Original Research Paper Perkembangan Anatomis dan Kajian Histokimia Ovulum Steril Melinjo (Gnetum gnemon L. Anatomical Development and Histochemical Study of Steril Ovule Melinjo (Gnetum gnemon L. Wanda Aulia Pamungkas1, *. Siti Susanti2 Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada . Yogyakarta . Indonesia. *Corresponding Author:wandaaulia2019@mail. Abstrak: Melinjo (Gnetum gnemon L. ) merupakan tanaman yang tumbuh dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tanaman ini banyak dibudidayakan karena bernilai ekonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan anatomis ovulum steril melinjo pada bagian ujung, tengah, dan pangkal strobilus betina dan mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder pada ovulum steril melinjo. Bahan yang digunakan adalah ovulum steril melinjo bagian ujung, tengah, dan pangkal strobilus betina. Pada pengamatan perkembangan anatomis ovulum steril melinjo dibuat preparat dengan metode paraffin, pewarnaan tunggal, dan diamati dengan Data anatomi ovulum dianalisis secara deskriptif. Pengamatan kandungan metabolit sekunder dilakukan melalui uji histokimia, kemudian diamati dengan mikroskop cahaya dan hasil pengamatan didokumentasikan menggunakan OptiLab. Hasil pengamatan perkembangan anatomis diketahui bahwa pada umur ovulum steril melinjo yang berbeda terdapat perbedaan struktural pada jaringan penyusunnya, semakin dewasa ovulum steril melinjo, jaringan penyusunnya semakin terdegredasi. Hasil pengamatan uji histokimia menunjukkan bahwa ovulum steril melinjo mengandung senyawa metabolit sekunder fenol, flavonoid, terpenoid, tanin, dan alkaloid. Kata kunci: histokimia. metode paraffin. ovulum steril. Abstract: In this section, the abstract must be written in English. Melinjo (Gnetum gnemon L. ) is a plant that grows and spreads throughout Indonesia. This plant is widely cultivated because of its economic value. The purpose of this study was to determine the anatomical development of sterile melinjo ovule at the tip, middle and base of the female strobili and to determine the content of secondary metabolites in melinjo sterile ovule. The material used is sterile ovulum melinjo at the tip, middle and base of the female strobilus. In observing the anatomical development of sterile melinjo ovule, preparations were made using the paraffin method, single staining, and observed under a microscope. The anatomical data of the sterile ovule were analyzed descriptively. Observation of secondary metabolite content was carried out through histochemical tests, then observed with a light microscope and the results of the observations were documented using OptiLab. The results of observing anatomical development show that at different ages of melinjo sterile ovule there are structural differences in the constituent tissues. The results of observations on anatomical development show that at different ages the melinjo sterile ovule has structural differences in its constituent tissue, the more mature the melinjo sterile ovule, the constituent tissue is increasingly degraded. Histochemical test results showed that the sterile melinjo ovule contained secondary metabolites of phenols, flavonoids, terpenoids, tannins, and alkaloids. Keywords: histochemical. paraffin method. sterile ovule Dikumpulkan:30 November 2022 Direvisi:15 Juni 2023 Diterima: 28 Agustus 2024 Dipublikasi: 30 Agustus 2024 A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 110 Ae 127 DOI: http://dx. org/10. Pendahuluan Melinjo termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh sepanjang tahun atau biasa disebut tumbuhan perennial (Barua et al. , 2. Sebagian besar bagian tumbuhan melinjo bermanfaat bagi manusia, mulai dari batang, daun, bunga, dan biji. Spesies ini dikenal kaya akan turunan resveratrol. Seperti halnya ekstrak buah dan biji telah dilaporkan menunjukkan beberapa aktivitas farmakologis. Di beberapa wilayah di Indonesia tumbuhan melinjo dibudidayakan, untuk diolah menjadi produk olahan makanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi guna meningkatkan pendapatan. Sebagai contoh melinjo biasa diolah menjadi emping karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi (Aliudin dan Dian, 2. Melinjo merupakan salah satu contoh anggota Gymnospermae atau kelompok tumbuhan berbiji Gymnospermae umumnya bersifat heterospora, memiliki biji, dan memiliki arkegonia yang nyata secara struktural dan Namun pada Gymnospermae tidak contohnya pada genus Gnetum. Welwitschia, dan Sequoia. Biji pada anggota Gymnospermae seperti halnya pada melinjo proses pembentukan dan perkembangannya berada di dalam ovulum atau bakal biji. Melinjo memiliki dua macam jenis ovulum yaitu ovulum fertil dan steril. Ovulum fertil akan tumbuh dan berkembang Ovulum perkembangannya akan gugur. Struktur anatomis ovulum steril melinjo kemungkinan berbeda dengan struktur ovulum pada umumnya . Hal ini dikarenakan struktur anatomi ovulum steril pada beberapa spesies menunjukkan struktur yang berbeda antara ovulum steril dan fertil. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Haddad et al. yang mengamati struktur ovulum steril pada Maytenus obtusifolia menunjukkan bahwa struktur ovulum steril memiliki integumen yang mengalami degenerasi dengan lapisan parenkim yang rusak, dan tanpa diferensiasi endotelium. Penelitian yang dilakukan oleh Fu et al. pada ovule sterile Brassica napus juga menunjukkan bahwa struktur integumen luar ovulum steril Brassica napus tidak berkembang. Tumbuhan melinjo memiliki berbagai senyawa metabolit sekunder terutama pada bagian biji dan daunnya yang mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin (Mukhlish, 2014. Tanamal dkk. , 2. Keberadaan senyawa aktif yang tersimpan dalam jaringan sekretori pada diamati menggunakan metode Metode histokimia merupakan metode yang penting dalam proses analisis dan identifikasi beberapa senyawa metabolit dan juga untuk menentukan tempat disintesisnya masingmasing senyawa metabolit tersebut (Dubey and Trivedi 2012. Yadav et al. , 2. Pemanfaatan melinjo khususnya pada bagian ovulum steril melinjo belum banyak dilakukan dan hanya sebatas dimanfaatkan sebagai bahan Oleh karena itu, penelitian mengenai perkembangan anatomis dan kajian histokimia ovulum steril melinjo ini dilakukan sehingga perkembangan anatomis ovulum steril melinjo pada setiap fase perkembangannya dan kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ovulum steril melinjo, sehingga dapat memudahkan pemanfaatan kedepannya dan dapat bernilai ekonomis yang lebih tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan dua metode yaitu metode embedding/paraffin dan histokimia. Pada pengamatan perkembangan anatomis ovulum steril melinjo dilakukan dengan membuat preparat awetan dengan metode parafin menurut Sass . , pewarnaan tunggal, dan diamati dengan mikroskop. Pengamatan kandungan metabolit sekunder dilakukan melalui uji histokimia, kemudian diamati dengan mikroskop cahaya dan hasil pengamatan didokumentasikan menggunakan OptiLab. Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai bulan Juli - Oktober 2022, di Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Fak. ultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain botol flakon, pinset, jarum preparat, pipet tetes, kuas, cawan petri, scalpel, gelas benda, gelas penutup, silet, gelas ukur, oven, mikrotom putar, hot plate, staining jar, botol-botol penyimpan larutan dan reagent, mikroskop cahaya, dan optilab. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ovulum steril melinjo yang diperoleh dari pohon A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 110 Ae 127 DOI: http://dx. org/10. melinjo di Desa Jetis. Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo. Provinsi Jawa Tengah dan beberapa larutan untuk mengamati perkembangan anatomis ovulum steril melinjo dan untuk melakukan uji histokimia. Bahan larutan yang digunakan untuk mengamati perkembangan anatomis ovulum steril melinjo yaitu alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol 95%, alkohol 100%, larutan fiksatif FAA . erdiri dari campuran formalin 5 ml, asam asetat glasial 5 ml, dan alkohol 70% 90 m. , larutan xilol, parafin. Kanada balsam, safranin 1% dalam alkohol 70%. Bahan kimia yang digunakan untuk uji histokimia yaitu larutan 10% FeCl3, larutan 5 % CuSO4, larutan 5% NaOH, larutan K2CrO4, dan reagen Dragendorff. Cara Kerja Pembuatan Preparat Anatomis Ovulum Steril Melinjo Menurut Sass . Sampel ovulum steril dimasukkan ke dalam botol flakon. Diisi dengan larutan fiksatif (FAA). Fiksasi dilakukan selama 24 jam dalam suhu ruang. Pada hari kedua dilakukan pencucian dan dehidrasi terhadap Setelah 24 jam larutan FAA dibuang lalu diganti alkohol dengan konsentrasi bertingkat, yaitu alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol 95%, alkohol 100% I, dan alkohol 100% IImasingmasing selama 30 menit. Dehidrasi selesai dilanjutkan proses dealkoholisasi. Sampel ovulum dipindahkan ke dalam larutan alkoholxilol berturut-turut dengan perbandingan alkohol-xilol 3:1, 1:1, 1:3, xilol I, xilol II masingmasing selama 30 menit. Sampel ovulum dimasukkan ke dalam campuran xilol:parafin 1:9 selama 24 jam di dalam oven dengan temperatur 570 C. Pada hari ketiga campuran xilol/paraffin dibuang diganti dengan parafin murni. Dilakukan inkubasi selama 24 jam pada temperatur 570 C. Pada hari ke empat parafin yang telah digunakan dibuang dan digantidengan parafin murni yang Setelah A 1 jam dibuat balok. Sampel ovulum ditanam dalam kotak karton yang berisi parafin cair, dan diaturposisinya sehingga tepat berada di tengah dan terselubungi oleh parafin dan dibiarkan membeku. Pada hari ke lima parafin dilepaskan dari kotak karton, dilakukan pemotongan dengan hati-hati. Ditempel pada kayu . menurut arah sayatan dan sebagian blok parafin dicairkandengan sklalpel yang telah Blok parafin yang berisi ovulum dipotong menggunakan mikrotom putar . otary microto. dengan tebal irisan A 8 m. Hasil potongan direkatkan pada gelas benda yang telah diolesi dengan campuran albumin:gliserin . dan ditetesi air. Gelas benda diletakkan diatas hot plate sampai pita parafin merenggang. Pada hari ke enam setelah pita parafin merenggang dilakukan deparafinisasi dengan cara gelas benda yang berisi pita parafin direndamdalam staining jar secara bertingkat dengan larutan xilol I, xilol II, alkohol:xilol . , alkohol:xilol. , alkohol:xilol . , alkohol 100% I, alkohol 100% II, alkohol 95%, alkohol 80%, dan alkohol 70% masing-masing selama 3 menit. Setelah itu gelas benda dimasukkan ke dalam pewarna safranin 1% dalam alkohol 70% selama 1 jam. Dehidrasi dilakukan secara bertingkat dengan alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol95%, alkohol 100 % I, dan alkohol 100% II masing-masing diinkubasi selama 1 menit. Dealkoholisasi dilakukan secara alkohol:xilol . , alkohol:xilol . , alkohol:xilol . , xilol I, dan xilol II masing-masing diinkubasi selama 1 Irisan ovulum ditetesiKanada balsam dan ditutup