Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan AlIslam dan Kemuhammadiyahan Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra. syakban@gmail. com1, sekarayu1826@gmail. com2, rikisaputra. rs87@gmail. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Indonesia Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Indonesia Abstract Differences in understanding of beliefs, cultures, regions, and Islamic organizations at Muhammadiyah University of West Sumatra have triggered conflicts on behalf of groups, causing exclusivity and fragmentation in the campus environment. The lack of openness and communication between different groups further exacerbates the situation. Therefore, the integration of multicultural Islamic education values in learning and activities of Al-Islam and Kemuhammadiyahan (AIK) is This study aims to analyze and reveal the inclusive, egalitarian, and humanist values applied in the activities. Using a qualitative case study approach, observation, interviews, and documentation to collect data. Data analysis through data reduction procedures, data display, and conclusion The results showed that multicultural-based AIK activities were able to reduce conflict by internalizing inclusive values in every activity, thus creating a more harmonious and tolerant campus The integration of multicultural values in the curriculum and extracurricular activities succeeded in increasing understanding and cooperation between different groups. Keywords: Multicultural Islamic Education. Learning Activities. AIK Abstrak Perbedaan pemahaman keyakinan, budaya, daerah, dan organisasi keislaman di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat telah memicu konflik yang mengatasnamakan golongan, menyebabkan eksklusivitas dan fragmentasi di lingkungan kampus. Kurangnya keterbukaan dan komunikasi antar kelompok yang berbeda semakin memperparah situasi. Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam pembelajaran dan kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengungkap nilai-nilai inklusif, egaliter, dan humanis yang diaplikasikan dalam kegiatan. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data. Analisis data melalui prosedur reduksi data, display data, dan penarikan Hasil penelitian bahwa kegiatan AIK yang berbasis multikultural mampu mengurangi konflik dengan menginternalisasi nilai-nilai inklusif dalam setiap kegiatan, sehingga menciptakan lingkungan kampus yang lebih harmonis dan toleran. Integrasi nilai-nilai multikultural dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler berhasil meningkatkan pemahaman dan kerja sama antar kelompok yang berbeda. Kata Kunci: Pendidikan Islam Multikultural. Kegiatan pembelajaran. AIK Cara Mensitasi Artikel: Syakban. Aryani. , & Saputra. Nilai-Nilai pendidikan Islam multikultural dalam kegiatan al-Islam dan kemuhammadiyahan. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 9. , 166-181. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: syakban@gmail. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 15/11/2023 : 30/06/2024 : 30/06/2024 DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan PENDAHULUAN Pendidikan Muhammadiyah merupakan pendidikan Islam modern yang mengintegrasikan agama dengan kehidupan serta antara iman dan kemajuan yang holistik (Ali, 2016, p. Dengan filosofi pendidikan Muhammadiyah yang mendasar dan luas itu maka mata kuliah AIK khususnya di PTM tentu harus mencerminkan perspektif yang melintasi tersebut. Kehadiran AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah menjadi ruh perkembangan muhammadiyah di lokasi tersebut(Ali, 2016, p. Dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan diharapkan sebagai sumber kegiatan yang memusatkan pada perkembangan pengetahuan keislaman dan Kemuhammadiyahan bagi pegiat, simpatisan dan pengembang Amal Usaha Muhammadiyah. Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) ini menjadi ciri khas dari lulusan perguruan tinggi muhammadiyah yang nantinya akan mengabdi dalam masyarakat, yang akan bertemu dengan banyak jenis organisasi keIslaman, dengan bekal AlIslam Kemuhammadiyahan (AIK) tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membedakan dan paham mana organisasi Islam yang murni dan yang tidak murni (Anwar, 2011, p. Bekal keislaman yang diharapkan dimiliki oleh lulusan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) adalah mahasiswa memiliki bekal keIslaman yang kuat, memahami arti perjuangan muhammadiyah, toleransi, mengetahui asal-usul atau sejarah pendirian muhammadiyah serta seluk beluk organisasi ini (Kumalasari, 2012, p. Di Muhammadiyah sendiri, secara internal, sebetulnya multikulturalisme sejak awal telah menampakkan wajahnya (Taofik, 2022, p. Hal ini terjadi ketika Muhammadiyah sejak tahun 1920-an telah meluas dan berkembang ke luar wilayah Yogyakarta, dan kemudian bersentuhan dengan budaya lokal dan tradisi setempat yang tercermin pada sikap, watak, dan kebiasaan orang-orang yang masuk menjadi anggota atau pimpinan Muhammadiyah (Bahtiar, 2007, pp. 41Ae Keterlibatan warga Muhammadiyah ini dalam gerakan multikulturalisme patut dilihat lebih jauh, karena mereka dianggap telah bekerja pada tataran gagasan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan maupun tataran praksis. Secara konseptual, mereka diasumsikan telah berhasil membahasakan prinsip-prinsip multikulturalisme berdasarkan perspektif Islam. Rangkaian kata pendidikan dan multikultural memberikan arti secara terminologis adalah proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran . (Amin, 2005, p. Zakiyuddin Baidhawi (Baidhawy. , 2005, p. mendefinisikan pendidikan multikultural adalah suatu cara untuk mengajarkan keragaman . eaching diversit. Ainul Yaqin (Yaqin, 2021, p. memahami pendidikan multikultural sebagai strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada para siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, klas sosial, ras, kemampuan dan umur agar proses belajar Maslikhah (Maslikhah, bukunyamendefinisikan pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai diversitas dan mewadahi prespektif dari beragam kelompok kultural atas dasar basis regular. Untuk nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan. UM Sumatera Barat membentuk sebuah lembaga yang membidangi kajian pendalaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yaitu Lembaga Pengkajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPIM) (Saputra, 2020, p. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua LPIM UM Sumatera Barat Ahmad Lahmi menjelaskan bahwa kedudukan LPIM dilingkungan UM Sumatera Barat adalah untuk menanamkan, menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan nilai-nilai keislaman yang sudah tertanam pada diri mahasiswa. Pelaksanaan pengembangan nilai-nilai tersebut dilakukan dengan berbagai cara salah satunya melalui perkuliahan Al-Islam dan kemuhammadiyahan. Sebagaimana dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah lainnya. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat juga menerapkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan pada kegiatan dan stakeholdernya. Nilai AIK tersebut terbagi menjadi dua model, diantaranya: pertama. AIK sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa. Mata kuliah AIK ini diikuti mulai dari AIK I Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan kajian Iman dan Kemanusiaan. AIK II dengan kajian Ibadah dan Muammalah. AIK i dengan kajian Studi Kemuhammadiyahan dan AIK IV dengan kajian Islam dan Perkembangan IPTEK. Kedua. AIK sebagai tuntutan dan pedoman bagi seluruh stakeholder dalam menerapkan nilai-nilai keislaman dalam pergaulan sehari-hari baik dilingkungan perguruan tinggi ataupun di masyarakat Hal ini didapatkan dan diterima melalui beberapa kegiatan ke-AIK-an yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi. Kegiatan yang dimaksudkan dikonsep dengan sebaik mungkin dalam rangka internalisasi nilai-nilai keislaman dan nilainilai AIK kepada stakeholder Kajian Multikultural dan AIK dalam penelitian ini tidak hanya berfokus kepada perbedaan agama saja, namun juga perbedaan khas budaya, suku, etnis, organisasi dan daerah. Dengan demikian, beberapa kegiatan AIK tersebut dapat menjadi penyatu dalam menjalankan suasana akademisinya. Mahasiswa nonmuslim ikut berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan berbagai kegiatan ini dan tidak merasa ada pembeda atau skat selama pelaksanaan segala