317 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 ANALISIS VISUAL LANSKAP DAN KELAYAKAN PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA BAHARI PANTAI NIPAH KABUPATEN LOMBOK UTARA Farida Apriani1. I Wayan Suteja2 & Indrapati3 1,2,3,Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram E-mail: 1faridaaprianti1@gmail. com, 2tejabulan@gmail. indrapati29@gmail. Article History: Abstract: Wisata bahari merupakan suatu bentuk pariwisata Received: 26-12-2024 yang berfokus pada potensi dan daya tarik yang dimiliki oleh Revised: 28-12-2024 wilayah pesisir dan perairan laut, salah satu destinasi wisata Accepted: 29-12-2024 bahari di Pulau Lombok yang saat ini sedang berkembang adalah Pantai Nipah. Pengembangan wisata Pantai Nipah saat ini cenderung lamban dan stagnan, tidak banyak Keywords: perkembangan yang terjadi di kawasan ini dalam beberapa Visual Lanskap, tahun terakhir untuk itu dibutuhkan berbagai macam kajian mendasar untuk menganalisis potensi yang dimiliki oleh kawsan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas visual wisata bahari. lanskap Pantai Nipah menggunakan metode skoring berdasarkan Bureau of Land Management dan menganalisis kelayakan pengembangan daya tarik wisata Pantai Nipah menggunakan skoring Analisis Daerah Operasi dan Daya Tarik Wisata. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 orang yang dipilih secara insidental, terdiri atas pengunjung dan pihak Pertanyaan diberikan secara terstruktur menggunakan panduan kuisioner . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Nipah berada pada kategori visual lanskap yang tinggi dan berdasarkan aspek kelayakannya Pantai Nipah masuk kategori layak. Saran dari penelitian adalah, dibutuhkan strategi pengembangan wisata khususnya pada aspek akomodasi yang merupakan aspek terendah dalam penilaian kelayakan berdasarkan hasil penelitian, hal ini berguna untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengunjung, selanjutnya pemetaan stakeholder dan analisis peran kelembagaan juga perlu dilakukan untuk melihat kondisi pengelola secara internal, guna megatasi permasalahan dan kendala yang ada. PENDAHULUAN Wisata bahari merupakan suatu bentuk pariwisata yang berfokus pada potensi dan daya tarik yang dimiliki oleh wilayah pesisir dan perairan laut . Wisata bahari memiliki potensi untuk memberikan manfaat ekonomi, seperti peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja di sektor pariwisata . Selain itu, wisata bahari juga memberikan nilai edukasi dan pemahaman tentang keanekaragaman hayati laut serta pentingnya pelestarian ekosistem laut . Salah satu destinasi wisata bahari di Pulau Lombok yang saat a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 ini sedang berkembang adalah Pantai Nipah. Pantai Nipah memiliki potensi objek wisata bahari karena pemandangan laut dan letaknya di wilayah pesisir pantai dengan suasana alamnya yang masih terjaga. UU No. Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil mendefinisikan wilayah pesisir sebagai daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut, ke arah darat mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 . ua bela. Pantai Nipah terletak di Dusun Nipah Desa Malaka Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara. Pantai Nipah masuk kawasan Geopark Rinjani yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2018. Geopark adalah sebuah wilayah geografis yang memiliki warisan geologi bernilai tinggi, termasuk di dalamnya keanekaragaman hayati dan keragaman budaya yang menyatu di dalamnya, yang dikembangkan dengan tiga pilar utama, yaitu konservasi, edukasi dan pengembangan ekonomi lokal . Daya tarik yang dimiliki oleh Pantai Nipah diantaranya wisata alam pantai, wisata budaya berupa kuliner khas pesisir ditambah wisata edukasi dengan adanya penangkaran satwa dilindungi yaitu Penyu yang dikelola oleh masyarakat. Dibalik potensi besar yang dimilikinya, pengembangan wisata Pantai Nipah saat ini cenderung lamban dan stagnan, tidak banyak perkembangan yang terjadi di kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini diduga karena kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam mengembangkan kawasan ini, selain itu pengelola wisata Pantai Nipah juga belum optimal