Tinjauan Buku Andresius Namsi. Islam dan Teologi Kontekstual Alkitabiah (Jakarta: Yayasan Persekutuan Kristen Indonesia, 2. 978-602-73957-1-8. Ada dua tujuan buku ini ditulis. Pertama, masyarakat non-muslim di Indonesia perlu mengenal Islam sebab Islam adalah agama yang paling banyak pemeluknya. Kedua. Namsi ingin mengubah pola berpikir nonmuslim yang hanya melihat Islam dalam perspektif politik ketimbang melihat Islam secara teologis. Adapun pertanyaan yang melatarbelakangi penelitian ini, yaitu apakah Islam dalam perspektif teologi kontekstual alkitabiah dapat memberikan dasar bagi agama Islam dan Kristen untuk saling merangkul dan bekerjasama? Namun, sebelumnya kita perlu melihat benang merah dari buku ini. Dalam buku ini. Namsi terlebih dahulu menjelaskan bahwa agama Islam lahir di tanah Arab di tengah konflik di antara para teolog yang membuat perpecahan dalam gereja terkait isu kristologi . iapakah Yesu. Kubu yang pertama berpandangan bahwa Yesus adalah Tuhan dan manusia . azhab Alexandri. Kubu yang kedua berpandangan bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan (Nestorianisme/mazhab Antiokhi. Pandangan tersebut dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles yang menekankan ketidakmungkinan persatuan antara manusia dan Ilahi. Kubu yang ketiga berpandangan bahwa kemanusiaan Yesus terserap oleh keilahian Yesus (Monofisitism. Konflik kristologi semacam ini, yang bisa dikatakan, sangat memengaruhi pemikiran Muhammad tentang siapakah Yesus. Namsi melihat bahwa Jurnal Amanat Agung pandangan teologi Nestorianisme memiliki korelasi dengan apa yang disampaikan oleh Al-Quran. Pada akhirnya, persoalan kristologi membuat gereja menjadi terasing di tengah-tengah masyarakat Arab, ditambah pula dengan belum adanya Alkitab dan liturgi berbahasa Arab. Pada bagian berikutnya. Namsi menyajikan argumentasi teologis yang perlu diluruskan antara Islam dan Kristen. Pertama. Apakah kedudukan Nabi Muhammad sama dengan Isa Almasih? Namsi menjelaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW dalam Islam tidak bisa dibandingkan dengan posisi Isa Almasih dalam agama Nasrani. Namsi menjelaskan bahwa Isa Almasih lebih tepat disejajarkan dengan Al-Quran karena Isa Almasih itu adalah Kalam Allah yang kekal menjadi manusia, sedangkan Al-Quran adalah Kalam Allah yang kekal menjadi buku. Jadi. Isa Almasih tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW karena ia bukan Kalam Allah, melainkan penerima Kalam Allah. Kedua, bila Al-Quran dan Alkitab sama-sama Firman Allah mengapa ada perbedaan? Bagi Namsi, hal itu bisa disebabkan karena proses pengkanonan masing-masing Kitab Suci. Lebih lanjut, ia menjelaskan isi buku Alkitab mungkin bisa berbeda dengan Al-Quran. Firman Tuhan itu kekal dan tidak mungkin berubah maupun bisa diubah oleh manusia sehingga menurut Namsi pemahaman kitalah yang memerlukan pencerahan dari Allah atas Firman Allah. Ketiga, mengapa umat Nasrani mengimani konsep Trinitas yang seringkali membuat umat Islam salah memahami mengenai Trinitas? Bagi Nasmi. Trinitas memang misteri dan kompleks (Wallahuala. Lebih lanjut. Trinitas merupakan bahasa figuratif, tetapi sering dipahami secara harfiah. Tuhan saja yang mampu memberikan penjelasan yang pasti, karena akal budi manusia terbatas untuk menjelaskan dan memahami keyakinan Trinitas itu. Tinjauan Buku Keempat, mengapa umat Kristen menjadikan manusia sebagai Tuhan? Islam menganggap hal itu sebagai syirik. Bagi Namsi, muslim melihat konsep ini dari pandangan bahasa secara biologis. Umat Nasrani tidak pernah mempercayai bahwa Allah itu beranak secara biologis. Umat Nasrani melihat istilah AuAnak AllahAy secara teologis, yaitu sebagai hubungan rohani, bukan badani. Kelima, penganut agama Islam tidak percaya akan kematian Isa Almasih sebagai kurban Agung di Kayu Salib (QS. Ia adalah seorang Nabi yang tidak mungkin wafat terhina. Bagi agama Nasrani, tujuan dari kematian Isa Almasih adalah untuk menebus dosa manusia. Melihat adanya perbedaan teologis antara Islam dan Kristen. Namsi menyerukan kepada umat Islam untuk mengikuti nasihat Nabi Muhammad SAW. Aujanganlah