https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT UPAYA MEMBANGUN MANUSIA PARIPURNA Yuliana Siregar Pondok Pesantren Islamiyah Padang Garugur yulianasiregar@gmail. Siti Apriani Hasibuan MA Swasta Al-Hamidiyah Sungai Sionggoton sitiaprianihasibuan@gmail. Article History: Received: Januari 2, 2026. Accepted: Januari 15, 2026. Published: Februari 20, 2026. Keywords: Islamic Education. Islamic Philosophy. Perfect Human Being. Goals Of Education Abstract. This research is motivated by the need to reunderstand the goals of Islamic education from a philosophical perspective, particularly in the effort to develop complete human beings with holistic character. The main problem of this research is the lack of a comprehensive understanding of the goals of Islamic education from a philosophical perspective, especially in forming complete human beings who are balanced in spiritual, intellectual, and moral aspects. This research aims to re-explain how philosophy views the goals of Islamic education and how this concept can be applied to contemporary The method used is a literature study by reviewing the books and writings of classical and modern Islamic educational thinkers. Data were obtained from the thoughts of figures such as Al-Ghazali. Ibn Miskawayh, and Syed Muhammad Naquib al-Attas, supplemented by the latest educational literature. The results of this study indicate that the goal of Islamic education is essentially to shape good, knowledgeable, moral, and capable human beings who are able to live lives based on Islamic values. Education emphasizes not only knowledge, but also the development of the soul, character, and strengthening of faith. In conclusion, a philosophical perspective helps provide a more complete picture of the goals of Islamic education so that it can be used as a basis for developing education that is relevant to the needs of the times without abandoning religious values. Abstrak. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebutuhan untuk memahami kembali tujuan pendidikan Islam dalam perspektif filsafat, khususnya dalam upaya membangun manusia paripurna yang berkarakter holistik. Permasalahan utama penelitian ini adalah kurangnya pemahaman yang menyeluruh mengenai tujuan pendidikan Islam dalam perspektif filsafat, terutama dalam membentuk manusia paripurna yang seimbang dari sisi spiritual, intelektual, dan akhlaknya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kembali bagaimana filsafat memandang tujuan pendidikan Islam dan bagaimana konsep tersebut dapat diterapkan pada pendidikan masa kini. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengkaji buku-buku dan tulisan para pemikir pendidikan Islam klasik dan modern. Data diperoleh dari pemikiran tokoh seperti AlGhazali. Ibn Miskawayh, serta Syed Muhammad Naquib alAttas, ditambah dengan literatur pendidikan terbaru. Hasil 143 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan penelitian menunjukkan bahwa tujuan pendidikan Islam pada dasarnya adalah membentuk manusia yang baik, berilmu, berakhlak, dan mampu menjalani kehidupan berdasarkan nilainilai keislaman. Pendidikan tidak hanya menekankan pengetahuan, tetapi juga pembinaan jiwa, karakter, dan penguatan keimanan. Kesimpulannya, perspektif filsafat membantu memberikan gambaran yang lebih utuh tentang tujuan pendidikan Islam sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama. PENDAHULUAN Filsafat pendidikan, juga menjadi tulang punggung ke mana bagian-bagian yang lain dalam pendidikan itu bergantung. Tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, evaluasi, administrasi dan alat-alat pembelajaran adalah merupakan aspek pendidikan yang harus bersinergi antara yang satu dengan lainnya, yang memberinya arah, menunjukkan jalan yang akan dilaluinya serta meletakkan dasar-dasar dan prinsip prinsip yang permanen. Karena manusia yang akan kita bicarakan adalah masyarakat Islam yang sebagian anggota-anggotanya ingin melaksanakan ajaran Islam dengan sempurna, maka dalam segala urusan kehidupan berusaha memberi corak Islam. Tujuan pokok tersebut adalah untuk menerangkan bagaimana kita membina filsafat pendidikan dengan mengambil asasnya dari prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran Islam. (Salminawati 2. Pendidikan mendorong timbulnya minat belajar untuk mengetahui dan mengerjakan sesuatu yang telah diketahui. Pendidikan merupakan persoalan yang tidak pernah tuntas untuk dibahas karena bersifat dinamis dan senantiasa berkembang seiring dengan perubahan zaman. Setiap individu, tanpa memandang