157 HEME : Health and Medical Journal pISSN : 2685 Ae 2772 eISSN : 2685 Ae 404x Available Online at : https://jurnal. id/index. php/heme/issue/view/88 Karakteristik Pasien Morbus Hansen di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan Puskesmas Jejaring Tahun 2022-2024 Nur Maeymanah Al Ansar1. Nurelly Noro Waspodo2*. Sigit Dwi Pramono3. Sri Vitayani2. Dian Amelia Abdi2 Program Studi Pendidikan Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia Departemen Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin. Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia. Rumah Sakit Ibnu Sina YW UMI. Indonesia Departemen Biokimia. Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia. Rumah Sakit Ibnu Sina YW UMI. Indonesia Email : nurelly. nurelly@umi. Abstrak Latar Belakang: Morbus Hansen . merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus baru. Pemahaman mengenai karakteristik pasien kusta menjadi fondasi penting untuk memperkuat strategi pengendalian dan meningkatkan mutu layanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien Morbus Hansen di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan puskesmas jejaringnya periode 2022-2024 berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, riwayat pendidikan, gejala awal, hasil pemeriksaan BTA, klasifikasi penyakit, jenis pengobatan, dan kepatuhan pengobatan. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan crosectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien Morbus Hansen periode 2022-2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage sampling . ahap 1: pemilihan lokasi penelitian. tahap 2: total sampling seluruh rekam medis yang memenuhi kriteria inklus. Seluruh data rekam medis pasien dengan diagnosis definitif dan data lengkap diikutsertakan dalam penelitian. Data dianalisis secara univariat dengan menyajikan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Dari 73 pasien, sebagian besar mendapatkan pelayanan di puskesmas . ,4%) dengan proporsi tertinggi di Puskesmas Tamalate . ,2%). Pasien didominasi usia dewasa 18-59 tahun . ,2%), laki-laki . ,4%), pekerja buruh . ,7%), dan pendidikan SMA . ,1%). Gejala awal terbanyak adalah kelainan kulit disertai mati rasa . ,3%), dengan hasil BTA positif . ,6%) dan klasifikasi tipe Multibasiler . ,6%). Pengobatan MDT MB diberikan kepada 72,6% pasien, dan 67,1% pasien patuh menjalani pengobatan. Kesimpulan: Karakteristik pasien Morbus Hansen di lokasi penelitian didominasi usia produktif, laki-laki, pekerja buruh, dengan gejala klasik bercak mati rasa, serta tingginya proporsi tipe MB dan BTA positif yang mengindikasikan masih terjadinya keterlambatan diagnosis. Masih ditemukan sepertiga pasien . ,9%) dengan ketidakpatuhan pengobatan yang memerlukan intervensi program. Kata Kunci: Morbus Hansen. Kusta. Karakteristik Pasien. Epidemiologi. Kepatuhan Pengobatan. Abstract Background: Morbus Hansen . is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium leprae and is still a public health problem in Indonesia, with Indonesia ranking third in the world in the number of new cases. Understanding the characteristics of leprosy patients is an important foundation to strengthen control strategies and improve the quality of health services. Objective: This study aims to find out the description of the characteristics of Morbus Hansen patients at Ibnu Sina Hospital and its network health centers for the 2022- Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 2024 period based on age, gender, occupation, educational history, early symptoms, results of BTA examinations, disease classification, type of treatment, and treatment adherence. Methods: This study is a descriptive study with a cross-sectional approach using secondary data from the medical records of Morbus Hansen patients for the period 2022-2024. The sampling technique used multistage sampling . tage 1: selection of the research location. stage 2: total sampling of all medical records that meet the inclusion criteri. All patient medical record data with definitive diagnosis and complete data were included in the study. Data was analyzed univariate by presenting frequency and percentage distributions. Results: Of the 73 patients, most received services at the health center . 4%) with the highest proportion at the Tamalate Health Center . 2%). Patients were dominated by adults aged 18-59 years . 2%), men . 4%), labor workers . 7%), and high school education . 1%). The most common early symptoms were skin abnormalities accompanied by numbness . 3%), with positive BTA results . 6%) and Multibasiler type classification . 6%). MDT MB treatment was given to 72. 6% of patients, and 67. 1% of patients compliant with treatment. Conclusions: The characteristics of Morbus Hansen patients at the study site were dominated by productive age, male, laborintensive, with classic symptoms of numbness, as well as a high proportion of positive MB and BTA types indicating a delay in diagnosis. It was still found that one-third of patients . 9%) with non-adherence to treatment required program intervention. Keywords: Morbus Hansen. Leprosy. Patient Characteristics. Epidemiology. Treatment Adherence. Email : heme@unbrah. Heme. Vol Vi No 2 May 2026 PENDAHULUAN Morbus Hansen (MH) atau kusta, yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, merupakan infeksi granulomatosa kronis yang menyerang kulit, mukosa, dan saraf Penyakit ini tidak hanya menjadi menyebabkan kecacatan permanen akibat neuropati, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang berat akibat stigma negatif yang berkepanjangan di masyarakat. 