Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Manajemen Inovasi Kurikulum di Era Digital: Studi Kasus pada SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan Muslimin1. Stela Ramadhani Khalashinikov2 Universitas Safin Pati Email: muslimin@usp. id, stela_ramadhani@usp. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan mengelola inovasi kurikulum di era digital, dengan penekanan khusus pada strategi, implementasi, dan elemen yang mendukung dan menghambat proses tersebut. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan studi kasus sebagai desain. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas pembelajaran, peninjauan dokumen kurikulum, dan wawancara menyeluruh dengan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan dalam kurikulum sekolah ini berfokus pada pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, seperti penggunaan platform online, media interaktif, dan penerapan literasi digital ke dalam kurikulum. Strategi manajemen dicapai melalui penguatan kerja sama sekolah, orang tua, dan masyarakat, pelatihan guru yang berkelanjutan, dan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kemampuan guru, komitmen pimpinan sekolah, dan dukungan infrastruktur digital adalah komponen pendukung utama. Kata kunci: Manajemen Pendidikan. Inovasi Pendidikan. Era digital PENDAHULUAN Pada abad ke-21, kemajuan teknologi digital memiliki dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Kurikulum, yang merupakan inti dari proses pendidikan, harus terus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan kompetensi siswa di era digital. Gunawan . menyatakan bahwa kurikulum yang kreatif meningkatkan keterampilan kognitif serta keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, literasi digital, dan kreativitas untuk memenuhi tuntutan zaman. Pandemi COVID-19 telah mendorong transformasi digital dalam pendidikan di Indonesia, yang telah mendorong sekolah untuk beralih ke pembelajaran online. Hal ini berarti bahwa manajemen pendidikan, terutama di sekolah dasar, harus membuat kurikulum yang fleksibel. Menurut Nurhadi . , manajemen inovasi kurikulum di sekolah dasar bergantung pada kemampuan guru dan kepala sekolah untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar mengajar. Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan yang besar dalam banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Sekolah harus segera beradaptasi dengan perubahan global karena transformasi digital. Pembelajaran sekarang berbasis teknologi dan informasi dan tidak lagi terbatas pada ruang kelas fisik. Dalam hal ini, manajemen inovasi kurikulum menjadi bagian penting dari keberhasilan sekolah dasar dalam menyiapkan siswa untuk bersaing di era digital. Kurikulum, yang merupakan inti dari sistem pendidikan, bertanggung jawab secara strategis untuk mengarahkan proses belajar-mengajar menuju pembangunan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Inovasi kurikulum diperlukan, menurut Tilaar . , untuk menyesuaikan isi dan metode pembelajaran dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 teknologi serta kebutuhan masyarakat. Inovasi di era digital tidak hanya mencakup penerapan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga perubahan paradigma pendidikan, yang lebih menekankan kreativitas, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis, dan literasi digital (Trilling & Fadel, 2. Pendekatan yang sistematis diperlukan untuk manajemen inovasi kurikulum di sekolah dasar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Menurut Mulyasa . , kepala sekolah, guru, dan semua pemangku kepentingan pendidikan harus memiliki visi yang sama tentang bagaimana membuat lingkungan belajar yang inovatif dan responsif terhadap perkembangan teknologi. Menurut Fullan . , keberhasilan inovasi pendidikan bergantung pada komitmen dan kemampuan manajemen institusi pendidikan untuk mengelola perubahan, meningkatkan kemampuan pendidik, dan menciptakan budaya sekolah yang mendukung inovasi. Sebagai lembaga pendidikan dasar terpadu. SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan menghadapi tantangan dan peluang saat menerapkan manajemen inovasi kurikulum di era SDUT AL-CHUSNA, sebuah sekolah yang didasarkan pada nilai-nilai Islam dan berfokus pada pembelajaran terpadu, harus memadukan nilai-nilai spiritual dengan kemampuan literasi digital siswa. Ini berarti pengelolaan inovasi kurikulum harus berfokus pada nilai-nilai karakter, moral, dan kecakapan abad ke-21 selain aspek teknologi (Kemendikbud, 2. Selain itu, pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada awal tahun 2020 membuat digitalisasi pendidikan berkembang pesat. Sekolah-sekolah harus menyesuaikan diri dengan pembelajaran online dan menggunakan berbagai platform digital. Dengan keadaan ini, manajemen inovasi kurikulum yang responsif terhadap perubahan lingkungan pendidikan semakin penting (Hidayat, 2. SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan dapat menggunakan pengalamannya selama pandemi untuk membangun model manajemen inovasi kurikulum yang fleksibel, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan siswa di era digital. Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi cara SDUT-ALCHUSNA Loram Wetan menangani inovasi kurikulum dalam menghadapi tantangan era Fokus utama penelitian adalah metode manajemen, metode inovasi kurikulum, elemen pendukung dan penghambat, dan efek yang ditimbulkan terhadap kualitas Oleh karena itu, diharapkan bahwa temuan penelitian akan memberikan kontribusi teoretis untuk proses pembuatan manajemen inovasi kurikulum. Selain itu, hasil tersebut akan menjadi referensi praktis untuk sekolah dasar lainnya dalam penerapan inovasi berbasis digital. METODE Studi ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, jenis studi kasus. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara menyeluruh masalah manajemen inovasi kurikulum di SDUT AL-CHUSNA. Oleh karena itu, pendekatan kualitatif dipilih. Menurut Creswell & Poth . , metode penelitian kualitatif memungkinkan para peneliti untuk mempelajari makna, pemahaman, dan interpretasi pengalaman orang yang terlibat. Akibatnya, data yang diperoleh menjadi lebih kontekstual dan kaya. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Rancangan Penelitian Dipilihnya desain studi kasus karena penelitian ini berfokus pada satu unit analisis SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan. Sekolah ini digunakan sebagai contoh nyata penerapan inovasi kurikulum di era digital. Yin . menyatakan bahwa studi kasus ideal ketika peneliti ingin mempelajari "bagaimana" dan "mengapa" suatu fenomena terjadi dalam konteks Objek dan Sumber Penelitian Kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan yang terlibat langsung dalam proses manajemen inovasi adalah subjek penelitian. Metode Pengumpulan Informasi Tiga metode utama digunakan untuk mendapatkan data: Wawancara mendalam dengan guru, staf kurikulum, dan kepala sekolah mengenai rencana, masalah, dan keberhasilan inovasi kurikulum. Observasi partisipasi dalam pembelajaran dan penggunaan teknologi digital. Analisis dokumen kurikulum, program sekolah, laporan kegiatan, dan media pembelajaran digital adalah semua contoh dokumentasi. Untuk memastikan keabsahan informasi, metode triangulasi data digunakan untuk membandingkan hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara. Pendekatan untuk Analisis Data Analisis data dilakukan dengan model interaktif oleh Miles. Huberman, & Saldaya . , dan terdiri dari tiga tahap utama: Reduksi data-data yang berkaitan dengan manajemen inovasi kurikulum harus dipotong, dipilih, dan dikonsentrasikan. Penyajian data untuk membuat data lebih mudah dipahami, data disusun dalam bentuk narasi deskriptif, tabel, atau Penarikan kesimpulan/verifikasi memeriksa data untuk menemukan pola, tema, dan makna yang relevan dengan fokus penelitian. Keabsahan Informasi Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, perpanjangan waktu observasi, dan diskusi dengan rekan sejawat untuk memastikan validitas data. Menurut Nowell et al. , pengecekan silang antar sumber data dan keterlibatan peneliti yang intens di lapangan dapat meningkatkan kredibilitas penelitian kualitatif. Faktor yang mendukung komitmen yang dibuat oleh kepemimpinan kepala sekolah. Dukungan dari guru muda yang memiliki literasi digital yang memadai. Dinas Pendidikan memberikan pelatihan guru. Faktor-faktor yang Menghambat terbatasnya akses internet baik di sekolah maupun di rumah siswa. ketidakmampuan guru senior untuk menggunakan teknologi Variasi dalam tingkat pendapatan siswa yang berdampak pada ketersediaan gawai. Dampak dari Pengembangan Kurikulum Baru. Teknologi digital meningkatkan partisipasi siswa dalam pendidikan, meskipun masih Meskipun mereka masih membutuhkan dukungan intensif, guru merasa terdorong untuk berinovasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen inovasi kurikulum di era digital memerlukan perubahan budaya sekolah selain penggunaan teknologi untuk menggantikan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pendekatan pembelajaran. Kepala sekolah adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengarahkan visi inovasi kurikulum. Ini sejalan dengan perspektif Fullan . , yang menekankan bahwa inovasi pendidikan memerlukan kepemimpinan transformatif yang dapat mendorong partisipasi setiap siswa. Inovasi kurikulum di SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan lebih adaptif, memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memenuhi tuntutan era digital. Hal ini sesuai dengan penelitian Rahayu & Setiawan . , yang menyatakan bahwa karena keterbatasan infrastruktur dan kemampuan digital guru, sekolah dasar di Indonesia cenderung menerapkan inovasi kurikulum secara bertahap. Inovasi berhasil berkat komitmen kepala sekolah dan semangat guru muda. Namun, pendekatan manajemen yang lebih terorganisir diperlukan karena kendala seperti keterbatasan sumber daya teknologi dan disparitas digital antara pendidik dan siswa. UNESCO . juga menekankan bahwa untuk mencegah ketimpangan pendidikan, inovasi kurikulum berbasis digital harus mempertimbangkan aspek pemerataan akses Dengan peningkatan motivasi belajar siswa dan kreativitas guru, menunjukkan