Prosiding Seminar Nasional Peternakan. Kelautan, dan Perikanan I (Semnas PKP I) AuOptimalisasi Peran Sektor Peternakan. Kelautan, dan Perikanan dalam Mendukung Kemajuan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan Menyongsong Indonesia Emas 2045Ay Pengaruh Lama Penyimpanan terhadap Kadar Air. Abu dan Bahan Ektrak Tanpa Nitrogen (BETN) Wafer Pakan Ternak Berbasis Limbah Jagung (Effect of Storage Time on Moisture. Ash and Nitrogen Free Extracts (BETN) of Corn Waste-Based Animal Feed Wafer. Irmayanti*. Besse Mahbuba We Tenri Gading. Agni Ayudha Mahanani1. Jisril Palayukan Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Sulawesi Barat *Corresponding author: irmayanti@unsulbar. ABSTRACT Corn waste-based animal feed wafers with a storage period of up to 8 weeks are a presentation of animal feed with feed processing technology innovation that aims to improve the overall nutritional quality of corn plant waste as a source of fiber and energy source animal feed so that it is expected to increase the palatability of corn plant waste and ruminant productivity in meeting feed availability throughout the year. The purpose of this study was to evaluate the nutritional quality of animal feed wafers with different storage The study used a completely randomized design (CRD) consisting of five treatments and four The treatments were the length of storage of fodder wafers 0, 2, 4, 6, and 8 weeks. The variables observed were moisture content, ash content, and extract material without nitrogen. The results showed that animal feed wafers with different storage lengths had a significantly different effect (P<0. on moisture content, ash content and extract material without nitrogen. Based on the results of this study, it can be concluded that corn waste-based animal feed wafers can be stored for up to 8 weeks, based on moisture content, ash content and extract material without nitrogen. Keywords: Corn waste. Feed wafer. Storage duration ABSTRAK Wafer pakan ternak berbasis limbah jagung dengan lama penyimpanan hingga 8 minggu merupakan penyajian pakan ternak dengan inovasi teknologi pengolahan pakan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas nutrisi limbah tanaman jagung secara keseluruhan sebagai pakan ternak sumber serat dan sumber energi sehingga diharapkan dapat meningkatkan palatabilitas limbah tanaman jagung dan produktivitas ternak ruminansia dalam memenuhi ketersediaan pakan sepanjang tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kualitas nutrisi wafer pakan ternak dengan lama penyimpanan yang berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri lima perlakuan dan empat ulangan. Adapun perlakuan yaitu lama penyimpanan wafer pakan ternak 0, 2, 4, 6, dan 8 minggu. Variabel yang diamati yaitu kadar air, kadar abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan wafer pakan ternak dengan lama penyimpanan yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda nyata (P<0,. terhadap kadar air dan kadar abu dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa wafer pakan ternak berbasis limbah jagung dapat disimpan sampai 8 minggu, berdasarkan kadar air, kadar abu dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Kata Kunci: Lama penyimpanan. Limbah jagung. Wafer pakan. AProsiding Seminar Nasional PKP I 2024 e-ISSN: 3090-305X Irmayanti et al. | Seminar Nasional PKP I . : 33 Ae 37 Pendahuluan tanaman jagung terdiri dari biji-bijian dan 54% terdiri dari tangkai, sekam, daun, batang yang pada umumnya memiliki kandungan serat kasar yang tinggi dan protein kasar yang rendah . Selanjutnya, ketersediaan dan efisiensi dalam pembuatan pakan perlu Masalah yang muncul dalam penyediaan pakan yaitu daya simpan pakan, seberapa lama pakan yang telah dibuat dapat bertahan dengan kualitas nutrisi yang baik. Lama penyimpanan pakan berpengaruh terhadap sifat fisik dan kualitas nutrisi pakan yang telah dibuat. Teknologi pengolahan pakan sebagai upaya meningkatkan kualitas nutrisi limbah jagung dan menjamin pakan ruminansia dilakukan dengan pemberian pakan yang diformulasi dari beberapa bahan pakan yang berkualitas dalam bentuk wafer pakan ternak. Wafer pakan ternak merupakan inovasi dalam penyajian pakan ternak, berbentuk padat dengan kandungan nutrisi yang lengkap berbentuk kompak yang dibuat melalui proses pencacahan dan penggilingan, formulasi, pencampuran, pemanasan, penekanan dan pendinginan . Wafer pakan ternak diformulasikan dari beberapa bahan pakan sehingga memiliki kualitas nutrisi yang tinggi yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Adapun keunggulan dari wafer pakan ternak memiliki daya simpan yang lama, kandungan nutrisi yang tinggi, praktis dikonsumsi sehingga efesiensi waktu bagi peternak dalam menyediakan pakan. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas nutrisi meliputi kadar air, kadar abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) dengan lama penyimpanan berbeda pada wafer pakan ternak berbasis limbah limbah jagung. Ternak kambing di Sulawesi Barat adalah salah satu sumber daya peternakan yang potensial untuk dikembangkan dengan jumlah populasi mencapai 200. 998 ekor pada tahun 2022 . Produktivitas ternak kambing sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi pakan. Ketersediaan pakan berupa hijauan dan konsentrat yang berkualitas dengan jumlah yang mencukupi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak kambing. Pada pengembangan ternak kambing di Sulawesi Barat dalam hal pemberian pakan, peternak hanya memberikan dan mengandalkan hijauan leguminosa sebagai pakan utama dan tidak sedikit peternak memberikannya sebagai pakan tunggal untuk ternaknya. Selanjutnya ketersediaan hijauan yang berfluktuasi menyebabkan kualitas dan kuantitas pakan yang rendah dimusim kemarau mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas pada ternak kambing. Oleh karena itu diperlukan adanya supply nutrisi lengkap yang dapat meningkatkan produktivitas ternak dan menjamin ketersediaan pakan secara terus Pemanfaatan limbah sebagai pakan ternak sangat dibutuhkan untuk menjaga ketersediaan pakan diantaranya dengan memanfaatkan limbah pertanian. Sulawesi Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki sumber pangan lokal yang potensial. Salah satu sub sektor pertanian yang dominan diusahakan oleh masyarakat Sulawesi Barat adalah jagung dengan angka produksinya relatif stabil dan terus meningkat setiap tahunnya . Jagung menghasilkan limbah dengan jumlah besar meliputi batang, daun, tongkol, dan kulit buah jagung akan tetapi pemanfaatan limbah jagung belum maksimal dilakukan. Pemanfaatan limbah jagung di Sulawesi Barat sebagai pakan ternak ruminansia masih sangat terbatas. Limbah jagung yang mudah didapatkan dan tersedia dalam jumlah banyak dapat dijadikan sebagai pakan alternatif pengganti hijauan. Selain itu juga limbah jagung memiliki potensi sebagai sumber serat pakan, tetapi memiliki palatabilitas yang rendah sehingga perlu adanya upaya peningkatan kualitas limbah jagung sebagai pakan ruminansia . Palatabilitas yang rendah disebabkan oleh kualitas nutrisi yang rendah. Sekitar 46 % Metode Penelitian Materi Penelitian Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam pembuatan wafer pakan ternak berbasis limbah jagung adalah mesin pencacah dan penggiling, timbangan, baskom, ember, plastik polytilen, oven, dan cetakan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa limbah jagung, dedak halus, molases, mineral mix, ampas tahu, bungkil kelapa, jagung giling. Irmayanti et al. | Seminar Nasional PKP I . : 33 Ae 37 tepung tapioka dan bahan bahan yang digunakan dalam analisis proksimat dan dan fraksi serat. Rancangan Penelitian Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari: A0 = Penyimpanan 0 hari (Kontro. A1 = Penyimpanan 2 minggu. A2 = Penyimpanan 4 minggu, dan A3 = Penyimpanan 8 minggu. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian dimulai dengan menyusun formulasi pakan, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan wafer pakan ternak berbasis limbah Limbah menggunakan mesin pencacah lalu digiling dengan halus dan menimbangnya sesuai dengan kebutuhan. Menyiapkan formulasi bahan pakan lainnya lalu mencampur limbah jagung dengan dedak halus, jagung giling, ampas tahu, bungkil kelapa, mineral mix, molases, dan tepung tapioka sampai tercampur Wafer pakan ternak yang telah tercampur rata selanjutnya dikukus selama 20 menit lalu dicetak dengan menggunakan cetakan wafer berbentuk kotak ukuran 14 y 3 y 3 cm dan dimasukkan kedalam oven untuk pengeringan dan dijemur dibawah sinar matahari. Wafer pakan ternak yang telah melalui proses pengeringan selanjutnya ditempatkan ditempat terbuka agar wafer pakan berada dalam kondisi dan berat yang konstan. Terakhir wafer pakan