profesi maupun status sosial, memiliki hak untuk berbicara mengenai pendidikan, sebab pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini dimungkinkan karena dalam diri manusia terdapat naluri atau kecenderungan untuk mendidik dan Namun demikian, tidak semua pandangan atau pembicaraan mengenai pendidikan dapat dijadikan acuan atau standar normatif dalam 144 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. merumuskan kebijakan untuk pengembangan manusia, baik dalam lingkup kecil maupun besar. (Pardede, n. Tujuan pendidikan agama Islam haruslah sesuai dengan nilai-nilai ajaran pendidikan agama Islam, kekhalifahaannya sebagaimana Memang benar bahwa manusia membutuhkan bantuan dalam proses kehidupannya, dan bantuan tersebut pada dasarnya merupakan bentuk pendidikan. Akan tetapi, tidak semua bentuk bantuan dapat serta merta disebut sebagai pendidikan. Sebagai contoh, tindakan spontan menolong seseorang yang mengalami kecelakaan lalu lintas tidak dapat dikategorikan sebagai pendidikan apabila dilihat dari esensi makna Pendidikan sejatinya harus berlandaskan pada kesadaran yang mendalam, dengan tujuan menempatkan manusia sesuai kodrat dan potensi bawaannya, tanpa paksaan yang tidak memiliki landasan argumentatif. (Afriani and Hasibuan 2. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan memegang peranan yang sangat penting karena menjadi sarana utama untuk menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa. Pendidikan berfungsi sebagai wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia Oleh meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia, termasuk melalui upaya reformasi pendidikan. Namun pendidikan tidak memberikan arti apaapa tanpa seorang pendidik. Posisi pendidik dalam pendidikan berada pada posisi sentral dan penting. Dalm hal ini, mahmud yunus yang dikutif malik fadjar mengatakan Au thariqat ahammu min al- maddat, walakin al- mudarris ahammu min al-thariqat Aumetode pembelajaran lebih penting dari materi belajar, akan tetapi peranan pendidik dalam proses belajar-mengajar jauh lebih penting daripada metode pembelajaran itu sendiri. (Andriyani 2. Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa pendidik adalah orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik. Pendidik tifak hanya guru 145 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan disekolah, akan tetapi setiap orang yang memberikan ilmunya, dapat disebut Reformasi restrukturisasi sistem pendidikan yang mencakup perbaikan pola hubungan pengembangan perencanaan pendidikan yang lebih terarah, peningkatan manajemen pendidikan, pemberdayaan tenaga pendidik, serta restrukturisasi model-model pembelajaran agar lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. (Tyaningsih 2. Allah Swt. menganugerahkan kepada manusia fitrah, yang dalam konteks pendidikan disebut sebagai potensi. Melalui potensi tersebut, manusia diberi kebebasan untuk menentukan arah kehidupannya, baik dalam memilih kebaikan maupun keburukan. Kebebasan memilih ini menuntut manusia untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil di hadapan Allah Swt. Dalam hal ini. Islam hadir sebagai pedoman bagi manusia untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, dengan tujuan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Islam berfungsi sebagai sumber pengetahuan yang membimbing manusia dalam menjalani kehidupan, tanpa mengabaikan fitrah atau kodrat kemanusiaannya. (Mulia 2. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran yang sangat penting, baik bagi individu maupun masyarakat. Kepentingan pendidikan tidak terbatas pada kelompok, bangsa, atau periode tertentu, melainkan mencakup seluruh umat manusia, khususnya umat Islam, untuk memberikan perhatian penuh terhadap pengembangan pendidikan. Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia menjadi insan kamilAimanusia yang sempurna secara holistikAi sebagaimana yang terjadi dalam sistem pendidikan Sparta. Athena, atau sistem pendidikan lain yang hanya menekankan aspek tertentu dari diri METODE PENELITIAN Analisis metode dalam jurnal ini menggunakan library research dengan 146 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. menggunakan pendekatan filosofis . alam mengkaji Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia paripurn. Teknik mengumpulan bahan data berupa dari sumber buku-buku yang ada di perpustakaan, artikel artikel yang mendukung penelitian, berbuhungan dengan tulisan-tulisan terkait dengan penelitian, serta dikumpulkan dan diambil dan diintisarikan serta dikaitkan dengan objek kajian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, yaitu dengan membaca, mencatat, dan mengkaji secara mendalam isi literatur yang Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan analisis isi . ontent analysi. , yaitu menafsirkan makna yang terkandung dalam teks secara sistematis dan kritis untuk memperoleh pemahaman konseptual Islam Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya mengungkap dan merumuskan kembali konsep tujuan pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan manusia paripurna . nsan kami. berdasarkan pandangan filosofis dan nilainilai ajaran Islam. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Pendidikan Dalam Islam Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah pendidikan merupakan kata turunan dari kata didik yang mendapat awalan pe- dan akhiran -an. Pendidikan diartikan sebagai suatu proses pengubahan sikap mendewasakan manusia. Di kalangan para tokoh pendidikan Islam, terdapat tiga istilah utama yang lazim digunakan untuk menggambarkan konsep pendidikan Islam sebelum membahas definisi pendidikan secara Pertama, al-Tarbiyah, yang merujuk pada pemahaman tentang al- Rabb (Tuha. dan proses pengasuhan serta pembinaan yang menuntun manusia menuju perkembangan yang sempurna. Kedua, al-TaAolim, yang mencakup aspek pengetahuan teoretis, kreativitas, komitmen tinggi 147 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, serta pembentukan sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan. Ketiga, al-TaAodib, yang menekankan integrasi antara ilmu dan iman sehingga melahirkan amal perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam. (Hidayah 2. Istilah Tarbiyah Istilah tarbiyah berasal dari kata dasar rabba Ae yurabbi yang kemudian menjadi tarbiyah, yang berarti memelihara, membesarkan, dan mendidik. Dalam kedudukannya sebagai khalifah, manusia hidup di alam dengan mandat dari Allah untuk mewakili dan melaksanakan peran serta fungsi-Nya di bumi. Dengan demikian, manusia sebagai bagian dari alam memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang sejalan dengan lingkungannya. Namun, sebagai khalifah Allah, manusia juga memikul tanggung jawab untuk mengelola, memelihara, dan melestarikan alam beserta lingkungannya. (Pramita et al. Istilah Al-TaAolim Secara Etimologi. TaAolim semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Hakikat ilmu pengetahuan bersumber dari Allah SWT. Seperti pada surat Al-Baqarah. aa a a e a a a e a a a a a e a a ae a e a a a a a ae a a A aOE aI aI E eI a EE aN I a aN eI EO E aIE aiOE ai ACE I aiA e aiOI eO ai eI ai NE ai aiI EI eI A ai aiC eOIA Artinya Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama . seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman. AuSebutkan kepada-Ku namanama . ini jika kamu benar!Ay Proses pembelajaran . aAoli. secara simbolis digambarkan dalam Al-QurAoan pada peristiwa penciptaan Nabi Adam A. oleh Allah Swt. Dalam peristiwa tersebut. Adam menerima pengetahuan secara langsung dari Penciptanya. Proses ini menggambarkan konsep taAolim, yang menjelaskan hubungan antara pengetahuan yang diterima oleh Adam A. dengan Tuhannya. (Tazkiya 2. Istilah Al-TaAodib Menurut Al-Attas, 148 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Islam al-taAodib. Istilah ditanamkan secara bertahap ke dalam diri peserta didik mengenai kedudukan yang benar dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan. Melalui mengakui kedudukan Tuhan secara tepat dalam struktur wujud dan (Al-attas 2. Al-TaAodib diartikan sebagai proses pengenalan dan penanaman pengetahuan secara bertahap ke dalam diri manusia . eserta didi. mengenai kedudukan yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan Pendekatan ini menjadikan pendidikan berfungsi sebagai pembimbing untuk mengenali dan mengakui kedudukan Tuhan secara tepat dalam tatanan wujud dan kepribadian manusia. (Mulyo et al. Jika dibandingkan, istilah tarbiyah memiliki cakupan makna yang lebih luas dan lebih sesuai digunakan untuk menggambarkan konsep pendidikan dibandingkan istilah taAolim dan taAodib. TaAolim lebih berfokus pada aspek pengajaran karena menitikberatkan pada transfer digambarkan dalam ayat-ayat Al-QurAoan terkait proses pemberian ilmu. Sementara itu, taAodib lebih menekankan pada pendidikan akhlak dan budi pekerti, sebagaimana pendapat para pakar pendidikan seperti Prof. Zakiah Daradjat dan Abdur-Rahman An-Nahlawi. Namun. Muhammad Naquib al-Attas berpendapat bahwa istilah taAodib lebih tepat digunakan untuk istilah pendidikan karena mencakup wawasan ilmu sekaligus amal yang menjadi esensi pendidikan Islam. Berbeda lagi dengan Abdul Fattah Jalal yang berpendapat bahwa taAolim justru memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan kedua istilah lainnya. (Rizih 2. 