Jurnal Ayurveda Medistra ISSN. 2656-3142 | Volume 5 Nomor 2 Agustus 2024 | pages: 1 - 7 Avalaible online at http://ojs. stikesmedistra-indonesia. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PENATALAKSANAAN HENTI JANTUNG (CARDIAC ARREST) DI RS CIBITUNG MEDIKA 2023 Wandi Priyanto1. Ernauli Meliyana2. Arabta M Peraten P3 1Program Studi Ilmu Keperawatan (S. STIKes Medistra Indonesia, wandipriyanto01@gmail. 2Program Studi Ilmu Keperawatan (S. STIKes Medistra Indonesia, ernaulimeliyana6972@gmail. 3Program Studi Ilmu Keperawatan (S. STIKes Medistra Indonesia, arabtapelawi65@gmail. ABSTRAK Indonesia saat ini masih menduduki urutan pertama dikelompok permasalahan kematian akibat penyakit tidak menular. Informasi yang disampaikan hasil (Kemenkes RI, 2. Dalam Penilaian tingkat kefatalan dari penyebab kematian (Case Fatality Rat. bahwa salah satu penyebab kematian nomor satu pada penyakit tidak menular adalah penyakit kardiovaskuler. Prevalensi . ardiac arres. di Indonesia berkisar antara 10 dari 10. 000 orang normal yang berusia di bawah 35 tahun dan setiap tahunnya dapat mencapai 300. 000 kejadian (PERKI, (Nugroho & Muhammad, 2. Tujuan Penelitian : Mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Penatalaksanaan Henti Jantung (Cardiac arres. di RS Cibitung Medika 2023. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan crossectional yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran/observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat (Nursalam, 2. Hasil Penelitian : Hasil dari penelitian yang di lakukan didapatkan hasil uji statistik Chi Square yaitu diperoleh nilai Asymp Signifikansi . < nilai . , hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak dan hasil output uji statistik Chi Square diperoleh nilai x2 hitung . > x2 tabel . , hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan dengan penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac arrest di RS Cibitung Medika 2023. Kesimpulan: Adanya Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Penatalaksanaan Henti Jantung (Cardiac arres. di RS Cibitung Medika Kata Kunci : Pengetahuan. Cardiac arrest. ABSTRACT Indonesia currently still ranks first in the group of deaths due to non-communicable diseases, according to information provided by the results (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2. In the assessment of the fatality rate from the causes of death (Case Fatality Rat. , one of the number one causes of death in non-communicable diseases is cardiovascular disease. The prevalence . ardiac arres. in Indonesia ranges from 10 out of 10,000 normal people under 35 years of age and each year can reach 300,000-350,000 incidents (PERKI, 2. (Nugroho & Muhammad, 2. Research Objective: To determine the relationship between the level of knowledge of nurses and the management of cardiac arrest at Cibitung Medika Hospital Research Method : This research uses a correlational analytical design with a cross-sectional approach, namely a type of research that emphasizes measuring/observing independent and dependent variable data only once at a time (Nursalam, 2. Research Results : The results of the research carried out obtained the results of the Chi Square statistical test, namely the Asymp Significance value . , this shows that H0 was rejected and the output results of the Chi Square statistical test obtained the calculated x2 value ( 143. > x2 table . , this shows that H0 is rejected. Thus, it can be concluded that there is a relationship between the level of knowledge and the management of cardiac arrest at Cibitung Medika Hospital 2023. Conclusion : There is a relationship between the level of knowledge of nurses and the management of cardiac arrest at Cibitung Medika Hospital 2023. Keywords: Knowledge. Cardiac arrest. PENDAHULUAN Setiap tahun lebih dari 36 juta orang meninggal karena penyakit tidak menular . % dari seluruh kematia. Lebih dari 9 juta kematian oleh penyakit tidak menular terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% kematian AuawalAy tersebut terjadi di Salah satu penyebab kematian nomor satu pada penyakit tidak menular adalah World Health Organization (WHO) menyebutkan penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia dengan 18,6 dari 39,5 juta kematian (WHO. Salah kardiovaskuler yang paling sering menjadi penyebab kematian adalah henti jantung. Kejadian henti jantung terbagi menjadi dua. Out of Hospital Cardiac arrest (OHCA) merupakan kejadian henti jantung mekanis yang ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda sirkulasi, dan terjadi diluar area rumah sakit. Intra Hospital Cardiac arrest (IHCA) merupakan kondisi henti jantung dalam rumah sakit. (American Heart Association, 2. Amerika Serikat, angka kejadian In-hospital Cardiac arrest (IHCA) atau henti jantung diperkirakan sekitar 200 ribu orang setiap tahunnya dan yang bisa diselamatkan hanya kurang dari 20% (Darwati et al. , 2. Indonesia saat ini masih menduduki urutan pertama dikelompok permasalahan kematian akibat penyakit tidak menular. Informasi yang disampaikan hasil (Kemenkes RI, 2. Dalam Penilaian tingkat kefatalan dari penyebab kematian (Case Fatality Rat. bahwa salah satu penyebab kematian nomor satu pada penyakit tidak menular adalah penyakit Prevalensi . ardiac arres. di Indonesia berkisar antara 10 dari 000 orang normal yang berusia di bawah 35 tahun dan setiap tahunnya dapat mencapai PERKI, (Nugroho Muhammad. Prevelensi penyakit jantung koroner yang bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya cardiac arrest yang terjadi di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis dokter adalah sekitar 447 orang atau 0,5%. Sedangkan dokter/gejala diperkirakan sekitar 2. 340 orang atau sekitar 1,5%. Estimasi angka kejadian penderita penyakit jantung koroner terbanyak berdasarkan diagnosis dokter terdapat di Provinsi Jawa Barat sebanyak 160. ,5%), yang dimana hal ini berarti resiko terjadinya kasus . ardiac arres. cukup tinggi di wilayah Jawa Barat (Depkes RI, 2. Henti jantung merupakan salah satu keadaan berhentinya fungsi mekanis jantung secara mendadak, yang dapat reversible dengan penanganan yang sesuai tetapi akan menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan segera. Henti jantung sering terjadi secara tiba-tiba tanpa gejala awal. Henti jantung dipicu oleh kerusakan listrik jantung yang menyebabkan tidak teraturnya detak jantung . Setelah terjadi henti jantung, seseorang akan mengalami henti napas dan menyebabkan hilangnya kesadaran. Kematian akan terjadi dalam beberapa menit jika tidak segera ditolong. (Irfani, 2. Penyebab dari kematian henti jantung diakibatkan karena penyakit jantung koroner, kardiomiopati dan juga akibat dari sindrom aritmia (Indonesi. Heart Association, 2. Kejadian henti jantung terjadi akibat hilangnya darah dan termasuk oksigen di dalam otot jantung karena terhambatnya arteri koroner oleh bekuan darah atau akibat kerja jantung dalam memompakan Penderita akan mengalami kehilangan kesadaran, pernapasan yang terhenti dan nadi tidak teraba. Jika disaat kejadian henti jantung dalam waktu lebih dari delapan menit tidak diketahui dan segera ditangani, maka terjadi kematian otak secara permanen dapat terjadi kematian (Hazinski et al. , 2. Kematian akan terjadi dalam beberapa menit jika tidak segera ditolong Kematian akibat kejadian henti jantung masih merupakan penyumbang terbesar kematian mendadak yang terjadi di dunia dalam tiga tahun terakhir ini (Tang. Zhao, & Tang, 2. dan Kematian ini bisa terus meningkat terutama di negara berkembang seiring dengan efek dari pola hidup, kejadian bencana dan (Nugroho & Muhammad, 2. Cardiac arrest dapat dipulihkan jika tertangani dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan defribilasi untuk mengembalikan denyut jantung normal. Kesempatan pasien untuk bertahan hidup berkurang 7 sampai 10 persen tiap menit yang berjalan tanpa RJP dan defribilasi. Sampai saat ini RJP merupakan penatalaksaan yang sangat vital dalam kasus henti jantung. American Heart Association menyebutkan bahwa kejadian henti jantung dapat terjadi dimana saja, penanganan RJP pada saat kejadian dapat membantu mengurangi risiko kematian. Henti jantung dapat sangat mematikan, namun ketika RJP dan defribilasi dapat diberikan secepatnya, dalam banyak kasus jantung dapat berdenyut