Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2751-2761 Strategi Pengembangan Integrasi Usaha Hidroponik Jatinangor Urban Farming Development Strategy of Jatinangor Urban Farming Hydroponic Business Integration Karenza Rinjani Ayu*. Eddy Renaldi Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran *Email: karenza21001@mail. (Diterima 08-04-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Jatinangor Urban Farming merupakan salah satu kelompok usaha urban farming yang bermula dari pemanfaatan lahan tidur tak terpakai. Pada awalnya. Jatinangor Urban Farming hanya fokus dalam proses budidaya hingga penjualan hidroponik saja. Seiring berjalannya waktu, pemilik dan anggota kelompok didalamnya mencoba untuk mengintegrasikan jenis usahanya menjadi usaha kuliner dan agroedukasi. Namun, terdapat tantangan utama yang dihadapi oleh Jatinangor Urban Farming yaitu belum adanya strategi pengembangan yang efektif dan terstruktur sebagai pedoman dalam melakukan integrasi usaha tersebut. Sehingga, penelitian ini dilakukan untuk melihat kondisi usaha Jatinangor Urban Farming saat ini, dengan mengidentifikasi faktor lingkungan internal dan eksternal sehingga terbentuk alternatif strategi pengembangan yang tepat. Desain dan pendekatan penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi kepada pihak pengambil keputusan di Jatinangor Urban Farming yang terdiri atas 3 orang, dilengkapi dengan penguatan data informasi dari 16 informan yang pernah berkunjung ke Jatinangor Urban Farming. Analisis data dilakukan dengan menggunakan matriks IFE. IFE. IE. SWOT, dan QSPM. Hasil perhitungan menunjukkan total skor pada Matriks IFE dan Matriks EFE mengindikasikan faktor internal dan eksternal kelompok berada diatas rata-rata. Posisi Jatinangor Urban Farming saat ini berdasarkan matriks IE berada pada sel V yaitu yaitu posisi strategi mempertahankan dan menjaga (Hold and Maintai. Berdasarkan matriks SWOT diperoleh empat alternatif strategi dengan urutan prioritas strategi pada QSPM adalah . Melakukan penguatan manajemen dan perencanaan usaha dengan membangun manajemen usaha yang lebih terstruktur, . Strategi Pengembangan produk inovatif serta memaksimalkan pemanfaatan diversifikasi usaha . uliner dan agroedukas. , . Strategi Kemitraan dan Ekspansi Pasar, . Meningkatkan branding melalui sosial media dan melakukan pemasaran Kata kunci: Urban Farming. Kuliner. Agroedukasi. Faktor Internal dan Eksternal. QSPM ABSTRACT Jatinangor Urban Farming is one of the urban farming business groups that originated from the utilization of unused land. In the beginning. Jatinangor Urban Farming only focused on the process of cultivation to hydroponic sales only. Over time, the owner and group members tried to integrate their business into a culinary and agro-education business. However, the main challenge faced by Jatinangor Urban Farming is the absence of an effective and structured development strategy as a guideline in integrating the business. So, this research was conducted to see the current condition of the Jatinangor Urban Farming business, by identifying internal and external environmental factors so as to form an appropriate alternative development strategy. The design and approach of this research is descriptive qualitative and case study. Data collection was carried out through interviews and observations to decision makers at Jatinangor Urban Farming consisting of 3 people, complemented by strengthening information data from 16 informants who had visited Jatinangor Urban Farming. Data analysis was carried out using the IFE. IFE. IE. SWOT, and QSPM matrixs. The calculation results show the total score on the IFE Matrix and EFE Matrix indicates the group's internal and external factors are above average. The current position of Jatinangor Urban Farming based on the IE matrix is in cell V, namely the position of the strategy to maintain and maintain (Hold and Maintai. Based on the SWOT matrix, four alternative strategies are obtained with the priority order of strategies