SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Sosialisasi untuk Guru Sosiologi di Malang Raya dalam Menyusun Desain Pembelajaran Seli Septiana Pratiwi1*. Alan Sigit Fibrianto2. Nanda Harda Pratama Meiji3. Deny Wahyu Apriyadi4 1,2,3,4Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Malang. Kota Malang. Indonesia e-mail: seli. fis@um. id1*, alan. fis@um. id2, deny. fis@um. fis@um. Informasi Artikel Article History: Received : 24 Oktober 2024 Revised : 21 Maret 2025 Accepted : 11 Juni 2025 Published : 27 Oktober 2025 *Korespondensi: fis@um. Keywords: Learning Design. Students. Teachers Hak Cipta A2025 pada Penulis. Dipublikasikan oleh Universitas Dinamika Artikel ini open access di bawah lisensi CC BY-SA. 37802/society. Society : Journal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat 2745-4525 (Onlin. 2745-4568 (Prin. https://ejournals. id/index. php/society Abstract Learning desain is evidence of the teacherAos readiness to carry out their teaching duties in the classroom. Through good learning design, learning activities will encourage students to be more active and achieve learning objectives. Therefore, teachers need to have the ability to design learning that suits the needs of students. Activities to improve the ability of sociology teachers to design learning aim to create learning conditions that are in line with the needs of students. This activity increases the opportunity to develop effective and efficient learning conditions according to the characteristics of students and school facilities. The stages of the activity are divided into three, namely planning, implementation, and In the planning activity, coordination was carried out with the community namely MGMP Sosiologi in Malang Raya and East Jawa in SMA and MA as activity partners. addition, with the involvement of MGMP, information was obtained on urgent needs from sociology teachers, especially in Malang Raya. The implementation mechanism in divided into two, namely offline and online. Online activities are divided into two sessions discussing learning achievements and innovative learning models. The offline session discusses assessment, preparation of teaching modules, and understanding by design. The evaluation results show that the majority of participants get a good impact from the activities such as understanding the material and experience received during the activities from the methods used by the speakers. Based on the training results, teacher are encourage to be able to desaign learning according to the applicable curriculum. PENDAHULUAN Desain pembelajaran merupakan hal yang paling penting untuk penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Desain pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memaksimalkan keefektifan, efisiensi, dan hasil pembelajaran (Magdalena et al. , 2. Desain pembelajaran disusun dengan memperhatikan gaya belajar peserta didik, minat dan bakat peserta didik, dan fasilitas penunjang lain. Pada hakikatnya proses pembelajaran harus memenuhi unsur siswa dan guru, materi, fasilitas, dan harus saling mempengaruhi satu sama lain (Muhardini & Milandari, 2. Tujuan pembelajaran menjadi faktor utama dalam menyusun desain pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. Inovasi dalam penggunaan model pembelajaran, media pembelajaran, sumber belajar, dan evaluasi pembelajaran merujuk DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. pada tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Seluruh komponen dalam desain pembelajaran harus tersinkronisasi dan mampu dilakukan oleh guru ketika berada di kelas. Namun, masih banyak ditemui desain pembelajaran