kembali (American Heart Association, 2. Henti jantung dapat menyebabkan kurangnya distribusi oksigen di seluruh sel tubuh termasuk di otak dan jantung. Henti jantung memerlukan penanganan yang cepat dan tepat karena dapat menyebabkan kerusakan sel yang tidak dapat dihidupkan lagi (Indonesian Heart Association, 2. Kejadian henti jantung ini tentu tidak dapat dilepaskan dari peran tenaga kesehatan dalam upaya penanganannya. (Turangan. Samuel. Wellem Tenaga kesehatan di rumah sakit dituntut agar mampu melakukan basic life support (BLS) atau bantuan hidup dasar (BHD) dan advanced cardiac life support (ACLS) atau bantuan hidup jantung lanjut (BHJL) untuk mengurangi angka kematian akibat . ardiac Dengan meningkatkan tingkat survival penderita pada kasus henti jantung. Peran tenaga kesehatan dalam upaya penanganannya salah satunya Perawat merupakan garda terdepan dalam pemberian pelayanan kesehatan, perawat juga dituntut untuk selalu siap siaga ketika menghadapi berbagai macam kondisi termasuk kondisi henti (Roy Marthen. Tenaga keperawatan dituntut untuk meningkatkan keahliannya untuk tanggap dalam menghadapi menghadapi kejadian henti jantung. Intervensi keperawatan dasar untuk mengatasi henti jantung adalah seperti dengan melakukan Cardio Pulmonary Resusitation (CPR). Intervensi ini dapat mempertahankan aliran darah ke otak sehingga kematian otak permanen dapat dicegah (Hardisman, 2. Tindakan tersebut dilakukan oleh perawat sebagai pemberi perawatan pasien di rumah Perawat merupakan pemberi pelayanan kesehatan pertama pada pasien henti jantung dirumah sakit dan perawat memiliki peran yang penting baik dalam melakukan Cardio Pulmonary Resusitation (CPR) maupun (Darwati et al. , 2. Penelitian Tonsisius, et al (Studi et al. , 2. Studi Fenomenologi tentang pengalaman perawat dalam penanganan cardiac arrest. Hasil penelitian ini mengungkapkan 4 tema yaitu: . Pengetahuan Perawat meliputi defenisi, penyebab, tanda dan gejala cardiac . Tindakan penanganan cardiac arrest meliputi pegkajian awal, tindakan RJP, evaluasi tindakan RJP . Faktor pendukung meliputi pengetahuan perawat, sarana pendukung, faktor kesiapan perawat. faktor peghambat dalam melakukan tindakan penanganan cardiac arrest meliputi hambatan sarana dan prasarana, pasien dan faktor keluarga. Penelitian ini merekomendasikan agar dapat menjadi bahan masukan bagi perawat untuk peningkatan pengetahuan dan kompetensi tentang penanganan cardiac arrest sehingga menurunkan angka kematian otak dan kematian permanen. Penelitian Setyorini . , terdapat hubungan keterampilan dalam melaksanakan resusitasi jantung paru. Hal ini sejalan dengan penelitian Hasanah . yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan keterampilan perawat. Pengetahuan merupakan hal yang diperlukan bagi perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan. Menurut Amalia kecenderungan bahwa tingkat pendidikan dan pelatihan memberi efek positif dengan pengetahuan perawat. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa perawat yang memiliki pendidikan dan pelatihan lebih tinggi memiliki pengetahuan yang lebih baik. (Turangan. Samuel. Wellem et al. , 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di RS Cibitung Medika, dari data rekam medic bulan januari-desember tahun 2022 jumlah pasien yang dirawat dengan masalah kardiovaskular sebanyak 648 kasus dan selama perawatan dengan kasus henti jantung/. ardiac arres. sebanyak 53 kasus pada periode tahun tersebut. Hasil survey juga didapati jadwal perawat yang berdinas di rawat inap dengan menggunakan system rolling setiap 6 bulan sekali dan perawat yang memiliki pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) belum semua mengikuti serta pelatihan basic trauma cardiac and life support (BTCLS) hanya diwajibkan bagi perawat yang berdinas di ICU. IGD dan Kamar Operasi. Hal ini menuntut perawat untuk memiliki pengetahuan yang mendukung perawat dalam menghadapi setiap keadaan yang terjadi di masing- masing ruangan tersebut. Maka dari data tersebut peneliti ingin mengetaui lebih lanjut tentang AuHubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Penatalaksanaan Henti Jantung/(Cardiac arres. di RS Cibitung MedikaAy METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan crossectional yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran/observasi independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. (Nursalam, 2. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat rawat inap,IGD dan poliklinik yang bekerja di RS Cibitung Medika sebanyak 104 Sampel pada penelitian ini merupakan perawat sebanyak 83 responden di Rumah Sakit Cibitung Medika yang memenuhi kriteria inklusi Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive Non probability sampling adalah pemilihan sampel yang tidak dilakukan secara Purposive sampling adalah suatu metode dalam pemilihan sampel yang dilakukan berdasarkan maksud atau tujuan tertentu yang dilakukan oleh peneliti Instrumen penelitian berupa kuesioner berisi pernyataan tentang tingkat pengetahuan perawat dengan penatalaksanaan henti jantung . ardiac arres. yang disusun sendiri dari konsep teori henti jantung dan berdasarkan SPO yang kemudian dimodifikasi oleh peneliti. METODE PENELITIAN Bagian ini menjelaskan jenis metode . ualitatif, kuatitatif atau mixed-metho. disertai rincian metode pengumpulan data dan metode analisis data yang digunakan. Bagian ini juga dapat menjelaskan perspektif yang mendasari pemilihan metode tertentu. Metode Pengumpulan Data Menjelaskan metode pengumpulan data yang digunakan, misalnya survei, observasi atau arsip, disertai rincian penggunaan metode Bagian ini juga dapat menjelaskan populasi, sampel dan metode pemilihan HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Umum Responden Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pendidikan Keperawatan <6 Tahun 6-10 Tahun >10 Tahun Tidak Update Update Profes Karakteristi Lama Kerja Pelatihan i Ners Hasil data Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Henti Jantung/Cardiac arrest Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Henti Jantung/Cardiac arrest Di Rumah Sakit Cibitung Medika Kabupaten Bekasi Tahun 2023. Variabel Tingkat Pengetahuan Kategori Frekuensi Persentasi (%) Kurang Cukup Baik Total Hasil data Penyembuhan Luka ibu Post Sectio Caesarea Tabel 4. 3 Distribusi Frekuensi Perawat Dalam Penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac arrest Di Rumah Sakit Cibitung Medika Kabupaten Bekasi Tahun 2023. Variabel Penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac Frekuensi Persentasi (%) Terampil Total Kategori Kurang Terampil Cukup Terampil Responden Di Rumah Sakit Cibitung Medika Kabupaten Variabel Usia Kategori Frekuens Persentas i (%) 21-25 Tahun 26-30 Tahun 31-35 Tahun Berdasarkan tabel 4. 1 diatas dapat . %), menunjukan bahwa paling banyak 43 responden . ,8%) usia responden dalam usia Au26-30 tahunAy. Berdasarkan tabel 4. 1 diatas dapat . %), menunjukan bahwa paling banyak 45 responden . ,8%) pendidikan responden dalam kategori AuProfesi NersAy. Berdasarkan tabel 4. 1 diatas dapat diketahui dari 83 responden . %), menunjukan bahwa paling banyak 38 responden . ,8%) lama kerja dalam kategori Au6-10 TahunAy. Berdasarkan tabel 4. 1 diatas dapat diketahui dari 83 responden . %), menunjukan bahwa paling banyak 55 responden . ,3%) pelatihan AuUpdateAy. Berdasarkan tabel 4. 2 diatas dapat diketahui dari 83 responden . %), menunjukan bahwa paling banyak 45 responden . ,2%) tingkat AuBaikAy. Berdasarkan tabel 4. 3 diatas dapat diketahui dari 83 responden . %), menunjukan bahwa . ,2%) penatalaksanaan henti jantung dalam kategori AuTerampilAy. dalam kategori AuTerampilAy. Tabel 4. 4 Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac arrest Di RS Cibitung Medika Penatalaksanaan Tingk Penge Kura Cukup N % Teramp Total N % N % Kuran Cukup Baik Total PVa Berdasarkan tabel 4. 4 diatas dapat diketahui dari 83 responden . %) paling banyak responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 45 responden ,2%) penatalaksanaan terampil. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti Di Rumah Sakit Cibitung Medika Bekasi Tahun denganmenggunakan SPSS VERSI 26 didapatkan hasil uji statistik Chi Square yaitu diperoleh nilai Asymp Signifikansi . < nilai . , hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak dan hasil output uji statistik Chi Square diperoleh nilai x2 hitung . > x2 tabel . , hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan dengan penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac arrest di RS Cibitung Medika 2023. PEMBAHASAN Distribusi Karakteristik Perawat Di RS Cibitung Medika Hasil dari penelitian di dapat ini dari 83 responden . %) ada sebanyak 43 responden . ,8%) dalam rentang usia Au26-30 tahunAy. Peneliti berasumsi bahwa pada usia 26-30 tahun masuk dalam dewasa muda, seorang perawat akan menjadi terpacu dan siap dalam menangani cardiac arrest. Responden dalam penelitian ini memiliki kemampuan berfikir kritis dan mampu untuk bersaing baik secara mental, kemampuan motorik, pemahaman dalam analogis dan sebagainya, sehingga dapat memberikan suatu asuhan keperawatan yang maksimal kepada setiap pasiennya, hal ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan (Sitorus et al. , 2. kemampuan kerja, tanggung jawab dan cenderung absens. Sebaliknya, karyawan yang umurnya lebih tua kondisi fisiknya kurang, tetapi bekerja ulet, dan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Dari hasil penelitian di dapatkan 45 responden . ,8%) pendidikan responden dalam kategori AuProfesi NersAy. Peneliti mempunyai tingkat pendidikan tinggi akan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam bidang keperawatan, lebih mudah memahami tentang penanganan cardiac arrest sehingga perawat termotivasi dan berusaha untuk menampilkan kinerja lebih baik. Sedangkan pada tingkat pendidikan rendah yang menyebabkan ketidaksiapan dalam menangani cardiac arrest yaitu kurangnya pengetahuan, pengalaman sehingga akan mempengaruhi kesiapan dalam menangani pasien. Dari penelitian ini ada pendidikan D3 Keperawatan sebanyak 38 responden . ,8%) hal ini menunjukan tidak sedikit perawat yang berpendidikan D3 keperawatan. Peneliti berpendapat sebagian besar responden yang berpendidikan D-i disebabkan oleh kurangnya dukungan seperti biaya dan masa kerja. Pendidikan responden sangat mempengerahui kualitas dalam kinerja seseorang lebih penatalaksanaan cardiac arrest. Hasil (Muthmainnah, 2. menunjukkan sebagian besar perawat yang tingkat pendidikan S1 mengenai Profesi memiliki Kepercayaan diri tinggi karena penanganannya. perawat dengan tingkat pendidikan yang lebih Dari hasil penelitian di dapatkan tinggi cenderung memiliki kemampuan klinis sebanyak 55 responden . ,3%) pelatihan yang lebih baik, pengetahuan yang lebih luas, responden dalam kategori AuUpdateAy. Penelitin dan keterampilan yang lebih terampil. Namun berasumsi pelatihan dapat menjadi media demikian, tingkat pendidikan perawat bukanlah informasi mengenai perkembangan suatu hal. satu-satunya harus Informasi merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan kriteria dapat meningkatkan pengetahuan. Hal ini perawat tepatnya di ruang Instalasi Gawat sejalan dengan penelitian (Rahmawati et al. Darurat (IGD) Keterampilan klinis, 2. Pelatihan adalah rangkaian kegiatan kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan bekerja dalam tim. keahlian secara terstruktur hingga memiliki Dari hasil penelitian di dapatkan sebanyak kinerja yang profesional di bidangnya. Dalam 38 responden . ,8%) lama kerja dalam hal meningkatkan keterampilan perawat dalam kategori Au6- 10 TahunAy. Peneliti berasumsi tindakan resusitasi jantung paru, jenis pelatihan bahwa makin lama responden bekerja, maka yang dapat di ikuti oleh perawat diantaranya makin banyak pengalaman yang dimiliki oleh adalah pelatihan BLS. BT&CLS, serta ATLS. Sebaliknya, responden yang Perawat yang telah mengikuti pelatihan bekerja di bawah usia 6 tahun masih sedikit tersebut akan mendapatkan sertifikat keahlian pengalaman yang diperoleh, dalam hasil mampu melakukan tindakan RJP dengan penelitian di dapatkan 18 responden . ,0%) berkualitas, namun pelatihan pelatihan tersebut lama kerja 6-10 tahun memiliki pelaksanaan harus di update setiap lima tahun sekali. yang terampil. Hal ini sejalan dengan penelitian Seseorang yang telah melakukan update Ouyang, . di kutip dari jurnal (Fitriandari pelatihan akan menambahkan wawasan et al. , 2. penelitian