KESKOM. : 388-399 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS (J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A L T H) http://jurnal. Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit di Kecamatan Kertapati The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders in Kertapati District Dini Arista Putri1. Widya Ayu Pratiningsih2. Inoy Trisnaini3. Fetri Vera Girsang4. Najma Hoirunnisa5. Nurhayati6. Revia Najwa Fitriani7. Shanti Oktaviandi8. Titin Dwi Aryani9 1,2,3,4,5,6,7,8,9 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sriwijaya ABSTRACT Skin disorders are common health problems, environments with poor sanitation such as wetland Palembang City Health Office data in 2023 shows skin diseases ranked seventh with 21,271 cases, while in Kertapati District, scabies and pyoderma prevalence among elementary school children reaches over 60%. This study aims to analyze the relationship between environmental factors in settlementsAiincluding occupancy density, housing physical conditions, waste management, water quality, and flood riskAiand the incidence of skin disorders in Kertapati District. Palembang City. A quantitative study with a cross-sectional design and purposive sampling technique was conducted involving 106 respondents residing in Kemas Rindo and Ogan Baru Data were collected through structured questionnaires and analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between wall type . =0. and floor type . =0. with the incidence of skin disorders. Multivariate analysis identified floor type as the most dominant factor . =0. Exp(B)=4. , followed by ceiling type . =0. Exp(B)=0. The environmental factors, particularly floor and ceiling types, contribute to the risk of skin disorders. Improving the quality of housing infrastructure is necessary to reduce skin disorder cases in wetland ABSTRAK Gangguan kulit merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi, terutama pada masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi rendah seperti pemukiman lahan basah. Data Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2023 menunjukkan penyakit kulit menempati peringkat ketujuh dengan 21. 271 kasus, sementara di Kecamatan Kertapati prevalensi skabies dan pioderma pada anak sekolah dasar mencapai lebih dari 60%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor lingkungan permukiman, termasuk kepadatan hunian, kondisi fisik rumah, pengelolaan sampah, kualitas fisik air, dan kerawanan banjir, dengan kejadian gangguan kulit di Kecamatan Kertapati. Kota Palembang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan teknik pengambilan sampel purposive sampling terhadap 106 responden yang tinggal di Kelurahan Kemas Rindo dan Ogan Baru. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis dinding . =0. dan jenis lantai . =0. berhubungan signifikan dengan kejadian gangguan kulit. Analisis multivariat menunjukkan jenis lantai sebagai faktor dominan . =0. Exp(B)=4. , disusul jenis plafon . =0. Exp(B)=0. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan permukiman, khususnya jenis lantai dan plafon rumah, berkontribusi terhadap risiko gangguan kulit. Diperlukan upaya perbaikan kualitas hunian untuk menurunkan kejadian gangguan kulit di wilayah lahan basah. Keywords : skin disorders, environmental factors, wetland settlements, housing conditions, sanitation Kata Kunci : gangguan kulit, faktor lingkungan, lahan basah, kondisi fisik rumah, sanitasi Correspondence: Dini Arista Putri Email : inoytrisnaini@fkm. A Received 18 April 2025 A Accepted 12 September 2025 A Published 14 Oktober 2025 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: https://doi. org/10. 25311/keskom. Vol12. Iss2. Copyright @2017. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribution and reproduction in any medium Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit PENDAHULUAN Kulit merupakan lapisan terluar tubuh yang berfungsi sebagai pelindung terhadap lingkungan sekitar . Organ ini berperan penting dalam menjaga integritas tubuh dari paparan fisik, kimia, maupun biologis, sehingga kesehatan kulit menjadi aspek vital, terutama karena sifatnya yang sensitif, seperti pada area wajah . Penyakit kulit adalah gangguan yang dapat disebabkan oleh jamur, bakteri, parasit, virus, atau infeksi lain, dan dapat menyerang semua kelompok usia . Gejala seperti gatal seringkali memicu garukan yang menyebabkan luka, lepuhan, atau infeksi sekunder. Luka yang ditimbulkan oleh penyakit kulit ini akan menghasilkan ruam merah pada area kulit yang terkena infeksi, yang pada beberapa orang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman . Gangguan kulit umum meliputi kulit kering, ruam, jerawat, hingga dermatitis kontak yang dapat bersifat ringan hingga berat . Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki tingkat kejadian penyakit kulit yang cukup tinggi, terutama akibat suhu panas dan kelembaban yang mendukung pertumbuhan . WHO menyebutkan bahwa penyakit kulit termasuk 10 besar penyebab disabilitas di dunia umumnya tidak terdiagnosis dan tidak tertangani, terutama di negara berkembang . Studi Global Burden of Disease 2021 mencatat 4,69 miliar kasus insiden penyakit kulit dan subkutan yang menyebabkan 41,9 juta Disability-Adjusted Life Years (DALY. Infeksi kulit akibat bakteri menduduki posisi ketiga terbanyak dan berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi rendah . Di negara berkembang, penyakit kulit termasuk penyakit infeksi yang umum dengan prevalensi antara 2080% . Studi epidemiologi di Indonesia menunjukkan bahwa dari 389 kasus penyakit kulit, 97% di antaranya adalah dermatitis kontak. Dari jumlah tersebut, 66,3% merupakan dermatitis kontak iritan, sementara 33,7% adalah dermatitis kontak alergi . Menurut data Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2023, penyakit kulit menempati peringkat ketujuh dari sepuluh Keskom. Vol 11. No 2, 2025 penyakit terbanyak, dengan jumlah kasus 271 dari total 1. 492 penduduk yang menunjukkan bahwa masalah penyakit kulit masih menjadi beban kesehatan masyarakat . Kondisi ini juga sejalan dengan temuan penelitian di Kecamatan Kertapati, di mana prevalensi skabies dan pioderma pada anak sekolah dasar mencapai lebih dari 60%, dengan skabies terbukti meningkatkan risiko pioderma hingga 21 kali lipat, terutama pada lingkungan padat penduduk dengan sanitasi dan akses air bersih yang terbatas . Keberadaan lahan basah di suatu wilayah sangat penting, terutama bagi negara-negara dengan populasi padat, karena lahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai area permukiman, sumber air untuk minum dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari, bahkan untuk kegiatan pertanian . Akan tetapi, daerah lahan basah memiliki hubungan yang kompleks dengan kesehatan kulit manusia, dimana ekosistem ini dapat menjadi sumber paparan berbagai penyebab penyakit kulit. Penelitian di Desa Handil Sohor. Kalimantan Tengah penggunaan air gambut yang memiliki kualitas fisik dan kimia tidak memenuhi standar kesehatan . H rendah, kekeruhan tinggi, kandungan Fe dan Mn berlebi. berhubungan signifikan dengan keluhan penyakit kulit, di mana kontak Ou60 menit/hari meningkatkan risiko 2,8 kali dan frekuensi penggunaan Ou3 kali/hari meningkatkan risiko 10 kali lebih tinggi dibandingkan penggunaan rendah . Seringkali pemukiman lahan basah memiliki berbagai permasalahan sanitasi seperti ketersediaan air bersih, pembuangan limbah tinja, serta pengelolaan sampah . Penelitian lainnya menunjukkan bahwa skabies sangat endemik di komunitas miskin dengan kepadatan penduduk, sanitasi buruk, dan akses layanan kesehatan terbatas, kondisi yang juga merefleksikan tantangan kesehatan kulit di permukiman lahan basah padat penduduk . Kondisi fisik rumah yang tidak sehat dapat berpengaruh terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk masalah gangguan kulit. Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, komponen kondisi fisik rumah yang menjadi fokus penelitian dalam masalah gangguan kulit dapat meliputi kepadatan hunian, jenis atap, jenis plafon, jenis dinding, dan jenis lantai yang Tingkat kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Selatan rata-rata 95,7 jiwa/kmA dari jumlah penduduk seluruhnya 8. 320 jiwa dibanding dengan luas wilayah 87. 422,8 kmA. Kepadatan penduduk pada tahun 2018 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 94,56 jiwa/kmA . Hal tersebut berhubungan dengan masalah penyakit kulit yang masih ada sampai dengan saat ini terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar lahan basah. Ruang yang sempit dan tidak memadai dapat mengakibatkan kurangnya sirkulasi udara dan akumulasi kelembaban, yang merupakan faktor risiko bagi kejadian gangguan kulit. Di Indonesia, pengelolaan sampahnya sampai dengan saat ini masih belum optimal. Sampah biasanya hanya dibuang ke sungai atau tempat pembuangan tanpa melalui proses . Pengelolaan sampah tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, tapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat. Sampah yang dibiarkan dan tidak dikelola dapat menimbulkan masalah kesehatan . Kurangnya disiplin dalam menjaga kebersihan dapat menciptakan lingkungan yang tidak tertata akibat penumpukan sampah. Kondisi ini memunculkan berbagai ketidaknyamanan, seperti bau yang menyengat, kehadiran lalat, serta potensi penyebaran berbagai penyakit . Lingkungan yang bersih dan sehat berdampak positif pada kesehatan kulit. Sebaliknya, lingkungan yang kotor dapat menjadi sumber berbagai penyakit, termasuk penyakit kulit. Pengelolaan sampah yang dilakukan sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar lahan basah Kecamatan Kertapati telah dengan cara membuang sampah ke tempat pembuangan sampah umum atau diangkut petugas sebanyak 50,9%. Namun, masih terdapat sebagian kecil masih terdapat masyarakat yang mengelola sampah dengan cara dibakar . ,0%) Keskom. Vol 11. No 2, 2025 dan dibuang ke sembarang tempat . ,1%) sehingga perlu lebih diperhatikan lagi. Selain itu, kualitas fisik air yang digunakan oleh masyarakat, seperti warna, bau, dan kejernihan, juga mempengaruhi kesehatan Air yang tercemar dapat menyebabkan iritasi atau infeksi kulit, baik melalui konsumsi langsung maupun pemakaian sehari-hari . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor lingkungan permukiman, meliputi kepadatan hunian, kondisi fisik rumah, pengelolaan sampah, kualitas fisik air, dan kerawanan banjir dengan kejadian gangguan kulit di Kecamatan Kertapati. Kota Palembang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional untuk menganalisis hubungan antara faktor lingkungan permukiman dengan kejadian gangguan kulit. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di daerah lahan basah Kelurahan Kemas Rindo dan Ogan Baru. Kecamatan Kertapati. Kota Palembang dengan jumlah populasi yang tidak diketahui secara pasti. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dengan kriteria inklusi yaitu warga yang menetap di wilayah permukiman lahan basah Kelurahan Kemas Rindo dan Ogan Baru lebih dari 5 tahun, berusia lebih dari 18 tahun dan bersedia untuk dilakukan Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 106 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner Kuesioner tersedia dalam bentuk cetak maupun digital (Google For. guna memudahkan proses pengisian dan penginputan data. Data yang dikumpulkan mencakup variabel dependen dan Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian gangguan kulit, sedangkan variabel independennya meliputi kepadatan hunian, jenis atap, jenis plafon, jenis dinding, jenis lantai, syarat fisik air, cara pengelolaan sampah, dan kerawanan terhadap banjir. Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 26. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi setiap variabel, analisis bivariat dengan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dan kejadian gangguan kulit, serta analisis multivariat dengan regresi logistik berganda guna mengetahui variabel paling dominan yang berpengaruh terhadap kejadian gangguan kulit. Nilai signifikansi ditetapkan pada p<0. HASIL Hasil penelitian diperoleh melalui berbagai tahapan analisis, yang meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Penelitian ini melibatkan 106 responden yang tinggal di permukiman lahan basah Kecamatan Kertapati. Berdasarkan analisis univariat, diketahui bahwa sebagian besar responden . 5%) tidak mengalami gangguan kulit dalam 6 bulan terakhir, 5% mengalami gangguan kulit. Sebagian besar responden tinggal di rumah dengan kepadatan hunian yang memenuhi syarat . 8%), menggunakan atap jenis seng . 6%), serta memiliki dinding dari bahan memenuhi syarat seperti bata . 6%). Namun, masih terdapat rumah tanpa plafon . 8%) dan menggunakan lantai yang tidak memenuhi syarat, seperti kayu atau tanah . 4%). Mayoritas responden menggunakan air yang memenuhi syarat fisik . 4%) dan membuang sampah ke tempat pembuangan resmi atau diangkut petugas . 9%). Sementara itu, 36. 8% responden tinggal di daerah yang rawan banjir. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Analisis Univariat berdasarkan Variabel Dependen dan Independen No Variabel Kategori Frekuensi Persentase Gangguan Kulit Tidak Kepadatan Hunian Jenis Atap Jenis Plafon Jenis Dinding Jenis Lantai Syarat Fisik Air Cara Mengelola Sampah Rawan Kejadian Banjir Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Tidak ada Ada Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Dibuang sembarangan Dibuang ke TPS Tidak Pada analisis bivariat . dengan uji chi-square, ditemukan bahwa jenis dinding . =0. PR=2. 95% CI: 1. 073Ae6. dan jenis lantai . =0. PR=2. 95% CI: 1. 042Ae . memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian gangguan kulit. Variabel lain seperti Keskom. Vol 11. No 2, 2025 kepadatan hunian, jenis atap, jenis plafon, syarat fisik air, pengelolaan sampah, dan kerawanan banjir tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik . >0. Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit Tabel 2. Hasil Analisis Bivariat Hubungan Kepadatan Hunian. Jenis Atap. Jenis Plafon. Jenis Dinding. Jenis Lantai. Syarat Fisik Air. Cara Mengelola Sampah dan Rawan Kejadian Banjir dengan Kejadian Gangguan Kulit Variabel Gangguan Kulit Nilai PR Value . %CI) Tidak Total Kepadatan Hunian Tidak memenuhi syarat 6% 23 Memenuhi syarat 4% 57 Jenis Atap Tidak memenuhi syarat 3% 71 Memenuhi syarat Jenis Plafon Tidak ada 5% 47 439 . Ada 5% 33 Jenis Dinding Tidak memenuhi syarat 5% 30 032* 2. Memenuhi syarat 5% 50 Jenis Lantai Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Syarat Fisik Air Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat Cara Mengelola Sampah Dibuang sembarangan Dibuang ke TPS Rawan Kejadian Banjir Tidak 868 . Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik berganda menunjukkan bahwa jenis lantai merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian gangguan kulit . =0. Exp(B)=4. 95% CI: 1. 535Ae14. Variabel lain yang juga signifikan adalah jenis plafon . =0. Exp(B)=0. 95% CI: 0. 