in QSPM are . Strengthening business management and planning by building a more professional business management structure, . Innovative product development strategies and maximizing the use of business diversification . ulinary and agroeducatio. , . Partnership and Market Expansion Strategies, . Improving branding through social media and doing digital marketing. Keywords: Urban Farming. Culinary. Agroeducation. Internal and External Factors. QSPM Strategi Pengembangan Integrasi Usaha Hidroponik Jatinangor Urban Farming Karenza Rinjani Ayu. Eddy Renaldi PENDAHULUAN Pertanian perkotaan yang juga dikenal sebagai urban farming, merupakan praktik budidaya tanaman dan ternak secara intensif di kawasan perkotaan dengan tujuan memenuhi kebutuhan pangan, memanfaatkan limbah, dan sumber daya yang tersedia (Food and Agricultural Organization, 2. Kehadiran pertanian di wilayah perkotaan memberikan nilai positif bukan hanya dalam pemenuhan kebutuhan pangan tetapi juga terdapat nilai-nilai praktis yang diharapkan akan berdampak bagi keberlanjutan ekologi maupun ekonomi wilayah perkotaan (Rifqi Fauzi et al. , 2. Pertanian perkotaan semakin banyak diterapkan di berbagai kota di negara berkembang karena mampu memberikan manfaat sosial ekonomi yang luas, seperti meningkatkan ketahanan pangan, mendukung pemerataan sosial, dan menjaga kualitas lingkungan serta kesehatan. Selain itu, praktik pertanian ini hadir sebagai solusi alternatif dari beberapa permasalahan yang muncul akibat pertanian konvensional, seperti hilangnya habitat satwa liar dan penurunan kualitas tanah akibat penggunaan lahan yang intensif (Yuan et al. , 2. Tren Pasar Pertanian Perkotaan Global, perusahaan besar di sektor pertanian perkotaan semakin mengadopsi teknologi canggih seperti pertanian vertikal pintar untuk meningkatkan ketahanan pangan. Dengan dukungan perusahaan AgriTech dan teknologi IoT, metode ini memaksimalkan produksi tanaman di lingkungan perkotaan, mengoptimalkan sumber daya, dan menyediakan produk segar sepanjang tahun. Pada Februari 2024. Masdar City di UEA bermitra dengan Madar Farms untuk mengembangkan pertanian vertikal pintar guna mendukung swasembada pangan. Inisiatif ini, yang selaras dengan Strategi Ketahanan Pangan Nasional UEA, memungkinkan budidaya tanaman dengan penggunaan air lebih efisien dibandingkan metode tradisional, mengatasi tantangan ketahanan pangan dan air di wilayah tersebut. (Urban Farming Global Market Report 2. Tabel 1. Jumlah Rumah Tangga dan Usaha Pertanian Perorangan Urban Farming Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, 2023 Kabupaten//Kota Rumah Tangga Usaha Pertanian Usaha Pertanian Perorangan Regency/Municipality Urban Farming . umah tangg. Urban Farming . Urban Farming Agricultural Households Urban Farming Individual Kode Nama . Agricultural Holding . 3201 Bogor 3202 Sukabumi 3203 Cianjur 3204 Bandung 3205 Garut 3206 Tasikmalaya 3207 Ciamis 3208 Kuningan 3209 Cirebon 3210 Majalengka 3211 Sumedang 3212 Indramayu 3213 Subang 3214 Purwakarta 3215 Karawang 3215 Bekasi 3217 Bandung Barat 3218 Pangandaran 3271 Kota Bogor 3272 Kota Sukabumi 3273 Kota Bandung 3274 Kota Cirebon 3275 Kota Bekasi 3276 Kota Depok 3277 Kota Cimahi 3278 Kota Tasikmalaya 3279 Kota Banjar Jumlah Sumber: Badan Pusat Statistik . Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2751-2761 Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, terdapat sebagian besar kota di Jawa Barat mengalami keterbatasan lahan untuk praktik pertanian tradisional. Jika dilihat lebih spesifik lagi khususnya di Kota/Kabupaten Sumedang bahwa terdapat sejumlah masyarakat yang sudah menerapkan Rumah Tangga Usaha Pertanian Urban Farming walaupun masih terdapat beberapa kota yang jumlahnya lebih banyak dari Kota/Kab Sumedang. Berdasarkan web data, di Kota/Kab Sumedang masih belum ada yang menerapkan sistem Urban Farming yang terintegrasi dengan usaha kuliner dan agroedukasi, hal itu harapannya menjadi salah satu peluang di masa depan. Jatinangor Urban Farming (JUF) merupakan