kegiatan tersebut. Olehnya, kebutuhan terhadap pendidikan yang mampu mengakomodasi dan memberikan pembelajaran untuk mampu menciptakan budaya baru dan bersikap toleran terhadap budaya lain sangatlah penting atau dengan kata lain pendidikan yang memiliki basis multikultural akan menjadi salah satu solusi dalam pengembangan sumberdaya manusia yang mempunyai karakter yang kuat dan toleran terhadap budaya lain. Meskipun dengan beberapa kekurangan yang ada di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, namun tetap berupaya untuk berusaha menuju kesempurnaan baik dalam pembelajaran ataupun dalam pelaksanaan kegiatan. Tetap melindungi dan merangkul semua mahasiswa yang berasal dari lingkungan, daerah, budaya, organisasi bahkan agama yang berbeda. Berdasarkan hasil observasi penulis dengan Hernawati . alah satu mahasiswa non-Muslim Fakultas Kehutana. mengatakan bahwa di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat tidak ada diskriminasi dalam proses pembelajaran bagi mahasiswa non muslim. AuKami selalu dilibatkan dalam segala aktivitas ke-AIK-an. Dosen pengampunya tidak membatasi kami dalam mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan perkuliahan dan ke-AIK-anAy. Selain itu, dosen pengampu tetap memberikan ruang bagi mahasiswa non muslim untuk aktif dalam berorganisasi apapun, baik di dalam lingkungan kampus ataupun di luar lingkungan kampus. Sehingganya aktifitas mahasiswa masih dalam tatanan menjaga nama baik Pergurua Tinggi, maka tidak akan ada batasan bagi mahasiswa untuk selalu berkarya. Penelitian ini sangat mendesak karena Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, seperti banyak institusi pendidikan lainnya, menghadapi tantangan signifikan yang disebabkan oleh perbedaan pemahaman keyakinan, budaya, daerah, dan organisasi keislaman. Konflik yang muncul akibat perbedaan ini tidak hanya menghambat kerjasama dan komunikasi yang efektif, tetapi juga dapat merusak harmoni dan kedamaian di lingkungan kampus. Dengan adanya eksklusivitas yang berkembang, masyarakat kampus cenderung terkotak-kotak dan terpolarisasi. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan strategi pendidikan yang mampu mengakomodasi dan menghargai keragaman, serta mencegah konflik yang mungkin timbul dari perbedaan tersebut. Penelitian ini menawarkan manfaat yang signifikan bagi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dan lembaga pendidikan lainnya. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam kegiatan AlIslam dan Kemuhammadiyahan, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan yang lebih inklusif, egaliter, dan humanis. Manfaatnya mencakup peningkatan pemahaman dan kesadaran di kalangan mahasiswa dan stakeholder tentang pentingnya menghargai keragaman. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi institusi pendidikan lainnya dalam mengembangkan program pendidikan yang menghormati dan mengintegrasikan nilai-nilai multikultural, sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih harmonis dan Solusi yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah integrasi nilai-nilai multikultural dalam setiap kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Pendekatan ini melibatkan internalisasi nilai-nilai inklusif, egaliter, dan humanis dalam materi pembelajaran dan kegiatan AIK. Selain itu, penelitian ini menyarankan pelatihan dan workshop untuk dosen Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dan mahasiswa guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang Penguatan komunikasi dan kerja sama antar kelompok dengan latar belakang yang berbeda juga menjadi bagian penting dari solusi yang Dengan demikian, diharapkan tercipta lingkungan kampus yang lebih harmonis, inklusif, dan bebas konflik, di mana setiap individu merasa dihargai dan diterima tanpa memandang perbedaan mereka. Penjelasan dan argumentasi di atas akan menjadi landasan utama peneliti dalam mengkaji dan menganalisis mengenai nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam kegiatan Al-Islam dan keMuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan penelitian kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kasus dengan cara memahami dan menafsirkan suatu peristiwa nyata yang terjadi