094Ae0. , yang menunjukkan bahwa keberadaan plafon berperan sebagai faktor pelindung terhadap gangguan kulit. Sementara itu, jenis dinding tidak menunjukkan signifikansi pada analisis multivariat . =0. yang berperan sebagai confounder. Tabel 3. Hasil Analisis Multivariat Hubungan Jenis Plafon. Jenis Dinding, dan Jenis Lantai dengan Kejadian Gangguan Kulit 95% CI Exp (B) atau Variabel P-value Lower Upper Jenis Plafon Jenis Dinding Jenis Lantai PEMBAHASAN Penelitian ini menganalisis hubungan antara kondisi fisik rumah dan faktor lingkungan dengan kejadian gangguan kulit di wilayah permukiman lahan basah Kecamatan Kertapati. Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Kota Palembang. Berdasarkan hasil analisis univariat, bivariat, dan multivariat terhadap beberapa variabel yang diteliti, ditemukan hasil yang penting terkait faktor risiko gangguan kulit di kawasan permukiman lahan basah. Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit Hubungan antara kepadatan hunian dan kejadian gangguan kulit Kepadatan hunian merupakan salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan risiko penyakit menular karena meningkatkan intensitas kontak antar individu. Faktor sosioeconomi berkontribusi besar terhadap epidemiologi penyakit kulit di daerah dengan sumber daya terbatas, dimana kepadatan rumah tangga yang tinggi secara khusus terkait dengan penyakit kulit yang dapat ditularkan . Namun, hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian dengan kejadian gangguan kulit . =0. Dari 32 responden yang tinggal di hunian dengan kepadatan tidak memenuhi syarat, hanya 9 orang . 6%) yang pernah menderita gangguan kulit. Sementara itu, pada kelompok responden dengan kepadatan hunian memenuhi syarat, proporsi yang tidak mengalami gangguan kulit lebih besar . Pengaruh kepadatan hunian terhadap gangguan kulit bersifat tidak langsung dan dimediasi oleh faktor-faktor lain seperti kualitas sanitasi lingkungan dan perilaku kebersihan . Studi-studi menunjukkan bahwa kepadatan hunian lebih sering berkorelasi dengan kejadian penyakit infeksi pernapasan, karena potensi transmisi yang tinggi dalam ruang yang sempit. Dalam konteks gangguan kulit, pengaruh kepadatan dapat dikatakan lebih bersifat tidak langsung, misalnya melalui interaksi antara penghuni dan sanitasi lingkungan yang buruk. Variasi dalam pola perilaku higiene dan faktor sosial-ekonomi dapat memoderasi hubungan tersebut, sehingga intervensi yang berfokus pada peningkatan praktik kebersihan diri mungkin lebih efektif daripada hanya mengatasi masalah kepadatan hunian. Hubungan antara jenis atap dan kejadian gangguan kulit Mayoritas . menggunakan atap jenis seng, asbes, atau rumbia yang dikategorikan tidak memenuhi syarat. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan Keskom. Vol 11. No 2, 2025 yang signifikan antara jenis atap dengan kejadian gangguan kulit . = 1. Dari 95 responden yang menggunakan atap tidak memenuhi syarat, 24 orang . 3%) pernah mengalami gangguan Atap yang tepat dapat mengurangi kelembaban dalam rumah, yang secara tidak langsung berpotensi menghambat pertumbuhan jamur atau bakteri penyebab gangguan kulit . Material bangunan yang terkena kelembaban memiliki risiko empat kali lebih tinggi mengalami biodeterioration akibat mikroorganisme . Namun, karena atap bukan merupakan permukaan yang berkontak langsung dengan penghuni, pengaruhnya terhadap kejadian gangguan kulit menjadi tidak signifikan dalam penelitian ini. Dalam konteks perumahan di daerah tropis dengan kelembaban tinggi seperti di lokasi penelitian, kelembaban tinggi dapat menyebabkan kerusakan atap secara perlahan dan memicu pertumbuhan jamur . Oleh karena itu, pemilihan material atap yang tepat dapat membantu mengurangi akumulasi panas dan kelembaban yang secara tidak langsung dapat meminimalisir pertumbuhan mikroorganisme penyebab gangguan kulit. Hubungan antara jenis plafon dan kejadian gangguan kulit Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 57 responden yang rumahnya tidak memiliki plafon, 10 orang . 