LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Oktober 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || Kelas Sosial Tokoh dalam Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karya Tere Liye (Kajian Sastra Marxi. Heni Sugiatai 1. Mustifa 2. Sutardi 3 *1-3 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 henisugianti1@gmail. 2 tofa09@unisda. 3 sutardi@unisda. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan representasi kelas sosial pengamen dan dampak ketimpangan sosial kehidupan pengamen dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini ialah berupa kutipan pada novel yang menunjukan representasi kelas sosial, dan dampak ketimpangan sosial. Sumber data dalam penelitian ini ialah novel dengan judul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" karya Tere Liye. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Representasi Kelas Sosial Pengamen dalam Novel AuDaun yang Jatuh Tak Pernah Membenci AnginAy karya Tere Liye dari Perspektif Marxisme diperoleh data bahwa representasi kelas sosial meliputi kondisi ekonomi pengamen begitu terbatas, tinggal di rumah kardus dan bahkan sampai putus sekolah. Kondisi SDM yang rendah tidak mengandalkan kreativitas dan inovasi dalam profesi yang dijalankan. Kondisi Ideologi sosial pengamen yang menempatkan mereka pada lingkungan jalanan yang keras dan berada pada tekanan siapan yang kuat dia yang berkuasa. Kondisi tempat tinggal pengamen berada pada garis bawah menempatkan dirinya pada tempat tinggal berdinding kardus dan tidak layak huni. Kata kunci: Kelas Sosial Pengamen, dampak kelas sosial, teori marxisme. ABSTRACT This research aims to describe the representation of the social class of buskers and the impact of social inequality on the lives of buskers in the novel Daun yang Tunjung Never Menghat Angin by Tere Liye. The method used in this research is a qualitative descriptive method. The data in this research is in the form of quotes from novels that show the representation of social class and the impact of social The data source in this research is the novel entitled "Falling Leaves Never Hate the Wind" by Tere Liye. The results of this research show that the representation of the social class of buskers in the novel "Falling Leaves Never Hate the Wind" by Tere Liye from a Marxist perspective shows that the representation of social class includes the very limited economic conditions of buskers, living in cardboard houses and even dropping out of school. Low human resource conditions do not rely on creativity and innovation in the profession being carried out. The condition of the social ideology of buskers places them in a harsh street environment and is under strong pressure from whoever is in The condition of the busker's residence is at the bottom line, placing him in a residence with cardboard walls and uninhabitable. Kata Kunci: Social Class of Buskers, impact of social class. Marxist theory. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Sastra pada hakikatnya merupakan sarana bagi seseorang yang ingin menympaikan suatu maksud dengan menggunakan medium bahasa yang tersusun dalam jalinan cerita berupa lisan maupun tulisan. Menurut Wellek dan Warren . alam Sutardi, 2011:. menyatakan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif karya lisan atau tertulis dengan medianya bahasa dan memilki ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan maupun nilai-nilai ajaran Seseorang dapat mengetahui nilai kehidupan, adat istiadat, dan pandangan hidup lainnya melalui karya sastra. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Salah satu hasil karya sastra berupa prosa adalah novel. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan yang didalamnya terkandung unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Dalam novel menceritakan tentang sebuah kehidupan manusia yang disertai dengan konflik-konflik selayaknya menggambarkan kehidupan manusia secara nyata. Menurut Abrams . alam Nurgiyantoro, 2010:. , novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia yang imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur instrinsik seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya tentu juga bersifat imajinatif. Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks (Nurgiyantoro, 2010:09-. Endraswara . mengemukakan bahwa psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan, sebagaimana sosiologi refleksi, psikologi sastra pun mengenalkarya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang akan terproyeksi secara imajiner ke dalam teks sastra. Pemikiran Marx muncul secara historis dalam hubungannya dengan aktivitas manusia dalam mengolah alam, misalnya dengan mendirikan pabrik-pabrik industri besar yang menciptakan kelas-kelas sosial dan pada akhirnya menimbulkan masalah-masalah sosial. Marx beranggapan bahwa perkembangan teknik, kebebasan manusia dalam mengeksploitasi alam, yang disebut Marx sebagai kapitalisme akan memicu kontradiksi berupa perbudakan dan pemiskinan sepihak dari elemen terbesar dalam sebuah industri yaitu kelas proletariat. Konsep pemikiran Marx sangat serasi mengenai sosialisme-pengetahuan modern, sebagai teori dan program pergerakan buruh di semua negeri yang berkebudayaan di dunia (Lenin, 2016:. Menurut Marx, akan terlihat bahwa setiap masyarakat terdapat kelas-kelas yang berkuasa dan kelas-kelas yang dikuasai (Suseno, 2017:. Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak adil dan tidak seimbang yang dilakukan untuk membedakan terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, bersifat kategorial, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial, istilah tersebut biasanya untuk melukiskan suatu tindakan dari pihak mayoritas yang dominan dalam hubungannya dengan minoritas yang lemah, sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku itu bersifat tidak bermoral dan tidak demokratis, (Fulthoni, 2009: Berdasarkan uraian-uraian di atas, peneliti menganggap bahwa novel "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin," karya Tere Liye merupakan salah satu karya yang masih relevan untuk dianalisis dan sebagai media untuk mengambil makna kehidupan, dan disamping itu dapat dilihat dari permasalahan kehidupan yang ada dalam novel tersebut tentang perlakuan pemerintah serta masyarakat dari golongan atas yang bersikap berkuasa yang masih diterapkan pada kehidupan sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya wawasan tentang bagaimana sastra dapat digunakan sebagai medium untuk memahami dan mengkritik realitas sosial, khususnya ketimpangan kelas. Dengan menganalisis novel Tere Liye melalui pendekatan Marxis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pembaca tentang konflik sosial yang dihadapi oleh kelompok marginal, serta mempertegas pentingnya kesadaran sosial dalam mewujudkan masyarakat yang lebih adil. Metode Penelitian Metode yang digunakan oleh penulis yaitu metode penelitian kualitatif yang bersifat Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, motivasi, tindakan dan lainlain dengan cara deskriptif dalam kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Data adalah sumber informasi yang akan diseleksi sebagai sumber bahan analisis (Siswantoro, 2011:. Data merupakan suatu hal yang penting dan pokok dalam sebuah Oleh karena itu, kualitas dan ketetapan pengambilan sebuah data tergantung pada ketajaman menyeleksi yang dipandu oleh penguasaan konsep dan teori. Menurut Sutarman . alam Lazim, 2019:. mengemukakan bahwa data adalah fakta dari suatu pernyataan yang berasal dari kenyataan, dimana pernyataan tersebut merupakan hasil pengukuran atau Data yang diperoleh dapat berupa angka-angka, huruf-huruf, simbol-simbol khusus, atau gabungan huruf dan simbol. Pada penelitian ini sumber data yang digunakan adalah dokumen, yaitu novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karya Tere Liye, novel yang digunakan dalam bentuk terjemahan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia. Menurut Ratna . alam Muawanah, 2018:. data dalam penelitian sastra adalah kata-kata, kalimat, dan wacana. Adapun data dalam penelitian ini adalah data yang berwujud kata, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karya Tere Liye yang berkaitan dengan bentuk diskriminasi kelas sosial. Hasil dan Pembahasan Representasi Kelas Sosial Pengamen dalam Novel AuDaun yang Jatuh Tak Pernah Membenci AnginAy karya Tere Liye dari Perspektif Marxisme Berikut peneliti sajikan temuan representasi kelas sosial pengamen dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci AnginAy karya Tere Liye. Kondisi Ekonomi Dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye, kondisi ekonomi menjadi salah satu topik yang menonjol dalam merepresentasikan kelas sosial para tokohnya. Novel terebut mengisahkan perjalanan hidup seorang gadis bernama Tania yang berasal dari keluarga miskin. Kehidupan ekonomi keluarganya yang sulit tercermin dari berbagai aspek, seperti tempat tinggal yang sederhana, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan kota. Berikut data yang menunjukan kelas sosial bidang ekonomi dalam novel AuDaun yang Jatuh Tak Pernah Membenci AnginAy karya Tere Liye. Jam dua belas teng, aku buru-buru pulang ke rumah kardus di bantaran kali. Melempar tas dan buku sembarangan. Makan siang secepat mungkin. Langsung mengganti kostum dan mengambil kencrengan tutup botol. Kami mengamen hingga sore hari. Memilih rute jarak dekat. (Tere Liye: . Kutipan di atas merepresentasikan kelas sosial dari perspektif bidang ekonomi, khususnya kondisi kelas bawah. Dalam kutipan tersebut. Tania sebagai tokoh utama digambarkan tinggal di "rumah kardus di bantaran kali," yang secara jelas menunjukkan situasi kehidupan yang sangat sederhana dan terbatas. Rumah kardus bukan hanya simbol ketidakstabilan tempat tinggal, tetapi juga cerminan kemiskinan ekstrem yang dialami oleh Tania dan keluarganya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa mereka tidak memiliki akses terhadap perumahan yang layak, sebuah kebutuhan dasar yang menjadi hak setiap Kami sudah cukup menderita selama tiga tahun itu. Tinggal di rumah kardus. mana-mana bertelanjang kaki. Dan, harus bekerja dari pagi hingga malam di Kesemua itu bahkan bisa menjadi novel sedih yang sempurna. Tak ada lagi situasi yang lebih buruk daripada masa lalu tersebut. Sudah cukup (Tere Liye: . Kutipan tersebut memberikan gambaran nyata tentang kondisi kelas sosial ekonomi bawah melalui pengalaman hidup Tania dan keluarganya. Pernyataan "Kami sudah cukup menderita selama tiga tahun itu" menjadi pembuka yang langsung menunjukkan bagaimana kemiskinan memengaruhi kehidupan mereka secara mendalam. Tinggal di "rumah kardus" mencerminkan ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar berupa tempat tinggal yang layak, sehingga mereka harus bertahan di lingkungan yang tidak sehat dan tidak aman. Sudah empat lagu, bus hampir tiba di tujuan akhirnya. Cukup. Aku mengeluarkan kantong plastik lecek bekas permen. Mengedarkan dari depan ke belakang. Berharap kebaikan sedang bersemayam di hati orang-orang yang sedang kelelahan tersebut. Adikku mengintil dari mengikuti. Kencrengan tutup botol masuk kantong celana (Tere Liye: . Kutipan tersebut, mereka digambarkan sebagai pengamen yang bekerja di dalam bus, menunjukkan keterbatasan ekonomi yang memaksa mereka mencari penghasilan melalui mengamen di angkutan umum. Pengamen sering kali menjadi simbol kelompok sosial marginal yang berada di luar sistem ekonomi formal, dengan penghasilan yang tidak menentu dan bergantung pada kemurahan hati orang lain. Hari ini kami sedang sial. Sebenarnya hingga sore tadi, setelah naik dari satu bus ke bus yang lain, dari satu metromini ke metromoni yang lain, aku dan Dede sudah dapat kurang-lebih Sembilan belas ribu. Jumlah yang banyak. Tetapi, di terminal tadi, ada kakak-kakak yang mabuk memaksa meminta uang. Dia mencengkeram bahu Dede. Aku bisa saja berteriak. Tetapi, cengkeramannya keras sekali, membuat muka Dede pucat pasi tak bisa mengeluarkan suara aduh lagi. Mengerikan. Terpaksa kuberikan semua uang yang ada dikantong kiriku. Itu separuh penghasilan mengamen kami seharian, sepuluh ribu. (Tere Liye: . Melalui pengalaman pahit tokoh utama dan adiknya. Dede. Setelah seharian mengamen dari satu bus ke bus lain, mereka berhasil mengumpulkan sembilan belas ribu rupiah, jumlah yang dianggap banyak oleh mereka. Hal ini mencerminkan realitas hidup kelas bawah yang bergantung pada pekerjaan informal dengan penghasilan minim, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, kehidupan mereka yang sudah sulit menjadi semakin berat ketika mereka harus menghadapi ancaman sosial. Di terminal, uang mereka dirampas oleh sekelompok orang mabuk yang menggunakan kekerasan, mencerminkan lemahnya perlindungan hukum bagi kelompok marjinal. Dede, yang ketakutan dan tidak mampu melawan, menunjukkan betapa rentannya anak-anak dari kelompok