dengan gelas penutup. Preparat dikeringkandi atas hot plate dengan temperatur 450 C hingga kanada balsam kering. Di bagian kiri gelas penutup dilekatkan etiket dan diberi Pengamatan Perkembangan Anatomis Ovulum Steril Melinjo Preparat ovulum steril melinjo yang telah dibuat dengan metode parafin diamati dengan digunakan mikroskop cahaya. Pengamatan dilakukan untuk melihat perkembangan anatomi ovulum steril. Perkembangan anatomi ovulum steril difoto dengan Optilab. Uji Histokimia Ovulum Steril Melinjo Uji Histokimia dilakukan dengan membuat preparat segar ovulum steril melinjo yang dipotong melintang menggunakan silet. Setiap potongan melintang diuji menggunakan berbagai reagen untuk masing-masing golongan senyawa metabolit sekunder, yaitu sebagai berikut : Fenol Ovulum steril melinjo dipotong secara melintang dengan menggunakan silet. Potongan melintang ovulum steril melinjo diletakkan pada gelas benda, lalu diberi satu tetes larutan K2CrO4. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu ditutup dengan gelas benda dan didiamkan selama 15 menit. Selanjutnya diamati menggunakan mikroskop dan didokumentasikan A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 110 Ae 127 DOI: http://dx. org/10. dengan Optilab. Hasil uji positif ditandai dengan warna kuning kecoklatan (Badria and Aboelmaaty, 2020. Linggawati et al. , 2. Terpenoid Ovulum steril melinjo dipotong secara melintang dengan menggunakan silet. Potongan melintang ovulum steril melinjo diletakkan pada gelas benda, lalu diberi satu tetes larutan 5 % CuSO4. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu ditutup dengan gelas benda dan didiamkan selama 15 menit. Selanjutnya diamati menggunakan mikroskop dan didokumentasikan dengan Optilab. Hasil uji positif ditandai dengan warna kuning hingga kuning kecoklatan (Andriya, 2016. Rahayu dkk. , 2021. Linggawati et al. , 2. Flavonoid Ovulum steril melinjo dipotong secara melintang dengan menggunakan silet. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu diletakkan pada gelas benda, lalu diberi satu tetes larutan 5% NaOH. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu ditutup dengan gelas benda dan didiamkan selama 15 menit. Selanjutnya diamati menggunakan mikroskop dan didokumentasikan dengan Optilab. Hasil uji positif ditandai dengan warna kuning (Badria and Walaa, 2. Alkaloid Ovulum steril melinjo dipotong secara melintang dengan menggunakan silet. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu diletakkan pada gelas benda, lalu diberi satu tetes larutan Dragendorf. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu ditutup dengan gelas benda dan didiamkan selama 5 menit. Selanjutnya diamati menggunakan mikroskop dan didokumentasikan dengan Optilab. Hasil uji positif ditandai dengan warna jingga-coklat (Rismawati dkk. , 2. Tanin Ovulum steril melinjo dipotong secara melintang dengan menggunakan silet. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu diletakkan pada gelas benda, lalu diberi satu tetes larutan 10% FeCl3. Potongan melintang ovulum steril melinjo lalu ditutup dengan gelas benda dan didiamkan selama 15 menit. Selanjutnya diamati menggunakan mikroskop dan didokumentasikan dengan Optilab. Hasil uji positif ditandai dengan warna hijau, biru tua atau hitam jika positif tanin (SaAoadah 2010. Sari dkk. , 2. Hasil dan Pembahasan Morfologi Ovulum Melinjo Bunga betina melinjo tersusun dalam strobilus dengan jumlah ovulum steril yang lebih besar dibandingkan ovulum fertil. Bunga betina melinjo memiliki bentuk yang memanjang dan beruas-ruas. setiap ruas memiliki beberapa ovulum fertil dan steril, dengan bentuk lebih membulat, memiliki tepi rata dan lancip (Gambar 8, c, d ). Bunga betina pada melinjo berwarna hijau-hijau kekuningan dengan struktur strobilus yang bertangkai, dan setiap collar berbentuk cincin tunggal. Pada setiap collar terdapat sekitar 4-5 ovulum steril melinjo dan 1-2 ovulum fertil melinjo (Gambar . Bunga melinjo mengalami perubahan bentuk dan ukuran selama proses perkembangannya. Meskipun tidak mencerminkan perkembangan dan umur, perubahan ukuran dan massa sel Pada penelitian ini digunakan beberapa ovulum steril melinjo dari bagian pangkal, tengah, dan ujung strobilus betina untuk mengetahui struktur anatomi dan perkembangan ovulum steril melinjo serta mengetahui berbagai macam kandungan metabolit sekunder yang ada di dalamnya. Strobilus betina memiliki ciri-ciri morfologi seperti terlihat pada Gambar 8. Gambar 1. Morfologi strobilus betina melinjo (Gnetum gnemon L. Keterangan: a: internodus, b: nodus, c: ovulum steril, d: ovulum fertil. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada enam buah strobilus diperoleh rata-rata panjang strobilus yaitu 7,3 cm, dengan rata-rata panjang internodus yaitu 0,66 cm, rata-rata panjang nodus 0,26 cm, rata-rata panjang ovulum steril 0,3 cm, dan rata-rata diameter ovulum steril 0, 2 cm. Pada penelitian ini digunakan ovulum steril dengan warna hijau kekuningan (Gambar . Ovulum steril yang digunakan yaitu pada bagian ujung, tengah, dan pangkal strobilus betina melinjo. Panjang rata-rata ovulum steril melinjo bagian A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 110 Ae 127 DOI: http://dx. org/10. ujung yaitu 0, 34 cm dan rata-rata diameternya 0,2 cm. Panjang rata-rata ovulum steril melinjo bagian tengah yaitu 0, 38 cm dan rata-rata diameternya 0,2 cm. Panjang rata-rata ovulum steril melinjo bagian pangkal yaitu 0, 4 cm dan rata-rata diameternya 0,26 cm. Anatomis