PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Linggau Jurnal Language education and literature Pengembangan Modul Menulis Pantun Siswa Kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau Juwati STKIP-PGRI Lubuklinggau Email: watiaja56@ymail. ABSTRAK Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berupa modul yang dapat digunakan siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Penelitian ini menggunakan metode research and development dengan mengadaptasi model pengembangan Jolly & Bolitho dan Dick. Carey & Carey. Untuk memperoleh informasi kelayakan bahan ajar, dilakukan validasi oleh para ahli dan uji lapangan terbatas. Validasi dilakukan terhadap kelayakan materi, kebahasaan, penyajian, dan kegrafikaan oleh 3 orang dosen ahli. Data dalam uji lapangan diperoleh melalui tes tertulis. Subjek dalam uji lapangan terbatas terdiri dari 25 siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Berdasarkan analisis hasil validasi ahli, bahan ajar berbentuk modul Mari Menulis Pantun yang dikembangkan dapat dikategorikan baik atau layak. Hasil tes menulis pantun memperlihatkan peningkatan rata-rata dari 66,88 menjadi 80,76 . elisih 13,. Dengan demikian, modul Mari Menulis Pantun hasil pengembangan memberikan efek potensial dalam meningkatkan kemampuan siswa menulis pantun dan layak digunakan di SMA Xaverius Lubuklinggau. Kata-kata kunci: pengembangan, modul, pantun ABSTRACT The aims of this research is to develop the effective of teaching material which used by studentsAo grade X of Xaverius high school at Lubuklinggau. Teaching material which developed is a module AuMari Menulis PantunAy. This research used research and development method by adopting development model of Jolly & Bolitho and Dick. Carey & Carey. To get information about the feasibility of teaching materials, it validated by experts and a limited field test. The validation done gradually such as eligibility material, linguistics, presentation, and chart by three expert lecturers. The data obtained in field trials through written tests. The subject in a limited test consists of 25 studentsAo grade X of Xaverius high school Lubuklinggau. Based on the analysis of the validation results, teaching material AuMari Menulis PantunAy which developed is categorized good or feasible. The studentsAo test result in written rhymes show increase from 66,88 become 80,76 . eviation 13,. So module AuMari Menulis PantunAy development results give potential effect to increasing the studentsAo ability in written rhymes and feasible to use at Xaverius high school Lubuklinggau. Keywords: Development, module. Rhymes Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 PENDAHULUAN Sebagai puisi asli Indonesia, pantun sudah semestinya diberi perhatian dan dilestarikan dalam khazanah sastra Indonesia. Pantun merupakan khazanah bangsa yang amat bernilai bagi kalangan masyarakat Melayu. Penyusunan di setiap baris pantun yang diolah secara rapi dan disusun sedemikian indahnya mengandung makna selain sebagai kritik sosial, juga melambangkan pesona jiwa kesopanan dan kehalusan masyarakat Melayu. Namun, di zaman globalisasi generasi muda mempunyai pemikiran yang lebih straight to the point, lebih berterus terang dalam mengungkapkan maksud. Hal ini terjadi akibat pengaruh globalisasi yang semakin merubah jiwa dan perasaannya. Pernyataan tersebut dipertegas Bachri . alam Zaidan dan Sugono, 2003:. bahwa para penyair modern Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman tertarik pada paham individualisme dan kebebasan. Selain itu, penyair juga menganggap pembaca mempunyai kemampuan menafsirkan dan menghayati apa yang terkandung dalam karya Demikian pula dalam pembelajaran di sekolah, pantun dapat digunakan sebagai sarana untuk mengasah kepedulian siswa terhadap masalah-masalah sosial yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan apresiasi sastra juga dapat dilakukan melalui kegiatan menulis yang salah satunya adalah menulis pantun. Dengan menulis pantun siswa terlatih mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat dan budaya. Apresiasi sastra khususnya puisi lama sudah dipelajari sejak tingkat Sekolah Dasar hingga tingkat Sekolah Menengah Atas. Sejalan dengan kurikulum bahasa Indonesia SMA kelas X, menulis pantun merupakan salah satu kompetensi dasar yang wajib dikuasai peserta didik. Melalui kegiatan menulis pantun tersebut siswa mampu menulis pantun dengan memperhatikan bait, rima, dan irama. Meskipun demikian, harapan yang ingin dicapai dalam tujuan pembelajaran belum sesuai dengan kenyataan. Pada proses pembelajaran di kelas siswa masih kesulitan menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat penulisan pantun. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang mengajar di kelas X PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Linggau Jurnal Language education and literature SMA Xaverius Lubuklinggau bahwa siswa masih kesulitan memadupadankan sajak yang terdapat pada sampiran dan isi pantun. Kesulitan ini disebabkan bahan ajar yang digunakan kurang memenuhi tuntutan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis pantun. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan ajar berupa modul menulis pantun sebagai pendukung atau pelengkap bahan ajar yang ada untuk memperkaya wawasan ilmu pengetahuan. Bahan ajar berbentuk modul diharapkan dapat digunakan sebagai acuan atau pedoman bagi siswa dalam pembelajaran menulis pantun. Bahan ajar memegang peranan penting guna meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu pembelajaran menulis pantun perlu dikembangkan bahan ajar yang praktis, efektif, dan efisien. Namun, berdasarkan hasil wawancara dalam proses belajar mengajar guru menggunakan bahan ajar yang sudah tersedia yaitu buku sekolah elektronik (BSE) sebagai sumber pembelajaran tanpa ada upaya untuk merencanakan, menyiapkan, serta menyusun sendiri bahan ajar. Fakta tersebut sejalan dengan pendapat Prastowo . bahwa banyak pendidik yang masih menggunakan bahan ajar konvensonal, yaitu bahan ajar tinggal pakai dan tinggal beli tanpa ada upaya menyusun sendiri. Dengan demikian, sangat memungkinkan jika bahan ajar yang digunakan tidak kontekstual, tidak menarik, monoton dan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20 bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran. Selanjutnya, tuntutan membuat bahan ajar sendiri juga dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendikna. Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses, yaitu mengatur perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar. Lebih lanjut. Depdiknas . mengatakan bahwa guru perlu mengembangkan bahan ajar sendiri dengan alasan ketersediaan bahan sesuai dengan kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah. Pernyataan tersebut dipertegas Arifin dan Kusrianto . bahwa sangat disayangkan jika seorang guru yang selama karirnya tidak pernah membuat bahan ajar sendiri. Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa seorang pendidik atau guru sudah menjadi keharusan untuk mengembangkan bahan ajar sendiri dengan mengadakan revisi dan penambahan dari sumber buku yang ada, agar tersedia bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum sekaligus sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, penyusunan bahan ajar yang menarik dan inovatif adalah hal yang sangat penting dan merupakan tuntunan bagi setiap pendidik. Menarik dalam arti bahan ajar yang dikembangkan harus mampu membuat siswa termotivasi untuk mempelajarinya. Motivasi bisa timbul karena bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dipahami. Sementara bahan ajar yang inovatif merupakan bahan ajar yang didalamnya banyak gagasan dan ide-ide baru. Pada kenyataannya guru yang mengajar bahasa Indonesia kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau belum ada yang mencoba mengembangkan bahan ajar sendiri agar tersedia bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum sekaligus sesuai dengan kebutuhan. Guru dalam mengajar hanya menggunakan buku yang tersedia, di antaranya buku Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas X terbitan Kemendikbud dan buku penunjang Kompetensi Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas X penerbit Erlangga. Padahal, diketahui bahwa buku yang digunakan guru terdapat kelemahan sehingga kurang memenuhi tuntutan atau tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran. Hal ini dapat dilihat, tidak ada langkah-langkah menulis pantun dan kurang latihan-latihan menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat penulisan pantun. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu adanya sebuah pengembangan bahan ajar berupa modul menulis pantun yang praktis, efektif, dan efisien untuk membantu siswa dalam menulis pantun. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan bahan ajar berbentuk modul menulis pantun yang dilengkapi dengan latihan-latihan menulis pantun yang dirancang secara khusus serta dilengkapi pula dengan langkah-langkah menulis pantun sebagai upaya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan siswa dalam menulis pantun. Pembelajaran menggunakan modul, menurut Sukmadinata . adalah satu kesatuan program yang lengkap yang dapat dipelajari oleh siswa secara individual, dalam arti mereka dapat menyesuaikan kecepatan belajarnya berdasarkan kemampuan masing-masing. Dengan pembelajaran menggunakan modul peserta didik dapat belajar PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Linggau Jurnal Language education and literature secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Modul menulis pantun hasil pengembangan mencakup petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, materi, latihan, rangkuman, dan evaluasi. Penelitian pengembangan menulis sudah pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu di antaranya. Faulina Handayani pada tahun 2012 dengan judul AuPengembangan Bahan Ajar Menulis Surat untuk Siswa Kelas XIIAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam menulis surat. Dengan demikian, bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan oleh subjek penelitian tersebut. Kemudian pada tahun 2013 penelitian Tri Riya Anggraini yang berjudul AuPengembangan Bahan Ajar Menulis Cerita Pendek (Cerpe. kelas X SMA Negeri 2 OKUAy. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan dapat mengatasi kesulitan siswa menulis cerita pendek . Dengan demikian, bahan ajar yang dikembangkan layak untuk digunakan. Selanjutnya. Henny Nopriani pada tahun 2013 dengan judul AuPengembangan Bahan Ajar Menulis Puisi Kelas VII SMP Negeri I PagaralamAy. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan tersebut dapat mengatasi kesulitan siswa dalam menulis puisi. Dengan demikian, bahan ajar menulis puisi yang dikembangkan layak untuk digunakan. Adapun persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian sama-sama Sementara perbedaannya terletak pada objek penelitian. Penelitian Faulina Handayani merupakan jenis penelitian pengembangan bahan ajar menulis surat. Penelitian Henny Nopriani, pengembangan bahan ajar menulis puisi. Sementara penelitian ini adalah pengembangan modul menulis pantun siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Penelitian ini didasari pada permasalahan menulis pantun yang dianggap sulit oleh siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Kesulitan tersebut disebabkan belum ada bahan ajar menulis pantun yang lengkap. Menulis pantun membutuhkan kreativitas dan imajinasi agar dapat memadupadankan sajak yang terdapat pada sampiran dan isi PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Linggau Jurnal Language education and literature Oleh karena itu, untuk menumbuhkan kreativitas dan imajinasi siswa dibutuhkan bahan ajar berbentuk modul menulis pantun yang di dalamnya mencakup latihan-latihan menulis pantun yang dirangcang secara khusus serta dilengkapi pula dengan langkah-langkah menulis pantun. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut permasalahan dalam penelitian ini adalah . bagaimanakah kebutuhan modul menulis pantun menurut siswa dan guru? . bagaimanakah rancangan modul menulis pantun hasil pengembangan? . bagaimanakah hasil validasi ahli modul menulis pantun yang dikembangkan? . bagaimanakah efek potensial modul menulis pantun hasil pengembangan?. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah research and development. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk bahan ajar yang efektif sehingga dapat digunakan oleh siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Sementara mengkombinasikan model pengembangan Jolly & Bolito . alam Tomlinson, 1998:. dan model pengembangan Dick. Carey, & Carey. Adapun langkah-langkah pengembangan bahan ajar dalam penelitian ini adalah . Identifikasi kebutuhan. Eksplorasi kebutuhan mater. Realisasi kontekstual bahan . Realisasi pedagogik. Produk bahan ajar. Validasi ahli. Revisi modul berdasarkan hasil validasi dari tim ahli/pakar. Uji coba lapangan terhadap 25 siswa . atu kela. Sementara teknik pengumpulan data dan teknik analisis data menggunakan teknik angket, wawancara dan tes unjuk kerja menulis pantun. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Kebutuhan Siswa dan Guru Sehubungan dengan bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran di kelas, jawaban angket menunjukan bahwa subjek penelitian mengaku mengalami beberapa kesulitan dalam menulis pantun, di antaranya yaitu pertama, kesulitan menentukan Hal ini disebabkan materi yang terdapat dalam bahan ajar yang digunakan selama Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 ini sebagai buku wajib yaitu buku Aktif Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas X SMA karangan Abdul Somad dkk kurang lengkap dan kurang terperinci secara jelas. Selanjutnya, contoh-contoh yang ditunjukkan dalam buku tersebut juga kurang sesuai dengan syarat-syarat penulisan pantun. Artinya, contoh tersebut kurang memberikan pemahaman bagi siswa untuk memudahkan menulis pantun. Kedua, kesulitan mencari ide yang dituangkan dalam larik-larik pantun. Hal ini disebabkan dalam bahan ajar yang selama ini digunakan kurang memberikan contoh bagaimana cara menulis pantun dan kurangnya latihan-latihan menulis pantun. Padahal, kegiatan menulis pantun diperlukan latihan-latihan secara berkesinambungan yang pada akhirnya siswa mampu menulis pantun sesuai dengan syarat-syarat pantun. Ketiga, kesulitan memadupadankan sajak yang terdapat pada sampiran dan isi Hal ini disebabkan dalam bahan ajar yang digunakan tidak adanya contohcontoh rima yang bisa dijadikan sebagai pengetahuan siswa bagaimana mencari pilihan kata atau diksi yang terdapat pada larik atau baris pantun, terutama bagaimana mencari diksi pada rima akhir untuk memadupadankan sajak yang terdapat pada sampiran dan isi Berkaitan dengan topik-topik yang diinginkan dalam menulis pantun, dari data yang diperoleh pilihan atau opsi yang peneliti ajukan pada saat analisis kebutuhan yaitu siswa memilih lima jenis pantun dari keseluruhan jumlah jenis pantun yang ada. Kelima jenis pantun yang dipilih siswa nantinya dijadikan tema dalam menulis pantun. Adapun jenis-jenis pantun tersebut dapat dikelompokan menjadi tiga di antaranya adalah pantun anak, pantun muda, dan pantun tua. pantun anak . antun suka cita, dan pantun duka cit. pantun muda . antun perkenalan, pantun perpisaha. pantun orang tua . antun nasihat, pantun agama, pantun adat, pantun teka-teki, dan pantun jenak. Dari jawaban angket menunjukan bahwa siswa yang memilih pantun anak seperti pantun suka cita hanya 15 siswa, dan pantun duka cita hanya 10 siswa. Selanjutnya, pantun muda seperti pantun perkenalan sebanyak 23 siswa dan pantun perpisahan sebanyak 20 siswa. Sementara jenis pantun orang tua . antun nasihat, pantun agama. Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 pantun adat, pantun teka-teki, dan pantun jenak. hanya pantun nasihat, pantun agama, dan pantun jenaka yang dipilih oleh siswa. Artinya, siswa banyak memilih pantun tersebut, dibandingkan dengan pantun adat dan pantun teka-teki. Jumlah siswa yang memilih pantun nasihat yaitu 15 siswa, pantun agama yaitu 17 siswa, dan pantun jenaka yaitu 15 siswa, sedangkan pantun adat hanya 10 siswa dan pantun teka-teki yaitu 6 Berdasarkan jumlah tersebut tampak bahwa siswa lebih memilih pantun muda . antun perkenalan dan pantun perpisaha. , dan pantun orang tua . antun nasihat, pantun agama, dan pantun jenak. Beberapa saran yang diberikan terhadap bahan ajar yang dikembangkan ialah penyajian materi harus lengkap, banyak contoh-contoh pantun, penggunaan bahasa mudah dipahami, menarik, dan bentuk perwajahan full colour. Berkaitan dengan harapan-harapan siswa terhadap bahan ajar hasil pengembangan peneliti, yaitu pertama, subjek mengharapkan di dalam bahan ajar yang dikembangkan materinya harus lebih jelas dan terperinci, dilengkapi dengan contoh-contoh pantun, langkah-langkah menulis pantun, latihan menulis pantun, dan rubrik penilaian. Selain itu, subjek penelitian juga mengharapkan di dalam bahan ajar yang dikembangkan hendaknya didesain semenarik mungkin, jelas dan sistematis, serta bahasa mudah Sementara itu, berdasarkan hasil analisis kebutuhan guru menunjukan adanya kebutuhan yang sama. Jawaban angket tersebut menunjukan kedua guru bahasa Indonesia di SMA Xaverius Lubuklinggau senang memberikan materi pantun. Menurutnya, dengan memberikan pembelajaran menulis pantun akan menambah wawasan siswa, melatih kebiasaan siswa untuk berfikir, menumbuhkan rasa cinta terhadap karya sastra khususnya pantun, memberanikan siswa untuk belajar mengungkapkan apa yang dirasakan dan apa yang dilihat di sekelilingnya, serta bisa dijadikan sebagai hiburan. Selanjutnya, berkaitan dengan kendala-kendala yang dialami siswa. Jawaban angket menunjukan bahwa kendala atau kesulitan siswa dalam menulis pantun yaitu sebagai Pertama, siswa kesulitan menentukan tema. Hal ini disebabkan, siswa tidak mengetahui atau kurang memahami makna pantun dan jenis-jenis pantun itu sendiri. Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Selanjutnya, dalam bahan ajar yang selama ini digunakan di sekolah tidak adanya langkah-langkah menulis pantun. Kedua, siswa kesulitan menuangkan kata-kata ke dalam bait pantun. Hal ini disebabkan, siswa tidak terbiasa menulis pantun. Ketidakbiasaan siswa dalam menulis pantun, disebabkan buku yang selama ini digunakan kurang memberikan latihan menulis pantun secara mandiri. Siswa hanya dituntut memahami tentang pengertian pantun, ciri-ciri pantun, macam-macam pantun, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam bahan ajar yang selama ini digunakan minimnya contoh-contoh pantun. Contoh-contoh pantun yang ada dalam buku tersebut kebanyakan contoh-contoh pantun yang sudah usang, akibatnya siswa kurang tergali kreativitasnya dalam menulis pantun. Ketiga, siswa kesulitan memadupadankan sajak yang terdapat pada sampiran dan isi pantun. Hal ini disebabkan, dalam buku yang digunakan tidak adanya langkahlangkah menulis pantun, akibatnya siswa tidak mengetahui langkah apa yang harus dilakukan untuk mempermudah siswa memadupadankan sajak antara sampiran dan isi Harapan-harapan yang diinginkan antara lain kedua guru tersebut memerlukan bahan ajar yang menyertakan materi. Bentuk penyajian materi yang diinginkan yaitu materi yang tersusun secara jelas, terperinci, banyak contoh-contoh pantun yang bervariasi, contoh-contoh rima, dan dilengkapi pula dengan langkah-langkah menulis Prototipe Bahan Ajar Berdasarkan identifikasi kebutuhan menunjukan bahwa kebutuhan siswa dan guru relatif sama. Siswa dan guru membutuhkan bahan ajar yang lengkap. Lengkap dalam arti bahan ajar berbentuk modul yang dikembangkan peneliti terdapat teori pantun, jenis-jenis pantun, contoh-contoh pantun yang bervariasi, contoh-contoh rima, langkahlangkah menulis pantun, penerapan langkah-langkah menulis pantun dan perbanyak latihan-latihan menulis pantun. Setelah peneliti melakukan analisis kebutuhan siswa dan guru, peneliti melakukan realisasi kontesktual dan realisasi pedagogik. Pada tahap kontekstual, peneliti Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 melakukan analisis tujuan pembelajaran yang akan dicapai yaitu siswa dituntut mampu menulis pantun berdasarkan bait, rima dan irama. Untuk merealisasikan tujuan yang dicapai tersebut peneliti mencantumkan contoh-contoh pantun dari sumber internet, pantun hasil karya peneliti, dan pantun hasil karya siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Selanjutnya, untuk merealisasikan latihan yang kontekstual peneliti melakukan tes unjuk kerja menulis pantun sesuai dengan jenis pantun yang dipilih. Dengan demikian, siswa diberi kebebasan untuk menuangkan ide atau gagasan sesuai dengan keinginannya, namun tetap memperhatikan aspek atau syarat-syarat penulisan Tahap selanjutnya adalah realisai pedagogik yang diwujudkan dengan penyusunan petunjuk belajar, materi, latihan, evaluasi yang disajikan dalam bahan ajar menulis pantun hasil pengembangan. Kegiatan