https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PKN BERBASIS KONTEKSTUAL Ronggo Warsito1*. Bayu Indrayanto2, dan Dhiva Maulida Rizqi NurAoaini3 1PPKn. FKIP Universitas Widya Dharma Klaten 2PBSD FKIP Universitas Widya Dharma Klaten 3PBI Pascasarjana FKIP Universitas Sebelas Maret *E-mail: ronggo_warsito@unwidha. Abstrak Tujuan penelitian adalah . untuk mengetahui alasan-alasan sehingga pembelajaran PKn berbasis kontekstual relevan dalam upaya pengembangan karakter siswa, . menemukan kendala-kendala yang muncul dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual, dan . menemukan solusi-solusi yang dapat ditempuh dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa dan guru PKn kelas ViA SMP Negeri 1 Simo. Boyolali. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, interview, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, alasan-alasan sehingga pembelajaran PKn berbasis kontekstual relevan mengembangkan karakter siswa karena . Proses pembelajaran mengaktifkan semua potensi siswa, baik kognitif, afektif, dan psikomotor, . materi pembelajaran relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan . karakter berkembang karena pembelajaran relevan dengan dunia nyata siswa. Kedua, kendala-kendala yang muncul dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual adalah para siswa sebelumnya tidak dibiasakan mengaitkan materi di kelas dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari siswa. Ketiga, solusi-solusi yang dapat ditempuh dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual adalah senantiasa mengaitkan materi pembelajaran di kelas dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari para siswa. Kata Kunci: karakter. pembelajaran PKn Abstract The aims of this research are . to find out the reasons why contextual-based Civics learning is relevant in efforts to develop student character, . to find obstacles that arise in developing student character through contextual-based Civics learning, and . to find solutions that can taken in developing student character through contextual-based Civics This research uses a qualitative paradigm. The research subjects were students and teachers of Civics class ViA at SMP Negeri 1 Simo. Boyolali. Data validity uses triangulation of sources and methods. Data collection techniques use questionnaires, interviews, observation and documentation. The data analysis technique uses interactive The results of the research show, first, the reasons that contextual-based Civics learning is relevant to developing student character because . the learning process activates all student potential, both cognitive, affective and psychomotor, . the learning material is relevant to everyday life, and . character develops because learning is relevant to students' real world. Second, the obstacles that arise in developing student character through contextual-based Civics learning are that students were previously not accustomed to relating class material to the environment and students' daily lives. Third, solutions that can be taken in developing student character through contextual-based Civics learning are to always link learning material in class with the environment and students' daily lives. Keywords: character. Civics learnings https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 PENDAHULUAN Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah khususnya di SMP berorientasikan aspek pengetahuan. Proses belajar mengajar PKn bertumpu pada aspek kognitif (Rinjani. Wahdini. FI. Mulia. Zakir. , dan Amelia. , 2. Proses belajar mengajar di sekolah masih menerapkan model belajar yang condong ke domain kognitif dan psikomotor serta menomorduakan domain afektif, termasuk dalam hal ini adalah pengembangan karakter (Suriadi. HJ. Firman, dan Ahmad. , 