pengujian dilakukan dalam lingkungan pengembangan PT. Bank XYZ, dengan uji coba terbatas yang melibatkan subset pengguna internal. Fokus penelitian adalah pada integrasi micro frontend dengan sistem cash management yang ada, tanpa mengubah sistem lain yang terintegrasi. Penelitian ini direncanakan selesai dalam waktu lima bulan sesuai jadwal MBKM PT. Bank XYZ, dengan harapan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan arsitektur aplikasi perbankan yang lebih fleksibel dan scalable, khususnya pada fitur cash pooling di sektor perbankan Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, yang sering digunakan untuk menguji efektivitas atau kinerja suatu pendekatan tertentu. Menurut berbagai ahli, pendekatan eksperimen memiliki beragam definisi dan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan konteks penelitian. Metode eksperimen dalam penelitian ini diterapkan untuk menguji implementasi arsitektur micro frontend pada cash management application yang sedang dikembangkan . Eksperimen ini dirancang untuk mengevaluasi kinerja diukur untuk dan sesudah Skalabilitas Diukur dengan melihat kemampuan aplikasi untuk menangani peningkatan penambahan fitur baru. Fleksibilitas Diukur berdasarkan kemudahan dalam memodifikasi atau menambahkan fitur baru tanpa mempengaruhi keseluruhan 1 Metode pengumpulan data, instrumen penelitian, dan metode pengujian Metode pengumpulan data untuk mendukung implementasi micro frontend pada aplikasi cash management PT. Bank XYZ dilakukan melalui kuesioner, observasi, analisis dokumen, dan data hasil uji. Kuesioner dirancang untuk diisi oleh pihak-pihak yang relevan, seperti System Analysis and Design (SAD), pengembang front-end, squad leader, dan Quality Assurance (QA). Tujuan kuesioner ini adalah untuk memahami sistem yang sedang berjalan serta mengidentifikasi potensi dampak yang dihasilkan setelah implementasi micro frontend. Melalui informasi ini, implementasi dapat lebih terarah sesuai kebutuhan Observasi dilakukan oleh peneliti yang juga merupakan bagian dari tim pengembangan di PT. Bank XYZ. Peneliti memanfaatkan pengamatan langsung untuk memahami arsitektur, kerangka kerja . , serta kebiasaan tim dalam mengembangkan cash management Informasi dari observasi ini memberikan wawasan kontekstual tentang kondisi yang mendukung atau menjadi tantangan dalam penerapan micro frontend. Selain itu, analisis dokumen dilakukan untuk menggali lebih dalam kebutuhan teknis dan bisnis yang mendasari pengembangan aplikasi. Dokumen seperti Business Requirements Document (BRD). Business Model Canvas (BMC), dan desain sistem menjadi referensi utama dalam proses ini. Analisis dokumen membantu menyesuaikan implementasi micro frontend dengan kebutuhan strategis Tidak kalah penting, data hasil uji yang diperoleh pada tahap implementasi digunakan untuk menganalisis kelayakan serta memvalidasi hipotesis Data ini memberikan dasar yang kuat untuk mengevaluasi keberhasilan penerapan micro frontend, sehingga keputusan lebih terukur dapat diambil. 37 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Pengujian dilakukan untuk memastikan keberhasilan dan kelayakan implementasi micro frontend dari berbagai Dalam blackbox testing. QA bertanggung jawab untuk menguji kesesuaian fungsionalitas, seperti tombol, formulir, dan modal, berdasarkan skenario pengujian yang telah dirancang. QA juga memastikan bahwa desain yang dimigrasikan dari arsitektur monolitik tetap konsisten tanpa mengalami perubahan atau cacat visual . Selanjutnya. User Acceptance Test (UAT) dilakukan untuk memastikan bahwa implementasi sesuai dengan kebutuhan pengguna dan system requirement, sehingga aplikasi dapat diterima dengan baik oleh pengguna . Sebagai langkah perlindungan tambahan, dilakukan penetration testing oleh pentester untuk mengidentifikasi kerentanan dalam sistem serta memastikan keamanan implementasi dari ancaman eksternal . Dokumentasi hasil pengujian ini menjadi landasan penting untuk mengevaluasi kesuksesan akhir implementasi micro frontend secara menyeluruh. 