ekonomi lemah terhadap ancaman fisik dan emosional. Anak kumuh dan kotor itu sudah berubah. Anak yang berlepotan jelaga asap mobil, debu jalanan, sekarang tumbuh menjadi gadis berambut hitam legam dengan tatapan mata yakin memandang masa depan. (Tere Liye: . Kutipan tersebut menggambarkan transformasi sosial yang dialami oleh seorang anak dari latar belakang ekonomi yang sangat terbatas. Sebelumnya, anak tersebut digambarkan dalam keadaan kumuh dan kotor, dengan "berlepotan jelaga asap mobil" dan "debu jalanan", yang secara jelas merepresentasikan kondisi hidup yang penuh dengan kesulitan dan ketidakmampuan untuk mengakses fasilitas dasar seperti kebersihan dan Kondisi ini adalah cerminan dari kelas sosial ekonomi rendah yang seringkali terpinggirkan, hidup dalam lingkungan yang penuh polusi dan keterbatasan. Perubahan ini dapat dilihat sebagai representasi dari mobilitas sosial, di mana anak tersebut, yang semula berada di bawah garis kemiskinan, berusaha untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan meraih kehidupan yang lebih baik. Meskipun latar belakang ekonomi yang rendah tetap menjadi faktor penentu, kutipan ini menggambarkan harapan bahwa melalui usaha dan pendidikan, individu dari kelas sosial rendah dapat meraih perubahan signifikan dalam hidup mereka. Ini juga menggambarkan bagaimana perubahan sosial dalam konteks ekonomi dapat mempengaruhi pandangan dan sikap individu terhadap kehidupan mereka, dengan fokus pada masa depan yang lebih cerah dan penuh peluang. Kondisi SDM Sistem hegemonik cenderung mengontrol akses terhadap pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan yang lebih baik, sehingga membatasi pengamen untuk meningkatkan kualitas SDM mereka. Dalam konteks novel, pengamen mungkin digambarkan sebagai individu yang kreatif dan berbakat dalam seni, tetapi bakat mereka tidak dihargai secara setara karena mereka tidak memiliki pengakuan formal dalam sistem sosial yang dominan. Pendekatan hegemoni juga menjelaskan bagaimana pengamen seringkali menginternalisasi ideologi kelas dominan, yang membuat mereka menerima kondisi mereka sebagai sesuatu yang "wajar" atau "tidak dapat diubah. " Dalam narasi novel, ini dapat terlihat melalui karakter pengamen yang mungkin pasrah dengan keadaan atau merasa bahwa peluang untuk meningkatkan SDM mereka hanya tersedia bagi kelas sosial yang lebih tinggi. Narasi semacam ini menunjukkan bagaimana dominasi ideologi kelas atas membentuk pandangan hidup kelas bawah. Berikut merupakan data yang ditemukan oleh peneliti yang berkaitan dengan kondisi SDM yang digabarkan pada tokoh dengan profesi pengamen. Sudah empat lagu, bus hampir tiba di tujuan akhirnya. Cukup. Aku mengeluarkan kantong plastik lecek bekas permen. Mengedarkan dari depan ke belakang. Berharap kebaikan sedang bersemayam di hati orang-orang yang sedang kelelahan tersebut. Adikku mengintil dari mengikuti. Kencrengan tutup botol masuk kantong celana kumuh. (Tere Liye: . Pada kutipan tersebut menunjukan kualitas kreativitas yang dimiliki oleh tokoh masih sangat rendah dalam menjalankan profesinya, hal ini seperti pada kutipan AuAku mengeluarkan kantong plastik lecek bekas permenAy, kutipan tersebut menunjuka bahwa tokoh AuAkuAy hanya memanfaatkan alat seadanya dalam mengamen, tidak menggunakan kreatifitasnya sehingga membuat orang-orang disekitarnya menjadi tertarik, bukan malah menggunakan kantong plastik yang sudah lecek berkas permen. Selain itu, seperti pada kutipan AuKencrengan tutup botolAy, merupakan alat yang digunakan untuk ngamen di bus yang menunjukan begitu terbatasnya kreatifitas yang dimiliki. Namun meskipun demikina, penggambaran tokoh pengamen juga memiliki semangat dalam pendidikan yang tinggi, seperti halnya pada kutipan berikut: AuSebenarnya dua bulan sebelum Ibu meninggal, aku mengurus berkas beasiswa ASEAN Scholarship. Beasiswa yang memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan junior high school atau SMP di singapuraAy. (Tere Liye, 2016:. Keputusan Tania untuk mengurus berkas beasiswa ASEAN Scholarship menunjukkan kesadaran dan tekadnya untuk memanfaatkan peluang pendidikan sebagai sarana meningkatkan kualitas hidup. Beasiswa tersebut menjadi simbol akses terhadap pendidikan berkualitas yang dapat membuka jalan menuju mobilitas sosial dan ekonomi yang