sebuah inisiatif usaha urban farming yang berlokasi di Jatinangor. Kabupaten Sumedang dengan luas lokasi sekitar 1. Jatinangor Urban Farming didirikan dengan tujuan memanfaatkan lahan kosong yang tidak terpakai. Ide ini muncul dari keinginan seseorang untuk mengembangkan lahan tersebut dengan harapan menciptakan usaha yang berorientasi pada keuntungan di masa yang akan datang. Sejak didirikan. JUF telah fokus pada budidaya hidroponik, yang dipasarkan melalui saluran B2B . usiness-to-busines. yaitu kepada mitra-mitra warung sayur dan B2C . usiness-to-consume. yang dijual secara langsung kepada Penyaluran hidroponik dengan sistem B2B terdapat di 8 titik mitra sayur sekitar Bandung Timur tepatnya di daerah Cibiru. Cinunuk. Cileunyi, dan Majalaya. Seiring berjalannya waktu. JUF (Jatinangor Urban Farmin. tidak hanya berhenti pada budidaya hidroponik, tetapi JUF mulai menggarap untuk pengembangan usaha kuliner. Usaha kuliner di Jatinangor Urban Farming mulai beroperasi sejak awal bulan september tahun 2024. Lebih dari sekadar usaha kuliner dan budidaya hidroponik. JUF juga mulai mencoba untuk mengedukasi masyarakat mengenai pertanian, khususnya urban farming. Saat ini. JUF sedang dalam proses mengembangkan program edukasi yang akan membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar tentang pertanian modern. Dengan adanya program agroedukasi. JUF berencana menciptakan integrasi usaha yang unik antara produksi hidroponik, pengelolaan lahan untuk foodcourt berbasis urban farming, dan pembelajaran agroedukasi bagi masyarakat khususnya anak-anak sekolah/mahasiswa. Tabel 2. Omset Hidroponik Jumlah terjual . Pendapatan Harga/pack Agustus September Oktober Agustus September (R. Selada 4000 /180 Bayam 4000 /180 Pakcoy 4000 /200 Kangkung 4000 /200 Total Sumber: Jatinangor Urban Farming . Komoditas Oktober Terlihat dari data yang diambil secara langsung kepada pihak Jatinangor Urban Farming, bahwa omset hidroponik terlihat cukup stabil karena setiap harinya sudah terserap pasar yang jelas. Namun, jika melihat data dari omset kuliner, selama 3 bulan setelah didirikan terdapat omset yang belum Layanan agroedukasi telah dilaksanakan Bersama dengan beberapa sekolah dan juga kampus namun belum berjalan secara rutin. Tantangan utama yang dihadapi oleh Jatinangor Urban Farming adalah belum adanya strategi pengembangan usaha yang efektif dan terstruktur sebagai pedoman dalam melakukan pengembangan integrasi usaha tersebut. Sehingga jika dilihat hingga saat ini, usaha kuliner dan agroedukasi Jatinangor Urban Farming masih terlihat belum stabil dan maksimal, terlihat dari masih minimnya konsumen yang datang untuk berkunjung ke area kuliner Jatinangor Urban Farming. Belum banyaknya sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang mengetahui informasi bahwa Jatinangor Urban Farming menyediakan tempat dan jasa untuk mempelajari terkait Agroedukasi. Hal tersebut tentunya karena terdapat beberapa faktor yang belum optimal dan belum memiliki strategi yang tepat. Tanpa strategi pengembangan usaha yang matang, pengembangan ke sektor kuliner dan agroedukasi berisiko berjalan tidak maksimal apabila tidak segera dievaluasi. Strategi Pengembangan Integrasi Usaha Hidroponik Jatinangor Urban Farming Karenza Rinjani Ayu. Eddy Renaldi Omset Kuliner JUF 2024 September Oktober Coffee Shop November Warung Bakso Gambar 1. Omset Kuliner Sumber: Jatinangor Urban Farming . Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis bagaimana kondisi usaha yang ada di Jatinangor Urban Farming saat ini. Lalu mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang dapat mendorong proses pengembangan usaha, dilanjutkan dengan mengidentifikasi peluang yang dapat dilakukan sehingga akan terbentuk alternatif dan prioritas strategi pengembangan integrasi usaha Jatinangor Urban Farming. METODE PENELITIAN Objek dari penelitian ini adalah strategi pengembangan bisnis pada Jatinangor Urban Farming. Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Caringin. Sayang. Kec. Jatinangor. Kabupaten Sumedang. Jawa Barat 45363 tepatnya di Jatinangor Urban Farming. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja . berdasarkan aspek-aspek tertentu. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, sebuah pendekatan yang secara tepat mengamati permasalahan yang berkaitan dengan fakta atau karakteristik objek tertentu, sebagaimana disebutkan oleh (Mahmud, 2. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus (Case Stud. Menurut Creswell, studi kasus adalah salah satu bentuk penelitian kualitatif, dimana peneliti melakukan eksplorasi mendalam terkait suatu program, peristiwa, proses, atau suatu aktivitas yang melibatkan satu atau beberapa individu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus (Case Stud. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif melalui tiga tahap, yaitu: . Tahap input (Input Stag. yang terdiri atas Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan Matriks External Factor Evaluation (EFE), . Tahap pencocokan (Matching Stag. menggunakan matriks Internal Ae External (IE) dan matriks SWOT, dan . Tahap keputusan (Decision Stag. dengan menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). HASIL DAN PEMBAHASAN Jatinangor Urban Farming (JUF) bermula dari gagasan untuk memanfaatkan lahan tidur yang tidak terpakai sebelumnya. Pada awal Maret 2021. Pak Widi sebagai pemilik memiliki ide untuk mengubah lahan tersebut menjadi lebih produktif dan menarik. Dengan niat sederhana untuk memperbaiki lingkungan sekitar, pemilik JUF memutuskan untuk mencoba metode pertanian hidroponik di dalam sebuah greenhouse. Jatinangor Urban Farming terletak di Jalan Caringin RT/RW 004/012 Desa Sayang Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Jawa Barat, 45363. Perkebunan dengan konsep urban farming ini melakukan penanaman tanaman hidroponik dan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2751-2761 hortikultura, terletak sekitar 2,6 km dari Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Perkebunan ini memiliki luas area seluas 1. 230m2 dengan ketinggian rata-rata 685 mdpl. Jatinangor Urban Farming ini pada awalnya hanya berfokus pada pemanfaatan lahan dan penjualan hasil hidroponik saja, namun seiring berjalannya waktu terjadilah proses integrasi usaha menuju usaha kuliner dan agroedukasi yang mana diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan lahan dan pemasukan yang bisa didapatkan dari proses ketiga lini usaha tersebut. Komoditas tanaman yang dikembangkan di Jatinangor Urban Farming meliputi beberapa jenis sayuran hijau seperti kangkung, selada, bayam, dan pakcoy. Proses pemasaran di Jatinangor Urban Farming dilakukan dengan 2 metode pemasaran yaitu B2B . usiness to busines. dan B2C . usiness to consume. yang mana hingga saat ini Jatinangor Urban Farming telah memasarkan secara B2B kepada beberapa mitra sayur yang berada di sekitar Bandung Timur, tepatnya di daerah Cileunyi. Cinunuk. Cibiru, dan Majalaya. Lalu disebutkan juga bahwa terdapat masyarakat yang langsung datang ke lokasi Jatinangor Urban Farming dan membeli hasil hidroponik secara langsung di lokasi greenhouse-nya. Analisis Faktor Lingkungan Internal Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang mendorong proses pengembangan usaha Jatinangor Urban Farming. Faktor lingkungan internal yang diidentifikasi meliputi lingkup Manajemen. Keuangan. Pemasaran, dan Pengembangan (Kuliner & Agroedukas. Berdasarkan hasil identifikasi maka telah ditemukan beberapa factor kekuatan dan kelemahan dari usaha Jatinangor Urban Farming yang tertera pada tabel 3. Tabel 3. Faktor Lingkungan Internal Faktor Internal Kekuatan Memiliki jumlah SDM yang cukup untuk bertahan dengan kondisi saat ini Memiliki pasar hidroponik yang stabil Memiliki keunikan rencana diversifikasi usaha dengan pengembangan usaha kuliner dan agroedukasi kedepannya Telah memanfaatkan lahan tidak terpakai menjadi lahan produktif Memiliki hasil produksi yang baik dan berkualitas Pengetahuan pengelola yang baik mengenai budidaya hidroponik Tidak sepenuhnya