Rekayasa Hijau: Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan ISSN . : 2579-4264 | DOI: https://doi. org/10. 26760/jrh. V9i1. Volume 9 | Nomor 1 Maret 2025 Pengujian Mutu Bahan Aktif IPA Glyphosate 480 SL dalam Sampel Produk Pestisida Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) Laili Meilany1. Ferra Naidir2*. Novita Elia3 Prodi Teknik Kimia. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Kota Bekasi. Indonesia. Prodi Teknik Kimia. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Kota Bekasi. Indonesia. Pusat Promosi dan Sertifikasi Hasil Pertanian. Kota Jakarta. DKI Jakarta. Indonesia. Email: lailimeilany10@gmail. Ferra. naidir@dsn. 1591@gmail. Received 15 Januari 2. Revised 25 Januari 2. Accepted 2 Februari 2025 ABSTRAK Sektor pertanian berperan penting dalam kehidupan, pembangunan, dan perekonomian Indonesia. Untuk meningkatkan produktivitas hasil panen, penggunaan pestisida, termasuk herbisida berbahan aktif seperti IPA Glyphosate, efektif dalam menghambat pertumbuhan gulma, sehingga tanaman utama dapat tumbuh Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa kadar bahan aktif IPA Glyphosate dalam produk pestisida sesuai dengan spesifikasi standar yang telah ditetapkan. Penentuan kadar bahan aktif IPA Glyphosate menggunakan metode HPLC pada kolom fase terbalik C-18 menggunakan fase gerak Aquabidest : Metanol . dengan pH 1,9 dan detektor UV-Vis panjang gelombang 205 nm. Parameter pengujian ini meliputi pengujian linearitas, presisi, kadar bahan aktif. Hasil analisis pengujian mutu yang dilakukan menunjukkan linearitas koefisien determinasi (R. sebesar 0,9973 sesuai pada CIPAC 3807 bahwa mendekati 1. Presisi digambarkan dalam bentuk persentase Relative percent different (%RPD) didapatkan hasil sebesar 2,3%, memenuhi syarat karena O 3,14% (CV Horwit. Dan pada pengujian kadar bahan aktif IPA Glyphosate didapatkan hasil sebesar 499,19 g/L atau 499,19 SL. Kata kunci: IPA Glyphosate, hplc, linearitas, presisi, kadar bahan aktif ABSTRACT The agricultural sector is crucial in Indonesia's life, development, and economy. To increase crop productivity, the use of pesticides, including herbicides with active ingredients such as IPA Glyphosate, is effective in inhibiting weed growth so that the main crop can grow optimally. This study aims to ensure that the levels of active ingredients of IPA Glyphosate in pesticide products are by predetermined standard Determination of IPA Glyphosate active ingredient levels using the HPLC method on a C18 reversed-phase column using a mobile phase of Aquabidest: Methanol . with pH 1. 9 and UV-Vis detector wavelength 205 nm. The parameters of this test include linearity, precision, and active ingredient The results of the quality testing analysis achieved show the linearity of the coefficient of determination (R. 9973 by CIPAC 3807, which is close to 1. Precision was represented as Relative percent different (%RPD) obtained results of 2. 3%, qualified because O 3. 14% (CV Horwit. And in testing the active ingredient content of IPA Glyphosate, the result is 499. 19 g/L or 499. 19 SL. Keywords: IPA Glyphosate, hplc, linearity, precision, active ingredient content Rekayasa HijauAe 70 Pengujian Mutu Bahan Aktif IPA Glyphosate 480 SL Dalam Sampel Produk Pestisida Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara agraris, di mana sektor pertanian mampu melestarikan sumber daya alam, mendukung kehidupan, serta menciptakan lapangan pekerjaan . Oleh karena itu, sektor pertanian berperan penting dalam kehidupan, pembangunan, dan perekonomian Indonesia. Untuk itu pestisida kimia menjadi salah satu jenis pestisida dari beberapa jenis pestisida lain yang efisien, efektif, dan dianggap menguntungkan secara ekonomi dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sehingga kerugian