dalam meningkatan minat pengunjung untuk datang berwisata, keunikan maupun kekhasan daerah wisata Pantai Nipah juga belum digali secara maksimal. Dalam upaya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, dibutuhkan berbagai macam kajian mendasar untuk menganalisis potensi yang dimiliki oleh daya tarik wisata. Melihat situasi yang terjadi saat ini, maka penelitian berjudul analisis kualitas lanskap dan kelayakan pengembangan daya tarik wisata bahari Pantai Nipah Desa Malaka Kabupaten Lombok Utara menjadi penting untuk dilakukan. Analisis kualitas lanskap memungkinkan identifikasi elemen penting dalam lanskap yang dapat menarik minat wisatawan dan memberikan pengalaman yang memuaskan. Penilaian Kualitas visual Lanskap berdasarkan Bureau of Land Management terdiri atas penilaian bentuk lahan, komposisi vegetasi, warna pada lanskap, pemandangan sekitar, kekhasan dan modifikasi struktural yang ada, sedangkan analisis kelayakan pengembangan daya tarik wisata akan menitikberatkan pada penilaian daya tarik, aksesibilitas, akomodasi dan sarana prasarana . Hasil yang diperoleh dari penelitian ini nantinya berupa tingkatan kualitas visual lanskap dari skoring parameter yang ada, kualitas visual lanskap akan menjadi modal besar pengembangan pariwisata alam karena berperan sebagai daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung. Visual lanskap yang unik akan membedakan satu destinasi dengan destinasi lainnya serta dapat menciptakan identitas khusus bagi destinasi tersebut. Kualitas visual lanskap yang menakjubkan dapat menjadi alasan kuat untuk melindungi dan melestarikan lingkungan. Kesadaran akan nilai estetika lanskap yang tinggi dapat mendorong upaya konservasi dan keberlanjutan lingkungan. Upaya untuk menjaga keaslian dan keindahan lanskap alam dapat memastikan bahwa destinasi pariwisata tetap menarik dan lestari dalam jangka panjang. Penilaian kelayakan pengembangan wisata alam akan menghasilkan kesimpulan tingkat kelayakan objek wisata Pantai Nipah, dimana skor tersebut dapat membantu pengelola mengetahui posisi serta kondisi pengelolaan objek wisata saat ini. Pengelola juga dapat mengambil strategi kedepan dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 berdasarkan hasil skoring yang telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas visual lanskap dan kelayakan pengembangan daya tarik wisata Pantai Nipah Desa Malaka Kabupaten lombok Utara. LANDASAN TEORI UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil mendefinisikan wilayah pesisir sebagai daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Dalam konteks ini, ruang lingkup wilayah pesisir meliputi daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut, ke arah darat mencakup wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 . ua bela. mil menurut batas yurisdiksi suatu negara. Wilayah pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang tinggi dan beragam, serta saling berinteraksi antara habitat tersebut. Wialyah pesisir mempunyai potensi yang besar, sehingga wilayah pesisir potensial untuk dikembangkan salah satunya untuk wisata bahari. Wisata bahari merupakan salah satu jenis wisata minat khusus yang kegiatan penyelenggaraannya berhubungan dengan air, pantai maupun laut dan termasuk penyediaan sarana dan prasarana maupun penawaran jasa seperti memancing, berlayar, berselancar, menyelam, mendayung atau hanya mengeksporasi pulau dan pantai dengan berkeliling. Sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata bahari adalah taman laut, pesisir pantai, flora dan fauna. Kegiatan wisata bahari memiliki berbagai kriteria yang harus dipenuhi terdiri dari kriteria fisik, sosial, ekonomi dan budaya . Potensi sumberdaya alam bahari tersebut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dengan tetap memperhatikan upaya konservasinya. Penilaian kualitas lanskap merupakan sebuah proses evaluasi yang sistematis yang dilakukan untuk menilai berbagai aspek dari suatu lanskap, termasuk karakteristik fisik, biologis, sosial, dan budaya yang terdapat di dalamnya . Tujuan utama dari penilaian ini adalah untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu lanskap serta memberikan dasar bagi pengembangan dan pengelolaan lanskap yang