Ganesha Civic Education Journal Volume 8. Number 1. April 2026, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index KONTRIBUSI PENDIDIKAN PANCASILA TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA KELAS XII SMA MUHAMMADIYAH 2 SINGARAJA Gayuh Estu Laksono 1 * . I Wayan Lasmawan 2 Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 25 Februari 2026 Accepted 8 April 2026 Available online 16 April 2026 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penanaman nilainilai karakter religius melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila pada siswa kelas XII SMA Muhammadiyah 2 Singaraja, mengidentifikasi faktorfaktor penghambat, serta mengetahui upaya yang dilakukan untuk Kata Kunci: mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Pendidikan Pancasila. Karakter deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian meliputi Siswa. Religius guru Pendidikan Pancasila dan siswa kelas XII yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Keywords: Pancasila Education. Student wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi Character. Religious data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta triangulasi untuk menjamin validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman nilai religius dilakukan secara interaktif dan kontekstual melalui diskusi, studi kasus, pembiasaan doa, refleksi, serta keteladanan Nilai yang ditanamkan meliputi keimanan, kejujuran, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Hambatan yang dihadapi antara lain perbedaan latar belakang siswa, kurangnya minat belajar, keterbatasan waktu, serta pengaruh lingkungan dan media sosial. Upaya yang dilakukan meliputi penggunaan metode pembelajaran yang variatif, penguatan keteladanan, pembinaan berkelanjutan, serta kerja sama antara sekolah dan orang tua. ABSTRACT This study aims to describe the process of instilling religious character values through Pancasila Education in twelfth-grade students of SMA Muhammadiyah 2 Singaraja, to identify the inhibiting factors, and to determine the efforts made to overcome these obstacles. This study uses a descriptive qualitative approach with a case study method. The research subjects consist of the Pancasila Education teacher and twelfthgrade students selected through purposive sampling. Data are collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. Triangulation is applied to ensure the validity of the findings. The results show that the instillation of religious values is carried out interactively and contextually through discussions, case studies, prayer habituation, reflection activities, and teacher role modeling. The values instilled include faith, honesty, tolerance, responsibility, and social awareness. The inhibiting factors include differences in studentsAo backgrounds, lack of learning interest, limited instructional time, and the influence of the environment and social media. The efforts made include the use of varied teaching methods, strengthening teacher role modeling, continuous character guidance, and collaboration between the school and parents. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: gayuh@student. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Pendahuluan Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berlandaskan nilai moral serta Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, tujuan tersebut ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Sejalan dengan itu. Akbar dan Rahman . menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral yang melanda generasi muda. Salah satu dimensi penting dalam pendidikan karakter adalah karakter religius. Karakter religius tidak sekadar dimaknai sebagai kepatuhan dalam menjalankan ibadah, tetapi juga sebagai sikap hidup yang mencerminkan nilai kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kepedulian sosial. Sutanto . menjelaskan bahwa karakter religius merupakan integrasi antara dimensi spiritual dan moral yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Fauziah . menambahkan bahwa dalam konteks masyarakat multikultural, karakter religius berperan sebagai landasan etis untuk membangun sikap saling menghargai dan hidup berdampingan secara harmonis. Oleh karena itu, pembentukan karakter religius di sekolah menjadi bagian integral dari proses pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran formal. Dalam kerangka teoretis, pembentukan karakter religius melalui pembelajaran dapat dijelaskan melalui teori konstruktivisme. Hidayat . menyatakan bahwa pendekatan konstruktivisme memandang peserta didik sebagai subjek aktif yang membangun sendiri pemahamannya melalui pengalaman belajar yang bermakna. Nilai-nilai tidak cukup ditransfer secara verbal, melainkan perlu dikonstruksi melalui interaksi sosial, refleksi, dan pengalaman Putra . menegaskan bahwa interaksi sosial dalam pembelajaran berperan penting dalam membantu peserta didik memahami dan menginternalisasi nilai. Dengan demikian, dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, siswa perlu dilibatkan dalam diskusi, studi kasus, dan refleksi agar nilai religius tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati secara afektif dan diwujudkan dalam tindakan. Pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib memiliki posisi strategis dalam pembentukan karakter religius peserta didik. Hal ini karena nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila menjadi dasar moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Arifin . menjelaskan bahwa Pendidikan Pancasila berfungsi sebagai wahana internalisasi nilai kebangsaan sekaligus nilai moral dan spiritual. Wijaya . menambahkan bahwa di era digital. Pendidikan Pancasila harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif agar tetap relevan bagi generasi muda. Sementara itu. Haykal . menegaskan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila tidak boleh berhenti pada tataran normatif, tetapi harus menyentuh dimensi praktik kehidupan siswa sehari-hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran kontekstual dan partisipatif dapat meningkatkan efektivitas penanaman nilai karakter. Nugroho dan Lestari . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis diskusi nilai, refleksi, dan studi kasus sosial mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis sekaligus mengembangkan kesadaran moral. Namun demikian, implementasi pendidikan karakter tidak terlepas dari berbagai hambatan. Kusuma . mengidentifikasi adanya faktor internal seperti rendahnya motivasi belajar dan perbedaan latar belakang siswa, serta faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan dan media Prabowo . juga menyoroti bahwa paparan media digital yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perilaku remaja dan melemahkan nilai moral yang telah ditanamkan di sekolah. Oleh sebab itu, pendidikan karakter religius memerlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Fathoni, 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa Pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam menanamkan karakter religius peserta didik melalui pendekatan pembelajaran yang aktif, reflektif, dan kontekstual. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal memiliki tanggung jawab strategis dalam mengintegrasikan nilai religius ke dalam proses pembelajaran secara sistematis GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. dan berkelanjutan. Dengan landasan teoretis konstruktivisme serta dukungan kebijakan pendidikan nasional, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana proses penanaman karakter religius melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila, faktor-faktor yang memengaruhi, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pembentukan karakter peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk mengkaji secara mendalam kontribusi Pendidikan Pancasila terhadap pembentukan karakter religius siswa kelas XII di SMA Muhammadiyah 2 Singaraja. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemahaman makna, proses, serta dinamika sosial yang terjadi secara alami dalam konteks pembelajaran di kelas. Creswell . menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan mengeksplorasi dan memahami makna yang dikonstruksi individu atau kelompok terhadap suatu permasalahan sosial atau kemanusiaan. Dengan demikian, pendekatan ini relevan untuk menggali secara komprehensif bagaimana nilai-nilai religius diinternalisasikan melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila. Jenis penelitian studi kasus digunakan karena penelitian ini memusatkan perhatian pada satu kasus tertentu secara intensif dan mendalam, yaitu praktik pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam konteks sekolah berbasis keagamaan. Yin . menjelaskan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian yang tepat ketika peneliti ingin memahami fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika batas antara fenomena dan konteks tidak tampak secara jelas. Dalam penelitian ini, fenomena yang dikaji adalah proses pembentukan karakter religius, sedangkan konteksnya adalah lingkungan sekolah yang memiliki budaya religius yang kuat. Subjek penelitian terdiri atas guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan siswa kelas XII. Penentuan subjek dilakukan melalui teknik purposive sampling, yaitu teknik pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Menurut Sugiyono . , purposive sampling dalam penelitian kualitatif bertujuan memperoleh informan yang benar-benar memahami dan terlibat langsung dalam fenomena yang diteliti. Guru dipilih karena memiliki peran sentral dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai karakter, sedangkan siswa dipilih karena menjadi subjek utama dalam proses internalisasi nilai religius. Lokasi penelitian berada di SMA Muhammadiyah 2 Singaraja yang berlokasi di Kabupaten Buleleng. Bali. Pemilihan lokasi didasarkan pada karakteristik sekolah yang menekankan nilai-nilai religius dalam budaya sekolah dan proses pembelajaran. Lingkungan yang religius memberikan konteks yang kaya untuk mengkaji integrasi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam praktik Pendidikan Pancasila. Dengan demikian, lokasi ini dipandang representatif untuk memahami kontribusi pendidikan formal terhadap pembentukan karakter religius peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur guna memperoleh informasi terkait pengalaman, persepsi, dan strategi pembelajaran yang diterapkan guru dalam menanamkan nilai Kvale . menyatakan bahwa wawancara kualitatif bertujuan memahami dunia kehidupan subjek dari sudut pandang mereka sendiri, sehingga memungkinkan peneliti memperoleh data yang kaya dan mendalam. Observasi dilakukan secara langsung di kelas untuk mengamati interaksi guru dan siswa serta implementasi nilai religius dalam kegiatan Angrosino . menegaskan bahwa observasi membantu peneliti memahami perilaku dan konteks sosial yang tidak selalu terungkap melalui wawancara. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk melengkapi data melalui analisis perangkat pembelajaran, silabus, serta dokumen kebijakan sekolah. Bowen . menyebutkan bahwa analisis dokumen dalam penelitian kualitatif berfungsi memperkuat dan memvalidasi temuan dari sumber data lainnya. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan mengikuti model Miles. Huberman, dan Saldaya . yang meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan memilih dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif untuk memudahkan Gayuh Estu Laksono . / Kontribusi Pendidikan Pancasila Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Kelas Xii Sma Muhammadiyah 2 Singaraja Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. pemahaman terhadap pola dan hubungan antar kategori. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan secara berkelanjutan melalui proses verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, yaitu membandingkan data dari berbagai sumber dan metode. Denzin . menjelaskan bahwa triangulasi bertujuan meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap hasil penelitian dengan memeriksa konsistensi informasi dari berbagai perspektif. Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi serta mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai kontribusi Pendidikan Pancasila terhadap pembentukan karakter religius siswa. Adapun dokumentasi wawancara dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar Gambar 1. Wawancara SMA Muhammadiyah 2 Singaraja. Hasil dan pembahasan Proses penanaman nilai karakter religius dalam kerangka mata pelajaran Pendidikan Pancasila merupakan sebuah orkestrasi pedagogis yang kompleks dan berdimensi ganda. Proses ini tidak beroperasi pada ruang hampa, melainkan diimplementasikan melalui pendekatan yang integratif, kontekstual, dan sangat partisipatif. Pendidikan karakter pada esensinya adalah instrumen transformasi nilai-nilai filosofis, khususnya Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, untuk diwujudkan menjadi perilaku nyata yang terinternalisasi secara utuh dalam wilayah kognisi, afeksi, dan psikomotorik peserta didik. Proses Penanaman Nilai Karakter Religius Landasan Teoretis: Sintesis Konstruktivisme dan Pembelajaran Kontekstual Dalam menelaah kerangka teoretis mengenai pembentukan karakter religius melalui proses pembelajaran di ruang kelas, pendekatan konstruktivisme memberikan fondasi penjelasan yang sangat relevan dan solid. Paradigma konstruktivisme secara fundamental memandang peserta didik bukan sebagai bejana kosong yang pasif, melainkan sebagai subjek aktif yang secara mandiri membangun dan menstrukturkan pemahamannya sendiri melalui rentetan pengalaman belajar yang bermakna Hidayat . Penanaman nilai-nilai moral dan religiusitas terbukti tidak akan pernah cukup apabila hanya ditransfer secara verbal atau didiktekan melalui metode ceramah satu arah. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut perlu dikonstruksi secara dialektis melalui interaksi sosial, proses refleksi internal, dan persinggungan dengan pengalaman hidup yang Interaksi sosial di dalam ekosistem pembelajaran berperan sangat esensial dalam memfasilitasi dan membantu peserta didik untuk memahami, mencerna, dan pada akhirnya menginternalisasi sebuah nilai menjadi prinsip personal Putra . Pendidikan Pancasila, sebagai mata pelajaran wajib di seluruh jenjang pendidikan, memiliki posisi yang sangat strategis dalam ekosistem ini. Mata pelajaran ini secara inheren berfungsi sebagai wahana utama internalisasi nilai-nilai kebangsaan, yang secara bersamaan merupakan pembawa nilai-nilai moral dan spiritual bagi peserta didik Arifin . Lebih jauh lagi, agar substansi pembelajaran ini tidak tertinggal oleh dinamika zaman, terutama di era digital yang bergerak dengan kecepatan GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Pendidikan Pancasila dituntut untuk mampu beradaptasi secara lincah melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif agar esensinya tetap relevan bagi cara berpikir generasi muda Wijaya . Pembelajaran Pendidikan Pancasila tidak boleh terjebak dan berhenti pada tataran normatif-teoretis semata, melainkan harus turun secara tajam menyentuh dimensi praktik kehidupan siswa sehari-hari Haykal . Berdasarkan eksplorasi makna yang dikonstruksi oleh subjek penelitian dalam berbagai studi kualitatif mutakhir yang