2. Hasil belajar siswa selama ini hanya didasarkan pada hasil kerja. Pendidikan nilai dan karakter dalam hal penilaian juga terkesampingkan (Wibowo. dan Muliya. AP. , 2. Kebiasaan menomorduakan pendidikan nilai dan karakter akan memunculkan permasalahan baru, yakni merosotnya nilai-nilai moralitas bangsa (Nurohmah. AN. dan Dewi. DA. , 2. Sugara . menyatakan bahwasanya dunia pendidikan saat ini sedang dilanda wabah perihal merosotnya moralitas. PKn sebagai bagian dari mata pelajaran di lembaga pendidikan mempunyai misi dalam upaya menumbuhkan budi pekerti anak. Oleh karena itu sudah tepat apabila pada mata pelajaran PKn, anak diperkaya dengan pemahaman dan pengaplikasian pendidikan Pentingnya dipertegas oleh Charles dalam Warsito, dkk . yang menyatakan bahwa dengan menanamkan buah pikiran akan menuai tindakan, dengan menanam Tindakan akan menuai kebiasaan, dengan menanam kebiasaan akan menuai karakter dan dengan menanam karakter akan menbuai keuntungan. Maksud dari pernyataan ini adalah, bahwa dengan menanamkan ide-ide positif, maka akan diperoleh respon dari anak berupa tindakan yang positif pula. Dengan memberi contoh-contoh yang baik, maka pada diri anak akan tumbuh dan muncul kebiasaan yang baik pula. Dengan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada anak, maka akan tumbuh budi pekerti yang terpuji pada diri peserta didik. Penanaman budi pekerti ini dilakukan melalui kesetiaan dan dengan strategi pedagogis interaktif. Pernyataan ini linier dan bersesuaian dengan yang dikemukakan oleh Imtihanudin. Temuan penelitian ini menyatakan bahwa Pendidikan karakter atau budi pekerti bisa berjalan secara tepat bila dilandasi dengan kesetiaan, kelembutan, serta dengan strategi pedagogis interaktif. Kalau anak sudah memiliki karakter yang baik, maka orang tua tidak akan menemukan kesulitan dalam mendidik. Penelitian ini menyuguhkan dan turut mengkaji tiga kecerdasan moral dalam upaya mendukung pengembangan karakter yakni empati, hati nurani, dan kontrol diri. Dengan berusaha memperoleh pengetahuan baru tentang ajaran budi pekerti atau karakter, peserta didik sudah masuk pada tahapan knowing the good, misalnya pengetahuan atau konsep tentang Setelah mengetahu perihal empati atau peduli, peserta didik merasakan betapa penting sikap peduli terhadap sesama. Dalam hal ini siswa sudah masuk pada feeling the good. Setelah merasakan betapa pentingnya sikap empati, peserta didik akan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, berarti peserta didik sudah sampai pada tahapan acting the good. Rasa empati bukan hanya ditujukan terhadap sesama manusia, namun juga bisa ditunjukan terhadap lingkungan sekitar. Seseorang karena terbiasa bersikap positif atas dunia sekitar atau lingkungan tempat tinggal, maka bagi dirinya tumbuh rasa empati yang Proses belajar mengajar yang bersifat kontekstual pada dasarnya bersifat holistic . ersifat menyeluru. Dengan sifatnya yang holistik ini maka pemahaman siswa lebih luas dan integral. Menurut Johnson dalam Warsito, dkk . Pembelajaran kooperatif mempunyai karakteristik menyenangkan, membangkitkan https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 minat, terintegrasi, dan mengaktifkan siswa untuk berkolaborasi dengan sesama teman. Pada dasarnya pembelakjaran kontekstual mempunyai karakteristik holistik, mengaktifkan peserta didik, menggunakan sumber yang bervariasi, kolaborasi, dan lain-lain. Karakteristik lain yang dapat ditambahkan adalah guru kreatif, kelas hidup, sangat banyak karya siswa, dan lain-lain. Pernyataan di atas dapat diterjemahkan secara bebas bahwa pembelajaran kontekstual memberikan kesempatan kepada siswa dan guru untuk senantiasa mengaitkan materi yang dipelajari dengan dunia lingkungan siswa dan CTL merupakan pembelajaran yang berusaha memberi dukungan para guru