berkelanjutan. Penilaian kualitas lanskap berperan penting dalam mengukur tingkat keberlanjutan lanskap, mengidentifikasi area yang memerlukan perlindungan atau pemulihan, serta mendorong pengembangan lanskap yang ramah lingkungan dan berdaya tahan. Menilai keindahan secara akurat dengan prosedur eksperimental telah dilakukan oleh beberapa peneliti secara luas dengan membangun hubungan antara faktor responden yang menilai keindahan pemandangan dari beberapa elemen lanskap . Pendekatan terhadap preferensi visual adalah pendekatan integratif untuk mengetahui hubungan manusia dan Disisi lain, studi kelayakan pengembangan wisata berfungsi sebagai alat evaluasi, studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha atau proyek yang direncanakan . Pengertian layak disini adalah kemungkinan dari gagasan usaha atau proyek yang akan dilaksanakan memberikan manfaat . baik dalam arti financial benefit maupun dalam arti social benefit. Layaknya suatu gagasan usaha atau proyek dalam arti social benefit tidak selalu menggambarkan layak dalam arti financial benefit, hal ini tergantung dari segi penilaian yang dilakukan. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 METODE PENELITIAN Penelitian dilaksakan di Kawasan Wisata Bahari Pantai Nipah Kabupaten Lombok Utara, tepatnya berada di Desa Malaka Kecamatan Pemenang. Objek yang diteliti adalah Pantai Nipah. Populasi responden dalam penelitian ini adalah pengunjung Pantai Nipah, dari populasi tersebut nantinya dilakukan pengambilan sampel sebanyak 30 responden, angka ini ditentukan dengan pertimbangan agar data hasil wawancara dapat diolah secara kuantitatif dan hasilnya dapat menunjukkan data yang berpola, jumlah minimal uji kuisioner adalah minimal 30 responden . Dengan jumlah 30 responden maka data dapat diolah menggunakan pendekatan statistik dan data lebih mendekati sebaran normal. Sampel sebanyak 30 responden merupakan jumlah minimal dalam penelitian kuantitatif . Penelitian ini menggunakan teknik skoring berdasarkan Bureau of Land Management . untuk kualitas visual lanskap dengan variabel berupa bentuk lahan, vegetasi, warna, pemandangan sekitar, kekhasan, modifikasi struktural dan Pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam Dirjen PHKA dengan variabel berupa daya tarik, aksesibilitas, akomodasi dan sarana prasarana untuk kelayakan pengembangan wisata. Dalam teknik skoring, setiap variabel dalam penelitian ini diberi skor berdasarkan Skor diberikan dalam bentuk angka, skor dapat bervariasi tergantung pada jenis variabel yang diukur. Penilaian potensi lanskap untuk masing-masing variabel dilakukan dan diamati menggunakan model pengharkatan . , data dijumlahkan berdasarkan penilaian yang telah ditentukan untuk menentukan kriteria tingkat kualitas visual. Analisis kualitas lanskap kemudian dikelompokkan sebagai berikut: - Nilai 18-27, termasuk kelas A . ualitas tingg. - Nilai 9-17, termasuk kelas B . ualitas sedan. - Nilai 0-8 termasuk kelas C . ualitas renda. Dalam kelayakan pengembangan wisata . , kriteria daya tarik diberi 6 karena daya tarik merupakan faktor utama alasan seseorang melakukan perjalanan wisata. Aksesbilitas diberi bobot 5 karena merupakan faktor penting yang mendukung wisatawan dapat melakukan kegiatan wisata. Akomodasi serta sarana dan prasarana diberi bobot 3 karena hanya bersifat sebagai penunjang dalam kegiatan wisata. Skor yang diperoleh dibandingkan dengan skor total suatu kriteria. Nilai Indeks Kelayakan = Skor kriteria x 100% Skor total kriteria Keterangan: - Indeks Ou 66,6%: layak dikembangkan - Indeks 33,3% - O 66,6%: belum layak dikembangkan - Indeks < 33,3%: tidak layak dikembangkan HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Visual Lanskap Visual lanskap merujuk pada aspek estetika dari lanskap yang dapat dipersepsikan secara visual oleh manusia, hal ini melibatkan penilaian terhadap keindahan dan daya tarik suatu kawasan melalui kualitas komposisi visualnya, termasuk elemen-elemen seperti a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 bentuk, warna, tekstur, dan pola. Visual lanskap memengaruhi persepsi manusia terhadap lingkungan dan dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis dan emosional individu serta komunitas yang tinggal di