149 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan Tujuan Umum Pendidikan Islam Menurut Omar Muhammad al-Toumy al-Syabany, sebagaimana dikutip oleh Fatah Syukur, tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan dan diupayakan melalui proses pendidikan, baik yang berkaitan dengan perilaku individu, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, maupun lingkungan sekitarnya. Sementara itu. Arifuddin Arief, dengan mengutip pendapat Abdur Rahman Saleh, menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam mencakup empat aspek utama. Pertama, tujuan pendidikan jasmani . dhaf al-jismiya. , yaitu mempersiapkan manusia agar mampu menjalankan peran sebagai khalifah di bumi melalui pembinaan fisik dan pelatihan keterampilan jasmani. Kedua, tujuan . dhaf al-ruhaniya. , internalisasi nilai-nilai, pembentukan kepribadian, dan penanaman moralitas Islami sehingga melahirkan jiwa yang mantap. Ketiga, tujuan pendidikan akal . dhaf al-Aoaqliya. , yang mengarah pada pengembangan kualitas intelektual dan kecerdasan untuk memahami kebenaran serta tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. , sehingga dapat memperkuat iman dan Keempat, tujuan pendidikan sosial . dhaf al ijtimaAoiya. , yaitu membentuk pribadi yang cerdas dalam menjalin komunikasi dan interaksi sosial yang harmonis dalam kehidupan sehari-hari. (Zainuddin 2. Tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya tidak terlepas dari prinsip-prinsip yang bersumber dari Al-QurAoan dan Hadis. Menurut Ilyasir . ,terdapat sedikitnya lima prinsip yang menjadi landasan dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam. Pertama, prinsip integrasi . , yaitu pandangan tentang kesatuan antara kehidupan dunia dan Oleh sebab itu, pendidikan Islam berupaya menyeimbangkan keduanya agar tercapai kebahagiaan dunia sekaligus kebahagiaan akhirat. Kedua, prinsip keseimbangan, yang merupakan konsekuensi dari prinsip Pendidikan Islam proporsional antara aspek ruhani dan jasmani, ilmu agama dan ilmu umum, teori dan praktik, serta nilai-nilai yang berkaitan dengan akidah, 150 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. syariat, dan akhlak. Ketiga, prinsip persamaan dan pembebasan, yang berangkat dari nilai tauhid bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Semua makhluk diciptakan oleh Pencipta yang sama, sehingga perbedaan di antara mereka hanya menjadi sarana untuk memperkuat persatuan. Melalui pendidikan, manusia diharapkan terbebas dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, serta hawa nafsu yang merusak. Keempat, prinsip kontinuitas . , yang melahirkan konsep pendidikan sepanjang hayat . ong life educatio. Pendidikan dalam Islam tidak memiliki batas akhir selama manusia masih hidup. Kelima, prinsip kemaslahatan dan keutamaan. Apabila nilai tauhid telah tertanam kuat dalam sikap, moral, dan akhlak seseorang, ia akan memiliki tekad untuk memperjuangkan kemaslahatan bersama. (Alma and Yogykarta 2. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya sejalan dengan tujuan hidup seorang Muslim, yaitu beriman, bertakwa, berakhlak Islami, mengemban amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi, serta beribadah untuk meraih ridha-Nya. Pendidikan Islam merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk membimbing, mengarahkan, dan mendidik peserta didik agar memahami serta mempelajari ajaran ajaran Islam. Upaya ini memiliki tujuan yang hendak dicapai. Secara umum, tujuan pendidikan Islam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum pendidikan Islam adalah mencapai kebahagiaan akhirat . , yang menjadi tujuan utama kehidupan manusia. Sementara itu, tujuan khusus pendidikan Islam memiliki beragam definisi yang disesuaikan dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi tertentu. Secara garis besar, tujuan khusus ini diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan hidup di dunia . (Nabila 2. Menurut Abdunrahman Saleh Abdullah, tujuan umum pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian manusia agar mampu menjadi khalifah Allah di muka bumi, atau setidaknya mempersiapkan peserta didik menuju jalan yang mengarah pada tujuan akhir kehidupan manusia. 