menunjukkan bahwa responden terbanyak adalah yang telah kerjanya, tidak hanya berdasarkan Pendidikan bekerja Ou5 tahun 18 responden . ,1%). dan lama kerja nya saja. Hal ini bisa di lihat dari Pengalaman bekerja banyak memberikan hasil penelitian bahwa responden yang memiliki Pendidikan D3 Keperawatan sebanyak 22 keahlian, keterampilan dan kesiapan kerja. ,5%) Semakin lama perawat bekerja maka akan penatalaksanaan cardiac arrest , dan untuk semakin baik kualitas dalam asuhan Profesi Ners sebanyak 23 responden . ,7%) Pengalaman bekerja akan %) terampil dalam penatalaksanaan cardiac meningkatkan keahlian dan keterampilan arrest, hal tersebut dapat di lihat bahwa seseorang dalam bekerja, dengan waktu perbedaan yang tidak terlalu mendominasi selama itu pengetahuan perawat dan pada profesi ners. Sehingga ada faktor lain yang menyebabkan D3 Keperawatan memiliki bervariasinya kasus yang ditangani. Lama penatalaksanaan terampil yaitu di antaranya bekerja seseorang akan menentukan banyak adalah updatenya pelatihan yang di dapat kan pengalaman yang didapatkannya. Sependapat hasil olahdata di mana responden yang dengan peneliti (Turangan. Samuel. Wellem et memiliki Pendidikan D3 keperawatan sebanyak , 2. pengalaman menjadi salah satu 32 responden telah update dan profesi ners faktor yang mempengaruhi pengetahuan, sebanyak 23 responden telah update. bahwa semakin tua seseorang maka semakin Distribusi Frekuensi Tingkat banyak pengalaman yang Pengetahuan Perawat Di RS Cibitung Pengalaman juga bisa di perkuat dengan Medika adanya pelatihan tentang BTCLS dari hasil Hasil penelitian yang di lakukan di penelitian yang diproleh bahwa sebanyal 19 dapatkan dari . %), responden . ,9%) yang memiliki pengalaman menunjukan bahwa kerja sudah melakukan pelatihan yang update paling banyak 45 responden . ,2%) tingkat sehingga lamanya kerja perawat bukan menjadi faktor utama untuk penatalaksanaan pengetahuan dalam kategori AuBaikAy. Peneliti cardiac arrest yang baik. Peneliti berasumsi bahwa responden telah bergantung pada tingkat pengetahuan dan sering terlibat dalam pertolongan pada klien Sebagai salah satu first cardiac arrest. Semakin sering responden responder, tidak hanya mengenali pasien yang terlibat dalam pertolongan klien cardiac memerlukan tindakan segera tapi seorang arrest, dapat menambah pengetahuan klien perawat juga dituntut untuk melakukan intervensi awal dalam menangani kasus henti nafas dan Usia dan masa kerja juga akan henti jantung. Adapun faktor- faktor yang dapat mempengaruhi keterampilan seseorang dalam meningkatkan pengetahuan perawat bisa dari melakukan penanganan sebagai first responden, lama masa kerja, pendidikan, dan pelatihan yang semakin matang usia seseorang dan semakin lama masa kerja seseorang maka akan semakin Pengetahuan sangat berhubungan erat sering terpapar/ melakukan RJP pada pasien henti dengan kesiapan. Sebagai contoh dalam kondisi jantung sehingga penanganannya akan semakin seseorang menghadapi pasien cardiac arrest, agar baik (Victoria et al. , 2. seseorang tersebut mampu mengambil keputusan terhadap apa yang akan dilakukan, maka Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat responden harus mempunyai pengetahuan tentang Dengan PenatalaksanaanHenti cardiac arrest yaitu pada tingkat evaluasi yang Jantung/Cardiac arrest merupakan tingkatan tertinggi dari pengetahuan. Sedangkan responden yang berpengetahuan Hasil penelitian yang telah di lakukan kurang kemungkinan besar takut untuk mengambil di dapatkan paling dari sebanyak 83 responden . %) sebanyak 45 responden pengetahuan dalam penanganan cardiac arrest. ,2%) tingkat pengetahuan baik dengan Tidak hanya pengetahuan baik ada juga 7 penatalaksanaan terampil. ,4%) memiliki pengetahuan yang Hasil dari penelitian ini berasumsi kurang, hal ini sejalan dengan penelitian (Victoria et bahwa pengetahuan adalah proses dari , 2. hal ini dimungkinkan ada beberapa faktor pengetahuan seseorang yang didapatkan yang dapat mempengaruhi antara lain seperti dari suatu panca indra. Ada beberapa hal pendidikan, pengalaman, ketersediaan yang bisa memberikan pengaruh terhadap fasilitas dan sarana prasarana ataupun minat