sekitarnya. Visual lanskap mencerminkan hubungan antara manusia dan lingkungan alam, dan merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor-faktor fisik, budaya, dan sejarah. Pemahaman yang mendalam tentang visual lanskap menjadi penting dalam pengelolaan dan perencanaan wilayah yang berkelanjutan, karena dapat membantu memastikan bahwa lanskap yang dibangun atau dimodifikasi mempertimbangkan aspek estetika yang penting bagi kesejahteraan dan kepuasan manusia. Merujuk kepada Bureau of Land Management . , penilaian kualitas visual lanskap dilakukan terhadap 6 . variabel, yakni: bentuk lahan, vegetasi, warna, pemandanagan sekitar, kekhasan, dan modifikasi struktural. Bentuk Lahan Bentuk lahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas visual lanskap. Kemiringan . dapat mempengaruhi kualitas visual lanskap pada suatu kawasan, dalam konteks ini area dengan variasi bentuk lahan yang lebih besar cenderung menawarkan pandangan yang lebih menarik dan dinamis dibandingkan dengan area yang sempit, lanskap dengan topografi yang bervariasi seperti bukit, lembah, dan sungai cenderung memberikan pengalaman visual yang lebih kaya . Hasil identifikasi bentuk lahan di lapangan menunjukan bahwa Pantai Nipah memiliki tiga komponen penyusun bentuk lahan meliputi kaki bukit pada bagian terestrial, teluk pada bagian marine . , selain itu terdapat pula muara sungai yang melengkapi bentuk lahan di Pantai Nipah. Bentuk lahan Pantai Nipah dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Bentuk Lahan Pantai Nipah . umber: Google Eart. Kaki bukit adalah zona transisi antara wilayah dataran dengan wilayah bertopografi lebih tinggi. Wilayah kaki bukit memiliki karakteristik topografi yang unik yang dapat meningkatkan kualitas visual lanskap. Variasi bentuk lahan dan ketinggian di wilayah perbukitan menciptakan pandangan yang dinamis dan menarik, memberikan kedalaman dan kontras pada lanskap. Selain itu, kaki bukit seringkali ditumbuhi oleh vegetasi yang beragam, baik itu hutan, semak belukar, atau padang rumput, yang semuanya menambah kekayaan visual pada lanskap . Teluk merupakan suatu lekukan yang jelas dimana lekukannya berbanding sedemikian rupa dengan lebar mulutnya sehingga mengandung perairan yang a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 tertutup dan yang bentuknya lebih daripada sekedar suatu lengkungan pantai semata-mata . , sedangkan muara sungai merupakan wilayah pertemuan antara ekosistem air tawar dan air laut, ketiga variasi bentuk lahan ini menghadirkan keindahan pemandangan di Pantai Nipah. Vegetasi Vegetasi memberikan peran penting dalam membentuk elemen visual lanskap. Keanekaragaman dalam jenis dan bentuk tanaman menciptakan kontras dan tekstur yang menarik yang menambah keindahan visual lanskap (Zhao dkk, 2. Vegetasi merupakan elemen lanskap yang disusun oleh komponen biotik yang terdiri dari satu atau lebih jenis tumbuhan pada suatu kawasan. Berdasarkan hasil pengamatan, vegetasi umum yang dijumpai di sepanjang pantai nipah adalah Waru (Hibiscus tiliaceu. dan Katang-katang (Ipomoea pes-capra. Waru (Hibiscus tiliaceu. dapat tumbuh menjadi pohon yang besar memiliki daun yang lebar dengan sistem perakaran yang kokoh serta tajuk yang rindang, sedangkan Katang-katang (Ipomoea pes-capra. merupakan jenis tanaman merambat di pantai, daunnya seperti kuku kambing dan bunganya berwarna ungu. Keberadaan vegetasi seperti ini dapat mempengaruhi visalisasi lanskap, memberikan kesan alami, menyegarkan pandangan dan memberikan suasanan teduh. Keberadaan vegetasi juga mampu mengundang satwa liar seperti burung atau mamalia kecil yang mampu menambah kesan alami dengan suaranya . Vegetasi umum yang dapat ditemukan di Pantai Nipah dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Beberapa Vegetasi di Pantai Nipah. Waru (Hibiscus tiliaceu. , . Katang-katang (Ipomoea pes-capra. Warna Kontras dan harmoni yang diciptakan oleh warna dapat menambah keindahan visual lanskap, misalnya warna hijau dari komponen vegetasi, ditambah dengan warna bebatuan yang berbeda, dapat menciptakan kontras yang menarik dan memikat mata . Di sisi lain, warna yang serasi dapat menciptakan suasana yang tenang dan menenangkan dan warna juga dapat mempengaruhi sisi emosi manusia, seperti warna-warna hangat seperti merah dan kuning dapat menciptakan suasana yang energik dan ceria, sementara warna-warna dingin seperti biru dan hijau dapat menciptakan suasana yang tenang dan menenangkan . Area dengan warna yang cerah atau kontras tinggi dapat menarik perhatian dan menjadi titik fokus dalam lanskap. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa komposisi warna penyusun lanskap Pantai Nipah terdiri atas tiga warna dominan yakni biru dari warna air laut, putih dari warna pasir pantai dan hijau dari warna vegetasi, a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 ketiga warna tersebut termasuk kontras dan memberikan variasi indah yang dapat dilihat pada Gambar 3. Biru laut yang cerah dapat memberikan kesan kedamaian dan ketenangan saat dipandang mata, sementara hijau dari vegetasi dapat memberikan kesan kesegaran dan keseimbangan, disisi lain warna putih yang mewakili pasir pantai memberikan kesan bersih dan murni. Secara keseluruhan, kombinasi warna-warna ini menciptakan pemandangan pantai yang indah dan menenangkan. Gambar 3. Komposisi Warna di Pantai Nipah Pemandangan Sekitar Kualitas dari pemandangan sekitar dapat mempengaruhi persepsi orang terhadap lanskap, pemandangan sekitar yang indah dan menarik dapat meningkatkan kualitas visual lanskap dan membuatnya lebih menarik bagi pengunjung. Bukaan visual, atau sejauh mana pemandangan dapat dilihat, juga mempengaruhi kualitas visual. Misalnya, lanskap dengan bukaan visual yang luas dapat memberikan pandangan yang luas dan menarik . Kondisi ini dimiliki oleh Pantai Nipah, bukaan visual dan pandangan luas ke arah laut menjadi keunggulan dari kawasan ini. Di sisi lain, elemen lanskap di sekitar, seperti air, hutan, struktur bersejarah, dan formasi geologi, juga mempengaruhi kualitas visual lanskap. Misalnya, hutan dapat menciptakan suasana yang tenang dan menenangkan, sementara struktur formasi geologi dapat menambah keunikan dan keindahan lanskap . , kondisi ini juga dimiliki oleh Pantai Nipah yang berada pada bentang alam yang unik yaitu berada di wilayah kaki bukit . ona peralihan antara dataran dengan wilayah bertopografi lebih tingg. dengan pemandangan ke arah bukit yang menjulang. Pemandangan sekitar Pantai Nipah dapat dilihat pada Gambar 4. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Gambar 4. Pemandangan Sekitar di pantai Nipah Kekhasan Kekhasan lanskap merujuk pada karakteristik unik dan khusus dari suatu lanskap yang membedakannya dari lanskap lainnya, hal ini dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari fitur fisik lanskap seperti formasi geologi hingga jenis-jenis vegetasi . Wisatawan sering mencari pengalaman yang unik dan berkesan, lanskap yang unik dapat menawarkan pengalaman yang tidak dapat ditemukan di tempat lain seperti wisatawan akan tertarik untuk melihat fenomena alam yang langka atau unik, seperti formasi batu yang aneh atau spesies satwa atau tumbuhan yang langka . Wisatawan sering mencari destinasi yang menawarkan sesuatu yang otentik dan berbeda dari apa yang mereka temui sehari-hari. Lanskap yang unik dapat menawarkan keaslian ini. Dalam penilaian aspek kekhasan. Pantai Nipah termasuk kategori khas meskipun hampir sama dengan daerah tertentu, hal ini merujuk kepada pantai berupa teluk yang masih dapat ditemukan di beberapa wilayah di Pulau Lombok. Modifikasi Struktural Penambahan bangunan berupa sarana dan prasarana wisata mampu mempengaruhi suatu lanskap. Konsep pengembangan yang bertemakan alam akan mampu membaur bersama bentang lahan sehingga tidak mempengaruhi kualitas suatu lanskap bahkan disisi lain akan mampu menambah keindahaan lanskap tersebut. Pemilihan bentuk bangunan dan material bangunan akan mempengaruhi hal ini. Dilihat dari kondisi di lapangan, beberapa bagian dari kawasan Pantai Nipah telah terbangun, utamanya adalah warung makan. Rumah makan yang ada di Pantai Nipah memiliki konsep yang cukup baik dan ramah lingkungan, dengan bentuk gazebo berbahan bambu yang tampak menyatu dengan alam yang dapat dilihat pada Gambar 5. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Gambar 5. Bentuk Modifikasi Struktural di Pantai Nipah Nilai kualitas visual lanskap Pantai Nipah kemudian diperoleh dari penjumlahan hasil skoring 6 . variabel meliputi bentuk lahan, vegetasi, warna, pemandangan sekitar, kekhasan dan modifikasi struktural. Hasil skoring dibagi menjadi tiga kelas yaitu: . Nilai 19 -33 termasuk Kelas A atau kualitas tinggi, . Nilai 12 Ae 18 termasuk Kelas B atau kualitas sedang dan . nilai 0 Ae 11 termasuk Kelas C atau kualitas rendah. Berdasarkan hasil skoring, penilaian kualitas visual pantai Nipah Desa Malaka dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel. 1 Hasil Penilaian Kualitas Visual Lanskap Pantai Nipah No. Variabel Hasil Penialain Skor Bentuk Lahan Vegetasi Warna Pemandanagan Sekitar Pantai Nipah memadukan bentuk lahan antara kaki bukit pada bagian terestrial dan teluk pada bagian marine . , selain itu terdapat pula muara sungai yang melengkapi variasi bentuk lahan Pantai Nipah. Vegetasi Pantai Nipah terdiri dari komposisi tumbuhan pantai dan juga berbagai jenis tumbuhan dataran rendah. Komposisi warna penyusun lanskap Pantai Nipah terdiri atas tiga warna dominan yakni biru dari warna air laut, putih dari warna pasir pantai dan hijau dari warna vegetasi. Komponen pemandangan sekitar Pantai Nipah terdiri dari pemandangan laut dan bukit. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 No. Variabel Kekhasan Hasil Penialain Skor Pantai Nipah memiliki pemandangan yang khas, yaitu pantai berupa teluk Modifikasi Bagian terbangun dari Pantai Struktural Nipah berupa rumah makan dengan konsep rumah panggung Total Berdasarkan hasil skoring kualitas visual lanskap menggunakan metode Bureau of Land Management . Pantai Nipah termasuk dalam kategori kualitas visual tinggi karena memiliki total skor 21. Kawasan dengan kualitas visual lanskap tinggi memiliki dampak dan pengaruh yang signifikan terhadap pengembangan wisata. Lanskap dengan kualitas visual tinggi biasanya memiliki karakter alami yang dominan. Keindahan pemandangan alam dapat menambah nilai jual tinggi dalam destinasi pariwisata, pemandangan alami dengan kualitas yang terjaga akan menjadi nilai jual yang tinggi . Visual lanskap yang tinggi juga memiliki makna bahwa kawasan Pantai Nipah harmonis yang artinya selaras dengan alam dengan struktur lanskap yang beragam seperti adanya kaki bukit, teluk dan muara sungai. Kelayakan Pengembangan Wisata Bahari Berdasarakan pedoman Analisis Daerah Operasi dan Daya Tarik Wisata . , beberapa hal yang menjadi aspek penilaian kelayakan pengembangan objek daya tarik wisata alam pada suatu kawasan adalah daya tarik, aksesibilitas, akomodasi dan sarana prasarana. Daya Tarik Kriteria penilaian daya tarik yang pertama adalah faktor keindahan. Keindahan objek wisata dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk mengunjungi suatu kawasan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata tersebut, keindahan objek wisata dapat mendorong pengembangan infrastruktur di sekitarnya, seperti penginapan, layanan jasa . ngkutan, komunikasi dan lainny. serta warung dan lain-lain . Pada kriteria ini. Pantai Nipah memenuhi empat dari lima unsur penilaian, yaitu pantai yang indah, adanya keserasian pemandangan di sekitarnya, adanya keunikan dan terdapat susunan vegetasi di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari bentuk Pantai Nipah berupa teluk yang khas dan pasir putih yang dimilikinya, pemandangan sekitar yang sangat mendukung dimana terdapat perpaduan antara pemandangan kaki bukit dan juga pemandangan indah ke arah Pantai Nipah juga memiliki susunan vegetasi yang cukup beragam. Poin penilaian yang tidak terpenuhi adalah variasi pemandangan ke arah pulau maupun ke arah gunung di tegah laut yang tidak dimiliki oleh pantai ini, hal tersebut karena dihadapan Pantai Nipah adalah laut lepas. Kriteria penilaian daya tarik kedua adalah faktor keamanan. Tujuan dari manajemen keamanan wisata adalah untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan keselamatan wisatawan, operator, serta masyarakat setempat agar kegiatan wisata dapat berjalan dengan baik . Pada kriteria keamanan. Pantai Nipah memenuhi empat dari lima unsur penilaian keamanan yang terdiri dari tidak adanya arus berbahaya, bebas racun . , tidak ditemukan adanya kepercayaan yang mengganggu dan tidak adanya gangguan dari masyarakat sekitar, hal tersebut terungkap