Ekono Insentif | ISSN . : 1907-0640 | ISSN . : 2654-7163 DOI: https://doi. org/10. 36787/jei. | Vol. 16 | No. 2 | Halaman 118-129 Oktober 2022 WHISTLEBLOWING SYSTEM DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD PADA BADAN PERTANAHAN NASIONAL KOTA BANDUNG Kevin Herdiyanto1 Universitas Islam Nusantara Fitria Ningrum Sayekti2. Sri Suharti3. Silviana Damayanti4. Meisani Febriyani5 Universitas Islam Nusantara Abstrak Perusahaan dapat mengambil inisiatif untuk membangun sistem pelaporan pelanggaran yang efektif sehingga masyarakat dan karyawan organisasi memiliki keberanian untuk melakukan tindakan berupa pencegahan akan terjadinya korupsi juga kecurangan dengan melaporkan kepada pihak berwajib yang mampu menangani masalah terkait. Sebagai hasil dari sistem whistleblowing ini dimungkinkan untuk meningkatkan kejujuran dan keterbukaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan bukti realitas Whistleblowing System dan Budaya Organisasi Terhadap Pencegahan Fraud di Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data untuk penelitian deskriptif kuantitatif. Partisipan dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. Besar sampel adalah 93 orang. Jumlah data yang diproses adalah 93 dan dilakukan pengujian antar variabel. Temuan penelitian ini menunjukkan angka signifikansi 0,000<0,05 yang menunjukkan adanya sistem whistleblowing dan budaya organisasi yang diarahkan pada pencegahan kecurangan. Sedangkan variabel whistleblowing system memiliki angka signifikansi 0,000<0,05 berpengaruh terhadap pencegahan kecurangan/fraud. Sedangkan variabel budaya memiliki angka signifikansi 0,02<0,05, dapat diartikan budaya organisasi berpengaruh secara parsial terhadap pencegahan organisasi/fraud. Hasil R square sebesar 0,618 yang berati variasi pada penceagahan fraud mampu di terangkan oleh kedua variabel bebas . histleblowing system dan budaya organisas. sebesar 62% sedangkan sisanya 38% diterangkan oleh variabel lain diluar model atau variabel yang telah di teliti. Kata Kunci: Whistleblowing System. Budaya Organisasi. Pencegahan Fraud Abstract Companies can take the initiative to create an efficient violation reporting system so that the general public and organization workers have the courage to take action in the form of preventing fraud and corruption by reporting it to the authorities who are capable of handling related issues. This whistleblower mechanism has the potential to improve transparency and honesty. In order to prove that the whistleblowing system and organizational culture at the Bandung City National Land Agency actually work, this study will gather data. In order to gather information for quantitative descriptive research, questionnaires are used. All of the workers of the Bandung City National Ekono Insentif - 118 Land Agency took part in the study. There are 93 persons in the sample. The total amount of data processed was 93, and variable testing was performed. The study's results demonstrate a significance level of 0. 05, which suggests the existence of a system for reporting fraud and an organizational culture that encourages it. The whistleblowing system variable, which influences fraud prevention, has a significance level of 0. Despite the cultural variable's significance level of 0. 05, it may be concluded that organizational culture has some bearing on fraud prevention. The two independent variables . histleblowing system and organizational cultur. can explain variations in fraud prevention to a degree of 62%, according to the R square result of 0. 