bergantung terhadap cuaca Kelemahan Belum memiliki visi dan misi yang bisa diterapkan Belum memiliki standar pencatatan keuangan yang terstruktur Produksi hidroponik terbatas Kurangya diversifikasi produk Kurangnya branding di sosial media Memiliki lokasi yang terlalu jauh dari jalan utama Lingkup Faktor Manajemen Pemasaran Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen Pemasaran Manajemen Keuangan Pemasaran Pemasaran Pengembangan Manajemen Analisis Faktor Lingkungan Eksternal Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang mendorong proses pengembangan usaha Jatinangor Urban Farming. Faktor lingkungan eksternal yang diidentifikasi meliputi lingkup Ekonomi. Sosial. Budaya. Demografis, dan Lingkungan. Politik. Hukum, dan Pemerintah. Teknologi . Berdasarkan hasil identifikasi maka telah ditemukan beberapa faktor peluang dan ancaman dari usaha Jatinangor Urban Farming yang tertera pada tabel 4. Tabel 4. Faktor Lingkungan Eksternal No. Faktor Eksternal Lingkup Faktor Peluang Adanya permintaan pasar yang tinggi Ekonomi Kesadaran masyarakat akan pangan sehat terus meningkat Sosial. Budaya. Demografis, dan Lingkungan Memiliki lokasi yang akan dikelilingi kost mahasiswa dalam Sosial. Budaya. Demografis, dan beberapa waktu kedepan Lingkungan Perkembangan internet yang semakin meluas dan memberikan Politik. Hukum, dan Pemerintah banyak informasi dengan mudah Strategi Pengembangan Integrasi Usaha Hidroponik Jatinangor Urban Farming Karenza Rinjani Ayu. Eddy Renaldi Ancaman Risiko serangan hama dan penyakit tanaman Belum memanfaatkan teknologi pertanian karena terkendala dalam pengoperasian Pembangunan kost di sekitar lokasi menghambat operasional Sosial. Budaya. Demografis, dan Lingkungan Sosial. Budaya. Demografis, dan Lingkungan Politik. Hukum, dan Pemerintah Analisis Tiga Tahap Formulasi Strategi Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan Analisis Tiga Tahap Formulasi Strategi yang terdari dari tahap masukan . nput stag. , tahap pencocokan . atching stag. , dan tahap keputusan . ecision stag. Tahap Pemasukan (Input Stag. Tahap pemasukan . nput stag. merupakan langkah awal dalam proses perumusan strategi yang bertujuan untuk mengevaluasi berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan suatu inisiatif. Tahap ini berperan sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan strategis, di mana data dan informasi yang dikumpulkan akan menjadi dasar bagi tahap-tahap selanjutnya dalam perencanaan. Pada tahap ini, dilakukan analisis mendalam terhadap faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dan perkembangan usaha. Analisis pada tahap ini terdiri atas Matriks IFE (Internal Factor Evaluatio. dan Matriks EFE (External Factor Evaluatio. yang menggambarkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Jatinangor Urban Farming serta bagaimana kemampuan JUF dalam merespon peluang dan menghadapi ancaman yang ada. Setiap faktor lingkungan internal dan eksternal diberi bobot dan rating oleh informan, sehingga akan didapat hasil nilai rata-rata dari seluruh informan. Nilai skor yang berada pada Matriks IFE dan EFE diperoleh dari hasil perkalian antara rata-rata bobot dan ratarata rating. Tabel 5. Hasil Perhitungan Matriks IFE (Internal Factor Evaluatio. Rata-rata Rata-rata Faktor Internal Bobot Rating Kekuatan 0,078 3,33 A Memiliki jumlah SDM yang cukup untuk bertahan dengan kondisi saat ini 0,083 3,67 B Memiliki pasar hidroponik yang stabil 0,073 C Memiliki keunikan rencana diversifikasi usaha dengan pengembangan usaha kuliner dan agroedukasi kedepannya 0,073 3,33 D Telah memanfaatkan lahan tidak terpakai menjadi lahan 0,076 3,33 E Memiliki hasil produksi yang baik dan berkualitas 0,08 3,67 F Pengetahuan pengelola yang baik mengenai budidaya 0,061 G Tidak sepenuhnya bergantung terhadap cuaca Kelemahan 0,073 1,33 H Belum memiliki visi dan misi yang bisa diterapkan 0,079 1,33 I Belum memiliki standar pencatatan keuangan yang terstruktur 0,08 1,67 J Produksi hidroponik terbatas 0,084 K Kurangya diversifikasi Produk Kurangnya branding di sosial media 0,068 1,33 0,092 M Memiliki lokasi yang terlalu jauh dari jalan utama Jumlah Skor 0,26 0,304 0,218 0,242 0,253 0,293 0,183 0,097 0,105 0,133 0,168 0,091 0,185 2,532 Berdasarkan data yang telah diolah dalam Matriks IFE pada Tabel 4. 