Ovulum Steril Melinjo Anatomi merupakan suatu ilmu yang mempelajari bentuk dan struktur dari suatu organ, sistem organ, dan organisme baik pada tumbuhan maupun hewan (Yusupovna, 2. Suatu organ tersusun oleh jaringan. Jaringan tersusun oleh sekelompok sel yang memiliki tugas dan fungsi yang sama. Suatu spesies tumbuhan dapat memiliki anatomi yang berbeda antara satu spesies dengan spesies yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Pada pengamatan anatomis ovulum steril melinjo dihasilkan sebagai berikut: Pada pengamatan anatomis ovulum steril melinjo dihasilkan sebagai berikut: Gambar 2. Ovulum steril melinjo (Gnetum gnemon L. bagian ujung strobilus betina . penampang lintang ovulum steril melinjo. penampang bujur ovulum steril Keterangan: ep: epidermis, id: integumen dalam, il: integumen luar, nu: nuselus, pe: perianthium. Berdasarkan Gambar 2. pada hasil tersebut menunjukkan bahwa penampang bujur tersusun dari perianthium yang memiliki tebal 466,17 AAm, integumen luar memiliki tebal 76,94 AAm, integumen dalam memiliki tebal 65,46 AAm, dengan bentuk dan ukuran sel yang seragam (Gambar 2B, i. Integumen dalam terbentuk lebih tipis dibandingkan bagian pada integumen Pada ovulum bagian ujung/ ovulum muda ini menunjukkan nuselus dengan lapisan dermal yang masih menyatu (Gambar 2B, n. Pada penampang melintang juga tersusun dari periantium, integumen luar, integumen dalam, dan perianthium. Perianthium memiliki tebal 458, 15 AAm, integumen luar memiliki tebal 65,13 AAm, dan integumen dalam dengan tebal 60,51 AAm. Pada bagian perianthium dikedua pengangkut (Gambar 2 A. B, b. Ovulum steril melinjo pada bagian ujung tidak ditemukan adanya pollen chamber. Pollen chamber merupakan suatu ruangan yang terbentuk pada ujung nuselus, berfungsi untuk menampung polen yang belum masak serta untuk menjaga viabilitas polen. Perianthium dari suku Gnetales terdiri dari dua pasang connats bracts. Hal ini dianalogikan bahwa perianthium dari Angiospermae primitif memiliki persamaan dengan perianthium pada Gnetum (Thompson, 1. Pada tahapan ini integumen luar mulai berkembang. Integumen dalam berkembang dari primordium annular setelah berkembangnya integumen luar, dan ovula masih memiliki lapisan dermal yaitu epidermis yang belum menyatu (Gambar 2B). Nuselus itu sendiri menjadi massa sel penyusun megasporangium yang dikelilingi oleh satu lapis sel epidermis. Pada ovulum steril bagian ujung perkembangan nuselus untuk lapisan dermalnya juga masih teramati menyatu (Gambar 2B, n. Pada mulanya genus Gnetum memiliki cincin yang umumnya berdiferensiasi secara merata dan berorientasi secara horizontal sehubungan dengan sumbu pada strobilus. Cincin annular pada mulanya terdiri dari lapisan dermal dan subdermal. Namun, lapisan dermal tersebut menunjukkan hasil pembelahan sel periklinal setelah pembentukan cincin annular. Hasil pertumbuhan tersebut dikarenakan adanya aktivitas mitosis di setiap sel penyusunnya. Pada Gnetum memiliki ciri yang khas karena memiliki dua integumen, sehingga berbeda dengan kelompok lain pada Gymnospermae yang memiliki integumen tunggal. Hal ini membuktikan bahwa sebagian struktur ovula strobilus betina pada Gnetum memiliki kemiripan dengan ovula Angiospermae (Thompson, 1. A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 110 Ae 127 DOI: http://dx. org/10. Gambar 3. Ovulum steril melinjo (Gnetum gnemon L. bagian tengah strobilus betina. penampang lintang ovulum steril melinjo. penampang bujur ovulum steril Keterangan: ep: epidermis, id: integumen dalam, il: integumen luar, nu: nuselus, pe: perianthium. Berdasarkan pada Gambar 3. hasil preparat penampang lintang yang teramati terdapat perianthium yang memiliki tebal 469,77 AAm, dan pada penampang bujur memiliki tebal 468,45 AAm. Perianthium tersusun dari jaringan parenkim, epidermis tipis dibagian luar, dan terdapat berkas pengangkut di bagian dalamnya (Gambar 3A, 10 B, p. Perianthium merupakan jaringan berdaging tebal dan lunak, pada Gnetum bunga betina memiliki perianthium tubular (Gambar 3A, 3B, p. Penampang lintang memiliki tebal integumen luar 75,19 AAm dan tebal integumen dalam 68,33 AAm (Gambar 3A, il. Penampang bujur memiliki tebal integumen luar 79,29 AAm dan tebal integumen dalam 70,86 AAm (Gambar 3B, il. Pada kedua penampang menunjukkan bahwa struktur integumen luar lebih tebal dan tersusun dari jaringan sklerenkim yang kompleks, memiliki bentuk dan ukuran sel yang seragam (Gambar 3A, 3B, i. Integumen dalam pada kedua penampang menunjukkan struktur yang lebih tipis dibandingkan integumen luar dan periantium (Gambar 3A, 3B, i. Nuselus terdiri dari satu lapis sel epidermis yang tepat disebelah dalam integumen dalam (Gambar 3A, 3B, n. Pada kedua penampang menunjukkan bahwa nuselus bagian ujung mengalami degredasi, sehingga strukturnya Struktur yang mengalami kerusakan ini yaitu pada bagian ujung nuselus yang dekat dengan pollen chamber. Nuselus merupakan dinding megasporangium (Nugroho dkk. , 2. Nuselus juga berperan sebagai jaringan nutritif bagi embrio (Nugroho dkk. , 2. Pollen champer merupakan suatu ruangan yang terbentuk pada ujung nuselus, yang memiliki fungsi untuk menampung polen yang belum masak serta untuk menjaga viabilitas polen sebelum membentuk gamet-gamet jantan. Struktur nuselus yang menyebabkan sifat ovula steril. Hal tersebut dikarenakan ovulum berperan sebagai dinding megasporangium, selain itu nuselus juga berperan sebagai jaringan nutritif bagi embrio. Bagian ujung nuselus yang mengalami