618, while the remaining 38% is explained by other variables outside the model or variables that have not been included in the model. Keywords: Whistleblowing System. Organizational Culture. Fraud Prevention PENDAHULUAN Fraud ialah berbagai cara licik manusia yang dilaksanakan secara individu ataupun kelompok. Kecurangan biasanya ditunjukkan dengan pelaku yang bertindak secara sengaja demi keuntungan secara pribadi maupun organisasi, biasanya pelaku akan melanggar salah satu aturan yang sesuatu yang sama sekali salah sehingga bagi pihak lain hal ini bisa mengakibatkan kerugian (Larasati & Surtikanti, 2. Fraud juga tidak mengenal tempat, waktu, dan ruang, sehingga semakin lembaga nasional, permasalahan yang dihadapi menjadi semakin kompleks, dan semakin sulitnya pengawasan terhadap seluruh aktivitas dan operasional di perusahaan dan lembaga nasional. Masalah ini biasanya merupakan indikasi bahwa beberapa fungsi dalam perusahaan atau institusi tidak dijalankan secara patuh dan konsisten. Akibatnya, tata kelola perusahaan tidak memadai. Kecurangan ACFE (Association Certified Fraud Examiner. , diklasifikasikan atas tiga jenis yang didasarkan pada tindakan berupa: Penyelewengan aset ialah penyalahgunaan atau pencurian aset perusahaan atau aset pihak ketiga. Fraudulent Statement, ketiga Corruption (Korups. merupakan fraud yang cukup sulit diberantas karena melibatkan kerjasama antar pihak dan saling menguntungkan. Jenis fraud ini tidak jarang terjadi di negara berkembang yang salah satu pemicunya ialah hukuman yang tumpul dan kurangnya kesadaran akan good governance sehingga faktor integritas dipertanyakan. Tentu saja hal ini masuk ke dalam bagian penerimaan ilegal . ratifikasi ilega. , suap, penyalahgunaan wewenang/konflik . ratifikasi ilega. , dan pemerasan (Prisca Kusumawardhani. Sebelum fraud terjadi, alangkah baiknya intansi melakukan pencegahan yaitu dengan sebuah prosedur dan sistem yang memang telah dirancang juga dapat dilakukan secara khusus dalam rangka banyakanya cara untuk meminimalisir fraud dapat terjadi adalah dengan menggunakan whistleblowing system, ialah pelaporan yang dapat dilaksanakan oleh anggota organisasi, baik yang aktif atau tidak aktif, tentang suatu tindak illegal, pelanggaran, atau tindakan yang dilakukan kepada pihak dalam atau luar Ekono Insentif - 119 organisasi yang dirasa jauh dari kata bermoral (Suastawan et al. , 2. Perusahaan inisiatif untuk membangun sistem pelaporan pelanggaran yang efektif sehingga masyarakat dan karyawan organisasi memiliki keberanian untuk melakukan tindakan berupa pencegahan akan terjadinya korupsi juga kecurangan dengan melaporkan kepada pihak berwajib yang mampu menangani masalah terkait. Sebagai hasil dari sistem whistleblowing ini dimungkinkan untuk (Larasati & Surtikanti. Namun, pengungkapan maka harus diikuti oleh pemberian itikad baik kepada pihak mengeluh secara pribadi terhadap kebijakan perusahaan tertentu atau dengan itikad tidak baik seperti memfitnah misalnya. Budaya organisasi berupa salah satu karakter, keyakinan yang menjadi acuan bagi semua anggota, perilaku yang dimaksud ialah perilaku yang diterima secara benar dan moral jika ditinjau melalui aspek hukum, serta adanya lingkungan yang baik juga komitmen dalam suatu aturan yang ada di budaya Sehingga jika budaya dalam suatu organisasi diketahui terindikasi buruk maka bagi pegawai rasanya akan menjadi mudah untuk mereka melanggar hukum melalui tindakan yang tidak bermoral, sementara pegawai bisa jadi kecenderungan mereka untuk melanggar hukum jika budaya organisasi berkesan baik juga (Larasati & Surtikanti, 2. Budaya organisasi salah satu kebiasan yang berada didalam organisasi untuk mengontrol norma prilaku dan aturan yang diikuti oleh karyawan. Menurut Widyani . Ketika ada budaya organisasi yang positif, itu memiliki dampak positif pada organisasi, yang membantu mengurangi kecurangan. Budaya organisasi yang positif enggan memberikan celah bagi seseorang untuk melakukan kecurangan