yang dipilih untuk membantu pemahaman siswa dalam menulis pantun adalah latihan soal pilihan ganda dan esai. Sementara untuk melatih ketrampilan menulis yaitu unjuk kerja menulis pantun. Sebagai latihan, siswa diberi latihan melengkapi bagian isi maupun sampiran yang telah disediakan agar menjadi sebuah pantun yang utuh. Selain itu, latihan menulis pantun muda . antun perkenalan, pantun perpisaha. dan pantun tua . antun nasihat, pantun agama, dan pantun jenak. Setelah tahap realisasi kontekstual dan pedagogik, tahap selanjutkan adalah produk bahan ajar. Hasil Validasi Modul Validasi terhadap bahan ajar berbentuk modul tersebut meliputi . kelayakan isi, . kelayakan bahasa, . kelayakan penyajian dan kelayakan kegrafikaan. Pakar atau ahli yang menilai bahan ajar berbentuk modul Mari Menulis Pantun tersebut yaitu Dr. Satinem. Pd. (Dosen STKIP-PGRI Lubuklingga. yang menilai kelayakan isi/materi. Dr. Agus Saripudin. Ed. (Dosen Universitas Sriwijay. menilai kelayakan kebahasaan, dan Dr. Fadli. Pd. (Dosen STKIP-PGRI Lubuklingga. menilai kelayakan penyajian dan kegrafikaan. Berdasarkan hasil penilaian, komponen kelayakan isi dapat dikategorikan sangat Dari tujuh aspek dengan skala 5, dapat dilihat aspek kesesuaian dengan SK/KD/silabus memperoleh skor 4 . , kesesuaian bahan ajar dengan perkembangan Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 siswa memperoleh skor 4 . , kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar memperoleh skor 4 . , kebenaran substansi materi memperoleh skor 4 . , kesesuaian materi dengan latihan memperoleh skor 4 . , kesesuaian materi dengan evaluasi memperoleh skor 5 . angat bai. , dan manfaat untuk menambah wawasan pengetahuan memperoleh skor 5 . angat bai. Secara keseluruhan dari skor maksimal 35, komponen kalayakan isi memperoleh skor 30. Dengan demikian, kelayakan isi atau materi bahan ajar yang dikembangkan termasuk kategori sangat baik. Selanjutnya, penilaian prototipe bahan ajar yang telah dikembangkan pada aspek kebahasaan dapat dikategorikan sangat baik. Dari 4 aspek yang dinilai dengan penilaian Aspek bahasa mudah dipahami memperoleh skor 5 . angat baik/sesua. Aspek kejelasan informasi memperoleh skor 5 . angat baik/sesua. Aspek kesesuaian kaidah bahasa Indonesia (EYD) memperoleh skor 4 . Aspek penggunaan bahasa secara efektif dan efisien memperoleh skor 4 . Secara keseluruhan skor yang diperoleh untuk komponen kebahasaan yaitu 18 dari skor maksimal 20. Kemudian, hasil penilaian terhadap komponen penyajian dan kegrafikaan dengan menggunakan skala 5 dapat dikategorikan baik. Hal ini dapat dilihat, pada komponen penyajian, aspek kejelasan tujuan mendapat skor 3 . Aspek urutan penyajian mendapat skor 4 . Aspek pemberian motivasi mendapat skor 4 . Aspek interaksi . emberian stimulus dan respo. mendapat skor 4 . Aspek kelengkapan informasi mendapat skor 4 . Sementara komponen kegrafikaan, aspek ukuran dan jenis huruf mendapat skor 4 . Aspek ketepatan ilustrasi gambar, grafik, dan tabel memperoleh skor 3 . Aspek cover memperoleh skor 2 . urang sesua. Aspek tampilan fisik memperoleh skor 4 . Secara keseluruhan komponen penyajian dan kegrafikaan dari skor maksimal 45, memperoleh skor 32. Artinya, komponen penyajian dan kegrafikaan bahan ajar yang dikembangkan termasuk kategori baik. Hasil Uji Lapangan Uji lapangan bahan ajar berbentuk modul dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami bagaimana cara menulis pantun berdasarkan langkah-langkah menulis pantun yang terdapat dalam bahan ajar berbentuk modul hasil Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 pengembangan peneliti yang diberi judul Mari Menulis Pantun. Untuk mengukur kemampuan siswa tersebut dilakukanlah tes unjuk kerja menulis pantun. Tes unjuk kerja menulis pantun dilakukan pada saat pretest dan postest. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan kemampuan sebelum dan setelah siswa menggunakan bahan ajar berbentuk modul menulis pantun hasil pengembangan peneliti. Nilai Tes Sebelum Menggunakan Bahan Ajar Hasil Pengembangan Tes menulis pantun dilakukan saat pembelajaran kompetensi dasar menulis pantun dengan menggunakan bahan ajar yang berasal dari buku AuAktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk Kelas X SMA/MAAy karangan Abdul Somad, dkk. Berdasarkan hasil pretest menulis pantun pada 25 siswa mendapat nilai yang Nilai tertinggi 85 diperoleh sebanyak 1 siswa dan nilai terendah 40 diperoleh 3 siswa. Berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata siswa menulis pantun sebelum menggunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti adalah 66,88. Nilai Tes Menulis Pantun Setelah Menggunakan Modul Berdasarkan hasil postest menulis pantun yang diberikan pada 25 siswa diperoleh nilai yang bervariasi. Nilai tertinggi 95 diperoleh sebanyak 1 siswa dan nilai terendah 60 yang diperoleh 1 siswa. Berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata siswa menulis pantun setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti adalah 80,76. Dengan demikian, jika dilihat dari hasil perolehan nilai rata-rata pretest dan postest, nilai siswa dalam menulis pantun dapat dinyatakan meningkat setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut terdapat selisih nilai siswa sebelum menggunakan bahan ajar dan setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan adalah 13,88. Adapun data perincian nilai pretest dan postest menulis pantun dapat dilihat pada tabel berikut ini. Dari data tersebut diperoleh informasi tentang nilai tertinggi dan terendah pada saat pretest dan postest. Nilai tertinggi pada pretest 85 dan nilai terendah yaitu 40, sedangkan pada postest nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 60. Artinya, ada peningkatan kemampuan siswa setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Linggau Jurnal Language education and literature Dari tabel tersebut juga dapat dihitung selisih nilai tertinggi adalah 10 dan terendah 20. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik 1 berikut ini. Terendah Tertinggi Sebelum Sesudah Selisih Grafik 1 data nilai pretest dan postest menulis pantun Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat adanya peningkatan nilai yang diperoleh siswa setelah menggunakan bahan ajar berbentuk modul hasil pengembangan. Dari nilai tersebut terdapat pula perbedaan nilai rata-rata sebelum dan setelah menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Perbedaan nilai rata-rata tersebut dapat dilihat pada grafik 2 berikut ini. 80,76 Nilai rata-rata 66,88 13,88 Grafik 2 nilai rata-rata pretest dan postest menulis pantun Pembahasan Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan yang dilakukan peneliti terhadap siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau, diperoleh data bahwa siswa SMA Xaverius Lubuklinggau mengalami beberapa kesulitan dalam menulis pantun. Guna mengatasi kesulitan tersebut secara umum siswa memerlukan bahan ajar khusus menulis pantun yang lengkap, bahasa mudah dipahami, menyenangkan, menarik, dan dapat PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Linggau Jurnal Language education and literature memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis pantun. Untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar yang mudah dipahami, di dalam bahan ajar tersebut dilengkapi dengan kajian teori dimulai dari pengertian pantun, mengidentifikasi pantun berdasarkan bait, rima, dan irama, jenis-jenis pantun, contoh-contoh pantun contoh-contoh langkah-langkah mengaplikasikan langkah-langkah menulis pantun tersebut. Selain itu, di dalam modul juga terdapat latihan melengkapi bagian sampiran dan isi pantun agar menjadi pantun yang utuh, latihan menulis pantun sesuai jenis pantun yang dipilih, dan dilengkapi pula dengan adanya kunci jawaban. Kemudian, di dalam modul juga ada rubrik penilaian yang dapat digunakan siswa untuk mengukur kemampuannya sendiri seberapa jauh kemampuan yang dimiliki dalam menulis pantun. Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan siswa terhadap bahan ajar yang menyenangkan, bahan ajar yang diberi judul Mari Menulis Pantun dilengkapi dengan cover yang didominasi warna hijau dan merah muda dan dipadukan dengan tulisan berwarna hitam serta dilengkapi dengan gambar pena dan tulisan pantun. Selain itu, modul hasil pengembangan peneliti juga dapat memberikan motivasi dan menarik minat siswa untuk membaca dan mempelajarinya. Hal ini dapat dilihat dalam modul tersebut didesain semenarik mungkin, full colour, terdapat gambar yang lucu, unik dan disertai dengan pantun pembuka di setiap awal kegiatan pembelajaran. Dengan adanya desain yang menarik dan adanya pantun pembuka di setiap awal kegiatan pembelajaran, siswa termotivasi dengan pembelajaran menulis pantun yang selama ini dianggap pembelajaran yang sulit, pembelajaran yang kurang menarik, dan pembelajaran yang membutuhkan daya pikir tinggi. Artinya, harus memainkan kata-kata seindah mungkin, semanarik mungkin untuk memadupadankan sajak antara sampiran dan isi pantun. Berkaitan dengan latihan, subjek penelitian memerlukan latihan-latihan menulis pantun sesuai dengan jenis pantun yang dipilih dan dilakukan secara individu. Namun, sebelum siswa latihan menulis patun di dalam modul tersebut diberikan contoh pantun karya peneliti dan karya siswa. Hal ini bertujuan untuk mengubah persepsi siswa bahwa menulis pantun adalah suatu hal yang menyenangkan, menghibur, dan dapat Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 mengungkapkan apa yang dirasakan yang dituangkan ke dalam bahasa sastra. Hal ini sejalan dengan pendapat Soeprapto, . bahwa pantun merupakan bentuk karya sastra yang digunakan sebagai alat untuk memelihara bahasa, mengungkapkan perasaan terhadap seseorang bahkan pantun juga dapat digunakan untuk menyindir, bersanda gurau, memberi nasihat, dan bersenang-senang. Begitu juga dengan kebutuhan guru. Hasil analisis kebutuhan guru relatif sama yaitu bahan ajar yang lengkap, menarik, dan mudah dipahami. Dengan demikian, bahan ajar tersebut memudahkan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran menulis pantun di kelas. Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan guru dan siswa tentang menulis pantun agar lebih mudah dipahami, peneliti memuat pantun dari sumber internet, hasil karya peneliti, dan hasil karya siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Hal ini menunjukkan bahwa modul hasil pengembangan peneliti benarbenar kontekstual sesuai dengan kondisi rill siswa dan lingkungan sekitar. Senada dengan pendapat Tomlinson . 