kerusakan, kemungkinan juga mempengaruhi fungsi dan struktur pollen chamber sehingga tidak sempurna. Struktur pollen chamber yang tidak sempurna, hal ini kemungkinan yang menyebabkan sifat ovulum menjadi steril. Hal tersebut dikarenakan pollen chamber tidak berfungsi dengan baik, sehingga tidak dapat menjaga polen yang belum masak serta tidak dapat menjaga viabilitas polen. Sehingga bakal biji . tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi biji, dan sifat ovula menjadi steril. Ovulum memulai perkembangan awalnya sebagai suatu tonjolan kecil yang disebut nuselus. Nuselus yang bersifat parenkimatis terletak pada sebelah dalam integumen (Gambar 3A, 3B, n. Integumen dalam berawal seperti alur yang pertumbuhan ke arah ujung nuselus, namun tidak mengalami pertumbuhan pada bagian basal mikropil ovulum. Sedangkan integumen luar terbentuk pada jaringan protoderm yang Perkembangan selanjutnya sama dengan integumen dalam. Sebagian besar tumbuhan, integumen luar tidak mencapai mikropil. Pada ovulum anantropus Berdasarkan hasil pengamatan Gnetum gnemon , memiliki dua integumen atau bitegmik (Gambar 3A, 3B, il, i. Pada umumnya bentuk ovula muda yaitu sub globuse atau mendekati globular, tetapi berubah menjadi ovoid dengan diameter terbesar di bagian sub basal pada tahap A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 Ae 126 DOI: http://dx. org/10. Gambar 4. Ovulum steril melinjo (Gnetum gnemon L. bagian pangkal strobilus betina melinjo (Gnetum gnemon ) . penampang lintang ovulum steril melinjo. penampang bujur ovulum steril melinjo. Keterangan: ep: epidermis, id: integumen dalam, il: integumen luar, nu: nuselus, pe: perianthium, pc: pollen chamber. Berdasarkan Gambar 4. pada preparat penampang lintang teramati perianthium dengan tebal 478,25 AAm, integumen luar memiliki tebal 82,79 AAm, dan integumen dalam memiliki tebal 76,00 AAm. Pada preparat bujur teramati perianthium yang memiliki tebal 470, 28 AAm, integumen luar memiliki tebal 80,46 AAm, dan integumen dalam memiliki tebal 72,28 AAm. Perianthium merupakan jaringan berdaging tebal dan lunak (Gambar 4 A. B, p. Pada kedua penampang terlihat bahwa perianthium tersusun dari jaringan parenkim, epidermis tipis dibagian luar, dan terdapat berkas pengangkut di bagian dalamnya (Gambar 4 A. B, p. Integumen luar lebih tebal dibandingkan integumen dalam. Integumen luar tersusun dari jaringan sklerenkim yang kompleks, memiliki bentuk dan ukuran sel yang seragam (Gambar 4 A, i. Pada kedua penampang ovulum steril bagian pangkal juga menunjukkan bahwa nuselus bagian ujung dekat dengan pollen chamber mengalami degredasi atau mengalami kerusakan struktur (Gambar 4 B. Struktur nuselus yang tidak sempurna, hal ini kemungkinan yang menyebabkan sifat ovulum menjadi steril. Hal tersebut dikarenakan nuselus sebagai dinding megasporagium dan berperan sebagai jaringan nuritif bagi embrio tidak berfungsi dengan baik. Hal ini kemungkinan yang menyebabkan bakal biji . tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi biji, dan sifat ovula dikatan steril. Integumen luar meningkat secara sekunder, hal tersebut dikarenakan adanya pembelahan dan pemanjangan pada bagian subdermalnya (Gambar 4 A, i. Bagian dari integumen dalam mengelilingi nuselus tetap tipis dan tidak berdiferensiasi (Gambar 4 A, 4 B, i. Integumen luar terdiri dari jaringan yang bersifat sklerenkimatis (Gambar 4 A. B, i. Berkas pengangkut terdapat di periantium (Gambar 4 A. B, b. Berkas pengangkut pada periantium terdiri dari xilem dan floem. Floem tersusun atas sel-sel yang berbentuk bulat. Xilem terletak di bagian sebelah dalam floem, dan tersusun dari sel-sel yang mengalami lignifikasi. Pada bagian tengah ovulum terdapat nuselus (Gambar 2 A. B, 3A. B, 4A. B, n. Nuselus merupakan jaringan yang membentuk kandung Satu ovulum memiliki satu nuselus. Nuselus dibedakan menjadi tiga tipe yaitu krasinuselat, tipe krasinuselat semu, dan tipe Tipe krasinuselat merupakan tipe nuselus dimana sel arkesporial . el hipoderma. membelah secara transversal, menghasilkan dua sel, sel bagian luar atau sel parietal primer dan sel bagian dalam atau sel sporogen. Tipe krasinuselat semu merupakan tipe nuselus ketika sel-sel arkesporial berkembang dari lapisan subhipodermal. Nuselus tipe tenuinuselat merupakan tipe nuselus ketika sel sporogen . el hipoderma. merupakan sel hipodermal sehingga sel sporogen berbatasan langsung dengan epidermis nuselus (Rudal et al. , 2. Berdasarkan tipe tersebut famili Gnetaceae termasuk tipe krasinuselat Distribusi Senyawa Metabolit Sekunder pada Ovulum Steril Melinjo Pada penelitian ini dilakukan uji histokimia pada ovulum steril melinjo pada bagian ujung, tengah, dan pangkal strobilus betina. Pengujian ini dilakukan untuk mendeteksi distribusi senyawa metabolit sekunder berupa senyawa fenol, flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan tanin. Pengujian senyawa fenol menggunakan larutan K2CrO4 dan hasil positifnya berwarna kuning kecoklatan (Badria and Aboelmaaty, 2020. Linggawati et al. , 2. Pengujian senyawa flavonoid menggunakan larutan 5% NaOH dan hasil uji positif ditandai dengan warna kuning (Badria and Walaa, 2. Pengujian senyawa alkaloid menggunakan larutan Dragendorff dan hasil uji positif ditandai dengan warna jinggacoklat (Rismawati dkk. , 2. Pengujian senyawa terpenoid menggunakan larutan CuSO4 A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 - 126 DOI: http://dx. org/10. 