151 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan Tujuan utama dari peran khalifah tersebut adalah menumbuhkan keimanan kepada Allah serta menanamkan sikap tunduk dan patuh secara total kepada-Nya. (Barni 2. Allah berfirman dalam surat al Dzariyat/ 51:56. a e e a e a ea a a e aa AEI aOE aiI a aiE aiE aO a eO aiIA ia A OI ECA Artinya Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Tujuan Islam memperhatikan komponen dasar . manusia, yaitu jasmani, ruh, dan akal, yang masing-masing perlu dipelihara dan dikembangkan secara Dengan demikian, pendidikan Islam mencakup tiga tujuan pokok, yaitu pengembangan aspek jasmaniah, pembinaan aspek ruhaniah, dan pembentukan aspek mental (Barni 2. Manusia Paripurna . nsan kami. Dalam Filsafat Islam Beberapa pemikir Islam memberikan pandangan berbeda mengenai konsep insan kamil. Menurut Muhammad Iqbal, insan kamil adalah manusia sempurna yang berada pada tingkat tertinggi dalam kemuliaan budi dan dapat dicapai oleh setiap individu. Pemikiran Iqbal tentang insan kamil berawal dari kerinduannya kepada Allah Swt. , yang dianggapnya telah menganugerahkan kesadaran besar akan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Bagi Iqbal, sosok Nabi Muhammad Saw. merupakan perwujudan nyata dari insan kamil karena beliau selalu menegakkan keadilan, menunaikan hak sesama muslim, mengingatkan manusia dari kemungkaran, dan menyebarkan amal kebaikan serta akhlak mulia. Iqbal memandang Nabi Saw. sebagai manifestasi aktivitas Ilahi yang dapat dirasakan secara sosial melalui tutur kata, tindakan, dan ketetapan yang semuanya dibimbing oleh wahyu Allah Swt. Oleh karena itu. Nabi Muhammad Saw. dijadikan teladan utama oleh Iqbal dalam menggambarkan sosok insan kamil. (Rusdin 2. Ibnu Arabi mendefinisikan insan kamil sebagai manusia ideal yang 152 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Kesempurnaan wujud insan kamil tercermin dari peranannya sebagai manifestasi paling sempurna dari citra Allah Swt. , di mana dalam dirinya terpantul seluruh Asmaul Husna yang sejalan dengan sifat-sifat Ilahi. Sementara itu, kesempurnaan dalam pengetahuan tercapai ketika seseorang mencapai kesadaran tertinggi, yakni menyadari hubungan dirinya dengan Allah sehingga mampu menjaga diri dari segala bentuk kebatilan (Rusdiana 2. Sementara itu. Al-Jili memaknai insan kamil sebagai pribadi Nabi Muhammad Saw. , yang menjadi contoh utama manusia sempurna. Menurutnya, sifat-sifat Nabi Saw. manusia ideal yang mengoptimalkan fitrah serta mengamalkan nilai-nilai muraqabah, istiqamah, mujahadah, dan mahabbah, yang kemudian menjadi teladan bagi para sahabat dan umatnya (Muh. Khoirul Rifa Aoi Insan Kamil merupakan istilah dalam pemikiran Islam yang menggambarkan manusia yang telah mencapai kesempurnaan dalam berbagai aspek kehidupannya, baik spiritual, moral, intelektual, maupun Konsep ini memiliki posisi penting dalam filsafat dan Islam, perkembangan manusia menurut ajaran Islam. Sepanjang sejarah, banyak ulama dan pemikir Islam yang membahas serta menafsirkan makna Insan Kamil dengan sudut pandang yang berbeda, namun pada dasarnya memiliki kesamaan bahwa Insan Kamil adalah manusia yang berhasil mencapai kesempurnaan iman, akhlak, dan pengabdian kepada Allah SWT. Dengan demikian. Insan Kamil menjadi simbol manusia ideal yang selaras dengan tujuan hidup dan pendidikan Islam, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia sesuai tuntunan ilahi. Dalam ajaran islam, insan kamil adalah seseorang yang meneladani kehidupan rasulullah saw. Dan berupaya menjalankan seluruh ajaran islam dengan sempurna. Mereka tidak hanya fokus pada ibadah tetapi juga memperhatikan aspek social, etika dan akhlak. Sebagaimana firman 153 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan Allah Swt dalam Al-QurAoan : a a a a e a a a a a e aa e a a Ua a U a A EC EI EE eI aiA eO a a eO aiE EE aiN e aO aI aiE aI eI EI aO eO EEN aOE aO eO aI E ai a aOE a EEN E ai eO UA Artinya Sungguh, pada . Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah Saw adalah contoh teladan bagi umat manusia dalam segala aspek kehidupan. Dengan meneladani rasulullah, seorang muslim dapat berproses menuju insan kamil, yang tidak hanya sholeh secara pribadi tetapi juga berkontribusi positif terhadap masyarakat. Berdasarkan Pengertian insan kamil diatas maka Adapun ciri-ciri insan kamil dalam konteks islam adalah sebagai berikut : Berbuat Adil. Adil, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang. Keadilan berarti kesamaan, berasal dari kata kerja . iAoi. Aoadala dan mashdarnya adalah al-Aoadl dan al-idl. As-Aoadl untuk menunjukkan sesuatu yang hanya ditangkap oleh bashirah . kal fikira. , dan al-Aoidl untuk menunjukkan keadilan yang bisa ditangkap oleh panca indera. Secara