Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 PEMBERDAYAAN KELOMPOK TANI DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN DENGAN TEKNOLOGI BIOFUNGISIDA PLUS DI KABUPATEN KAMPAR Fifi Puspita . Rachmad Saputra . Adiwirman . Muhammad Ali . Idwar . Armaini . Nurbaiti . Sri Yoseva . Elza Zuhry . 1,2,3,4,5,6,7,8,. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Riau Email: rachmadsaputra@lecturer. INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel : Diterima : 18 November 2019 Disetujui : 4 Mei 2020 Kata Kunci : biofungisida, konsorsium, pemberdayaan masyarakat. ARTICLE INFO ABSTRACT Article History : Received : November 18, 2019 Accepted : May 4, 2020 Key words: biofungicides, consortium, community empowerment Kabupaten Kampar merupakan satu diantara beberapa sentra penanaman padi di Provinsi Riau. Kendala dalam melaksanakan budidaya tanaman padi yang masih ditemukan diantaranya adalah kurangnya pengetahuan petani tentang teknik budidaya dan pengendalian penyakit pada tanaman padi. Tujuan kegiatan ini ialah untuk mendorong petani agar dapat membuat biofungisida berbahan aktif konsorsium Trichoderma virens dan Pseudomonad berflourescens dalam formulasi Biofungisida Plus untuk pencegahan dan pengendalian penyakit yang menyerang tanaman Kegiatan pemberdayaan petani di Desa Sawah melalui penerapan teknologi pengendalian penyakit tanaman padi dengan biofungisida plus dilaksanakan dengan menerapkan Model Community Development. Pada metode ini secara langsung dilibatkan sebagai subyek dan obyek dalam pelaksanaan kegiatan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pemberdayaan masyarakat ini diantaranya ialah, masyarakat bersedia untuk menerapkan teknologi Biofungisida Plus di lahan sawahnya. Berdasarkan hasil kuisioner juga diketahui pemahaman dan wawasan petani bertambah setelah diperkenalkan dengan Teknologi Biofungisida Plus ini. Aplikasi Biofungisida Plus di lahan petani menunjukkan kondisi tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan teknik budidaya yang biasa digunakan oleh petani. Kampar Regency is one of the rice cultivation centers in Riau Province. Obstacles that are still found in rice cultivation that are still found the lack of knowledge of farmers about cultivation techniques and disease control in rice plants. The purpose of this activity is to encourage farmers to be able to make biofungicides with active ingredients from the consortium of Trichoderma virens and Pseudomonad berflourescens in the formulation of Biofungicide Plus for the prevention and control of diseases that attack rice plants. Farmer empowerment activities in Sawah Village through the application of rice plant disease control technology with Biofungicide Plus are implemented by applying the Community Development Model. The results obtained from these community empowerment activities were the community is willing to apply Biofungicide Plus technology in their rice fields. Based on the results of the questionnaire is also known to the understanding and knowlage of farmers increased after being introduced to Biofungicide Plus Technology. The application of Biofungicide Plus in farmers' fields shows better crop conditions compared to the cultivation techniques commonly used by local farmers. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 PENDAHULUAN Kecamatan Kampar adalah satu diantara beberapa sentra tanaman padi yang ada di Provinsi Riau yang memiliki potensi untuk pengembangan tanaman pangan terutama tanaman padi dengan total luas 7682 Ha dengan 189,71 ton. Pada tahun 2014 Kecamatan Kampar Utara mempunyai luas lahan tanaman pangan sebesar 4. 556 Ha dengan luas penanaman padi sebesar 4. 408 Ha. Pada tahun 2014 terjadi penurunan produksi padi sawah dengan besar produksi 4. 