karena akan menciptakan rasa memiliki dalam organisasi, sehingga kecurangan dapat dicegah bahkan diberantas. Peneliti akan melakukan penelitian kembali dengan menggunakan sudut pandang kuesioner yang dibagikan berdasarkan fenomena di atas dan Whistleblowing System dan budaya organisasi dalam pencegahan fraud di Untuk system dan budaya organisasi terhadap pencegahan fraud, penulis melakukan penelitian dengan judul: AuWhistleblowing system Dan Budaya Organisasi Terhadap Pencegahan Fraud Pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandun. Ay. KAJIAN LITERATUR Theory off Planned Behavior (TPB) Teori Perilaku yang Direncanakan Ajzen dan Fishbein menciptakan Theory of Planned Behavior (TPB) antara tahun 1988 dan 1991. Menurut TPB, niat seseorang untuk berperilaku menentukan dipengaruhi oleh berbagai elemen pribadi, serta lingkungan. Menurut TPB, dipengaruhi oleh tiga variabel, dimulai dari sikap terhadap suatu aktivitas. Sebelum keinginannya, seorang individu akan memiliki niat dalam dirinya. Seorang individu akan memiliki tujuan untuk menampilkan perilaku ketika mereka memiliki persepsi dan sikap yang tindakan mereka akan disetujui oleh lingkungan mereka, dan rasa kontrol atas apa yang mereka lakukan. Ketika seseorang memiliki pemikiran, keyakinan. Ekono Insentif - 120 dan sikap yang baik bahwa apa yang akan dilakukannya selama proses whistleblowing adalah sesuatu yang beritikad baik dan dapat diterima oleh lingkungan di sekitarnya, maka dia akan (Aprina Nugrahesti Sulistya Hapsari. Segi Tiga Kecurangan Fraud triangle yang memiliki tiga syarat, menurut Tuanakotta dalam (Aprina Nugrahesti Sulistya Hapsari, 2. , menjadi penyebab terjadinya Tekanan . nsentif/tekana. , seseorang atau kelompok akan melakukan penipuan jika ada tekanan atau dorongan dari dalam diri mereka, yang dapat menyebabkan berbagai situasi, seperti kebutuhan keuangan yang mendesak . nggota keluarga saki. , atau bisa juga karena adanya tekanan dari pihak lain, seperti tekanan dari atasan untuk melakukan kecurangan, ketidakpuasan terhadap organisasi tempatnya bekerja, keserakahan, dan lain-lain. Seseorang atau sekelompok orang kemudian akan mencari peluang untuk terlibat dalam penipuan sebagai akibat dari insentif ini. Kesempatan . Opportunity adalah peluang terjadinya kecurangan atau penipuan . Ini biasanya terjadi sebagai akibat dari sistem pengendalian internal yang sangat wewenang, atau ketiganya. Misalnya, bendahara kekurangan pengawasan atas uang tunai atau rawat inap uang tunai dari Satu aspek, satu unsur, atau bahkan beberapa unsur yang saling tindakan korupsi. Rasionalisasi merupakan komponen penting dalam terjadinya kecurangan, dimana pelaku mencari pembenaran atas Bagian paling sulit dari segitiga penipuan untuk diukur adalah Mungkin lebih mudah untuk merasionalisasi penipuan bagi mereka yang terbiasa tidak jujur. Penipu selalu mencari pembenaran rasional atas tindakannya (Rachmania, 2. Kecurangan . Menurut Black's Law Dictionary, penipuan mencakup segala macam cara yang dapat dilakukan manusia untuk mendapatkan keuntungan atas orang lain melalui saran atau paksaan yang salah, serta semua metode, strategi, kelicikan, tersembunyi, dan segala cara lain yang tidak terduga. jujur sampai menipu orang lain (Anugerah, 2. Menurut The ACFE (Association of Certified Fraud Examiner. dalam (Ristianingsih, diklasifikasikan menjadi tiga jenis penyelewengan aset, penyimpangan laporan keuangan, dan korupsi. Whistleblowing System Sistem whistleblowing dianggap sebagai pencegah potensial terhadap penyuapan dan korupsi. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Kadek Widiyarta Whistleblowing system sangat efektif untuk mencegah tindakan fraud dalam penelitiannya yang berjudul AuPengaruh Kompetensi Aparatur. Budaya Organisasi. Whistleblowing, dan Sistem Pengendalian Intern Terhadap Pencegahan Fraud di Pengelolaan Dana Desa (Studi Empiris Pemerintahan Desa di Kabupaten Bulelen. Sistem whistleblowing merupakan salah satu komponen pengendalian internal perusahaan, dan digunakan untuk mengungkap pelanggaran yang Whistleblower adalah siapa saja yang melaporkan pelanggaran. Whistleblower Ekono Insentif - 121 masyarakat yang melaporkan praktik kecurangan di lingkungan perusahaan atau pemerintahan, dimana laporan tersebut dapat diungkapkan langsung oleh pihak internal atau eksternal yang mengetahui adanya praktik kecurangan Whistleblower didefinisikan sebagai seseorang yang pertama kali mengungkapkan atau melaporkan tindakan ilegal di tempat kerja mereka kepada otoritas internal organisasi atau lembaga pemantauan Pengungkapan ini tidak selalu dilakukan dengan itikad baik pelapor, mengungkap kejahatan atau penipuan yang diketahuinya (Febriyanti, 2. Bandung. Adaapun metode penelitian kuantitatif menurut Sugiyono . bisa diartikan sebagai suatu metode dalam penelitian berdasarkan filosofi positivisme yang dipakai dalam rangka untuk menentukan populasi atau sampel tertentu, kemudian instrumen penelitian digunakan pada saat mengumpulkan data, dan dilakukannya analisis data kuantitatif/statistik sebagai maksud untuk melakukan pengujian terhadap hipotesis yang sudah terlebih dahulu ditentukan. Tabel 1. Operasionalisasi Variabel Budaya Organisasi Bahwa budaya organisasi adalah suatu sistem norma perilaku, sosial, dan moral yang dapat ditiru oleh setiap individu di dalamnya guna mengarahkan tindakannya untuk mencapai tujuan Budaya organisasi juga merupakan keyakinan lembaga dalam melakukan pekerjaan dengan baik dan membentuk cara berpikir lembaga. Selanjutnya, budaya organisasi dapat berupa norma sosial, perilaku, dan moral, serta pola asumsi yang dikembangkan oleh kelompok tertentu, dengan tujuan membentuk perilaku sehari-hari suatu instansi pemerintah daerah dalam melaksanakan pekerjaan, menyelesaikan tugas, dan pengambilan keputusan dalam pemerintahan daerah (Hasuti & Wiratno. METODE PENELITIAN Pendekatan deskriptif kuantitatif berupa pendekatan yang digunakan dalam penulisan penelitian ini di mana Whistleblowing System. Budaya Organisasi, dan Pencegahan Fraud pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Metode penelitian deskriptif dalam pemaparan Sugiyono . berupa Ekono Insentif - 122 pelaksanaan penelitian dalam rangka mengenai nilai satu atau lebih variabel Penelitian akan menghasilkan memprediksi, dan mengendalikan segala Metode pengumpulan data meliputi observasi dan angket. Uji asumsi klasik, uji regresi linier, uji t, uji f, dan uji koefisien determinasi R2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Statistik Deskriptif Tabel 2 Hasil Analisis Deskriptif aspek perawatan sebanyak 6 pernyataan dijabarkan 23 pernyataan. Berdasarkan 5 diketahui total 93 responden yang di teliti memeiliki nilai rata-rata 98,63, standar deviasi 9,548, nilai minimum sebesar 67 dan nilai maksimum Budaya Organisasi pada penelitian yang sekarang merupakan variabel Data variabel ini didapatkan sebanyak 93 responden. Dimensi yang digunakan yaitu norma sebanyak 5 pernyataan, nilai dominan 3 pernyataan, aturan 4 pernyataan dan iklim organisasi 2 pernyataan dijabarkan 16 pernyataan. Berdasarkan tabel 4. 