di lapangan menurut perspektif peneliti sendiri (Moleong. Lexy J. , 2021, p. Pada tahap pelaksanaan penelitian, peneliti terjun langsung ke Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat untuk mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan pembahasan peneliti dengan beberapa informan yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan. Tahap ini dimulai dengan pengumpulan semua informasi yang ada di lokasi penelitian, dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi (Sugiyono, 2018, p. Selain itu pada tahap ini peneliti juga mengumpulkan berbagai referensi seperti jurnal dan buku yang berkaitan dengan pembahasan dan isi topik penelitian (Moleong. Lexy J. , 2018, p. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan proses di antaranya observasi yang penelitian lakukan pada tanggal 6 sampai 20 Desember 2023, wawancara yang terstruktur peneliti lakukan dengan melihat kondisi kesiapan informan dan dokumentasi (Sugiyono, 2012, p. Diawali melakukan wawancara dengan pimpinan Universitas . ektor UM Sumatera Bara. , kemudian wakil rektor yang membidangi/membawahi AlIslam dan Kemuhammadiyahan, lembaga yang mengurusi tentang kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPIM), dosen, karyawan dan mahasiswa Teknik analisis data dalam penelitian ini dimulai dari pengumpulan data dan informasi terkait Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan kajian penelitian, kemudian data tersebut direduksi, dianalisis, dan disimpulkan menjadi hasil data yang valid. HASIL DAN PEMBAHASAN Perbedaan agama dan keyakinan menjadi salah satu sebab timbulnya kajian multikultural di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Selain agama, juga perbedaan budaya, suku, perkumpulan organisasi, etnis dan kebiasaan yang Menghadapi perbedaan tersebut, beberapa kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan diharapkan mampu menjadi penengah jika konflik/permasalahan yang mengatasnamakan golongan tersebut. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat memiliki berbagai langkah dan teknis dalam mengatasi problem multikultural dilingkungannya. Diantaranya dengan penerapan teknis pembelajaran berbasis multikultural, kurikulum dan materi perkuliahan berbasis multikultural, kegiatan-kegiatan yang bernilai multikultural dan sistem komunikasi stakeholder berbasis multikultural, internalisasi nilai-nilai multikultural dan nilai-nilai inklusif dilingkungan perguruan tinggi. Semua itu sudah dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat baik dalam ranah kegiatan kurikuler . roses pembelajara. ataupun kegiatan ekstrakurikuler . alam berbagai kegiatan kampu. Namun, kiranya pembaharuan demi pembaharuan tetap diusahakan agar mencapai hasil yang maksimal, masih perlu mengembangkan dan memodifikasi materi dan teknis dalam berbagai kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Baik kegiatan yang bersifat ekstra kurikuler ataupun kegiatan proses belajar mengajar ke-AIK-an. Kegiatan yang dimaksudkan adalah program Baitul Arqam bagi mahasiswa, program pendalaman ilmu Islam dasar melalui Mentoring, pembekalan dan pendalaman materi ke-AIK-an bagi para pengampu dan penggerak AIK. Semua hal tersebut dapat dimulai dengan melaksanakan study banding ke Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang sudah melakukan program-program tersebut. Pelaksanaan study banding yang dimaksud bisa sebagai bahan pedoman, acuan dan gambaran dasar bagi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dalam melahirkan program tersebut. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Kondisi masyarakat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat berasal dari berbagai daerah, suku, kebudayaan dan etnis yang berbeda. Kondisi ini menjadikan lingkungan di Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat menjadi multikulturalistik. Jika diperhatikan secara mendalam, maka masih akan ditemukan diantara mereka . yang eksklusifisme. Maksudnya adalah pergaulan mahasiswa masih sebatas dengan mereka yang berasal dari satu daerah yang sama, mereka yang berasal dari satu etnis dan budaya yang sama. Lebihnya lagi adalah pergaulannya hanya sesama golongan/kelompok Pergaulan dalam satu fakultasnya saja, pergaulan