dan pengetahuan tersebut misalnya pendidikan, paparan informasi yang didapatkan. budaya, dan informasi. Pengetahuan itu Distribusi Penatalaksanaan Henti Jantung sendiri dapat menjadi suatu hal yang sangat / Cardiac arrest Perawat Di RS Cibitung Medika mendukung bagi seorang perawat dalam Hasil dari penelitian yang telah di lakukan di pekerjaanya dan juga bisa membantu dapatkan 83 responden . %), menunjukan meningkatkan kinerja perawat dalam bahwa paling banyak 45 responden . ,2%) Pengetahuan penatalaksanaan henti jantung dalam kategori tentang BHD adalah hal paling utama yang AuterampilAy. Peneliti berasumsi bahwa faktor- faktor harus dipahami juga dikuasai oleh perawat yang dapat meningkatkan kualitas penanganan sebelum melakukan suatu tindakan, karena henti jantung seperti pengetahuan dan karakteristik sebagai penunjang perannya sebagai yang di miliki seseorang perawat. Pengetahuan provider kesehatan yang profesional. seorang perawat dengan pelaksanaan bantuan Pada penelitian ini mendapatkan hasil hidup dasar (BHD) yang dilakukannya. Pada jika sebagian besar dari responden sudah penelitian ini instrumen pengetahuan dalam bisa menjawab pertanyaan yang diajukan pelaksanaan BHD yang sudah dijawab oleh responden antara lain mencakup pertanyaan peneliti, dengan hasil skor terendah 5 dan tentang tindakan dari BHD, indikasi dilakukannya skor tertinggi 12, yang di ketahui dari 12 BHD, tujuan BHD, algoritma BHD, pengetahuan item/atau membuka jalan nafas, cara melakukan resusitasi pelaksanaan/alur henti napas. Berdasarkan jantung paru, kedalaman melakukan resusitasi hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti jantung paru (RJP), kecepatan kompresi, high Di Rumah Sakit Cibitung Medika Bekasi quality RJP, dan pemberian ventilasi. Pada Tahun 2023 hasil pengolahan data dengan penelitian ini pertanyaan yang diajukan ke menggunakan SPSS VERSI 26 didapatkan responden berkaitan dengan pengetahuan BHD hasil uji statistik Chi Square yaitu diperoleh nilai Asymp Signifikansi . < nilai penatalaksanaan Cardiac arrest . Asumsi peneliti . , hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan dan hasil output uji statistik Chi Square Damai . pengetahuan perawat juga akan mempengaruhi diperoleh nilai x2 hitung . > x2 ketrampilan/keahliannya dimana seorang perawat tabel . , hal ini menunjukan bahwa H0 dituntut untuk mengenali pasien yang memerlukan Dengan tindakan segera dan memerlukan intervensi awal disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat dalam menagani kasus henti nafas dan henti pengetahuan dengan penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac arrest di RS Cibitung Medika 2023. Pada penelitian ini pertanyaan yang diajukan ke responden berkaitan dengan pengetahuan BHD ada sebanyak 12 item tentang BHD, namun pada pelaksanaannya masih ada beberapa responden yang masih salah dalam mengatakan jika retensi pelaksanaan bantuan hidup dasar itu umumnya rendah, khususnya terjadi pada bagian kompresi dada dan rescue breathing. Pada penelitian (Maulidah, 2. juga menyatakan hampir sebagian respondenya tidak melaksanakan pemberian ventilasi secara efektif hal ini disebabkan karena rendahnya melaksanakan BHD. Kebutuhan oksigen pada proses metabolisme akan terjadinya penurunan besar pada saat seseorang mengalami henti jantung dan selama dilakukannya CPR. High quality CPR merupakan langkah yang harus diperhatikan oleh seorang penolong demi mencegah kerugian yang akan terjadi pada saat pelaksanaan BHD. Dalam melakukan CPR teknik yang dipergunakan haruslah benar, apabila tidak benar maka usaha yang dilakukan akan menjadi sia- sia. Selain itu, langkah-langkah dalam melaksanakan BHD haruslah tepat. Peneliti berasumsi bahwa Pengetahuan sangat berhubungan erat dengan kesiapan. Sebagai contoh dalam kondisi seseorang menghadapi pasien cardiac arrest, agar seseorang tersebut mampu mengambil keputusan terhadap apa yang akan dilakukan, maka responden harus mempunyai pengetahuan tentang cardiac arrest yaitu pada tingkat evaluasi yang merupakan tingkatan tertinggi dari pengetahuan. Sedangkan responden yang berpengetahuan kurang kemungkinan besar takut untuk mengambil keputusan, tindakan karena kurangnya pengetahuan dalam penanganan cardiac arrest. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mairuhu et al . yang menyatakan bahwa pengetahuan memiliki hubungan terhadap keterampilan perawat dalam tindakan resusitasi jantung paru. Resusitasi jantung paru adalah salah satu pengetahuan ataupun keterampilan dasar yang harus dimiliki seorang perawat untuk membantu perannya sebagai provider kesehatan yang profesional. Pengetahuan perawat bisa menentukan kualitas dari pelayanan yang diberikan, semakin tinggi pengetahuan, pelayanan yang akan diberikan akan semakin berkualitas dan begitupun sebaliknya (Rahmawati et al. , 2. menjawab kuesioner terkait dengan pertanyaan pada bagian high quality CPR, pemberian ventilasi dan proses pelaksanaan CPR tersebut. Kesalahan dalam menjawab pertanyaan tersebut sesuai pada hasil riset yang dilakukan oleh spooner et al . Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Riatmoko, 2. dari 40 responden . %) di dapatkan sebanyak 18 responden . ,7%) pengetahuan baik memiliki keterampilan penanganan cardiac arrest terampil, sebanyak 1 responden . ,3%) tidak terampil. Sebanyak 7 responden . ,2%) pengetahuan cukup memiliki keterampilan penanganan cardiac arrest terampil, sebanyak 10 responden tidak Sebanyak 4 responden . %) pengetahuan kurang memiliki penanganan cardiac arrest tidak terampil . Hasil penelitiam (Kunci & Medik, 2. menunjukkan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai P. 0,003 value< 0,. yang berarti ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat terhadap tatalaksana cardiac arrest di Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi. Sehingga dapat di simpulkan adanya penatalaksanaan henti jantung, semakin tinggi pengetahuan tentang henti jantung maka semakin baik penatalaksanaan henti jantung dan sebaliknya KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian ini memiliki berbagai keterbatasan maupun kelemahan yang akan dijelaskan sebagai berikut : Dalam keterbatasan penelitian di antaranya membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil penelitian karena kueisoner/lembar menyesuaikan waktu luang responden lebih tepatnya pada IGD Peneliti harus membagi waktu yang efektif untuk menyelesaikan penelitian KESIMPULAN Berdasarkan sebelumnya, maka hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai AuHubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac arrest di RS Cibitung Medika 2023Ay, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai beritkut : Distribusi frekuensi karakteristik usia. Jumlah Tertinggi Dengan Kategori usia 26-30 tahun. Distribusi frekuensi karakteristik lama Jumlah Tertinggi Dengan Kategori lama kerja 6-10 Tahun. Distribusi Pendidikan. Jumlah Tertinggi Dengan Kategori profesi ners. Distribusi pelatihan. Jumlah Tertinggi Dengan Kategori Terupdate. Distribusi responden di RS Cibitung Medika 2023. Jumlah Tertinggi Dengan Kategori baik. Distribusi Frekuensi penetalaksanaan henti jantung/cardiac arrest di RS Cibitung Medika 2023. Jumlah tertinggi dengan kategori baik. Hasil dari Analisa korelasi di dapatkan Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Penatalaksanaan Henti Jantung/Cardiac arrest di RS Cibitung Medika 2023. SARAN Bagi peneliti Kajian mengenai henti jantung/cardiac arrest ini menarik untuk diteliti karena erat kaitannya dengan bidang keperawatan gawat darurat. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar meneliti dengan skala yang lebih luas dan meneliti faktor-faktor lain dari variabel yang di teliti. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan ilmiah dan teoritis, sebagai sumber materi untuk mengadakan seminar jantung/cardiac arrest STIKes Medistra Indonesia pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa/I STIKES Medistra Indonesia mengahadapi lapangan kerja lebih tepatnya di layanan Kegawat Daruratan. Bagi Rumah Sakit Cibitung Medika Peneliti menyarankan untuk meningkatkan kegawatdaruratan dan memotivasi karyawan sehingga dapat meningkatankan kualitas penanganan henti jantung yang di peroleh dari kegiatan pelatihan kegawatdaruratan, serta memperbaharui ilmu kegawatduratan. DAFTAR PUSTAKA