5%) pernah mengalami gangguan kulit. Secara statistik, hubungan antara keberadaan plafon dengan kejadian gangguan kulit tidak signifikan pada analisis bivariat . = PR = 0. 95% CI: 0. 177Ae1. Meskipun plafon berperan dalam mengurangi suhu dan debu dalam ruangan, pengaruhnya terhadap gangguan kulit bersifat tidak langsung . Plafon jarang berkontak langsung dengan penghuni dan lebih berfungsi untuk meningkatkan kenyamanan ruangan. Namun, pada analisis multivariat, keberadaan plafon justru muncul sebagai faktor protektif yang signifikan terhadap gangguan kulit . = 0. Exp(B) = 0. 95% CI: 0. 094Ae0. Nilai Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit Exp(B) sebesar 0. 262 menunjukkan bahwa keberadaan plafon menurunkan risiko gangguan kulit sebesar 73. 8% dibandingkan rumah tanpa plafon, setelah mengontrol variabel lain dalam Studi terdahulu menerangkan bahwa plafon yang terawat baik dapat mencegah akumulasi debu dan mengurangi kelembaban udara, sehingga menurunkan risiko dermatitis dan eksim . Studi menunjukkan bahwa plester berbasis bio . ampuran semen-lime dengan selulos. meningkatkan kapasitas pengendalian kelembapan lebih dari 25%, serta mampu menyerap VOC seperti formaldehida hingga 70% . Temuan ini mengindikasikan bahwa plafon mengendalikan kondisi mikroklimat ruangan, yang berdampak pada kesehatan kulit penghuni. Oleh karena itu, instalasi plafon dapat dipertimbangkan sebagai strategi mitigasi untuk mengurangi risiko gangguan kulit, terutama di area dengan kelembaban tinggi. Hubungan antara jenis dinding dan kejadian gangguan kulit Analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis dinding memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian gangguan kulit . = 0. PR = 95% CI: 1. 073Ae6. Dari 46 responden yang memiliki dinding tidak memenuhi syarat . erbuat dari kayu atau campuran kay. , 16 orang . 5%) pernah mengalami gangguan kulit. Jenis dinding yang dominan digunakan oleh masyarakat di lokasi penelitian adalah dinding bata . 8%) dan dinding kayu . 7%). Dinding yang memenuhi syarat adalah yang terbuat dari bahan kedap air dan mudah dibersihkan, seperti bata dan batako. Sebaliknya, dinding yang terbuat dari kayu atau campuran kayu dengan bata cenderung lembab dan patogen . Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa dinding yang lembab, terutama di lahan basah, mikroorganisme yang dapat mempengaruhi Keskom. Vol 11. No 2, 2025 kesehatan kulit . Dinding yang tidak kedap air juga sulit dibersihkan dan cenderung menyerap kelembaban, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan jamur dan bakteri Namun, pada analisis multivariat, jenis dinding tidak lagi menunjukkan signifikansi . = . , yang menunjukkan bahwa pengaruhnya mungkin dimoderasi oleh variabel lain dalam Hubungan antara jenis lantai dan kejadian gangguan kulit Dari total 63 . 4%) masyarakat memiliki jenis lantai yang tidak memenuhi syarat, sebanyak 20 . 9%) pernah mengalami gangguan kulit. Analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis lantai memiliki hubungan signifikan dengan kejadian gangguan kulit . = 0. PR = 95% CI: 1. 042Ae7. Hasil analisis multivariat mengkonfirmasi bahwa jenis lantai merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian gangguan kulit . = 0. Exp(B) = 4. 95% CI: 1. 