Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Pencatatan Sederhana untuk Meningkatkan Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Keuangan pada UMKM Jawara Bojongsari Depok Indawati1*. Anggun Anggraini2. Endang Ruhiyat3 Universitas Pamulang. Indonesia dosen02151@unpam. id1, dosen02156@unpam. e-ruhiyat_00020@unpam. Submitted: 05th April 2025 | Edited: 30th June 2025 | Issued: 01st July 2025 Cited on: Indawati. Anggraini. , & Ruhiyat. Pencatatan Sederhana untuk Meningkatkan Efisiensi dan Efektifitas Pengelolaan Keuangan pada UMKM Jawara Bojongsari Depok. Jurnal PKM Manajemen Bisnis, 5. ABSTRACT Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. play a crucial role in driving the local economy, yet many still struggle with effective financial management due to a lack of basic bookkeeping skills. This community service activity (PKM), titled "Simple Bookkeeping to Improve the Efficiency and Effectiveness of Financial Management for UMKM Jawara Bojongsari", aimed to address these challenges by equipping MSME actors with practical knowledge of simple financial recording methods. The program was conducted in April 2025 in Bojongsari Subdistrict. Depok City, and involved 15 lecturers from Universitas Pamulang as facilitators. A total of 25 MSME participants from the Jawara (Jaringan Wirausah. Bojongsari network took part in the training. The implementation methods included material presentations, hands-on practice, group discussions, and Q&A sessions. As a result, participants gained a better understanding of financial recording practices such as income and expense tracking, ledger preparation, and basic financial planning. The activity significantly increased participants' financial awareness and confidence in managing their businesses. This PKM program demonstrated that structured and practical financial education can contribute positively to improving the financial literacy and operational efficiency of local MSMEs. Keywords: MSMEs. Financial Literacy. Simple Bookkeeping. Efficiency. Effectiveness PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia memiliki peran yang sangat vital dalam perekonomian nasional. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa UMKM mencakup sekitar 99,99% dari total pelaku usaha di Indonesia dan memberikan kontribusi sebesar 60Ae70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, meskipun berkontribusi besar terhadap ekonomi, tingkat keberlanjutan usaha UMKM masih rendah. Salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya pengelolaan keuangan, terutama terkait pencatatan keuangan yang akurat dan terstruktur (Amriani & Astar, 2022. Iqbal et al. , 2. Ketiadaan pencatatan keuangan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. yang memadai menyebabkan para pelaku UMKM kesulitan dalam melakukan evaluasi kinerja keuangan dan pengambilan keputusan bisnis yang tepat. Rendahnya literasi keuangan menjadi akar persoalan dalam lemahnya praktik pengelolaan keuangan UMKM. Literasi keuangan yang rendah tidak hanya berdampak pada ketidakmampuan dalam menyusun laporan keuangan, tetapi juga menghambat akses pelaku UMKM terhadap sumber pendanaan formal seperti perbankan dan lembaga keuangan lainnya (Manurung, et al. , 2022. Rachmawati & Sembiring, 2. Penelitian yang dilakukan di Gowa dan Pekanbaru menunjukkan adanya hubungan positif antara literasi keuangan dengan pengelolaan keuangan yang baik dan peningkatan kelayakan kredit usaha (Ayuningtyas & Widati, 2023. Fauzan, 2. Lebih jauh, pengelolaan keuangan UMKM tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor perilaku dan psikologis pemilik Banyak pelaku UMKM yang mengandalkan ingatan dalam mencatat transaksi atau mencampurkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, sehingga mengaburkan informasi yang dibutuhkan dalam proses evaluasi dan perencanaan usaha (Safrianti & Puspita, 2021. Ismail et al. , 2. Oleh karena itu, intervensi dalam bentuk pelatihan pencatatan keuangan sederhana yang menekankan pada disiplin, keteraturan, dan pemisahan antara aspek pribadi dan usaha sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Seiring dengan berkembangnya teknologi digital, pandemi COVID-19 turut mendorong percepatan adopsi teknologi finansial (FinTec. oleh pelaku UMKM. Namun, banyak UMKM yang hanya memanfaatkan FinTech sebagai alat transaksi tanpa mengintegrasikannya ke dalam sistem pencatatan keuangan harian (Rachmawati & Sembiring, 2024. Sudarman & Pratama, 2. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan dasar pelaku UMKM, sehingga pencatatan manual yang sederhana masih menjadi kebutuhan mendesak sebagai fondasi pengelolaan keuangan yang sehat. Praktik pencatatan keuangan sederhana, seperti penggunaan buku kas harian atau aplikasi kas berbasis mobile, terbukti meningkatkan kesadaran pelaku usaha terhadap kondisi finansial mereka. Penelitian di Bengkulu menemukan bahwa sebagian besar UMKM belum menerapkan pencatatan ini secara konsisten karena menganggapnya sebagai proses yang rumit dan menyita waktu (Fitriyah, 2. Padahal, melalui Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. pendekatan yang tepat dan pelatihan yang terstruktur, pencatatan sederhana dapat membantu UMKM dalam menyusun laporan keuangan dasar dan perencanaan anggaran secara efektif (Pertiwi & Hidayah, 2019. Rezky, 2. Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menginisiasi Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021Ae2025 yang secara eksplisit mendorong peningkatan kapasitas literasi dan inklusi keuangan, terutama bagi sektor UMKM. Program ini memberikan ruang bagi perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan pendampingan finansial kepada UMKM, termasuk dalam bentuk pelatihan pencatatan keuangan sederhana (OJK, 2021. Budyastuti & Dirman, 2. Strategi ini menegaskan pentingnya pemberdayaan finansial dari tingkat lokal melalui edukasi yang mudah dipahami dan diterapkan. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, pendekatan berbasis partisipasi aktif sangat diperlukan. Pelatihan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga melibatkan praktik langsung, diskusi kelompok, dan tanya jawab, terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta dan memperkuat motivasi dalam menerapkan pencatatan keuangan secara konsisten (Mutasowifin & Sutisna, 2. Pendekatan ini membangun iklim saling belajar antar pelaku UMKM yang dapat memperkuat adaptasi dan keberlangsungan praktik pencatatan yang baik. Berdasarkan berbagai tantangan dan peluang tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul AuPencatatan Sederhana untuk Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Keuangan pada UMKM Jawara BojongsariAy menjadi sangat Melalui pelatihan ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk meningkatkan keterampilan pencatatan keuangan, memperkuat literasi finansial, dan mendorong pertumbuhan usaha mikro secara berkelanjutan di wilayah Bojongsari. METODE Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan di Kelurahan Bojongsari. Kota Depok, pada bulan April 2025. Kegiatan ini melibatkan tim pelaksana yang terdiri dari 15 dosen Universitas Pamulang dari berbagai program studi yang memiliki kompetensi di bidang manajemen, akuntansi, dan kewirausahaan. Adapun peserta kegiatan adalah sebanyak 25 pelaku UMKM yang tergabung dalam Jaringan Wirausaha (Jawar. Bojongsari. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. dan keterampilan pelaku usaha dalam melakukan pencatatan keuangan sederhana sebagai dasar pengelolaan keuangan yang efisien dan efektif. Metode pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan. Pada tahap persiapan, tim melakukan koordinasi internal, survei awal untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta, serta penyusunan modul materi Tahap pelaksanaan dilakukan secara tatap muka dan interaktif, dengan pendekatan partisipatif melalui pemaparan materi oleh narasumber, praktik pencatatan keuangan secara langsung menggunakan format sederhana, diskusi kelompok