PREDIKSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2015-2017 Ermi Dianta Aritonang1 & Khaira Amalia Fachrudin2 aritonang@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis membuktikan dan menguji perbedaan hasil status kesehatan antara model Prediksi Altman Z-Score. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin. Pada Perusahaan Manufaktur sektor industri Barang Konsumsi Periode 2015-2017. Sampel diambil dengan metode purposive sampling. Dari 37 perusahaan yang terdaftar, terdapat 31 perusahaan yang memenuhi kriteria. Teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dari laporan keuangan perusahaan yang diunduh dari Teknik analisis data yang digunakan adalah Multiple Discriminant Analysis. Uji hipotesis menggunakan uji Uji Kruskal Wallis H dan Uji Akurasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara metode Altman ZScore. Springate. Zmijewski. Grover, dan Fachrudin dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai probabilitas seluruh metode yang lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,00. Uji akurasi menunjukkan metode Altman. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin memiliki tingkat akurasi yang berbeda-beda yaitu masing-masing 83,87%, 98,92%, 97,85%, dan 92,47%. Tingkat akurasi yang tinggi didapatkan oleh metode Zmijewski, dan Grover yaitu masing-masing sebesar 98,92% dan 97,85%. Hal ini bermakna metode Zmijewski lebih disarankan bagi perusahaan ataupun investor dalam menilai kondisi keuangan perusahaan manufaktur untuk mengambil keputusan. Kesimpulannya yaitu terdapat perbedaan antara metode Altman Z-Score. Springate. Zmijewski. Grover, dan Fachrudin. Dan metode prediksi yang memiliki tingkat akurasi tertinggi yaitu metode Zmijewski dan Fachrudin. KATA KUNCI Financial Distress. Altman Z-Score. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin PENDAHULUAN Financial distress merupakan keadan dimana perusahaan mengalami kesulitan keuangan sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi. Financial distress mengindikasikan bahwa kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat dan merupakan penyebab utama kebangkrutan perusahaan. (Fahmi, 2. Pada dasarnya setiap perusahaan didirikan dengan harapan akan menghasilkan keuntungan sehingga mampu bertahan atau berkembang dalam jangka panjang. 1 adalah Alumni Prodi Manajemen. Universitas Sumatera Utara 2 adalah Dosen Prodi Manajemen. Universitas Sumatera Utara POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 Hal ini berarti dapat diasumsikan bahwa perusahaan akan terus hidup dan diharapkan tidak akan mengalami likuidasi. Kenyataannya, asumsi tersebut tidak selalu menjadi kenyataan. Seringkali perusahaan yang telah beroperasi dalam jangka waktu tertentu terpaksa bubar atau dilikuidasi karena mengalami financial distress yang berujung pada kebangkrutan, tidak terkecuali pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi di Indonesia. Kompleksitas dan banyaknya operasional perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi dengan banyaknya muncul isu-isu negatif yang berkembang seputar sektor industri barang konsumsi yang beredar di Indonesia. Secara umum isu negatif itu adalah adanya bahanAebahan berbahaya yang terkandung dalam sektor industri barang konsumsi yang beredar di Isu-isu seperti itu bisa membuat masyarakat berkurang minatnya untuk mengkonsumsi produk tersebut. Bila permintaan masyarakat akan produk itu berkurang, maka pendapatan perusahaan berkurang dan mengakibatkan perusahaan ini cukup rentan dalam mengalami kondisi financial distress yang dapat mengancam eksistensi perusahaan dalam persaingan industri, sehingga sangat penting bagi perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi dalam mengembangkan sistem yang menjadi peringatan dini akan kondisi keuangan di dalam perusahaan sehingga perusahaan masih bisa mencari solusi apabila perusahaan tersebut mengalami kondisi financial distress. Selain itu fenomena yang baru-baru ini terjadi di Indonesia adalah banyaknya perusahaan yang delisting pada tahun 2015 s/d 2017 dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Delisting adalah apabila saham yang tercatat di Bursa mengalami penurunan kriteria sehingga tidak memenuhi persyaratan pencatatan, maka saham tersebut dapat dikeluarkan dari pencatatan di Bursa. Tabel 1 Daftar Perusahaan Delisting dari BEI Tahun 2015-2017 Alasan Delisting 21/01/2015 FD Kode Nama Emiten Sektor (IPO) DAV BAEK Davomas Abadi Tbk Manufaktur 22/11/1994 Bank Ekonomi Raharja Tbk Jasa 10/11/ 2015 NFD UNTX Unitex Tbk Manufaktur 08/01/ 16/06/1989 07/12/2015 CTRP. Ciputra Property Tbk Jasa 07/11/2007 19/01/ 2017 NFD CTRS Ciputra Surya Tbk Jasa 15/01/1999 19/01/2017 NFD SOBI Sorini A. Corporindo Tbk Manufaktur 03 Agt 1992 03/07/2017 NFD CPGT Citra M. Corpora Tbk Jasa 09/07/2013 19/10/ 2017 INVS Inovisi Intracom Tbk Jasa 03/07/2009 23/10/2017 BRAU Berau Cool Energy Tbk Pertambangan 19/08/2010 16/11/ 2017 TKG LAMI Permata Prima Sakti Tbk