Aktivasi: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 7 No. PENGUATAN KAPASITAS PERSIAPAN PEMBERDAYAAN KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT) MELALUI BIMBINGAN TEKNIS PENGURUS YAYASAN PAPUA PENUH DAMAI (PAPEDA) Urip Wahyudin. Avelinus Lefaan, 3Jecqueline F. Manggaprouw 12Jurusan Sosiologi. Universitas Cenderawasih *Email: wahyudinkaliacai@gmail. ABSTRAK Yayasan Papua Penuh Damai (PAPEDA) merupakan lembaga pelayanan sosial yang berfokus terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat serta memiliki peran penting yang strategis dalam menjangkau komunitas adat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki tujuan untuk meningkatkan kompetensi pengurus Yayasan PAPEDA dalam memberikan pelayanan kepada Suku Yaur melalui kegiatan pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain ceramah interaktif, diskusi kelompok dan praktik langsung. Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis melalui alur kegiatan diantaranya persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam memahami alur kegiatan perencanaan pemberdayaan melalui tahapan persiapan yaitu pemetaan sosial, penjajagan awal, studi kelayakan, semiloka, perencanaan program, dan penyiapan kondisi masyarakat. Dengan demikian, kegiatan bimtek menjadi langkah yang taktis dalam memperkuat peran kelembagan yayasan serta menjawab tantangan pemberdayaan KAT. Kata Kunci: Bimbingan Teknis. Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil. Suku Yaur ABSTRACT The Papua Penuh Damai Foundation (PAPEDA) is a social service institution that focuses on community empowerment activities and plays a vital role in the strategy of reaching indigenous communities. The community service activities aim to improve the competence of PAPEDA Foundation administrators in providing services to the Yaur Tribe through empowerment activities for Remote Indigenous Communities (KAT) in Nabire Regency. Central Papua Province. The methods used in this activity include interactive lectures, group discussions, and hands-on practice. This activity is carried out systematically through a flow of activities including preparation, implementation, and closing. The results of the activity show an increase in knowledge and skills in understanding the flow of empowerment planning activities through the preparation stages, namely social mapping, initial assessment, feasibility studies, workshops, planning programs, and community empowerment. Thus, the technical guidance activity is a tactical step in strengthening the institutional role of the foundation and addressing the challenges of KAT Keywords: Technical Guidance. Empowerment of Remote Indigenous Communities. Yaur Tribe Pendahuluan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) merupakan upaya terencana berupa kebijakan, strategi, dan program yang memberikan kewenangan kepada komunitas untuk mengenai masalah, menentukan kebutuhan serta mencari solusi secara mandiri melalui perlindungan, penguatan, pengembangan, konsultasi serta advokasi demi meningkatkan kesejahteraan sosial (Nurliatin & Fahmi, 2. Kegiatan pemberdayaan KAT terdiri dari upaya untuk meningkatkan kapasitas individu, lembaga, maupun masyarakat dengan tujuan agar komunitas tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupanya serta meningkatkan kualitas kehidupan secara berkelanjutan sesuai dengan aspirasi, dan kemampuan yang dimilikinya melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, penyediaan layanan dasar serta perlindungan terhadap hak-hak adat dan kearifan lokal (Rantika & Muslim, 2. Kegiatan pemberdayaan tidak dapat dipisahkan dari peran pemangku kepentingan (Stakeholder. yakni individu, kelompok maupun komunitas yang memiliki hubungan dan kepentingan terhadap suatu program (Saputri & Setiyono, 2. Kehadiran pemangku kepentingan bertujuan untuk mengembangkan visi strategis baik bagi individu maupun organisasi yang terlibat (Rohmawati et al. , 2. dan tanpa keterlebitan serta dukungan dari stakeholders upaya pemberdayaan tidak akan berjalan efektif. Pemberdayaan KAT berbasis stakeholders sebagai pendekatan dan startegi untuk menguatkan esensi pemberdayaan sekaligus menjaring kolaborasi dan kerja sama dari berbagai pihak terkait mulai dari masyarakat. Perguruan Tinggi. Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) atau Organisasi Sosial . , perusahaan dan lainnya yang berkontribusi secara utuh dalam proses Pelibatan LKS dalam kegiatan pemberdayaan KAT tentunya memberikan kontribusi yang besar dalam menjembatani akses terhadap layanan sosial, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi Salah satu LKS yang memiliki peran aktif dalam kegiatan pemberdayaan KAT adalah Yayasan Papua Penuh Damai (PAPEDA). Yayasan PAPEDA aktif berkontribusi dalam kegiatan pemberdayaan KAT di wilayah Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah. Yayasan ini berfokus pada kegiatan sosial, kemasyarakatan dan keagamaan. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh tim pengabdian masyakat Prodi Kesejahteraan Sosial tahun 2025, bahwa Yayasan PAPEDA memiliki kapasitas manajemen informasi dinilai belum mumpuni untuk menjalankan kewenangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang Keterbatasan dalam kapasitas manajemen informasi berpengaruh pada kinerja yayasan, sehingga masih harus ditingkatkan agar dapat berkembang secara produktif, inovatif dan berkelanjutan. Untuk menjawab tantangan yang dialami oleh Yayasan PAPEDA. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Cenderawasih mengadakan kegiatan bimbingan teknis yang bertujuan untuk menyamakan persepsi pengurus yayasan yang bersinergi dengan penyelengara kegiatan pemberdayaan KAT sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini memiliki karakteristik yang berbeda dari PKM lain yang membahas pemberdayaan KAT. Sebagaimana kegiatan yang telah dilakukan oleh (Hasanah & Jannah, 2. (Nurwahyuliningsih et al. , 2. (Naharuddin et al. , 2. yang berfokus terhadap penerima manfaat, sedangkan kegiatan PKM yang dilaksanakan oleh (Istikoma & Siregar, 2. (Siregar et al. , 2. berfokus terhadap pendampingan dalam meningkatkan keberlangsungan kegiatan perekonomian masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. Fokus utama kegiatan PKM ini adalah penguatan sumber daya manusia (SDM) Yayasan PAPEDA melalui pendampingan dan bimbingan teknis untuk meningkatkan kompetensi pengurus dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan KAT sesuai dengan tata kelola dan regulasi yang berlaku. Sehingga kegiatan ini diharapan Yayasan PAPEDA dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kesejahteraan sosial serta kemandirian KAT di Kabupaten Nabire. Metode Pelaksana Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan di Yayasan PAPEDA Kabupaten Nabire Papua Tengah, terhitung mulai dari bulan Mei hingga Juli tahun 2025 yang di inisiasi oleh Dosen Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Cenderawasih bersama mahasiswa dan melibatkan pihak terkait yakni pengurus Yayasan PAPEDA, perwakilan Dinas Sosial. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua Tengah, dan perwakilan masyarakat adat suku Yaur. Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ialah pendampingan dan bimbingan teknis melalui dialog interaktif, curah pendapat, diskusi kelompok terfokus, pengembangan tugas kelompok kerja dan mitra kerja pemberdayaan KAT di Yayasan PAPEDA. Berikut penjelasan alur pelaksanaan kegiatan PKM. Bagan 1. Alur kegiatan PKM di Yayasan PAPEDA Persiapan Pelaksanaan Pengakhiran Sumber: diolah langsung oleh penulis, 2025 Adapun alur kegiatan pendampingan dan bimbingan teknis bagi pengurus yayasan Papua Penuh Damai (PAPEDA) untuk meningkatkan efektivitas Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Kabupaten Nabire. Persiapan Kegiatan persiapan bimbingan teknis dilaksanakan oleh tim pelaksana yang terdiri dari dosen dan mahasiswa yang telah ditunjuk sebelumnya. Kegiatan persiapan diantaranya membuat usulan proposal yang dikirimkan melalui Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Kepada Masyarakat (LPPM), menyiapkan alat dan bahan sekali pakai yang digunakan dalam kegiatan PKM, melakukan rapat koordinasi dengan tim guna persiapan kegiatan PKM di Yayasan PAPEDA, menyusun jadwal kegiatan, mencari narasumber yang expert dibidang tersebut, mempersiapkan akomodasi tempat kegiatan, membuat metode bimbingan teknis dan membuat instrumen evaluasi bimbingan teknis yakni dengan menyiapkan alat ukur untuk menilai keberhasilan kegiatan dan perkembangan kompetensi pengurus. Pelaksanaan Tahapan ini merupakan bagian inti dari kegiatan yang berfokus pada peningkatakan kapasitas SDM pegurus yayasan, perwakilan Dinas Sosial dan Masyarakat. Adapun bentuk kegiatan terdiri dari . Pelatihan manajemen program yakni dengan memberikan materi mengenai data base KAT, persiapan , pelaksanaan, dan pengelolaan program pemberdayaan yang efektif dan berkelanjutan kepada Pengurus Yayasan PAPEDA. Workshop dan simulasi yakni dengan melibatkan peserta dalam kegiatan praktik secara langsung. Pengakhiran Tahapan ini dilakukan guna menutup kegiatan dengan memastikan keberlanjutan dan dampak yang dihasilkan, diantaranya . Evaluasi kegiatan yakni menilai efektivitas pendampingan dan peningkatan kompetensi pengurus melalyi diskusi dan pengisian instrumen evaluasi. Refleksi dan rencana tindak lanjut yakni menyusun rekomendasi dan strategi keberlanjutan program pemberdayaan KAT pasca pendampingan dengan membuat menyusun risalah bimbingan teknis sebagai bahan pembuatan laporan. Seremoni penutupan yakni menandai berakhirnya kegiatan sekaligus memberikan apresiasi kepada pengurus yang telah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pendampingan dan bimbingan teknis. Hasil dan Pembahasan Kondisi KAT yang sebagian besar berada di daerah terpencil dan terisolasi, sehingga mendorong Yayasan PAPEDA berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan. Untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan diperlukan berbagai persiapan agar pelaksanaannya dapat berjalan secara optimal. Pemberdayaan KAT pada Suku Yaur di wilayah Kabupaten Nabire oleh Yayasan PAPEDA menjadi upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat adat melalui pendekatan partisipatif berbasis potensi kearifan lokal yang tepat sasaran. Pada situasi ini, kegiatan bimbingan teknis menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas kelembagaan dalam merancang serta melaksanakan program kegiatan pemberdayaan yang Kegiatan BIMTEK dihadiri oleh narasumber ahli yang memiliki kompetensi dalam bidang pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis melainkan juga aplikatif. Kegiatan BIMTEK dilaksanakan di beberapa tempat yakni di Dinas Sosial dengan menggunakan pendekatan diskusi dan sharing session . esi berbag. dengan staf dan juga dilakukan di Yayasan PAPEDA, serta dilaksanakan di lingkungan suku Yaur. Gambar 1. Sharing Session di Dinas Sosial Sumber: oleh Penulis, 2025 Kegiatan BIMTEK dilaksanakan di kantor Yayasan PAPEDA dengan dihadiri oleh pengurus yayasan dan turut berpartisipasi secara aktif dengan berbagi pengalaman dan memperdalam pemahaman mengenai pemberdayaan komunitas adat. Berikut hasil dokumentasi pemaparan materi pada kegiatan BIMTEK di Yayasan PAPEDA. Gambar 2. BIMTEK Pengurus Yayasan PAPEDA Sumber: oleh Penulis, 2025 Gambar 3. Kegiatan Sosialisasi dan Bintek Persiapan PKAT di Suku Yaur Sumber: oleh Penulis, 2025 Melalui kegiatan ini, pengurus Yayasan PAPEDA