kecil, serta sesi tanya jawab. Materi yang diberikan mencakup pentingnya pencatatan keuangan, cara mencatat transaksi harian, dan simulasi penghitungan laba-rugi sederhana. Setelah kegiatan utama berlangsung, tahap pelaporan dilakukan oleh tim dosen dengan menyusun dokumentasi kegiatan, mengevaluasi ketercapaian tujuan, dan merekomendasikan tindak lanjut bagi peserta dan mitra komunitas. Selain itu, peserta diberikan lembar umpan balik dan bahan ajar sebagai panduan lanjutan dalam menerapkan pencatatan keuangan di usahanya masing-masing. Seluruh rangkaian kegiatan PKM ini dirancang untuk memberdayakan UMKM secara berkelanjutan melalui pendekatan edukatif dan aplikatif yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. PEMBAHASAN Profil UMKM Jawara Bojongsari UMKM Jawara Bojongsari merupakan komunitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang tergabung dalam wadah Jaringan Wirausaha (Jawar. di wilayah Kelurahan Bojongsari. Kota Depok. Jawa Barat. Komunitas ini terdiri dari pelaku usaha yang bergerak di berbagai sektor, seperti kuliner, fesyen, kerajinan tangan, jasa, hingga perdagangan umum. UMKM Jawara terbentuk sebagai respons atas kebutuhan pelaku usaha lokal untuk saling mendukung, berbagi informasi, serta meningkatkan kapasitas bisnis melalui kegiatan pelatihan, pendampingan, dan kolaborasi. Keberadaan komunitas ini juga mendapat dukungan aktif dari pemerintah kelurahan setempat dan instansi pendidikan, termasuk perguruan tinggi, yang turut berperan dalam program penguatan kapasitas dan pemberdayaan UMKM secara berkelanjutan. Sebagian besar anggota UMKM Jawara Bojongsari merupakan pelaku usaha yang masih mengelola bisnisnya secara mandiri dan berbasis rumah tangga. Meskipun Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. memiliki potensi produk dan pasar yang menjanjikan, tantangan yang mereka hadapi masih cukup kompleks, terutama dalam hal pengelolaan keuangan, pemasaran digital, dan akses pembiayaan. Oleh karena itu, komunitas ini sering menjadi mitra strategis dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, termasuk pelatihan pencatatan keuangan sederhana, literasi digital, dan pengembangan produk. Komitmen mereka terhadap pembelajaran dan penguatan kapasitas menjadikan UMKM Jawara Bojongsari sebagai salah satu contoh komunitas usaha lokal yang aktif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Permasalahan yang Dihadapi Mitra PKM UMKM Jawara Bojongsari menghadapi berbagai kendala dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya, terutama di aspek manajerial dan administrasi keuangan. Salah satu permasalahan utama yang umum terjadi adalah ketiadaan sistem pencatatan keuangan yang teratur dan akurat. Banyak pelaku usaha masih mengandalkan ingatan pribadi dalam mencatat transaksi, mencampur keuangan pribadi dengan usaha, serta tidak melakukan evaluasi keuangan secara berkala. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan mengetahui posisi keuangan sebenarnya, sehingga pengambilan keputusan bisnis seringkali tidak berbasis data. Kondisi ini juga membuat mereka kurang siap saat harus menyusun laporan keuangan untuk keperluan pengajuan pinjaman atau kerja sama dengan pihak luar. Selain itu, keterbatasan literasi digital dan akses terhadap teknologi juga menjadi kendala tersendiri. Sebagian pelaku UMKM masih merasa kurang percaya diri menggunakan perangkat digital seperti aplikasi pencatatan keuangan atau platform pemasaran daring. Kurangnya pelatihan yang berkelanjutan serta keterbatasan waktu karena kesibukan operasional harian turut memperlambat adaptasi terhadap praktik usaha Tidak sedikit juga anggota komunitas yang belum memahami pentingnya dokumentasi usaha secara menyeluruh, seperti pencatatan stok, pengeluaran rutin, dan laba rugi, yang sebenarnya sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi berupa pelatihan praktis dan pendampingan intensif agar UMKM Jawara Bojongsari dapat mengatasi kendala ini secara bertahap dan mandiri. Pelaksanaan