395 ton, sementara pada tahun 2013 produksi mencapai 553,19 Ton (Badan Pusat Statistik. Salah satu kondisi yang dapat mempengaruhi produksi ini ialah kondisi lahan berupa lahan sawah tadah hujan yang diusahakan oleh rumahangga petani yang ada di Kabupaten Kampar. Hal ini pada kondisi kemarau akan menyebabkan lahan kering dan kurang subur. Kendala dalam melaksanakan budidaya tanaman padi yang masih ditemukan diantaranya adalah kurangnya pengetahuan petani tentang teknik budidaya padi, adanya gangguan hama sebesar 70% dan gangguan penyakit tanaman sebesar 50% dan kurangnya subsidi pupuk dari pemerintah. Namun faktor yang paling dominan menurunkan produksi tanaman padi adalah aganya gangguan Beberapa penyakit penting yang ditemukan dalam budidaya tanaman padi diantaranya ialah hawar daun bakteri (Xanthomonas campestris Oryza. , penyakit yang diseebakn oleh jamur seperti hawar pelepah daun (Rhizoctonia solani Kuh. , busuk batang (Helminthosporium (Pyricularia grise. Selain itu beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus sepeti penyakit tungro . irus tungr. , kerdil hampa (Regetstun. dan kerdil rumput (Grassystun. (Semangun 2. Penyakit-penyakit penting tersebut dapat menyebabkan kehilangan hasil. Baehaki . melaporkan insidensi penyakit hawar daun bakteri menyebabkan kehilangan hasil yang berkisar antara 15 A 24%. Kerugian sekitar Rp 25 milyar dialami oleh petni padi di Surakarta. Jawa Tengah, pada 1994/1995 dikarenakan penyakit tungro yang menyebabkan 12. hektar tanaman padi mengalami puso. Penyakit blast menyebabkan kerusakan pada 13. hektar tanaman padi sawah dan 402 hektar diantaranya puso pada periode 1997 A 2001. Pada tahun 2010, gagal panen terjadi di beberapa sentra penghasil padi di Pulau Jawa dikarenakan wabah penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Nuryanto et al. juga melaporkan adanya perkembangan penyakit hawar pelepah di sentra produksi padi yang intensif (Nuryanto et al. Penggunaan fungisida dengan bahan aktif yang sama, dosis yang tidak sesuai anjuran bahkan melebihi dosis anjuran dapat menyebabkan resistensi dan munculnya ras fisiologi yang baru, residu pestisida sehingga dibutuhkan suatu teknologi pengendalian penyakit yang bersifat ramah lingkungan dan Teknologi yang akan digunakan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit busuk pelepah dan hawar daun bakteri dikemas dalam program teknologi Biofungisida Plus berbahan aktif konsorsium T. virens dan Pseudomonas berflourescens dalam formula Berdasarkan penggunaan konsorsium bakteri antagonis dalam pengendalian patogen tumbuhan telah konsorsium beberapa bakteri antagonis mampu menghambat perkembangan penyakit layu bakteri pada tomat (Saputra et al. , 2. dan Putro et al. juga menyatakan bahwa konsorsium yang terdiri dari Bacillus subtillis. Pseudomonas fluorescens dan Trichoderma harzianum secara nyata mampu menghambat perkembangan jamur Colletotrichum capsici penyebab penyakit antraknosa ada buah cabai Kegiatan mendorong petani agar dapat menggunakan biofungisida berbahan aktif konsorsium Trichoderma Pseudomonad berflourescens dalam formulasi biofungisida pengendalian penyakit yang menyerang tanaman padi dengan beberapa tahap kegiatan antara lain cara penyediaan agens hayati, cara perbanyakan dan produksi biofungisida dalam Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 formula plus, serta pendampingan petani mitra untuk aplikasi biofungisida dalam formula plus. berdasarkan pendapatan yang diperoleh yaitu 42% E5 orangt, 23% 3-5 orang, 27% 2 orang dan 8% 1 orang (Gambar . METODE Pemberdayaan petani di Desa Sawah melalui penerapan teknologi pengendalian penyakit tanaman padi dengan biofungisida plus berbahan aktif T. virens dan Pseudomonas flourescens terdiri dari beberapa kegiatan dengan menerapkan Model Community Development. Pada model ini masyarakat dilibatkan secara langsung baik sebagai subyek maupun obyek