dalam satu organisasi saja, pergaulan dalam satu program studi saja. Hal seperti ini terjadi pada mahasiswa yang berada pada tingkatan pertama dan kedua. Mahasiswa pada tingkatan berikutnya terlihat sudah dapat menyesuaikan dengan kondisi Eksklusif ini akan menjadi kebiasaan dilingkungan kampus jika tidak ditanggulangi secara bersama dan bersegera. Eksklusif ini akan menjadikan pergaulan masyarakat perguruan tinggi menjadi berkotak-kotak, bergolongan, dan terjadi pemisahan antara satu dan lainnya. Meskipun Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat tetap berupaya untuk berusaha menuju kesempurnaan baik dalam pembelajaran ataupun dalam pelaksanaan kegiatan. Internalisasi nilai-nilai inklusif ditengah mahasiswa dan masyarakat Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat terus diupayakan agar terjadi inklusifisasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Tetap melindungi dan merangkul semua mahasiswa yang berasal dari lingkungan, daerah, budaya, organisasi bahkan agama yang berbeda. Penerapan nilai-nilai inklusif, egaliter dan humanis dalam praktik kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dapat dirinci pada beberapa penjelasan berikut, diantaranya: pertama Paskamu merupakan salah bentuk beasiswa yang diberikan kepada setiap mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Tujuan dari program ini adalah melahirkan kader-kader Muhammadiyah ditingkat wilayah yang memiliki keahlian khusus dan mumpuni untuk kemajuan persyarikatan Muhammadiyah. Mahasiswa penerima beasiswa paskamu ini dituntut Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan untuk memiliki keahlian dan kecakapan dalam berorganisasi khususnya dalam persyarikatan Muhammadiyah. Pelaksanaan pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dilakukan dengan dua model. Pertama. AIK sebagai kegiatan kurikuler yaitu sebagai mata kuliah yang harus diikuti oleh mahasiswa sebagai pemenuhan SKSnya. Mahasiswa harus mengikuti perkuliahan AIK ini sebanyak 8 SKS yang terbagi kepada AIK1. AIK 2. AIK 3 dan AIK 4 masing-masing 2 SKS. Kedua. AIK sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh seluruh stake holder di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Pendidikan, pembelajaran dan pelaksanaan kegiatan AIK berbasis multikultural selalu berupaya menjadi solusi terbaik bagi masyarakat UM Sumatera Barat dalam menyelesaikan permasalahan yang mengatasnamakan golongan Internalisasi nilai-nilai multikulturalisme dalam setiap materi/kegiatan keAIK-an. Pendidikan AIK . aik sebagai mata kuliah atau kegiatan ekstrakurikule. di UM Sumatera Barat selalu melibatkan mahasiswa dalam setiap kegiatan. Dalam kegiatan tersebut menilai/mengandung nilai-nilai multikulturalisme yang akan dipahami oleh stakeholder. Selagi objek selalu mengikuti dan memahami makna dari kegiatan AIK tersebut, maka yang menjadi tujuan dari pendidikan AIK akan Tujuan Dengan Al-Islam Kemuhammadiyahan yang diikuti oleh stakeholder terutama mahasiswa akan memberikan pemahaman bahwa perlu peningkatan nilai-nilai inklusif, egaliter dan humanis dilingkungan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Pelaksanaan Al-Islam Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat terlihat dalam beberapa cerminan, yaitu dengan pertama adanya pihak Universitas menerima mahasiswa dengan memiliki berbagai latar belakang budaya, asal daerah, adat istiadat dan agama. Dengan kondisi yang multicultural tersebut pihak Universitas mampu mengakomodasi dan mengkoordinit segala kegiatan dan proses pembelajaran tanpa terjadi konflik yang berarti antar etnis, budaya dan agama Dengan segala bentuk kelihaian pimpinan mengelolah sehingga hal-hal Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang tidak diinginkan dapat diminimalisir. Nilai tersebut tercermin dalam tiga aspek, diantaranya: Tercermin dalam kurikulum pembelajaran yang digunakan oleh Lembaga pengkajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang kemudian diturunkan kedalam pelaksanaan perkuliahan, pembelajaran atau dalam pelaksanaan kegiatan baik dalam ranah atau di luar ranah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Kedua Tercemin dalam Attitute dosen dan karyawan dalam melayani Tidak ada