8:5Ai. bahwa bahan ajar yang baik harus memberikan dampak dan memberikan rasa nyaman pada siswa. Artinya, bahan ajar harus dilengkapi ilustrasi berupa gambar, foto, warna dan topik yang menarik minat Selanjutnya bahan ajar juga harus berkaitan dengan lingkungan sosial siswa agar siswa mudah memahami setiap pembelajaran yang terdapat di dalam modul, sebab sesuatu yang sudah dikenal siswa akan memudahkan mereka menyerap materi yang Kemudian untuk memotivasi siswa dalam menulis pantun guru mengharapkan di dalam bahan ajar harus memperhatikan pengunaan bahasa, pemilihan kata, dan penggunaan kalimat yang efektif. Selain pengunaan bahasa untuk memudahkan siswa memahami setiap kegiatan pembelajaran yang terdapat dalam modul Mari Menulis pantun, guru juga mengharapkan bentuk perwajahan berupa gambar dan ilustrasi yang menarik dan bervariasi sehingga dapat menimbulkan ketertarikan siswa untuk menulis Dari identifikasi kebutuhan guru dan siswa, diperoleh prototipe bahan ajar berbentuk modul Mari Menulis Pantun. Prototipe bahan ajar tersebut dilengkapi dengan komponen-komponen . caver, . kata pengantar, . daftar isi, . petunjuk belajar. PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Linggau Jurnal Language education and literature . standar komptensi/kompetensi dasar/indikator, . materi, . latihan, . rangkuman, . penilaian, . latihan akhir, . daftar pustaka. Selanjutnya, sebelum bahan ajar hasil pengembangan peneliti diberikan kepada siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau, bahan ajar berbentuk modul tersebut dilakukan validasi ahli untuk mendapatkan masukan dan saran-saran dari para pakar. Validasi ini mencakup empat aspek, yaitu aspek kelayakan materi/isi, aspek kebahasaan, aspek penyajian, dan aspek kegrafikaan. Hasil validasi dari para pakar menunjukkan nilai yang bervariasi. Namun secara keseluruhan, nilai yang diperoleh dalam validasi ini adalah baik. Oleh karena itu, prototipe bahan ajar menulis pantun hasil pengembangan peneliti dapat dinyatakan layak digunakan oleh siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau. Di sisi lain, walaupun bahan ajar berbentuk modul hasil pengembangan dinyatakan baik atau layak, namun ada beberapa saran dari para pakar atau ahli yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan atau masukan untuk meningkatkan kualitas produk bahan ajar berbentuk modul yang diberi judul Mari Menulis Pantun. Dengan demikian, modul hasil pengembangan ini memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan bahan ajar yang selama ini digunakan di sekolah. Pertama, modul hasil pengembangan ini didasarkan pada analisis kebutuhan siswa dan guru. Artinya, modul yang dikembangkan berisikan materi-materi yang sesuai dengan kebutuhan Sementara bahan ajar yang lain materi atau konten isinya banyak yang tidak didasarkan pada analisis kebutuhan siswa. Kedua, modul hasil pengembangan peneliti ini bersifat praktis dan sistematis. Praktis dalam arti mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Guna mencapai pengembangan, peneliti melengkapi dengan langkah-langkah menulis pantun yang dapat memudahkan siswa dalam menulis pantun. Hal ini berbeda dengan bahan ajar yang ada sebelumnya hanya bersifat teoritis tanpa dilengkapi langkah konkrit dalam menulis pantun sehingga menyulitkan siswa dalam menulis pantun. Selain itu, modul hasil pengembangan disusun agar siswa dapat belajar mandiri. Hal ini dapat dilihat dalam modul terdapat petunjuk penggunaan siswa yang dapat Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 dijadikan pedoman dalam mempelajari modul hasil pengembangan. Dengan demikian, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Selain itu, kepraktisan modul ini juga disesuaikan dengan gaya belajar siswa yang tidak sama antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, modul ini mampu mengakomodasi berbagai hambatan dalam belajar, salah satunya adalah perbedaan karakteristik antara siswa satu dengan yang lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Lestari . bahwa karakteristik siswa yang berbeda dari berbagai latar belakang akan terbantu dengan adanya bahan ajar. Bahan ajar dapat dipelajari siswa sesuai dengan kemampuan yang Setiawan . juga mengatakan bahwa bahan ajar yang baik adalah bahan ajar sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuan pembelajaran yang dicapai. Bahan ajar juga harus disajikan secara sistematis, lengkap, memiliki daya tarik, mengunakan bahasa yang mudah dipahami. Demikian juga. Prastowo . bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang disusun sesuai dengan karakteristik siswa dan menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa dalam proses pembelajaran. Sementara, sistematis yaitu bahan ajar berbentuk modul disusun sedemikian rupa mulai dari mengenal pantun, mengidentifikasi pantun berdasarkan bait, rima, dan irama, mengidentifikasi ciri-ciri pantun, mengidentifikasi pantun berdasarkan jenisnya sampai adanya langkah-langkah menulis pantun dan cara mengaplikasikan langkah-langkah menulis pantun tersebut. Dengan adanya langkah-langkah menulis pantun inilah siswa terbantu bagaimana cara atau langkah apa yang harus dilakukan siswa ketika akan memulai menulis pantun sesuai dengan syarat-syarat pantun. Di sisi lain, modul hasil pengembangan ini disajikan beberapa contoh pantun karya peneliti dan karya siswa kelas X SMA Xaverius. Artinya, dengan metode seperti ini siswa akan termotivasi untuk mengeksplor kemampuannya dalam menulis pantun dan pada akhirnya dapat menggali kreativitas siswa yang selama ini terpendam. Setelah diperoleh hasil prototipe dan hasil validasi ahli diperoleh hasil pengembangan yang terdiri dari tiga bagian, yakni bagian pendahuluan, isi, dan Bagian pendahuluan terdiri dari . sampul atau cover, . kata pengantar, . daftar isi, dan . petunjuk siswa dan guru. Selanjutnya, bagian isi meliputi . Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 kegiatan, . standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, . tujuan, . uraian materi, . latihan, . rangkuman, . latihan akhir, dan . dafar pustaka. Sementara itu, bagian penutup yaitu biodata penulis bahan ajar. Berdasarkan hasil uji lapangan terbatas yang diberikan kepada 25 siswa kelas X SMA Xaverius Lubuklinggau dalam ujuk kerja menulis pantun menunjukan peningkatan nilai rata-rata dalam menulis pantun. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes menulis pantun setelah siswa menggunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti mengalami peningkatan nilai rata-rata dari 66, 88 menjadi 80,76 . elisih 13, . Selanjutnya, hasil penghitungan Uji-t dengan menggunakan SPSS 19 juga diketahui bahwa bahan ajar manulis pantun hasil pengembangan berpengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam menulis pantun. Dengan kata lain, terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam menulis pantun setelah mengunakan bahan ajar hasil pengembangan peneliti. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, kecermatan isi. Kecermatan isi dalam bahan ajar ini meliputi . bahan ajar dibuat sesuai dengan tema yang diinginkan siswa. bahan ajar dilengkapi dengan contoh-contoh pantun yang . contoh-contoh rima. bahan ajar dilengkapi dengan langkah-langkah menulis pantun dan cara mengaplikasikan langkah-langkah tersebut. bahan ajar dilengkapi dengan rubrik penilaian. Kedua, ketepatan kecukupan meliputi kesesuaian standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan kurikulum. Ketiga, penyajian materi yang sistematis mulai dari teori pantun, mengidentifikasi pantun berdasarkan bait, rima dan irama, ciri-ciri pantun, jenis-jenis pantun, contoh-contoh rima, contoh-contoh pantun yang bervariasi sampai dengan adanya langkah-langkah menulis pantun dan cara mengaplikasikan langkah-langkah menulis pantun, serta hal-hal yang harus diperhatikan pada saat menyunting pantun hasil karya teman. Keempat, disajikan dengan tampilan/gambar ilustrasi yang menarik agar siswa termotivasi dalam pembelajaran menulis pantun. Kelima, penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan pilihan kata yang efektif memudahkan siswa dalam mempelajari modul menulis pantun. Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 Dengan demikian, bahan ajar berbentuk modul menulis pantun dapat mengatasi kesulitan-kesulitan siswa dalam menulis pantun, serta mampu mengubah persepsi siswa dari pembelajaran yang sulit, kurang menarik menjadi pembelajaran yang menarik, menghibur, dan menyenangkan. Senada dengan pendapat Panen . bahwa bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dan membantu siswa dalam proses pembelajaran. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dikemukakan dalam bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa simpulan. Pertama, siswa dan guru memiliki kebutuhan yang sama yaitu bahan ajar yang Lengkap dalam arti bahan ajar tersebut terdapat materi, contoh pantun yang bervariasi, contoh-contoh rima, langkah-langkah menulis pantun dan penerapannya, adanya latihan-latihan menulis pantun, terdapat kunci jawaban, dan adanya rubrik Selanjutnya, membutuhkan bahan ajar yang terdapat warna . ull colou. dan gambar yang menarik. Tujuannya untuk memotivasi siswa meningkatkan ketrampilan menulis pantun. Kedua, prototipe bahan ajar berbentuk modul hasil pengembangan meliputi komponen-komponen . Caver, . kata pengantar, . daftar isi, . petunjuk belajar, . standar komptensi/kompetensi dasar/indikator, . materi, . latihan, . rangkuman, . evaluasi, . penilaian, . latihan akhir, dan . daftar pustaka. Ketiga, bahan ajar berbentuk modul hasil pengembangan dapat dinyatakan baik atau layak digunakan di SMA Xaverius Lubuklinggau. Hal ini didasarkan pada hasil validasi ahli yang dilakukan pada empat aspek, yaitu kelayakan isi atau materi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajikan, dan kelayakan kegrafikaan. Keempat, bahan ajar berbentuk modul hasil pengembangan ini memiliki pengaruh yang potensial dalam meningkatkan kemampuan siswa menulis pantun. Hal ini didasarkan pada hasil uji coba lapangan terbatas mengalami peningkatan nilai rata-rata Published by LP3MKIL YLIP . ayasan Linggau Inda Pen. South Sumatera. Indonesia Linggau Jurnal Language education and literature PRINTED ISSN: 2798-2645 ONLINE ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Januari 2022 Page: 58 - 77 setelah siswa menggunakan bahan ajar berbentuk modul hasil pengembangan dari 66,88 menjadi 80,76 . elisih 13,. DAFTAR PUSTAKA