3, maka diketahui bahwa diperoleh jumlah skor pada Matriks IFE tersebut sebesar 2,532. Dalam jumlah skor yang tertera maka mengindikasikan bahwa Jatinangor Urban Farming memili skor di atas rata-rata . yaitu 2,0 Ae 2,9 (David, 2. Jika dilihat berdasarkan tabel Matriks IFE yang telah dibuat, kekuatan utama yang dimiliki oleh Jatinangor Urban Farming ditunjukkan oleh faktor point B AuMemiliki pasar hidroponik yang stabilAy dengan skor sebesar 0,304. Selanjutnya, faktor yang menunjukkan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2751-2761 kelemahan utama yang dimiliki Jatinangor Urban Farming adalah point M AuMemiliki lokasi yang terlalu jauh dari jalan utamaAy dengan skor sebesar 0,185. Tabel 5. Hasil Perhitungan Matriks IFE (Internal Factor Evaluatio. Rata-rata Rata-rata Faktor Eksternal Bobot Rating Peluang Adanya permintaan pasar yang tinggi Kesadaran masyarakat akan pangan sehat terus meningkat Adanya kebijakan pemerintah yang mendukung keamanan proses berkembang Memiliki lokasi yang akan dikelilingi kost mahasiswa dalam beberapa waktu ke depan Perkembangan internet yang semakin meluas dan memberikan banyak informasi dengan mudah Ancaman Risiko serangan hama dan penyakit tanaman Belum memanfaatkan teknologi pertanian karena terkendala dalam pengoperasian Pembangunan kost di sekitar lokasi menghambat operasional Jumlah 0,155 0,158 0,122 0,1223,333 Skor 3,333 0,52 3,667 0,582 2,667 0,326 0,407 0,125 3,667 0,459 0,139 0,122 1,667 0,232 1,667 0,205 0,086 2,333 0,201 2,932 Berdasarkan perhitungan dalam tabel Matriks EFE, dapat diketahui bahwa diperoleh jumlah skor pada Matriks EFE yaitu sebesar 2,932 yang mana mengindikasikan bahwa Jatinangor Urban Farming berada pada skor total di atas rata-rata . yaitu 2,0 Ae 2,9 (David, 2. Perluang utama yang dimiliki oleh Jatinangor Urban Farming ditunjukkan oleh faktor B AuKesadaran masyarakat akan pangan sehat terus meningkatAy dengan skor sebesar 0,582 dengan faktor yang menunjukkan ancaman utama yang dimiliki Jatinangor Urban Farming yaitu faktor F AuRisiko serangan hama dan penyakit tanamanAy dengan skor sebesar 0,232. Tahap Pencocokan (Matching Stag. Tahap pencocokan merupakan langkah kedua dalam proses penyusunan strategi, yang bertujuan untuk menghubungkan faktor internal dan eksternal guna mengidentifikasi strategi yang paling sesuai bagi suatu organisasi atau usaha. Pada tahap ini, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan dianalisis secara mendalam, kemudian disesuaikan dengan peluang dan ancaman yang ada di lingkungan eksternal. Matriks IE (Internal-Externa. digunakan untuk memetakan posisi strategi Jatinangor Urban Farming saat ini berdasarkan hasil total skor pada matriks IFE dan EFE. Posisi strategi pada Jatinangor Urban Farming ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. Matriks IE Jatinangor Urban Farming Berdasarkan hasil pemetaan pada Gambar 2. posisi kelompok usaha Jatinangor Urban Farming saat ini berada di sel V, yang menunjukkan bahwa kelompok berada dalam strategi mempertahankan dan menjaga (Hold and Maintai. Strategi yang paling sesuai untuk diterapkan dalam kondisi ini strategi pengembangan produk dan penetrasi pasar. Posisi strategi yang diperoleh dari hasil matriks IE akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan alternatif strategi yang layak dalam pengambilan Strategi Pengembangan Integrasi Usaha Hidroponik Jatinangor Urban Farming Karenza Rinjani Ayu. Eddy Renaldi Keputusan dengan menggunakan matriks SWOT. Berdasarkan hasil analisis faktor lingkungan internal dan eksternal yang telah dilakukan, diperoleh empat jenis strategi alternatif untuk Jatinangor Urban Farming yang dapat diterapkan dalam proses perkembangan usaha, diantaranya yaitu: Strategi S-O (StrengthsAeOpportunitie. Strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha Jatinangor Urban Farming dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk mengambil peluang secara optimal yaitu melakukan Austrategi kemitraan dan ekspansi pasarAy yang mana dengan menjalin kemitraan strategis seperti bekerja sama dan berkolaborasi dengan mitra hidroponik akan meningkatkan hasil produksi yang kuantitasnya lebih banyak guna mencukupi seluruh peluang permintaan yang saat ini belum dapat Strategi WAeO (WeaknessesAeOpportunitie. Strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha Jatinangor Urban Farming guna meminimalisir kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang ada yaitu Aumeningkatkan branding melalui sosial media dan melakukan pemasaran digitalAy. Strategi ini dilakukan dengan cara mengoptimalkan platform digital sebagai sarana promosi dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap produk hidroponik serta manfaat gaya hidup sehat. Strategi S Ae T (Strengths Ae Threat. Strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha Jatinangor Urban Farming dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki dalam menghadapi ancaman yang ada yaitu Austrategi pengembangan produk inovatif serta optimalisasi diversifikasi usaha . uliner dan agroedukas. Ay. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing dan menarik minat konsumen dengan menghadirkan produk-produk baru yang lebih variatif serta memaksimalkan potensi usaha di bidang kuliner dan agroedukasi. Strategi W Ae T (Weaknesses Ae Threat. Strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha Jatinangor Urban Farming untuk meminimalisir dan menghindari ancaman yaitu dengan AuMelakukan penguatan manajemen dan perencanaan usaha dengan membangun manajemen usaha yang lebih terstrukturAy. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperjelas arah perkembangan usaha, serta memastikan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Tahap Keputusan (Decision Stag. Tahap pengambilan keputusan dilakukan dengan cara menyusun daftar prioritas alternatif strategi yang paling tepat dan efektif untuk diterapkan dalam usaha Jatinangor Urban Farming menggunakan Matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matri. Empat alternatif strategi yang diperoleh dari analisis matriks SWOT kemudian dievaluasi dengan pemberian Attractiveness Score (AS), yaitu skor yang mencerminkan tingkat daya tarik masing-masing strategi dalam menghadapi faktor internal dan eksternal. Nilai AS yang telah ditentukan kemudian dikalikan dengan bobot dari setiap faktor strategis, sehingga menghasilkan Total Attractiveness Score (TAS). Selanjutnya, prioritas strategi ditentukan berdasarkan Sum Total Attractiveness Score (STAS), yaitu jumlah keseluruhan nilai TAS secara vertikal. Strategi dengan nilai STAS tertinggi dianggap sebagai strategi yang paling potensial untuk dikembangkan dan diimplementasikan dalam kelompok. Penentuan daya tarik setiap strategi alternatif ini didasarkan pada hasil wawancara dan diskusi dengan pihak Jatinangor Urban Farming, guna mengevaluasi strategi mana yang memiliki dampak paling signifikan dalam pengembangan usaha. Hasil perhitungan yang disajikan dalam lampiran menunjukkan nilai STAS (Sum Total Attractiveness Scor. untuk masing-masing strategi sebagai Tabel 6. Nilai STAS (Sum Total Attractiveness Scor. Alternatif Strategi Nilai STAS 5,484 S - O Strategi Kemitraan dan Ekspansi Pasar 4,946 W - O Meningkatkan branding melalui sosial media dan melakukan pemasaran digital 5,536 S - T Strategi pengembangan produk inovatif serta memaksimalkan pemanfaatan diversifikasi usaha . uliner dan agroedukas. 