Pertambangan 06/01/1992 16/11/ 2017 PT Lami C. Nusantara Tbk Jasa 18/07/2001 28/12/2017 NFD (Delistin. Sumber: sahamok. Keterangan: FD = Financial distress NFD = Non financial distress Kondisi Indonesia saat ini memicu rawannya kesulitan keuangan . inancial distres. terjadi pada beberapa perusahaan nasional. Hal ini merupakan akibat dari pulihnya Amerika Serikat dari krisis, yang Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. menyebabkan negara berkembang seperti Indonesia terkena dampaknya salah satu dampak yang paling terasa adalah terpuruknya mata uang rupiah yaitu U$D1 dolar mencapai Rp. 728 pada tanggal 29 September 2015 . ebsite resmi Bank Indonesi. Kondisi ini diperparah dengan ekspor yang semakin anjlok dan juga harga komoditas ekspor yang juga anjlok di pasar komoditas (Sindonews, 2. Pailitnya suatu perusahaan dapat terlihat dari delistingnya perusahaan tersebut dari BEI. Walaupun alasan delisting bukan hanya berarti perusahaan tersebut tidak memiliki keberlangsungan usaha menurut BEI, tetapi ada juga yang lebih memilih menjadi perusahaan tertutup . o privat. karena alasan tertentu. Dari fenomena yang sudah dipaparkan di atas, sangatlah penting bagi perusahan untuk melakukan analisis terhadap kinerja keuangannya sebelum masuk ke dalam kondisi financial distress atau bahkan bangkrut. Akan tetapi dari hasil perhitungan maupun tingkat akurasinya pastilah terdapat perbedaan dari kelima model prediktor yang di gunakan dalam memprediksi kondisi financial distress pada perusahaan. Sehingga dalam penelitian ini peneliti membandingkan kelima model prediktor tersebut yang sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan melihat apakah terdapat perbedaan hasil perhitungan yang signifikan diantara keempat model prediktor dan melihat model manakah yang lebih akurat digunakan untuk memprediksi financial distress pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2015 sampai dengan 2017 TINJAUAN Financial distress merupakan tahapan penurunan kondisi keuangan suatu PUSTAKA perusahaan sebelum terjadinya kebangkrutan. Untuk itu, pengenalan lebih awal kondisi perusahaan yang mengalami financial distress menjadi penting Informasi lebih awal kondisi financial distress pada perusahaan memberikan kesempatan bagi manajemen, pemilik, investor, regulator, dan para stakeholders lainnya untuk melakukan upaya-upaya yang relevan. Financial distress yang dimaksud adalah kesulitan keuangan dengan tipe insolven, tidak kesulitan keuangan berarti solven. Kriteria perusahaan yang kesulitan keuangan ditentukan sebagai berikut: Telah didirikan minimal tahun 2011 dan terdaftar di BEI minimal tahun 2013 dan masih terdaftar minimal sampai 2017 Pendapatan bersih negatif selama tiga tahun atau lebih Mengalami kegagalan hutang . dan melakukan restrukturisasi Jumlah aset lebih kecil dari jumlah kewajiban selama tiga tahun maupun lebih (Fachrudin, 2. Untuk memprediksi financial distress dapat dilakukan dengan menganalisis rasio keuangan, dimana rasio-rasio keuangan memberikan indikasi tentang kekuatan keuangan dari suatu perusahaan (Sawir, 2. Analisis rasio merupakan alat yang sangat penting untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan serta hasil-hasil yang telah dicapai sehubungan dengan pemilihan strategi perusahaan yang telah dilaksanakan. Namun terdapat masalah dalam pemakaian analisis rasio karena masing-masing rasio memiliki kegunaan dan POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 memberikan indikasi yang berbeda mengenai kesehatan keuangan Terkadang rasio-rasio tersebut juga terlihat berlawanan satu sama Oleh karena itu, jika hanya bergantung pada perhitungan rasio secara individual, para investor akan kesulitan untuk memutuskan apakah perusahaan dalam kondisi sehat atau sebaliknya. Untuk melengkapi keterbatasan dari analisis rasio dapat dipergunakan alat analisis yang menghubungkan beberapa rasio sekaligus untuk memprediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan. Analisis ini dikenal dengan nama analisis Altman. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin. Model Altman Z score adalah model yang dikembangkan oleh Altman pada tahun 1968 dengan mengumpulkan beberapa rasio keuangan yang dianggap paling berpengaruh dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan. Muslich . mengatakan bahwa Altman menggunakan lima jenis rasio keuangan, yaitu: working capital to total assets, retairned earning to total assets. EBIT to total assets, book value of equity to book value of total debt, dan sales to total assets. Nilai cut-off untuk indeks ini adalah > 2,99 jika hasil dari model Altman pada suatu perusahaan berada dibawah cut-off tersebut maka perusahaan tersebut masuk dalam kategori financial distress. Springate . alam Taqwa 2. menyatakan bahwa model ini dikembangkan oleh Springate . mengikuti prosedur yang dikembangkan oleh Altman dalam U. S dengan menggunakan analisis multidiskriminan untuk memilih empat dari 19 rasio keuangan yang terkenal paling baik yang membedakan antara bisnis berhasil dan mereka yang benar-benar gagal, dengan menggunakan 40 perusahaan sebagai sampelnya. Model prediksi kebangkrutan Springate menemukan empat rasio yang digunakan untuk memprediksi adanya potensi kesulitan keuangan. Jika S < 0,862 mengindikasikan perusahaan menghadapi ancaman kebangkrutan yang serius . Jika nilai 0,862 < s < 1. 