2 Tahapan penelitian Gambar 1. Tahapan Penelitian Berikut ini adalah penjelasan tahapan penelitian yang ada pada Gambar 1. Studi Pendahuluan Studi pendahuluan mempunyai dua bagian utama Studi literatur dan Studi lapangan. Pada Studi Literatur peneliti mengumpulkan dan mempelajari berbagai sumber referensi terkait micro frontend, module federation, dan Next. Pada Studi Lapangan Pengamatan dan pengumpulan data langsung dari lapangan atau industri yang telah menerapkan konsep serupa. Analisis Berdasarkan hasil studi pendahuluan, peneliti melakukan analisis mendalam terhadap kebutuhan sistem, tantangan yang mungkin dihadapi, dan solusi potensial. Tahap ini menghasilkan penilaian kelayakan yang akan menjadi dasar untuk tahap perancangan sistem. Perancangan Sistem Pada tahap ini, peneliti merancang arsitektur micro frontend menggunakan module federation dan Next. js berdasarkan 38 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 hasil analisis. Perancangan mencakup struktur aplikasi, pembagian modul, dan integrasi antar komponen. Implementasi Berdasarkan rancangan yang telah dibuat, peneliti mulai mengimplementasikan sistem. Ini melibatkan pengodean, konfigurasi module federation, dan pengaturan Next. untuk mendukung arsitektur micro frontend. Hasil dari tahap ini adalah prototype sistem yang siap untuk diuji. Testing Prototype yang telah diimplementasikan kemudian melalui serangkaian pengujian untuk memastikan fungsionalitas, performa, dan integrasi antar modul berjalan dengan baik. Hasil pengujian didokumentasikan dalam laporan hasil Evaluasi Berdasarkan hasil testing, peneliti melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem. Jika ditemukan kekurangan atau area yang perlu diperbaiki, proses akan kembali ke tahap implementasi untuk penyempurnaan. Tahap ini menghasilkan laporan evaluasi yang mencakup temuan dan Sosialisasi Pengembangan Setelah sistem dievaluasi dan dianggap memenuhi kriteria, peneliti menyusun Dokumen Pengembangan yang Dokumen ini mencakup panduan implementasi, best practices, dan lessons learned selama proses penelitian. Tahap ini bertujuan untuk memudahkan adopsi dan pengembangan lebih lanjut dari hasil penelitian. Kelayakan operasi ditinjau dari beberapa hal untuk memastikan sebelum atau setelah implementasi micro frontend dan tentunya proses development dan juga existing sistem yang berjalan tidak ada masalah, detail nya sebagai Proses Development Sesuai dengan tujuan dari implementasi micro frontend yaitu untuk menambah skalabilitas dan fleksibilitas, maka proses development harus dilihat apakah ada masalah atau tidak pada saat prosesnya berjalan. Harapannya dengan implementasi micro frontend ini proses development bisa lebih lancar sesuai dengan tujuan dari implementasi micro . Existing Sistem Sebelum atau Sesudah Implementasi Dikarenakan pada saat implementasi ini existing sistem masih berjalan, harapannya implementasi micro frontend ini dilakukan secara parsial, jadi implementasinya tidak mengganggu existing sistem yang berjalan. 2 Spesifikasi kebutuhan Sebelum implementasi dilakukan ada beberapa hal terlebih dahulu yang perlu diketahui, diantaranya adalah sebagai Informasi mengenai existing sistem yang berjalan, dimulai dari teknologi yang dipakai dan infrastruktur yang dipakai. Kebiasaan pengembang front-end pada saat sebelum pengimplementasian micro frontend dimulai dari git strategy, penggunaan component user interface, dll. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Penilaian kelayakan Penilaian kelayakan ini dibutuhkan untuk menguji apakah implementasi micro frontend ini seharusnya diterapkan atau Penilaian kelayakan ini dilakukan terhadap 2 hal yaitu kelayakan Teknik dan kelayakan operasional. 