Jurnal Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri (PASTI) Vol. No. April 2026, 102-111 p-ISSN 2085-5869/ e-ISSN 2598-4853 Pengujian Waktu Reaksi Sebelum dan Sesudah Simulasi Kerja di Laboratorium sebagai Indikator Kelelahan Kerja Anisah Haidar1* Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana. Jl. Meruya Selatan. Kembangan. Jakarta Barat. Indonesia Email: anisah. alatas@gmail. (Diterima: 29-04-2025. Direvisi: 29-04-2026. Disetujui: 30-04-2. Abstrak Kelelahan kerja harus segera diatasi mengingat adanya dampak buruk bagi pekerja, misalnya gangguan kesehatan dan keselamatan kerja. Salah satu indikator yang dapat digunakan sebagai penanda kelelahan adalah menurunnya waktu respon. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran waktu respon sebelum dan sesudah simulasi kerja di laboratorium dengan responden Tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah terdapat perbedaan waktu respon saat sebelum diberikan simulasi kerja dan sesudah pemberian simulasi kerja. Penelitian dilakukan di Laboratorium Ergonomi Teknik Industri Universitas Mercu Buana dengan responden 10 mahasiswa. Pengukuran dengan menggunakan Reaction timer. Metode yang digunakan adalah Analisa statistik deskriptif dan Wilcoxon. Hasil dari pengolahan data di dapatkan sig. 023< p. dimana data menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah, namun data tersebut tidak sejalan dengan teori yang mengindikasikan bahwa waktu reaksi akan menurun saat terjadi kelelahan. Rata-rata waktu reaksi sebelum bekerja adalah sekitar 0. 596 detik dan sesudah bekerja 0. 478 detik, sehingga waktu respon sesudah bekerja memiliki rata-rata jauh lebih cepat. dan Hal ini di karenakan ada faktor dari study curve yang menyebabkan data yang dihasilkan tidak mencerminkan kondisi aktual dan penggunaan beberapa signal sebagai stimulus dalam pengujian perlu diperhatikan. Penggunaan single stimulus dirasa lebih mudah bagi responden dalam menjalankan tes. Kata kunci: Waktu Respon. Kelelahan. beban kerja Abstract Fatigue must be addressed immediately considering the negative impacts it has on workers, for example problems with work health and safety. One indicator that can be used as a marker of fatigue is a decrease in response time. In this study, response times were measured before and after work simulations in the laboratory with student respondents. The aim of this research is to see whether there is a difference in response time before and after being given a work simulation. The research was conducted at the Industrial Engineering Ergonomics Laboratory at Mercu Buana University with 10 students as respondents. The measurement using a Reaction timer. The method used is descriptive statistical analysis and Wilcoxon. The results of data processing obtained sig. 023240. 0- <410. 0 milidetik, kelelahan kerja tingkat sedang yaitu 410. 0- <580. 0 milidetik dan kelelahan kerja tingkat berat yaitu >580. 0 milidetik (Amalia & Widajati, 2. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan simulasi kerja dengan memberikan tugas sebagai beban kerja khususnya beban kerja mental, guna melihat bagaimana hubungannya dengan penurunan waktu reaksi sebagai indikator adanya kelelahan dengan melihat perbandingan waktu reaksi sebelum bekerja dan sesudah bekerja. simulasi ini dilakukan di dalam laboratorium dengan responden mahasiswa untuk memudahkan dalam mengumpulan data waktu reaksi. Dari penjelasan latar belakang diatas dapat disimpulkan perumusan masalah pada penelitian ini adalah Apakah terdapat perbedaan waktu reaksi sebelum dan sesudah simulasi kerja sebagai indikator kelelahan kerja. METODE PENELITIAN Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara waktu reaksi sebelum dan sesudah kerja. Pengukuran waktu reaksi dilakukan dengan menggunakan alat uji reaction timer, dan pengisian Visual Analog Scale (VAS) sebagai alat bantu pengukuran skor kelelahan yang dialami selama pengambilan data. Secara umum, metodologi penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut: Diagram pada Gambar 1 merupakan urutan pengerjaan penelitian ini. Penelitian ini diawali dengan tahap studi pendahuluan untuk mengidentifikasi permasalahan serta memahami kondisi yang melatarbelakangi penelitian. Selanjutnya dilakukan perumusan masalah, penetapan tujuan penelitian, dan studi literatur sebagai landasan teoritis serta acuan dalam menentukan metode penelitian yang digunakan. Setelah itu, dilakukan pilot study atau uji coba pengambilan data untuk memastikan instrumen dan prosedur penelitian telah sesuai sehingga mampu menghasilkan data yang valid dan reliabel pada tahap penelitian utama. Tahap berikutnya adalah pengumpulan data, yang meliputi pengukuran waktu reaksi sebelum dan sesudah perlakuan, penilaian Visual Analog Scale (VAS) sebelum, saat, dan setelah bekerja, serta pencatatan tingkat kesalahan dalam penyelesaian tugas. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan statistik deskriptif, seperti nilai rata-rata dan standar deviasi, serta dianalisis menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah Hasil pengolahan data selanjutnya dianalisis untuk menjawab tujuan penelitian, kemudian disusun menjadi kesimpulan dan saran sebagai rekomendasi bagi penelitian maupun implementasi selanjutnya. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 102-111 Gambar 1. Diagram Alir Metodologi Penelitian Sampel Penelitian Sampel penelitian berasal dari kalangan muda yaitu mahasiswa dengan range usia 1728 tahun. Dimana jumlah sampel diambil random sebanyak 10 orang responden, dimana jumlah responden ini memenuhi standar sampel berdasarkan Roscoe . untuk jumlah sampel penelitian eksperimental (Septiana et. al, 2. Responden yang diambil datanya adalah responden yang telah mengikuti petunjuk pengujian penggunaan alat sebelumnya dan tidak dalam kondisi lelah. Pemilihan responden mahasiswa dilatarbelakangi oleh lebih mudahnya pengambilan data. Terlebih dahulu responden mengisi lembar persetujuan untuk melakukan pengujian berdasarkan jam yang telah ditentukan. Alat yang Digunakan Secara objektif, pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur waktu reaksi yaitu reaction timer, sedangkan pengukuran subjektif dilakukan dengan menggunakan skala VAS. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 102-111 Gambar 2. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian Prosedur Pengambilan Data Metodologi pengambilan data waktu reaksi dilakukan secara acak dengan durasi yang acak pula. Pengujian ini membutuhkan 2 orang petugas yaitu sebagai pencatat dan petugas pemberi signal. Antara responden dan petugas signal harus terpisah, tidak boleh saling melihat sehingga harus dipisahkan dengan sekat diantara keduanya. ketika petugas signal menekan tombol signal yang diberikan, maka akan muncul di alat jawab responden berupa signal lampu atau suara yang harus segera ditekan sebagai respon jawaban. Setelah responden menekan jawaban signal tersebut pada papan respon, maka akan tercatat waktu reaksinya, dan petugas pencatat akan mencatat setiap waktu yang tertera sepanjang pengambilan data selama 20 kali Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah pemberian simulasi kerja, sedangkan skala VAS diisi dalam 4 sesi, yaitu sebelum test dimulai, setelah selesai test 1, setelah selesai simulasi, dan sesudah test selesai. Gambar 3. Prosedur Pengambilan Data HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan data dilakukan di Laboratorium dimana responden terlebih dahulu mengisi form kesediaan pengambilan data untuk penelitian dan memberikan skala VAS pada lembar VAS. Berikut adalah tabel rekapitulasi data VAS dan Error dari 10 responden Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 102-111 Tabel 1. Data Responden dan Skala VAS Responden Jenis kelamin Usia Pekerjaan Durasi tidur VAS 1 VAS 2 VAS 3 VAS 4 Error Perempuan Mahasiswa 7 jam Perempuan Mahasiswa 6 jam Perempuan Mahasiswa 5 jam Perempuan Mahasiswa 11 jam Perempuan Mahasiswa 5 jam Laki-laki Mahasiswa 5 jam Laki Mahasiswa 5 jam Laki Mahasiswa 6 jam Laki Mahasiswa 7 jam Laki Mahasiswa 8 jam Dari Tabel diatas dapat dilihat rata-rata pergerakan dari nilai vas meningkat yang artinya responden merasa kelelahannya bertambah seiring dengan waktu simulasi yang diberikan. adapun nilai error melambangkan tingkat kesalahan yang dialami akibat dampak dari kelelahan yang meningkat. dimana dapat disimpulkan peningkatan kelelahan akan berdampak pada banyaknya potensi error atau kesalahan yang akan dilakukan. Tabel 2. Data Waktu Reaksi Sebelum Simulasi Percobaan Waktu Reaksi Responden Kondisi sebelum Simulasi Kerja Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 102-111 Sesudah melakukan simulasi kerja tersebut, responden kembali akan diambil data waktu reaksi sesudah simulasi. Adapun data waktu reaksi sesudah simulasi tiap responden dapat ditampilkan pada tabel 3 di bawah. Data ini akan dilakukan pengujian menggunakan SPSS guna melihat bagaimana perbedaan antara sebelum dan sesudah simulasi. Tabel 3. Data Waktu Reaksi Sesudah Simulasi Percobaan Waktu Reaksi Responden Kondisi setelah Simulasi Kerja Data waktu responden sebelum dan sesudah kemudian dihitung rata-ratanya, minimal data dan maximal data. Berikut tabel perhitungannya: Tabel 4. Rekapitulasi Perhitungan RT sebelum dan sesudah Responden Rata-rata RT Sebelum Rata-rata RT Sesudah Max Sebelum Max Sesudah Min Sebelum Min Sesudah Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 102-111 RT Sebelum RT Sesudah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gambar 4. Grafik Perbandingan RT Sebelum dan Sesudah Adapun Hasil Perhitungan dengan menggunakan SPSS dengan metode non parametric Wilcoxon di nyatakan bahwa nilai signifikansi 0. 