hasil panen pada pertanian dapat diminimalkan . Untuk meningkatkan produktivitas dan melindungi hasil panen dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), penggunaan pestisida telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam praktik pertanian. Pestisida, terutama jenis herbisida, berbahan aktif seperti IPA Glyphosate digunakan secara luas untuk mengendalikan gulma yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman utama. Meskipun penggunaan pestisida ini memiliki berbagai manfaat dan kemudahan, penggunaan yang tidak bijak dan tidak tepat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, mikroorganisme non-target, serta lingkungan, termasuk pencemaran tanah dan air . Herbisida merupakan senyawa kimia yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan atau membasmi tanaman pengganggu. Senyawa ini dapat bersifat beracun tidak hanya bagi gulma atau tumbuhan pengganggu, tetapi juga bagi tanaman lainnya . Bahan aktif adalah komponen utama dalam formulasi pestisida yang berfungsi melindungi tanaman dari gangguan seperti hama, penyakit, dan gulma. Dalam pestisida, bahan aktif menentukan efektivitas produk dalam mengendalikan organisme pengganggu tanpa merusak tanaman utama. Pada herbisida yang berbahan aktif seperti IPA Glyphosate, bekerja secara spesifik menyerang metabolisme gulma, memungkinkan tanaman utama dapat tumbuh optimal. Pengujian mutu produk pestisida perlu dilakukan guna memastikan bahwa produk tetap sesuai standar dan terjamin mutu produknya. Mulai dari proses produksi hingga mendapat izin untuk distribusi, keamanan dan kestabilan produk harus tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa kadar bahan aktif IPA Glyphosate dalam produk pestisida sesuai dengan spesifikasi standar yang telah Beberapa parameter tersebut meliputi pengujian, kadar bahan aktif, linearitas, dan presisi dengan menggunakan alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC). Di antara berbagai metode pemisahan yang ada, kromatografi merupakan metode pemisahan yang umum digunakan dan memiliki cakupan aplikasi yang luas. Prinsip kerja HPLC didasarkan pada perbedaan waktu setiap molekul dalam kolom kromatografi, yang bergantung pada tingkat polaritasnya . Instrumen ini sangat ideal untuk pemisahan zat non-volatil, termasuk ion anorganik, dan senyawa yang tidak stabil secara termal, sehingga lebih dipilih dibandingkan kromatografi gas-cair (GLC). Metode ini memastikan bahwa herbisida memiliki kualitas yang sesuai, presisi tinggi, dan aman digunakan, sehingga dapat mendukung keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia. Penambahan bahan aktif dalam formulasi pestisida perlu dilakukan sebaik mungkin agar memenuhi regulasi standar dan batas toleransinya sesuai Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39/Permentan/SR. 330/7/2015 dan tepat sasaran yakni Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). METODOLOGI 1 Metode Penelitian dilakukan di laboratorium Pusat Promosi dan Sertifikasi Hasil Pertanian. Kota Jakarta Timur. DKI Jakarta. Untuk memastikan kualitas dan keamanan pestisida yang beredar di pasaran, diperlukan metode analisis yang akurat. Penelitian ini menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) sebagai metode utama dalam pengujian kadar bahan aktif IPA Glyphosate 480 SL. Rekayasa Hijau Ae 71 Laili Meilany dkk. 2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan yaitu piknometer, neraca analitik, labu ukur 10 mL, labu ukur 5 mL, sonikator, pipet tetes, botol cokelat, mikro pipet 20-200 AAL, mikro pipet 100 Ae 1000 AAL, vortex, gelas kimia 50 mL, gelas kimia 1000 mL, gelas ukur 100 mL, wadah fase gerak, vial, dan alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) merk (Waters Alliance e2695 Separations Modul. Bahan yang digunakan yaitu sampel produk pestisida. KH2PO4, aquabidest, metanol, ortho-phosporic acid 85 %. 