3 Perancangan sistem Kelayakan Teknik User dari cash management application adalah korporasi besar dan para nasabah wholesale. Tahapan ini menjelaskan tentang desain sistem, kegiatan pada desain sistem ini menghasilkan flowchart fitur cash pooling dan desain sistem untuk micro frontend. Layout micro frontend Kelayakan Teknik di sini adalah kelayakan pada teknologi yang dipakai, apakah teknologi ini sudah mature untuk digunakan atau belum, dengan dilihat dari perusahaan atau yang menggunakan teknologi ini pengimplementasian micro frontend. Jika kita lihat pada situs resmi masing-masing teknologi yang dipakai untuk implementasi ini, seperti pada situs resmi Next. dan pada situs resmi module federation . banyak perusahaan besar yang menggunakan teknologi ini, jadi sudah bisa dipastikan bahwa teknologi yang dipakai sangat layak untuk membantu implementasi micro frontend ini. Kelayakan Operasi Gambar 2. Layout Micro Frontend 39 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Gambar 2 merupakan layout micro frontend pada cash management application fitur cash pooling. Layout di atas sudah menggambarkan implementasi micro frontend pada cash management application dibagi menjadi 3 komponen utama yaitu Header. Feature, dan Footer itu merupakan layout standart pada aplikasi berbasis web akan tetapi yang membedakan pada micro frontend adalah independency & integration dikarenakan setiap komponen pada pada layout itu sudah berbeda source code, repository, dan purpose. Pada dasarnya layout di atas dibuat bukan khusus untuk fitur cash pooling karena tujuan utama penerapan micro frontend adalah memisah semua fitur menjadi bagian terkecil, independent, dan mempermudah proses deployment Namun dikarenakan pada penelitian ini mempunyai batasan masalah maka batasan tersebut hanya pada fitur cash pooling saja. Pembagian komponen berdasar repository dan team adalah sebagai berikut pada tabel 1. Tabel 1. Repository & Component Repository Component ui-container All View Port ui-header-footer Header & Footer ui-cash-pooling Cash pooling Terdapat 3 repository/komponen yang terbuka ketika fitur cash pooling diakses oleh browser. Ketika komponen itu digabung menjadi satu oleh framework Next. js & module federation yang menghasilkan tampilan yang sesuai. Ketika komponen itu sudah dipisah team mana saja yang akan mengembangkan komponen tersebut sudah tidak perlu risau lagi dengan adanya tabrakan antar team, dikarenakan sudah bisa dipastikan komponen itu hanya bisa diubah oleh team yang bersangkutan. Flowchart cash pooling Gambar 3. Flowchart Cash Pooling 40 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Gambar 3 merupakan flowchart dari fitur cash pooling yang mana fitur cash pooling ini bisa diakses oleh semua nasabah pengguna cash management application. Pada Gambar 5 merupakan halaman dashboard cash management application jika kita lihat terdapat banyak menu yang bisa diakses sesuai role yang terdapat pada user. Gambar 6. Menu Cash Pooling Menu cash pooling pada gambar 6 di atas terdapat pada group liquidity management yang mana ketika cursor hover akan muncul list menu cash pooling. Gambar 4. Flowchart Scheduler Cash Pooling Scheduler pada Gambar 4 merupakan kunci pada fitur cash pooling ini, karena sesuai dengan desain sistem cash pooling ini dana nasabah yang ada pada rekening anak atau rekening induk akan dialihkan sesuai tujuan sesuai dengan scheduler yang berjalan. Proses scheduler ini berjalan pada backend aplikasi jadi secara pengerjaan ini bukanlah termasuk capability, peneliti hanya memastikan inputan dari form yang sudah diimplementasikannya micro frontend sudah sesuai request nya kepada backend yang akan dijalankan oleh scheduler. 4 Implementasi Tahapan ini hanya akan menampilkan antarmuka fitur cash pooling dari versi monolithic ke versi micro frontend, berikut adalah implementasinya. Gambar 7. Halaman Cash Pooling Setelah menu diklik maka browser akan mengarahkan ke halaman cash pooling pada gambar 7 di atas yang mana cash pooling sudah menggunakan versi micro frontend. Identifier versi monolithic atau micro frontend bisa dilihat pada route setelah domain utamanya dengan detail berikut. C Versi monolithic setelah domain utama akan mengarah pada route sesuai nama fiturnya, semisal https://cashmanagement. id/cash-pooling. C Versi micro frontend setelah domain utama mempunyai identifier v2 yang mana indentifier ini menjadi pembeda antara versi monolithic dengan versi micro frontend, https://cash-management. id/v2/cashpooling. Untuk