ternak dikemas kedalam kemasan plastik lalu disimpan pada suhu ruang untuk selanjutnya dilakukan pengujian. Variabel yang Diamati Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah komponen nutrient wafer pakan ternak yang meliputi: kadar air, kadar abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Komposisi nutrien diukur menggunakan metode analisis Analisis proksimat yang dilakukan berdasarkan AOAC . Analisis Data Data dianalisis menggunakan analisis ragam (Anov. dengan bantuan software SPSS Ver. Selanjutnya perlakuan yang berpengaruh nyata (P<0,. akan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan . Hasil dan Pembahasan Berdaraskan analisis data yang dilakukan terhadap wafer pakan ternak, diperoleh data seperti yang disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan nutrisi wafer pakan dengan lama penyimpanan yang berbeda Perlakuan Rataan Kadar Air 12,67A1,02a 12,51A0,70a 11,67A1,02b 10,66A0,14c 11,88A0,92 Komponen Nutrisi Kadar Abu 7,96A0,13a 7,87A0,18ab 7,65A0,21b 7,29A0,06c 78A0,16 BETN 60,41A0,27a 58,32A0,39b 58,28A0,26b 58,04A0,05c 58,76A1,11 Rataan 27,01A29,02 26,23A27,88 25,87A28,14 25,45A28,26 26,14A0,50 Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,. A0 = Penyimpanan 0 hari (Kontro. A1 = Penyimpanan 2 minggu. A2 = Penyimpanan 4 minggu. A3 = Penyimpanan 8 minggu. BETN = Bahan ekstrak tanpa nitrogen. kadar air yang berbeda nyata. Selama dalam proses penyimpanan, kadar air wafer pakan terus menurun hingga minggu 8. Semakin lama penyimpanan kadar air semakin rendah, kadar air yang tertinggi terdapat pada perlakuan tanpa penyimpanan 0 minggu yaitu 12,67 % sedangkan rataan kadar air terendah terdapat pada lama penyimpanan selama 8 minggu yaitu 10,66 %. Menurut Bagau et al. , semakin rendah kadar air pakan, maka Kadar Air Kadar air pada wafer pakan ternak menunjukkan perbedaan yang nyata di antara perlakuan (P<0,. dengan nilai kisaran kadar air wafer pakan adalah 10,66 % - 12,67 %. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan lama penyimpanan wafer pakan ternak pada penyimpanan berbeda menunjukkan bahwa selama proses penyimpanan terjadi perubahan Irmayanti et al. | Seminar Nasional PKP I . : 33 Ae 37 pakan yang dihasilkan akan lebih baik dan daya simpan pakan akan lebih lama. Terima kasih penulis ucapkan kepada DRTPM Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset Teknologi (Kemendikbudriste. yang telah mendanai penelitian ini. Penelitian ini merupakan bagian dari Penelitian Dosen Pemula melalui Hibah BIMA Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2023 dengan Surat Perjanjian Kontrak Penelitian Nomor: 233/UN55. C/PT. Tanggal 07 Juli 2023. Kadar BETN Hasil menunjukkan kadar BETN wafer pakan memperlihatkan perbedaan di antara perlakuan (P<0,. Kadar BETN wafer pakan ternak berbasis limbah jagung tertinggi terlihat pada penyimpanan 0 minggu . ,41 %) dan terendah pada penyimpanana 8 minggu . ,04 %). Selama penyimpanan kadar BETN wafer pakan ternak berbasis limbah jagung mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh mikroorganisme selama penyimpanan mencerna bahan yang mudah terdegradasi komponen utama yang terkandung dalam BETN sebagai sumber makanannya . Daftar Pustaka . Achadri. Hosang. Matitaputty. dan Sendow. Potensi limbah jagung hibrida (Zea mays L) sebagai pakan ternak di daerah dataran kering Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. 19, 2 . , 42Ae48. DOI: https://doi. org/10. 29244/jintp. Kadar Abu Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata (P<0,. pada kadar abu wafer pakan ternak berbasis limbah jagung. Rataan kadar abu tertinggi terlihat pada penyimpanan 0 minggu 7,96 % dan terendah pada penyimpanan 8 minggu 7,29 %. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama lamanya masa penyimpanan terjadi penurunan kadar Penurunan kadar abu pada perlakuan sejalan dengan meningkatnya bahan kering wafer pakan ternak. Variasi kandungan abu ini berhubungan dengan kandungan bahan kering Hasil ini masih dalam batas kadar abu dalam pakan ternak sesuai dengan pendapat Bagau et al. bahwa batas maksimal kadar abu dalam pakan tidak boleh lebih dari 15 %. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kandungan abu dalam suatu bahan pakan menggambarkan kandungan mineral pada pakan tersebut. Semakin tinggi kadar abu maka kandungan mineral pakan juga akan semakin tinggi. Ucapan Terima Kasih