terminology adil merupakan mempersamakan sesuatu dengan yang lebih baik dari segi ukuran, sehingga sesuatu itu menjadi tidak berat sebelah dan tidak berbeda satu sama lain. (Wusqo and AsyAo ari 2. sayyid Mujtaba muasawi lari menjelaskan bahwa secara terminologis keadilan dapat dipahami dalam beberapa makna, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya, menghindari Tindakan dzalim, menghormati dan menjaga hak orang lain, serta tidak melakukan (Muhyidin 2. Keadilan merupakan salah satu ajaran utama yang dibawa oleh setiap Rasul, dan konsepnya tidak pernah mengalami perubahan dari satu Rasul ke Rasul berikutnya hingga Nabi Muhammad Saw. Dalam ajaran Islam, keadilan memiliki kedudukan 154 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. yang sangat penting karena Allah sendiri memiliki sifat Maha Adil ( al- AoAdl. yang menjadi teladan bagi umat-Nya. Bagi manusia, keadilan sosial merupakan cita-cita mulia yang diupayakan oleh setiap bangsa, bahkan banyak negara menegaskan dalam tujuan pendiriannya untuk menegakkan keadilan. Islam menekankan pentingnya keadilan agar setiap individu dapat menikmati hak-haknya secara manusiawi, termasuk terpenuhinya kebutuhan dasar seperti perlindungan agama, jiwa, akal, harta, kehormatan, dan keturunan. Semua hal tersebut hanya dapat terwujud melalui tegaknya keadilan . l-AoAd. dalam kehidupan (Firdaus 2. Memenuhi Hak Muslim atas Muslim Lain Prinsip utama dari keadilan terletak pada pengakuan bahwa seluruh manusia memiliki martabat yang sama. Setiap individu juga kehidupannya sebagai makhluk sosial. Hak-hak yang paling mendasar tersebut merupakan bagian dari kodrat kemanusiaan itu sendiri. (Firdaus 2. Kemanusiaan merupakan amanah dan cita luhur dari Allah Swt. Sang Pencipta, yang menghendaki agar manusia dapat tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan dirinya. Dalam pandangan Islam. Hak Asasi Manusia (HAM) dipahami sebagai hak kodrati yang bersifat fundamental, merupakan amanah sekaligus anugerah dari Allah Swt. yang wajib dijaga, dihormati, dan dilindungi Ibn Rusyd menegaskan bahwa Islam memberikan landasan perlindungan terhadap hak-hak dasar . manusia, meliputi perlindungan terhadap jiwa, kehormatan dan keturunan, harta benda, akal, serta agama. Islam juga menaruh perhatian besar terhadap hak-hak sesama muslim, bahkan dalam hal sederhana seperti memberi salam dan mendoakan Hal Islam nilai-nilai 155 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan . Amar MaAoruf Nahi Munkar Salah satu ciri utama insan kamil adalah kemampuannya dalam melaksanakan amar makruf nahi munkar. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk dakwah yang luhur serta mencerminkan kemuliaan pribadi seseorang. Di tengah maraknya kejahatan dan kekerasan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok di masa kini, pelaksanaan amar makruf nahi munkar menjadi semakin penting. Para ulama menegaskan bahwa kewajiban ini tidak hanya dibebankan kepada para pemimpin, melainkan juga kepada setiap muslim sesuai dengan Namun, apabila suatu persoalan hanya diketahui oleh kalangan tertentu, maka kewajiban tersebut hanya berlaku bagi mereka yang memahami permasalahan tersebut. Objek dari amar makruf nahi munkar juga harus bersifat pasti dan telah disepakati para ulama, bukan perkara yang masih diperdebatkan secara ijtihadi. (Hasan SuAoaidi 2. Dengan demikian, insan kamil adalah pribadi yang senantiasa terwujudnya kehidupan yang diridhai Allah Swt. Akhlaqul Karimah Akhlaqul karimah merupakan puncak dari insan kamil dalam Rasulullah Saw. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk memperbaiki akhlak manusia, yang menjadi petunjuk untuk mengembalikan umat dari kesesatan menuju mengagungkan hawa nafsu. Akhlak menjadi tolak ukur kesempurnaan keimanan, di mana keimanan yang sempurna akan melahirkan kebaikan yang terus menerus kepada sesama manusia dan lingkungannya. Insan kamil sebagai manusia ideal memiliki aspek jasmani yang sehat, rohani yang kokoh di atas keimanan, serta keterampilan dan kecerdasan dalam menyelesaikan persoalan dengan cepat dan tepat, yang akhirnya terpancar dalam perilaku baik berakhlak mulia . Akhlaqul karimah merupakan puncak pencapaian bagi seorang 156 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. insan kamil dalam mengimplementasikan seluruh potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Rasulullah Saw. diutus oleh Allah Swt. menyempurnakan akhlak manusia, yaitu dengan mengarahkan umat dari jalan kesesatan menuju kebenaran serta melawan berbagai bentuk Pada masa itu, kaum kafir Quraisy