062 mengindikasikan bahwa pihak manajemen harus hati-hati dalam mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan . aerah rawan kebangkruta. Jika nilai S > 1. mengindikasikan perusahaan dalam kondisi keuangan yang sehat . idak bangkru. (Syahyunan, 2. Model prediksi Zmijewski, merupakan model yang dikembangkan oleh Zmijewski pada tahun 1983 untuk menambah validitas rasio keuangan sebagai alat deteksi kegagalan keuangan perusahaan Juliana . menyebutkan bahwa Zmijewski melakukan studi dengan menelaah ulang studi bidang kebangkrutan hasil riset sebelumnya selama 20 tahun. Rasio keuangan dipilih dari rasioAerasio keuangan penelitian terdahulu dan diambil sampel sebanyak 75 perusahaan yang bangkrut, serta 3573 perusahaan sehat selama tahun 1972 sampai dengan 1978, menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang sehat dan yang tidak sehat. Dengan kriteria penilaian semakin besar nilai X semakin besar kemungkinan/probabilitas perusahaan tersebut bangkrut. Nilai cut off yang berlaku dalam model ini Hal ini berarti perusahaan yang nilai X lebih besar dari atau sama dengan 0 diprediksi akan mengalami kebangkrutan di masa depan. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki nilai lebih kecil dari 0 diprediksi tidak akan mengalami kebangkrutan. Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. Model prediksi yang selanjutnya adalah Grover, model ini merupakan model yang diciptakan dengan melakukan pendesainan dan penilaian ulang terhadap model Altman Z-score. Jeffrey S. Grover menggunakan sampel sesuai dengan model Altman Z-score pada tahun 1968, dengan menambahkan 13 rasio keuangan baru. Sampel yang digunakan sebanyak 70 perusahaan dengan 35 perusahaan yang bangkrut dan 35 perusahaan yang tidak bangkrut pada tahun 1982 sampai 1996 (Putra, 2. Model Grover mengkategorikan perusahaan dalam keadaan bangkrut dengan skor kurang atau sama dengan -0,02 (Z O -0,. Sedangkan nilai untuk perusahaan yang dikategorikan dalam keadaan tidak bangkrut adalah lebih atau sama dengan 0,01 (Z Ou 0,. Model prediksi yang terakhir adalah Fachrudin. Model ini merupakan model yang dikembangkan oleh Khaira Amalia Fachrudin pada tahun 20002005 dengan melakukan observasi terhadap 30 perusahaan kesulitan keuangan dan 28 perusahaan tidak kesulitan keuangan. Model Fachrudin menyebutkan probabilitas kesulitan keuangan nilainya terletak antara 1 dan 0. Ekstrim 1 menunjukkan kesulitan, sedangkan ekstrim 0 menunjukkan tidak kesulitan keuangan. (Fachrudin, 2. Secara umum, kelima model prediktor tersebut menggunakan rasio yang sama, namun diproksikan dalam rasio yang berdeda pada beberapa model prediktor, dan pada model prediktor yang lain menambahkan atau mengurangi rasio yang digunakan. Pada penelitian sebelumnya Matondang . menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan antara model Altman Z-score. Springate. Zmijewski. Grover. Foster dan Ohlson dalam memprediksi kebangkrutan dan Model Ohlson merupakan prediktor kebangkrutan terbaik pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia pada periode 2013-2015. Sementara Manik . menyatakan tidak terdapat perbedaan signifikan antara model Altman Z score. Grover. Springate, dan Zmijewski dan model Grover merupakan prediktor kebangkrutan terbaik. METODE Sampel pada penelitan ini adalah perusahaan manufaktur sektor industri PENELITIAN barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2015-2016 dan sudah terdaftar sebelum 1 Januari 2015 dan memiliki laporan keuangan yang lengkap dan diaudit selama tahun 2015-2017 Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Model Z-Score. Springate. Zmijewski. Grover, dan Fachrudin digunakan untuk melihat status kesehatan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017, kemudian diuji beda dengan menggunakan uji Kruskal H Wallis, dan keakurasian setiap model diuji dengan melihat kondisi terkini perusahaan. Berikut adalah kelima model tersebut. Model Altman Z-Score Z = 0,717X1 0,847X2 3,107X3 0,420X4 0,995X5 X1 = working capital to total assets X2 = retained earning to total assets X3 = earning before interest and taxes to total assets POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 X4 = X5 = book value of equity to book value of total debt sales to total assets Nilai cut off adalah Z < 1,81 perusahaan masuk dalam kategori bangkrut, skor 1,81-2,67 perusahaan masuk dalam wilayah abu-abu . rey area METODOLOGI atau zone of ignoranc. Z > 2. 67 perusahaan tidak bangkrut. PENELITIAN Model Springate S= 1. 034A 3. 07B 0. 