023 < p. dimana artinya adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara data sebelum dan sesudah simulasi. Gambar 5. Hasil Output SPSS dengan Metode Wilcoxon Namun dilihat dari hasil perhitungan dengan menggunakan rata-rata RT tidak sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa RT sesudah seharusnya jauh lebih lambat dibanding Dalam penelitian ini, hasil yang akan dibahas hanyalah hasil dari hasil penelitian mengingat tidak semua hasil penelitian harus sejalan dengan teori yang ada. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa waktu reaksi sesudah bekerja jauh lebih cepat disbanding sebelum bekerja, hal ini tentunya sangat tidak sejalan dengan teori yang ada, namun perlu digarisbawahi bahwa hasil penelitian sangat bergantung pada beberapa factor, diantaranya adalah cara pengambilan data yang benar, kondisi responden, jumlah sample, dan factor eksternal lainnya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi waktu respon seseorang adalah usia, jenis kelamin, kondisi psikologis, faktor lingkungan, kelelahan, jenis stimulus yang diberikan, kompleksitas stimulus, dan penggunaan tangan kanan atau kiri (Yusri, 2. Dalam penelitian ini salah satu faktor yang mungkin berpengaruh sangat adalah kerumitan alat sehingga membingungkan responden dalam merespon, terdapatnya study curve yang mengharuskan responden membiasakan diri terlebih dahulu lebih lama dari yang diberikan. Dalam pengambilan data, responden diperkenalkan dengan alat tersebut terlebih dahulu dan mencoba beberapa kali sambil mengingat reaksi dari tiap masing-masing tombol respon. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan percobaan alat diawal harus jauh lebih lama dimainkan responden sampai responden benar-benar terbiasa, mungkin bisa 3 kali atau lebih percobaan trial yang Hasil dari pengamatan dilapangan, responden lebih tanggap saat penggambilan data RT sehingga hal ini mengakibatkan data RT sesudah jauh lebih cepat dibanding sebelum simulasi kerja. oleh karenanya, harus dilakukan pengamatan mengenai berapa lama seharusnya Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 102-111 pengenalan alat tersebut dilakukan agar hasil yang diperoleh dapat mencerminkan kondisi RT responden yang sesungguhnya tidak ada efek study curve atau lainnya. Adapun rekomendasi dengan menggunakan alat ukur lain adalah dengan menggunakan Psychomotor Vigilance Task (PVT). Aplikasi ini sudah digunakan pada penelitian sebelumnya oleh pada tahun 2012 dimana aplikasi ini cara kerjanya sama yaitu menghitung waktu reaksi namun dalam aplikasi ini stimulus yang muncul hanyalah 1 jenis yaitu bentuk tampilan gambar yang muncul secara random dan otomatis, sehingga responden tidak perlu mengingat berbagai macam sinyal seperti yang digunakan saat ini . eberapa jenis suara dan beberapa lamp. Hal ini akan berpengaruh pada tahap awal pengujian. aplikasi yang lebih simple akan sangat memudahkan responden untuk mengerti dan memahami aturan mainnya sehingga study curve akan jauh lebih cepat dibanding dengan aplikasi stimulus berbagai signal karena butuh menghafal suara bunyi dan kode kode lampu yang ada. PENUTUP Simpulan Pada penelitian ini hasil yang di dapatkan tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kondisi waktu reaksi seseorang jauh lebih lambat ketika mengalami kelelahan. Hal ini dikarenakan oleh banyak faktor diantaranya adalah tingkat kesulitan dalam mengingat sejumlah stimulus yang diberikan dikarenakan alat ini menggunakan 2 signal yang berbeda yaitu lampu berwarna dan sinyal suara. untuk sinyal suara pun terdapat beberapa suara yang berbeda sehingga responden kesulitan mengingat signal-signal tersebut pada awal-awal pengambilan hal ini yang dapat memicu data pengambilan RT pada saat sebelum simulasi kerja jauh lebih lambat ketimbang dengan RT sesudah simulasi kerja. Oleh karenanya, diperlukan kajian penggunaan alat dan metodologi yang baik dikarenakan hal ini akan berdampak pada hasil Saran Untuk penelitian selanjutkan dapat menggunakan PVT sebagai perbandingan hasil dari keakuratan dan kemudahan pengambilan data. PVT merupakan aplikasi yang dapat di install di tablet dan di jalankan dimanapun. Adapun PVT terbaru telah diupdate dimana data yang keluar telah di record secara otomatis, sehingga tidak diperlukan mencatat waktu respon setiap Hal ini sangat memudahkan untuk pengambilan data di lapangan. Namun. PVT yang otomatis tersebut belum ada yang gratis, sehingga harus membeli dengan harga puluhan DAFTAR PUSTAKA