1,2 Secara global, kusta masih menjadi tantangan kesehatan, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus baru, melaporkan 14. 376 kasus pada tahun Data ini menegaskan bahwa kusta adalah penyakit terabaikan . eglected diseas. dengan rantai penularan yang masih aktif, yang salah satunya diindikasikan oleh proporsi kasus pada anak-anak . ,2%) dan disabilitas tingkat dua . %). 2,3 Di tingkat lokal. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan bahwa Kota Makassar masih menjadi daerah dengan kontribusi kasus kusta tertinggi di provinsi tersebut, dengan angka penemuan kasus baru yang fluktuatif pascapandemi, meskipun data detail tahun 2022-2024 masih perlu dikaji lebih lanjut dari laporan tahunan setempat. Inti permasalahan dalam pengendalian kusta terletak pada perlunya diagnosis dini dan dengan multidrug therapy (MDT) untuk memutus penularan dan mencegah kecacatan. Keberhasilan terapi ini sangat bergantung pada faktorfaktor seperti karakteristik individu pasien, pengetahuan, kepatuhan minum obat, serta dukungan keluarga. 5Ae7 Penelitian terdahulu menyoroti urgensi pemantauan epidemiologi dan pola klinis kusta di fasilitas pelayanan kesehatan melalui studi retrospektif sebagai fondasi pengendalian penyakit yang efektif. Berbagai kajian menunjukkan kompleksitas seperti quantitative real-time polymerase chain reaction . RT-PCR) dari swab hidung, hingga pentingnya kewaspadaan terhadap efek samping terapi seperti hemolisis akibat dapson, terutama pada pasien dengan defisiensi G6PD. 8,9 Selain aspek klinis, risiko kecacatan berat . rade 2 disability/disabilitas tingkat du. akibat keterlambatan diagnosis menjadi perhatian serius, sehingga evaluasi dini keterlibatan saraf sangat krusial. 10 Di tingkat layanan, tantangan non-klinis seperti stigma historis yang melekat pada institusi kusta turut mempengaruhi kepercayaan dan akses masyarakat terhadap layanan, seperti yang terlihat pada transformasi RSUP Dr. Tadjuddin Chalid di Makassar. 11 Sementara itu, dinamika sistem kesehatan daerah, termasuk inovasi layanan seperti home care di Makassar, tantangan implementasi dan fluktuasi pemanfaatan, terutama pada masa pandemi, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi akses dan kontinuitas perawatan pasien kusta. Dari beragam penelitian tersebut, terlihat adanya kesenjangan . berupa belum tergambarkannya profil komprehensif pasien kusta yang menjalani pengobatan di fasilitas layanan swasta seperti Rumah Sakit Ibnu Sina dan jejaring puskesmas di Makassar pascapandemi, yang mencakup karakteristik demografis, klinis, dan pola pengobatan secara terintegrasi. Mengingat beban kasus permasalahan yang menyertainya, penelitian ini menjadi urgen untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasien Morbus Hansen di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan puskesmas jejaringnya pada periode 2022-2024. II. BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan studi deskriptif pendekatan cross-sectional yang bertujuan menggambarkan karakteristik pasien Morbus Hansen . di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan puskesmas jejaringnya, dilaksanakan pada Oktober 2025 Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 hingga Januari 2026 menggunakan data sekunder dari rekam medis periode 20222024. 12Ae15 Seluruh data rekam medis pasien definitif Morbus Hansen berdasarkan kriteria Kementerian Kesehatan RI . etidaknya satu dari tiga: lesi kulit hipopigmentasi/eritematosa dengan hilang sensasi, penebalan saraf perifer disertai gangguan fungsi, atau hasil Basil Tahan Asam/BTA positif pada sediaan apusan kulit dari skin scraping di lobulus telinga, lesi aktif, atau mukosa hidun. akan diikutsertakan, sedangkan rekam medis dengan data tidak lengkap atau diagnosis Mengingat penelitian ini mencakup dua tipe fasilitas (RS swasta dan jejaring puskesma. di suatu wilayah administratif Makassar, teknik pengambilan data yang digunakan adalah multistage sampling . ahap 1: memilih RS Ibnu Sina dan puskesmas jejaringnya sebagai lokasi. tahap 2: total sampling seluruh rekam medis pasien MH periode 2022-2024 yang bukan consecutive sampling karena periode Data yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, gejala awal, hasil BTA . ositif/negati. dari apusan kulit, klasifikasi tipe kusta berdasarkan WHO (Pausibasiler: BTA negatif dengan lesi O5. Multibasiler: BTA positif atau lesi Ou. serta klasifikasi Ridley-Jopling jika tersedia, jenis MDT . ultidrug therap. , dan kepatuhan pengobatan . inilai dari catatan pengambilan obat bulanan: patuh jika Ou80% dosis diminum sesuai jadwa. Seluruh variabel diukur dengan menelusuri catatan yang sudah terdokumentasi dalam rekam medis oleh klinisi penanggung jawab pasien, kemudian data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi pasien Morbus Hansen di lokasi penelitian. Email : heme@unbrah. HASIL DAN PEMBAHASAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar, sebagai rumah sakit rujukan di Kota Makassar, memiliki peran strategis dalam pelayanan penanganan komprehensif Morbus Hansen yang meliputi pemeriksaan klinis dan BTA, klasifikasi penyakit, serta pemberian terapi Multi Drug Therapy (MDT) sesuai pedoman nasional dan WHO. Penelitian ini juga melibatkan puskesmas jejaring di wilayah Kota Makassar yang berfungsi sebagai ujung tombak penemuan