5,857 W - T Melakukan penguatan manajemen dan perencanaan usaha dengan membangun manajemen usaha yang lebih terstruktur Prioritas Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2751-2761 Berdasarkan hasil olahan yang digambarkan pada Tabel 6, strategi yang menjadi prioritas utama untuk diimplementasikan oleh Jatinangor Urban Farming dengan nilai STAS tertinggi sebesar 5,857 yaitu strategi AuMelakukan penguatan manajemen dan perencanaan usaha dengan membangun manajemen usaha yang lebih terstrukturAy. Lalu, prioritas strategi yang kedua yaitu melakukan strategi AuPengembangan produk inovatif serta memaksimalkan pemanfaatan diversifikasi usaha . uliner dan agroedukas. Ay dengan nilai STAS sebesar 5,536. Berikutnya, prioritas yang menjadi alternatif ketiga yaitu melakukan strategi AuKemitraan dan ekspansi pasarAy dengan nilai STAS sebesar 5,484. Selanjutnya, prioritas yang menjadi alternatif ke-empat dan terendah yaitu AuMeningkatkan branding melalui sosial media dan melakukan pemasaran digital. Ay Necessary & Sufficient Condition Jika dikaitkan dengan syarat keharusan . ecessary conditio. dan syarat kecukupan . ufficient conditio. yang mana necessary condition merupakan syarat yang harus ada agar suatu tujuan dapat dicapai, tetapi keberadaannya sendiri belum cukup untuk memastikan kesuksesan. Sufficient condition merupakan syarat kecukupan untuk memastikan keberhasilan suatu tujuan tanpa perlu tambahan lain. Saat ini. Jatinangor Urban Farming masih berjuang untuk memenuhi necessary conditions, yang berarti JUF belum siap untuk berkembang sepenuhnya. Namun, jika pihak JUF berhasil mengatasi hambatan internal seperti visi misi, aksesibilitas dan fasilitas, mereka perlu melangkah lebih jauh dengan menerapkan sufficient conditions untuk memastikan keberhasilan dalam jangka panjang. KESIMPULAN Setelah melakukan proses analisis, kondisi perkembangan usaha Jatinangor Urban Farming saat ini masih perlu ditingkatkan dan diperbaiki dalam beberapa hal. Saat ini Jatinangor Urban Farming sedang berusaha melakukan integrasi usaha dengan membuka usaha kuliner dan agroedukasi, namun terlihat masih beberapa faktor yang belum dimanfaatkan dengan maksimal. Jatinangor Urban Farming masih fokus kepada usaha penjualan hidroponik, sehingga usaha kuliner dan agroedukasi terlihat masih belum berjalan dengan stabil. Terdapat beberapa faktor internal dan eksternal yang mendorong proses perkembangan Jatinangor Urban Farming, setelah dirumuskan terdapat faktor kekuatan utama yang memengaruhi proses perkembangan Jatinangor Urban Farming yaitu AuMemiliki pasar hidroponik yang stabilAy. Lalu, kelemahan utama yang dimiliki Jatinangor Urban Farming yaitu AuMemiliki lokasi yang terlalu jauh dari jalan utamaAy, sehingga membuat Jatinangor Urban Farming sedikit sulit dikenali dan diakses oleh masyarakat karena jalan yang telalu masuk ke dalam dan cukup kecil. Ditemukan juga faktor eksternal yang memengaruhi pengembangan Jatinangor Urban Farming yang terdiri atas peluang dan ancaman. Peluang utama yang mendorong perkembangan Jatinangor Urban Farming yaitu AuAdanya kesadaran masyarakat akan kesehatan yang terus meningkatAy, dibuktikan dengan banyaknya warung sayur yang ingin mengisi warungnya dengan sayuran hidroponik dibandingkan sayuran hasil budidaya konvensional, dan terjadi pengulangan order yang mana menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kini sudah mulai mengonsumsi sayuran hasil hidroponik. Selanjutnya, ancaman utama yang berkaitan dengan proses perkembangan Jatinangor Urban Farming yaitu AuRisiko serangan hama dan penyakit tanaman. Ay Hasil analisis matriks IE yang telah dilakukan menunjukkan bahwa posisi strategi Jatinangor Urban Farming berada pada sel sel V, yang menunjukkan bahwa kelompok berada dalam strategi mempertahankan dan menjaga (Hold and Maintai. Strategi yang paling sesuai untuk diterapkan dalam kondisi ini strategi pengembangan produk dan penetrasi pasar. Serta, alternatif strategi yang dapat diimplementasikan dan menjadi prioritas strategi dalam proses perkembangan Jatinangor Urban Farming berdasarkan analisis QSPM nilai STAS tertinggi sebesar 5,857 yaitu AuStrategi melakukan penguatan manajemen dan perencanaan usaha dengan membangun manajemen usaha yang lebih terstrukturAy. Strategi Pengembangan Integrasi Usaha Hidroponik Jatinangor Urban Farming Karenza Rinjani Ayu. Eddy Renaldi DAFTAR PUSTAKA