5% dan hasil uji positif ditandai dengan warna kuning hingga kuning kecoklatan (Andriya. Rahayu dkk. , 2021. Linggawati et al. Pengujian senyawa tanin menggunakan larutan 10% FeCl3 dan hasil uji positif ditandai dengan warna hijau, biru tua atau hitam jika positif tanin (SaAoadah 2010. Sari dkk. , 2. Metabolit sekunder merupakan suatu kelompok senyawa yang keberadaannya spesifik untuk takson tertentu dan tidak mutlak memainkan peranan dalam interaksi dengan lingkungannya sehingga memiliki peranan dalam menjamin kelangsungan hidup makhluk hidup tersebut di alam (Verpoorte, 2000. Nugroho. Berdasarkan pengamatan mikroskopis yang dilakukan pada beberapa sample ovulum steril melinjo pada strobilus betina bagian ujung, tengah, dan pangkal menunjukkan bahwa ovulum steril melinjo mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, flavonoid, terpenoid, tanin, dan alkaloid. Persebaran senyawa metabolit sekunder tersebut berada pada bagian epidermis dan parenkim. Gambar 5. Uji histokimia senyawa fenolik pada ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. B, hasil ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Gambar 6. Uji histokimia senyawa fenolik pada ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Gambar 7. Uji histokimia senyawa fenolik pada ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Hasil positif ovulum steril melinjo yang mengandung senyawa fenolik ditunjukkan dengan adanya perubahan warna menjadi kuning kecoklatan setelah direaksikan dengan larutan K2CrO4 (Gambar 5, 6, 7. B). Gambar 5, 6, 7. A menunjukkan penampang lintang ovulum steril melinjo kontrol. Pada kontrol tidak menunjukkan reaksi positif mengandung fenolik. Hal tersebut dikarenakan pada kontrol hanya ditetesi akuades sehingga tidak terjadi proses reaksi. Ovulum steril melinjo bagian ujung, tengah, dan pangkal strobilus betina yang positif mengandung senyawa fenolik yaitu tersebar pada bagian parenkim perianthium. Jenis jaringan sekretori internal yang teramati berupa sel sekretori (Gambar 5, 6, 7. B, s. Sel sekretori merupakan sel idioblas yaitu sel yang memiliki ukuran, bentuk, dan kandungan isi yang berbeda dari selsel lainnya dalam satu jaringan. A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 - 126 DOI: http://dx. org/10. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa jaringan yang positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik pada ovulum steril melinjo yaitu pada bagian parenkim perianthium dan jenis jaringan sekretorinya berupa sel sekretori (Gambar 5, 6, 7, s. Penelitian yang dilakukan oleh Ummah . pada biji melinjo (Gnetum gnemon L. ) pada bagian epidermis, berkas pengangkut, dan parenkim menunjukkan hasil positif senyawa fenolik dan jenis jaringan sekretorinya berupa sel Pada penelitian yang dilakukan ini juga menunjukkan bahwa pada jaringan parenkim perianthium terdapat pulasan berwarna kuning kecoklatan setelah ditetesi dengan larutan K2CrO4 dan didiamkan sekitar 15 menit (Gambar 5, 6, 7, . Senyawa fenolik pada tumbuhan berperan dalam berbagai proses seperti melindungi tumbuhan dari berbagai macam patogen, memberi warna, aroma, dan berperan dalam stress resistance dan berbagai proses fisiologis lainnya (Zhang et al. , 2. (Zhang et , 2. Selain itu senyawa fenolik juga berperan bagi manusia. Hal tersebut dikarenakan senyawa fenolik memiliki aktivitas sebagai antioksidan, anti mikroba, anti kanker, anti inflamasi (Zhang et al. , 2. Gambar 8. Uji histokimia senyawa flavonoid pada ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. B, hasil ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Gambar 9. Uji histokimia senyawa flavonoid pada ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Gambar 10. Uji histokimia senyawa flavonoid pada ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Hasil positif ovulum steril melinjo yang mengandung senyawa flavonoid ditunjukkan dengan adanya perubahan warna menjadi kuning setelah direaksikan dengan larutan 5% NaOH (Gambar 8, 9, 10. B). Gambar 8, 9, 10. A menunjukkan penampang lintang ovulum steril melinjo kontrol. Pada kontrol tidak menunjukkan reaksi positif mengandung flavonoid. Hal tersebut dikarenakan pada kontrol hanya ditetesi akuades sehingga tidak terjadi proses reaksi. Ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina yang positif mengandung flavonoid yaitu tersebar pada bagian parenkim perianthium (Gambar 8. B, . Ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina yang positif mengandung flavonoid yaitu tersebar pada bagian epidermis dan parenkim perianthium (Gambar 9. B, . Pada ovulum steril melinjo bagian pangkal A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 - 126 DOI: http://dx. org/10. strobilus betina yang positif mengandung flavonoid yaitu tersebar pada bagian epidermis, parenkim perianthium (Gambar 10. B, e, . Dari pengamatan yang dilakukan teramati dengan jelas jenis jaringan sekretori pada ovulum steril melinjo yaitu berupa sel sekretori yang berbentuk poligonal (Gambar 8, 9, 10, s. Sel sekretori merupakan sel yang bersifat idioblas dan tunggal, dan dapat memiliki bentuk serta ukuran yang berbeda dengan sel disekitarnya (Nugroho. Penelitian yang dilakukan oleh Ummah . pada biji melinjo (Gnetum gnemon L. pada bagian epidermis, berkas pengangkut, dan parenkim juga menunjukkan hasil positif senyawa flavonoid, dengan jenis jaringan sekretori berupa sel sekretori. Pada peneitian ini juga menunjukkan hasil positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid. Senyawa flavonoid ditemukan pada bagian epidermis dan