91 Penerapan Terapi Nonfarmakologis Metode Sitz Bath Pada Ibu Postpartum Fisiologi Dengan Nyeri Episiotomi Iva Annisha Novira1. Melati Inayati Al Bayani2. Kusniyati Utami2 RS Universitas Mataram1 Stikes Yarsi Mataram2 Email: ivaannisha@gmail. ABSTRACT Every mother undergoing childbirth who has an injury to the perineum will feel pain, either a wound made like an episiotomy or a spontaneous tear wound. Pain management can be done nonpharmacologically, one of them is the Sitz Bath method, which is a safer choice for postpartum mothers because it reduces risks and side effects and is in line with physiological processes. The purpose of this study is to describe nursing care using the Sitz Bath method in reducing the intensity of episiotomy pain in postpartum physiology mothers. With a case study approach on primigravidian physiologi postpartum Results indicated that implementation of the Sitz Bath to reduce the intensity of pain is influenced by the level of knowledge of the mother, mobilization of the mother during postpartum, and support from the family, as well as support from health workers to provide knowledge. After 4 times Sitz Bath metho applied, there was a decrease in pain intensity in the perinum wound of postpartum physiology primigravida. It is expected that the other researcher explore the other intervention to reduce episiotomy pain. Keywords: Sitz Bath Method. Postpartum Mother. Episiotomy. Pain. Nursing Care. ABSTRAK Setiap ibu yang menjalani proses persalinan yang mengalami luka pada perineum akan merasakan nyeri, baik luka yang dibuat seperti episiotomi atau luka robekan spontan. Penanganan nyeri dapat dilakukan secara nonfarmakologis, salah satunya dengan metode Sitz Bath yang menjadi pilihan lebih aman digunakan bagi ibu postpartum karena mengurangi resiko dan efek samping serta sejalan dengan proses fisiologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan asuhan keperawatan dengan metode Sitz Bathdalam mengurangi intensitas nyeri episiotomi pada ibu postpartum fisiologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada satu responden ibu postpartum fisiologis Pelaksanaan tindakan metode Sitz Bath untuk mengurangi intensitas nyeri dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu, mobilisasi ibu saat postpartum, dukungan dari keluarga, dan dukungan dari tenaga kesehatan untuk memberikan pengetahuan sehingga intensitas nyeri berkurang. Setelah dilakukan tindakan metode Sitz Bath sebanyak 4 kali terjadi penurunan intensitas nyeri pada luka perineum ibu postpartum fisiologi primigravida. diharapkan para peneliti lain dapat mengembangkan penelitian untuk menurunkan nyeri episiotomi Kata Kunci: Metode Sitz Bath. Ibu Postpartum. Episiotomi. Nyeri. Asuhan Keperawatan. PENDAHULUAN Persalinan kondisi fisiologis yang akan dialami oleh setiap wanita (Ilmiah WS, 2. Robekan perineum merupakan penyebab kedua Robekan perineum selama proses persalinan kala II umumnya terjadi di garis tengah dan bisa meluas bila persalinan teralu cepat dan ukuran bayi yang semakin besar (Prawitasari dkk, 2. Oleh karenanya dalam persalinan tindakan episiotomi sering dilakukan untuk mengendalikan robekan penyembuhan luka karena lebih mudah dijahit dan menyatu kembali (Manuaba. Luka mempengaruhi kesejahteraan fisik dan psikologis ibu postpartum, sekitar 2324% ibu postpartum mengalami nyeri dan ketidaknyamanan selama 12 hari postpartum (Judha, 2. Hampir 90% proses persalinan normal mengalami robekan di perineum baik dengan atau tanpa episiotomi. dunia pada tahun 2009 terjadi 2,7 juta kasus robekan . perineum pada ibu bersalin. Angka ini diperkirakan meningkat mencapai 6,3 juta pada tahun 2020, seiring kurangnya pengetahuan ibu (Sayiner. Menurut Pusat Data dan Informasi Kemenkes Republik Indonesia 2018 jumlah ibu bersalin di Indonesia sebanyak 637 jiwa, sedangkan di Nusa Tenggara Barat 109. 