Mutiara Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. No. Oktober 2024 e-ISSN 3025-1028 Available at: https://jurnal. tiga-mutiara. com/index. php/jimi/index Mattoana Bola sebagai Identitas Sosiokultural Masyarakat di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai Abdul Rahman Universitas Negeri Makassar E-mail: abdul. rahman8304@unm. Abstract Entering the modern era, the people of Bulutellue Village still maintain a tradition, namely the mattoana bola celebration. This research aims to elaborate on the mattoana bola celebration as a sociocultural identity of the Bulutellue Village community. This research applies qualitative research methods. Data was collected through literature review and field Field data was collected by conducting participant observation and in-depth interviews with 9 people. Data analysis was carried out by applying the Miles and Huberman technique, namely data collection, data reduction, data presentation and drawing The results of the research show that: . the mattoana bola celebration is carried out by small families who have successfully built a house and lived in it for approximately three years in a healthy condition and with sufficient sustenance. The mattoana bola celebration is an expression of gratitude to Allah by carrying out several stages, including mattanra esso, maddareheng, massolong bola, mabbarasanji, and mabbaca doang salama. the implementation of the mattoana bola celebration has an important meaning for the people of Bulutellue Village because it contains several values, namely, the value of mutual cooperation, the value of togetherness, religious values, and the value of obedience to leaders. Keywords: Celebrations. Mattoana Bola. Sociocultural Identity. Abstrak Memasuki era moderen, masyarakat Desa Bulutellue masih mempertahankan sebuah tradisi, yaitu hajatan mattoana bola. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi hajatan mattoana bola sebagai identitas sosiokultural masyarakat Desa Bulutellue. Penelitian ini menerapkan metode penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui kajian pustaka dan penelitian Data lapangan dikumpulkan dengan cara melakukan observasi partisipan dan wawancara secara mendalam kepada 9 orang. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teknik Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . hajatan mattoana bola dilakukan oleh keluarga kecil yang sudah berhasil membangun rumah dan menghuninya selama kurang lebih tiga tahun dalam kondisi yang sehat dan kecukupan rezeki. Hajatan mattoana bola merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah dengan melakukan beberapa tahapan, antara lain mattanra esso, maddareheng, massolong bola, mabbarasanji, dan mabbaca doang salama. pelaksanaan hajatan mattoana bola memiliki arti penting bagi masyarakat Desa Bulutellue karena mengandung beberapa nilai yaitu, nilai gotong royong, nilai kebersamaan, nilai keagamaan, dan nilai kepatuhan kepada pemimpin. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 51 Abdul Rahman: Mattoana Bola sebagai Identitas Sosiokultural Masyarakat di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai Kata-kata Kunci: Hajatan. Mattoana Bola. Identitas Sosiokultural. PENDAHULUAN Organisasi Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang khusus menangani Pendidikan. Keilmuan, dan Kebudayaan (The United Nations Educational. Scientific, and Cultural Organization-UNESCO) menilai Indonesia sebagai negara super power di bidang Pengakuan tersebut disampaikan oleh Fransesco Bandarin selaku Asisten Direktur Jenderal UNESCO Bidang Budaya pada Sidang Umum UNESCO yang ke 39 di Paris pada tanggal 14 November 2017. Hal tersebut diperkuat oleh Muhadjir Effendy yang menyatakan bahwa tidak ada negara di dunia ini selain Indonesia yang memiliki warisan budaya yang sangat banyak. Budaya secara umum dipahami sebagai suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat dan diwariskan secara turun temurun melintasi generasi dari masa ke masa. 2 Sehingga, praktis budaya tersebut dimiliki oleh setiap individu. Menurut Parsudi Suparlan, budaya merupakan seluruh pengetahuan manusia yang didayagunakan dalam mengetahui dan memahami pengalaman dan lingkungan berdasarkan pengalaman Sehingga segala sesuatu yang diketahui manusia kemudian didayagunakan untuk membangun sebuah budaya. 