ditujukan untuk memahami fenomena kemanusiaan dan pendidikan Creswell . , terungkap bahwa integrasi nilai-nilai religius ke dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. secara holistik telah memicu transformasi paradigma. Terjadi pergeseran mendasar dari sekadar knowledge-based learning . embelajaran berbasis akumulasi pengetahua. menjadi value-based learning . embelajaran berbasis nila. , di mana pengembangan kapasitas intelektual peserta didik berjalan secara ekuilibrium dengan pembentukan karakter dan kesadaran etis kewarganegaraan (Rukiyanto. Guru Pendidikan Pancasila menginternalisasikan nilai-nilai religius dengan cara yang sangat elaboratif. mereka tidak hanya sekadar mendiktekan definisi Ketuhanan, tetapi secara aktif mengaitkan substansi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa pada berbagai ragam permasalahan kontekstual di tengah masyarakat, sehingga peserta didik dapat mencerna esensi keimanan, sikap toleransi, dan rasa kepedulian sosial dalam bentuk aplikatif. Habituasi Sistematis dan Modifikasi Perilaku Melalui Pendekatan Behavioristik Apabila konstruktivisme bermain pada ranah pemaknaan kognitif dan interaksi, maka proses penanaman nilai yang paling nyata pada tataran praksis dan operasional sehari-hari dilakukan melalui strategi pembiasaan atau habituasi. Konsep fundamental dalam pendidikan karakter menegaskan bahwa karakter yang baik tidak cukup hanya diajarkan di depan kelas, tetapi menuntut untuk dilatih secara disiplin dan dibiasakan melalui tindakan nyata yang berulang-ulang, sehingga pada akhirnya mengkristal dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari struktur kepribadian individu Lickona . Temuan dari berbagai riset lapangan terkini secara konsisten mengafirmasi bahwa strategi pembiasaan yang dikelola secara rutin dan terstrukturseperti penerapan budaya 4S (Senyum. Sapa. Salam. Sali. , pembiasaan komunikasi yang santun dengan penggunaan kata tolong, maaf, dan terima kasih, hingga rutinitas pembacaan doa sebelum dan sesudah kegiatan akademikmerupakan instrumen yang memiliki tingkat efektivitas sangat tinggi dalam mentransmisikan nilai-nilai religius menjadi refleks moral seharihari (Prasongko dkk. , 2. Secara psikologis, arsitektur dari keberhasilan habituasi ini sangat sejalan dengan postulat dalam teori belajar behavioristik, secara spesifik dalil yang dikemukakan oleh Clark Hull. Teori tersebut menegaskan bahwa sebuah perilaku dapat terbentuk dan menetap melalui mekanisme hubungan antara stimulus dan respons yang secara terus-menerus diperkuat . melalui proses pengulangan . hingga mencapai titik ekuilibrium di mana perilaku tersebut bermutasi menjadi sebuah kebiasaan otomatis atau habit (Yozaga dkk. , 2. Dalam implementasinya pada ruang lingkup pendidikan nilai keagamaan dan Pancasila di sekolah, penguatan . ini dapat berupa pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan kolektif. Kegiatan yang dirancang untuk dilakukan secara persisten dan konsistenseperti rutinitas shalat Dhuha berjamaah, pelaksanaan shalat Dzuhur berjamaah, program tahfidz atau literasi spiritual melalui pembacaan Asmaul Husna, kultum pagi (Majelis Pag. , serta peringatan hari-hari besar Islamterbukti mampu menciptakan sebuah ekosistem moral dan spiritual yang terus-menerus memberikan pasokan stimulus positif kepada alam bawah sadar siswa (Prasongko dkk. , 2. Sebagai bentuk triangulasi informasi, pengamatan langsung yang secara intensif dilakukan untuk memahami pola perilaku serta dinamika konteks sosial aslinyayang sering kali luput dari radar jika hanya mengandalkan wawancara semata Angrosino . menegaskan bahwa aktivitas rutin tersebut secara perlahan menanamkan indikator-indikator religiusitas dasar. Siswa secara bertahap mulai memperlihatkan tingkat kepatuhan kepada Tuhan yang lebih konsisten, rasa tanggung jawab yang meningkat, keikhlasan dalam beramal, serta kedisiplinan dan apresiasi yang tulus terhadap eksistensi orang lain (Husnussyifa dkk. , 2. Lebih jauh lagi, integrasi nilai dari kegiatan di sekolah ini tidak berhenti pada pagar institusi akademik. Proses pembiasaan ini memancarkan efek berantai, di mana perilaku normatif tersebut lambat laun Gayuh Estu Laksono . / Kontribusi Pendidikan Pancasila Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Kelas Xii Sma Muhammadiyah 2 Singaraja Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. terbawa dan dipraktikkan oleh siswa di ranah privat, khususnya di lingkungan rumah, melalui pembentukan rutinitas etika, kepatuhan berdoa, dan kesantunan dalam interaksi dengan seluruh anggota keluarga (Teani dkk. , 2. Keteladanan Pendidik (Moral Exempla. sebagai Katalisator Utama Pilar berikutnya yang tidak kalah krusial selain strategi pembiasaan adalah elemen keteladanan pendidik. Di dalam arena pendidikan karakter, eksistensi keteladanan guru bertindak sebagai elemen sentral yang menggerakkan seluruh mekanisme internalisasi nilai. Guru mengemban fungsi yang tidak tergantikan sebagai model moral . oral exempla. , figur otoritas yang secara konsisten dituntut untuk memanifestasikan serta memperlihatkan sikap religius secara