PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals KAJIAN PENGGUNAAN SUPLEMEN ZAT BESI DAN GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL Rita SeptianaA*. Kiki KristianingsihA. Risma Sakti PambudiA A,A,AUniversitas Sahid Surakarta Email Korespondensi Author: ritaseptiana0@gmail. This is an open access article under the CC BY 4. 0 license. Kata kunci: Anemia. Hamil. Hemoglobin. Zat Besi Keywords: Anemia. Pregnancy. Hemoglobin. Iron Abstrak Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 40% wanita hamil di seluruh dunia mengalami anemia. Anemia dimasa kehamilan beresiko menyebabkan perdarahan dan penurunan imunitas pada ibu serta menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin. Anemia berkaitan dengan kadar hemoglobin yang rendah (< 11 g/dL) dan salah satu penyebab utamanya adakah kurangnya asupan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola penggunaan suplemen zat besi dan kadar hemoglobin pada ibu hamil. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 83 ibu hamil yang rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di Apotek Solo pada bulan November dan Desember tahun 2020. Data diambil dari resep dan hasil pemeriksaan laboratorium, kemudian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar . ,4%) responden ibu hamil berusia antara 20-35 tahun. Berdasarkan usia kehamilannya. Sebagian besar . %) responden berada dalam usia kehamilan Trimester i. Data penggunaan suplemen zat besi menunjukkan sebanyak 83,1% responden menggunakan suplemen tersebut. Data kadar hemoglobin menunjukkan sebanyak 72,3% responden memiliki kadar hemoglobin Ou 11 g/dL. Mayoritas ibu hamil dalam penelitian ini telah mengkonsumsi suplemen zat besi dan memiliki kadar hemoglobin dalam kategori Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi hubungan konsumsi suplemen zat besi dengan kadar hemoglobin pada masa kehamilan. Abstrack The World Health Organization reported that more than 40% of pregnant women worldwide experienced anemia. Anemia during pregnancy posed risks such as maternal hemorrhage, decreased immunity, and impaired fetal growth. This condition was associated with low hemoglobin levels (< 11 g/dL) with iron deficiency being one of the main causes. This study aimed to examine the pattern of iron supplement use and hemoglobin levels in pregnant women. The study sample consisted of 83 pregnant women who had regularly attended antenatal check-ups at Solo Pharmacy in November and December 2020. Data were collected from prescriptions and laboratory results, then analyzed descriptively and presented in The results showed that the majority . ,4%) of pregnant women were aged between 20 and 35 years. Based on gestational age, most respondents . %) were in the third trimester. Data on iron supplement use showed that 83,1% of respondents consumed the supplements. Hemoglobin data revealed that 72,3% had hemoglobin levels Ou 11 g/dL. The majority of pregnant women in this study had taken iron supplements and had hemoglobin levels within the normal range. It is necessary to conduct further research to identify the association between iron supplement intake and hemoglobin levels during pregnancy. Pendahuluan Tingginya angka kejadian anemia dalam kehamilan menunjukkan bahwa kondisi tersebut memerlukan penanganan khusus (Ariani et al. , 2. Anemia pada kehamilan dapat meningkatkan resiko adanya komplikasi perdarahan, kelahiran premature, melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir rendah atau Panjang Badan Lahir Rendah. Seseorang dikatakan mengalami anemia jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar hemoglobin (H. dalam darahnya dibawah batas normal. Hemoglobin merupakan protein yang berfungsi membawa dan menghantarkan oksigen ke seluruh bagian tubuh (Kemenkes RI, 2. Diagnosa anemia pada masa kehamilan dapat ditegakkan apabila kadar Hb <11 g/dL atau hematokrit (H. <33%. Adanya kehamilan mengakibatkan adanya