mengatur segmentasi antara monolithic dan micro frontend itu sendiri peneliti menggunakan reverse proxy yang mana itu merupakan fitur dari web server. Gambar 5. Dashboard Cash Management Application Sesuai dengan layout micro frontend yang sudah ditentukan, bagian header, footer, dan menu pada versi micro frontend merupakan bagian Next. js dan module federation tersendiri dan di-deploy pada web server sendiri begitu juga dengan 41 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 bagian content/fitur cash pooling. Kedua Next. js dan module federation tadi disatukan ke dalam container yang membungkus header, footer, dan fitur cash pooling nya. 5 Evaluasi 1 Blackbox testing Pengujian Ekspektasi Hasil Perpindahan dari domain monolithic kepada domain micro frontend, ataupun Ketika terjadi perpindahan dari monolithic ke micro frontend melalui bypass URL berjalan dengan baik. Berhasil Navigasi menggunakan menu pada halaman monolithic berjalan dengan baik. Berhasil Navigasi menuju halaman utama cash pooling menggunakan menu pada halaman monolithic berjalan dengan baik. Berhasil Navigasi menggunakan tombol create halaman cash pooling berjalan dengan baik. Berhasil Navigasi menu pada header micro frontend. Navigasi menuju halaman utama cash pooling. Navigasi menuju halaman create cash pooling. Dengan data yang didapat menandakan bahwa sistem sudah cukup stabil dengan 87. 5% keberhasilan, dan 12. Dengan ratio 7:1 maka dapat disimpulkan implementasi ini layak dilanjutkan Tabel 3. Hasil User Acceptance Testing Navigasi menuju halaman edit cash pooling. Navigasi menggunakan tombol action edit pada tabel cash pooling berjalan dengan baik. Berhasil Navigasi menuju halaman view cash pooling. Navigasi menggunakan scheme code pada tabel cash pooling berjalan dengan baik. Berhasil Logout ketika berada pada halaman cash pooling. Melakukan proses logout dari halaman cash pooling micro frontend berjalan dengan baik. Berhasil Bypass URL menuju halaman cash pooling monolithic tidak Gagal Bypass menu melalui url atau kembali ke cash pooling monolithic. Persentase keberhasilan = . / . x 100 = 87. 2 User acceptance testing C Skenario Gagal: 1 Persentase kegagalan = . / . x 100 = 12. Tabel 2. Hasil Blackbox Testing C Jumlah Skenario: 8 C Skenario Berhasil: 7 Pada tahap evaluasi akan dilakukan pengujian menggunakan blackbox testing, user acceptance testing, dan kuesioner. Data yang didapat dari tabel 2 blackbox testing sebagai Pengujian Hasil Perpindahan dari domain monolithic kepada domain micro frontend, ataupun sebaliknya. Sesuai Navigasi menu pada header micro frontend. Sesuai Navigasi menuju halaman utama cash pooling. Sesuai Navigasi menuju halaman create cash pooling. Sesuai Navigasi menuju halaman edit cash pooling. Sesuai Navigasi menuju halaman view cash pooling. Sesuai Logout ketika berada pada halaman cash Sesuai Tidak adanya dampak negative dari implementasi micro frontend. Sesuai Hasil dari user acceptance testing pada Tabel 3. Menghasilkan kesesuaian yang telah divalidasi oleh user secara langsung. 3 Kuesioner Rumus untuk menghitung keberhasilan dan kegagalan blackbox testing. Persentase = (Jumlah sukses atau gagal / Jumlah scenari. Metode pengambilan data pada penelitian kali ini salah satunya menggunakan kuesioner, sudah dilakukan penyebaran kuesioner menggunakan google form, menggunakan skala likert untuk opsi pilihannya dikarenakan skala likert sangat cocok untuk menentukan kualitas kepuasan pengguna . , dengan detail seperti C Total Responden 11 dengan detail 3 SAD (System Analysis and Desig. , 1 Squad Leader, 3 Front-end, dan 4 QA. C Analisis data kuesioner ini dihitung dengan skala likert yang memiliki kriteria sebagai berikut. o 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) o 2 = Tidak Setuju (TS) 42 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 o 3 = Netral (N) Tabel 5. Bagian 2 o 4 = Setuju (S) o 5 = Sangat Setuju (SS) Pertanyaan Implementasi arsitektur micro frontend meningkatkan efisiensi proses pengembangan secara keseluruhan. Arsitektur ini memungkinkan fitur cash pooling untuk lebih mudah diskalakan sesuai kebutuhan bisnis. Perubahan atau pembaruan pada fitur cash pooling menjadi lebih fleksibel tanpa memengaruhi fitur Penerapan arsitektur ini mengurangi waktu pemeliharaan aplikasi secara keseluruhan. Kolaborasi antar tim pengembang lebih terorganisir setelah implementasi arsitektur micro frontend. C Interpretasi data untuk menentukan rata-rata skor setiap penilaian, sebagai berikut. 