66C 0. Dimana: A = Working capital/total assets B = Earning before Interest and taxes/total Assets C = Net profit before taxes/current liabilities D = Sales/total assets Springate membagi kriteria penilaian kebangkrutan perusahaan ke HASIL DAN dalam tiga kategori: PEMBAHASAN 1. Jika S < 0,862 mengindikasikan perusahaan menghadapi ancaman kebangkrutan yang serius . Jika nilai 0,862 < S < 1. 062 maka mengindikasikan bahwa pihak manajemen harus hati-hati dalam mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan . aerah rawan kebangkruta. Jika nilai S > 1. 062 mengindikasikan perusahaan dalam kondisi keuangan yang sehat . idak bangkru. (Syahyunan, 2. Model Zmijewski Z = -4. 3 - 4. 5X1 5. 7X2 - 0. Dimana: X1 = ROA (Net income/total asset. X2 = Leverage (Total debt/total asset. X3 = Liquidity (Current assets/current liabilitie. Nilai cut-off yang digunakan dalam model ini adalah 0, dimana jika Z bernilai positif (Z>. berarti perusahaan berpotensi mengalami kebangkrutan. Sedangkan semakin negatif nilai Z (ZO. , maka semakin jauh perusahaan dari potensi mengalami kebangkrutan. Model Grover Score = 1,650 X1 3. 040 X2 0,016 ROA 0,057 Dimana: = Working Capital to Total Assets = Earning Before Interest and Taxes to Total Assets ROA = Net Income to Total Assets Grover mengklasifikasikan nilai kebangkrutan perusahaan sebagai berikut: Jika Score O 0,02 maka perusahaan dalam keadaan bangkrut Jika score Ou 0. 01 maka perusahaan dalam keadaan sehat . idak bangkru. Model Fachrudin Pi = 1/ . 2,71828oOe(Oe5,472 9,555ycuyca8ycnOe32,347ycuyca2yc. Dimana: Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. Xa2i = rasio pendapatan bersih terhadap jumlah aset Xa8i = rasio jumlah kewajiban terhadap jumlah aset Model Fachrudin menyebutkan probabilitas kesulitan keuangan nilainya terletak antara 1 dan 0. Ekstrim 1 menunjukkan kesulitan, sedangkan ekstrim 0 menunjukkan tidak kesulitan keuangan (Fachrudin, 2. Uji Kruskal H Wallis Uji Kruskal Wallis adalah salah satu uji statistik non parametrik yang dapat digunakan untuk menguji apakah ada perbedaan yang signifikan antara kelompok variabel independen dengan variabel dependennya. Karena untuk melihat perbedaan yang signifikan antar kelompok, uji ini jelas digunakan untuk melihat perbandingan lebih dari dua kelompok populasi dengan data berbentuk ranking. Umumnya Uji ini juga disebut sebagai uji kruskal-wallis H, atau H-test. Uji Kruskal Wallis merupakan perluasan uji dua sampel wilcoxon untuk k > 2 sampel, umumnya digunakan untuk menguji hipotesis nol (HCA) bahwa sampel bebas sebesar k tersebut berasal dari populasi yang identik. Uji kruskal wallis merupakan uji alternatif untuk uji F dan uji one way Anova untuk pengujian kesamaan beberapa nilai Tengah dan analisis ragam yang dapat digunakan jika asumsi kenormalan tidak terpenuhi. Uji Akurasi Model Prediksi Untuk melihat tingkat akurasi model yang dibandingkan, peneliti merujuk pada skripsi yang ditulis oleh (Jumaidi, 2. dan jurnal penelitian yang ditulis Permana . yang mengatakan bahwa tingkat akurasi dapat dilihat dari kondisi terkini dari perusahaan yang dihitung dengan model prediksi sehingga akan terlihat model mana yang benar-benar memprediksi sesuai dengan hasil perhitungannya. Tingkat akurasi tiap model dihitung dengan cara sebagai berikut: yaycycoycoycaEa ycEycyceycyccycnycoycycn ycNyceycyycayc Tingkat Akurasi = ycu 100% yaycycoycoycaEa ycIycaycoycyyceyco HASIL DAN Hasil perhitungan Altman ZAy-score terdapat enam perusahaan diprediksi PEMBAHASAN dalam kategori bangkrut. POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 Tabel 2 Hasil perhitungan Altman ZAy-score Hasil Perhitungan Kategori Nama Perusahaan AISA ALTO AbuAbu CEKA DLTA ICBP INDF AbuAbu MLBI AbuAbu MYOR PSDN Abu-Abu ROTI AbuAbu Abu- AbuAbu Abu- AbuAbu SKBM Abu Abu SKLT STTP AbuAbu Abu- ULTJ Abu GGRM HMSP RMBA WIIM AbuAbu DVLA KAEF KLBF AbuAbu AbuAbu AbuAbu MERK PYFA AbuAbu AbuAbu SIDO TSPC MBTO AbuAbu AbuAbu MRAT TCID UNVR CINT KICI AbuAbu Sumber: data diolah . Keterangan: = Bangkrut BK = Tidak bangkrut Hasil perhitungan Springate terdapat tujuh perusahaan diprediksi dalam kategori bangkrut Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. Tabel 3 Hasil perhitungan Springate Nama Perusahaan Hasil Perhitungan Kategori AISA ALTO CEKA DLTA ICBP INDF MLBI MYOR PSDN ROTI SKBM SKLT STTP ULTJ GGRM HMSP RMBA WIIM DVLA KAEF KLBF MERK PYFA SIDO TSPC MBTO MRAT TCID UNVR CINT KICI Sumber: Data diolah . Keterangan: = Bangkrut = Tidak bangkrut = Rawan Bangkrut Hasil perhitungan Model Zmijewski terdapat satu perusahaan diprediksi dalam kategori bangkrut. POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 Tabel 4 Hasil perhitungan Model Zmijewski Nama Perusahaan Hasil Perhitungan Kategori AISA ALTO CEKA DLTA ICBP INDF MLBI MYOR PSDN ROTI SKBM SKLT STTP ULTJ GGRM HMSP RMBA WIIM DVLA KAEF KLBF MERK PYFA SIDO TSPC MBTO MRAT TCID UNVR CINT KICI Sumber: Lampiran 3 Keterangan: BK= Bangkrut BK = Tidak bangkrut Hasil perhitungan Model Grover terdapat dua perusahaan diprediksi dalam kategori bangkrut. Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. Tabel 5 Hasil perhitungan Model Grover Nama Perusahaan Hasil Perhitungan Kategori AISA ALTO CEKA DLTA ICBP INDF MLBI MYOR PSDN ROTI SKBM SKLT STTP ULTJ GGRM HMSP RMBA WIIM DVLA KAEF KLBF MERK PYFA SIDO TSPC MBTO MRAT TCID UNVR CINT KICI Sumber: Penelitian . ata diolah 2. Keterangan: = Bangkrut = Tidak bangkrut Hasil perhitungan Model Fachrudin terdapat satu perusahaan yang diprediksi dalam kategori kesulitan keuangan. POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 Tabel 6 Hasil perhitungan Model Fachrudin Nama Perusahaan AISA Hasil Perhitungan Kategori ALTO CEKA DLTA ICBP INDF MLBI MYOR PSDN ROTI SKBM SKLT STTP ULTJ GGRM HMSP RMBA WIIM DVLA KAEF KLBF MERK PYFA SIDO TSPC MBTO MRAT TCID UNVR CINT KICI Sumber: Penelitian . ata diolah 2. Keterangan: = Tidak kesulitan keuangan = Kesulitan keuangan Uji Beda Normalitas data merupakan satu syarat yang harus dipenuhi untuk dapat melanjutkan pengolahan data secara parametrik. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji statistic non-parametrik Kolmogoriv-smirnov. Pengujian normalitas dilakukan menilai signifikan melalui pengukuran tingkat signifikansi 5%. Data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Hasil pengujian tersebut menunjukkan Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. bahwa hasil uji Kolmogorov smirnov menunjukkan nilai signifikansi 0. dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa data tersebut tidak terdistribusi secara normal. Karena itu perlu dilakukan penanganan terhadap data-data yang tidak normal tersebut, salah satunya adalah dengan melakukan transformasi data ke bentuk Ln (Log Natura. Akan tetapi data yang diolah dalam penelitian ini terdiri atas sebagian angka-angka negatif sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan transformasi data ke dalam bentuk Log Natural. Maka cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan uji non parametrik yaitu dengan Uji Kruskal AeWallis H, karena uji ini tidak mensyaratkan data berdistribusi normal dalam pengujiannya. Hasil pengujian normalitas diperoleh sebagai berikut: Tabel 7 Uji Normalitas Case Processing Summary Cases Valid Prediktor Missing Total Percent Percent Percent Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Prediktor Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. Lilliefors Significance Correction Sumber: Penelitian . ata diolah 2. Terdapat lima model analisis kebangkrutan yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 8 ditampilkan untuk melihat perbedaan yang terdapat pada setiap model analisis kebangkrutan yang yang digunakan. Uji kruskal-wallis H . ji beda rata-rat. peringkat prediksi kebangkrutan pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi di BEI dilakukan untuk melihat perbedaan model Altman Z Score. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 7 diperoleh tingkat signifikansi 0,000. Tingkat signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 dan menyebabkan H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan potensi kebangkrutan antara model analisis Altman Z Score. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi di BEI tahun 2015-2017. Tabel 8 Hasil Uji KruskalAeWallis H Ranks NilaiRata ModelPredik Altman Mean Rank Springate Zmijewski Grover Fachrudin Total Sumber: Penelitian . ata diolah 2. POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 Uji Akurasi Tabel 9 Net Income . alam jutaan rupia. Net Income Perusahaan AISA Rp. 346,728 Rp. 378,142 Rp. 373,750 Rp. 719,228 Rp. 176,749 ALTO Rp. 12,059 -Rp. 10,135 -Rp. 24,346 -Rp. 26,501 -Rp. 24,330 CEKA Rp. 65,069 Rp. 41,001 Rp. 106,549 Rp. 249,697 Rp. 75,136 DLTA Rp. 270,498 Rp. 288,073 Rp. 192,045 Rp. 254,509 Rp. 189,991 ICBP Rp. 2,235,040 Rp. 2,531,681 Rp. 2,923,148 Rp. 3,631,301 Rp. 3,060,020 INDF Rp. 3,416,635 Rp. 5,146,323 Rp. 3,709,501 Rp. 5,266,906 Rp. 4,315,400 MLBI Rp. 1,171,229 Rp. 794,883 Rp. 496,909 Rp. 982,129 Rp. 920,873 MYOR Rp. 1,058,419 Rp. 409,825 Rp. 1,250,233 Rp. 1,388,676 Rp. 950,645 PSDN Rp. 21,322 -Rp. 28,175 -Rp. 28,175 -Rp. 42,620 -Rp. 36,662 ROTI Rp. 158,015 Rp. 188,578 Rp. 270,539 Rp. 279,777 Rp. 91,438 SKBM Rp. 58,267 Rp. 89,116 Rp. 40,151 Rp. 22,545 Rp. 3,595 SKLT Rp. 11,440 Rp. 16,481 Rp. 20,067 Rp. 20,646 Rp. 16,382 STTP Rp. 114,437 Rp. 123,465 Rp. 185,705 Rp. 174,177 Rp. 166,568 ULTJ Rp. 325,127 Rp. 283,361 Rp. 523,100 Rp. 709,826 Rp. 652,647 GGRM Rp. 4,383,932 Rp. 5,395,293 Rp. 6,452,834 Rp. 6,672,682 Rp. 5,419,448 HMSP Rp. 10,818,486 Rp. 10,181,083 Rp. 10,363,308 Rp. 12,762,229 Rp. 9,337,930 RMBA -Rp. 1,042,068 -Rp. 2,278,718 -Rp. 1,638,538 -Rp. 2,085,811 -Rp. 810,710 WIIM Rp. 132,322 Rp. 112,305 Rp. 131,081 Rp. 106,290 Rp. 26,608 DVLA Rp. 125,796 Rp. 80,929 Rp. 107,894 Rp. 152,083 Rp. 172,379 KAEF Rp. 215,642 Rp. 236,531 Rp. 252,973 Rp. 271,598 Rp. 196,164 KLBF Rp. 1,970,452 Rp. 2,121,091 Rp. 2,057,694 Rp. 2,350,885 Rp. 1,812,362 MERK Rp. 175,445 Rp. 181,472 Rp. 142,545 Rp. 153,843 Rp. 150,964 PYFA Rp. 6,196 Rp. 2,658 Rp. 3,087 Rp. 5,146 Rp. 5,126 SIDO Rp. Rp. 415,193 Rp. 437,475 Rp. 480,525 Rp. 380,384 TSPC Rp. 638,535 Rp. 584,293 Rp. 529,219 Rp. 545,494 Rp. 450,822 MBTO Rp. 16,163 Rp. 2,925 -Rp. 14,057 Rp. 8,814 -Rp. 26,343 MRAT -Rp. 6,700 Rp. 7,372 Rp. 1,046 -Rp. 5,549 Rp. 1,496 TCID Rp. 160,148 Rp. 174,314 Rp. 544,474 Rp. 162,060 Rp. 161,636 UNVR Rp. 5,352,625 Rp. 5,738,523 Rp. 5,851,805 Rp. 6,390,672 Rp. 7,004,562 CINT Rp. 25,375 Rp. 29,478 Rp. 29,478 Rp. 20,619 Rp. 21,658 KICI Rp. 7,420 Rp. 4,704 -Rp. 13,001 Rp. Rp. 8,129 Sumber: Penelitian . ata diola. Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. Tabel 10 Total Asset - Total Hutang . alam jutaan rupia. Perusahaan Total Asset - Total Hutang AISA Rp. 2,356,773 Rp. 3,592,829 Rp. 3,966,907 Rp. 4,264,400 Rp. 4,435,882 ALTO Rp. 542,329 Rp. 532,651 Rp. 506,972 Rp. 480,842 Rp. 457,802 CEKA Rp. 528,275 Rp. 537,551 Rp. 639,893 Rp. 887,920 Rp. 873,806 DLTA Rp. 676,558 Rp. 764,473 Rp. 849,622 Rp. 1,012,374 Rp. 1,054,908 ICBP Rp. 13,265,731 Rp. 15,039,947 Rp. 16,386,911 Rp. 18,500,823 Rp. 19,948,302 INDF Rp. 38,373,129 Rp. 41,228,376 Rp. 43,121,593 Rp. 43,941,423 Rp. 45,964,261 MLBI Rp. 987,533 Rp. 553,797 Rp. 766,480 Rp. 820,640 Rp. 958,452 MYOR Rp. 3,938,761 Rp. 4,100,555 Rp. 5,194,460 Rp. 6,265,256 Rp. 6,731,630 PSDN Rp. 417,400 Rp. 378,575 Rp. 324,319 Rp. 280,286 Rp. 317,468 ROTI Rp. 787,338 Rp. 960,122 Rp. 1,188,535 Rp. 1,442,752 Rp. 1,464,528 SKBM Rp. 201,125 Rp. 317,910 Rp. 344,087 Rp. 368,389 Rp. 1,001,751 SKLT Rp. 139,650 Rp. 153,368 -Rp. 43,286 -Rp. 65,028 Rp. 91,089 STTP Rp. 694,128 Rp. 817,594 Rp. 1,008,809 Rp. 1,168,512 Rp. 1,339,945 DLTA Rp. 676,558 Rp. 764,473 Rp. 849,622 Rp. 1,012,374 Rp. 1,054,908 ICBP Rp. 13,265,731 Rp. 15,039,947 Rp. 16,386,911 Rp. 18,500,823 Rp. 19,948,302 HMSP Rp. 14,155,035 Rp. 13,498,114 Rp. 32,016,060 Rp. 34,175,014 Rp. 27,551,941 RMBA Rp. 881,865 -Rp. 1,396,853 -Rp. 3,148,757 Rp. 9,441,367 Rp. 8,633,109 WIIM Rp. 781,359 Rp. 854,425 Rp. 943,709 Rp. 991,093 Rp. 983,452 DVLA Rp. 914,703 Rp. 962,432 Rp. 973,517 Rp. 1,079,580 Rp. 1,123,851 KAEF Rp. 1,624,355 Rp. 1,811,144 Rp. 1,862,097 Rp. 2,271,408 Rp. 2,424,739 KLBF Rp. 8,499,958 Rp. 9,817,475 Rp. 10,938,286 Rp. 12,463,847 Rp. 13,263,463 MERK Rp. 512,218 Rp. 553,691 Rp. 473,543 Rp. 582,673 Rp. 610,436 PYFA Rp. 93,901 Rp. 96,559 Rp. 101,223 Rp. 105,509 Rp. 109,084 SIDO Rp. 2,951,181 Rp. 2,634,659 Rp. 2,598,314 Rp. 2,757,885 Rp. 2,737,264 TSPC Rp. 3,862,952 Rp. 4,132,339 Rp. 4,337,141 Rp. 4,635,273 Rp. 4,865,941 MBTO Rp. 451,319 Rp. 453,749 Rp. 434,213 Rp. 440,927 Rp. 414,462 MRAT Rp. 377,792 Rp. 383,944 Rp. 377,026 Rp. 369,089 Rp. 372,053 TCID Rp. 1,182,990 Rp. 1,283,504 Rp. 1,714,872 Rp. 1,783,158 Rp. 1,840,663 UNVR -Rp. 1,608,269 Rp. 4,598,782 Rp. 4,827,360 Rp. 4,704,258 Rp. 5,173,388 CINT Rp. 291,646 Rp. 315,073 Rp. 315,073 Rp. 326,430 Rp. 342,485 KICI Rp. 73,977 Rp. 78,680 Rp. 93,372 Rp. 89,010 Rp. 97,140 Sumber: Penelitian . ata diolah 2. Berdasarkan Tabel di atas dapat dilihat bahwa yang memenuhi kategori financial distress sesuai dengan kriteria dua dan tiga yaitu pendapatan bersih negatif selama tiga tahun atau lebih dan mengalami kegagalan hutang . dan melakukan restrukturisasi hutang menurut Fachrudin adalah perusahaan dengan kode emiten RMBA akan tetapi perusahaan ini belum memenuhi kriteria empat yaitu jumlah aset lebih kecil dari jumlah kewajiban selama tiga POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 tahun maupun lebih dan atau didelisting dari BEI karena kesulitan keuangan untuk dapat dikatakan mengalami financial distress. selain itu, financial distress merupakan gejala awal sebelum terjadinya kebangkrutan sehingga dapat dikatakan, apabila perusahaan tersebut belum dalam kondisi financial distress, kemungkinan untuk menjadi bangkrut juga akan sangat kecil. Sehingga dapat dibuat rekap ketepatan prediksi seperti ditampilkan pada tabel di bawah ini. Tabel 11 Perhitungan Akurasi Masing-Masing Model Analisis % Akurasi Tipe Error Altman Springate ycu100 Sumber: Penelitian . ata diolah 2. Zmijewski ycu100 Grover Fachrudin Tabel 12 Rekap Prediksi Kebangkrutan Model Altman Z Score. Springate. Zmijewski dan Grover Prediksi Tidak Bangkrut Altman Springate Zmijewski Grover Bangkrut Total % Akurasi Tipe Error 80,65% 19,35% 77,42% 22,58% 96,77% 3,23% 93,55% 6,45% Sumber: Penelitian . ata diolah 2. Tabel 13 Rekap Prediksi Financial distress Model Fachrudin Prediksi Tidak kesulitan keuangan Kesulitan keuangan Fachrudin Total % Akurasi Tipe Error 96,77% 3,23% Sumber: Penelitian . ata diolah 2. Berdasarkan Tabel 12 dan 13 di atas, dapat dilihat tingkat akurasi yang didapatkan oleh setiap model. Model Altman memiliki tingkat akurasi sebesar Selanjutnya, model Springate memiliki tingkat akurasi sebesar Model Zmijewski. Grover dan Fachrudin masing-masing memiliki tingkat akurasi sebesar 96. 77%, 93. 