kasus, deteksi dini, edukasi kesehatan, serta pemantauan kepatuhan pengobatan pasien melalui terintegrasi dengan program nasional. Kota Makassar yang masih memiliki jumlah kasus kusta relatif tinggi akibat faktor kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat, dan sosial ekonomi, menjadikan Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan puskesmas jejaringnya sebagai lokasi penelitian yang tepat karena ketersediaan data rekam medis periode 20222024 yang lengkap dan terdokumentasi baik, mencakup karakteristik demografis, klinis, hasil pemeriksaan, klasifikasi penyakit, jenis pengobatan, hingga kepatuhan pasien. Keterpaduan puskesmas dan rumah sakit memungkinkan diperolehnya gambaran karakteristik pasien secara menyeluruh dan representatif, sehingga diharapkan hasil penelitian ini perencanaan program pengendalian kusta di Kota Makassar. Heme. Vol Vi No 2 May 2026 DISTRIBUSI SAMPEL PENELITIAN BERDASARKAN TEMPAT PELAYANAN TABEL 1. DISTRIBUSI SAMPEL PENELITIAN MENURUT TEMPAT PELAYANAN Frekuensi Persentase Tempat Pelayanan RS Ibnu Sina Puskesmas Maccini Sawah Puskesmas Jumpandang Baru Puskesmas Jongaya Puskesmas Mamajang Puskesmas Layang Puskesmas Sudiang Raya Puskesmas Tabaringan Puskesmas Pertiwi Puskesmas Cendrawasih Puskesmas Tamalate Puskesmas Minasa Upa Total . (%) Berdasarkan tabel distribusi sampel menurut tempat pelayanan, diketahui bahwa total keseluruhan sampel penelitian berjumlah 73 pasien Morbus Hansen yang tersebar di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan sepuluh puskesmas jejaringnya. Distribusi pasien menunjukkan variasi yang cukup besar antar fasilitas kesehatan, dengan proporsi tertinggi berada di Puskesmas Tamalate sebanyak 14 pasien . ,2%), diikuti oleh Puskesmas Jumpandang Baru sebanyak 9 pasien . ,3%) dan Puskesmas Sudiang Raya sebanyak 8 pasien . ,0%). Sementara itu. Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar mencatatkan 7 pasien . ,6%) yang merupakan pasien rujukan dari berbagai Beberapa puskesmas seperti Jongaya dan Layang masing-masing memiliki 5 pasien . ,8%), sedangkan puskesmas dengan jumlah pasien terendah adalah Puskesmas Mamajang dan Puskesmas Minasa Upa yang masing-masing hanya mencatatkan 1 pasien . ,4%). Sebaran yang tidak merata ini menggambarkan variasi beban kasus kusta di setiap wilayah kerja puskesmas serta kemungkinan perbedaan dalam efektivitas penemuan kasus dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan di masing-masing lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien Morbus Hansen mendapatkan pelayanan di puskesmas jejaring dibandingkan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Hal ini mengindikasikan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran yang sangat dominan dalam penanganan kusta, terutama dalam penemuan kasus, pengobatan rutin. Puskesmas berfungsi sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan program pengendalian kusta di masyarakat, yang mencerminkan bahwa sebagian besar kasus dapat dikelola secara efektif di tingkat pelayanan primer tanpa harus dirujuk ke rumah sakit. Sementara itu, rumah sakit rujukan komplikasi, reaksi kusta berat, atau pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan penanganan spesialistik, menunjukkan bahwa sistem rujukan antara puskesmas dan rumah sakit telah berjalan sesuai dengan peran masing-masing fasilitas. Temuan ini sejalan dengan penelitian di Puskesmas Tamalate Makassar yang melaporkan bahwa sebagian besar pasien kusta menjalani pengobatan di puskesmas sebagai fasilitas pelayanan primer. Namun, hasil ini berbeda dengan penelitian di RSUD Bali Mandara yang menemukan dominasi kasus kusta ditangani di rumah sakit rujukan, yang kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik wilayah dan sistem rujukan 1 Perbedaan ini menunjukkan bahwa pola distribusi pelayanan kusta sangat dipengaruhi oleh konteks lokal, termasuk kebijakan kesehatan daerah, ketersediaan fasilitas, dan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan kesehatan di masingmasing wilayah. Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN DATA DEMOGRAFIS TABEL 2. DATA DEMOGRAFIS RESPONDEN Demografis Hasil Ukur Frekue Persent ase (%) Bayi dan Balita (<. Usia Anak-Anak . Remaja . Dewasa . Lansia (>. Laki-Laki Jenis Perempuan Kelamin Pekerjaan Pelajar IRT Buruh Wiraswasta PNS Tidak Bekerja Tidak Sekolah Riwayat Pendidikan Tidak Tamat SD SMP SMA Total Berdasarkan responden, karakteristik usia pasien Morbus Hansen menunjukkan bahwa kelompok usia dewasa . -59 tahu. mendominasi dengan jumlah 52 pasien . ,2%), diikuti oleh kelompok lansia (>60 tahu. sebanyak 10 pasien . ,7%) dan kelompok remaja . -18 tahu. sebanyak 9 pasien . ,3%). Kelompok bayi dan balita (<5 tahu. serta anak-anak . -9 tahu. masing-masing hanya mencatatkan 1 pasien . ,4%). Ditinjau dari jenis kelamin, pasien laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan, yaitu 47 pasien . ,4%) berbanding 26 pasien . ,6%). Berdasarkan menduduki proporsi tertinggi sebanyak 18 pasien . ,7%), disusul oleh pelajar sebanyak 15 pasien . ,5%), ibu rumah tangga sebanyak 12 pasien . ,4%), wiraswasta sebanyak 10 pasien . ,7%), serta PNS dan kelompok tidak bekerja yang masing-masing berjumlah 9 pasien . ,3%). Dari segi riwayat pendidikan, mayoritas pasien memiliki tingkat pendidikan SMA sebanyak 22 pasien . ,1%), diikuti oleh Email : heme@unbrah. tamatan SD sebanyak 14 pasien . ,2%), tidak tamat SD sebanyak 13 pasien . ,8%), tamatan SMP sebanyak 10 