0Ae1. 8 = Sangat Tidak Setuju 9Ae2. 6 = Tidak Setuju 7Ae3. 4 = Netral 5Ae4. 2 = Setuju 3Ae5. 0 = Sangat Setuju C Rumus rata-rata menghitung skor sebagai berikut. STS TS N S SS *2 *3 *4 *5 Rata-rata Rata-rata skor = (Jumlah skor / Jumlah responde. C Terdapat 15 Pertanyaan, dibagi menjadi 3 bagian, setiap bagian mempunyai 5 pertanyaan, dengan detail sebagai berikut pada tabel 4. Tabel 4. Bagian 1 Pertanyaan Implementasi arsitektur micro frontend mempermudah proses pengembangan fitur dibandingkan dengan arsitektur monolithic. Arsitektur micro frontend mampu mengurangi beban kerja tim pengembang pada fitur cash pooling. STS TS N S SS *2 *3 *4 *5 Rata-rata Hasil pada tabel 5 terdapat rata-rata bagian 2 = . 45 / . Jika diinterpretasikan pada acuan maka 4. 49 adalah Sangat Setuju. Tabel 6. Bagian 3 Proses integrasi antara modul pada arsitektur micro frontend lebih efisien dibandingkan arsitektur Implementasi micro frontend memberikan fleksibilitas lebih tinggi dalam pengembangan fitur Penerapan arsitektur micro frontend meningkatkan kecepatan deployment fitur dibandingkan arsitektur Pertanyaan Proses migrasi dari arsitektur monolithic ke micro frontend berjalan sesuai dengan harapan. STS TS N S SS *2 *3 *4 *5 Kendala teknis yang dihadapi selama migrasi dapat diselesaikan dengan strategi yang tepat. Arsitektur micro frontend mempermudah pengujian dan deteksi kesalahan pada fitur cash pooling. Pelatihan teknis untuk tim terkait arsitektur baru sudah Dokumentasi implementasi arsitektur baru sudah cukup untuk mendukung pengembangan ke depan. Rata-rata Rata-rata bagian 1 = . 65 / . = 4. Jika diinterpretasikan pada acuan maka 4. 73 adalah Sangat Setuju. Hasil pada tabel 6 terdapat rata-rata bagian 3 = . 55 / . Jika diinterpretasikan pada acuan maka 4. 11 adalah Setuju. 43 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Rata-rata dari bagian 1-3 jika dihitung dengan rumus yang sama rata-rata semua bagian = . 33 / . = 4. 44 yang mana jika diinterpretasikan menjadi Sangat Setuju. Hasil dari kuesioner ini membuktikan bahwa implementasi micro frontend ini layak dilakukan dengan penyempurnaan di beberapa bagian, terutama bagian yang mempunyai skor rata-rata terkecil. 4 Build time Gambar 11. Build Time ui-cash-pooling Gambar 8. Build Time Monolithic 47 menit adalah build time pada aplikasi monolithic cash managemen application, dan dapat dilihat pada gambar 8. Pada gambar 11 ini merupakan build time ui-cash-pooling, hanya 7 menit. Karena pada CI/CD terdapat beberapa agent untuk proses build, walaupun 3 pipeline itu ditotal menghasilkan waktu 37 menit, tetapi tetap lebih cepat proses build micro frontend. Pada kenyataannya proses build micro frontend itu dilakukan secara paralel oleh CI/CD itu sendiri . , jadi waktu build untuk ke 3 pipeline itu menjadi lebih cepat rata-rata 12 menit per-build. 5 Deployment frekuensi Untuk menilai efisiensi, skalabilitas, dan fleksibilitas maka peneliti melihat berdasar history deployment CI/CD, dengan melihat pada gambar 12 terdapat history deployment maka bisa diambil penilaian untuk mengukur 3 aspek yang menunjukkan keberhasilan implementasi ini. Gambar 9. Build Time ui-container Pada gambar 9 ini merupakan build time ui-container, hanya 18 menit. Gambar 12. Deployment Frekuensi Efisiensi Deployment terakhir dilakukan pada 12 November 2024 pukul 12:14 AM, hanya beberapa jam setelah deployment sebelumnya pada 11 November 2024 pukul 09:08 PM, menunjukkan bahwa proses release fitur menjadi lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Gambar 10. Build Time ui-header-footer Pada gambar 10 ini merupakan build time ui-header-footer, hanya 12 menit. Fleksibilitas Proses enhancement dilakukan dalam satu repository tanpa menyebabkan masalah pada fitur lainnya, yang mengindikasikan bahwa implementasi ini mendukung pengembangan yang lebih terintegrasi dan bebas konflik. 