lebih baik. Dalam konteks ini. Tania merepresentasikan individu dari kelas sosial menengah ke bawah yang memiliki potensi besar, tetapi membutuhkan dukungan dan akses terhadap fasilitas pendidikan untuk mengembangkan SDM mereka. Setelah berjuang habis-habisan di ujian terakhir, akhirnya aku berhasil melampaui 0,1 digit di nomor satu. Tipis sekali. Aku mendapatkan predikat Kepala Sekolah SMA-ku menyerahkan penghargaan kristal pohon lime Dan saat aku akan menerimanya, dia masuk terburu-buru ke dalam ruangan auditorium. Berseru melambai. Mengesankan. (Tere Liye: . Keberhasilan tokoh meraih predikat terbaik di sekolah menyoroti potensi SDM yang dimiliki oleh individu dari kelas sosial tertentu, terlepas dari latar belakang ekonomi atau sosial mereka. Perjuangan "habis-habisan di ujian terakhir" menunjukkan kerja keras, daya juang, dan komitmen yang kuat terhadap pendidikan, yang menjadi modal penting dalam pengembangan SDM. Saat kenaikan kelas, guru-guru di sekolah memutuskan untuk langsung menaikkanku ke kelas enam. Loncat setahun. Kata mereka, aku Auterlalu pintarAy. (Tere Liye: . Kutipan ini merepresentasikan kelas sosial dalam bidang kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui potret kemampuan intelektual tokoh utama yang luar biasa. Keputusan guru-guru untuk langsung menaikkan tokoh utama ke kelas enam, melewati satu tahun pendidikan, mencerminkan pengakuan terhadap kecerdasannya yang di atas ratarata. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tokoh utama berasal dari latar belakang kelas sosial bawah, potensi SDM-nya tetap mampu bersinar dan diakui dalam sistem pendidikan Dan yang menakjubkan, dia menjadikan semua pengalaman pahit itu tecermin dalam raut mukanya yang menyenangkan. (Tere Liye: . Kutipan ini merepresentasikan kelas sosial dalam bidang kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kemampuan tokoh untuk mengelola pengalaman pahit menjadi kekuatan emosional dan mental. Tokoh tersebut menunjukkan ketangguhan dan kedewasaan yang luar biasa, di mana segala kesulitan hidup yang dihadapi tidak memunculkan sikap negatif, melainkan justru tercermin dalam "raut mukanya yang " Hal ini mencerminkan kualitas SDM yang tidak hanya diukur dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari kecerdasan emosional dan daya adaptasi dalam menghadapi tantangan hidup. Pengalaman pahit yang dikelola menjadi kekuatan menunjukkan bahwa individu dari kelas sosial mana pun memiliki potensi untuk berkembang secara mental dan emosional, tergantung pada bagaimana mereka memaknai dan merespons pengalaman Dalam konteks kelas sosial yang lebih rendah, kemampuan ini menjadi modal penting untuk bertahan dan bahkan bangkit dari keterbatasan. Raut wajah yang tetap menyenangkan meskipun mengalami kesulitan menunjukkan kepribadian yang optimis dan resilien, yang menjadi salah satu indikator SDM berkualitas. Kondisi Ideologi Sosial Ideologi sosial merupakan serangkaian nilai, norma, dan keyakinan yang mendasari pola pikir serta tindakan individu dalam suatu masyarakat. Dalam sebuah karya sastra, ideologi sosial sering kali direpresentasikan melalui konflik, relasi antartokoh, dan dinamika sosial yang menggambarkan struktur masyarakat tertentu. Karya sastra tidak hanya menjadi cerminan realitas, tetapi juga alat untuk mengeksplorasi dan mengkritisi kondisi sosial yang ada. Dari sudut pandang marxisme, novel ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap sistem sosial yang menormalisasi ketimpangan dan membatasi mobilitas sosial. Relasi kuasa antara tokoh dari latar belakang ekonomi berbeda mencerminkan realitas dominasi kelas borjuis atas proletar. Namun, novel ini juga memperlihatkan potensi resistensi melalui usaha tokoh utama untuk melawan keterbatasan tersebut melalui pendidikan dan kerja keras. Berkut data yang menunjukan ideologi sosial pada novel AuDaun yang Jatuh Tak Pernah Membenci AnginAy karya Tere Liye. Dia yatim-piatu sejak bayi . iapa orangtuanya pun tak ada yang tah. Berjuang di jalanan untuk meneruskan hidup, sama seperti kami dulu. mungkin lebih menyakitkan karena tidak ada yang berbaik hati membantunya. Setapak demi setapak menancapkan jejak kehidupan. Dan akhirnya tiba pada jalan baik tersebut. Sendirian. Aku tahu betapa sulitnya dia harus bersekolah sambil bekerja. (Tere Liye: Kutipan tersebut merepresentasikan kondisi ideologi sosial dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye melalui perjuangan tokoh yang hidup sebagai yatim-piatu dan harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup dan mendapatkan Dalam perspektif marxisme, situasi ini mencerminkan dampak dari sistem kelas yang membentuk struktur sosial masyarakat, di mana individu dari kelas bawah harus bekerja lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar dan memperoleh akses terhadap pendidikan. Ketimpangan ini adalah hasil dari dominasi kelas berkuasa yang mengontrol sumber daya dan peluang, sehingga kelompok proletar menjadi terpinggirkan dan terpaksa mengandalkan usaha mandiri untuk bertahan hidup. AuBahwa hidup harus menerima. penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami. yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. (Tere Liye: Kutipan tersebut juga mengandung pemahaman filosofis yang mengajarkan tentang penerimaan terhadap kehidupan meskipun penuh dengan penderitaan dan Dalam perspektif marxisme, pemahaman ini dapat dilihat sebagai salah satu bentuk ideologi sosial yang menguatkan penerimaan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Melalui penerimaan terhadap kondisi yang sedih dan menyakitkan, ideologi sosial ini berfungsi untuk membenarkan ketimpangan kelas yang ada, yang seringkali disamarkan sebagai bagian dari proses hidup yang alami. Semua cerita selesai menjelang pukul 12. Dan anak-anak beranjak pulang. Dia meminjamkan buku-buku dalam lemari tersebut kepada kami. Tanpa perlu repotrepot mencatatnya. Siapa saja bisa mengambil sendiri. Dan terserah mau dikembalikan kapan. Dia tidak peduli kami akan mengembalikannya atau tidak. Lemari itu selalu penuh. (Tere Liye: . Ideologi sosial yang tercermin dalam kutipan tersebut juga dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalis yang cenderung mengkomodifikasi pengetahuan dan akses terhadap sumber daya. Dalam masyarakat kapitalis, pengetahuan sering kali dianggap sebagai barang yang bisa diperjualbelikan dan hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kekuatan ekonomi atau status sosial yang tinggi. Namun, dalam situasi yang digambarkan dalam kutipan ini, pemilik buku justru menanggalkan nilai komersial dari pengetahuan dan memberikan akses yang setara bagi siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang kelas sosial. AuBahwa hidup harus menerima. penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami. yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. (Tere Liye: Kutipan tersebut juga mengandung pemahaman filosofis yang mengajarkan tentang penerimaan terhadap kehidupan meskipun penuh dengan penderitaan dan Dalam perspektif marxisme, pemahaman ini dapat dilihat sebagai salah satu bentuk ideologi sosial yang menguatkan penerimaan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Melalui penerimaan terhadap kondisi yang sedih dan menyakitkan, ideologi sosial ini berfungsi untuk membenarkan ketimpangan kelas yang ada, yang seringkali disamarkan sebagai bagian dari proses hidup yang alami. Semua cerita selesai menjelang pukul 12. Dan anak-anak beranjak pulang. Dia meminjamkan buku-buku dalam lemari tersebut kepada kami. Tanpa perlu repotrepot mencatatnya. Siapa saja bisa mengambil sendiri. Dan terserah mau dikembalikan kapan. Dia tidak peduli kami akan mengembalikannya atau tidak. Lemari itu selalu penuh. (Tere Liye: . Ideologi sosial yang tercermin dalam kutipan tersebut juga dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalis yang cenderung mengkomodifikasi pengetahuan dan akses terhadap sumber daya. Dalam masyarakat kapitalis, pengetahuan sering kali dianggap sebagai barang yang bisa diperjualbelikan dan hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kekuatan ekonomi atau status sosial yang tinggi. Namun, dalam situasi yang digambarkan dalam kutipan ini, pemilik buku justru menanggalkan nilai komersial dari pengetahuan dan memberikan akses yang setara bagi siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang kelas sosial. Tindakan tersebut bisa dianggap sebagai bentuk protes terhadap struktur sosial yang eksklusif dan diskriminatif. Dengan menyediakan akses bebas terhadap pengetahuan, ideologi yang diusung mencerminkan prinsip kesetaraan, di mana