535Ae Nilai Exp(B) mengindikasikan bahwa setelah mengendalikan variabel lain dalam model, risiko gangguan kulit pada individu yang tinggal di rumah dengan lantai tidak memenuhi syarat hampir 5 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di rumah dengan lantai memenuhi syarat. Jenis lantai yang dikategorikan memenuhi syarat yakni keramik dan tegel, sedangkan jenis lantai yang dikategorikan tidak memenuhi syarat apabila terbuat dari kayu, tanah, semen dan campuran kayu dengan semen . Dalam konteks sanitasi rumah, jenis lantai yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap air cenderung meningkatkan kelembaban pada permukaan Lantai yang tidak kedap cenderung menyerap kelembaban, menciptakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa lantai yang selalu basah atau kotor meningkatkan risiko gangguan kulit . Dalam lingkungan lahan basah, lantai yang kurang higienis berperan penting sebagai Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit faktor risiko terjadinya gangguan kulit. Pertumbuhan jamur dan bakteri dapat terjadi pada debu lantai dalam kondisi kelembaban relatif yang tinggi dan berkelanjutan . Lantai yang menyerap kelembaban dan jarang dibersihkan meningkatkan suhu pada permukaan kulit, menyumbat pori-pori dan kelenjar keringat, sehingga dapat memperburuk kejadian biang keringat pada penghuni rumah . Batas bawah untuk pertumbuhan jamur pada kayu dan material komposit kayu adalah 78% RH pada suhu 2025AC, sementara material keramik memerlukan RH >90% untuk mendukung pertumbuhan . Hal ini menunjukkan pentingnya pemilihan bahan lantai yang kedap air dan mudah dibersihkan untuk meminimalkan risiko terjadinya gangguan Hubungan antara kualitas fisik air dan kejadian gangguan kulit Kualitas fisik air di Kecamatan Kertapati sebagian besar telah memenuhi standar . 4%), dan hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara syarat fisik air dengan kejadian gangguan kulit . = 0. OR = 95% CI: 0. 158Ae1. Menariknya, kelompok responden yang menggunakan air memenuhi syarat fisik justru lebih banyak mengalami gangguan kulit . 6%) dibandingkan kelompok yang airnya tidak memenuhi syarat. Meskipun air yang keruh atau tercemar dapat menyebabkan iritasi kulit, parameter fisik air tampaknya bukan faktor utama dalam kejadian gangguan kulit di lokasi penelitian . Studi terdahulu menegaskan bahwa kualitas air lebih sering dipengaruhi oleh kontaminasi biologis dibandingkan karakteristik fisik . Parameter fisik air seperti kejernihan sering menjadi indikator tidak langsung untuk kontaminasi Hal ini mungkin menjelaskan mengapa tidak ditemukan hubungan signifikan antara syarat fisik air dengan gangguan kulit dalam penelitian ini. Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Hubungan antara pengelolaan sampah dan kejadian gangguan kulit Cara masyarakat mengelola sampah tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian gangguan kulit . = 0. OR = 0. 95% CI: 0. 353Ae2. Sebanyak 50. masyarakat di Kecamatan Kertapati mengolah sampah dengan cara dikumpulkan lalu diangkut oleh petugas kebersihan atau diantarkan langsung ke TPS. Meskipun pengelolaan sampah yang buruk dapat meningkatkan polusi lingkungan, dampak langsungnya terhadap gangguan kulit tergantung pada jenis limbah dan pola paparan . Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa paparan langsung terhadap sampah dapat meningkatkan risiko dermatitis kontak melalui mikroorganisme dari sampah yang tidak ditangani dengan benar . Temuan ini menunjukkan pentingnya edukasi masyarakat tentang praktik pengelolaan sampah yang benar, terutama di daerah dengan akses terbatas terhadap layanan pengelolaan sampah formal, untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan termasuk penyakit Hubungan antara kerawanan banjir dan kejadian gangguan kulit Meskipun daerah yang rawan banjir sering dihubungkan dengan peningkatan risiko gangguan kulit akibat kelembaban tinggi dan pertumbuhan mikroorganisme, penelitian ini tidak kerawanan banjir dengan gangguan kulit . = OR = 0. 95% CI: 0. 297Ae1. Sebagian besar lokasi tidak rawan banjir yakni 2%, dengan gangguan kulit sedikit lebih tinggi pada responden yang tinggal di daerah rawan banjir . 3%) dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami gangguan kulit di daerah tersebut . 