5 diketahui total 93 responden yang di teliti memiliki nilai rata rata 70,35, standar deviasi 6,355, nilai minimum 56 dan nilai maksimum 80. Uji Asumsi Klasik Tabel 3 HasilUji Normalitas Variabel terikat di sini ialah pencegahan kecuarangan. Data variabel ini dikumpulkan dengan dilakukan penyusunan kuesioner yang disebarkan langsung kepada total 93 responden. Dimensi yang digunakan adalah dimensi analisis risiko 4 pernyataan, dimensi implementasi 5 pernyataan sanksi, 6 pernyataan, dan dimensi pemantauan 2 Berdasarkan tabel diatas, nilai rata-rata dari total 93 responden yang diteliti adalah 68,38, standar deviasi 7,903, nilai minimum 53, dan nilai maksimum 85. Whistleblowing System penelitian sekarang merupakan variabel Data variabel ini didapatkan sebanyak 93 responden. Dimensi yang digunakan yaitu dimensi aspek struktural operasional sebanyak 8 pernyataan dan One sample Kolmogorov-smirnov test menjadi yang digunakan dalam pelaksanaan uji normalitas dalam penelitian ini. Jika lebih besar nilai asymp signifikasi . -taile. yang dihasilkan apabila disejajarkan dengan nilai alpha yang nilainya berada pada angka 0,05, maka bisa dilihat bahwa data teruji adalah berdistribusi normal. Hasil pengujian normalitas yang dilakukan di sini Ekono Insentif - 123 menunjukan data berdistribusi normal. Adapun pembuktiannya berasal melalui nilai asymp signifikasi . -taile. yang ditunjukkan dengan nilainya 0,200, dalam artian lebih besar dari 0,05. Uji Multikolineritas Pengujian ini dilakukan untuk korelasi bebas dalam model regeresi. Korelasi antara variable bebas tidak akan terjadi apabila diketahui model regresi adalah baik. Agar bisa tahu mengenai multikolinearitas, apakah ada atau tidaknya, bisa ditinjau melalui nilai Tolerance atau VIF (Variance Inlation Facto. yang besar. Variabilitas terpilih akan diukur melalui tolerance di mana oleh variable independent yang lain tidak VIF yang diketahui lebih besar angkanya dari 10 juga nilai tolerance yang diketahui kurang angkanya dari 0,10 menjadi nilai umum yang dapat digunakan, di mana jika hal ini terjadi maka multikolinearitas pun turut terjadi. Sebaliknya apabila yang terjadi yaitu VIF yang diketahui kurang angkanya dari 10 juga nilai tolerance yang diketahui lebih besar angkanya dari 0,10, maka hasilnya multikolinearitas tidak akan terjadi. Sumber : Output SPSS 25, data diolah 2022 Gambar 1 Hasil Uji Heteroskedastisitas Bisa Scatterplot yang mana didalamnya ditunjukkan bahwa secara acak titik menyebar dan dapat dilihat kalau adanya penyebaran terhadap titik yang ada di atas juga ada di bawah angka 0 pada sumbu Y, dari sini bisa diperoleh kalau heteroskedastisitas pada model regresi adalah tidak terjadi, sehingga bisa didapatkan bahwa terdapat kelayakan model regresi untuk dipakai dalam hal memprediksi pencegahan fraud yang didasarkan pada masukan variabel independennya yaitu whistleblowing system dan budaya organisasi. Analisis Regresi Linear Berganda Tabel 5 Hasil Uji Regresi Linear Berganda Tabel 4 Hasil Uji Multikolineritas Uji Heteroskedastisitas Berdasarkan tabel 5 yang sudah dipaparkan, berikut persamaan regresi linear berganda-nya: Y = -4,342 0,537x_1 0,294 x_2 Keterangan : = Pencegahan Fraud x_1 = Whistleblowing System x_2 = Budaya Organisasi Adapun bisa dijelaskan menurut persamaan diatas yaitu bahwa: Ekono Insentif - 124 . Nilai konstanta bertanda negatif -4,342 berarti apabila whistleblowing system dan budaya organisasi dianggap perubahan yang dialami maka cara pencegahan kecurangan sebesar 4,342, atau dalam cara mencegah Nilai konstanta -4,342 artinya berpengaruh negatif. Konstanta negatif berarti adanya penurunan yang terjadi mengenai cara pencegahan kecurangan, kondisi ini biasanya timbul kerana kurangnya sistem yang efektif dan budaya yang buruk di organisasi. Nilai whistleblowing system (X. sebesear 0,537 mengindikasikan bahwa setiap kenaikan whistleblowing system 1 Pencegahan kecuranga/fraud akan ditingkatkan sebesar 0,537, maka bisa dikatakan adanya pengaruh positif terhadap whistleblowing system dan juga . Nilai koefisien regersi variabel Budaya Organisasi (X. sebesear 0,294 kenaikan Budaya Organisasi 1 maka Pencegahan kecurangan/fraud akan ditingkatkan sebesar 0,294, maka