dari pelaksanaan kegiatan. Adapun kegiatan tersebut terdiri dari sosialisasi dan penyuluhan kepada tiga kelompok tani mitra, pelatihan pembuatan Biofungisida Plus serta aplikasi Biofungisida Plus pada lahan percontohan milik kelompok tani. HASIL DAN PEMBAHASAN Sosialisasi dan Penyuluhan kepada Tiga Kelompok Tani Mitra Sosialisasi dilaksanakan di kantor Desa Sawah yang dihadiri oleh perwakilan dari 3 kelompok tani. Kepala Desa dan perangkat Desa serta Tim Pengabdian dari LPPM UNRI (Gambar . Pada Sosialisasi ini diberikan pengarahan oleh Tim LPPM UNRI yang merupakan dosen Fakultas Pertanian UNRI, yakni Ir. Fifi puspita. tentang pengenalan produk pengabdian biofungisida tepung. Ir. Armaini. kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang kemudian penjelasan tamahan terkait budidaya tanaman padi oleh Ir. Armaini, . Ir. Nurbaiti. Si. , dan Sri Yoseva. serta Rachmad Saputra. Sc. Pada kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2019 ini, disebarkan juga kuisioner terkait kondisi sosial ekonomi responden dan pemahaman responden terkait teknologi yang ditawarkan. Dari hasil kuisioner tersebut diperoleh gambaran pengetahuan petani terhadap teknologi yang akan diberikan dan teknik budidaya yang biasa diterapkan. Masyarakat Desa Sawah memiliki rata-rata pendapatan yang cukup kecil baik dari usaha tani tanaman padi maupun dari usaha lainnya. Masyarakat yang usaha tani tanaman padi bahkan 40% memiliki pendapatan C1 juta dan hanya 4% yang memiliki pendapatan E10 juta. Adapun jumlah anggota yang harus ditanggung Gambar 1. Sosialisasi pembuatan biofungisida plus di Desa Sawah Pendapatan Per Tahun < 1 juta 1 - 4,9 juta 5 - 10 juta >10 juta usaha tani lainnya usaha tani tanaman padi Jumlah Tanggungan Rumah Tangga >5 orang 3-5 orang 2 orang 1 orang Gambar 2. Persentase pendapatan dan jumlah tanggungan rumah tangga Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 Pengetahuan tentang hama dan penyakit tanaman sangat penting bagi masyarakat karena akan sangat mempengaruhi produksi hasil usaha tani sehingga akan mempengaruhi pendapatan para pelaku usaha tani. responen pengetahuan tentang hama dan penyakit tanaman sudah sangat baik yaitu 96% menyatakan tahu dan hanya 4% yang menyatakan tidak tahu (Gambar . Pengetahuan Tentang Hama dan Penyakit Tanaman pengetahuan tentang manfaat biofungisida bagi tanah dan tanaman 22% tidak tahu, 48% kurang tahu, 26% tahu dan hanya 4% yang menyatakan sangat tahu (Gambar . Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat butuh penyuluhan untuk mendapatkan informasi tentang Trichoderma dan manfaat biofungisida bagi tanah dan tanaman. Minimnya informasi masyarakat masih menggunakan sistem yang konvensional dalam bertani. Kegiatan Penyuluhan yang Diikuti dalam Satu Bulan tidak tahu Gambar 3. Persentase pengetahuan tentang hama dan penyakit tanaman > 5 kali 3 - 5 kali 1 - 2 kali tidak pernah Manfaat Penyuluhan Bagi Usaha Tani Berdasarkan Gambar 4 masyarakat paling efektif rutin mengikuti penyuluhan dalam satu bulan sebanyak 1-2 kali dengan hasil responden sebesar 81%. Hanya 4% yang memiliki kemauan mengikuti penyuluhan E5 kali dan 15% masyarakat bahkan tidak pernah mengikuti kegiatan penyuluhan. Hal ini cukup menyulitkan penyuluh untuk menarik masyarkat agar mau mengikuti kegiatan penyuluhan. Mereka cenderung menutup diri untuk menerima informasi secara teori. Namun, bagi responden yang telah mengikuti kegiatan penyuluhan 7% menyatakan bahwa kegiatan penyuluhan sangat bermanfaat dan 4% kurang bermanfaat bagi usaha tani. Hasil ini membuat tim pengabdian perlu mengambil inisiatif agar membuat masyarakat tertarik mengikuti kegiatan penyuluhan tentang biofungisida plus. Hasil FGD tim pengabdian dengan masyarakat sasaran tingkat pengetahuan Trichoderma Trichoderma dan hanya 19% yang sudah mengetahui tentang Trichoderma. Sedangkan