yang belum sesuai dengan praktik di kelas. Realitas di masyarakat, guru masih mengandalkan desain pembelajaran sebelumnya tanpa melakukan modifikasi atau mengambil dari dokumen di Internet. Hal ini mempengaruhi performa guru ketika mengajar di kelas. Perangkat pembelajaran menjadi bukti bahwa guru telah siap mengajar dan mempertanggungjawabkan secara ilmiah tugas guru ketika mengajar (Apendi, 2. Desain pembelajaran yang dijadikan panduan tidak sesuai dengan karakteristik dan fasilitas di sekolah. Selain itu, perubahan kurikulum dari kurikulum 2013 revisi ke kurikulum merdeka yang belum sempurna dipahami guru menjadi salah satu alasan penyusunan desain pembelajaran yang belum optimal. Peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun desain pembelajaran. MGMP merupakan forum untuk kegiatan profesional khususnya guru untuk sarana berkomunikasi, belajar, dan berdiskusi tentang pengalaman sehingga bisa meningkatkan kinerja guru secara praktis (Bahari & Siagian, 2. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru dalam menyusun modul ajar diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan pembelajaran (Akmal et al. , 2. Komunitas ini berfungsi sebagai wadah bagi guru untuk saling sharing, diskusi, dan problem solving permasalahan yang dihadapi ketika di kelas. Melalui MGMP guru diberikan ruang untuk dapat memahami karakteristik peserta didik dan langkah-langkah menghadapinya. Selain itu, komunitas ini juga memberikan ruang kepada guru untuk dapat saling sharing ketika menyusun desain pembelajaran. Sehingga, proses pembelajaran bisa tepat sesuai kebutuhan peserta didik. Pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik . eaching at the right leve. merupakan pendekatan pengajaran yang berpusat pada kesiapan belajar peserta didik bukan hanya pada kelas (Kurniati & Kusumawati, 2. Komunitas MGMP juga berfungsi untuk memberikan pemahaman kepada guru tentang dinamika yang terjadi di dunia pendidikan, termasuk perubahan kurikulum. Guru memiliki peran penting dalam kegiatan pembelajaran sebagai sumber belajar, fasilitator, dan motivator (Maulana Baihaqi et al. , 2. Peran MGMP untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru menjadi lebih penting ketika pemerintah menerapkan kurikulum baru (Pajar et al. , 2. Oleh karena itu. MGMP membutuhkan mitra untuk memberikan pembelajaran kepada guru agar mampu menjadi guru yang profesional. MGMP dapat mengatasi kesenjangan pada guru dan proses pembelajaran sehingga bisa berjalan dengan lebih baik dan efektif (Apendi, 2. Langkah yang dilakukan MGMP salah satunya dengan bekerjasama dengan universitas yang memiliki fakultas atau jurusan di bidang pendidikan. Kerjasama ini juga yang dilakukan oleh MGMP Sosiologi yang ada di Malang Raya. MGMP Sosiologi di Malang Raya mengharapkan ketika tahun ajaran baru dimulai maka guru sudah siap dengan seluruh perangkat ajarnya, termasuk desain pembelajaran. Setelah berhenti berkegiatan selama COVID-19, kegiatan MGMP Sosiologi yang fokus pada penyusunan desain pembelajaran diharapkan juga bisa memberikan hal baru bagi guru. Adapun, mata pelajaran sosiologi sejauh ini mengalami dinamika khususnya dalam capaian Perubahan-perubahan capaian pembelajaran menuntut guru untuk mengubah desain pembelajaran agar lebih optimal. MGMP Sosiologi di Malang Raya mencoba menjembatani hal tersebut melalui kerjasama dengan Universitas Negeri Malang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan lebih banyak langsung fokus pada penyusunan modul ajar. Pada kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh (Marlina, 2. , dilakukan selama lima hari dalam bentuk sosialisasi yang lebih fokus pada kurikulum Pelaksanaan kegiatan pengabdian oleh (Dafit et al. , 2. lebih fokus pada penyusunan modul ajar berbasis literasi untuk guru-guru di sekolah dasar. (Ariawan et al. melakukan pengembangan modul ajar berbasis problem based learning. Hal berbeda DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. di hadirkan pada pengabdian ini, dengan fokus pada kemampuan guru sosiologi menyusun modul ajar dan keterlibatan MGMP dalam pelaksanaannya mengingat MGMP dijadikan sumber informasi kebutuhan guru sosiologi. Sosialisasi yang dilakukan bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada guru tentang modul ajar dan penyusunannya. Kegiatan ini mempertimbangkan agar pengetahuan yang dimiliki guru dapat menyeluruh dan sesuai dengan penerapan di sekolah. Selain itu, sosioalisasi ini juga mempertimbangkan kesiapan guru dalam menyusun desain pembelajaran, memahami karakteristik dari peserta didik, dan ketersediaan fasilitas di Sehingga, melalui kegiatan ini guru sosiologi sebagai peserta kegiatan memiliki persiapan pengetahuan yang baik untuk menyusun desain pembelajaran yang efektif. Selain itu, terdapat pertimbangan materi yang diberikan kepada guru sehingga setiap sesi memiliki maksud mempermudah guru menyusun modul ajar. METODE PELAKSANAAN Metode yang digunakan yaitu Participatory Rural Appraisal (PRA) yang berarti peserta kegiatan dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Masyitoh et al. , 2. Kegiatan dilakukan dengan melibatkan guru sosiologi yang ada di wilayah Malang Raya, termasuk guru SMA dan MA. Kegiatan diselenggarakan dari akhir September hingga Oktober 2024. Kegiatan dilakukan dengan tiga tahapan yaitu: Tahap Perencanaan Tahap Pelaksanaan Tahap Evaluasi Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Sumber: Penulis, 2024 Gambaran lebih rinci pelaksanaan kegiatan sosialisasi kepada guru sosiologi tentang modul ajar dapat dilihat sebagai berikut: Gambar 2. Alur Pelaksanaan Kegiatan DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Tahap pertama dilakukan dengan merencanakan kegiatan. Perencanaan melibatkan ketua MGMP Sosiologi MA di Jawa Timur dan ketua MGMP Sosiologi di Malang. Ketua MGMP merupakan penghubung antara tim pelaksana dengan guru-guru sosiologi sebagai peserta kegiatan. Selain itu, koordinasi dengan ketua MGMP untuk memetakan kebutuhan mendesak dari guru agar kegiatan bisa bermanfaat dan berdampak. Kegiatan perencanaan juga mempertimbangkan waktu pelaksanaan yang efektif serta mekanisme pelaksanaan kegiatan sosialisasi. Kesepakatan berdasarkan hasil koordinasi diantaranya menyepakati waktu pelaksanaan di minggu awal masuk sekolah sehingga perubahanperubahan desain pembelajaran bisa dideteksi lebih dini menyesuaikan peserta didik, mekanisme kegiatan dilakukan secara luring dan daring dengan melibatkan seluruh guru sosiologi di Malang Raya, dan materi yang akan disampaikan pada kegiatan sosialisasi. Tahap kedua yaitu pelaksanaan kegiatan. Kegiatan dilaksanakan selama tiga sesi dengan mekanisme dua kali sesi daring dan satu kali sesi luring. Adapun sesi daring menampilkan satu pemateri yang berasal dari dosen Universitas Pendidikan Indonesia dan Universitas Lambung Mangkurat. Sesi luring dilaksanakan di aula Fakultas Ilmu Sosial dengan menampilkan tiga orang pemateri yang berasal dari dosen Universitas Negeri Malang dan dua orang guru penggerak. Kegiatan daring dilaksanakan dari pukul 00 hingga 12. 00 WIB sedangkan untuk sesi luring dari pukul 08. 00 hingga 16. 