untuk menghubungkan materi yang dikaji dengan dunia nyata siswa. Ada delapan komponen pokok dalam proses pembelajaran kontekstual. Adapun delapan komponen yang dimaksud adalah sebagai berikut, . menciptakan hubungan yang bermakna, . melaksanakan kegiatan yang prinsip, . belajar menurut masing-masing, . kolaborasi, . mengajak anak berpikir kritis dan kratif, . memperhatikan pribadi anak, . mendukung standar belajar yang tinggi, dan . menerapkan penilaian autentik. Dalam pendidikan karakter, kreativitas dan aktivitas siswa menjadi sangat penting ditekankan dalam pembelajaran, sebab proses belajar bersifat aktif, baik aktivitas fisik maupun otak atau mentalnya. Memperkuat aktivitas fisik, otak, mental spiritiual, dan lain-lain adalah sesuatu yang harus diupayakan guru terhadap para siswanya. Pernyataan akan pentingnya para siswa untuk aktif membangun pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap telah disepakati para ahli di bidang pendidikan. Tradisi budaya yang merupakan kearifan lokal masyarakat Nusantara tersajikan dengan sangat lengkap dan kaya akan nilai-nilai Secara terperinci nilai-nilai kearifan lokal tersaji dalam kehidupan sehari-hari misalnya konsep trimong yang meliputi momong, among, dan ngemong. trindel yang meliputi ngandel, kendel, dan bandel. Dua hal ini yakni trimong dan trindel adalah sebagian contoh nilai-nilai ajaran Ki Hajar Dewantara yang kaya akan ajaran Pendidikan karakter. Pembelajaran membangun karakter yang terintegrasi dengan pengajaran yang bersifat holistik. Tidak terlupakan dalam kaijan ini adalah mata pelajaran PKn yang banyak membangun karakter dan bersifat kontekstual. Pembelajaran kontekstual menyarankan agar semua bidang pengajaran senantiasa mengintegrasikan dengan pendidikan karakter, sehingga bukan hanya pelajaran PKn. Namun demikian, pembelajaran PKn tentunya memiliki tanggung jawab yang lebih dibandingkan mata Pelajaran yang lain perihal penanaman moral, budi pekerti, maupun pendidikan karakter. Pendidikan karakter oleh sebagian masyarakat dipahami sebagai pembelajaran baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas, dan sebagainya. Kesimpulan ini tentunya juga tidak salah. Pendidikan karakter banyak mengajarkan perihal sesuatu yang baik atau benar untuk dilakukan dan yang jelek atau salah untuk ditinggalkan. Selanjutnya Pendidikan mengamalkan langkah terpuji tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dari penjelasan ini dapat ditandaskan bahwa pendidikan karakter bukanlah membelajarkan teori-teori tentang kareakter kepada peserta didik. Pendidikan karakter bukanlah ceramah kejiwaan, pemberian kuliah tentang peradaban, dan bukan pembelajaran budi pekerti yang bersifat konseptual (Antara. , 2. Peran guru sedikit banyak dipengaruhi oleh dua faktor yakni karakteristik individu guru dan kelompok organisasi yang ada di sekitar kehidupan guru, yang kedua hal ini akan Dalam tataran individu, beberapa pakar telah menemukan bahwa keadaan mempengaruhi tindakan dan upaya perbaikan https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 yang akan dilakukan (Pitaloka. Dimyati, , & Purwanta. , 2. Hal yang terjadi pada sebagian besar guru, ternyata faktor kepribadian merupakan faktor utama disamping pengalaman mereka sebelumnya dan pengalaman setelah mereka Ketiga aspek yang terinternalisasi pada guru akan memberi dorongan positif untuk dapat lebih mengaktualisasikan diri dan memiliki rasa yang lebih besar untuk meraih keberhasilan. Pada akhirnya akan membuat mereka mengambil suatu tindakan yang membawa keberhasilan pelaksanaan kurikulum beraneka ragamAy (Peterson. , 2. Menurut Ki Hajar Dewantara, sebuah pengajaran bukanlah suatu tujuan, tetapi suatu alat mencapai tujuan. Pembelajaran IPS sebagai misal, merupakan sarana yang bukan hanya masalah-masalah