bahwa sekolah dasar mampu mengubah kurikulumnya meskipun memiliki keterbatasan jika manajemennya berjalan dengan baik. Studi ini memperkuat argumen Arifin . bahwa kolaborasi antara kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung ekosistem pendidikan digital adalah kunci sukses inovasi kurikulum. Oleh karena itu, temuan penelitian ini menegaskan bahwa manajemen inovasi kurikulum yang berkelanjutan, adaptif, dan berpartisipasi sangat penting. Di era digital, inovasi kurikulum bukan sekadar perubahan teknis. itu adalah transformasi yang lebih besar yang mencakup kepemimpinan, keterampilan guru, dan dukungan lingkungan pendidikan. Meskipun penelitian ini berbasis kualitatif, bahwa penelitian kualitatif biasanya tidak menggunakan "hipotesis statistik" seperti yang dilakukan dalam penelitian kuantitatif. sebaliknya, menggunakan proposisi atau dugaan awal yang kemudian diuji kebenarannya melalui hasil lapangan. Peneliti kualitatif masih dapat membuat "keputusan hipotesis" sebagai bagian dari memahami hasil penelitian dengan membandingkan dugaan awal dengan data yang sebenarnya. Berdasarkan fokus penelitian ini, hipotesis awal yang diajukan adalah bahwa pada SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan, manajemen inovasi kurikulum di era digital dilakukan secara adaptif, melibatkan kepemimpinan kepala sekolah dan didukung oleh kolaborasi guru, meskipun masih ada hambatan untuk sarana dan literasi digital. Hipotesis tersebut terkonfirmasi oleh hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan Di sekolah ini, manajemen inovasi kurikulum dilakukan dengan pendekatan adaptif, yang melibatkan penggunaan alat digital sederhana seperti Google Classroom. WhatsApp, dan media interaktif, serta pelatihan guru yang dilakukan secara bertahap. Sangat jelas bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah faktor yang paling penting dalam menggerakkan perubahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bush . , yang menyatakan bahwa kepemimpinan sekolah sangat penting untuk inovasi kurikulum karena menentukan budaya, kebijakan, dan strategi organisasi. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Selain itu, terbukti bahwa hipotesis tentang keterlibatan kolaboratif antara guru dan kepala sekolah benar. Guru muda yang memiliki literasi teknologi yang lebih baik aktif mendampingi guru senior. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Hidayat & Firmansyah . , yang menemukan bahwa kerja sama guru antara generasi dapat mempercepat penerapan kurikulum berbasis digital di sekolah dasar. Namun, terbukti bahwa bagian hipotesis yang menyatakan bahwa sarana dan literasi digital memiliki keterbatasan juga benar. Sementara sebagian siswa menghadapi keterbatasan perangkat dan akses internet, guru senior masih menghadapi kesulitan dalam penggunaan Ini sesuai dengan laporan OECD . yang menekankan bahwa kesenjangan digital, atau kesenjangan digital, merupakan masalah utama dalam menerapkan kurikulum berbasis teknologi di sekolah. Oleh karena itu, hipotesis awal penelitian diterima. SDUT ALCHUSNA Loram Wetan memiliki sistem manajemen kurikulum yang adaptif dan berbasis KESIMPULAN SDUT AL-CHUSNA Loram Wetan menghadapi beberapa hambatan teknis maupun struktural, manajemen inovasi kurikulum adalah proses yang adaptif, kolaboratif, dan Kepemimpinan kepala sekolah sangat penting untuk mengarahkan, mengoordinasikan, dan mendorong pengembangan kurikulum baru. Membangun tujuan bersama, mendukung guru, dan bekerja sama dengan orang tua dan masyarakat adalah semua tanggung jawab kepala sekolah. Inovasi bergantung pada kerja sama guru. Guru muda yang cukup melek teknologi membantu guru senior menggunakan teknologi. Kolaborasi seperti ini mempercepat adopsi kurikulum digital dan meningkatkan budaya kerja sama di sekolah. Upaya telah dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi, masalah utama masih terkait dengan infrastruktur digital dan kekurangan keterampilan. Tidak semua pendidik memiliki keterampilan yang cukup untuk menggunakan perangkat digital, dan tidak semua siswa memiliki kemampuan yang memadai untuk mengakses internet dan gawai. Kerja sama guru sangat penting untuk inovasi. Guru muda yang memahami teknologi membantu guru senior. Kolaborasi seperti ini meningkatkan budaya kerja sama di sekolah dan mempercepat adopsi kurikulum digital. Infrastruktur digital dan kekurangan keterampilan terus menjadi masalah utama dalam mengoptimalkan penggunaan teknologi. Tidak semua guru memiliki kemampuan yang diperlukan untuk menggunakan perangkat digital, dan tidak semua siswa memiliki kemampuan yang diperlukan untuk terhubung ke internet dan menggunakan gawai. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen inovasi kurikulum di era digital membutuhkan kepemimpinan yang visioner, kolaborasi guru, dukungan infrastruktur, dan perhatian serius terhadap pemerataan akses teknologi. Sekolah yang dapat memadukan keempat komponen ini akan lebih siap menghadapi tantangan pendidikan di abad ke-21 dan menghasilkan siswa yang literat, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 DAFTAR PUSTAKA