00 WIB. Materi yang disampaikan pada sesi daring pertama yaitu membedah capaian pembelajaran mata pelajaran sosiologi, sesi kedua model-model pembelajaran inovatif. Pada sesi luring peserta mendapatkan materi tentang evaluasi pembelajaran, proses penyusunan modul ajar, dan understanding by desain. Tahap ketiga yaitu evaluasi kegiatan. Proses evaluasi dilakukan dengan memberikan google form pada peserta kegiatan. Hasil evaluasi dijadikan landasan untuk melihat kekurangan dan perbaikan kegiatan di masa yang akan datang serta ketercapaian tujuan dari kegiatan. HASIL dan PEMBAHASAN Kegiatan sosialisasi sesi pertama mengusung tema membedah capaian mata pelajaran sosiologi. Dalam kegiatan tersebut dijelaskan capaian pembelajaran sosiologi terbaru yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2023. Capaian pembelajaran dalam kurikulum merdeka merupakan bentuk sederhana dari tujuan pembelajaran yang dirancang guru agar sesuai dengan target setiap harinya (Rindayati et , 2. Peserta diajarkan untuk memahami apa itu capaian pembelajaran, melakukan breakdown capaian pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran dan alur tujuan Kegiatan juga memberikan pemahaman kepada peserta untuk menyusun alur tujuan pembelajaran dengan tiga cara. Peserta juga diberikan kesempatan untuk mempraktikan secara langsung cara menyusun alur tujuan pembelajaran. Setelah sesi praktik, perwakilan peserta diberikan kesempatan untuk menunjukkan hasil praktik dan diberikan masukkan baik oleh pemateri maupun peserta lain. Dalam sesi diskusi peserta aktif bertanya hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menurunkan capaian pembelajaran hingga menjadi alur tujuan pembelajaran, kedalaman materi sesuai alur tujuan pembelajaran, dan mencantumkan dalam desain pembelajaran. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Gambar 3. Penyampaian Materi Sesi Daring Pertama Sumber: Penulis, 2024 Terdapat banyak model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru baik yang sifatnya student center maupun teacher center. Guru perlu bijak dalam menentukan strategi belajar mengajar termasuk memiliki model pembelajaran yang akan berdampak pada proses pembelajaran dan kemampuan peserta didik (Siahaan et al. , 2. Pada sesi kedua dilakukan secara daring dengan materi model-model pembelajaran yang inovatif. Sesi ini memberikan pemahaman kepada peserta untuk lebih memahami model-model pembelajaran yang inovatif. Selain itu, peserta diingatkan agar menggunakan model pembelajaran yang bervariasi untuk meningkatkan semangat dari peserta didik. Penggunaan dan pemilihan model pembelajaran diarahkan untuk menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan materi. Peserta sosialisasi diberikan waktu untuk sharing model pembelajaran yang biasa digunakan dan kendala dalam memilih model pembelajaran yang Model pembelajaran yang dipilih guru hendaknya dapat melibatkan peserta didik lebih aktif dalam proses belajar (Nababan, 2. Gambar 4. Penyampaian Materi Sesi Daring Kedua Sumber: Penulis, 2024 DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Sesi sosialisasi dilanjutkan dengan sesi luring yang diselenggarakan di Aula Fakultas Ilmu Sosial dengan jumlah peserta sebanyak 103 orang yang berasal dari guru sosiologi SMA dan MA di wilayah Malang Raya, hadir juga 13 mahasiswa PPG prajabatan yang diberikan kesempatan menambah ilmu dan wawasan tentang modul ajar. Adapun pada kegiatan luring dibagi menjadi tiga sesi yaitu sesi pertama membahas tentang asesmen atau evaluasi pembelajaran, sesi kedua tentang penyusunan modul ajar, dan sesi ketiga tentang understanding by desain. Penyelenggaraan kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkuat peran guru dalam mengembangan pembelajaran di kelas. Kekuatan dari pengembangan guru yaitu kualifikasi guru yang memadai termasuk kemampuan untuk