pendekatan-pendekatan masalah sosial, keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki terkait dengan pemecahan masalah sosial. Pembelajaran IPS memiliki poesan moral menumbuhkan manusia yang memiliki kepekaan sosial, peduli terhadap sesama, bekerja secara runut, dan jujur (Galuh Mahardika. , & Nur Ramadhan. , 2. Pendidikan implementasinya di masyarakat membantu siswa memiliki tekad kuat lahir dan batin sehingga meningkatkan keadaban manusia. Adab sangat penting bagi manusia, karena dengan adab ini keluhuran manusia tetap terjaga. Manusia yang beradab senantiasa menjaga berhati-hati dalam mengarungi hidup. Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup juga mengajarkan perihal manusia beradab yakni terdapat pada sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Ki Supriyoko . 3: . , menyatakan bahwa. Auuntuk menjaga supaya budi pekerti atau karakter tidak hilang ditelan zaman maka gagasan menanamkan budi pekerti di sekolah perlu mendapat perhatian serius. Ay Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yang mengawali kiprah pendidikannya di Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa menanamkan budi pekerti . di sekolah adalah wajib hukumnya. Dalam proses belajar mengajar di kelas, model-model pembelajkaran yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti peserta didik. Pembelajaran yang berlangsung jangan hanya mengembangkan aspek pengetahuan, namun juga aspek afektif dan lebih-lebih aspek afektif atau nilai dan sikap. (Hakim. Dewi. , & Furnamasari. , 2. Seorang guru atau pendidik harus mampu meninggalkan polapola pembelajaran yang bersifat konvensional. Guru Pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara dengan konsepnya yang disebut Tringa . gerti, ngrasa. Guru harus mampu menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman siswa . , . , . Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Luki Adam Bahtiar . sebagai berikut. Ajaran Ki Hajar Dewantara perihal pentingnya membangun karakter peserta didik yang dalam pembelajaran disebut ngrasa, saat ini masih relevan. Arus globalisasi yang ditandai dengan semakin cepatnya proses komunikasi, informasi, dan menyangkut karakter bangsa. Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, dan kepribadian bangsa Indonesia menjadi filter masuknya budaya asing yang semakin deras. Budaya-budaya yang sesuai dengan kepribadian bangsa bisa masuk dan berkembang, sebaliknya budaya-budaya asing yang berseberangan atau bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila perlu Hal ini harus dilakukan oleh seluruh bangsa Indonesia agar budaya ketimuran yang adi luhung tetap terjaga dan terpelihara. Pendidikan karakter pada masa sekarang ini sedang gencar-gencarnya digalakkan, terutama di dunia pendidikan. Oleh karena itu https://journal. id/widyadidaktika penelitian ini berusaha memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam memecahkan Indonesia pengembangan karakter dan budaya bangsa (Kurniawan. , 2. Permasalahan pengembangan karakter bangsa di era sekarang, yang orang menyebut dengan globalisasi mendesak untuk segera dimasyarakatkan. Atas dasar uraian di atas, penelitian berjudul Pengembangan Karakter Siswa melalui Pembelajaran PKn Berbasis Kontekstual mendesak untuk dilakukan. METODE PENELITIAN Dalam suatu penelitian, penggunaan metode merupakan hal yang penting. Ketepatan dalam memilih metode akan menentukan kualitas penelitian yang dilakukan. Sesuai dengan judul yang ada, penelitian ini menerapkan penelitian dengan paradigma Sesuai paradigma yang dipilih, maka metode penelitian juga berjenis kualitatif (Rukin, 2. Tempat penelitian di SMP Negeri 1 Simo. Boyolali dengan alamat Jalan Singoprono. Raya 454 Simo. Boyolali. Jawa Tengah. E-mail: smp_1_simo@yahoo. Pelaksanaan penelitian di semester gasal tahun pelajaran 