bisa dikatakan bahwa adanya pengaruh positif terhadap budaya organisasi dan juga . Adapun yang ditunjukkan melalui hasil whistleblowing system . , budaya organisasi . : karena 0,537 > 0,294 maka variabel whistleblowing system bisa dikatakan memiliki pengaruh yang dominan terhadap pencegahan kecurangan. Uji Hipotesis Uji Parsial (T-tes. Tabel 6 Hasil Uji T-test . Bila t hitung yang diketahui adalah lebih besar dari t tabel ataupun nilai signifikasi yang diketahui adalah kurang dari 0,05 maka bisa diperoleh pengaruhnya terhadap Y . Bila t hitung yang diketahui adalah kurang dari t tabel ataupun nilai signifikasi yang diketahui adalah lebih besar dari angka 0,05 maka bisa diperoleh bahwa varibel X tidak ada pengaruhnya terhadap Y . Berdasarkan tabel 4. 71, bila nilai signifikasi yang diketahui adalah 0,000 di mana angka ini adalah kurang jika dibandingkan dengan angka 0,05 ataupun t-hitung yang diketahui adalah 8,815 di mana lebih dari 1,661 t- table, maka bisa diperoleh bahwa adanya pengaruh positif yang dimiliki oleh whistleblowing system sebagai X1 terhadap pencegahan fraud sebagai Y, diikuti juga signifikan. Berdasarkan tabel 4. 71, bila nilai signifikasi yang diketahui adalah 0,002 di mana kurang dari 0,05 ataupun thitung yang diketahui adalah 3,209 di mana lebih dari 1,661 t-tabel, maka pengaruh positif yang dimiliki budaya organisasi sebagai X terhadap pencegahan fraud sebagai Y, diikuti juga signifikan. Uji Simultan (F-tes. Tabel 7 Hasil Uji F-Test Berdasarkan tabel didapat nilai F 75,352 dengan f signifikasi 0,000, yang Ekono Insentif - 125 mana diketahui f signifikasi yaitu senilai 0,000 sama dengan lebih kecil kalau dengan nilai 0,05 dibandingkan, sebab dari itu bisa di artikan secara simultan bahwa whistleblowing system dan budaya organisasi simultan berpengaruh terhadap pencegahan kecurangan. Koefisien Determinasi R2 Berdasarakan tabel 8 bisa ditinjau bahwa R square sebesar 0,618 yang berarti variasi pada penceagahan fraud mampu di terangkan oleh kedua variabel bebas . histleblowing system dan sedangkan sisanya 38% diterangkan oleh variabel lain diluar model atau variabel yang telah di teliti. kecurangan kecurangan di Badan Petanahan Nasional. Adapun hasil yang didapatkan melalui penelitian ini turut mendukung peneltian yang telah terlebih dahulu dilakukan oleh Widiyarta . dan Anandya dan Werastuti . di mana melalui penelitian itu dinyatakan bahwa pengaruh positif dimiliki oleh variabel pencegahan kecurangan, diikuti juga Melalui pemaparan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sistem pelaporan . histleblowing syste. dalam sebuah organisasi yang terindikasi semakin baik atau tinggi maka dalam upaya pencegahan terjadinya tindakan kecurangan/fraud yang dilakukan bisa juga turut semakin baik atau tinggi. Tabel 8 Hasil Uji Koefisien Determinasi Pembahasan Whistleblowing System dan Terhadap Pencegahan Fraud pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung Melalui hipotesis pertama dalam penelitian yang diajukan, bisa dilihat bahwa adanya pengaruh whistleblowing kecurangan pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. Adapun ditunjukkannya hal ini melalui hasil analisis yang menunjukkan besaran signifikasi yaitu 0,000 sama dengan lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai 0,05, yang di mana artinya berupa variabel whistleblowing system secara individu Dari sini dapat dibuktikan bahwa whistleblowing system yang semakin baik atau efektif bisa jadi akan berdampak dalam mendeteksi atau Budaya Organisasi Terhadap Pencegahan Fraud pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung Melalui hipotesis kedua dalam penelitian yang diajukan, bisa dilihat kecurangan pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. Adapun ditunjukkannya hal ini