menjadikan hawa nafsu sebagai sesuatu yang diagungkan, bahkan mereka menjadi budak dari hawa nafsu itu sendiri. (H. Nixson Husin 2. Oleh sebab itu, akhlak dijadikan sebagai tolak ukur kesempurnaan iman seseorang. Keimanan yang sempurna akan menjadi sumber segala kebaikan dalam diri manusia, mendorongnya untuk berbuat baik kepada sesama dan menjaga lingkungan Dengan demikian, insan kamil sebagai representasi manusia ideal sekaligus khalifah di muka bumi adalah pribadi yang memiliki jasmani yang sehat, rohani yang kokoh berlandaskan iman, kemampuan intelektual yang tajam dalam menghadapi persoalan, serta perilaku mulia yang tercermin melalui akhlaqul karimah. Hubungan Antara Insan Kamil Dan Tujuan Pendidikan Konsep insan kamil memiliki hubungan yang sangat erat dengan tujuan pendidikan Islam, karena insan kamil merupakan bentuk ideal manusia yang ingin dicapai melalui proses pendidikan. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga pada pembentukan kepribadian yang utuh dan seimbang antara aspek spiritual, intelektual, moral, dan sosial. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta mampu mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan umat, yang semuanya merupakan ciri dari insan kamil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa insan kamil adalah hasil nyata dari keberhasilan pendidikan Islam dalam membentuk manusia paripurna yang berorientasi pada pengabdian kepada Allah SWT dan kebaikan bagi sesama. (Rachmad. Hitami, and Yusuf 2. Tujuan hakiki dari kehidupan manusia sejatinya sejalan dengan 157 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan tujuan pendidikan itu sendiri. Dalam pandangan Islam, tujuan hidup manusia di dunia tidak lain adalah untuk meraih mardhatillah, yaitu mendapatkan keridaan dan cinta Allah SWT. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan melalui ketakwaan, keimanan, serta amal saleh sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Pendidikan Islam berfungsi untuk membentuk manusia menjadi hamba Allah SWT yang taat dan beribadah kepada-Nya. Secara garis besar, tujuan pendidikan Islam terbagi menjadi empat tingkatan: Tujuan tertinggi, yaitu tercapainya derajat insan kamil atau manusia Tujuan umum, yakni proses aktualisasi diri sebagai pribadi Muslim yang utuh Tujuan khusus, yaitu pembinaan sesuai dengan perkembangan spiritual dan akhlak peserta didik Tujuan sementara, yaitu sasaran yang dicapai setelah peserta didik memperoleh pengalaman belajar dalam kurikulum formal. Dengan Islam pembentukan kepribadian Islami yang berlandaskan ketakwaan, sehingga melahirkan sosok insan kamil yang memiliki kepribadian mukmin, muslim, dan muhsin. Filsafat pendidikan Islam berorientasi pada pembentukan alInsan al-Kamil, yaitu manusia yang mencapai kesempurnaan dalam segala aspek kehidupan. Manusia yang sempurna ini diharapkan menjadi teladan bagi orang lain dalam perilaku, pemikiran, dan tindakan sehari-hari. Filsafat pendidikan juga berperan sebagai pendorong agar manusia senantiasa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dalam perspektif Islam. Nabi Muhammad SAW merupakan contoh nyata Insan Kamil, karena kehidupan beliau mencerminkan kesempurnaan akhlak dan kepribadian yang sesuai dengan tuntunan al-QurAoan. Oleh karena itu, teladan Nabi menjadi dasar dan arah dalam proses pendidikan Islam. Selain itu, evaluasi pendidikan memiliki fungsi penting dalam upaya mewujudkan manusia yang sempurna 158 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. tersebut, karena melalui evaluasi dapat diketahui sejauh mana peserta didik berkembang dalam aspek pengetahuan, akhlak, dan moral. Dengan demikian, evaluasi menjadi bagian integral dalam mencapai tujuan utama pendidikan Islam, yaitu membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan berkepribadian Insan Kamil. (Indana and Munardji 2. Dengan demikian, evaluasi pendidikan menuju Insan Kamil dalam perspektif filsafat ilmu merupakan proses yang bersifat menyeluruh dan Proses ini tidak hanya menilai pencapaian akademik semata, tetapi juga mencakup perkembangan spiritual, moral, intelektual, dan sosial individu. Evaluasi berfungsi sebagai sarana refleksi dan perbaikan diri secara berkelanjutan dalam upaya mencapai kesempurnaan manusia Dalam konteks ini, evaluasi pendidikan yang ideal harus mengintegrasikan pendekatan yang kritis, sistematis, logis, reflektif, mendalam, dan spekulatif, serta berpijak pada nilai-nilai Islam sebagai landasan etis dan spiritual. Dengan cara tersebut, pendidikan dapat menjalankan perannya secara optimal dalam membentuk