3 Preparasi Sampel Sampel yang akan diuji terlebih dahulu diukur massa jenisnya. Selanjutnya, sampel yang sudah diukur massa jenisnya, ditimbang dengan menggunakan neraca analitik. Ditimbang sebanyak 100 mg sampel dalam labu ukur 10 mL, lalu dilakukan pelarutan dan pemipetan. Untuk pengujian ini IPA Glyphosate dengan pelarut aquabidest. Sampel diencerkan didalam labu ukur 10 mL dengan ditambahkan aquabidest secara sedikit demi sedikit sampai tanda batas didalam sonikator untuk menghindari adanya busa atau gelembung dan agar bisa lebih homogen. Setelah sampai tera dan dihomogenkan, selanjutnya lakukan pemipetan. Pipet yang digunakan untuk pemipetan standar dan sampel adalah mikropipet. Masukan cairan ke dalam vial 1 AAL dan vortex vial yang berisi cairan tersebut agar homogen. 4 Pembuatan Fase Gerak Ditimbang KH2PO4 sebanyak 0,84 gram ke dalam beaker glass 1000 ml, lalu tambahkan 960 ml aquabidest dan 40 ml metanol. Campuran dari beaker glass tersebut dipindahkan ke dalam botol reagen. Homogenkan dengan sonikator selama 20 menit. Larutan fase gerak siap untuk digunakan. 5 Pengkondisian Alat HPLC Alat pengujian yang digunakan yaitu HPLC (Waters Alliance e2695 Separations Modul. Kolom yang digunakan yaitu SphereClone C18 . x 4,6 mm. S-5AA. dengan panjang kolom 250 mm, diameter 4,6 mm, ukuran partikel S-5AAm dengan S menunjukkan bahwa partikel di fase diam berbentuk bulat . Detektor yang digunakan yaitu detektor UV-Vis dengan panjang gelombang 205 nm. Laju alir yang digunakan yaitu 1,200 mL/menit. Volume injector yang digunakan yaitu 10 AAL. Pelarut yang digunakan adalah aquabidest. Dengan fase gerak berupa campuran larutan aquabidest : metanol . Larutan KH2PO4 sebagai larutan buffer atau penyangga, buffer berfungsi untuk menjaga kestabilan pH selama proses kromatografi, dilarutkan dengan Aquabidest : metanol, disesuaikan sampai pH 1,9 dengan Ortho-phosporic acid (Asam Fosfa. Waktu retensi yaitu 8,0 Ae 9,0 menit. Pengkondisian alat dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Pengkondisian Alat HPLC Parameter Kolom Detektor Laju alir Injektor Pelarut Fase gerak Spesifikasi SphereClone C18 . x 4,6 mm. S-5AA. UV, 205 nm 1,200 mL/menit 10 AAL Aquabidest KH2PO4 yang dilarutkan dengan aquabidest : metanol, disesuaikan sampai pH 1,9 dengan Ortho-phosporic acid (Asam Fosfa. 85% Waktu Retensi 8,0-9,0 menit 6 Rumus Perhitungan Uji Linearitas Dilakukan perhitungan untuk menghasilkan persamaan kalibrasi antara konsentrasi standar Glyphosate ([St. ) dan area hasil deteksi HPLC. Hasil Plot adalah kurva linear yang dinyatakan sebagai y = bx a, dimana r2 sebagai determinan linearitas . Persamaan Regresi Linear sebagai berikut: y = bx Ae a Rekayasa Hijau Ae 72 Pengujian Mutu Bahan Aktif IPA Glyphosate 480 SL Dalam Sampel Produk Pestisida Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) Keterangan: : Area deteksi . utput dari HPLC) : Konsentrasi Glyphosate (AAg/m. : Slope : Intercept : Koefisien Determinasi Uji Presisi Jika pengulangan pengujian dilakukan secara duplo maka presisi ditentukan berdasarkan nilai perbedaan persentase relatif . elative percent different, (%RPD), dengan persamaan sebagai berikut: %RPD= OIx y100% . Keterangan: %RPD : Perbedaan presentase relative : Hasil pengujian pertama . - hasil pengujian kedua . : Rerata hasil perhitungan Kadar Bahan Aktif IPA Glyphosate Adapun perhitungan penentuan kadar bahan aktif IPA Glyphosate dengan persamaan sebagai berikut: yaycyceyca ycycaycoycyyceyco Oe yca X contoh y FP BM contoh W contoh BM Standar cIycaycoycyyceyc. ycyci/ycoyco = Kadar Glyphosate= Keterangan: : Konsentrasi : Bobot Penimbangan Contoh : Faktor pengenceran : Berat jenis : Berat Molekul HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian mutu bahan aktif IPA Glyphosate 480 SL bertujuan untuk memastikan konsentrasi dan kemurnian bahan aktif dalam produk pestisida sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh perusahaan yang mengirim sampel maupun oleh peraturan pemerintah. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) digunakan untuk menganalisis kandungan bahan aktif IPA Glyphosate dalam sampel HPLC merupakan metode yang sangat sensitif dan akurat untuk analisis kuantitatif bahan kimia dalam sampel cair. Metode ini memungkinkan pemisahan komponen dalam sampel berdasarkan interaksi mereka dengan kolom dan pelarut yang digunakan dalam sistem HPLC, sehingga bisa mengukur kandungan bahan aktif dengan tepat. Bahan aktif IPA Glyphosate ada dalam formulasi pestisida seperti IPA Glyphosate 480 SL untuk memberikan kemampuan membasmi gulma secara efektif, bahkan untuk gulma dengan akar yang dalam atau sulit dikendalikan. Angka 480 SL pada nama produk merujuk pada konsentrasi bahan aktif dalam larutan, yaitu 480 gram per liter dalam bentuk soluble liquid (SL). SL merupakan kode yang menunjukkan bahwa pestisida mudah larut dalam air dan tidak meninggalkan bekas. Konsentrasi ini dirancang untuk memastikan efisiensi dalam aplikasi dengan memberikan dosis yang tepat untuk Rekayasa Hijau Ae 73 Laili Meilany dkk. membasmi gulma tanpa membahayakan tanaman non-target atau lingkungan jika digunakan sesuai Pengujian mutu ini meliputi beberapa parameter analisis, diantaranya yakni presisi, linearitas, kadar bahan aktif pada produk. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan kesesuaian kadar bahan aktif dalam sampel terhadap standar yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39/Permentan/SR. 330/7/2015. Hasil kemudian dibandingkan dengan nilai standar untuk menilai apakah pestisida yang diuji memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan. 1 Uji Linearitas Linearitas merupakan kemampuan suatu metode analisis untuk menghasilkan sinyal . yang sebanding dengan perubahan konsentrasi analit dalam sampel dalam rentang yang ditentukan . Parameter yang menunjukkan adanya hubungan yang linear dibuktikan dengan menggunakan koefisien determinasi (R. pada regresi linear dengan persamaan y = a bx, di mana y adalah luas area deteksi, a adalah intercept, b adalah slope, dan x adalah konsentrasi. Koefisien determinasi atau R2 adalah suatu nilai yang menggambarkan besar perubahan atau variabel dari variabel terikat bisa dijelaskan oleh perubahan atau variabel dari variabel bebas . Keeratan hubungan linear antara konsentrasi . ariabel beba. dan hasil pengukuran pengujian . ariabel terika. dinyatakan berdasarkan nilai koefisien determinasi. Koefisien determinasi memiliki rentang nilai antara 0 hingga 1. Semakin mendekati 1, artinya variabel independen memberikan hamper seluruh informasi yang diperlukan untuk memperkirakan variabel dependen. Sebaliknya, semakin kecil, artinya semakin terbatas kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen . Pengujian linearitas pada pengujian mutu bahan aktif IPA Glyphosate dengan beberapa tingkat konsentrasi standar yaitu seperti pada Tabel 2 di bawah ini: Tabel 2. Standar Glyphosate [St. [St. ug/ml Area 217,78 435,56 871,13 Slope 114,37x Intercept - 4403,45 0,9973 Hubungan antara konsentrasi standar dan area deteksi pada HPLC bersifat linear dalam kondisi ideal. Semakin tinggi konsentrasi senyawa dalam larutan standar, semakin banyak molekul yang terdeteksi oleh detektor, sehingga luas area di bawah puncak kromatogram meningkat. Pengujian linearitas menggunakan beberapa tingkat konsentrasi standar seperti terlihat pada Tabel 2. Kurva hasil uji linearitas dapat dilihat pada Gambar 1. sebagai berikut: Rekayasa Hijau Ae 74 Pengujian Mutu Bahan Aktif IPA Glyphosate 480 SL Dalam Sampel Produk