kasat mata dalam seluruh spektrum interaksi kesehariannya di sekolah. ] Secara sosiologis dan psikologis, keteladanan ini berfungsi menciptakan iklim pembelajaran sosial yang sangat kuat. Dalam ruang lingkup ini, siswa memproses dan menyerap norma-norma kehidupan tidak semata-mata melalui instruksi atau hafalan doktrin-doktrin verbal, melainkan secara aktif melalui tahapan observasi dan imitasi perilaku figur-figur yang mereka hormati secara struktural. Berbagai kajian serta publikasi keilmuan dalam rentang lima tahun terakhir secara tajam menyoroti realitas empiris bahwa: seluruh desain strategi pendidikan karakter tidak akan pernah mampu menembus tahap afektif yang mendalam dan permanen tanpa kehadiran sosok role model yang riil dan dapat diakses secara langsung oleh siswa (Iki, 2. Sebagai agen sosialisasi utama. Guru Pendidikan Pancasila khususnya, memikul tanggung jawab etis dan profetik untuk tidak sekadar mentransfer pengetahuan akademik mengenai betapa pentingnya bersikap toleran, berlaku jujur, dan menegakkan keadilan sebagai konsepsi berbangsa dan bernegara. Lebih dari itu, mereka diwajibkan untuk merepresentasikan dan memanifestasikan ideologi abstrak tersebut secara praksis (Puspitasari & Harmanto, 2. Observasi empiris terhadap relasi pedagogis menunjukkan dengan jelas bahwa interaksiinteraksi mikro antara guru dan siswamulai dari cara guru mengartikulasikan teguran, kesantunan bertutur kata, transparansi dan keadilan dalam memberikan penilaian . ilai akademi. , hingga konsistensi sikap kedisiplinan guru dalam memenuhi kewajiban beribadah saat jam istirahatsecara diam-diam dan terus-menerus diobservasi, direkam, dan dikalibrasi oleh Aspek-aspek mikroskopis inilah yang sejatinya dijadikan tolok ukur kebenaran moral oleh peserta didik. Oleh karena itu, keteladanan menjelma menjadi fundamen dari validitas pembelajaran nilai itu sendiri. Ketika peserta didik mampu menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri adanya harmoni dan ketersambungan yang presisi antara teori-teori luhur Pancasila yang diidealkan di dalam kelas dengan tindakan religius, etik, dan moral guru di lapangan, maka level kepercayaan . dan inklinasi siswa untuk mengimitasi nilai-nilai kebaikan tersebut akan mengalami eskalasi secara eksponensial (Iki, 2. Diskusi Reflektif. Studi Kasus (Case Metho. , dan Internalisasi Pemahaman Spiritual Tahapan selanjutnya yang bersifat krusial dan mendalam dalam proses penanaman karakter religius adalah orkestrasi pelibatan fungsi kognitif tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill. dari peserta didik. Integrasi nilai tidak berhenti pada tahap hafalan dan kepatuhan buta. Melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila, siswa secara strategis dilibatkan ke dalam arsitektur pembelajaran yang berbasis pada diskusi nilai, refleksi diri berkelanjutan, serta pendekatan studi kasus atas fenomena sosial yang mengitari kehidupan mereka. Strategi pembelajaran kontekstual dan partisipatif semacam ini terbukti secara empiris mampu menstimulasi dan mendorong siswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis sekaligus mengembangkan kesadaran moral yang otonom Nugroho dan Lestari . Penerapan metode seperti analisis kasus . ase metho. di dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan terbukti memberikan impak yang luar biasa efektif (Bella dkk. , 2. Peserta didik secara kolaboratif diajak untuk menganalisis berbagai problematika sosial riil yang menggejala di masyarakat, seperti persoalan degradasi moral generasi muda, merebaknya fenomena intoleransi antar-golongan, skandal korupsi birokrasi, kenakalan remaja, maupun praktik ketidakjujuran akademik di lingkungan sekolah. Melalui case method, permasalahanpermasalahan tersebut dibedah secara komprehensif dengan menggunakan pisau analisis yang GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. bersumber langsung dari nilai-nilai filosofis Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan (Bella , 2. Faktor-Faktor Penghambat Penelitian ini menemukan sejumlah faktor penghambat yang memengaruhi efektivitas internalisasi nilai karakter religius pada siswa. Hambatan tersebut bersifat multidimensional, meliputi aspek internal peserta didik maupun faktor eksternal yang berada di luar kendali langsung sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang lebih luas, karena pembentukan sikap dan perilaku siswa merupakan hasil interaksi kompleks antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pertama, perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan tingkat religiusitas siswa menjadi faktor yang signifikan dalam menentukan kesiapan mereka menerima dan menghayati nilai religius. Setiap siswa tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki pola asuh, tradisi keagamaan, dan praktik moral yang berbeda-beda. Ada siswa yang sejak kecil terbiasa dengan pembiasaan ibadah dan nilai spiritual yang kuat, namun ada pula yang kurang mendapatkan penguatan nilai religius di lingkungan rumah. Variasi ini berdampak pada tingkat kesadaran, pemahaman, serta kemauan siswa dalam menginternalisasikan nilai