dibekali pemahaman mendalam terkait dengan tahapan persiapan yang harus dilakukan dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan KAT. Adapun tahapan tersebut diantaranya: Gambar 4. Tahapan Persiapan Pemberdayaan Masyarakat Adat Sumber: oleh Penulis, 2025 Pemetaan sosial Langkah awal yang sangat penting dalam mengenali kondisi obyektif KAT yang akan menjadi sasaran program. Melalui kegiatan ini. Yayasan PAPEDA akan mengidentifikasi karakteristik mulai dari sosial hingga budaya, struktur komunitas, pola kepemimpinan yang ada pada KAT, serta potensi lokal yang dapat dikembangkan kedepannya. Adapun kegiatan ini dilakukan melalui wawancara, observasi langsung yang dilakukan dengan pihak-pihak yang terlibat, serta menentukan pendekatan pemberdayaan yang tepat. Penjajakan awal Tahapan ini dilakansakan ketika telah selesai melakukan pemetaan dan akan membangun komunikasi dan interkasi dengan KAT. Penjajakan dapat dilakukan dengan cara kunjungan informal yakni dapat berupa dialog bersama pada tokoh adat, dan diskusi dengan masyarakat adat. Kegiatan ini bertujuan agar terciptanya hubungan yang setara dan memperkenalkan visi misi pemberdayaan secara bertahap. Studi kelayakan Tahapan ini dilakukan untuk sudah sejauh mana rencana intervensi program pemberdayaan dapat dijalankan secara efektif dan berkelanjutan. Adapun studi ini meliputi aspek sosial, ekonomi, sosial, budaya dan ekologi, di dalamnya juga terdapat risiko dan tantangan yang dihadapi oleh KAT. Analisis SWOT dapat digunakan oleh pengurus Yayasan PAPEDA dalam menganalisis program yang dirancang sesuai dengan kebutuhan kapasitas KAT. Semiloka (Seminar dan lokakary. Tahapan ini menghadirkan para pemangku kepenting dalam satu forum tingkat Daerah dan Nasional untuk menyampaikan poteni, masalah dan menyepakati arah program dan menyusun rencana aksi bersama dan menyamakan persepsi dalam hal tujuan dan metode pelaksanaan program. Perencanaan program Apabila empat tahapan telah dilaksanakan, maka selanjutnya merencanakan program yang sistematis dan terukur. Adapun dalam perencanaan program harus melibatkan KAT sebagai subjek bukan objek semata, sehingga KAT turun aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan program. Penyiapan kondisi masyarakat adat KAT didorong agar mampu mengembangkan potensi lokal seperti pertanian, kerajinan tangan, dan ekwisata berbasis budaya. Selanjutnya agar program ini dapat berkelanjutan maka pentingnya mengupayakan kegiatan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh pengurus Yayasan PAPEDA . Para peserta menunjukkan respon positif dengan turut aktif selama kegiatan Peserta diminta untuk praktik untuk membuat pemetaan, dengan menjelaskan beberapa titik lokasi yang masih terdapat KAT di Kabupaten Nabire, mencari potensi dan problem yang ada pada KAT untuk dilakukan rencana implementasi. Lebih lanjut, kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama seluruh pengurus Yayasan PAPEDA sebagai bentuk dokumentasi dan instrumen persiapan PKAT serta simbol kebersamaan dan komitmen dalam mendukung upaya kegiatan pemberdayaan komunitas adat di Tanah Papua. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan BIMTEK terhadap pengurus Yayasan PAPEDA berjalan dengan efektif dan efisien. Pelaksanaan BIMTEK bagi pengurus Yayasan PAPEDA menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas kelembagaan menjadi hal yang penting dalam mendukung keberlangsungan program pemberdayaan KAT di Kabupaten Nabire. Kegiatan ini memberikan pemahaman terhadap pengurus yayasan terkait dengan tahapan persiapan dalam kegiatan pemberdayaan KAT. Hasil evaluasi menunjuukan bahwa terdapat peningkatan kompetensi pengurus yayasan dalam melakukan tahapan persiapan pemberdayaan komunitas adat suku yaur di Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah. Daftar Pustaka