parenkim perianthium, dengan jenis jaringan sekretori internalnya berupa sel Hasil tersebut ditunjukkan dengan adanya pulasan berwarna kuning pada penampang lintang ovulum steril melinjo yang telah ditetesi dengan larutan 5 % NaOH dan didiamkan sekitar 15 menit. Terbentuknya pulasan warna berwarna kuning karena terjadi sistem konjugasi dari gugus aromatik (Desandi. Kusnadi dan Egie, 2. Suatu sample yang mengandung flavonoid ketika diuji dengan NaOH akan terbentuk pulasan warna kuning. Hal tersebut karena senyawa flavonid mengalami penguraian oleh basa (NaOH) menjadi molekul seperti asetofenon yang berwarna kuning yang diakibatkan oleh adanya pemutusan ikatan pada (Gambar 8, 9, 10. B). Senyawa flavonoid termasuk kelompok senyawa fenol yang tersebar di berbagai tumbuhan seperti halnya pada buahbuahan, sayuran, kulit batang, akar, batang, bunga, teh, dan biji-bijian ( Panche et al. , 2. Senyawa flavonoid memiliki peranan penting dalam berbagai proses tumbuhan seperti dalam proses pemberi warna . , membantu menarik polinator, memberi warna pada bunga, perkecambahan spora, melindungi tumbuhan dari tekanan biotik dan abiotik yang kurang menguntungkan, melindungi tumbuhan dari pancaran sinar UV, berperan sebagai molekul sinyal, sebagai senyawa alelopati, phytoalexins, membantu melindungi dari berbagai mikroba yang kurang menguntungkan (Panche et al. Selain itu senyawa flavonoid juga berperan bagi manusia. Hal tersebut dikarenakan senyawa flavonoid memiliki aktivitas sebagai anti-oxidative, anti-inflammatory, antimutagenic, dan anti-carcinogenic (Panche et al. Senyawa flavonoid juga memiliki aktivitas sebagai antikanker, antimikrobia, anti-angiogenic, antioxidant, neuroprotective, antitumor, dan anti-proliferative agents (Ullah et al. , 2. Gambar 12. Uji histokimia senyawa terpenoid pada ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. B, hasil ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Gambar 11. Reaksi flavonoid dengan NaOH (Kusnadi dan Egie, 2. Adanya pulasan warna kuning pada ovulum steril melinjo setelah ditetesi larutan 5% NaOH, hal tersebut menunjukkan bahwa ovulum steril melinjo mengandung senyawa flavonoid A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 - 126 DOI: http://dx. org/10. Gambar 13. Uji histokimia senyawa terpenoid pada ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Gambar 14. Uji histokimia senyawa terpenoid pada ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Hasil positif tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan warna menjadi kuning sampai kuning kecoklatan setelah direaksikan dengan larutan 5% CuSO4 (Gambar 12, 13, 14. B). Gambar 12, 13, 14. A menunjukkan penampang lintang ovulum steril melinjo kontrol. Pada kontrol tidak menunjukkan reaksi positif mengandung senyawa terpenoid. Hal tersebut dikarenakan pada kontrol hanya ditetesi akuades sehingga tidak terjadi proses reaksi. Ovulum steril melinjo bagian ujung, tengah, dan pangkal strobilus betina yang positif mengandung yaitu pada bagian parenkim perianthium (Gambar 12, 13, 14. B, . Jenis jaringan sekretori internal yang teramati yaitu berupa sel sekretori dengan bentuk poligonal (Gambar 12, 13, 14, s. Penelitian yang dilakukan oleh Adhityasmara , . pada ekstrak kulit melinjo (Gnetum gnemon L. ) menunjukkan bahwa kulit melinjo mengandung terpenoid. Terpenoid berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kuntorini ,. menunjukkan bahwa senyawa terpenoid tersebar di bagian epidermis, korteks, parenkim, dan berkas pengangkut. Hasil penelitian yang dilakukan juga menunjukkan bahwa pada jaringan parenkim perianthium mengandung senyawa terpenoid (Gambar 12, 13, 14. B, . Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya pulasan warna kuning kecoklatan setelah penampang lintang ovulum steril melinjo ditetesi dengan larutan 5% CuSO4 dan didiamkan sekitar 15 menit (Gambar 12, 13, 14. B). Hal tersebut menunjukkan bahwa ovulum steril melinjo mengandung senyawa terpenoid. Terpenoid merupakan suatu senyawa yang paling melimpah di alam dan berasal dari jalur asam mevalonat (MVA) yang terdiri dari sejumlah unit struktural isoprena (C. (Yang et al. , 2. Terpenoid banyak ditemukan di alam dengan berbagai struktur dan keragaman yang luas. Peranan senyawa terpenoid bagi tumbuhan yaitu berperan dalam respon terhadap lingkungan dan proses Adapun terpenoid memiliki aktivitas antitumor, antiinflamasi, antibakteri, antivirus, antimalaria, hipoglikemik (Yang et al. , 2. Bagi manusia senyawa terpenoid banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik. Gambar 15. Uji histokimia senyawa tanin pada ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. B, hasil ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 - 126 DOI: http://dx. org/10. Gambar 16. Uji histokimia senyawa tanin pada ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. B, hasil ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. penampang lintang ovulum steril melinjo setelah ditetesi dengan larutan 10 % FeCI3 dan didiamkan sekitar 15 menit (Gambar 15, 16, 17. B). Terbentuknya pulasan warna hitam kebiruan karena tanin akan bereaksi dengan ion Fe3 trisianoferitrikalium . Suatu sample yang mengandung tanin ketika diuji dengan FeCI3 akan terbentuk pulasan warna hijau, biru tua atau hitam (SaAoadah 2010. Sari dkk. , 2. Pembentukan senyawa kompleks antara tanin dengan FeCI3, hal tersebut karena adanya ion Fe3 sebagai atom pusat dan tanin memiliki atom O yang memiliki pasangan elektron bebas yang