pasien . ,7%), tidak sekolah sebanyak 5 pasien . ,8%), pendidikan S1 sebanyak 6 pasien . ,2%), dan D3 sebanyak 3 pasien . ,1%). Data demografis ini memberikan gambaran bahwa kusta paling banyak ditemukan pada usia produktif, pada laki-laki, pada pekerja kasar seperti buruh, serta pada pasien dengan latar belakang pendidikan menengah. Berdasarkan karakteristik usia, penelitian ini menemukan bahwa mayoritas pasien Morbus Hansen berada pada kelompok usia dewasa . -59 tahu. yang merupakan usia produktif dengan aktivitas sosial dan mobilitas tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kontak dan keterpaparan terhadap sumber Meskipun kasus pada anak usia <15 tahun relatif kecil, keberadaannya mengindikasikan bahwa transmisi penyakit masih berlangsung aktif di masyarakat, terutama melalui kontak erat di lingkungan rumah tangga dengan penderita kusta serta dipengaruhi oleh faktor sanitasi buruk dan kondisi sosial ekonomi rendah. Sementara itu, kejadian kusta pada kelompok usia lanjut menunjukkan bahwa faktor lingkungan tempat tinggal turut memberikan kontribusi penting, meskipun secara imunologis kelompok ini masih memiliki kemampuan fungsional untuk memproduksi sel T CD8 sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Ditinjau dari jenis kelamin, mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki, yang dapat dijelaskan melalui aktivitas di luar rumah yang lebih intens serta perbedaan biologis terkait respons imun, di mana laki-laki hanya memiliki satu kromosom X sehingga dinilai memiliki kapasitas pertahanan tubuh yang relatif lebih rendah terhadap infeksi Mycobacterium leprae. 17 Perempuan yang terkena kusta umumnya merupakan bagian dari populasi yang terpapar di wilayah endemis melalui kontak langsung dan inhalasi aerosol, dengan risiko meningkat pada kondisi lingkungan padat dan kurang Heme. Vol Vi No 2 May 2026 higienis serta dipengaruhi oleh daya tahan tubuh inang, khususnya imunitas seluler. Dari segi pendidikan, dominasi pasien dengan pendidikan SMA mencerminkan bahwa kelompok usia produktif yang menempuh pendidikan hingga tingkat menengah memiliki aktivitas sosial dan mobilitas tinggi, sehingga meningkatkan peluang kontak dengan sumber penularan. Namun, proporsi pasien dengan pendidikan dasar dan tidak tamat sekolah yang juga cukup besar menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi, kepadatan hunian, serta keterbatasan pengetahuan tentang gejala awal kusta masih berperan dalam keterlambatan diagnosis, sehingga upaya promosi kesehatan dan skrining tetap perlu menyasar seluruh lapisan masyarakat secara Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar pasien berasal dari kelompok buruh, yang diduga berkaitan dengan status sosial ekonomi lebih rendah, lingkungan tempat tinggal dengan sanitasi kurang baik, kepadatan hunian tinggi, serta keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan dan pelayanan medis. 19 Kelompok tidak bekerja juga ditemukan dalam proporsi yang cukup besar, yang sering berkaitan dengan kemiskinan dan akses kesehatan yang buruk, meningkatkan risiko keterlambatan diagnosis dan paparan kontak erat dalam rumah 20 Keberadaan pelajar yang terkena kusta mencerminkan pola paparan sosial tertentu melalui interaksi intensif di lingkungan sekolah dan kontak erat dengan anggota keluarga di rumah, yang merupakan mekanisme utama penularan Mycobacterium leprae di wilayah endemis. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pasien Morbus Hansen paling banyak berada pada usia produktif . -54 tahu. , berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki tingkat pendidikan menengah. Dominasi usia produktif mencerminkan bahwa kelompok ini memiliki mobilitas dan interaksi sosial tinggi, sehingga meningkatkan peluang pajanan terhadap Mycobacterium leprae. 2,23 Sementara itu, proporsi tinggi pada laki-laki dapat dijelaskan oleh peran sosial yang lebih perempuan dengan kontak rumah tangga intens juga berisiko signifikan. Kelompok buruh ditemukan sebagai yang terbanyak dalam penelitian ini. Tingginya kejadian MH pada buruh dapat dijelaskan oleh beberapa faktor sosial-ekonomi dan lingkungan: . pendapatan tidak tetap sehingga akses terhadap layanan kesehatan terbatas dan keterlambatan diagnosis sering terjadi, . kondisi hunian yang padat dan kurang ventilasi, memfasilitasi penularan droplet, . lingkungan kerja yang mungkin berada di daerah endemis atau kumuh, serta . tingkat pendidikan yang umumnya rendah sehingga pengetahuan tentang kusta dan perilaku mencari pengobatan masih 4 Faktor-faktor ini secara kolektif menciptakan kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerjaan lain. Kelompok ibu rumah tangga yang terinfeksi berkaitan dengan intensitas waktu di lingkungan domestik dan interaksi erat berkepanjangan terhadap sumber penularan di dalam rumah tangga. 22 Kelompok wiraswasta yang ditemukan dalam proporsi kecil memiliki pola aktivitas kerja beragam dengan interaksi sosial bervariasi serta kondisi sosial ekonomi yang tidak selalu stabil, yang dapat membatasi akses terhadap menyebabkan keterlambatan diagnosis. Sementara itu, keberadaan Pegawai Negeri Sipil menunjukkan bahwa jenis pekerjaan formal tidak melindungi seseorang dari risiko penularan, karena mekanisme utama interpersonal intens di lingkungan rumah tangga atau komunitas endemis, serta stigma Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 sosial yang berpotensi menunda pencarian pelayanan kesehatan. yang mencerminkan adanya keterlambatan diagnosis atau akses pelayanan kesehatan. Dengan demikian, temuan ini secara umum sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan dominasi usia produktif, jenis kelamin laki-laki, pendidikan menengah, dan pekerjaan buruh pada pasien kusta. 