2022/2023, yakni dimulai bulan Juli 2022 dan berakhir Januari 2023. Teknik angket digunakan untuk mengetahui karakter siswa. Angket yang digunakan berbentuk angket langsung dan Dikatakan langsung, karena responden langsung mengisi pertanyaan yang ada perihal dirinya sendiri dan tidak mewakilkan. Dengan angket ini akan mampu menggali tentang penguatan karakter siswa. Sebelum digunakan untuk penelitian, dilakukan validasi instrumen angket dengan validasi isi. Validasi isi dilakukan dengan menggunakan validitas logis yakni dengan membuat kisi-kisi kuesioner (Flick. , 2. Validitas tampang menunjukkan kuesioner yang disusun dari perwajahannya telah memaparkan apa yang seharusnya digali. JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Terhadap keabsahan kuesioner ini telah ditunjukkan dari pertanyaan-pertanyaan yang membangun kuesioner tersebut. Uraian ini menunjukkan bahwa instrumen kuesioner ini telah dibangun dari aspek-aspek yang relevan. Adapun validitas logis disebut juga validitas Dari validitas logis atau validitas pencuplikan, instrument kuesioner ini telah memenuhi untuk pengembangan pendidikan Dari validitas logis ini pula, kelompok butir angket penguatan karakter telah merupakan penjabaran dari kisi-kisi pertanyaan yang telah disusun berdasarkan materi pengembangan pendidikan karakter. Dengan mengisi kuesioner, para siswa mendapatkan wawasan tentang pengembangan karakter, memahami baik-buruk, benar-salah, terpuji-tidak Penelitian ini berjenis kualitatif, maka metode pengumpulan data yang digunakan juga disesuaikan (Galanis. , 2. Metode wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan baik di awal penelitian maupun pada saat penelitian berlangsung. Ketiga metode pengumpulan data ini telah digunakan oleh peneliti saat mengawali kegiatan penelitian. Peneliti melakukan wawancara dengan informan yang relevan. Untuk melengkapi data hasil wawancara, dilakukan Teknik observasi dan Peneliti mengamati bagaimana perilaku siswa saat menghikuti pembelajaran, saat istirahat, saat dim perpustakaan, dan Peneliti juga mengamati bagaimana antar teman saling berkomunikasi, bagaimana saat siswa berkomunikasi dengan guru, dan Terhadap seluruh data yang diamati dan dinilai memberi dukungan kelengkapan Teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Simo. Boyolali diharapkan mampu memberikan gambaran bahwa pembelajaran PKn sangat berperan dalam pengembangan karakter. Riset yang dilakukan berjenis kualitatif, maka analisis data yang digunakan disesuaikan menerapkan analisis kualitatif (Williamson. https://journal. id/widyadidaktika Given. , & Scifleet. , 2. Pada tahapan penelitian dengan paradigma kualitatif ini, peneliti berupaya secara sungguh-sungguh agar dapat mendeskripsikan pengembangan karakter secara tepat. Teknik analisis data dalam penelitian menerapkan analisis interaktif yakni berupa Components of Data Analysis: Interactive Model (Miles,M. Huberman,A. & Saldana. , 2. Analisis interaktif meliputi tiga komponen yakni . Data reduction . eduksi dat. , . Data display . enyajian dat. , dan . conclusions drawing/verification . enarikan kesimpulan/verifikas. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti telah melakukan kunjungan ke SMP Negeri 1 Simo khususnya kelas Vi yang menjadi subjek penelitian. Peneliti telah melakukan wawancara baik dengan guru PKn, siswa kelas Vi, dan juga kepada Wakasek Kurikulum. Selain itu, peneliti juga telah melakukan observasi atau pengamatan baik terhadap keberadaan sekolah, juga pengamatan perilaku siswa. Selanjutnya untuk mendapatkan data yang bisa dijadikan memori, peneliti telah mengumpulkan dokumen-dokumen penting yang mampu mengulas perihal pengembangan pendidikan karakter melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual di sekolah tersebut. Hasil riset