Pestisida Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) Standar Glyphosate Area y = 114,37x - 4403,4 RA = 0,9973 0,00 200,00 400,00 600,00 [St. ug/mL 800,00 1000,00 Gambar 1. Kurva Hasil Uji Linearitas Berdasarkan Gambar 1, dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi linear yang diperoleh dari pengujian linearitas Glyphosate adalah y = 114,37x Oe 4403,45. Nilai intercept . sebesar -44035,45, nilai slope . sebesar 114,37, dan nilai koefisien determinasi (R. sebesar 0,9973 yang berarti mendekati 1, menunjukkan bahwa kenaikan luas area berhubungan kuat terhadap kenaikan konsentrasi standar glyphosate. Nilai (R. positif menunjukkan bahwa hubungan konsentrasi Glyphosate dan luas area berbanding lurus, artinya ketika konsentrasi standar Glyphosate naik maka luas areanya juga akan Berdasarkan data yang didapatkan maka nilai r hasil pengujian memenuhi syarat keberterimaan yaitu Ou 0,99 yang mengacu pada CIPAC 3807 . 2 Presisi Pengujian presisi atau kecermatan dilakukan untuk mengukur seberapa dekat atau sesuai hasil satu dengan yang lainnya pada serangkaian pengujian, dimana pengukurannya dengan menetapkan keterulangan percobaan yang dilakukan oleh analis dalam kondisi, waktu, dan laboratorium yang sama . Uji presisi dilakukan secara keterulangan . , yaitu keseragaman suatu metode ketika dilakukan berulang kali oleh analis yang sama, dalam kondisi serupa, dan dalam rentang waktu singkat . Pengujian repeatability dilakukan menggunakan sampel herbisida yang telah dipreparasi ke dalam labu ukur kemudian diukur zat aktifnya dengan 2 kali pengulangan . Presisi dari hasil pengukuran ini digambarkan dalam bentuk persentase Relative percent different (%RPD). Analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi konsistensi hasil yang diperoleh oleh analis menggunakan metode dan peralatan uji Nilai Relative percent different (RPD) dinyatakan dalam persen. Jika pengulangan dilakukan secara duplo, maka presisi ditentukan berdasarkan perbedaan persentase relatif . elative percent differen. (%RPD), yaitu: Sehubungan dengan pengulangan dilakukan dalam kondisi repitabilitas, maka batas keberterimaan CVHorwitz = 0,5 2. -0,5 log C) = 0,5 2. -0,5 log . ,19 x 10^-. ) = 3,14% Nilai %RPD yang telah diperoleh dibandingkan dengan nilai Coefficient Variance Horwitz (CV Horwit. , yang merupakan tetapan untuk menunjukkan bahwa koefisien variasi dari data yang diperoleh dapat diterima. CV Horwitz memberikan nilai acuan yang memungkinkan laboratorium menentukan apakah hasil uji presisi memenuhi kriteria keberterimaan dan penggunaannya secara luas menjadikannya acuan global yang dapat diterima di berbagai sektor, termasuk industri pangan, farmasi, lingkungan, dan Nilai %RPD harus lebih kecil dari 0,5 CV Horwitz dikarenakan untuk memenuhi syarat Rekayasa Hijau Ae 75 Laili Meilany dkk. keberterimaan presisi. Karena 2,3% O 3,14% terpenuhi maka hasil rerata pengulangan tersebut dapat dikatakan telah memenuhi syarat keberterimaan tersebut. 3 Kadar Bahan Aktif IPA Glyphosate Penentuan kadar formulasi bahan aktif IPA Glyphosate dalam produk pestisida dianalisis secara kuantitatif menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC). Pelarut yang digunakan didasarkan pada kemampuannya dalam melarutkan bahan aktif, pelarut yang digunakan yaitu aquabidest. Pemilihan aquabidest sebagai pelarut yang bersifat polar karena kesesuaiannya dengan sifat sampel yang polar. Selain itu, pelarut aquabidest lebih disukai karena cocok untuk pestisida yang bersifat polar, memiliki toksisitas rendah, lebih murni, dan biayanya murah. Dalam pengujian ini, fase gerak yang digunakan adalah aquabidest dan metanol dengan perbandingan 24:1 . quabidest 960 mL dan metanol 40 mL) secara isokratik. Sistem isokratik dalam proses pemisahan menggunakan pelarut dengan komposisi yang tetap dan konstan sepanjang proses . Hal ini karena metanol dan air memiliki sifat polar dan analit juga bersifat polar sehingga mudah terlarut bersama fase gerak. Larutan KH2PO4 yang dilarutkan dengan aquabidest : metanol, disesuaikan sampai pH 1,9 dengan Ortho-phosporic acid (Asam Fosfa. Perubahan pH dapat mempengaruhi waktu retensi dari komponen yang dianalisis, senyawa orthophosphoric acid adalah asam kuat yang efektif dalam menurunkan pH larutan dengan cepat. Fase diam atau kolom yang digunakan adalah kolom C-18, kolom ini meggunakan kolom fase terbalik, fase diam yang digunakan bersifat non-polar dan fase geraknya bersifat polar. Detektor yang digunakan adalah UV dengan panjang gelombang 205 nm. laju alir 1,200 mL/menit, volume injeksi 10 AAL dirancang untuk memberikan hasil analisis yang cepat, sensitif, dan akurat. Hasil dari detektor UV pada HPLC berupa kromatogram, yaitu grafik yang menunjukkan hubungan antara intensitas sinyal detektor . dengan waktu retensi . Adapun hasil kromatogram dari pengujian standar Glyphosate dan pengujian bahan aktif IPA Glyphosate dalam sampel pestisida. Dibawah ini merupakan hasil kromatogram pengujian standar Glyphosate menggunakan HPLC terlihat pada Gambar 2 sebagai . Gambar 2. Kromatogram Standar Glyphosate 200 ppm. Kromatogram Standar Glyphosate 400 . Kromatogram Standar Glyphosate 800 ppm Rekayasa Hijau Ae 76 Pengujian Mutu Bahan Aktif IPA Glyphosate 480 SL Dalam Sampel Produk Pestisida Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC) Pada ketiga gambar kromatogram diatas, menunjukkan hasil analisis standar Glyphosate dengan menggunakan HPLC untuk mendeteksi senyawa bahan aktif IPA Glyphosate. Gambar . Standar 200 ppm waktu retensi 8. 530 menit. Gambar . Standar 400 ppm terlihat waktu retensi 8. 568 menit, dan Gambar . Standar 800 ppm terlihat waktu retensi 8. 618 menit. Waktu retensi ini menunjukkan waktu yang dibutuhkan senyawa Glyphosate untuk melewati kolom dan terdeteksi oleh detektor. Waktu retensi adalah waktu yang diperlukan senyawa untuk melewati kolom hingga terdeteksi oleh detektor. Ketiga kromatogram menunjukkan puncak utama pada waktu retensi sekitar 8,5 hingga 8,6 menit, ini mengindikasikan bahwa senyawa Glyphosate terdeteksi secara konsisten di setiap pengujian. Waktu retensi (Retention tim. inilah yang akan dijadikan acuan penentuan peak IPA Glyphosate pada sampel. Kekuatan interaksi antara material kolom dan komponen sampel memengaruhi lamanya waktu retensi . Luas area puncak kemudian digunakan untuk menentukan konsentrasi senyawa dalam sampel dengan menggunakan persamaan regresi linear dari kurva kalibrasi. Standar ini diperoleh dari larutan standar stok Glyphosate, yang ditimbang dari standar baku Glyphosate yang diketahui kemurniannya sebesar 98%. Oleh karena itu. Glyphosate murni ditimbang untuk menghasilkan larutan standar stok dengan konsentrasi 1000 ppm. Acuan awal yang digunakan adalah kadar zat aktif, kemudian ditentukan konsentrasi terendah dan tertinggi yang mungkin terdapat dalam sampel, lalu dilakukan validasi. Fungsi standar adalah untuk penentuan konsentrasi, dengan membandingkan hasil analisis sampel terhadap standar, konsentrasi bahan aktif IPA Glyphosate dalam produk dapat dihitung. Selanjutnya kromatogram hasil pengujian bahan aktif IPA Glyphosate dalam sampel produk pestisida terlihat pada kromatogram seperti pada Gambar 3 dibawah ini: Gambar 3. Kromatogram sampel 045-1. Kromatogram sampel 045-2 Sampel muncul pada waktu retensi 8. 597 menit dan 8. 