ketumpangtindihan dosen dan karyawan dalam memberikan pelayan kepada seluruh mahasiswa. Semua dosen dan karyawan harus bersikap apriori dalam memberikan pelayanan yang baik dan maksimal kepada mahasiswa yang berasal dari berbagai budaya, etnis, suku dan agama. Ketiga Tercermin dalam pelaksanaan kegiatan akademik yang melibatkan seluruh stakeholder termasuk mahasiswa yang berasal dari berbagi kalangan. Dengan demikian setiap kegiatan yang akan dilakukan diembani secara bersama oleh seluruh stakeholder yang Hal tersebut akan meningkatkan jiwa saling menghargai perbedaan, sikap toleransi dan meningkatkan rasa kepemilikikan terhadap Universitas. Ketiga termen tersebut berdasarkan hasil wawancara dengan pimpinan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Beliau menguraikan bahwa: AuKita tidak mewajibkan kepada mahasiswa non Muslim untuk mengikuti perkuliahan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, namun karena kesadaran mereka sendiri mereka mengikuti sepenuhnya perkuliahan ini. Bahkan ada diantara mereka yang tetarik untuk mengkaji dan berdiskusi mengenai nilainilai keislaman. Meskipun demikian, kita tidak ada niat untuk melakukan Islamisasi yang disengaja kepada mahasiswa non Muslim tersebut. Kita tidak membatasi itu, kecuali persoalan aqidah dan Tauhid. Jika membicarakan aqidah dan tauhid tentu aka nada batasan antara mahasiswa Muslim dan Non MuslimAy Hasil wawancara di atas juga divalidasi dari hasil wawancara peneliti dengan informan peneliti yang menjelaskan bahwa: Ausupaya tidak adanya diskriminasi pelayanan sosial, maka kita mengharuskan seluruh dosen dan karyawan memberikan pelayanan yang sama kepada Karena mahasiswa kita berasal dari persukuan Batak yang cara bicaranya keras, persukuan melayu, persukuan minang sendiri bahkan dari agama yang berbeda. Pelayanan yang dimaksudkan diantaranya adalah pelayanan akademik seperti penerimaan beasiswa, nilai yang harus mereka terima, pembiayaan, fasilitas, hak dan kewajiban merekaAy Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Pelaksanaan Al-Islam Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat terlihat karena tidak adanya sistem paksaan yang diberikan oleh lembaga tertentu dan atau universitas untuk mengikuti berbagai bentuk kegiatan didalamnya. Paksaan yang dimaksdukan adalah bagi dosen, karyawan dan atau mahasiswa yang berbeda dan tidak sesuai dengan adat, budaya, etnis tempat berkembangnya Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Lain dari itu, pimpinan tidak berlaku otoriter dalam menjalan roda kepemimpinannya segala sesuatu keputusan tetap mempertimbangkan kepada kondisi stakeholder yang akan dikenai aturan tersebut. Dalam ranah pelaksanaan kegiatan baik dalam maupun luar Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, mak menetapkan aturan yang sama kepada semua mahasiswa dalam menjalankan kegiatan baik internal ataupun eksternal Al-Islam dan kemuhammadiyahan. Seperti halnya yang diuraikan oleh mahasiswa atas nama Andri Santoso: Ausaya kira dengan adanya berbagai background masing-masing mahasiswa ini menjadi wadah bagi kita untuk saling berbagi cerita, sharing keislaman, budaya, dan menjalin ukhwah sama sama berislam tentunya. Justru menjadi keunikan sendiri bagi perguruan tinggi jika memiliki mahasiswa dari berbagai budaya, etnis, suku, agama dan latar. Sesuai dengan ciri Indonesia yang terdiri dari berbagai suku agama dan bangsa namun tetap disatukan oleh satu bangsa, nusa dan bahasa yaitu Indonesia. Begitu juga kita mahasiswa yang berada di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat iniAy Penerapan Kegiatan Al-Islam Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat terlihat pada kebiasaan pimpinan yang adil, bijaksana, dan tidak membeda-bedakan. Seluruh dosen, karyawan dan mahasiswa bernilai sama di AumataAy pimpinan. Selagi stakeholder menjalankan kewajibannya maka tidak ada alasan pihak Universitas untuk tidak memperlakukannya secara adil, baik dan manusiawi. Hal lainnya dalam menyalurkan segala kemampuan yang dimiliki oleh stakeholder tanpa terkecuali dalam sebuah kegiatan. Baik kegiatan dalam lingkup universitas ssecara menyeluruh atau kegiatan yang dilakukan oleh lembaga pengkajian Al-Islam dan Melibatkan