dari pernyataan responden yang dapat menikmati wisata di Pantai Nipah dengan tenang dan nyaman. Unsur yang tidak terpenuhi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 adalah adanya tubir atau jurang yang terdapat pada bagian utara dan selatan dari pantai ini, di bawah tubir tersebut terdapat batuan karang yang membuat kedua sisi ini berbahaya bagi Penilaian ketiga merupakan jenis dan warna pasir, dimana Pantai Nipah teridentifikasi memiliki pasir berwarna putih. Kriteria penilaian selanjutnya adalah variasi kegiatan yang dilakukan oleh Dari enam unsur penilaian yang ada. Pantai Nipah memenuhi tiga unsur kegiatan pengunjung yang berhasil diamati, yakni berupa kegiatan berenang, menikmati pemandangan dan bersampan sedangkan aktivitas pengunjung yang tidak ditemukan adalah berjemur, berselancar dan berolah raga air. Kondisi ombak yang tenang menyebabkan pantai ini kurang cocok untuk berselancar, selain itu Pantai Nipah dominan dikunjungi oleh wisatwan lokal, sehingga aktivitas berjemur atau sunbathing menjadi kurang populer. Tidak tersedianya fasilitas yang memadai sehingga kegiatan olah raga air . ater spor. juga tidak Kriteria penilaian kelima adalah aspek kebersihan. Dari enam unsur. Pantai Nipah memenuhi empat diantaranya yaitu, tidak adanya pengaruh pelabuhan, pemukiman, pelelangan ikan atau pasar maupun pabrik, dan tidak adanya sumber pencemar. Dua unsur yang tidak terpenuhi diantaranya adalah adanya pengaruh sungai . dan adanya pengaruh musim . ampah yang dibawa angin lau. Berdasarkan kreiteria penilaian, sungai dapat menjadi potensi sumber pencemar karena membawa sampah dari hulu, sedangkan faktor musim yang dimaksud adalah adanya kondisi angin musim barat yang membawa sampah dari laut menuju ke pantai yang membuat Pantai Nipah mendapat sampah hanyutan setiap musimnya. Sungai yang bermuara di Pantai Nipah dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Sungai yang bermuara di pantai Nipah Kriteria penilaian berikutnya adalah aspek lebar pantai. Pantai yang lebar akan menambah keindahan pemandangan serta akan mampu menampung banyaknya aktivitas Pada aspek ini. Pantai Nipah mendapatkan skor terendah disebabkan lebar pantainya yang kurang dari 50 m, berdasarkan hasil pengamatan lebar Pantai Nipah berkisar antara 0-20 m yang membuatnya menjadi pantai yang cukup sempit. Pada kondisi pasang, air laut bahkan sampai menyentuh vegetasi dan juga bangunan masyarakat . umah maka. Penilaian daya tarik yang terakhir adalah faktor kenyamanan. Dari empat unsur yang ada. Pantai Nipah memenuhi tiga diantaranya, yaitu tidak adaya kegiatan vandalisme . https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 core. , bebas kebisingan dan tidak ada binatang berbahaya. Unsur yang tidak terpenuhi adalah adanya sampah musiman yang dibawa oleh arus laut. Kondisi yang terbilang cukup baik ini dikarenakan Pantai Nipah jauh dari kebisingan jalan raya, pengunjung yang datang juga cukup tertib dan sampah yang dibawa oleh pengunjung dapat diorganisir dengan baik oleh pengelola. Hasil penilaian kriteria daya tarik dapat dilihat pada Tabel 2, dimana hasil penilaian menunjukkan unsur daya tarik yang dimiliki oleh Pantai Nipah adalah layak. Tabel. 2 Penilaian Kriteria Daya Tarik Wisata No Unsur/sub Unsur Nilai Bobot 1 Keindahan 2 Keamanan 3 Jenis dan warna pasir 4 Variasi kegiatan 5 Kebersihan 6 Lebar pantai 7 Kenyamanan Skor kriteria daya tarik . kor max = 1. Skor . /1. x100 = 69,04 (Laya. Aksesibilitas Aksesibilitas dapat diartikan sebagai kemudahan dalam menjangkau suatu objek Aksesibilitas yang tinggi memudahkan wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata ke objek tujuan yang diinginkan dengan adanya konektivitas antar objek sehingga setiap objek wisata dapat dijangkau atau tidak terlampaui pada saat melakukan perjalanan wisata . Kriteria penilaian aksesibilitas terdiri dari empat aspek yaitu kondisi jalan, jarak dengan pusat kota, tipe jalan dan waktu tempuh dari pusat kota. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa jalan menuju Pantai Nipah dari pusat Kota Mataram terbilang baik . apat dilihat pada Gambar . , tidak ada permasalahan maupun kendala mengenai kerusakan jalan yang mengakibatkan perjalanan pengunjung dapat terhambat, jalan dilengkapi lampu penerangan, rambu-rambu dan papan petunjuk keselamatan yang Jarak dengan pusat kota terbilang cukup jauh yaitu 26 km, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Tipe jalan dari dan menuju Pantai Nipah adalah hotmix menjadikan perjalanan menuju kawasan ini menjadi nyaman. Hasi penilaian aksesibilitas dapat dilihat pada Tabel 3, dimana hasil penilaian menunjukkan unsur aksesibilitas yang dimiliki oleh Pantai Nipah adalah layak. Gambar 7. Aksesibilitas Pantai Nipah a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Tabel. 3 Penilaian Kriteria Aksesibilitas Unsur/sub Unsur Nilai Kondisi Jalan Tipe jalan Waktu tempuh dari pusat kota Skor Aksesibilitas (Skor max = . Bobot Skor . x100%= 83,33 (Laya. Akomodasi Akomodasi objek wisata merujuk pada fasilitas tempat tinggal yang disediakan bagi wisatawan selama berada di suatu destinasi yang dapat berupa hotel, vila, penginapan, atau bahkan tenda kemah, akomodasi berperan dalam memberikan tempat yang nyaman dan aman bagi wisatawan untuk beristirahat dan menginap selama berada di suatu tempat . Akomodasi yang baik dapat meningkatkan kepuasan wisatawan, yang pada gilirannya dapat mendorong wisatawan untuk kembali mengunjungi objek wisata tersebut . Akomodasi wisata yang terdapat di sekitar Pantai Nipah telah berkembang cukup baik . apat dilihat pada Gambar . , terdapat 2 hotel yang dapat disewa oleh pengunjung dengan harga yang Harga terendah berada di kisaran Rp. 000 per malam, sedangkan harga tertinggi dapat mencapai Rp. 000 per malam. Adapaun fasiltas yang tersedia seperti kasur, meja dan kamar mandi, selain itu juga terdapat fasilitas air panas, pendingin ruangan (AC), tv, dan kolam renang. Adapun hasil penilaian akomadasi kawasan Pantai Nipah dapat dilihat pada Tabel 4, dimana hasil penilaian menunjukkan unsur akomodasi yang dimiliki oleh Pantai Nipah adalah layak. Gambar 8. Salah Satu Akomodasi yang Terdapat di Pantai Nipah Tabel. 4 Penilaian Kriteria Akomodasi No Unsur/sub Unsur Nilai Bobot Skor Jumlah Akomodasi Jumlah kamar Skor Aksesibilitas . x100%= (Skor max = . 66,66 (Laya. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Sarana dan Prasarana Sarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar prasarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang serta dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang beraneka ragam, sedangkan prasarana wisata dapat diartikan sebagai sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalannya di daerah tujuan wisata. Hasil pengamatan terhadap ketersediaan sarana dan prasarana yang ada di kawasan Pantai Nipah menunjukkan bahwa keberadaan keduanya sudah cukup baik. Apabila dilihat dari aspek sarana (Gambar . Pantai Nipah . alam radius 15 K. sudah terdapat warung makan, pusat perbelanjaan . ini marke. , toko cinderamata, dan jaringan transpotasi. Dilihat dari aspek prasarana. Pantai Nipah sudah terjangkau oleh jaringan telekomunikasi, terdapat fasilitas kesehatan . , jaringan listrik dan air minum. Penilaian sarana dan prasarana kawasan wisata Pantai Nipah dapat dilihat pada Tabel 5, dimana hasil penilaian menunjukkan unsur sarana prasarana yang dimiliki oleh Pantai Nipah adalah layak. Tabel. 5 Penilaian Kriteria Sarana dan Prasarana No Unsur/sub Unsur Nilai Bobot Skor Sarana Prasarana Skor kriteria sarana dan Prasaran . x100% = (Skor max = . 100 (Laya. Gambar 9. Sarana dan prasarana pendukung Pantai Nipah. Warung Makan, . Mini Market, . Toko Cindera Mata, . Transportasi Umum a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: Tingkat visual lanskap Pantai Nipah yang dihitung menggunakan metode Bureau of Land Management meliputi penilaian bentuk lahan, komposisi vegetasi, warna pada lanskap, pemandangan sekitar, kekhasan dan modifikasi struktural menghasilkan skor 21 atau berada pada kategori tinggi. Skor maksimal terdapat pada aspek vegetasi, warna dan pemandangan sekitar yang menjadi keunggulan pantai ini. Tingkat kelayakan pengembangan Pantai Nipah yang dihitung menggunakan metode skoring berdasarkan Pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam Dirjen PHKA meliputi penilaian daya tarik, aksesibilitas, akomodasi dan sarana prasarana secara keseluruhan memenuhi standar layak. DAFTAR PUSTAKA