menunjukkan bahwa pembelajaran PKn berbasis kontekstual yang mengutamakan pengembangan pendidikan karakter sangat dibutuhkan peserta didik. Di lembaga Pendidikan ini, sebagian para guru melakukan pengetahuan . ognitive oriente. dan sangat minim menyentuh aspek sikap atau nilai. Dari kegiatan interview dengan guru PKn SMP Negeri 1 Simo diperoleh informasi bahwa buku-buku pelajaran yang sekarang ada belum memadai. Dari aspek materi terlihat kurang lengkap dan terputus-putus sehingga membuat pengertian menjadi kabur dan tidak Dari aspek pendidikan karakter, buku pelajaran SMP belum banyak memuat JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 pendidikan karakter. Kajiannya lebih banyak memuat materi belaka. Para guru dan kepala sekolah sangat setuju apabila buku yang sekarang digunakan memuat pendidikan karakter untuk menghilangkan kesan bahwa pelajaran PKn itu hanya sekedar hafalan. Hasil penelitian yang terkait rumusan masalah menunjukkan, pertama, alasan-alasan PKn kontekstual relevan mengembangkan karakter siswa karena . Proses pembelajaran mengaktifkan semua potensi siswa, baik kognitif, afektif, dan psikomotor, . materi pembelajaran relevan dengan kehidupan seharihari, dan . karakter berkembang karena pembelajaran relevan dengan dunia nyata siswa. Pembelajaran PKn berbasis kontekstual akan mampu mengembangkan semua potensi siswa, baik potensi kognitif, afektif, maupun Ranah pengetahuan atau domain kontekstual mendapatkan angin untuk mampu berkembang dengan baik. Aspek keterampilan atau domain psikomotor juga terkembangkan dengan baik melalui pembelajaran berbasis kontekstual. Terakhir ranah sikap atau domain afektif, biasanya dengan model konvensional sering terabaikan. Namun dengan menggunakan model pembelajaran berbasis kontekstual mendapatkan porsi yang tidak kalah pentingnya Kedua, kendala-kendala yang muncul dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual adalah para siswa sebelumnya tidak dibiasakan menghubungkan pembelajaran di kelas dengan lingkungan serta kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran konvensional biasanya kurang mengaitkan materi pembelajaran atau materi yan g dikaji dengan lingkungan kehidupan sekitar Model pembelajaran lebih sering menggunakan metode ceramah dan jarang menggunakan model pembelajaran problem based learning maupun project based learning. Pembelajaran https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 menerapkan model pembelajaran kooperatif misalnya dengan metode jigsaw, numbered head together, team game tournament, dan Ketiga, solusi-solusi yang dapat ditempuh dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual adalah senantiasa menghubungkan pembelajaran di kelas dengan lingkungan dunia siswa seharihari. Mengaitkan materi pembelajaran di kelas dengan lingkungan sekitar siswa adalah salah satu ciri pembelajaran kontekstual. Materi pembelajaran yang senantiasa terkait dengan dunia nyata siswa menjadikan pembelajaran lebih menarik dan lebih mudah dipahami peserta Dalam hal ini para siswa merasa lebih nyaman dalam belajar, belajar tanpa paksaan dan tekanan, ilmu yang dikaji lebih mudah untuk dicerna, dan sebagainya. Proses berlangsung di sekolah yang selama ini dilaksanakan khususnya mata pelajaran PKn masih terfokus pada aspek kognitif . ognitive Sementara ini, nilai-nilai kearifan lokal yang kaya akan pendidikan karakter yang sebenarnya diyakini banyak orang dan masyarakat bisa menjadikan insan lebih manusiawi, berbudaya, berbudi luhur, dan kuat Ketidakberhasilan dalam pendidikan nilai mengakibatkan orang menjadi barbar, amoral, dan kurang beradab. Kenyataan ini relevan dengan yang disampaikan oleh Hidayatullah . Penelitian ini memberikan masukan pentingnya pendidikan karakter bagi siswa untuk memberikan tuntunan perilaku, karakter, budi