77%, dari Tabel tersebut dapat kita lihat bahwa model yang memiliki tingkat akurasi paling tinggi adalah model Zmijewski dan Fachrudin yaitu sebesar 96. PEMBAHASAN Nilai Altman Z Score pada perusahaan Manufaktur sektor industri barang konsumsi menunjukkan enam perusahaan diprediksi dalam kategori Perusahaan yang dikategorikan dalam kondisi bangkrut tersebut adalah AISA pada tahun penelitian pertama dan ketiga, hal ini dikarenakan rendahnya laba operasi perusahaan pada tahun tersebut. Selanjutnya adalah Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. perusahaan yang juga dikategorikan bangkrut adalah ALTO, perusahaan ini dikategorikan bangkrut di sepanjang tahun penelitian, hal ini dikarenakan rendahnya laba operasi dan juga modal kerja yang berfluktuasi bahkan ada yang negatif. Selanjutnya adalah INDF. RMBA, dan KICI. Rata-rata yang menjadi permasalahan setiap perusahaan tersebut adalah dikarenakan penjualan yang rendah, yang mengakibatkan laba operasi juga rendah, hanya sedikit berbeda dengan kasus RMBA, dimana rasio penjualan perusahaan tersebut dapat dikatakan cukup tinggi, namun laba operasi yang dihasilkan adalah negatif, sehingga berimbas pada laba ditahan yang juga menghasilkan rasio yang negatif. Selain itu. Prediksi Altman menampilkan terdapat 19 perusahaan dalam kategori abu-abu, dalam hal ini perusahaan tersebut diharapkan untuk mengevaluasi kebijakan dan kinerja manajemen untuk menghindari financial distress, karena berdasarkan prediksi Altman, kategori abu-abu dapat diartikan bahwa perusahaan tidak sedang dalam kondisi sehat, walaupun juga tidak sedang dalam kondisi financial distress. Berdasarkan hasil analisis dengan model prediktor Springate, hasil yang diperoleh menyebutkan bahwa terdapat tujuh perusahaan diprediksi dalam kategori bangkrut, dan 24 perusahaan dengan kategori tidak bangkrut. Secara umum, hasil yang ditampilkan Springate tidak jauh berbeda dengan Altman, hal ini dikarenakan rasio yang digunakan cenderung sama. Adapun perusahaan yang bangkrut menurut Springate adalah AISA pada tahun penelitian ketiga, selain itu ALTO. INDF. PSDN. ROTI. RMBA. PYFA dan KICI. Springate memprediksi lebih banyak perusahaan yang bangkrut dari seluruh model prediktor, tetapi dibandingkan dengan model Altman, perusahaan rawan bangkrut. Nilai prediksi kebangkrutan Springate menggunakan perbandingan nilai total penjualan terhadap total aset perusahaan dalam memprediksi kebangkrutan Perusahaan semakin tinggi nilai yang dihasilkan rasio tersebut, semakin efektif penggunaan aktiva Tetapi tetap saja hal tersebut dipengaruhi oleh Working capital Karena kebutuhan working capital bisa segera dicairkan untuk menutupi kekurangan keuangan perusahaan. Nilai prediksi kebangkrutan dengan model Zmijewski menunjukkan bahwa model Zmijewski mampu memprediksi paling banyak perusahaan yang tidak bangkrut. Berdasarkan nilai Zmijewski dapat dilihat bahwa nilai debt ratio mempengaruhi lebih banyak daripada nilai Return On Assets dan current ratio terhadap kesehatan perusahaan. Dalam hal perusahaan RMBA, pada tahun penelitian pertama . ang dinyatakan bangkru. memiliki debt ratio yang cukup tinggi di tambah dengan ROA yang negatif, sehingga dikategorikan bangkrut oleh model Zmijewski. Nilai prediksi kebangkrutan dengan menggunakan model Grover menunjukkan bahwa model kebangkrutan Grover mampu memprediksi lebih banyak perusahaan yang dikategorikan sehat yakni terdapat hanya dua perusahaan yang diprediksi dalam kategori bangkrut dan 30 perusahaan dengan kategori tidak bangkrut. Hal ini disebabkan penggunaan salah satu rasio model Grover yang membedakannya dengan model Altman Z- Score yaitu return on assets (ROA) dan rasio ini juga sama dengan rasio yang digunakan model Zmijewski, sehingga dari segi hasil kedua model ini tidak terlalu berbeda. POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 Dimana ROA menunjukkan kemampuan nilai perusahaan dalam menghasilkan Jika nila ROA positif berarti bahwa total aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan mampu menghasilkan laba, dan sebaliknya. Nilai Fachrudin memprediksi satu perusahaanyang diprediksi dalam kategori kesulitan keuangan dan 30 perusahaan dengan kategori tidak kesulitan keuangan. Model ini menyebutkan perusahaan RMBA kesulitan keuangan pada tahun penelitian pertama dan kedua. Dalam model ini, terlihat bahwa total liabilities to total assets dan net income to total assets sangat berpengaruh dalam mempengaruhi kebangkrutan, dimana pada perusahaan RMBA memiliki rasio ROI yang negatif pada periode penelitian tersebut. Hasil pengujian hipotesis pertama dengan menggunakan Uji KruskalWallis H menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan prediksi kebangkrutan dengan menggunakan model Altman Zscore. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin. Berdasarkan hasil analisis Uji Kruskal-Wallis H diperoleh tingkat signifikansi sebesar 0,000 dimana tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian manik . yang meneliti perusahaan Tekstil dan Garmen di BEI, dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa berdasarkan hasil Uji KruskalWallis H tidak terdapat perbedaan potensi kebangkrutan pada perusahaan Tekstil dan Garmen di BEI dengan metode Altman Z-score. Springate. Grover dan Zmijewski. Hasil pengujian hipotesis kedua yaitu dengan melakukan rekapitulasi terhadap prediksi kebangkrutan model Altman. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin. Ditemukan bahwa Zmijewski mampu memprediksi lebih banyak perusahaan yang tidak bangkrut. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Jumaidi . yang juga meneliti di sektor manufaktur tetapi dalam sub-sektor yang berbeda yakni hanya food and baverage, dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa model Zmijewski merupakan prediktor kebangkrutan terbaik, walaupun tingkat akurasi yang didapatkan berbeda. Perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang diprediksi bangkrut dengan menggunakan model Altman Z-score. Springate. Zmijewski. Grover maupun kesulitan keuangan dengan menggunakan model Fachrudin pada tahun 2015-2017 ternyata masih terdaftar . di BEI dan belum memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan untu dapat dikatakan mengalami kesulitan keuangan. Hal ini juga mendukung penelitian yang dilakukan Jumaidi . yang meneliti di sektor Manufaktur sub-sektor food and baverage, dimana penelitian tersebut menyatakan bahwa perusahaan food and baverage yang diprediksi bangkrut tersebut dengan menggunakan model Altman Z-score. Springate. Zmijewski, dan Grover masih terdaftar di BEI pada tahun 2015. SIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini, yaitu: Terdapat perbedaan yang signifikan antara model Altman. Z-score. Springate. Zmijewski. Grover dan Fachrudin dalam memprediksi kebangkrutan pada perusahaan Manufaktur sektor industri barang konsumsi pada BEI tahun 2015-2017. Aritonang. Prediksi Financial Distress pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Industri A. Model Zmijewski dan Fachrudin merupakan prediktor kebangkrutanterbaik pada perusahaan Manufaktur sektor industri barang konsumsi pada BEI tahun 2015-2017. RUJUKAN Altman, edwart I, . Financial Ratio. Discriminant Analysis and the Prediction of Coorporate Bankrupcy. The Journal of Finance. XXi . Brigham. Eugene F and Joel F. Houston. Fundamentals of Financial Management. The Dryden Press. Brigham. Eugene F and Louis C. Gapenski. Financial ManagementTheory and Practice. The Dryden Press. Eight Edition. Brigham. Eugen F and Philip Daves. Intermediate Financial Distress Management. Eight Edition. Thomson. South-Western. Darwis. Analisis Laporan Keuangan Untuk Memprediksi Kebangkrutan Perusahaan Dengan Membandingkan Model Altman Z-Score Dan Model Springate Pada Perusahaan Manufaktur Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia . Medan: Universitas Sumatera Utara . Daulay. Penilaian Kesehatan Keuangan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Dengan Menggunakan Medote Altman Z-Score. Medan: Universitas Sumatera Utara . Fachrudin. Kesulitan Keuangan Perusahaan dan Personal. Medan: USU Press. Fahmi. Pengantar Manajemen Keuangan Teori dan Soal Jawab. Bandung: Alfabeta. Ghozali. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 20. Semarang : Badan Penerbit Universitas Dipenogoro. Ikhsan. Teori Akuntansi . Medan : Madenareta . Indonesia. September . Bank Indonesi . Dipetik Juni 5, 2018, dari Bank Indonesi Official Website: https://w. id/id/moneter/ informasi - kurs/referensijisdor/Default. Juliana. Perbandingan Analaisis Kebangkrutan pada Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Fakultas Ekonomi Universitas Mercubuana . Jumaidi. Analisis Prediksi Kebangkrutan Dengan Perbandingan Metode Altman Z-Score. Springate. Zmijewski. Foster. Grover, dan Ohlsonpada Perusahaan Manufaktur Periode 2013-2015 [Skrips. Medan (ID): Universitas Negeri Medan. Jumingan. Analisis Laporan Keuangan . Jakarta: Bumi Aksara. Komputer. Mengolah Data Statistik Penelitian dengan SPSS 18. Jakarta: Gramedia. Hanafi. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Manik. Prediksi kebangkrutan model Altman Z-Score. Grover. Springate dan Zmijewski pada perusahaan Tekstin dan Garmen di BEI. [Skrips. Medan (ID): Universitas Sumatera Utara POLIMEDIA. VOL 26 NO. 4 NOVEMBER 2023 Matondang. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Financial Distress (Studi Empiris pada Perusahaan Food and Baverages di Bursa Efek Indonesi. [Skrips. Medan (ID): Universitas Negeri Medan. Munawir. Analisis Laporan Keuangan . Yogyakarta : Liberty. Nugroho. Pengaruh Profitabilitas. Likuiditas dan Leverage Terhadap Nilai Perusahaan. Universitas Muhammadiah Surakarta, 30-55. Pranowo. The Dynamics of Corporate Financial Distress in Emerging Market Economy. European Journal of social Sciences 16 . , 138-149. Sawir. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: Gramedia. Syahyunan. Manajemen Keuangan Perencanaan. Analisis dan Pengendalian Keuangan. Medan: USU Press. Taqwa. Pengaruh Prifitabilitas. Liquiditas dan Laverage dalam memprediksi financial distress. Jurnal Elektronik Unpad .