0%). Daerah menciptakan lingkungan yang lembap dan mendukung pertumbuhan jamur serta bakteri . Meskipun banjir dapat meningkatkan kelembaban Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit dan memicu pertumbuhan jamur dan bakteri di rumah-rumah yang sering terendam banjir, faktorfaktor seperti ketersediaan air bersih pasca banjir dan praktik kebersihan diri yang adekuat memegang peranan penting dalam mencegah gangguan kulit . Implikasi temuan Lingkungan fisik rumah yang tidak sehat khususnya dalam permukiman dengan kondisi lahan basah. Penelitian ini mengungkapkan bahwa jenis lantai merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian gangguan kulit, diikuti oleh keberadaan plafon sebagai faktor Lantai yang tidak kedap air, seperti kayu atau tanah, cenderung menyerap kelembaban, sehingga dapat menjadi tempat berkembangnya menyebabkan infeksi kulit . Keberadaan plafon yang baik dapat membantu mengendalikan kondisi lingkungan dalam rumah, seperti suhu dan kelembaban, yang pada akhirnya berkontribusi dalam mencegah gangguan kulit . Oleh karena itu, intervensi kesehatan masyarakat sebaiknya difokuskan pada perbaikan kondisi fisik rumah, terutama penggunaan bahan lantai dan dinding yang kedap air dan mudah dibersihkan, serta penambahan plafon untuk meningkatkan kualitas lingkungan dalam rumah. tinggal di rumah dengan lantai memenuhi syarat . eramik atau tege. Selain itu, keberadaan plafon juga berperan sebagai faktor protektif yang signifikan . =0. Exp(B)=0. 95% CI: , menurunkan risiko gangguan kulit 8% dibandingkan rumah tanpa plafon. Variabel lain seperti kepadatan hunian, jenis atap, syarat fisik air, cara pengelolaan sampah, dan kerawanan terhadap banjir tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian gangguan kulit. Meskipun pada analisis bivariat jenis dinding memiliki hubungan signifikan . =0. PR=2. 95% CI: 1. , namun hubungan tersebut tidak . =0. Temuan ini mengimplikasikan bahwa intervensi kesehatan masyarakat di permukiman lahan basah sebaiknya difokuskan pada perbaikan kondisi fisik rumah, terutama penggunaan bahan lantai yang kedap air dan mudah dibersihkan, serta penambahan plafon untuk mengontrol kelembaban dan suhu ruangan. Penelitian ini memberikan bukti empiris yang dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan perumahan sehat, khususnya di kawasan lahan basah, guna menurunkan prevalensi gangguan kulit dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. KONFLIK KEPENTINGAN Tidak ada konflik kepentingan. SIMPULAN UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini menunjukkan faktor lingkungan fisik rumah memiliki peran signifikan terhadap kejadian gangguan kulit pada masyarakat yang bermukim di kawasan lahan basah. Kecamatan Kertapati. Analisis menunjukkan bahwa jenis lantai merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian gangguan kulit . =0. Exp(B)=4. 95% CI: Individu yang tinggal di rumah dengan lantai tidak memenuhi syarat . anah, kayu, atau campuran kayu dengan seme. memiliki risiko hampir lima kali lebih tinggi mengalami gangguan kulit dibandingkan dengan mereka yang Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya atas dukungannya dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada instansi yang telah memberikan izin penelitian, serta kepada masyarakat yang telah bersedia berpartisipasi dan memberikan data selama pelaksanaan penelitian. Dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak sangat berarti dalam menyelesaikan artikel ini. Keskom. Vol 11. No 2, 2025 Dini Arista Putri, et al The Relationship between Environmental Factors in Wetland Settlements and the Incidence of Skin Disorders Hubungan Faktor Lingkungan Permukiman Lahan Basah terhadap Kejadian Gangguan Kulit DAFTAR PUSTAKA