pekerti luhur. Kajian pengembangan aspek afektif ini difokuskan pada aspek pengembangan diri untuk senantiasa bersikap optimisme dalam mengejar sesuatu yang baik, bermanfaat dalam hidup, serta beberapa nilai-nilai keadaban yang mampu mengantarkan peserta didik menjadi pribadi yang berbudi luhur. Penelitian ini berupaya menyimpulkan betapa pentingnya ajaran moral, tuntunan budi pekerti, karakter-karakter, yang semuanya mampu membina kehidupannya menuju pribadi yang dewasa. Dengan tidak meninggalkan pentingnya pendidikan karakter maka kehidupan masyarakat menjadi lebih baik serta berjalan dengan baik pula (Jannah. , & Umam. , 2. Melihat fakta-fakta saat ini, maka pendidikan nilai atau karakter sangat dibutuhkan (Warsito and Asrowi, 2. Pendidikan nilai memiliki tugas dan tanggung jawab membentuk watak dan kepribadian peserta didik. Penelitian oleh Mattar dan Khalil . , menjelaskan betapa pentingnya Pendidikan karakter dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik. Hasil keduanya menegaskan kaitan yang era tantara Pendidikan karakter dan budi pekerti dengan pembentukan tingkah laku peserta didik. Pembelajaran PKn yang konvensional kurang maksimal menggunakan model-model pembelajaran yang mampu menumbuhkan karakter siswa (Pratiwi. , & Trisiana. Pembelajaran menggunakan ceramah dan kegiatan siswa masih lebih banyak mencatat. Kegiatan siswa yang hanya mendengarkan dan mencatat materi pembelajaran tanpa banyak dilatih dengan pemecahan masalah dan penanaman karakter pengembangan potensi anak. Namun demikian pemandangan yang seperti ini dalam pembelajaran konvensional tidak sedikit terjadi di lapangan. Seorang pendidik seyogyanya membuat rencana dan mampu merealisasikan rencana yang telah dibuat. Akibat dari belum pembelajaran PKn yang selama ini berjalan benar-benar hanya bersifat cognitive oriented (Palupi. , 2. Pembelajaran yang hanya sampai pada intelligent quotient semestinya dibersamai dengan emotional quotient dan spiritual Pembelajaran tidak hanya berhenti di https://journal. id/widyadidaktika ranah pengetahuan, tetapi harus sampai pada ranah keterampilan dan lebih-lebih lagi ranah nilai dan sikap. Peserta didik senantiasa mendapatkan didikan moral dan penanaman karakter baik di sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial. Hal ini sejalan dengan nilainilai kontekstual di masyarakat yakni konsepsi AuTringaAy yang meliputi ngerti, ngrasa, dan Makna dari nilai-nilai luhur ini adalah hendaklah mampu menjadikan siswa mengerti, menjadikan siswa peka untuk merasakan tuntunan baik dan buruk serta siswa aktif dalam belajar . earning by doin. (Warsito, dkk. Dalam pembelajaran yang baik, khususnya pembelajaran PKn, guru seharusnya memotivasi siswa untuk senantiasa aktif berpartisipasi atas pembelajaran dan masuk ke Ini relevan dengan pernyataan Hakim. Dewi. , & Furnamasari. yang mengemukakan bahwa motivasi atau dorongan yang paling mendasar bagi seorang siswa adalah keinginan untuk masuk ke dalam situasi pembelajaran. Dalam hal ini, guru memotivasi siswa dengan beberapa cara yakni, . menumbuhkan perhatian siswa didik, . menseting pembelajaran kontekstual, yakni guru senantiasa mengaitkan materi yang dikaji dengan lingkungan sekitar siswa . selalu berupaya membangkitkan kepercayaan diri pada peserta didik, dan . peserta didik benar-benar dibuat puas dan merasa mantap setelah mengikuti pembelajaran. Motivasi dari guru dapat ditumbuhkan kepada anak pada saat proses pembelajaran dan sekalian digunakan untuk penanaman karakter. Selain motivasi yang datang dari guru, sebenarnya ada upaya dalam bentuk yang berbeda yang dapat dijadikan untuk memotivasi peserta didik dalam mengkaji sesuatu. Motivasi yang dimaksud di sini yakni selalu mengaitkan materi yang dikaji dengan lingkungan siswa . Karena yang dikaji senantiasa