yang disampaikan melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila. Perbedaan tersebut juga memengaruhi cara siswa memaknai konsep religiusitas, apakah hanya sebatas pemahaman kognitif atau telah sampai pada tahap penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, heterogenitas latar belakang siswa menuntut guru untuk menerapkan pendekatan yang lebih diferensiatif dan adaptif agar nilai yang ditanamkan dapat diterima secara lebih merata. Selain itu, pengaruh lingkungan eksternal, khususnya media sosial dan teknologi digital, menjadi tantangan yang semakin kompleks di era modern. Remaja saat ini hidup dalam arus informasi yang sangat cepat dan terbuka, di mana berbagai nilai, gaya hidup, dan pandangan moral dapat diakses tanpa batas. Paparan konten yang tidak terfilter berpotensi membentuk pola pikir dan perilaku yang bertentangan dengan nilai religius yang diajarkan di sekolah. Prabowo . menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa dampak ambivalen terhadap pembentukan moral remaja. di satu sisi membuka peluang pembelajaran yang luas, namun di sisi lain dapat melemahkan kontrol diri apabila tidak disertai pendampingan dan literasi digital yang memadai. Dalam konteks ini, nilai religius yang ditanamkan melalui pembelajaran sering kali berhadapan dengan realitas sosial yang menawarkan nilai-nilai instan, pragmatis, bahkan permisif. Ketika siswa tidak memiliki fondasi moral yang kuat, mereka cenderung mengalami kebingungan nilai . alue confusio. yang dapat menghambat proses internalisasi karakter religius secara konsisten. Selanjutnya, keterbatasan waktu pembelajaran Pendidikan Pancasila juga menjadi hambatan struktural yang cukup signifikan. Alokasi jam pelajaran yang terbatas mengharuskan guru membagi perhatian antara pencapaian target kurikulum dan proses pendalaman nilai karakter. Padahal, pendidikan karakter pada hakikatnya bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembiasaan dan internalisasi yang memerlukan pengulangan, keteladanan, serta refleksi berkelanjutan. Fathoni . menegaskan bahwa pembentukan karakter merupakan proses jangka panjang yang menuntut integrasi nilai dalam seluruh aktivitas pendidikan, bukan hanya dalam satu mata pelajaran tertentu. Artinya, apabila penanaman nilai religius hanya dibebankan pada Pendidikan Pancasila tanpa dukungan lintas mata pelajaran dan budaya sekolah secara menyeluruh, maka hasilnya cenderung kurang optimal. Hal ini mengindikasikan perlunya pendekatan holistik yang melibatkan seluruh unsur sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada karakter. Rendahnya minat sebagian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila turut memengaruhi efektivitas internalisasi Persepsi bahwa mata pelajaran ini bersifat teoritis dan normatif dapat menurunkan motivasi belajar siswa, sehingga mereka kurang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Ketika motivasi intrinsik rendah, proses refleksi dan penghayatan nilai menjadi kurang mendalam. Faktor psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, relevansi materi dengan kehidupan nyata, serta metode pembelajaran yang kurang variatif juga berkontribusi terhadap rendahnya keterlibatan siswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya ditentukan oleh substansi nilai yang diajarkan, tetapi juga oleh strategi pedagogis yang mampu membangkitkan kesadaran dan partisipasi aktif peserta didik. Gayuh Estu Laksono . / Kontribusi Pendidikan Pancasila Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Kelas Xii Sma Muhammadiyah 2 Singaraja Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Secara keseluruhan, berbagai hambatan tersebut menegaskan bahwa internalisasi nilai karakter religius merupakan proses yang kompleks dan memerlukan pendekatan multidimensi. Perbedaan latar belakang siswa, pengaruh lingkungan digital, keterbatasan waktu pembelajaran, serta faktor motivasional menjadi tantangan yang harus direspons melalui strategi pendidikan yang inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi sangat penting agar nilai religius yang ditanamkan tidak hanya berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar terimplementasi dalam sikap dan perilaku siswa secara konsisten. Upaya Mengatasi Hambatan Dalam menghadapi berbagai hambatan tersebut, guru dan pihak sekolah melakukan sejumlah upaya strategis. Pertama, penguatan keteladanan dan pembinaan karakter secara Guru secara konsisten menunjukkan sikap religius dalam interaksi sehari-hari, sehingga nilai yang diajarkan tidak bersifat normatif semata, tetapi terlihat nyata dalam perilaku. Keteladanan ini menjadi bentuk pendidikan moral yang paling efektif karena siswa belajar melalui pengalaman langsung. Kedua, penerapan metode pembelajaran yang lebih variatif dan partisipatif untuk meningkatkan minat siswa. Diskusi kelompok, presentasi, dan analisis kasus nyata digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang aktif dan relevan dengan kehidupan siswa. Strategi ini bertujuan meningkatkan keterlibatan emosional dan intelektual siswa dalam memahami nilai religius. Kemudian, peningkatan komunikasi