semua orang berhak mendapatkan pendidikan dan informasi, tanpa dibatasi oleh status ekonomi atau kelas Ini merupakan gambaran dari bagaimana ideologi sosial yang lebih egaliter dapat bertentangan dengan struktur kelas yang lebih hierarkis, yang seringkali memperkuat ketimpangan dalam masyarakat. Dalam hal ini, pemilik lemari buku berfungsi sebagai agen yang mencoba mengurangi ketimpangan akses terhadap pengetahuan dan memberi kesempatan yang sama bagi semua, tanpa membedakan kelas sosial. Tetapi, di terminal tadi, ada kakak-kakak yang mabuk memaksa meminta uang. Dia mencengkeram bahu Dede. Aku bisa saja berteriak. Tetapi, cengkeramannya keras sekali, membuat muka Dede pucat pasi tak bisa mengeluarkan suara aduh lagi. Mengerikan. Terpaksa kuberikan semua uang yang ada dikantong kiriku. Itu separuh penghasilan mengamen kami seharian, sepuluh ribu. (Tere Liye: . Kutipan tersebut menggambarkan ketegangan antara kelas sosial yang lebih rendah . dengan kelompok yang memiliki kekuasaan lebih, yang dalam hal ini digambarkan sebagai "kakak-kakak yang mabuk" di terminal. Dalam perspektif marxisme, situasi ini mencerminkan struktur kelas sosial yang sangat timpang, di mana individu dari kelas proletar . terpaksa tunduk kepada kelompok yang lebih berkuasa, meskipun kelompok tersebut menggunakan kekerasan atau intimidasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hari itu tidak ada kakak-kakak preman yang minta-minta uang di Terminal. Tetapi aku tetap pulang malam. Penghasilan kami hari ini sedikit sekali. (Tere Liye: . Kutipan ini mencerminkan realitas kehidupan kelas bawah yang terus bergulat dengan ketidakpastian ekonomi dan kesulitan hidup sehari-hari. Dalam perspektif marxisme, pernyataan tersebut menggambarkan kondisi kelas proletar yang terperangkap dalam struktur ekonomi yang menindas. Penghasilan yang sedikit, meskipun tanpa gangguan dari "kakak-kakak preman", menunjukkan ketergantungan pada kondisi sosial dan ekonomi yang tidak stabil. Pengamen, yang menjadi representasi kelas bawah, terpaksa bergantung pada pekerjaan informal dan rentan terhadap fluktuasi pendapatan yang tidak dapat diprediksi. Dari sudut pandang ideologi sosial, kutipan ini menunjukkan bagaimana ideologi dominan yang mengatur struktur kelas sosial tidak memberikan ruang bagi kelas bawah untuk mencapai kestabilan ekonomi atau kesejahteraan yang memadai. Meskipun hari itu tidak ada ancaman langsung dari kelompok preman yang biasa memaksa uang, penghasilan mereka tetap sedikit, mencerminkan ketimpangan dalam distribusi kekayaan. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada perubahan kondisi sosial atau fisik . eperti tidak adanya prema. , struktur ekonomi yang lebih besar tetap mengendalikan nasib kelas Ideologi yang mendasari sistem kapitalis menganggap bahwa kelas bawah harus terus bekerja keras meski dengan penghasilan yang sangat minim. Kondisi Tempat Tinggal Representasi kelas sosial pengamen juga dapat tercermin dari tempat tinggal dan linkungan yang mereka hadapi. Data yang menunjukan kondisi tempat tingfal pengamen dapat dilihat sebagai berikut: Oh ya, meski masih mengamen selepas pulang sekolah, sekarang setiap hari Minggu aku dan Dede libur mengamen. Karena setiap hari Minggu dia mengajak kami datang ke rumahnya. Rumah itu kontrakan. Jauh lebih besar dan bagus dibandingkan kamar kontrakan kami. Halamannya luas, dan dia tinggal sendirian di sana. (Tere Liye: . Kutipan tersebut menggambarkan perbedaan signifikan dalam kondisi tempat tinggal antara dua individu yang berasal dari kelas sosial yang berbeda, yang dapat dianalisis menggunakan teori marxisme. Dalam konteks ini, tempat tinggal menjadi salah satu indikator penting dalam mencerminkan ketimpangan kelas sosial. Tokoh yang berbicara dalam kutipan tersebut ialah seorang pengamen, tinggal di sebuah kamar kontrakan yang lebih kecil dan lebih buruk kondisinya dibandingkan dengan rumah teman mereka yang lebih besar dan lebih nyaman, meskipun rumah tersebut juga merupakan Perbedaan kondisi tempat tinggal ini menunjukkan ketimpangan dalam distribusi sumber daya ekonomi yang mempengaruhi kehidupan sosial dan material masing-masing individu. Dari sudut pandang marxisme, kondisi tempat tinggal ini merefleksikan ketidaksetaraan dalam akses terhadap kekayaan dan sumber daya yang dikuasai oleh kelas Kelas bawah, seperti pengamen, sering kali terpaksa tinggal di tempat yang lebih sempit, kurang nyaman, dan jauh dari fasilitas yang memadai, sementara individu dari kelas sosial yang lebih tinggi atau yang lebih beruntung dalam ekonomi memiliki akses ke tempat tinggal yang lebih luas dan lebih layak. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana struktur kelas sosial dalam masyarakat kapitalis membatasi mobilitas sosial dan kesempatan bagi individu di kelas bawah untuk mencapai standar hidup yang lebih baik. Bukan besar dan bagusnya rumah itu yang membuat aku dan adikku betah, melainkan karena setiap hari Minggu dia membuka kelas mendongeng di rumahnya, di ruangan depan yang di penuhi jejeran lemari. Lemari itu penuh buku. Setiap Minggu pukul 08. 00 ruangan itu selalu ramai oleh anak-anak. Anak-anak sekitar rumah kontrakannya. Separuhnya kukenali sebagai teman sekolahku sendiri. (Tere Liye: . Berdasarkan teori marxisme, perbedaan kelas sosial tercermin dalam fasilitas yang tersedia, dan dalam hal ini rumah teman pengamen yang lebih besar dan lebih nyaman, meskipun masih merupakan kontrakan, menjadi tempat yang tidak hanya memberi kenyamanan fisik, tetapi juga menjadi ruang untuk pembelajaran dan perkembangan sosial melalui kelas mendongeng yang diselenggarakan setiap Minggu. Ruang tersebut, yang dipenuhi lemari-lemari buku, menjadi simbol akses terhadap pengetahuan dan kebudayaan yang lebih baikAisesuatu yang sering kali terbatas bagi kelas bawah. Dede senang dengan kamar berdinding tembok tersebut. Setidaknya adikku bisa memukul-mukul dengan aman, kebiasaannya kalau sedang riang belajar. Kan repot kalau dia memukul-mukul dinding kardus rumah kami selama ini. Bisa roboh! Dan yang lebih penting bagiku, kami tak perlu lagi belajar di bawah lampu teplok kedapkedip. Aku sekarang belajar di bawah penerangan bohlam 40 watt. (Tere Liye: . Data tersebut dapat dilihat bahwa perubahan kondisi tempat tinggal dari rumah kardus yang rapuh menjadi kamar berdinding tembok menggambarkan perubahan kecil namun signifikan dalam kualitas hidup tokoh tersebut. Kamar berdinding tembok, meskipun sederhana, merepresentasikan rasa aman dan kenyamanan yang tidak mereka dapatkan sebelumnya. Dalam konteks marxisme, perubahan ini mencerminkan upaya kelas bawah untuk meningkatkan kualitas hidup mereka meskipun masih dalam batasanbatasan ekonomi yang ketat. Minggu depan, selepas kelas mendongeng yang selesai lebih cepat dari biasanya, aku. Ibu, dan adikku pergi ke Dunia Fantasi. Tempat yang selama ini hanya menjadi Bahkan saat Ayah masih hidup sekalipun. (Tere Liye: . Seminggu kemudian Ibu mulai bekerja, menjadi tukang cuci di salah satu laundy Penghasilannya menjadi buruh cuci, ditambah dengan mengamen kami setengah hari, plus uang pemberiannya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Karena itu, sebulan kemudian Ibu memutuskan pindah mengontrak di sebuah kamar sederhana. (Tere Liye: . Kehidupan keluarga tokoh utama yang sederhana dan penuh perjuangan menggambarkan kelas bawah dalam masyarakat yang bergantung pada pekerjaan informal dan rendah upah, seperti mengamen dan bekerja sebagai tukang cuci. Ibu, yang mulai bekerja sebagai tukang cuci di sebuah laundry mahasiswa, mewakili realitas kehidupan kelas pekerja yang sering kali dipaksa untuk menerima pekerjaan yang tidak dihargai secara sosial dan ekonomis, namun menjadi sumber penghidupan yang utama. Simpulan Aktivitas siswa dalam pembelajaran Think Pair Share (TPS) pada materi menulis puisi menunjukkan keterlibatan yang cukup baik dan memberikan hasil yang positif. Siswa secara aktif berdiskusi dalam kelompok untuk menyusun puisi, mulai dari pemilihan diksi, penentuan jumlah bait dan kata, hingga menyusun persajakan, sampiran, dan isi puisi. Hasilnya, rata-rata nilai keseluruhan siswa mencapai 88,2, dengan beberapa siswa menunjukkan capaian maksimal pada aspek tertentu, seperti isi puisi dan persajakan. Meskipun demikian, beberapa siswa masih memerlukan bimbingan lebih lanjut, khususnya dalam aspek pemilihan diksi dan penyusunan jumlah bait tiap baris. Secara umum, penerapan model TPS berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam menulis puisi, sekaligus memotivasi mereka untuk berkolaborasi dan berbagi ide secara efektif. Daftar Pustaka