sangat bermanfaat Bermanfaat Kurang Bermanfaat Tidak Bermanfaat Gambar 4. Persentase kegiatan penyuluhan yang diikuti masyarakat per bulan dan manfaat penyuluhan bagi usaha tani Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 Pengetahuan Tentang Manfaat Biofungisida bagi Tanah dan Tanaman Penghetahuan Tentang Proses Pembuatan Biofungisida Sangat Tahu Tahu Kurang Tahu Tidak Tahu Gambar 5. Persentase tingkat pengetahuan tentang Trichoderma dan manfaat Sangat Tahu Tahu Kurang Tahu Tidak Tahu Manfaat Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Tentang Biofungisida Plus Data pada Gambar 6 menunjukkan 67% masyarakat tidak tahu proses pembuatan biofungisida, 29% kurang tahu dan hanya 4% yang tahu. Sedangkan tingkat ketertarikan masyarakat tentang penggunaan biofungisida cukup tinggi yaitu 56% setuju bahkan 44% Hal mengindikasikan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang penggunaan biofungisida plus sangat berpotensi dilakukan dan diaplikasikan oleh masyarakat. Berdasarkan gambar 8 dapat diketahui pula bahwa pelatihan yang dilakukan 81% membantu dan 19% sangat membantu masyarakat dalam pengetahuan dan ketrampilan pembuatan biofungisida plus. Sangat Membantu Kurang Membantu Membantu Tidak Membantu Gambar 6. Persentase pengetahuan proses pembuatan biofungisida dan tingkat ketertarikan penggunaan biofungisida dan manfaat peningkatan pengetahuan dan Pelatihan Pembuatan Biofungisida Plus dan Aplikasinya Pelatihan pembuatan biofungisida plus ini dilaksanakan setelah sosialisasi pada tanggal 15 Juli 2019. Pelatihan ini dipandu oleh Rachmad Saputra. Sc. Setiap kelompok tani mempraktekkan cara pembuatan biofungisida. Biofungisida yang telah dibuat oleh petani di inkubasis selama 3 minggu. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 Gambar 9. Perbedaan pertumbuhan tanaman padi setelah diberi Biofungisida Plus Gambar 7. Pelatihan pembuatan Kelompok tani sasaran juga diberikan pengetahuan terkait aplikasi biofungisida plus yang telah dijelaskan sebelumnya. Aplikasi ini dilaksanakan di salah satu sawah milik kelompok tani pesertasebagai demplot agar ketertarikan petani untuk membuat dan mengaplikasikan biofungisida plus ini semakin meningkat (Gambar . Gambar 8. Aplikasi biofungisida plus ke demplot sawah petani Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, aplikasi Biofungisida Plus di lahan contoh milik salah satu petani peserta menunjukkan adanya perbedaan dengan petak sawah yang tanpa diberi Biofungisida Plus. Perbedaan ini terlihat pada tinggi dan jumlah anakan tanaman padi (Gambar . Pemberian Biofungisida Plus mampu mempercepat pertumbuhan tanaman pada 12 Minggu Setelah Tanam (MST), sedangkan pada jumlah anakan, pemberian Biofungisida Plus lebih banyak menambah jumlah anakan pada 16 MST (Gambar . Hal ini dikarenakan Trichoderma virens dan Pseudomonassp. terkandung pada produk Biofungisida Plus mampu memicu pertumbuhan tanaman sebagai PGPF maupun PGPR. Puspita dan Nugroho . menyatakan T. virens endofit yang diperoleh memiliki kemampuan sebagai PGPF (Plant Growth Promoting Fung. yang ditunjukkan dengan adanya kemampuan menghasilkan IAA yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna karena pembentukan IAA dipengaruhi oleh waktu inkubasi setelah penambahan pereaksi Salkowski. Selain itu, beberapa jenis kelompok bakteri ini dapat memacu pertumbuhan pada tanaman (PGPR= Plant Growt Promoting Rhizobakteri. dengan menghasilkan senyawa pendorong pertumbuhan pada tanamn. Adapun Hormon pertumbuhan tersebut seperti biotin, tiamin, niacin, pantotenat, kolin, inositol, piridoksin, p-amino benzoic acid, n-methil nicotinic acid. Senyawa-senyawa tersebut diketahui juga mampu mengurangi insidensi terjadinya penyakit maupun kerusakan oleh serangga dan juga dapat menginduksi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 ketahanan