374 jiwa. Menurut Data Profil Puskesmas Denggen Lombok Timur jumlah ibu bersalin tahun 2019 132 jiwa terdapat di 5 desa dan 1 kelurahan yang di bina Puskesmas Denggen. Pemulihan ibu postpartum dapat berlangsung selama 3 bulan atau 6 minggu . Selama masa pemulihan penting sekali melakukan perawatan masa postpartum yang tepat agar terhindar dari komplikasi postpartum yaitu infeksi nifas. Hal ini akan dapat menjadi masalah apabila penanganan perawatan luka perineum tidak tepat dan ginekologis (Primadona, 2. Setiap ibu yang menjalani proses persalinan yang mengalami luka pada perineum akan merasakan nyeri, baik luka yang dibuat seperti episiotomi atau luka robekan spontan. Ketidaknyamanan dan nyeri yang dialami ibu postpartum akibat robekan perineum biasanya ibu takut untuk bergerak setelah persalinan. Bahkan nyeri akan berpengaruh terhadap mobilisasi, pola istirahat, pola makan, psikologis ibu, kemampuan untuk buang air besar atau buang air kecil, aktivitas sehari-hari dalam hal menyusui dan mengurus bayi (Kettle dan Frohlich. Penanganan nyeri dapat dilakukan secara nonfarmakologis yang menjadi pilihan yang lebih aman digunakan bagi ibupostpartum karena mengurangi resiko dan efek samping serta sejalan dengan proses fisiologis. Salah satu contoh terapi dengan Sitz Bath. Intervensi ini juga ekonomis dan dapat dilakukaan oleh HidroterapiSitz Bathterbukti bermanfaat untuk terapi pemulihan. Terapi ini menggunakan prinsip hidroterapi pada posisi duduk (Sitz Bat. Terapi Sitz Bath meliputi perendaman bagian perineum dalam air hangat atau panas untuk ketidaknyamanan serta meningkatkan proses kesembuhan luka dengan cara membersihkan perineum dan anus yang akan membantu meningkatkan sirkulasi darah serta mengurangi inflamasi. Sitz Bath dilakukan antara 15-30 menit (Lockhart. Anita dan Lyndon, 2. Sitz Bathdilakukan 2 kali dalam sehari. Pada hari yang sama satu kali di siang hari dan malamnya satu kali, karena akan terlihat perubahannya jika dibandingkan hanya satu kali. Satu kali sesi terdiri dari alternatif air hangat dan air dingin dengan pengukuran waktu selama 12 menit. Dalam 12 menit terdiri dari 3 siklus, yaitu 2 menit dalam air hangat dan lalu diganti dengan air dingin, diulangi sampai 3 kali atau tergantung dengan tingkat keparahan penyakitnya (Khairani, 2. Berdasarkan menerapkan perawatan metode Sitz Bath pada ibu postpartum dengan episiotomi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penerapan intervensi pada pasien postpartum dengan menggunakan metode Sitz Bath, hal tersebut akan dituangkan dalam sebuah Karya Tulis Ilmiah dengan judul AuPenerapan Terapi Nonfarmakologis Metode Sitz Bath pada Ibu Postpartum Fisiologi dengan Nyeri EpisiotomiAy. METODE Penelitian studi kasus ini dilaksanakan PuskesmasDenggen Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur pada tanggal 6-9Juni tahun 2020. Subjek studi kasus dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah ibu postpartum fisiologi dengan episiotomi yang telahmemenuhi kriteria inklusi. Fokus studi kasus pada Karya Tulis Ilmiah ini adalah penerapan metode Sitz Bathuntuk mengurangi intensitas nyeri episiotomi pada Ibu Instrumen penelitian yang digunakan dalam studi kasus ini yaitu lembar observasi nyeri dengan menggunakan pengukuran WongBaker Faces Pain Rating Scale dan lembar kerja dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan penilaian intensitas nyeri episiotomi, pemeriksaanfisik, dan studi dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan dengan cara observasi oleh peneliti dan studi dokumentasi yang menghasilkan data untuk selanjutnya diinterpretasikan oleh peneliti dibandingkan teori yang ada sebagai bahan untuk memberikan rekomendasi dalam intervensi tersebut. HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di Pondok Bersalin Desa (Polinde. Denggen Timur KabupatenLombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Polindes ini bernaung dibawah wilayah kerja Puskesmas Denggen yang merupakan Puskesmas yang terakreditasi