antara guru dan siswa untuk membangun hubungan yang lebih personal dan suportif. Hubungan yang positif antara guru dan siswa dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif bagi pembentukan karakter. Ketika siswa merasa dihargai dan didengar, mereka lebih terbuka dalam menerima dan merefleksikan nilai yang diajarkan. Keempat, penguatan kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Penanaman karakter religius tidak dapat dilakukan secara parsial di sekolah saja, tetapi memerlukan dukungan dari lingkungan keluarga. Fathoni . menekankan bahwa sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi faktor kunci dalam membentuk karakter yang konsisten dan berkelanjutan. Kelima, penyelenggaraan kegiatan keagamaan dan pembinaan karakter sebagai bagian dari budaya sekolah. Kegiatan ini memperkuat suasana religius dan memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan nilai secara kolektif. Dengan pendekatan holistik ini, pendidikan karakter religius tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupkan dalam budaya sekolah sehari-hari. Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa Pendidikan Pancasila memiliki kontribusi yang signifikan dalam pembentukan karakter religius siswa melalui proses integratif yang melibatkan pembiasaan, keteladanan, refleksi, dan pembelajaran kontekstual. Meskipun terdapat hambatan yang bersifat internal maupun eksternal, upaya yang dilakukan secara sistematis dan kolaboratif mampu memperkuat internalisasi nilai religius. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada konsistensi strategi pembelajaran, komitmen pendidik, serta dukungan lingkungan sekolah dan keluarga secara menyeluruh. Simpulan dan saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penanaman nilai-nilai karakter religius melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila pada siswa kelas XII di SMA Muhammadiyah 2 Singaraja, dapat disimpulkan bahwa proses internalisasi nilai religius telah dilaksanakan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran, baik melalui aspek kognitif, afektif, maupun perilaku. Guru tidak hanya menyampaikan materi Pendidikan Pancasila secara konseptual, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai-nilai keagamaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Nilai-nilai seperti keimanan, kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, dan kepedulian sosial diinternalisasikan melalui pembiasaan doa sebelum pembelajaran, pemberian contoh konkret dalam kehidupan bermasyarakat, diskusi kasus-kasus sosial yang dikaitkan dengan nilai moral dan agama, serta refleksi di akhir pembelajaran. Dengan demikian. Pendidikan Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai mata pelajaran normatif, tetapi juga sebagai wahana strategis dalam membentuk karakter religius siswa secara sistematis dan berkelanjutan. Namun demikian, proses penanaman nilai karakter religius tersebut tidak terlepas dari berbagai hambatan. Perbedaan latar belakang keluarga, tingkat pemahaman keagamaan, serta kesadaran religius siswa menjadi GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. faktor internal yang memengaruhi keberhasilan internalisasi nilai. Selain itu, faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi digital, penggunaan media sosial yang kurang terkontrol, serta keterbatasan waktu pembelajaran juga menjadi tantangan Rendahnya minat sebagian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila turut berdampak pada kurang optimalnya proses pendalaman nilai secara komprehensif. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius bukanlah proses instan, melainkan memerlukan konsistensi, dukungan lingkungan, serta pendekatan pedagogis yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Sebagai respons terhadap berbagai hambatan tersebut, upaya yang dilakukan guru dan sekolah menunjukkan adanya komitmen dalam memperkuat pembinaan karakter religius. Guru berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran melalui metode yang lebih partisipatif dan kontekstual, seperti diskusi kelompok, studi kasus, presentasi, serta refleksi nilai. Keteladanan sikap religius dari guru menjadi faktor penting karena siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat secara langsung. Di sisi lain, sekolah juga berupaya membangun budaya religius melalui kegiatan keagamaan, pembinaan karakter yang berkelanjutan, serta peningkatan komunikasi dengan orang tua agar terjadi kesinambungan pendidikan karakter antara lingkungan sekolah dan keluarga. Sinergi ini menjadi kunci dalam memastikan bahwa nilai religius tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi benar-benar terimplementasi dalam perilaku sehari-hari siswa Berdasarkan keseluruhan temuan tersebut, dapat ditegaskan bahwa Pendidikan Pancasila memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter religius siswa apabila dilaksanakan secara konsisten, kontekstual, dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang kondusif. Oleh karena itu, guru diharapkan terus mengembangkan inovasi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan nilai religius secara lebih mendalam dan reflektif. Pihak sekolah perlu memperkuat budaya religius sebagai identitas institusi pendidikan, sementara orang tua diharapkan berperan aktif dalam mendampingi dan mengawasi perkembangan karakter anak, terutama dalam menghadapi tantangan era digital. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan penelitian dengan melibatkan lebih banyak satuan pendidikan atau menggunakan pendekatan metode campuran agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas Pendidikan Pancasila dalam membentuk karakter religius generasi muda. Dengan kolaborasi yang harmonis antara guru, sekolah, keluarga, dan masyarakat, pendidikan karakter religius diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berintegritas, berakhlak mulia, serta mampu mengimplementasikan nilainilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Daftar Rujukan Akbar. , & Rahman. Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah. Bandung: Remaja Rosdakarya. Angrosino. Naturalistic Observation. New York: Routledge. Arifin. Implementasi Pendidikan Pancasila dalam Pembentukan Moral Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bella. Nadeak. Rasuna. , & Simamora. Case Method Learning Method in Implementing Pancasila Values. Jurnal Nasional Holistic Science, 4. , 205Ae209. Bowen. Document Analysis as a Qualitative Research Method. Qualitative Research Journal, 9. , 27Ae40. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches . th ed. Thousand Oaks: Sage Publications. Denzin. The Research Act: A Theoretical Introduction to Sociological Methods. New York: Routledge. Fathoni. Pendidikan Karakter: Teori dan Praktik. Jakarta: Erlangga. Fauziah. AuKarakter Religius dalam Konteks Pendidikan Multikultural,Ay Jurnal Pendidikan Moral, 12. , 85Ae97. Haykal. Pendidikan Pancasila dan Pembangunan Karakter. Malang: UMM Press. Hidayat. AuPendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran Nilai,Ay Jurnal Pendidikan Inovatif, 8. , 45Ae59. Gayuh Estu Laksono . / Kontribusi Pendidikan Pancasila Terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Kelas Xii Sma Muhammadiyah 2 Singaraja Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Husnussyifa. Ngulwiyah. , & Hakim. Implementasi Program Majelis Pagi dalam Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik di Kelas i SDIT Tunas Cendekia Cilegon. IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research, 3. , 1100Ae1110. https://doi. org/https://doi. org/10. 57235/ijedr. Iki. Analisis Metode Keteladanan Guru Dalam Menanamkan Karakter Religius Pada Anak Usia Dini [Universitas Pendidikan Indonesi. https://repository. edu/128158/1/S_PGPAUD_2010091_Title. Kemdikbudristek RI. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Pemerintah Kusuma. AuHambatan Internal dan Eksternal dalam Pendidikan Karakter,Ay Jurnal Studi Pendidikan, 15. , 123Ae140. Kvale. InterViews: Learning the Craft of Qualitative Research Interviewing. Thousand Oaks: Sage Publications. Miles. Huberman. , & Saldaya. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Thousand Oaks: Sage Publications. Nugroho. , & Lestari. AuStrategi Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Pancasila,Ay Jurnal Pendidikan Pancasila, 5. , 77Ae91. Prabowo. Media Sosial dan Tantangan Pendidikan Moral Remaja. Surabaya: Unesa Press. Prasongko. Adli. , & Nursikin. Mukh. Penguatan Pendidikan Karakter Dengan Penanaman Nilai-Nilai Religius Pada Siswa Kelas Vi di SMP Negeri 2 Tuntang Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2019. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara, 4. , 1285Ae1291. https://doi. org/https://doi. org/10. 55338/jpkmn. Puspitasari. , & Harmanto. Strategi Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam Menerapkan Nilai Religius dan Toleransi di SMP Negeri 45 Surabaya. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7. , 13158Ae13164. https://doi. org/https://doi. org/10. 31004/jptam. Putra. AuPeran Interaksi Sosial dalam Konstruktivisme,Ay Jurnal Psikologi Pendidikan, 9. , 107Ae120. Rukiyanto. Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila: Strategi Membentuk Generasi Emas. Pubmedia Social Sciences Humanities, . , 1Ae9. https://doi. org/https://doi. org/10. 47134/pssh. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sutanto. AuKonsep Karakter Religius dalam Pendidikan Islam,Ay Jurnal Pendidikan Islam, 14. , 203Ae216. Teani. Julianti. Puspita. , & Ratnasari. Implementasi Pembelajaran Berbasis Karakter Dalam Membentuk Profil Pelajar Pancasila Di Sekolah Dasar. Jurnal Imiah Pendidikan Dasar, 6. , 1335Ae1346. http://jurnal. id/index. php/JIPDAS/article/view/4295 Wijaya. Pendidikan Pancasila di Era Digital. Jakarta: Grasindo. Yin. Case Study Research and Applications: Design and Methods. Thousand Oaks: Sage Publications. Yozaga. Adianingsih. Zahro. , & Fauziati. Pembentukan Karakter Religius Siswa SMA Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar Dalam Pandangan Behavioristik Clark Hull. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 4. , 1092Ae1100. https://doi. org/10. 31004/riggs. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304