633 menit dimana waktu retensi ini sama dengan waktu retensi Glyphosate standar. Jika waktu retensi target dalam kromatogram sampel sesuai dengan waktu retensi dalam kromatogram yang diperoleh dari senyawa acuan yang diukur dalam kondisi sama . oleransi A1%, maksimum . Hubungan standar dengan sampel yaitu mengidentifikasi senyawa dalam sampel seperti waktu retensi senyawa dalam sampel dibandingkan dengan waktu retensi standar. Jika waktu retensinya sama atau mendekati, maka senyawa dalam sampel diasumsikan sama dengan Sebelum waktu retensi IPA Glyphosate, terdapat beberapa puncak kecil yang menunjukkan kemungkinan keberadaan senyawa minor atau pengotor dalam sampel. Hasil data pengukuran IPA Glyphosate pada sampel dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini. Tabel 3. Hasil Pengujian Mutu Bahan Aktif IPA Glyphosate Dalam Produk Pestisida Ulangan Bobot . Luas Area Rekayasa Hijau Ae 77 . /L) 493,39 504,99 Rata-rata . /L) 499,19 Laili Meilany dkk. Berdasarkan hasil rerata kadar tersebut diperoleh kadar yang tidak tepat 480 g/L, hal ini bisa saja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti adanya kesalahan yang tak terduga saat formulasi, dan kemungkinan lainnya termasuk dari instrumen yang digunakan. Meskipun kadar yang diperoleh tidak tepat 480 g/L, masih ada nilai batas toleransi yang diperkenankan yakni sebesar 456 g/L Ae 504 g/L. Batasan toleransi diperoleh dari Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39/Permentan/SR. 330/7/2015 tentang Pendaftaran Pestisida yang apabila kadar bahan aktif dalam sampel dinyatakan dalam rentang 250 - < 500 ([Bahan Akti. /L]), maka batas toleransinya sebesar A 5% dari kadar bahan aktifnya, sehingga diperoleh rentang 456 g/L Ae 504 g/L . Dengan konsentrasi yang sesuai, pestisida akan memberikan manfaat maksimal dalam mengendalikan gulma tanpa merugikan pengguna, lingkungan, atau tanaman non-target. Jika kadar bahan aktif melebihi spesifikasi, dapat menyebabkan keracunan tanaman, residu berlebih pada hasil panen yang dapat mengancam keamanan pangan, serta pencemaran lingkungan yang membahayakan organisme nontarget. Sebaliknya, jika terlalu rendah, efektivitas pestisida menurun, sehingga pengendalian hama atau gulma tidak optimal. Dengan demikian, penting untuk memastikan kadar bahan aktif sesuai dengan standar yang ditetapkan untuk menjaga keamanan, efektivitas, dan dampak lingkungan yang minimal. Pengujian seperti menggunakan metode analisis HPLC, menjadi langkah penting dalam memastikan kualitas produk pestisida sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis pengujian mutu yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengujian mutu kadar bahan aktif aktif IPA Glyphosate 480 SL dalam sampel produk pestisida menunjukkan linearitas koefisien determinasi (R. sebesar 0,9973 yang sesuai pada CIPAC 3807 bahwa mendekati 1. Presisi digambarkan dalam bentuk persentase Relative percent different (%RPD) didapatkan hasil 2,3%, memenuhi syarat karena O 3,14% (CV Horwit. Dan pada pengujian kadar bahan aktif IPA Glyphosate didapatkan hasil sebesar 499,19 g/L atau 499,19 SL. Dengan demikian, hasil pengujian mutu kadar bahan aktif IPA Glyphosate ini dinyatakan telah memenuhi syarat keberterimaan Batasan toleransi dari Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39/Permentan/SR. 330/7/2015, batas toleransinya sebesar A 5% dari kadar bahan aktifnya, sehingga diperoleh rentang 456 g/L Ae 504 g/L. Meskipun hasil pengujian memenuhi standar, tantangan industri tetap ada, seperti variasi formulasi dan stabilitas produk tetap perlu dikendalikan melalui Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) yang ketat untuk menjaga kualitas pestisida. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kesempatan, dukungan, dan bimbingan dalam proses pengerjaan hingga penerbitan jurnal ini. Terima kasih kepada Fakultas Teknik Universitas Bhayangkara Jakarta Raya atas fasilitas dan sumber daya yang diberikan, serta kepada para pembimbing, rekan sejawat, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. Semoga jurnal ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di masa depan. DAFTAR PUSTAKA