dengan status utama. Puskesmas ini yang merupakan fasilitas kesehatan yang berada di Kecamatan Selong. Pengkajian mengadakan wawancara terhadap orang tua ibu, observasi, pemeriksaan fisik, dan Pengumpulan data pada pasien tidak dilakukan sekaligus karena diselingi dengan kegiatan pelaksanaan tindakan Berdasarkan dilakukan pada tanggal 06Juni 2020 pukul 00 WITA diperoleh data pasien datang ke Polindes Denggen Timur pada hari Jumat tanggal 05Juni 2020 sekitar pukul 30 WITA. Diperoleh identitas ibu bernama Ny. J berumur 26 tahun dengan G1P0A0H0 . ,tingkat pendidikan SMA (Sekolah Menengah Ata. ,pekerjaan ibu menjadi ibu rumah Pada kasus ini dilakukan pengkajian MERCER danditemukan masalah nyeri akut karena luka jahitan episiotomi dengan adanya keluhan nyeri dari ibu, mengatakan nyeri seperti tersayat, nyeri hilang timbul pada saat ibu bergerak,tampak meringis dan protektif, bergerak secara perlahan, mengeluh takut untuk BAK, dan masih berfokus pada dirinya. Pada pengkajian hari pertama ibu tampak masih dalam fase taking inyang ditandai dengan masih adanya ketergantungan pada orang lain seperti ke kamar mandi, menyusui bayinya, dan pada saat ini ibu masih mengeluhkan nyeri dibagian vagina dan menceritakan proses melahirkan. Hal ini sebagaimana sejalan dengan teori dalam Maryunani. Anik . bahwa perubahan psikologis masa nifas menurut RevaRubin terbagi menjadi 3 . tahap yaitu: . periode taking in . jam post ketergantungan atau fase dependens, periode yang terjadi pada hari pertama sampai kedua setelah melahirkan, dimana ibu baru biasanya bersifat pasif dan bergantung, energi difokuskan pada perhatian ke tubuhnya atau dirinya, fase ini merupakan periode ketergantungan dimana ibu mengharapkan segala kebutuhannya terpenuhi orang lain, ibu akan mengulang kembali pengalaman menunjukkan kebahagiaan yang sangat dan bercerita tentang pengalaman Menurut teori hampir 90% proses persalinan mengalami robekan perineum dengan ataupun episiotomi, terutama pada primigravida dimana proses persalinannya dibantu dengan tindakan episiotomi agar robekan yang terjadi tidak menyebabnya pendarahan pasca persalinan (Ilmiah. WS, 2. Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang Perasaan nyeri pada setiap orang berbeda dalam hal skala maupun tingkatannya,dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yangdialaminya (Tetty, 2. Salah satu pengkajian nyeri secara subjektif berdasarkan tingkat nyerinya dengan membagi tingkat nyeri yakni, ringan . , sedang . , dan berat . dimana menggunakan rentan 0 merupakan tanda tidak nyeri dan 10 nyeri sangat hebat, serta dengan sekaligus mengkaji secara objektif dengan mengkaji respon nyeri pada wajah. Pada penelitian ini pengkajian nyeri menggunakan pengkajian denganWong-Baker Faces Pain Rating Scaledimana saat pengkajian dikaji secara subjektif dan objektif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prestiwi. bahwa distribusi tertinggi yang dirasakan oleh ibu postpartum ialah nyeri sedang, sedangkan hal yang dapat mempercepat penyembuhan luka dan mengurangi nyeri ialah mobilisasi dini dimana ibu postpartum normal diharapkan sudah dapat mobilisasi dini 2-8 jam postpartum. Ibu minimal sudah mampu turun dari tempat tidur, belajar duduk dan berjalan perlahan dengan tujuan mencegah trombosis dan pembengkakan (Salehah. Pada hasil penelitian Pradian dan Paramita. bahwa adanya hubungan intensitas nyeri dan paritas dengan mobilisasi dini ibu postpartum. Nyeri yang dirasakan ibu postpartum dimulai dari mengalami kontraksi prenatal dilanjutkan dengan tahap kala I-IV dimana selain karena proses persalinan nyeri yang dirasakan dari faktor adanya tindakan episiotomi yang di lakukan untuk memudahkan dan mengurangi resiko perdarahan antenatal dan postnatal. Pada saat dilakukan informed consent akan dilakukan tindakan SitzBath . endam dudu. dengan penjelasan akan mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pada perineum, ibu