melalui hasil analisis yang menunjukan besaran nilai signifikasi yaitu 0,002 sama dengan lebih 0,05 dibandingkan, yang berarti variabel budaya organisasi secara individu Melalui pemaparan tersebut maka dapat dibuktikan bahwa ketika budaya dalam sebuah organisasi terindikasi semakin baik maka bagi organisasi tersebut dapat berdampak positif yang turut mampu mencegah terjadinya tindakan kecurangan dalam organisasi tersebut. Adapun hasil yang didapatkan melalui penelitian ini turut mendukung peneltian yang telah terlebih dahulu dilakukan oleh Widyani & Wati . dan Ekono Insentif - 126 Wicaksono dan Urumsah . di mana melalui penelitian itu dinyatakan bahwa bisa didapatkan pengaruh positif melalui budaya organisasi terhadap pencegahan kecurangan apabila budaya tersebut terindikasi baik, begitu pula dengan pencegahan kecurangan yang akan ikut semakin tinggi apabila budaya organisasi terlihat semakin tinggi juga. Whistleblowing System dan Budaya Organisasi Pencegahan Fraud Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung Melalui hipotesis kedua dalam penelitian yang diajukan, bisa dilihat bahwa ada pengaruh yang dimiliki oleh variabel whistleblowing system dan budaya organisasi terhadap variabel pencegahan kecurangan/fraud pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. Kedua variabel whistleblowing berpengaruh secara simultan terhadap pencegahan kecurangan/fraud pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. Adapun ditunjukkannya hal ini melalui hasil analisis yang menunjukan besaran signifikasi yaitu 0,000 sama dengan lebih kecil kalua dengan nilai 0,05 disimpulkan secara simultan bahwa terbukti berpengaruh signifikan antara whistleblowing system (X. Budaya Oraganisasi (X. terhadap pencegahan kecurangan/fraud (Y). Artinya, dengan ada penerapan sebuah sistem pelaporan . histleblowing dengan baiknya budaya yang diterapkan dalam suatu organisasi, maka akan mampu mencegah terjadinya kecurangan pada Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. PENUTUP Melalui hasil penelitian yang telah dijabarkan atas pelaksanaan penelitian sebelumnya yang berlokasi di Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung (BPN) yang membahas tentang pengaruh whistleblowing system dan budaya kecurangan/fraud, maka bisa didapatkan hasil bahwa Whistleblowing System Badan Pertanahan Nasional Kota Terdapat pengaruh positif antara whistleblowing kecurangan yang juga diikuti dengan Selain itu pula, pengaruh yang signifikan antara Budaya Organisasi Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung kecurangan, didapatkan simpulan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara budaya organisasi terhadap pencegahan kecurangan. Pengaruh Whistleblowing System dan Budaya Organisasi pada terhadap Pencegahan Kecurangan Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung. Keterbatasan atau hambatan yang dihadapi peneliti ialah . Penelitian ini tidak dapat disamaratakan untuk Badan Pertanahan Nasional secara menyeluruh, karena hanya mengambil populasi yaitu Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung . Penelitian ini hanya mengambil sampel 93 karyawan tetap saja, diluar karyawan magang karena keterbatasan waktu penelitian. Penelitian selanjutnya diharapkan lebih memperluas populasi dan sampel dibeberapa kota sehingga hasil yand diperoleh dapat ditarik kesimpulan yang bersifat umum dan representif. Penelitian selanjutnya perlu menambahkan tentang pencegahan Kemudian untuk variabel yang tidak diikutsertakan untuk masuk ke dalam penelitian ini seperti keefektifan pengendalian internal, audit internal, fraud early warning system atau whistleblowing intention serta variabel lainnya yang memungkinkan untuk mempengaruhi pencegahan kecurangan. Ekono Insentif - 127 DAFTAR PUSTAKA