3 Budaya ini menghadirkan adat istiadat yang pada gilirannya diimplementasikan oleh masayarakat dalam kehidupan keseharaian. 4 Budaya tersebut kemudian dipatuhi oleh semua anggota dalam kelompok masyarakat meskipun tidak diatur dalam hukum tertulis. Pada umumnya, unsur budaya, dalam hal ini adat istiadat diampaikan secara lisan. Pada awalnya, budaya diperkenalkan oleh leluhur yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Bahkan di era moderen saat ini, segala bentuk budaya tidak mudah sirna digilas oleh roda zaman, selama budaya tersebut masih ada masyarakat Zeynita Gibbons dan Aditia Maruli. AuUNESCO sebut Indonesia Negara Super Power Bidang Budaya,Ay Kantor Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO (KWRIU), last modified 2017, https://kwriu. id/berita/unesco-sebut-indonesia-negara-super-power-bidang-budaya/. Emanuel Omedetho Jermias dan Abdul Rahman. Filsafat Kebudayaan (Bandung: CV. Widina Media Utama, 2. Alfindo. AuPentingnya Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural dalam Masyarakat,Ay Jurnal Dinamika Sosial Budaya 25, no. : 242Ae251, https://journals. id/index. php/jdsb/article/view/4427. Sugeng Pujileksono. Pengantar Antropologi (Malang: Intrans Publishing, 2. Syahrial dan Assa Rahmawati Kabul. AuStrategi Pemertahanan Seni Tradisi Barongsai pada Masyarakat Cina Benteng di Tengerang,Ay JSRW: Jurnal Senirupa Warna 11, no. : 190Ae201, https://jsrw. id/index. php/jurnal/article/view/185. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 52 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 Dalam perspektif antropologi yang digawangi oleh Edward Burnett Tylor, budaya merupakan keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, kebiasaan lainnya yang dimiliki oleh manusia melalui proses belajar. 6 Budaya juga dimiliki oleh masyarakat berdasarkan warisan dari leluhurnya. Secara umum budaya dimiliki oleh segenap masyarakat, termasuk masyarakat yang bermukim di wilayah Warisan kebudayaan desa merupakan aset berharga yang dimiliki oleh masyarakat di pedesaan. Warisan tersebut mencakup berbagai macam hal, antara lain bahasa, pengetahuan, aktivitas ekonomi, sistem sosial kekerabatan, sistem teknologi dan peralatan hidup, religi, dan kesenian, termasuk adat istiadat. Warisan kebudayaan desa begitu penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai sejarah, budaya, sosial yang sangat luhur. Adat istiadat dalam suatu desa merupakan bagian penting dari kebudayaan desa. Masing-masing desa mempunyai adat yang khas, mulai dari upacara adat yang berkaitan dengan lingkaran hidup . elahiran, pernikahan, kematia. , hingga kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan mata pencaharian dan pemeliharaan hewan. Adat istiadat tersebut tentunya mempunyai nilai-nilai moral yang luhur, serta menjadi basis dalam mengembangkan pola kehidupan masyarakat yang solid dan harmonis. Dalam konteks masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Suku Bugis yang bermukim di Desa Bulutellue. Kabupaten Sinjai terdapat praktik budaya yang beririsan dengan kelangsungan hidup. Salah satu praktik budaya tersebut ialah mattoana bola, yaitu kegiatan mengadakan pesta sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Allah SWT yang telah memberikan rezeki kepada keluarga sehingga mampu membangun rumah dan hidup membina rumah tangga di dalamnya dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang Berdasarkan pengamatan pendahuluan yang dilakukan di lapangan, penulis menduga bahwa hajatan mattoana bola identik dengan masyarakat di desa ini sehingga wajar jika hajatan ini merupakan identitas sosikultural. Oleh karena itu, maka menarik untuk mengelaborasi secara mendalam tentang urgensi mattoana bola sebagai penguatan identitas masyarakat di Desa Bulutellue. METODE PENELITIAN Artikel ini ditulis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Pendekatan Fenomenologi merupakan upaya untuk mengungkap Mercy Wanra Katriani Waney. Fienny Maria Langi, dan Gabriella Rantung. AuImplementasi Nilainilai Kristiani dalam Budaya AoMalam BakupasAo di Kabupaten Minahasa,Ay Journal of Psychology Humanlight 5, no. : 53Ae58, https://ejournal-iakn-manado. id/index. php/humanlight/article/view/1471. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 53 Abdul Rahman: Mattoana Bola sebagai Identitas Sosiokultural Masyarakat di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai makna dibalik sebuah feomena atau realitas berdasarkan pengalaman dan pemahaman subjek . rang-oran. yang terlibat dan mengalami secara langsung realitas tersebut. 7 dengan pertimbangan agar data atau informasi yang diperoleh betul-betul murni merupakan pengalaman dan pengetahuan dari informan sebagai subjek penelitian. Data yang digunakan ialah data primer dan data sekunder. Data primer terdiri atas informasi yang diperoleh berdasarkan pengamatan dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh melalui kajian literatur yang berkaitan dengan topik penelitian. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai segala aktivitas yang berkaitan dengan hajatan mattoana bola. Untuk memperkuat hasil observasi tersebut, maka dilakukan wawancara mendalam kepada 9 orang informan, yaitu Kepala Desa. Imam Kampung, sanro, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat biasa yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai hajatan mattoana bola. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. 8 Data yang telah melalui tahap analisis kemudian dilakukan triangulasi untuk memperoleh keandalan dan keabsahan data. Triangulasi dilakukan dengan cara mengecek ulang sebuah informan kepada pihak lain. Setelah data dianggap valid, maka kemudian dituangkan dalam narasi tertulis untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang sosial HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Mattoana Bola di Desa Bulutellue Rumah merupakan citra dari sosok manusia yang menempatinya. Oleh karena itu rumah yang layak huni akan meningkatkan harkat dan martabat manusia. 9 Rumah merupakan bangunan tempat tinggal dalam jangka waktu yang relatif lama. Rumah sebagai tempat tinggal yang bernuansa fisik bisa didefinisikan sebagai suatu bangunan tempat berangkat dan kembali. Dapat pula diartikan sebagai tempat beraktivitas yang berkaitan dengan kebutuhan manusia seperti makan, istirahat, tidur, dan bercengkerama sesama anggota keluarga. Dalam dimensi psikologis, rumah merupakan sebuah tempat hunian untuk melaksanakan berbagai aktivitas dengan tenteram, nyaman, damai, serta memunculkan Shofi Nugraheni et al. AuKonsep Fenomenologi Edmund Husserl dan Relevansinya dalam Konsep Pendidikan Islam,Ay Akhlaqul Karimah: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. : 143Ae154, https://jurnal. org/index. php/jak/article/view/140. Abdul Rahman et al. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Cet. (Bandung: CV. Widina Media Utama. Paulus Hariyono. Sosiologi Kota untuk Arsitek (Jakarta: Bumi Aksara, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 54 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 kesenangan bagi para penghuninya. Dalam kultur masyarakat Bugis, rumah merupakan pencerminan martabat dan harga diri. Sebuah keluarga kecil yang belum memiliki rumah pribadi, dalam arti masih menumpang tinggal pada rumah Orangtua atau mertua secara psikologis akan terbebani. 10 Dengan demikian, kepala rumah tangga keluarga yang bersangkutan akan berusaha semaksimal mungkin mencari dana pembangunan rumah. Rumah begitu penting kedudukannya karena selain digunakan untuk tempat tinggal, juga berfungsi untuk menampung hasil pertanian misalnya padi dan jagung. Selain itu rumah juga dimanfaatkan untuk memelihara berbagai hewan ternak misalnya ayam dan kambing. Masyarakat Desa Bulutellue merasakan dan memahami bahwa membangun rumah merupakan aktivitas yang sangat kompeleks. Jika membangun rumah di wilayah perkotaan perlu modal yang lumayan banyak, maka membangun rumah di perdesaan, dalam hal ini di Desa Bulutellue, selain membutuhkan modal, juga memerlukan hubungan-hubungan sosial, sebab membangun rumah di desa ini dilakukan dengan cara kerja bersama. Secara umum di Desa Bulutellue, membangun rumah belum menerapkan sistem gaji, tetapi masih dilakukan secara gotong royong. Hal ini terjadi karena masyarakat di desa ini masih bersifat padat karya, bukan padat modal. Atas dasar itu, maka sebuah keluarga kecil . asangan suami istri dan anak-anakny. yang berhasil membangun rumah, dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa. Karena dianggap sebagai hal yang luar biasa, maka pemilik rumah melakukan syukuran memasuki rumah baru . enre bola bar. dan tiga tahun kemudian melakukan lagi syukuran menjamu rumah . attoana bol. Mattoana bola dilakukan setelah keluarga kecil tersebut menghuni rumahnya sekitar tiga tahun dan tidak ditimpa musibah kematian. Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah, maka penghuni rumah melakukan mattoana Pelaksanaan mattoana bola melalui beberapa tahapan yang dapat dilihat pada uraian Mattanra Esso Masyarakat Desa Bulutellue secara keseluruhan menganut Agama Islam. Dalam sistem keyakinan Islam, semua hari adalah baik. Untuk melaksanakan aktivitas yang baik tidak perlu melakukan pemilihan hari. 11 Meskipun demikian, bagi masyarakat Desa Bulutellue tetap saja ada hari yang mereka istimewakan, yaitu hari kelahiran Nabi Andi Ima Kesuma dan Abdul Rahman. AuMappettong Bola: A Form of Mutual Help in Bugis Community,Ay in Proceedings of the 1st International Conference on Social Sciences (ICSS 2. (Atlantis Press, 2. , 997Ae1003, https://w. atlantis-press. com/proceedings/icss-18/25903955. Nada Sofiyyah. Musaddat Lubis, dan Husna Sari Siregar. AuParadigma Masyarakat Terhadap Primbon (Study Kasus Sifat dan Watak Menurut Tanggal Lahir di Desa Hutan 2 Nagori Riah Na Pos. ,Ay JSSA: Jurnal Studi Sosial Agama . 147Ae166, http://w. org/index. php/jssa/article/view/8#. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 55 Abdul Rahman: Mattoana Bola sebagai Identitas Sosiokultural Masyarakat di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai Muhammad (Seni. , hari penyetoran dan pemeriksaan pahala umat manusia (Kami. , hari besar umat Islam (Juma. , dan hari kelahiran masing-masing individu. Terkait dengan pelaksanaan mattoana bola sebagai ungkapan rasa syukur, maka pemilik rumah menetapkan hari . attanra ess. sebagai hari puncak. Pada umumnya, mattoana bola dilaksanakan pada hari Jumat, dengan pertimbangan pada hari ini orangorang pergi melaksanakan Shalat Jumat, sehingga menjadi mudah pekerjaan untuk mengajak para jemaah Shalat Jumat untuk datang dan singgah untuk meramaikan sekaligus santap siang bersama dengan pemilik rumah yang sedang melaksanakan hajatan mattoana bola. Maddareheng Setelah pelaksana hajatan menetapkan hari pelaksanaan mattoana bola, misalnya hari Jumat, maka mulai empat hari sebelumnya (Senin hingga Kami. sudah dijumpai kesibukan pada rumah tersebut. Para tetangga terdekat mulai berdatangan membantu mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Kaum laki-laki lebih banyak membersihkan halaman rumah. Ada pula di antara mereka yang membelah/memotong kayu untuk dijadikan sebagai bahan bakar untuk memasak makanan yang hendak disajikan. Sementara itu kaum perempuan lebih banyak bekerja menampi beras, membuat kue kering, membersihkan Mattoana bola selalu diidentikkan dengan pesta meriah karena banyak tersedia Bagi pemilik hajatan yang kemampuan ekonominya di atas rata-rata, maka biasanya menyembelih sapi. Sementara pemilik hajatan yang kemampuan ekonominya sedang-sedang saja, maka biasanya hanya menyembelih kambing. Sudah menjadi tradisi secara turun temurun, jika melaksanakan mattoana bola wajib menyembelih hewan berkaki empat . lo kolo eppa ejen. Selain menyembelih sapi atau kambing, wajib pula menyembelih ayam yang jumlahnya sesuai dengan kemampuan pelaksana hajatan, biasanya 15-40 ekor. Jika hajatan mattoana bola puncaknya jatuh pada hari Jumat, maka penyembelihan sapi atau kambing dan ayam dilakukan pada hari Kamis sore. Setelah itu, maka kaum perempuan sibuk di dapur memasak hewan sembelihan tersebut dan menyiapkan makanan berupa nasi, nasi ketan, ikan dengan berbagai variasi olahannya . akar, goreng, masa. Kegiatan memasak makanan tersebut biasanya berlangsung sejak selesai pelaksanaan Shalat Isya hingga larut malam . ira-kira sampai pukul . Sitti Marhumah. AuWawancara dengan Salah Satu Ibu Rumah TanggaAy (Desa Bulutellue, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 56 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 Massolong Bola Setelah melaksanakan