perubahan PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals fisiologis seseorang, salh satunya dapat meningkatkan risiko anemia. Anemia paling rentan dimulai pada usia kehamilan sekitar 20 sampai 24 minggu (Wibowo et al. , 2. Anemia pada ibu hamil diantaranya disebabkan oleh pola konsumsi makanan sehari-hari, adanya penyakit penyerta dan belum optimalnya konsumsi tablet tambah darah. Data World Bank tahun 2006 menunjukkan sebanyak 40% kasus anemia di negara berkembang disebabkan karena kurangnya asupan zat besi (Kemenkes RI, 2. Anemia yang disebabkan oleh defisiensi zat besi merupakan bentuk anemia yang paling prevalen selama masa kehamilan (Wibowo et al. , 2. Anemia pada kehamilan dapat disebabkan karena asupan makanan yang tidak adekuat dan karena adanya peningkatan kebutuhan sistemik akan zat besi (Warner & Kamran, 2. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa terdapat hubungan antara asupan zat besi dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil, berdasarkan uji statistik diperoleh p value sebesar yaitu 0,019 . <0,. (Finasari et al. , 2. Zat besi (F. merupakan komponen penting untuk produksi hemoglobin dalam darah. Berkurangnya cadangan zat besi dalam tubuh dapat disebabkan karena kehilangan darah, asupan yang tidak adekuat, adanya gangguan absorpsi dan juga peningkatan kebutuhan saat hamil (Warner & Kamran, 2. Asupan zat besi secara alami dapat diperoleh dari asupan makanan yang dikonsumsi setiap hari, namun apabila asupan dari makanan tidak memenuhi maka dapat diberikan tablet zat besi. Seorang wanita hamil diharuskan untuk mengonsumsi tablet zat besi minimal 60 tablet selama masa kehamilannya (Kemenkes RI, 2018. Pemberian suplementasi zat besi, baik melalui asupan makanan, makanan fortifikasi maupun melalui suplemen oral, secara signifikan dapat meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah (Kamariah, 2. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya melaporkan sebanyak 65,8 % ibu hamil tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Novelani et al. , 2. Kejadian anemia pada ibu hamil masih banyak ditemukan, penelitian sebelumnya yang dilakukan di lima Puskesmas di wilayah Boyolali menunjukkan sebanyak 42,9 % ibu hamil mengalami anemia (Kusumawati et al. , 2. Penelitian yang dilakukan di Puskesmas Jatinom. Klaten menunjukkan 41% ibu hamil mengalami anemia ringan, 56% anemia sedang dan 3% anemia berat (Wahyuningsih et al. , 2. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk melihat pola pengguaan suplemen zat besi dan kadar hemoglobin pada ibu hamil di Apotek Solo. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional yaitu pengukuran dan pengamatan dilakukan dalam suatu periode tertentu dan hanya dilakukan sekali pengamatan terhadap setiap subjek selama penelitian. Data penelitian diambil dari resep dan hasil pemeriksaan laboratorium pasien yang melakukan pemeriksaan kehamilan di apotek Solo pada bulan November sampai bulan Desember tahun Sampel penelitian adalah sebanyak 83 ibu hamil yang rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di Apotek Solo pada bulan November dan Desember tahun 2020 yang melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin di Apotek Solo sejak awal hamil sampai menuju masa persalinan dengan data resep dan data hasil pemeriksaan laboratorium yang lengkap. Kriteria eksklusinya adalah ibu hamil dengan data resep atau laboratorium yang tidak terbaca. Penelitian diawali dengan perijinan ke Apotek Solo dilanjutkan pengambilan data penelitian. Data penggunaan suplemen zat besi didapatkan dari data resep yang ditebus saat responden melakukan pemeriksaan kehamilan, sedangkan data kadar hemoglobin didapatkan dari hasil pemeriksaan Tahap selanjutnya proses analisis data dan penyusunan laporan. Analisis data univariate yaitu mendeskripsikan pola penggunaan suplemen zat besi dan kadar hemoglobin pada ibu hamil, pola penggunaan suplemen zat besi disajikan dalam bentuk persentase menggunakan dan tidak Gambaran kadar hemoglobin disajikan dalam bentuk persentase hemoglobin <11 g/dL dan hemoglobin Ou 11 g/dL. Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel. Hasil dan Diskusi Karakteristik Responden Penelitian Karakteristik responden dalam penelitian ini terdiri dari usia ibu hamil dan usia kehamilan, tersaji dalam tabel 1. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian Jumlah Pasien (Ntotal = . Karakteristik Usia Ibu Hamil 20-35 Tahun 35-39 Tahun Usia Kehamilan Trimester I . -12 Mingg. Trimester II . -24 Mingg. Trimester i . -40 Mingg. Tabel 1 menunjukkan sebagian besar ibu hamil dalam penelitian ini berusia 20-35 tahun dengan persentase sebesar 96,4%. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang berjudul hubungan antara pola konsumsi tablet zat besi . dengan kejadian anemia gravidarum pada ibu hamil, dimana rata-rata umur responden adalah antara 20-35 tahun (Sursilah, 2. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists usia reproduksi terbaik bagi wanita umumnya berada pada rentang akhir remaja hingga akhir usia dua puluhan, dan kesuburan mulai mengalami penurunan sejak usia sekitar 30 tahun (ACOG, 2. Usia ideal untuk hamil adalah usia sekitar 20-35 tahun, hal tersebut berkaitan dengan organ reproduksi yang dimiliki calon ibu, pada usia ini organ reproduksi sudah berkembang dengan sempurna (Purborini & Rumaropen, 2. Beberapa resiko yang muncul pada ibu bersalin di atas usia 35 tahun diantaranya adalah risiko perdarahan, melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, persalinan lama, risiko kegawatan pada janin, hipertensi dan risiko preeklamsian. Wanita diatas 35 tahun memiliki resiko pada kehamilah yang lebih tinggi jika dibandingakan apabila hamil pada usia 21-30 tahun (Haryanti & Amartani, 2. Kehamilan diatas usia 35 tahun diketahui memiliki kecenderungan peningkatan risiko terhadap berbagai Namun demikian, risiko tersebut tidak muncul secara serentak, melainkan meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 40 tahun. Salah satu komplikasi yang lebih umum terjadi pada kehamilan usia di atas 40 tahun adalah preeklamsia. Selain membahayakan kesehatan ibu, kehamilan di usia lanjut juga dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin (ACOG, 2. Berdasarkan usia kehamilan, sebagaian besar . %) ibu hamil dalam penelitian ini berada dalam kehamilan di Trimester ketiga. Antenatal Care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan minimal dilakukan sebanyak 6 . kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester I, 2 kali pada trimester II, dan 3 kali pada trimester i. Tujuan pemeriksaan kehamilan adalah untuk memantau kondisi kesehatan fisik maupun mental ibu hamil, sehingga calon ibu merasa lebih siap menghadapi masa persalinan, nifas, pemberian ASI eksklusif, serta kembalinya kondisi organ reproduksi secara alami dan bertahap (Kemenkes RI, 2018. Gambaran Penggunaan Suplemen Zat Besi Tabel 2. Gambaran Penggunaan Suplemen Zat Besi pada Ibu Hamil Jumlah Pasien (Ntotal = . Status Penggunaan Zat Besi Menggunakan Tidak Menggunakan Berdasarkan status konsumsi suplemen zat besi, sebanyak 83,1% ibu hamil dalam penelitian ini mengkonsumsi zat besi. Hasil ini berbeda dengan hasil beberapa penelitian terdahulu, penelitian oleh Sivanganam & Westa . menunjukkan hanya 36% Ibu hamil yang patuh dalam mengkonsumsi PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals tablet zat besi. Penelitian lain tentang gambaran kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet zat besi menunjukkan hanya sebanyak 34,2% ibu hamil yang patuh (Novelani et al. , 2. Pola konsumsi suplemen zat besi pada responden ibu hamil dalam penelitian ini tergolong tinggi, hal ini salah satunya disebabkan karena responden rutin melakukan pemeriksaan kehamilan dengan Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgy. yang praktik di Apotek Solo, dan sebagian besar dari responden selalu membeli obat yang telah diresepkan oleh dokter tersebut. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa lebih dari 40% ibu hamil di seluruh dunia terindikasi anemia, setengahnya diasumsikan disebabkan karena kekurangan suplemen zat besi (WHO. Penelitian terdahulu tentang perilaku konsumsi zat besi dengan kejadian anemia pada ibu hamil menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola konsumsi suplemen zat besi dengan kejadian anemia pada ibu hamil (Panggabean & Rezeki, 2. Suplemen zat besi berperan penting bagi ibu hamil karena membantu memenuhi kebutuhan nutrisi janin, mencegah anemia defisiensi besi, serta mengurangi risiko perdarahan dan kematian ibu saat persalinan. Zat besi berperan dalam pembentukan mioglobin dan hemoglobin, yang keduanya penting untuk suplai oksigen yang cukup, baik bagi ibu maupun janin (Kemenkes RI, 2018. Penelitian sebelumnya dengan subjek ibu hamil trimester i yang dilakukan di Puskesmas Gianyar II menunjukkan adanya perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah pemberian suplemen besi, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian suplemen besi dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil (Devi et al. , 2. Gambaran Kadar Hemoglobin Tabel 3. Gambaran Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil Jumlah Pasien (Ntotal = . Kadar Hemoglobin dalam Darah Hemoglobin <11 g/dL Hemoglobin Ou 11 g/dL Berdasarkan data pemeriksaan laboratorium, sebanyak 72,3% ibu hamil pada penelitian ini memiliki kadar hemoglobin Ou 11 g/dL, sedangkan sebanyak 27,7% ibu hamil memiliki kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dL. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya tentang gambaran kadar hemoglobin pada ibu hamil yang menunjukkan bahwa sebagian besar . ,9%) ibu hamil memiliki kadar hemoglobin diatas 11 g/dL (Putri et al. , 2. Menurut Kemenkes RI . , ibu hamil dinyatakan mengalami anemia apabila kadar hemoglobin dalam darahnya kurang dari 11 g/dL. Sebanyak 72,3% responden ibu hamil dalam penelitian ini tidak terindikasi anemia karena kadar hemoglobinnya Ou 11 g/dL. Anemia pada ibu hamil disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena adanya perubahan fisiologis berupa pembesaran sejumlah organ tubuh seperti payudara dan rahim . , disertai dengan pembentukan plasenta serta peningkatan volume darah dalam tubuh. Pertumbuhan janin menyebabkan peningkatan nutrisi pada ibu hamil, jika kebutuhan tersebut tidak tercukupi maka akan beresiko mengalami anemia. Anemia pada kehamilan dapat meningkatkan resiko komplikasi perdarahan pada ibu, penurunan fungsi sistem imun dan gangguan pertumbuhan janin seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), panjang badan lahir rendah (PBLR), resiko sakit dan anemia pada bayi serta resiko stunting pada bayi dan anak (Kemenkes RI, 2. Hasil telaah artikel yang dilakukan oleh Farhan & Dhanny . menyimpulkan beberapa efek yang dapat terjadi pada bayi yang lahir dari ibu yang menderita anemia selama masa kehamilannya antara lain adalah BBLR. Intrauterine Growth Restriction (IUGR), keguguran, kelahiran premature dan kematian neonatal. Adhimukti et al. melaporkan bahwa anemia selama kehamilan dapat meningktkan risiko BBLR dan perdarahan pasca persalinan pada ibu. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Kesimpulan Berdasarkan karakteristik usia, sebanyak 96,4% responden ibu hamil dalam penelitian ini berusia 2035 tahun. Berdasarkan usia kehamilannya, sebanyak 77% responden berada dalam usia kehamilan Trimester i. Gambaran konsumsi suplemen zat besi pada ibu hamil menunjukkan sebanyak 83,1% responden ibu hamil dalam penelitian ini mengkonsumsi suplemen tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, sebanyak 72,3% responden ibu hamil memiliki kadar hemoglobin Ou 11 g/dL. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi hubungan konsumsi suplemen zat besi dengan kadar hemoglobin pada masa kehamilan. Referensi