menyetujui tindakan yang akan diberikan. Beberapa saat setelah itu dilakukan tindakan Sitz Bath selama 15 menit dengan air hangat dengan suhu 41CC. Setelah dilakukan tindakan dilakukan kontrak waktu untuk kunjungan rumah 3-5 hari kedepan untuk Sitz Bathtersebut. Pada penelitian ini ditemukan 3 . diagnosa dengan diagnosa utama yaitu nyeri akut sehingga dilakukan intervensi keperawatan yaitu tindakan nonfarmakologis dengan metode Sitz Bath . endam dudu. Pada penelitian yang dilakukan ditengah pandemi ini juga ditemukan diagnosa kedua yakni resiko gangguan proses parenting berhubungan dengan kurangnya pengetahuan yang didapatkan karena kebijakan pemerintah membatasi kegiatan posyandu dan bersosial, hal ini menyebabkan ibu kurang pengetahuan tentang cara-cara merawat dirinya setelah melahirkan dan merawat Diagnosa ketiga yakni resiko konstipasi berhubungan dengan nyeri pernyataan ibu tidak mengkonsumsi sayur selamatiga hari terakhir sebelum Dalam dilakukan Sitz Bath . endam dudu. yang pengetahuan tentang cara perawatan payudara, cara merawat luka episiotomi, cara memberikan ASI yang baik dan benar, cara mengkaji perdarahan, cara merawat tali pusar, pentingnya makan makanan tinggi serat. Dimana metode ini dilaksanakan selama 4 kali kunjungan rumah, dengan tujuan utama dapat mengatasi permasalahan nyeri pada episiotomi yang ditemui pada ibu sehingga dapat mengurangi nyeri dan Tindakan hari pertama dilakukan 8 jam postpartum dengan skala nyeri 6 . selama 15 menit. Setelah dilakukan tindakan dengan hasil tidak ada pusing, lebih nyaman dan merasa nyeri berkurang,menganjurkan ibu melakukan tindakan sendiri dirumah. Hari kedua postpartum diberikan tindakan kedua dengan skala nyeri 5, adanya perubahan tingkat nyeri. Pada hari ketiga setelah dilakukan tindakan skala nyeri menjadi 3 . dan pada hari berikutnya tidak merasakan nyeri lagi. Berkurangnya dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya aktivitas ibu jika lebih sering mobilisasi dan berkegiatan nyeri yang dirasakan berkurang didukung juga perawatan postpartum, hal ini dapat Selain itu juga dipengaruhi oleh derajat luka episiotomi dimana ibu mendapatkan derajat II yang mengalami tindakan episiotomi yang akan lebih cepat luas,sehingga semakin cepat penyembuhan luka maka nyeri yang dirasakan akan cepat Pada studi kasus ini ibu sangat kooperatif saat diberikan tindakan, ibu aktif bertanya dan melakukan secara mandiri tindakan rendam duduk selain itu setelah dirumah ibu lebih sering mobilisasi karena mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anaknya yang di bantu juga oleh ibunya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan Sitz Bathpada Ny. AuJAy dapat disimpulkan bahwa asuhan keperawatan dengan Sitz Bathdapat menguranginyeri episiotomi pada ibu postpartum fisiologi. Saran Berdasarkanstudikasus menyarankan bagi keluarga terutama ibu mampu melanjutkan dan rutin melakukan metode Sitz Bath ini di rumah untuk menguranginyeri episiotomi pada ibu post partum fisiologi dan mempercepat penyembuhan luka. Selainitu, saran bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatandiharapkan peran instusi pendidikan dan petugas kesehatan untuk mengembangkan pengetahuan tentang perawatan episiotomi dengan metode Sitz Bath dengan melakukan sosialiasasi tentang metode Sitz Bath ini kepada ibu secara dini karena sangat efektif untuk mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan lukapada ibu post partum dengan episiotomi. Saran bagipenulis selanjutnya dapat melakukan penelitian lain yang sama dengan menggali kembali informasi tentang perawatanepisiotomi dengan metode Sitz Bath di luar rumah sakit. Dan bagirumah sakit/pelayanan meningkatkan mutu pelayanan dan pengawasan kesehatan khususnya bagi ibu post partum dalam mengurangi nyeri. Diharapkan juga tindakan ini dapat menjadi inovasi baru bagi pelayanan kesehatan khususnya bagi ibu post partum dalam mengurangi nyeri. DAFTAR PUSTAKA