shalat Subuh dan fajar mulai menyingsing, maka sanro melakukan kegiatan massolong bola. Kegiatan ini dimaksudkan agar rumah tetap bertahan, tidak dilanda musibah atau bencana kebakaran, angin puting beliung, dan terhindar dari aksi Kegiatan awal dilakukan dengan cara lima orang laki-laki bertugas mengumandangkan adzan secara bersamaan. Kelima orang tersebut masing mengambil posisi, empat orang mengambil posisi di setiap sudut rumah, dan satu orang mengambil poisi di pertengahan rumah . osi bol. Setelah itu, sanro dalam posisi duduk menghadap ke arah kiblat sambil membaca shalawat kepada nabi sebanyak tujuh kali, dilanjutkan dengan pembacaan ayat kursi, surah al-Ikhlas, surah al-Falaq, surah an-Nas, doa keselamatan dunia akhirat, dan diakhiri dengan pembacaan surah al-Fatihah. Mabbarasanji Mabbarasanji merupakan nuansa islami yang tidak dapat dipisahkan dari berbagai kegiatan di Desa Bulutellue, baik itu kegiatan yang bernuansa kegembiraan maupun dalam nuansa kedukaan. Mabbarasanji merupakan kegiatan pembacaan Kitab Barzanji yang di dalamnya terdapat doa, puji-pujian dan penceritaan tentang riwayat Nabi Muhammad yang dilantunkan dengan irama khas. 14 Isi Barzanji menerangkan tentang kehidupan Nabi Muhammad mulai dari latar belakang keluarganya, kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul. 15 Di dalamnya juga menceritakan tentang sifat-sifat mulia yang ada pada diri Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa yang berkaitan dengan dirinya untuk dijadikan tauladan bagi umat manusia. Kegiatan mabbarasanji dilaksanakan setelah pelaksanaan Shalat Dhuhur atau Shalat Jumat. Sebelum mabbarasanji dimulai, para tetamu yang berdatangan disuguhi makanan berupa nasi, nasi ketan . , sayuran, beserta lauk pauk yang beraneka ragam. Makanan yang disuguhkan pada umumnya digelar di atas tikar, dan para tetamu menikmati hidangan tersebut dengan cara lesehan. Setelah makan bersama, selanjutnya dilakukanlah kegiatan Para tetamu yang tidak terlibat hanya berdiam diri, ada pula yang berbicara Mappiasse. AuWawancara dengan Salah Seorang Sanro . Agustu. Ay (Bulutellue, 2. Zulfa Jamalie dan Fasih Wibowo. AuIslam and Traditions of The Bugis Pagatan Coastal Community,Ay El Harakah: Jurnal Budaya Islam 25, no. : 180Ae198, https://ejournal. id/index. php/infopub/article/view/20731. Abdul Fattah dan Lutfiah Ayundasari. AuMabbarazanji: Tradisi Membaca Kitab Barzanji dalam Upaya Meneladani Kehidupan Nabi Muhammad SAW,Ay Wahana Islamika: Jurnal Studi Keislaman 7, no. : 49Ae60, https://wahanaislamika. id/index. php/WI/article/view/39. Muhammad Ichsan Fauzi dan Wirani Atqia. AuPenanaman Sikap Cinta terhadap Rasul dengan Mengamalkan Kitab Al Barzanji di Desa Kampung Gili,Ay Islamika: Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan 3, 2 . : 171Ae177, https://ejournal. id/index. php/islamika/article/view/1306. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 57 Abdul Rahman: Mattoana Bola sebagai Identitas Sosiokultural Masyarakat di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai satu sama lain, namun dengan suara yang lirih. Ketika mabbarasanji sudah selesai, maka para pembaca barzanji diberi imbalan Rp. 000 hingga Rp. Selanjutnya para tetamu disuguhkan lagi makanan berupa aneka kue dan minuman berupa the atau kopi. Maksud dari pelaksanaan mabbarasanji ini ialah sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad. Kegiatan ini pun mengandung harapan dan doa agar keluarga penghuni rumah senantiasa hidup dalam suasana bahagia, sebagaimana yang dilalui oleh Nabi Muhammad beserta keluarga semasa hidupnya. Mabbarasanji ini juga dimaksudkan sebagai doa tolak bala, khususnya mencegah terjadinya kisruh dalam berumah tangga. Mabbaca Doang Salama Ketika para tetamu sudah mulai beranjak meninggalkan rumah tempat berlangsungnya hajatan mattoana bola, maka tuan rumah dengan kerabat maupun tetangga dekat mulai mempersiapkan acara terakhir yaitu mabbaca doang salama yang akan dipimpin oleh Imam Kampung. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk permohonan doak kepada Allah agar penghuni rumah senantiasa diberi keselamatan dan kesehatan. Pelimpahan wewenang kepada Imam Kampung untuk memimpin doa tidak dapat dilepaskan dari keyakinan masyarakat di desa ini bahwa Imam Kampung memiliki kemampuan melafazkan ayat-ayat Al-Quran dan ilmu esoterik. Pelaksanaan mabbaca doang salama dilakukan setelah pelaksanaan shalat isya. Sebagai kelengkapannya ialah makanan berupa nasi, nasi ketan . , sayuran dan berbagai aneka lauk pauk. Disediakan pula tiga jenis pisang, yaitu pisang emas, pisang ambon, dan pisang raja. Setelah kegiatan mabbaca doang salama dilaksanakan, maka para sanak keluarga dan tetangga dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Tidak lupa pula tuan rumah menyiapkan bungkusan makanan kepada yang hadir untuk di bawa pulang ke rumah masing-masing. Bungkusan tersebut diyakini mengandung berkat karena telah didoakan oleh imam kampung. Arti Penting Mattoana Bola bagi Masyarakat Desa Bulutellue Di antara masalah besar yang sering berhadapan dengan umat manusia ialah masalah yang bertautan dengan agama. Agama merupakan tema paling penting yang sanggup membangkitkan perhatian serius dan paling intens. Kenyataan ini didasarkan pada asumsi bahwa masalah keagamaan berimplikasi pada proses perkembangan kehidupan manusia terutama dalam persoalan kemanusiaan, moral, dan etika. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Erich Fromm, bahwa kebutuhan manusia akan agama, berakar dalam kondisi dasar Andi Sultan. AuWawancara dengan Imam Kampung . Agustu. Ay (Bulutellue, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 58 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 eksistensi manusia. Manusia membutuhkan objek pengabdian semacam agama agar dapat mengatasi eksistensinya yang terisolasi dengan semua keraguan dari keterbatasannya menjawab arti hidup. Agama dalam kehidupan manusia selalu bersentuhan dengan adat istiadat atau Menurut Komaruddin Hidayat, agama itu diyakin datang dari langit, sedangkan tradisi tumbuh dari bumi. Namun setiap agama yang hadir di bumi pasti akan berjumpa dengan tradisi. Bahkan, sebuah agama pada gilirannya juga akan melahirkan tradisi baru, yaitu tradisi keagamaan. Oleh karena itu, agama dan tradisi selalu menyatu dalam sebuah ruang-ruang ritual. 19 Tradisi atau adat istiadat memiliki peran penting dalam agama. Ini menghadirkan kerangka sosial dan moral yang mengatur hubungan antar anggota Melalui adat istiadat atau tradisi, nilai-nilai agama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi pedoman dalam berperilaku. 20 Perjumpaan antara tradisi dengan agama dalam mattoana bola di Desa Bulutellue tentunya memiliki arti penting bagi masyarakat di desa ini, khususnya yang berkaitan sebagai identitas sosiokultural. Arti penting yang terdapat dalam hajatan mattoana bola tentu berkaitan dengan nilai. Hal tersebut dapat dilihat pada uraian berikut ini. Nilai Gotong Royong Secara konseptual, gotong royong dalam pandangan Koentjaraningrat merupakan konsep yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat petani di perdesaan. Gotong royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga, untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk dalam aktivitas bercocok tanam di 21 Gotong royong muncul di tengah kehidupan masyarakat atas dasar keinsyafan, kesadaran, dan semangat untuk bekerja secara bersama tanpa memikirkan keuntungan pribadi, melainkan atas dasar kebahagiaan bersama. 22 Dalam konteks masyarakat Desa Bulutellue, gotong royong terimplementasi dalam segala aktivitas saling membantu Theguh Saumantri. AuKonsep Manusia dalam Teori Psikoanalisis Humanis Dialektik Erich Fromm,Ay Sanjiwani: Jurnal Filsafat . 123Ae136, https://ojs. id/index. php/sanjiwani/article/view/1282. Fitriyatul Hanifiyah. AuKonsep Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik dalam Perspektif Komaruddin Hidayat,Ay at-turas: Jurnal Studi Keislaman 7, no. : 179Ae190, https://ejournal. id/index. php/at-turas/article/view/1250. Abd Hannan dan Khotibum Umam. AuTinjauan Sosiologi terhadap Relasi Agama dan Budaya pada Tradisi Koloman dalam Memperkuat Religiusitas Masyarakat Madura,Ay Resiprokal: Jurnal Riset Sosiologi Progresif Aktual . 57Ae73, https://resiprokal. id/index. php/RESIPROKAL/article/view/284. Amri Marzali. Antropologi dan Pembangunan Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2. Sariyatun. AuGotong Royong as the Core Principle of Pancasila and Its Relevance as Peace Education in Social Studies Learning,Ay Social. Humanities, and Education Studies (SHE. : Conference Series 4, no. : 262Ae269, https://jurnal. id/SHES/article/view/50619/31308. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 59 Abdul Rahman: Mattoana Bola sebagai Identitas Sosiokultural Masyarakat di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai . dalam menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan mata pencaharian, membangun rumah, hajatan dan pesta. Salah satu pencerminan gotong royong tersebut dapat dilihat pada hajatan mattoana bola. Wujud gotong royong dalam hajatan mattoana bola terutama dilihat pada saat Para tetangga dan kerabat dekat berdatangan memberikan bantuan dalam mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam kegiatan hajatan, terutama yang berkaitan dengan komsumsi. Kaum perempuan dalam hal ini ibu-ibu maupun gadis sibuk bekerja secara bersama-sama mempersiapkan komsumsi. Sementara kaum laki-laki ada yang membelah kayu bakar, ada pula yang mengangkut air dari sumur yang terdekat. Nuansa kegotong royongan pun terlihat pada saat acara hajatan selesai. Tetangga datang membantu untuk membersihkan rumah, membersihkan halaman rumah, mengumpulkan sampah untuk ditimbun, dan mencuci perabot dan perlengkapan yang telah dipakai. Semua pekerjaan ini dilakukan secara sukarela tanpa adanya bayaran secara finansial. Tuan rumah hanya menyediakan komsumsi yang dinikmati secara bersam-sama ketika pekerjaan telah selesai. Nilai Kebersamaan Pada kalangan masyarakat Desa Bulutellue, ada ungkapan asseddi seddingetta mappattentu yang berarti kebersamaan yang menentukan segalanya. Keberhasilan suatu kegiatan di lingkungan masyarakat desa ini ditentukan oleh bangunan kebersamaan. 23 Jika ditilik berdasarkan perspektif Emile Durkheim, maka kebersamaan yang terbangun dalam masyarakat di desa ini merupakan relasi antara individu atau kelompok yang terikat dengan perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional secara kolektif. Kebersamaan dalam hajatan mattoana bola terutama terlihat pada saat menikmati hidangan yang disajikan oleh tuan rumah. Masyarakat yang berbeda beda dalam hal umur, pekerjaan, dan status sosial melebur menjadi satu dalam suasana yang riang gembira. Mereka menikmati hidangan dengan duduk lesehan. Hidangan yang disajikan pun tidak dibeda Demikian halnya bungkusan yang diberikan kepada setiap tamu jenisnya sama dari segi menu yaitu nasi ketan, sepotong daging ayam, sepotong ikan goreng, olahan daging, dan sebutir telur. Nilai Keagamaan Masyarakat Desa Bulutellue dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang religius. Segala bentuk kegiatan ritual yang berkaitan dengan lingkaran hidup maupun hajatan tidak Syamsuddin. AuWawancara dengan Kepala Desa . Agustu. Ay (Bulutellue, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 60 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 dapat dilepaskan dari nilai-nilai keagamaan. Pelaksanaan hajatan mattoana bola identik dengan nilai-nilai keagamaan, yaitu ungkapan rasa syukur kepada Allah. Kesyukuran tersebut karena pelaksana hajatan telah diberi kemampuan untuk membangun rumah, dan selama mereka tempati rumah tersebut, kurang lebih tiga tahun, mereka senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Mereka tetap dalam kondisi sehat, rezeki yang cukup, dan rumah tangga yang utuh. Berbagai macam kenikmatan, terutama nikmat rezeki yang cukup dipandang tidak elok ketika dinikmati sendiri. Segala bentuk kenikmatan yang diperoleh harus pula disebar kepada orang lain, terutama tetangga dan keluarga dekat. Salah satu cara agar kenikmatan itu dapat pula dirasakan oleh orang lain yaitu dengan cara melakukan hajatan mattoana bola. Tuan rumah dengan tangan terbuka menerima kedatangan orang lain untuk menikmati berbagai macam hidangan, tanpa mengharapkan imbalan berupa angpao atau doi passolo. Nilai Kepatuhan pada Pemimpin Kepemimpinan di Desa Bulutellue terdiri atas dua jenis, yaitu kepemimpinan formal dan kepemimpinan informal. Kepemimpinan formal dilandasi oleh ketetapan resmi dengan batasan yang jelas. Di Desa Bulutellue kepemimpinan formal direpresentasikan oleh Kepala Desa beserta perangkatnya, sementara