bersesuaian dengan kehidupan siswa, maka peserta didik sangat memerlukan bahan atau JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 kajian tersebut. Dalam proses belajar mengajar, para guru disarankan untuk senantiasa mengaitkannya dengan lingkungan belajar Selain itu juga bahan yang dikaji lebih mudah untuk dipahami karena bersinggungan dengan dunia nyata siswa. Pembelajaran PKn dalam hal ini dapat dibantu dengan mengimplementasikan cerita rakyat, termasuk di dalamnya perjuangan Ki Hajar Dewantara. Guru PKn harus berupaya mengaitkan pembelajaran dengan nilai-nilai kearifan lokal. Nilai pedagogis dari cerita rakyat yang penuh dengan tuntunan tingkah laku merupakan sumber budaya dan sumber belajar di kelas. Hal ini pun bisa dikatakan bersifat Hal ini disebabkan materi yang dikaji bersesuaian dengan nilai-nilai kearifan Pembelajaran PKn yang seperti ini sangat cocok dan relevan dengan konsep pembelajaran Terkait dengan hal ini, alangkah baiknya guru senantiasa membelajarkan siswa dengan pembelajaran berbasis kontekstual, termasuk dalam hal ini adalah pembelajaran PKn. Pembelajaran PKn yang senantiasa diimplementasikan dengan mengaitkan nilainilai kearifan lokal misalnya berbasis nilai luhur Dewantara sangat dibutuhkan siswa karena sangat kontekstual. Nilai-nilai luhur ini akan tampak dari karya-karya besar Beliau Ki Hajar. Ferzacca Steve Artikel Jurnal Internasional AuEthosAy juga menampilkan betapa pentingnya nilai-nilai kearifan lokal. Dalam artikel jurnal tersebut dipaparkan bagaimana seseorang bisa menjadi cerdas, berakhlak, dan berkarakter melalui pengkajian nilai-nilai kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan lokal bangsa Indonesia sangat beragam. Ada nilai kearifan lokal yang bersumber dari cerita rakyat atau SIMPULAN Proses pembelajaran PKn di sekolah sebagian besar terfokus pada aspek kognitif . ognitive oriente. Salah satu faktor yang tampak dari kenyataan tersebut adalah model https://journal. id/widyadidaktika pembelajaran yang berorientasi pada aspek Model pembelajaran konvensional bertumpu dan bersandar pada segala sesuatu yang sifatnya teoritis. Prestasi atau kinerja siswa selama ini hanya bertumpu hasil kerja tanpa pengembangan karakter. Guru dalam menilai siswa Sebagian masih melupakan aspek sikap dan karakter. Dalam buku Karya Ki Hajar Dewantara banyak dikaji nilai-nilai luhur ajaran beliau yang membahas tentang pentingnya ajaran budi pengembangan karakter. Ajaran-ajaran Beliau ini sangat kontekstual. Kelima materi ini akan sangat bermakna dan relevan bagi siswa dalam rangka membangun karakter. Kelima pendidikan karakter ini diajarkan dengan menggunakan metode trilogi kepemimpinan yang juga sangat Kajian ini menyimpulkan bahwa pertama, alasan-alasan sehingga pembelajaran PKn mengembangkan karakter siswa karena . Proses pembelajaran mengaktifkan semua potensi siswa, baik kognitif, afektif, dan psikomotor, . materi pembelajaran relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan . karakter berkembang karena pembelajaran relevan dengan dunia nyata siswa. Kedua, kendalakendala yang muncul dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual adalah para siswa menghubungkan materi yang dikaji di kelas dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari Ketiga, solusi-solusi yang dapat ditempuh dalam pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran PKn berbasis kontekstual adalah senantiasa menghubungkan segala sesuatu yang dikaji di kelas dengan lingkungan kehidupan peserta didik sehari-hari. Penerapan proses belajar mengajar PKn berbasis kontekstual sangat efektif dalam mengembangkan karakter siswa di SMP Negeri 1 Simo. Boyolali. JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 62-71 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 DAFTAR PUSTAKA