menyusun desain pembelajaran, dukungan teman sejawat yang dalam hal ini melalui MGMP, manajemen kepala sekolah, dan motivasi belajar peserta didik (Rahayu et al. , 2. Sesi asesmen atau evaluasi pembelajaran, peserta diberikan penjelasan tentang variasi asesmen baik yang menggunakan teknologi maupun secara manual. Pemateri menekankan agar setiap asesmen yang digunakan perlu memperhatikan tujuan pembelajaran bukan hanya langkah-langkah pembelajaran. Pemateri juga memberikan penekanan bahwa asesmen yang dilakukan perlu dilakukan tindak lanjut sebagai proses perbaikan pembelajaran. Asesmen dilakukan hendaknya bukan hanya mengukur penguasaan peserta didik pada materi tetapi juga fokus pada menilai kecakapan individu secara kontekstual (Wijaya & Dewayani, 2. Gambar 5. Penyampaian Materi Sesi Luring kedua Sumber: Penulis 2024 Sesi kedua diisi dengan langkah-langkah penyusunan modul ajar. Peserta melakukan sharing dan diskusi terkait hambatan serta kendala yang dialami selama menyusun modul Pemateri memberikan penjelasan singkat langkah-langkah yang dilakukannya untuk menyusun modul ajar termasuk melakukan tes pengetahuan awal peserta didik dan langkah lanjutan dari hasil tes tersebut. Pemateri juga memberikan tips-tips agar penyusunan modul ajar bisa lebih efektif, misalnya, dengan melakukan lesson study bersama guru mata pelajaran di MGMP tingkat sekolah, atau melakukan uji coba di kelas dan dilakukan perbaikan hingga menemukan kesesuaian. Secara umum, guru bertugas untuk merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan sosialisasi (Rohmah, 2. DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Gambar 6. Peserta Kegiatan Sesi Luring Sumber: Penulis, 2024 Terakhir, kegiatan sosialisasi dilakukan dengan materi understanding by desain. Pemateri menekankan bahwa perlu dilakukan perubahan kebiasaan guru dalam menyusun modul ajar. Jika biasanya guru meletakkan asesmen di akhir penyusunan modul ajar, desain ini menganjurkan bahwa asesmen dipertimbangkan setelah tujuan pembelajaran di Desain ini diperkenalkan pada guru mengingat masih ditemukannya guru yang menyusun modul ajar tidak sinkron antara tujuan pembelajaran dan asesmen yang Sehingga, dengan materi ini guru bisa lebih memperhatikan sinkronisasi antara tujuan pembelajaran dengan asesmen pembelajaran. Dalam proses belajar kesiapan guru untuk mengajar harus dalam kondisi yang prima, perangkat pembelajaran dapat diartikan sebagai kesiapan guru untuk mengajar di kelas (Mirzachaerulsyah, 2. Perubahan pola penyusunan diharapkan kesiapan guru mengajar di kelas dapat lebih optimal. Kegiatan ini juga melakukan refleksi dan evaluasi kegiatan untuk melihat peluang perbaikan di masa yang akan datang. Aspek yang menjadi penilaian yaitu kesan selama mengikuti kegiatan terdiri dari ilmu yang disampaikan, metode yang digunakan, dan materi yang disajikan selama kegiatan berlangsung. Adapun hasil yang telah dijawab oleh peserta kegiatan sebagai berikut: Materi Yang Disampaikan Kurang Menarik Menarik Gambar 7. Hasil Survei Evaluasi Kegiatan Tentang Materi Yang Disampaikan Sumber: Penulis, 2024 DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Berdasarkan hasil survei 71% peserta menyatakan bahwa materi yang disampaikan menarik sedangkan 29% peserta menyatakan bahwa materi yang disampaikan kurang Berdasarkan hal tersebut maka mayoritas peserta menerima materi dengan baik karena dianggap sesuatu yang menarik dan perlu dipelajari. Materi yang disampaikan telah didiskusikan pada tahap perencanaan agar guru mampu mengikuti proses sosialiasasi secara bertahap dari yang sifatnya sederhana ke yang sifatnya aplikatif. Kesesuaian Materi Kurang Sesuai