kepemimpinan informal direpresentasikan oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, dan sanro. Pemimpin tersebut memiliki kedudukan penting di dalam lingkungan masyarakat sehingga mereka sangat dipatuhi dan dihargai. Salah satu bentuk penghormatan dan kepatuhan masyarakat kepada pemimpin adalah ditunjukkan dengan mengundang mereka dalam setiap acara pesta maupun hajatan. Ketika ada salah satu anggota masyarakat/rumah tangga yang hendak mengadakan pesta atau keramaian, maka terlebih dahulu harus meminta izin kepada pemerintah setempat. Hal ini dimaksudkan agar pemerintah setempat tidak melepas tanggung jawab ketika dalam pesta tersebut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun pelibatan pemimpin informal didasarkan pada pertimbangan bahwa hajatan ini perlu panduan dan petunjuk dari Imam Kampung dan sanro. Keduanya berperan sebagai pemimpin doa yang hendak dipanjatkan dalam acara mattoana bola, di mana sanro memimpin doa pada acara massolong bola, dan Imam Kampung yang memimpin doa pada acara mabbaca doang salama. Ambo Sakka. AuWawancara dengan Salah Seorang Anggota Masyarakat . Agustu. Ay (Bulutellue. Uddin Cinte. AuWawancara dengan Salah Satu Anggota Masyarakat . Agustu. Ay (Bulutellue. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 61 Abdul Rahman: Mattoana Bola sebagai Identitas Sosiokultural Masyarakat di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai KESIMPULAN Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi mereka yang telah membina rumah tangga di Desa Bulutellue. Sebuah keluarga kecil akan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika telah memiliki rumah pribadi, dalam arti tidak lagi tinggal menumpang di rumah Orangtua atau Mertua. Dalam mendirikan rumah di Desa Bulutellue, sebab keluarga harus memiliki kemampuan sosial dan kemampuan finansial. Kemampuan sosial dibutuhkan agar bisa menggugah perasaan orang lain untuk turut serta meluangkan waktu dan tenaganya dalam membantu keluarga tersebut dalam mendirikan rumah. Selain itu dibutuhkan kemampuan finansial untuk menutupi berbagai biaya pengadaan bahan bangunan dan komsumsi selama proses pengerjaan rumah berlangsung. Beratnya perjuangan tersebut harus ditebus dengan melakukan hajatan mattoana bola sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. Hajatan mattoana bola yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bulutellue sarat dengan nilai kegotongroyongan, kebersamaan, keagamaan dan kepatuhan kepada pemimpin. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat di desa merupakan masyarakat yang religius. Mereka tidak dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan tanpa bantuan dari orang lain. Dalam melaksanakan pekerjaan itu, khususnya dalam acara hajatan mattoana bola membutuhkan pula panduan dan petunjuk dari pemimpin formal maupun pemimpin nonformal. KONTRIBUSI PENELITIAN Penelitian ini mengungkap salah satu warisan budaya tak benda masyarakat di Desa Bulutellue. Dalam pelaksanaanya hajatan mattoana bola merupakan pencerminan rasa syukur, kebersamaan, kegotong royongan, yang sarat dengan nuansa keagamaan. karena itu, pemerintah setempat diharapkan melakukan pembinaan kepada masyarakat melalui kegiatan yang bernuansa budaya secara berkelanjutan demi terciptanya masyarakat yang harmonis. REKOMENDASI PENELITIAN LANJUTAN Penelitian mengenai hajatan mattoana bola yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bulutellue masih berfokus pada tahapan-tahapan pelaksanaan serta arti pentingnya, dalam hal ini nilai yang terkandung di dalamnya. Atas dasar itu, maka perlu penelitian lanjutan yang menfokuskan perhatian pada peran pemimpin formal dan informal dalam pelaksanaan hajatan mattoana bola di Desa Bulutellue. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 62 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini terlaksana tidak dapat lepas dari bantuan pihak-pihak. Olehnya itu saya menghaturkan terima kasih kepada pengelola Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah. Universitas Negeri Makassar atas izinnya memanfaatkan literatur yang mereka Demikian pula saya haturkan terima kasih kepada Emanuel Omedetho Jermias yang telah meluangkan waktunya untuk mengedit tulisan ini. REFERENSI