tanaman sehingga ketahanan tanaman dapat ditingkatkan (Pujianto, 2. Tinggi Tanaman 12 MST Tinggi Tanaman 16 MST Tanpa Biofungisida Plus Jumlah Anakan 12 MST Biofungisida Plus Jumlah Anakan 16 MST Tanpa Biofungisida Plus Biofungisida Plus Gambar 10. Perbandingan tinggi . dan jumlah anakan . tanaman padi setelah diberi aplikasi Biofungisida Plus Hasil pengamatan di lapangan juga menunjukkan pada petak sawah tanpa pemberian Biofungisida Plus ditemui tanaman yang menunjukkan gejala sakit lebih banyak dibandingkan dengan petak sawah yang diberikan Biofungisida Plus. Hal ini menunjukkan mikroorganisme yang terkandung dalam Biofungisida Plus mampu menghambat menginfeksi tanaman padi (Gambar . Weller . menyatakan bahwa Pseudomonad fluoresen dapat menghambat perkembangan patogen pada tanaman. Penghambatan tersebut dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung yang dapat menekan berbagai jenis penyakit akar dan pembuluh yang disebabkan patogen tular tanah. Begitu juga dengan Trichoderma, menurut Puspita dan Nugroho . virens mampu menghambat pertumbuhan jamur Ganoderma boninese. Gambar 11. Gejala serangan patogen pada tanaman padi . tanpa pemberian Biofungisida Plus dan . dengan pemberian Biofungisida Plus Keberlanjutan Program Berdasarkan uji coba pada petak sawah contoh milik petani dan hasil kuisioner, diketahui terjadi peningkatan pengetahuan tentang biofungisida yaitu 85% pengetahuan meningkat, 4% sangat meningkat dan hanya 11% yang kurang meningkat. Selain itu pelatihan juga meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membuat biofungisida plus secara mandiri dengan persentase 15% tidak mampu, 81% kurang mampu dan 4% mampu (Gambar . Namun, tingkat ketertarikan masyarakat petani peserta terhadap penerapan Biofungisida plus ini sangat tinggi, yakni 44% sangat setuju dan 56% setuju untuk menerapkan Biofungisida Plus dilahan mereka. Dengan demikian, masyarakat petani peserta ini mengharapkan adanya keberlanjutan dalam Biofungisida Plus di lahan yang lebih luas lagi. Ucapan Terima Kasih Terimakasih penulis ucapkan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau yang telah memberikan dana yang bersumber dari DIPA LPPM UNRI melalui Program Desa Binaan Universitas Riau dengan Nomor Kontrak: 1102/UN19. 3/PT. 03/2019. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ. Vol. 7 No. 2, 149 - 157 ISSN. : 2354-869X | ISSN. : 2614-3763 Peningkatan Pengetahuan tentang Biofungisida Setelah Pelatihan Sangat Meningkat Meningkat Kurang Meningkat Tidak Meningkat Tingkat Kemampuan Membuat Biofungisida Plus secara Mandiri Sangat Mampu Mampu Kurang Mampu Tidak Mampu Tingkat Ketertarikan Penggunaan Biofungisida Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Gambar 12. Persentasi peningkatan pengetahuan, kemampuan membuat biofungisida plus secara mandiri dan ketertarikan untuk mengunakan Biofungisida Plus. PENUTUP Kesimpulan Kesimpulan kegiatan pengabdian ini adalah masyarakat bersedia untuk menerapkan teknologi Biofungisida Plus di lahan sawahnya. Berdasarkan hasil kuisioner juga diketahui pemahaman dan wawasan petani bertambah setelah diperkenalkan dengan Teknologi Biofungisida Plus ini. Penerapan teknologi biofungisida plus ini diharapkan dapat meingkatkan dan menjaga kemampuan agensia hayati yang digunakan. Saputra et al. , . menyatakan bahwa biofungisida tepung mampu menjaga viabilitas jamur Trichoderma sp. Aplikasi Biofungisida Plus di lahan petani menunjukkan kondisi tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan teknik budidaya yang biasa digunakan oleh petani. Saran Perlu pendampingan lebih lanjut dalam membentuk unit usaha Biofungisida Plus untuk menambah pendapatan masyarakat petani. Selain itu, perlu penerapan lebih lanjut pada petak sawah yang lebih luas untuk mendapatkan data penambahan hasil panen pada tanaman DAFTAR PUSTAKA