pribadi Insan Kamil Ai manusia paripurna yang berilmu, berakhlak, dan bertakwa sesuai dengan cita cita filsafat pendidikan Islam. (Maskur 2. Hubungan antara Insan Kamil dan tujuan pendidikan sangat erat, karena keduanya memiliki orientasi yang sama, yaitu membentuk manusia yang sempurna secara lahir dan batin. Dalam pandangan Islam. Insan Kamil merupakan manusia ideal yang memiliki keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, moral, dan sosial. Sementara itu, tujuan utama pendidikan Islam adalah membantu peserta didik mencapai kesempurnaan tersebut melalui proses pembinaan iman, ilmu, dan amal. Pendidikan Islam pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan karakter yang mulia agar manusia mampu mengaktualisasikan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupannya. Dengan demikian. Insan Kamil merupakan hasil akhir dari pelaksanaan tujuan pendidikan Islam yang berhasil. Artinya, semakin baik sistem dan proses pendidikan dijalankan Ai meliputi 159 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 Tujuan Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat Upaya Membangun Manusia Paripurna | Yuliana Siregar. Siti Apriani Hasibuan pengajaran, pembinaan moral, serta penanaman nilai-nilai keislaman Ai semakin besar pula peluang terciptanya manusia yang berkepribadian Insan Kamil. Dengan kata lain. Insan Kamil adalah cerminan dari keberhasilan pendidikan Islam dalam melahirkan individu yang beriman, berilmu, beramal saleh, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama sesuai dengan kehendak Allah SWT . (Roni 2. Manusia dalam pandangan Islam merupakan makhluk yang diciptakan dengan potensi kebaikan dan keburukan. Al-QurAoan telah memberikan gambaran yang jelas mengenai hakikat tersebut. Dalam perkembangan, hingga mencapai derajat tertinggi yang dapat disebut sebagai manusia paripurna atau manusia seutuhnya. Meskipun istilah manusia paripurna jarang dipahami secara mendalam, konsep ini menggambarkan manusia yang mampu menyempurnakan seluruh unsur yang dimilikinya, baik jasmani maupun rohani. (Sumanta and Ag 2. Manusia paripurna adalah sosok yang dapat mengaktualisasikan dirinya secara utuh dalam kehidupan material dan spiritual, sehingga mencapai kebahagiaan yang sejati. Setiap unsur kehidupan manusia saling berhubungan dengan dimensi religius yang menjadi sumber nilai-nilai luhur dan suci. Kehidupan manusia juga mencakup aspek kejiwaan atau psikologis yang terus berkembang sejak lahir melalui interaksi dinamis dengan lingkungan sosialnya. Dengan demikian, manusia seutuhnya terbentuk dari tiga komponen utama, yaitu nafs . yang dipengaruhi oleh usia, pengalaman, pendidikan, dan lingkungan sosial. akal dan hati, yang menentukan cara seseorang memahami dan merespons tindakan. serta ruh, yang menjadi Ketiga unsur tersebut saling melengkapi dalam membentuk (Hardiansyah 2. 160 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 3 No. 1 Februari 2026 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. KESIMPULAN Berdasarkan pendidikan Islam dalam perspektif filsafat bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh . nsan kami. , yang mengintegrasikan dimensi jasmani, akal, dan rohani. Filsafat pendidikan Islam memberikan landasan konseptual yang mendalam untuk memahami hakikat manusia, nilai, dan tujuan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas. Konsep manusia paripurna menekankan keseimbangan antara intelektual, moral, dan spiritual, sehingga individu mampu mengaktualisasikan potensi dirinya secara menyeluruh dan hidup sesuai dengan misi penciptaannya sebagai hamba dan khalifah Allah. Dalam konteks modern, prinsip-prinsip pendidikan Islam tetap relevan untuk membimbing manusia agar cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat, dengan selalu menjadikan nilai-nilai religius sebagai pedoman utama. Selain itu, upaya membangun manusia paripurna menuntut penerapan pendidikan yang holistik, yaitu menyatukan aspek teoritis dan praktis, intelektual dan spiritual, serta individu dan sosial. Melalui pendekatan yang sistematis dan berbasis nilai, pendidikan Islam tidak hanya menghasilkan manusia yang kompeten secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu menempatkan diri dalam kehidupan sosial, menjaga keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi, serta mencapai kebahagiaan sejati dalam Dengan demikian, pendidikan Islam menjadi instrumen strategis untuk mencetak generasi yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai individu, anggota masyarakat, dan hamba Allah. REFERENCE