Sesuai Gambar 8. Hasil Survei Evaluasi Kegiatan Tentang Kesesuaian Materi Sumber: Penulis, 2024 Survei evaluasi tentang kesesuaian materi menunjukkan bahwa 86% peserta menilai materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan guru ketika menyusun modul Sedangkan, 14% peserta menilai materi kurang sesuai dengan kebutuhan guru menyusun modul ajar. Selain itu terdapat, 93% peserta yang menilai metode atau pendekatan yang dilakukan pemateri sosialisasi baik dan 7% peserta menilai kurang baik. Kurang Baik Metode atau pendekatan Baik Gambar 9. Hasil Survei Evaluasi Kegiatan Tentang Metode atau Pendekatan Sosialisasi Sumber: Penulis, 2024 DOI : doi. org/10. 37802/society. (E-ISSN 2745-4. (P-ISSN 2745-4. SOCIETY Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Oktober 2025. Hal. Survei evaluasi juga menyedikan kolom untuk peserta memberikan masukkan dan saran untuk kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang. Hasil survei menunjukkan mayoritas peserta menginginkan adanya focus group discussion (FGD) untuk memetakan kebutuhan guru secara lebih terperinci. Selanjutnya, terdapat masukkan untuk menambah waktu dan diiringi dengan sosialisasi sehingga bisa langsung di praktikan secara langsung oleh peserta sosialisasi. Terdapat pula masukan untuk mengadakan sosialisasi serupa yang lebih menarik dan komunikatif serta memberikan kesempatan pada guru sosiologi di wilayah Jawa Timur untuk berkesempatan mengikuti kegiatan serupa. Sebuah penelitian menemukan bahwa komitmen guru terhadap perbaikan lingkungan kerja memberikan dampak positif terhadap kinerjanya (Slameto et al. , 2. Oleh sebab itu, komitmen guru untuk menyenggarakan pembelajaran yang efektif dimulai dengan penyusunan desain pembelajaran yang baik. KESIMPULAN Kegiatan sosialisasi tentang penyusunan modul ajar diselenggaran oleh tim pelaksana dari Universitas Negeri Malang bekerjasama dengan MGMP Sosiologi di Malang raya pada satuan SMA dan MA. Adapun tujuan kegiatan untuk memberikan gambaran dan kesempatan bagi guru untuk bisa menyusun modul ajar yang sesuai dengan kurikulum berlaku di Indonesia saat ini. Materi disampaikan dengan mekanisme daring dan luring melibatkan pemateri dari unsur dosen sebanyak 3 orang dan unsur guru penggerak sebanyak 2 orang. Berdasarkan kegiatan yang telah diselenggarakan maka, . kegiatan berhasil memberikan ilmu dan pemahaman kepada guru sosiologi di Malang Raya berkaitan dengan penyusunan desain pembelajaran sosiologi, . selama kegiatan guru mendapatkan contoh-contoh yang lebih konkrit berdasarkan pengalaman narasumber, . guru sebagai peserta kegiatan mendapatkan inspirasi dalam menyusun dan mengembangkan modul ajar yang sesuai dengan kurikulum berlaku. Pada masa yang akan datang guru dimungkinkan untuk saling bertukar informasi setelah melakukan perbaikan atau penyusunan modul ajar. MGMP sebagai kelompok yang menaungi guru menjadi wadah untuk guru berdiskusi dan merencanakan penyusunan modul ajar setelah kegiatan terselenggara. Oleh sebab itu, terdapat saran yang bisa dilakukan diantaranya melakukan pemantauan dan tindak lanjut berdasarkan informasi dari pengurus MGMP Sosiologi dan planning kegiatan lanjutan di masa depan. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pengebdian kepada masyarakat khususnya: Universitas Negeri Malang (UM) yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendanaan hibah internal tahun 2023. MGMP Sosiologi Jawa Timur MGMP Sosiologi di Malang Raya Pemateri yang telah berkenan sharing ilmu berasal dari dosen Universitas Pendidikan Indonesia, dosen Universitas Lambung Mangkurat, guru penggerak dari Madiun, dan guru penggerak dari Riau. DAFTAR PUSTAKA