44 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Skalabilitas Riwayat deployment pada bulan-bulan sebelumnya menunjukkan selisih antara tanggal yang tidak terlalu jauh, menandakan bahwa implementasi micro frontend pada fitur cash pooling memungkinkan pengembangan yang lebih microservices: An experience report from the banking domain,Ay Ie Softw, vol. 35, no. 3, pp. 50Ae55, 2018. Prajwal. Parekh, and R. Shettar. AuA brief review of micro-frontends,Ay United International Journal for Research and Technology, vol. 2, no. University. AuPenelitian Eksperimen. Tujuan. Karakteristik Hingga Macamnya. Ay Accessed: Oct. [Onlin. Available: https://w. id/id/penelitia n-eksperimen/ . Febriyanti. Sudana, and I. Piarsa. AuImplementasi Black Box Testing pada Sistem Informasi Manajemen Dosen,Ay Jurnal Ilmiah Teknologi Dan Komputer, vol. 2, no. 3, pp. 535Ae544, 2021. da Silva and S. Borges. AuLive Acceptance Testing using Behavior Driven Development,Ay Tantangan teknis, seperti kesenjangan pengetahuan terkait micro frontend, dapat diatasi melalui sosialisasi dan dokumentasi yang lengkap. Sementara itu, tantangan operasional berupa potensi keluhan nasabah tidak ditemukan hingga implementasi selesai. Pengujian berlapis, mulai dari Blackbox testing. User Acceptance Test, hingga Penetration Test, menunjukkan bahwa arsitektur ini layak Dukungan data kuesioner dari 11 responden dengan skor rata-rata 4. nterpretasi sangat setuj. semakin memperkuat kesimpulan bahwa implementasi ini efektif dan dapat dilanjutkan. Ghanem and T. Chen. AuReinforcement learning for efficient network penetration testing,Ay Information, vol. 11, no. 1, p. 6, 2019. Vercel. AuAbout React and Next. Ay Accessed: Oct. [Onlin. Available: https://nextjs. org/learn/react-foundations/what-isreact-and-nextjs . Webpack. AuModule Federation. Ay Accessed: Oct. [Onlin. Available: https://webpack. org/concepts/module-federation/ Keberhasilan ini membuka peluang untuk menerapkan arsitektur micro frontend pada fitur lain, khususnya fitur yang kompleks atau sering diperbarui. Pemerataan pengetahuan di antara pengembang perlu ditingkatkan melalui pelatihan berkala dan pembentukan komunitas internal untuk berbagi pengalaman. Standar dan pedoman pengembangan micro frontend harus dikembangkan dan didukung dengan dokumentasi yang selalu diperbarui. Optimalisasi pipeline CI/CD juga perlu dilakukan, dengan fokus pada otomatisasi proses pengujian dan deployment. Selain itu, penerapan sistem monitoring real-time yang komprehensif akan memastikan performa aplikasi tetap optimal dan membantu mencegah masalah sebelum berdampak pada pengguna. Awaludin. Mantik, and F. Fadillah. AuPenerapan metode servqual pada skala likert untuk mendapatkan kualitas pelayanan kepuasan pelanggan,Ay JSI (Jurnal sistem Informas. Universitas Suryadarma, vol. 10, no. 1, pp. 89Ae106, . Nikulina and K. Khatsko. AuMethod of converting the monolithic architecture of a Front-End application to microfrontends,Ay Bulletin of National Technical University AuKhPIAy. Series: System Analysis. Control and Information Technologies, 2, no. 10, pp. 79Ae84, 2023. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis, implementasi, dan pengujian pada fitur cash pooling dalam cash management application PT. Bank XYZ, penerapan arsitektur micro frontend terbukti berhasil mengatasi keterbatasan arsitektur Waktu build yang sebelumnya sekitar 1 jam dapat dipersingkat menjadi rata-rata 37 menit melalui proses paralel dengan durasi 12 menit per build. Pengelolaan fitur dalam repository terpisah juga mengurangi konflik integrasi antar fitur, membuat pengembangan lebih independen. Implementasi ini memberikan dampak positif pada efisiensi, skalabilitas, dan fleksibilitas pengembangan. Proses release menjadi lebih cepat, pengembangan fitur baru dapat dilakukan tanpa mengganggu fitur lain, dan tim pengembang dapat fokus pada fitur masing-masing. DAFTAR PUSTAKA