bisa mengkoordinasikan ke atom pusat sebagai ligannya (SaAoadah, 2010. Ergina dkk. , 2. Gambar 18. Reaksi antara Tanin dan FeCl3 (SaAoadah, 2010. Ergina dkk. , 2. Gambar 17. Uji histokimia senyawa tanin pada ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. B, hasil ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Hasil positif tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan warna menjadi hitam setelah direaksikan dengan larutan 10% FeCI3 (Gambar 15, 16, 17. B). Gambar 15, 16, 17. A menunjukkan penampang lintang ovulum steril melinjo kontrol. Pada kontrol tidak menunjukkan reaksi positif mengandung tanin. Hal tersebut dikarenakan pada kontrol hanya ditetesi akuades sehingga tidak terjadi proses reaksi. Ovulum steril melinjo bagian ujung, tengah, dan pangkal strobilus betina yang positif mengandung tanin yaitu pada bagian parenkim perianthium (Gambar 15, 16, 17. B, . Jenis jaringan sekretori yang teramati berupa sel sekretori (Gambar 15, 16, 17. B, s. Ovulum steril melinjo positif mengandung tanin (Gambar 15, 16, 17. B). Hasil tersebut ditunjukkan dengan adanya pulasan berwarna hitam kebiruan pada Adanya pulasan warna hitam pada ovulum steril melinjo setelah ditetesi larutan 10% FeCI3, hal tersebut menunjukkan bahwa ovulum steril melinjo mengandung senyawa tanin. Tanin merupakan salah satu jenis senyawa metabolit sekunder yang sebagian besar ditemukan di tumbuhan dan memiliki fungsi melindungi tumbuhan dari predator serta memiliki peranan dalam mengatur pertumbuhan tumbuhan (Das et , 2. Pada tumbuhan, tanin ditemukan pada batang, daun, buah, biji, tunas, dan akar (Das et , 2. Tanin berfungsi sebagai agen pertahanan, melindungi tumbuhan dari sinar UV, fungi, patogen, insekta, dan herbivora (Das et al. A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 - 126 DOI: http://dx. org/10. Gambar 19. Uji histokimia senyawa alkaloid pada ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina. B, hasil ovulum steril melinjo bagian ujung strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Gambar 20. Uji histokimia senyawa alkaloid pada ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian tengah strobilus betina perbesaran 40x. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. perbesaran 40x betina. bp: berkas pengangkut, ep: epidermis, p: parenkim, ss: sel sekretori. Hasil positif tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan warna menjadi jingga-coklat, setelah direaksikan dengan larutan Dragendorf (Gambar 19, 20, 21. B). Gambar 19, 20, 21. A, menunjukkan penampang lintang ovulum steril melinjo kontrol. Pada kontrol tidak menunjukkan reaksi positif mengandung senyawa alkaloid. Hal tersebut dikarenakan pada kontrol hanya ditetesi akuades sehingga tidak terjadi proses reaksi. Penelitian yang dilakukan oleh Ummah . pada biji melinjo (Gnetum gnemon L. pada bagian epidermis dan parenkim menunjukkan hasil positif senyawa alkaloid, dengan jenis jaringan sekretorinya berupa sel Pada penelitian yang dilakukan pada ovulum steril melinjo juga menunjukkan hasil positif mengandung alkaloid dan jenis jaringan sekretori internal yang teramati berupa sel sekretori (Gambar 19, 20, 21. B, s. Hasil tersebut ditunjukkan dengan adanya pulasan berwarna jingga-kecokaltan pada penampang lintang ovulum steril melinjo setelah ditetesi dengan larutan Dragendorf dan didiamkan sekitar 15 menit (Gambar 19, 20, 21. B, s. Pulasan warna jingga kecoklatan tersebut berupa kalium Pada uji alkaloid dengan larutan Dragendorff, nantinya nitrogen pada senyawa alkaloid akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan K . Gambar 22. Reaksi antara senyawa alkaloid dengan larutan Dragendorf (Ergina dkk. , 2. Gambar 21. Uji histokimia senyawa alkaloid pada ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. A, kontrol ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina. hasil ovulum steril melinjo bagian pangkal strobilus betina Adanya pulasan warna jingga kecoklatan pada ovulum steril melinjo setelah ditetesi larutan Dragendorf, hasil tersebut menunjukkan bahwa ovulum steril melinjo mengandung senyawa alkaloid (Gambar 19, 20, 21. B). Alkaloid merupakan golongan senyawa metabolit sekunder yang mengandung cincin nitrogen dan sebagian besar prekursor alkaloid berupa asam A 2022 Pamungkas, dkk. This article is open access Pamungkas & Susanti. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 109 - 126 DOI: http://dx. org/10. amino (Heinrich et al. , 2. Alkaloid dapat ditemukan pada berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kulit batang, ranting daun, bunga dan biji (Ningrum dkk. , 2. Alkaloid memiliki beberapa fungsi bagi tumbuhan, antara herbivora/predator dan mengatur pertumbuhan (Heinrich et al. , 2. Alkaloid juga berperan sebagai senyawa pertahanan tumbuhan terhadap suatu penyakit. Alkaloid juga telah dimanfaatkan manusia dalam bidang kesehatan, antara lain sebagai anestesi, agen cardioprotective, dan agen anti inflamasi (Heinrich et al. , 2. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada umur ovulum steril yang berbeda terdapat perbedaan struktural pada jaringan penyusunnya, semakin dewasa umur ovulum steril maka jaringan penyusunnya semakin terdegredasi dan ovulum steril melinjo (Gnetum gnemon L. ) mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenol, flavonoid, terpenoid, tanin, dan alkaloid. Ucapan terima kasih Terima kasih kepada Laboratorium Struktur Perkembangan Tumbuhan memfasilitasi terlaksananya penelitian ini. Referensi