kamu berdebat dengan ahli Kitab . Ay (QS. Pada topik AuIslam dalam Perspektif Teologi KontekstualAy dalam buku ini adapun pokok pemikiran Namsi sebagai berikut: Pertama. Namsi mengatakan bahwa agama Islam dan agama Kristen sama-sama diselamatkan, asal orang itu memiliki iman. Belajar dari kisah kesembuhan yang dialami oleh Naaman sebagai pemeluk agama orang Aram yang percaya kepada Allah Israel, maka Alkitab hendak memberitahukan bahwa perubahan iman tidak selalu harus disertai perubahan agama sebab yang menyelamatkan kita adalah iman, bukan agama. Kedua, bagi Namsi. Syahadat maupun Shema Israel . engakuan iman untuk seseorang kembali kepada Alla. harus menjadi titik tolak bagi para penganut agama Kristen maupun Islam untuk bekerja sama di Indonesia untuk menciptakan negeri yang penuh damai (Darul Isla. sebagaimana yang dicita-citakan oleh Nabi Muhammad SAW dan terwujudnya Kerajaan Allah di bumi. Ketiga, kalimat yang berbunyi AuLakum diinukum wa liya diiniAy Surah 109. Kalimat ini Jurnal Amanat Agung mempersilahkan kepada kita untuk mengamalkan agamanya masingmasing sesuai dengan keyakinan masing-masing. Surah itu bukan ditujukan kepada agama Nasrani, melainkan bangsa Quraisy. Keempat. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk sholat. Dalam PL, disebutkan dua kali harus sembahyang kepada Tuhan pada waktu pagi dan petang, sementara penganut Yudaisme sembahyang tiga kali sehari. Maka seharusnya bukan hal yang sulit bagi kaum Nasrani modern untuk menerima adanya suara azan dan menikmati waktu sholat bila di dalam hati para penganut agama Kristen itu terdapat komitmen yang baik terhadap kebeneran Firman Allah. Kemudian, umat PL melakukan sembahyang dengan kiblat ke arah Yerusalem. Pada masa awal, umat Islam sembahayang sholat ke arah Yerusalem, tetapi kemudian arah kiblatnya berubah ke Mekkah. Jadi. AlQuran dan Alkitab mengakui bahwa Tuhan Allah itu ada di mana-mana. Kelima. Zakat itu mirip dengan konsep perpuluhan pada Hukum Taurat. Keenam. Alkitab maupun Al-Quran menunjukkan bahwa puasa merupakan karakteristik dari seseorang yang berserah kepada Allah (QS. 33:35. Ul. Maka Yesus Kristus pun mengharapkan para pengikut-Nya melakukan Ketujuh. Tuhan Yesus memang mengatakan bahwa lokasi seperti Yerusalem atau Mekkah, bukan lagi menjadi pusat bagi penyembahan kepada Allah. Tuhan Yesus berkata bahwa penyembah-penyembah Allah yang benar adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:2. Al-Quran pun mengatakan di mana pun dan menghadap mana pun, di situ ada wajah Allah (QS. Namun demikian, bukan berarti bahwa berkumpul di Yerusalem dan Mekkah tidak bisa dipakai oleh Tuhan. Tuhan dapat memakai pertemuan rutin ke Yerusalem atau ibadah haji di Mekkah untuk mendidik umat-Nya tentang kekudusan Allah dan kesatuan manusia Tinjauan Buku dalam kebersamaan sebagai umat Allah. Hemat penulis. Namsi ingin mengatakan bahwa praktik keagamaan Islam miliki kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh umat Allah baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Berdasarkan uraian di atas, pelapor ingin lebih dahulu menyoroti kelemahan dari isi buku ini di mana Namsi tidak secara terbuka mengatakan bahwa titik temu kesamaan antara Kristen dan Islam dari segi teologis maupun ibadat, merupakan informasi yang diperoleh Muhammad . ebelum hadirnya agama Isla. dari proses interaksinya dengan umat Nasrani dan Yahudi yang lebih dulu ada di kawasan Arabia. Di sisi lain, pelapor memberikan apresiasi terhadap Namsi karena melalui bukunya ini ia mampu menjembatani hubungan Kristen dan Islam dengan pendekatan teologi kontekstual Alkitabiah. Akhir kata. Namsi ingin menegaskan bahwa tetap ada perbedaan yang esensial dari kedua agama samawi ini, yaitu Islam tidak bisa menerima teologi inkarnasi dan penebusan dosa melalui kematian Isa Almasih di kayu Salib. Meskipun demikian, tetap ada titik persamaan secara teologis salah satunya ialah sama-sama percaya kepada Allah. Persamaan ini yang menjadi dasar agar kedua agama ini untuk dapat saling merangkul dan bekerja sama bagi kemaslahatan di Indonesia. Arthur Aritonang Alumnus STT Cipanas