seluruh stakeholder dalam agenda-agenda penting universitas. Tujuannya supaya seluruh stakeholder merasa bernilai dan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bermanfaat pada setiap moment yang dilaksanakan. Semua stakeholder memiliki tekad bersama untuk menjalankan dan mensukseskan sebuah kegiatan baik di dalam maupun di luar Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. dengan demikian aka nada peningkatan jiwa kepedulian sesama mahasiswa yang memiliki latar budaya dan agama yang berbeda. Menurut Zenna, salah seorang mahasiswa non Mulsim di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat menguraikan bahwa: Aukami . ahasiswa non Musli. merasa kagum dengan pelayanan Universitas Tidak ada terlihat bentuk pilih kasih pimpinan Universitas dalam memberikan pelayanan, aturan dan hal-hal tertentu. Semua mahasiswa menerima aturan yang sama. Awalnya saya pribadi merasa aka nada aturanaturan berat yang akan diterima karena non muslim, tetapi setelah dijalani tidak hal tersebut kami terima. Contohnya: masalah jilbab. Saya berfikir akan ada paksaan untuk berjilbab selama proses perkuliahan, karena semua mahasiswi muslim diwajibkan berjilbab selama berada dilingkungan kampus, tapi nyatanya tidak ada justru kami saja kadang yang ingin berjilbab. Contoh masalah ikut kegiatan-kegiatan tertentu, saya kira akan dibatasi, ternyata tidak dibatasi hanya tergantung kepada minat atau gakknya mahasiswa dalam menjalankan kegiatan yang dimaksudkan. Jadi khusus bagi mahasiswa non Muslim mengikuti kegiatan itu hanya tergantung kepada kemauannya sajaAy Nilai-nilai AIK dalam penelitian ini dikalsifikasikan dalam dua sekmen, yaitu pertama menguraikan nilai-nilai inklusif, egaliter dan humanis pada AIK sebagai mata kuliah dan atau proses pembelajaran. Baik secara administrasi akademik, proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan muata materi yang digunakan. Dan kedua menguraikan nilai-nilai inklusif, egaliter dan humanis pada kegiatan AIK sebagai sebagai pusat kegiatan dan nilai kebaikan. Karena dasarnya AIK bukan hanya sebuah mata kuliah yang harus diikuti sebagai pemenuhan SKS oleh mahasiswa saja, namun juga sebagai pendalaman dan penerapan nilai-nilai kebaikan yang harus dipraktekkan oleh dosen, karyawan dan mahasiswa melalui beberapa kegiatan yang dirancang oleh Lembaga Pengkajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Seterusnya, kajian tentang Multikultural dalam penelitian ini bukan hanya semata membahas tentang perbedaan agama saja, namun juga perbedaan budaya, etnis, kebiasaan dan organisasi stakeholder di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Karena memang asal usul seluruh dosen, karyawan dan mahasiswa Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat tidak hanya dari Muhammadiyah semata, namun dari berbagai organisasi Islam lainnya. Nilai-nilai Pendidikan Islam Multikultural diupayakan sebagai pemersatu perbedaan demi perbedaan yang ada diantara dosen, karyawan dan mahasiswa Tidak mengutamakan keyakinan, budaya atau organisasi tertentu, namun dengan perbedaan yang ada dapat meningkatkan jiwa persatuan dan saling menghargai perbedaan tersebut didalamnya. Berdasarkan uraian dan penjelasan yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam pelaksanaan kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, dapat disimpulkan beberapa hal penting. Pelaksanaan pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dilakukan dengan dua model utama, yaitu sebagai kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Sebagai kegiatan kurikuler. AIK diimplementasikan dalam bentuk mata kuliah yang harus diikuti oleh mahasiswa sebanyak 8 SKS yang terbagi kepada AIK1. AIK2. AIK3, dan AIK4 masing-masing 2 SKS. Sebagai kegiatan ekstrakurikuler. AIK diikuti oleh seluruh stakeholder di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Pendidikan dan pembelajaran AIK berbasis multikultural selalu berupaya menjadi solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang mengatasnamakan golongan tertentu di kampus. Internalisasi nilai-nilai multikulturalisme dalam setiap materi dan kegiatan AIK menjadi kunci dalam menciptakan pemahaman yang lebih inklusif di kalangan mahasiswa dan stakeholder lainnya. Pelaksanaan konsep inklusif dalam kegiatan AIK terlihat dalam penerimaan mahasiswa dengan berbagai latar belakang budaya, asal daerah, adat istiadat, dan agama oleh pihak Universitas. Kondisi multikultural ini mampu diakomodasi dan dikoordinasikan oleh Universitas tanpa terjadi konflik yang berarti antar etnis. Manfaat mengembangkan model pendidikan Islam multikultural yang dapat diterapkan dalam kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Selain itu, hasil penelitian ini mengimplementasikan nilai-nilai inklusif, egaliter, dan humanis dalam pendidikan. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk mengatasi konflik yang timbul akibat perbedaan pemahaman keyakinan, budaya, daerah, dan organisasi keislaman di lingkungan kampus. Penelitian ini penting untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih harmonis dan inklusif. Alternatif solusi yang dapat diterapkan meliputi integrasi nilai-nilai multikultural dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler, pelatihan dan workshop bagi dosen dan mahasiswa tentang pentingnya multikulturalisme, serta penguatan komunikasi dan kerja sama antar kelompok dengan latar belakang yang Melalui pelatihan dan workshop, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya penerapan nilai-nilai multikultural dalam kehidupan kampus. Penguatan komunikasi dan kerja sama antar kelompok juga dapat membantu mengurangi potensi konflik dan meningkatkan toleransi serta saling pengertian antar mahasiswa dan stakeholder lainnya. Solusi yang dipilih dalam penelitian ini adalah integrasi nilai-nilai multikultural dalam setiap kegiatan AIK, baik kurikuler maupun ekstrakurikuler. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan pemahaman yang lebih baik dan sikap yang inklusif di kalangan seluruh civitas akademika. Dengan integrasi nilainilai multikultural dalam kegiatan AIK, diharapkan mampu menciptakan lingkungan kampus yang lebih harmonis dan inklusif, serta meminimalisir potensi konflik yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan, budaya, daerah, dan organisasi Selain itu, solusi ini juga diharapkan dapat memberikan contoh bagi lembaga pendidikan lainnya dalam menerapkan pendidikan Islam multikultural yang inklusif, egaliter, dan humanis. KESIMPULAN Berdasarkan uraian dan penjelasan yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam pelaksanaan kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut: Pelaksanaan Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan: Pelaksanaan pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dilakukan dengan dua model. Pertama. AIK sebagai kegiatan kurikuler, yaitu sebagai mata kuliah yang harus diikuti oleh mahasiswa sebagai pemenuhan SKS179 Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2024 Ismail Syakban. Sekar Ayu Aryani. Riki Saputra Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Mahasiswa harus mengikuti perkuliahan AIK ini sebanyak 8 SKS yang terbagi kepada AIK1. AIK2. AIK3, dan AIK4 masing-masing 2 SKS. Kedua. AIK sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh seluruh stakeholder di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Pendidikan dan Kegiatan AIK Berbasis Multikultural: Pendidikan, pembelajaran, dan pelaksanaan kegiatan AIK berbasis multikultural selalu berupaya menjadi solusi terbaik bagi masyarakat UM Sumatera Barat dalam Internalisasi nilai-nilai multikulturalisme dilakukan dalam setiap materi dan kegiatan ke-AIK-an. Pendidikan AIK . aik sebagai mata kuliah atau kegiatan ekstrakurikule. di UM Sumatera Barat selalu melibatkan mahasiswa dalam setiap Kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai multikulturalisme yang diharapkan dapat dipahami oleh seluruh stakeholder. Pelaksanaan Konsep Inklusif: Pelaksanaan konsep inklusif dalam kegiatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat terlihat dalam beberapa cerminan. Pihak Universitas menerima mahasiswa dengan berbagai latar belakang budaya, asal daerah, adat istiadat, dan agama. Dengan kondisi yang multikultural tersebut, pihak Universitas mampu mengakomodasi dan mengoordinasikan segala kegiatan dan proses pembelajaran tanpa terjadi konflik yang berarti antar etnis, budaya, dan agama. REFERENSI