PKM Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini diawali dengan sesi pembukaan yang berlangsung secara khidmat dan interaktif di aula Kelurahan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Bojongsari. Depok, pada bulan April 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh 25 pelaku UMKM anggota Jaringan Wirausaha (Jawar. Bojongsari dan 15 dosen Universitas Pamulang sebagai tim pelaksana. Dalam sambutannya, perwakilan dari tim PKM menyampaikan tujuan utama kegiatan, yaitu memberikan pemahaman praktis mengenai pencatatan keuangan sederhana yang dapat diterapkan langsung oleh peserta dalam kegiatan usahanya sehari-hari. Sesi pembukaan juga menjadi momen penting untuk membangun suasana akrab dan partisipatif antara fasilitator dan peserta. Pada sesi pembahasan materi, kegiatan dimulai dengan pemaparan mengenai urgensi pencatatan keuangan dalam pengelolaan usaha mikro. Peserta diberikan gambaran bagaimana ketiadaan pencatatan menyebabkan usaha sulit berkembang, mengalami kebocoran kas, bahkan kesulitan dalam menentukan apakah usaha mereka mengalami untung atau rugi. Fasilitator menekankan bahwa pencatatan keuangan bukan hanya kewajiban administratif, tetapi merupakan alat utama untuk mengambil keputusan usaha yang tepat. Penjelasan ini dihubungkan langsung dengan kondisi nyata yang dialami UMKM Jawara Bojongsari berdasarkan hasil observasi awal. Selanjutnya, materi masuk pada tahap teknis, yaitu penentuan metode pencatatan. Peserta diperkenalkan dua pendekatan yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing: metode manual dan metode digital. Pada metode manual, peserta diajarkan cara menggunakan buku kas harian sederhana, yang dibagi menjadi beberapa kolom penting, seperti tanggal, jenis transaksi, pemasukan, pengeluaran, dan Fasilitator mencontohkan pencatatan dari transaksi harian, misalnya pembelian bahan baku, pembayaran listrik, atau hasil penjualan produk, dengan langsung menuliskannya dalam format kas sederhana. Pada metode digital, peserta diperkenalkan pada penggunaan Google Sheets dan aplikasi keuangan gratis seperti Money Lover. Sesi ini dilakukan secara praktik langsung, di mana peserta dengan perangkat smartphone atau laptop masing-masing mengunduh dan membuka aplikasi, lalu mengikuti panduan input data. Fasilitator mendemonstrasikan bagaimana membuat template spreadsheet untuk pencatatan, termasuk penggunaan rumus sederhana untuk menjumlahkan total pemasukan, pengeluaran, dan menghitung saldo secara otomatis. Penggunaan warna dan kategori juga dikenalkan untuk mempermudah identifikasi jenis transaksi. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Setelah para peserta memahami metode pencatatan keuangan sederhana, selanjutnya diarahkan untuk menyusun format pencatatan yang disesuaikan dengan jenis usaha masing-masing. Dalam sesi praktik ini, setiap peserta diminta untuk mencatat setidaknya 10 transaksi nyata yang pernah dilakukan dalam satu bulan terakhir. Transaksi tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam format pencatatan yang telah dipelajari sebelumnya, yang mencakup kolom-kolom seperti tanggal, keterangan, pemasukan, pengeluaran, dan saldo akhir. Proses ini mendorong peserta untuk merefleksikan aktivitas keuangan usahanya secara lebih cermat. Selama praktik berlangsung, muncul diskusi aktif di antara peserta karena mereka mulai menyadari bahwa banyak transaksi yang selama ini dianggap sepele atau tidak penting ternyata berkontribusi besar terhadap total Bahkan beberapa peserta menemukan bahwa kebocoran keuangan mereka bersumber dari pengeluaran kecil yang tidak pernah tercatat. Fasilitator pun terlibat secara langsung dalam memberikan bimbingan dan koreksi, termasuk mengevaluasi kesesuaian format yang dibuat dengan prinsip pencatatan yang benar. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman teknis peserta, tetapi juga mengubah cara pandang mereka terhadap pentingnya mencatat setiap transaksi sebagai bagian dari pengelolaan usaha yang lebih tertib dan efisien. Sesi dilanjutkan dengan materi evaluasi dan konsistensi pencatatan, yang menekankan pentingnya melakukan evaluasi secara berkala. Peserta diberi simulasi perbandingan antara rencana anggaran dan realisasi keuangan. Dengan metode ini, peserta dapat mengetahui seberapa besar penyimpangan keuangan mereka dan langkah korektif yang bisa diambil, seperti pengurangan biaya operasional atau penyesuaian harga Fasilitator juga menjelaskan pentingnya menyusun laporan keuangan sederhana bulanan sebagai dokumentasi dan alat pertanggungjawaban, baik untuk diri sendiri, mitra usaha, maupun calon pemberi pinjaman. Manfaat dari kegiatan ini dirasakan langsung oleh peserta, terutama dalam hal peningkatan pemahaman praktis. Banyak peserta mengaku sebelumnya merasa pencatatan keuangan adalah hal yang rumit dan tidak penting, tetapi setelah pelatihan, mereka justru merasa pencatatan mempermudah pengelolaan usaha. Beberapa peserta menyatakan baru menyadari bahwa usaha mereka ternyata mengalami kerugian akibat tidak terpantau dengan baik. Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong perubahan sikap terhadap pentingnya manajemen keuangan. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Sebagai bentuk keberlanjutan, peserta difasilitasi dengan modul dan template pencatatan yang dapat digunakan secara mandiri pasca-kegiatan, serta ditawarkan bimbingan lanjutan dari tim dosen secara daring. KESIMPULAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM Jawara Bojongsari terkait pentingnya pencatatan keuangan sebagai fondasi dalam pengelolaan usaha yang sehat dan Pelaku usaha yang sebelumnya belum memiliki sistem pencatatan keuangan yang teratur, melalui pelatihan ini mulai memahami bahwa pencatatan sederhana, baik secara manual maupun digital dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi keuangan usaha. Kegiatan praktik dan diskusi yang dilakukan secara intensif mendorong peserta untuk mengenali kebocoran keuangan, menyusun laporan keuangan dasar, serta mengevaluasi performa usahanya secara lebih akurat dan Hal ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang aplikatif mampu memberikan dampak langsung dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha mikro dan kecil. Lebih dari sekadar peningkatan literasi pencatatan keuangan, kegiatan ini juga memberikan efek positif terhadap pola pikir dan perilaku usaha yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika pasar. Pengenalan terhadap pencatatan digital, e-commerce, serta praktik digital marketing sederhana membuka wawasan baru bagi pelaku UMKM dalam mengoptimalkan potensi bisnis secara lebih luas. Diskusi terbuka dan pendampingan personal selama sesi pelatihan membantu pelaku usaha untuk merancang strategi keuangan dan pemasaran berbasis data yang relevan dengan kebutuhan masing-masing. Kolaborasi aktif antara dosen, mahasiswa, dan komunitas usaha menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kolaboratif dan mendorong perubahan mindset dari sekadar menjalankan usaha secara tradisional menuju pola usaha yang lebih profesional dan terukur. Berdasarkan hasil pelaksanaan, dapat disimpulkan bahwa pencatatan keuangan sederhana merupakan langkah awal yang sangat krusial dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan usaha. Dengan adanya pemahaman dan penerapan sistem pencatatan yang tepat. UMKM mampu mengambil keputusan usaha secara lebih bijak, mengelola arus kas dengan baik, serta merencanakan pertumbuhan usaha secara strategis. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Program ini merekomendasikan agar pendampingan lanjutan tetap diberikan, baik melalui pelatihan rutin maupun bimbingan digital, agar proses transformasi pengelolaan usaha menuju era digital dapat berjalan secara berkelanjutan. Kesinambungan program seperti ini juga menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat fondasi ekonomi lokal melalui pemberdayaan pelaku UMKM yang adaptif, tangguh, dan siap bersaing di pasar yang semakin kompetitif. DAFTAR PUSTAKA