2,4,25 Namun, berbeda dengan penelitian di wilayah tertentu yang menemukan proporsi usia anak lebih tinggi, perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh derajat endemisitas yang bervariasi antar daerah, cakupan program pengendalian kusta, serta keberhasilan deteksi dini dan pengobatan kasus dewasa sebelum menularkan ke anak. Gejala awal yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini adalah kelainan kulit berupa bercak hipopigmentasi . ercak yang lebih cerah dari kulit sekitarny. disertai mati rasa, yang sesuai dengan patofisiologi Morbus Hansen yang menyerang saraf perifer sehingga menimbulkan gangguan Berdasarkan kajian klinis dan pedoman WHO, bercak hipopigmentasi yang disertai mati rasa . ipoestesi atau anestes. merupakan salah satu tanda kardinal utama dalam diagnosis klinis kusta, yang membedakannya dari penyakit kulit lain. Bercak ini dapat pula berupa bercak hiperpigmentasi pada beberapa tipe, namun ciri khas yang paling membedakan adalah hilangnya sensasi pada area tersebut akibat kerusakan saraf perifer oleh Mycobacterium Selain bercak mati rasa, ditemukan pula variasi gejala lain seperti nodul . kibat infiltrasi bakteri dan sel imun yang membentuk massa di bawah kuli. , kulit kibat kerusakan saraf otonom yang mengganggu fungsi kelenjar keringa. , serta gangguan motorik . isebabkan neuropati pada saraf perifer sehingga menimbulkan Keterlibatan area wajah dan ekstremitas dapat menghasilkan perubahan bentuk wajah serta kelainan pada tangan dan kaki, sementara kerusakan sensorik membuat cedera ringan sering tidak disadari dan bercampur dengan luka, ulkus, atau KARAKTERISTIK PASIEN MORBUS HANSEN BERDASARKAN GEJALA AWAL TABEL 3. DISTRIBUSI GEJALA AWAL Gejala RESPONDEN MENURUT Frekuens Persenta i . se (%) Kelainan kulit disertai mati rasa Penebalan saraf tepi Ulkus Gangguan motorik Gejala lain Total Berdasarkan tabel distribusi responden menurut gejala awal, ditemukan bahwa sebagian besar pasien Morbus Hansen datang dengan keluhan utama kelainan kulit disertai mati rasa . , yaitu sebanyak 55 pasien . ,3%). Gejala lain yang tidak spesifik dilaporkan oleh 10 pasien . ,7%), sementara gejala berupa penebalan saraf tepi dan gangguan motorik masing-masing dialami oleh 3 pasien . ,1%), dan gejala ulkus dilaporkan oleh 2 pasien . ,7%). Dominasi gejala kelainan kulit dengan mati rasa ini menunjukkan bahwa manifestasi klinis klasik kusta masih menjadi alasan utama pasien mencari pengobatan, sekaligus masyarakat terhadap gejala awal kusta sudah cukup baik. Meskipun demikian, masih terdapat pasien yang datang dengan gejala lanjut seperti ulkus dan gangguan motorik Email : heme@unbrah. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang anaesthetic patch merupakan manifestasi klinis paling umum pada penderita kusta. Secara patofisiologis, hal ini dapat dijelaskan karena Mycobacterium leprae menargetkan sel Schwann pada saraf perifer dan jaringan kulit, sehingga mengakibatkan hilangnya sensasi pada lesi kulit. Dengan demikian, temuan bercak hipopigmentasi yang mati Heme. Vol Vi No 2 May 2026 rasa tidak hanya menegaskan diagnosis kusta secara klinis, tetapi juga menekankan pentingnya pemeriksaan sensorik pada lesi kulit sebagai indikator awal infeksi. Namun, berbeda dengan penelitian yang lebih banyak menemukan keluhan nodul dan reaksi kusta sebagai manifestasi awal, yang kemungkinan dipengaruhi oleh tipe kasus yang diteliti . isalnya dominasi tipe multibasiler dengan beban bakteri tingg. dan spektrum klinis pasien yang datang ke fasilitas pelayanan. pemeriksaan penunjang penting dalam menentukan klasifikasi penyakit dan strategi menunjukkan kemampuan pasien untuk menularkan penyakit kepada orang lain melalui kontak erat. 17 Tingginya proporsi BTA positif juga berkorelasi dengan dominasi tipe multibasiler yang ditemukan dalam penelitian ini, yang umumnya memiliki jumlah lesi lebih banyak dan keterlibatan saraf yang lebih luas. KARAKTERISTIK PASIEN HANSEN BERDASARKAN PEMERIKSAAN BTA Sementara itu, pasien dengan hasil BTA negatif tetap dapat ditegakkan diagnosis Morbus Hansen berdasarkan kriteria klinis yang telah ditetapkan dalam metode penelitian, yaitu ditemukannya lesi kulit hipopigmentasi disertai mati rasa . alah satu tanda kardina. atau penebalan saraf perifer Hal menegaskan bahwa diagnosis kusta tidak bakteriologis tetapi juga pada pemeriksaan klinis yang komprehensif, terutama di keterbatasan akses laboratorium. Pendekatan ini sejalan dengan pedoman WHO yang menekankan bahwa diagnosis kusta dapat ditegakkan secara klinis tanpa konfirmasi bakteriologis, khususnya di daerah endemis dengan sumber daya terbatas. MORBUS HASIL TABEL 4. DISTRIBUSI RESPONDEN MENURUT HASIL PEMERIKSAAN BTA Pem. BTA Frekuensi . Persentase (%) Positif Negatif Total Berdasarkan tabel distribusi responden menurut hasil pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asa. , diketahui bahwa sebagian besar pasien Morbus Hansen menunjukkan hasil pemeriksaan BTA positif, yaitu sebanyak 53 pasien . ,6%). Sebaliknya, pasien dengan hasil pemeriksaan BTA negatif berjumlah 20 pasien . ,4%). Tingginya proporsi pasien dengan BTA positif mengindikasikan bahwa mayoritas pasien yang terdiagnosis memiliki beban bakteri yang cukup tinggi dan berpotensi menjadi sumber penularan aktif di Hal ini juga sejalan dengan dominasi tipe kusta multibasiler yang umumnya menunjukkan hasil BTA positif. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan pengobatan segera untuk memutus rantai penularan serta mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut. Sebagian besar pasien dalam penelitian ini menunjukkan hasil pemeriksaan BTA positif, yang menandakan adanya beban kuman yang tinggi dan mengindikasikan bahwa pasien datang berobat pada fase penyakit yang relatif lanjut. Pemeriksaan BTA merupakan Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menemukan dominasi hasil BTA positif pada pasien kusta, yang mencerminkan pola keterlambatan diagnosis yang masih terjadi di berbagai wilayah. 5 Namun, berbeda dengan penelitian yang melaporkan proporsi BTA negatif lebih tinggi pada pasien tipe borderline tuberkuloid, yang berkaitan dengan perbedaan spektrum klinis dan respons imun pasien. 17 Perbedaan ini menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan BTA sangat dipengaruhi oleh tipe kusta, stadium penyakit saat diagnosis, serta kualitas pemeriksaan laboratorium di masing-masing fasilitas kesehatan, sehingga interpretasi hasil harus selalu dikaitkan dengan gambaran klinis pasien secara menyeluruh. Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 KARAKTERISTIK PASIEN MORBUS HANSEN BERDASARKAN KLASIFIKASI PENYAKIT TABEL 5. DISTRIBUSI RESPONDEN MENURUT KLASIFIKASI TIPE MH Klasifikasi MH Frekuensi . Persentase (%) Total Berdasarkan Tabel 5, ditemukan bahwa pasien dengan tipe Multibasiler (MB) mendominasi sebanyak 53 pasien . ,6%), sementara pasien dengan tipe Pausibasiler (PB) berjumlah 20 pasien . ,4%). Dominasi tipe MB ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang terdiagnosis berada pada spektrum penyakit dengan beban bakteri tinggi dan berisiko lebih besar menularkan penyakit kepada orang lain. Hal ini sejalan dengan temuan tingginya proporsi hasil BTA positif dalam penelitian ini, karena kriteria MB mencakup pasien dengan BTA positif atau jumlah lesi Ou6 sesuai pedoman WHO. 28 Tipe MB juga umumnya memerlukan durasi pengobatan yang lebih panjang . bulan multidrug therapy - MDT) dibandingkan tipe PB . , sehingga kepatuhan berobat menjadi faktor krusial dalam keberhasilan terapi. Kondisi ini menyoroti perlunya penguatan program penemuan kasus secara aktif agar kusta dapat didiagnosis pada tahap lebih dini, sebelum berkembang menjadi tipe lanjut dengan komplikasi yang lebih berat. Klasifikasi penyakit menunjukkan bahwa sebagian besar pasien termasuk dalam tipe multibasiler (MB), yang umumnya berkaitan dengan jumlah lesi yang lebih banyak, keterlibatan saraf yang luas, serta risiko penularan yang lebih tinggi. Dominasi tipe MB menandakan adanya keterlambatan deteksi dini di masyarakat, karena pasien cenderung datang berobat ketika penyakit sudah berkembang ke tahap lanjut dengan beban bakteri yang tinggi. Tingginya proporsi tipe MB juga berimplikasi pada kebutuhan pengobatan jangka panjang Email : heme@unbrah. selama 12 bulan serta risiko komplikasi yang lebih besar, termasuk kecacatan permanen akibat kerusakan saraf. Kondisi ini menegaskan pentingnya penguatan skrining aktif dan edukasi masyarakat agar kasus dapat ditemukan pada tahap awal sebelum berkembang menjadi tipe MB dengan segala Proporsi kasus paucibasiler (PB) yang lebih rendah dibanding MB dapat dijelaskan oleh beberapa faktor, antara lain perubahan kriteria klasifikasi dan kecenderungan tenaga kesehatan untuk over classify ke MB, sensitivitas tes diagnostik konvensional yang lebih rendah pada kasus PB karena beban bakteri yang rendah, serta kemungkinan under detection PB di lapangan. 28 Data di Indonesia juga menunjukkan bahwa kasus MB jauh lebih dominan dibanding PB, yang mencerminkan pola distribusi klinis kusta dan tantangan dalam deteksi dini kasus dengan beban bakteri rendah. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang melaporkan dominasi tipe MB pada pasien kusta. Namun, berbeda dengan penelitian yang menemukan proporsi tipe PB lebih tinggi di wilayah tertentu, kemungkinan akibat deteksi dini yang lebih baik melalui program skrining aktif dan kesadaran masyarakat yang lebih tinggi terhadap gejala awal KARAKTERISTIK PASIEN HANSEN BERDASARKAN PENGOBATAN MORBUS JENIS TABEL 6. DISTRIBUSI RESPONDEN MENURUT JENIS OBAT Jenis Obat Frekuensi Persentase . (%) MDT MB MDT PB Regimen Alternatif Total Berdasarkan tabel distribusi responden menurut jenis pengobatan, diketahui bahwa Morbus Hansen mendapatkan terapi MDT untuk tipe MB Heme. Vol Vi No 2 May 2026 sebanyak 53 pasien . ,6%), yang sesuai dengan proporsi pasien tipe MB sebelumnya. Pasien yang mendapatkan MDT untuk tipe PB berjumlah 13 pasien . ,8%), sementara pasien yang menerima regimen alternatif sebanyak 7 pasien . ,6%). Pemberian MDT yang sesuai dengan klasifikasi penyakit menunjukkan bahwa tata laksana pengobatan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan puskesmas jejaringnya telah mengikuti pedoman nasional dan rekomendasi WHO. Adanya pasien yang menerima regimen alternatif kemungkinan disebabkan oleh kondisi khusus seperti efek samping obat, kontraindikasi, atau riwayat pengobatan sebelumnya yang memerlukan penyesuaian Sebagian besar pasien dalam penelitian ini mendapatkan pengobatan MDT MB, sesuai dengan dominasi klasifikasi tipe multibasiler yang ditemukan sebelumnya. Multi Drug Therapy (MDT) merupakan terapi standar yang direkomendasikan WHO dan terbukti efektif dalam menurunkan beban kuman, membunuh Mycobacterium leprae, serta mencegah penularan kepada orang lain. Pasien dengan tipe PB mendapatkan MDT PB dengan durasi pengobatan 6 bulan, sementara sebagian kecil pasien memperoleh regimen alternatif yang disesuaikan dengan kondisi klinis tertentu, seperti efek samping obat, kontraindikasi terhadap MDT standar, atau riwayat pengobatan sebelumnya yang memerlukan penyesuaian terapi. Pemberian MDT yang sesuai dengan klasifikasi penyakit menunjukkan bahwa tata laksana pengobatan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan puskesmas jejaringnya telah rekomendasi WHO dengan baik. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa MDT tetap menjadi terapi utama kusta dan menjadi pilar dalam strategi global eliminasi kusta. 30 Efektivitas MDT dalam menurunkan prevalensi kusta di berbagai negara endemis telah terbukti selama beberapa dekade terakhir. Namun, berbeda dengan penelitian tertentu yang melaporkan penggunaan regimen ROM (Rifampisin. Ofloksasin. Minosikli. lebih dominan, terutama pada pasien yang tidak toleran terhadap MDT standar atau pada situasi tertentu seperti pengobatan kasus Variasi dalam pemilihan regimen pengobatan ini menunjukkan perlunya penyesuaian terapi berdasarkan kondisi individual pasien serta ketersediaan obat di masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan. KARAKTERISTIK PASIEN MORBUS HANSEN BERDASARKAN KEPATUHAN PENGOBATAN TABEL 7. DISTRIBUSI RESPONDEN MENURUT KEPATUHAN PENGOBATAN Kepatuhan Frekuensi . Persentase (%) Patuh Tidak Patuh Total Berdasarkan tabel distribusi responden menurut kepatuhan pengobatan, ditemukan bahwa sebagian besar pasien Morbus Hansen menunjukkan kepatuhan dalam menjalani terapi, yaitu sebanyak 49 pasien . ,1%). Namun demikian, masih terdapat 24 pasien . ,9%) yang tergolong tidak patuh dalam Tingkat ketidakpatuhan yang mencapai hampir sepertiga dari total pasien ini merupakan pengendalian kusta, mengingat keberhasilan terapi sangat bergantung pada keteraturan Ketidakpatuhan kegagalan terapi, kekambuhan, peningkatan resistensi obat, serta munculnya kecacatan yang permanen. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan edukasi dan konseling kepada pasien serta penguatan dukungan keluarga dan pengawasan minum obat (PMO) untuk memastikan kepatuhan pasien hingga pengobatan selesai. Sebagian besar pasien menunjukkan kepatuhan dalam menjalani pengobatan, yang merupakan faktor kunci keberhasilan Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 terapi Morbus Hansen. Kepatuhan berperan penting dalam mencegah kekambuhan, mengurangi risiko komplikasi seperti kecacatan saraf permanen, serta memutus rantai penularan di masyarakat. Pengobatan kusta memerlukan durasi yang panjang . -12 bula. sehingga konsistensi pasien dalam minum obat sangat menentukan eliminasi bakteri dari tubuh dan pencapaian kesembuhan klinis. Dukungan keluarga, pengawasan minum obat oleh petugas kesehatan, serta edukasi yang berkelanjutan menjadi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya tingkat kepatuhan yang ditemukan dalam penelitian ini. Namun demikian, masih terdapat proporsi pasien yang tidak patuh dalam menjalani pengobatan, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti durasi pengobatan yang panjang, efek samping obat . isalnya perubahan warna kulit atau gangguan gastrointestina. , serta faktor sosial dan ekonomi seperti jarak tempuh ke fasilitas kesehatan, biaya transportasi, dan stigma Ketidakpatuhan meningkatkan risiko kekambuhan, serta berpotensi menimbulkan resistensi obat yang semakin mempersulit penatalaksanaan kasus di masa depan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang melaporkan bahwa kepatuhan berhubungan erat keberhasilan pengobatan. IMPLIKASI PENELITIAN Penelitian ini memiliki implikasi penting baik dalam aspek pelayanan kesehatan, kebijakan program pengendalian kusta, maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Dari sisi pelayanan kesehatan, dominasi pasien yang ditangani di puskesmas menegaskan perlunya penguatan kapasitas fasilitas kesehatan primer dalam diagnosis dini dan tata laksana kusta, termasuk pemeriksaan BTA, serta obat-obatan MDT yang memadai. Tingginya proporsi pasien dengan tipe multibasiler dan hasil BTA Email : heme@unbrah. optimalisasi program penemuan kasus secara aktif di masyarakat, terutama pada kelompok berisiko seperti kontak serumah dan lingkungan padat penduduk. Dari perspektif kebijakan, temuan mengenai karakteristik pasien yang didominasi usia produktif, lakilaki, dan pekerja buruh menyoroti perlunya pendekatan program yang sensitif terhadap kondisi sosial ekonomi, seperti integrasi layanan kusta dengan program kesehatan kerja dan jaminan sosial. Selain itu, proporsi ketidakpatuhan pengobatan yang masih cukup tinggi mengimplikasikan perlunya penguatan sistem pengawasan minum obat (PMO) berbasis keluarga dan masyarakat, serta inovasi layanan seperti home care dan konseling berkelanjutan untuk mengatasi hambatan geografis dan stigma sosial yang masih melekat. KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam interpretasi hasil. Pertama, desain penelitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggambarkan distribusi karakteristik pasien pada satu periode waktu, tanpa dapat menganalisis hubungan kausal antar variabel faktor-faktor mempengaruhi luaran pengobatan secara Kedua, penggunaan data sekunder dari rekam medis sangat bergantung pada kelengkapan dan kualitas dokumentasi di masing-masing fasilitas kesehatan, sehingga terdapat kemungkinan terjadinya underreporting atau variasi pencatatan antar puskesmas dan rumah sakit. Ketiga, penelitian ini hanya mencakup pasien yang terdiagnosis dan tercatat di fasilitas menggambarkan karakteristik pasien yang tidak terjangkau layanan kesehatan atau tidak terdiagnosis . di masyarakat. Keempat, keterbatasan akses terhadap informasi tertentu seperti status sosial ekonomi secara rinci, riwayat kontak dengan penderita, serta faktor genetik dan Heme. Vol Vi No 2 May 2026 imunologis yang mungkin mempengaruhi kerentanan terhadap kusta, tidak dapat dieksplorasi lebih dalam karena keterbatasan data yang tersedia dalam rekam medis. IV. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian pasien Morbus Hansen di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar dan puskesmas jejaringnya pada periode 20222024 didominasi oleh usia dewasa produktif 18-59 tahun . ,2%), jenis kelamin laki-laki . ,4%), pekerjaan buruh . ,7%), dan tingkat pendidikan SMA . ,1%). Gejala awal yang paling umum adalah kelainan kulit disertai mati rasa . ,3%), dengan hasil pemeriksaan BTA positif ditemukan pada 72,6% pasien, sejalan dengan dominasi tipe multibasiler . ,6%). Sebagian besar pasien memperoleh terapi MDT MB . ,6%) dan menunjukkan kepatuhan pengobatan yang cukup baik . ,1%), meskipun masih terdapat 32,9% pasien yang tidak patuh. Distribusi pasien terbanyak berada di Puskesmas Tamalate . ,2%), sementara Rumah Sakit Ibnu Sina menangani 9,6% kasus yang umumnya merupakan rujukan dengan komplikasi. Saran dari penelitian ini penemuan kasus secara aktif di wilayah dengan beban tinggi seperti Tamalate dan Jumpandang Baru, peningkatan edukasi kesehatan yang ditargetkan pada kelompok buruh dan laki-laki usia produktif, optimalisasi sistem pengawasan minum obat (PMO) berbasis keluarga untuk menurunkan angka ketidakpatuhan . ,9%), serta perbaikan kualitas dokumentasi rekam medis di seluruh fasilitas pelayanan primer dan rujukan guna mendukung evaluasi program pengendalian kusta yang lebih komprehensif di Kota Makassar. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia dan Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. DAFTAR PUSTAKA Aviana F. Birawan IM. Sutrini NNA. Profil Penderita Morbus Hansen di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Bali Mandara Januari 2018Desember 2020. Cermin Dunia Kedokt [Interne. 2022 Feb 1. :66Ae8. Available https://cdkjournal. com/index. php/cdk/article/vie w/192 . Ningsih ANS. Vitayani S. Setiawati S. Karakteristik Penyakit Morbus Hansen. NersMid. 0231:93Ae118. Islawati. Nurmiati Muchlis. Rezky Aulia Yusuf. Efektivitas Program Home Care di Masa Pandemi Covid-19 di Puskesmas Barombong Kota Makassar. Wind Public Heal J [Interne. 2022 Dec 30. :1190Ae200. Available from: https://jurnal. id/index. php/woph/arti cle/view/337 . Amaliah H. R R. Lisa Yuniati. Roem NR. Sri Vitayani. Solecha Setiawati. Karakteristik Penderita Lepra (Kust. yang Menjalani Pengobatan Rawat Jalan di Puskesmas Tamalate Makassar periode 2018Ae2021. Fakumi Med J J Mhs Kedokt [Interne. 2023 Jul 16. :357Ae65. Available https://fmj. id/index. php/fmj/article/vie w/231 . Oeleu M. Purnawan S. Sir AB. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberhasilan Pengobatan Pasien Kusta. Media Kesehat Masy. :1Ae17. Sagia NA. Anggraini DI. Wulan AJ. Sibero HT. Factors that Influence the Success of Therapy for Leprosy Patients. Med Prof J Lampung. :355Ae9. Afrianti SY. Sidin AI. Noor NB. Pasinringi SA. Stang S. Thaha RM, et al. Study on Factors that Influence the High Organizational Citizenship Behavior (OCB) of Makassar Ethnic Nurses in LANTO Hospital DG Pasewang Jeneponto in Pharmacogn J [Interne. 2024 May 16. :312Ae8. Available https://phcogj. com/article/2249 . Syahruddin SF. Akbar M. Sonni AF. From Stigma to Trust: A Case Study of Hospital Rebranding and Marketing Communication in Post-Leprosy Health Institutions. JKOMDIS J Ilmu Komun Dan Media Sos [Interne. Dec 5. :702Ae16. Available https://jurnal. com/index. php/jkomdis/art icle/view/3670 . Avisha M. Pelupessy NU. Rahman A. Rauf S. Rakhmah N. Hamid F. Pre-Treatment Inflammatory and Immune System Parameters Predicting Cervical Cancer Metastasis. J Turkish Soc Obstet Gynecol [Interne. 2023 Dec Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 20. :285Ae92. Available https://tjoddergisi. org/articles/doi/tjod. Setiawan I. Hendra A. Nooraini A. Lukman S. Johannes AW. Collaborative Governance in Realizing Sombere and Smart City in Makassar City. Indonesia. IOP Conf Ser Earth Environ Sci [Interne. Mar 1475. :012020. Available https://iopscience. org/article/10. 1088/17551315/1475/1/012020 Lin LM. Wu H. Zhu WR. Dong CB. Zhang Q. Zheng CH, et al. Evaluating Early Nerve Injury and Its Relationship with Leprosy Reactions in Patients With Leprosy: A Prospective Cohort Study. Int J Dermatology Venereol [Interne. 2024 Dec 29. :181Ae7. Available from: https://journals. com/10. 1097/JD9. Liberty IA. Metode Penelitian Kesehatan. Pekalongan: Penerbit NEM. 27Ae35 p. Agnesia Y. Sari SW. NuAoman H. Ramadhani DW. Nopianto. Buku Ajar Metode Penelitian Kesehatan. Pekalongan: Penerbit NEM. Hardani. Andriani H. Utami EF. Fardani RA. Sukmana DJ. Auliya NH, et al. Buku Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Cetakan 1. Abadi H, editor. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu